5,930 research outputs found
FILOSOFI TRI DHARMA PADA KEPEMIMPINAN BUDI SANTOSO DI SUARA MERDