1,720,957 research outputs found
Alur Dramatik Kesenian Tradisional Sidalupa di Aceh Barat
Kesenian Sidalupa, di satu sisi, ialah sebentuk tarian tanpa pola atau teknik tertentu yang diiringi musik serunee dan rapa'i. Di lain sisi, terkadang juga digarap menjadi sebentuk pertunjukan teater, ditandai dengan adanya aktor, pemusik, pembuat kostum, dan sutradara dalam proses garapannya. Dewasa ini, kesenian Sidalupa dikemas pula dengan teknik sinematik. Artikel ini bertujuan memaparkan alur dramatik kesenian Sidalupa produksi Sanggar Seni Datok Rimba dan Buraq Lam Tapa di Aceh Barat yang digarap secara sinematik berlandaskan pada gagasan Gustav Freytag; eksposisi, komplikasi, klimaks, resolusi, dan konklusi. Pendekatan penelitian ini ialah kualitatif dengan metode deskriptif-analitis. Teknik yang diterapkan adalah video-analisis, observasi, konten-analisis, studi pustaka, dan wawancara. Hasil yang didapati ialah garapan kesenian Sidalupa produksi Sanggar Seni Datok Rimba memuat unsur dramatik yang cukup kompleks, sebagaimana gagasan Freytag. Begitu pula dengan jalinan peristiwa yang dihadirkan, menunjukkan rangkaian sebab-akibat yang runtut. Sedangkan garapan kelompok Buraq Lam Tapa, terkesan cenderung menyamarkan cerita dan tokoh sebagai unsur penggerak peristiwa. Dengan kata lain, tidak memuat unsur dramatik yang kompleks sebagaimana dikemukakan Freytag
Membaca Pertunjukan Teater Berjudul Negeri yang Terkubur Karya Zurmailis Sutradara Syuhendri
Penelitian ini bertujuan membaca salah satu perkembangan bentuk teater modern yang ada di Sumatera Barat. Penelitian ini berdasarkan pada kualitas data (kualitatif), disempitkan menjadi penelitian studi kasus. Bahan atau data terdiri dari tulisan atau ceramah yang terekam dalam konteks yang berbeda, bisa data dari hasil observasi, berita dari surat kabar, dan sebagainya. Persentuhan antara gagasan dan bentuk pertunjukan NyT dengan pertunjukan teater modern lainnya di Indonesia terutama di Sumatra Barat dapat ditarik ke dalam beberapa poin, pertama, secara konseptual (ide/gagasan) Syuhendri mencoba merespon dan menyerap isu-isu yang tengah berkembang secara menasional. Juga ditambah pada dekade 90-an dan 2000-an globalisasi masih hangat-hangatnya dalam pendengaran setiap orang. Kedua, persentuhan Syuhendri dengan tokoh teater lainnya di Sumatra Barat secara teknis tidaklah memiliki kendala, dalam artian dapat diakses tanpa dibatasi oleh jarak. Untuk itu besar kemungkinan karya Syuhendri juga dipengaruhi oleh adanya ruang dialogis antara Syuhendri dengan seniman lainnya di Sumatra Bara
PERAN PENONTON ATAS PERTUNJUKAN TEATER “RUMAH JANTAN†KARYA/SUTRADARA SYUHENDRI
Dewasa ini, diskursus seputar seni teater yang dilakukan cenderung menyoroti seniman, bagaimana prosesnya, dan karyanya. Setelah itu pembahasan seolah selesai, tidak terlihat upaya untuk mengetahui apa yang dirasakan penonton saat menyaksikan pertunjukan, makna apa yang terpikirkan, apakah mungkin pemaknaan yang dilakukan penonton dapat memberi gagasan-gagasan baru pada seniman untuk menggarap karyanya di lain kesempatan. Jika boleh dibilang, sangat jarang pembicaraan menyoroti penonton yang mungkin saja berperan penting dalam memengaruhi estetika seorang seniman. Artikel ini bertujuan menyelisik peran atau kemungkinan adanya pengaruh penonton pertunjukan berpijak pada teori resepsi yang diajukan oleh Wolfgang Iser. Adapun karya yang akan dibahas yaitu pertunjukan teater “Rumah Jantan†karya/sutradara Syuhendri merujuk pada beberapa kritik yang diajukan oleh Fadillah malin Sutan Kayo, Ganda Cipta, Romi Zarman, S. Metron, yang terbit dalam surat kabar. Metode penilitian yang dilakukan ialah kualitatif dengan jalan penelaahan dokumen, video pertunjukan yang terdapat di youtube, melakukan tinjauan kepustakaan – baik yang terdapat di buku-buku cetak maupun jurnal yang terbit secara digital. Hasil yang didapati ialah meski tidak memiliki pengetahuan, keilmuan, bahkan pengalaman terkait seni teater, penonton mampu merasakan tempo pertunjukan yang terkadang terkesan lambat dan menawarkan bagaimana seyogyianya tempo pertunjukan berjalan. Selain itu, penonton juga mampu memaknai simbol yang dihadirkan, bahkan lebih relevan dibanding seniman itu sendiri
Ota Lapau Sebagai Alternatif Ide Penciptaan Teater Kontemporer Minangkabau
Penelitian ini bertujuan untuk merumuskan,. sekaligus menemukan model penciptaan teater kontemporer Minangkabau yang bertolak pada ide/gagasam yang berpusat pada ota lapau. Fenomena ota lapau merupakan salah satu potensi budaya yang tetap bertahan sampai sekarang di Minangkabau. Kekuatan improvisasi dan kemampuan dalam mewujudkan akting melalui cara bercerita yang lahir secara spontan dalam merespons persoalan-persoalan seperti nilai-nilai keagamaan, pergaulan, situasi ekonomi, fenomena politik, seni dan budaya, bahkan pengetahuan tentang adat istiadat berbaur menjadi satu sebagai wujud tematik cerita yang dibangun di dalam lapau. Data yang digunakan di dalam penelitian ini berpusat pada data kualitatif, yaitu data observasi, dokumentasi, termasuk juga data wawancara. Dari masing-masing data tersebut dielaborasi, sehingga menemukan berbagai ragam istilah yang berkemungkinan dapat digunakan di dalam praktik penciptaan teater kontemporer di Sumatera Barat, berpusat pada ide penggarapan ota lapau
Postdramatik: Dramaturgi Teater Indonesia Kontemporer
Postdramatic: The Dramaturgy of Contemporary Indonesian Theater. The research attempts to explain a new possibility in theatre practice in Indonesia, which was initially formed through the power of words in the form of dialogue depicted in drama scripts. Since then, there was another tendency which was a matter of fact, in the early 1920s, for which Antonin Artaud initiated. Various terms have been used to describe new trends in the dramaturgy of Indonesian theatre since the 1970s up to now, such as cutting-edge theatre, avant-garde theatre, experimental theatre, body theatre, visual/visual theatre, postmodern theatre, contemporary theatre, and so on. Therefore, the appearing terms show doubts in determining the identity of the currently developing Indonesian theatre. This study aims to explain the potential for postdramatic theatre works that have been performed by Indonesian theatre directors, such as WS Rendra, Putu Wijaya, Boedi S. Otong, Dindon WS, Rahman Sabur, Yudi A Tajudin, including Yusril with a Postdramatic theatre approach. This research method is dominated by literature studies that take references such as books, journal-based articles, and online and printed media. The results of the study indicate that postdramatic dramaturgy in the practice of theatre in Indonesia is necessary from the spirit of the times that formed it, including the possibility of creating a new form of post-dramatic theatre developing in the current era of the Covid-19 pandemic.Keywords: postdramatic; dramaturgy; theatre; Indonesia; contemporar
Going Beyond Counting First Authors in Author Co-citation Analysis
The present study examines one of the fundamental aspects of author co-citation analysis (ACA) - the way co-citation
counts are defined. Co-citation counting provides the data on which all subsequent statistical analyses and mappings
are based, and we compare ACA results based on two different types of co-citation counting - the traditional type that
only counts the first one among a cited work's authors on the one hand and a non-traditional type that takes into
account the first 5 authors of a cited work on the other hand. Results indicate that the picture produced through this non-traditional author co-citation counting contains more coherent author groups and is therefore considerably clearer. However, this picture represents fewer specialties in the research field being studied than that produced through the traditional first-author co-citation counting when the same number of top-ranked authors is selected and analyzed. Reasons for these effects are discussed
Variations on the Author
“Variations on the Author” discusses two of Eduardo Coutinho’s recent films (Um Dia na Vida, from 2010, and Últimas Conversas, posthumously released in 2015) and their contribution to the general question of documentary authorship. The director’s filmography is characterized by a consistent yet self-effacing form of authorial self-inscription: Coutinho often features as an interviewer that rather than express opinions propels discourses; an interviewer that is good at listening. This mode of self-inscription characterizes him as an author who is not expressive but who is nonetheless markedly present on the screen. In Um Dia na Vida, however, Coutinho is completely absent form the image, while Últimas Conversas, on the contrary, includes a confessional prologue that moves the director from the margins to the center of his films. This article examines the ways in which these works stand out in the filmography of a director who offers new insights into the notion of cinematic authorship
Appropriate Similarity Measures for Author Cocitation Analysis
We provide a number of new insights into the methodological discussion about author cocitation analysis. We first argue that the use of the Pearson correlation for measuring the similarity between authors’ cocitation profiles is not very satisfactory. We then discuss what kind of similarity measures may be used as an alternative to the Pearson correlation. We consider three similarity measures in particular. One is the well-known cosine. The other two similarity measures have not been used before in the bibliometric literature. Finally, we show by means of an example that our findings have a high practical relevance.information science;Pearson correlation;cosine;similarity measure;author cocitation analysis
Dispelling the Myths Behind First-author Citation Counts
We conducted a full-scale evaluative citation analysis study of scholars in the XML research field to explore just how different from each other author rankings resulting from different citation counting methods actually are, and to demonstrate the capability of emerging data and tools on the Web in supporting more realistic citation counting methods. Our results contest some common arguments for the continued
use of first-author citation counts in the evaluation of scholars, such as high correlations between author rankings by first-author citation counts and other citation
counting methods, and high costs of using more realistic citation counting methods that are not well-supported by the ISI databases. It is argued that increasingly available digital full text research papers make it possible for citation analysis studies to go beyond what the ISI databases have directly supported and to employ more
sophisticated methods
- …
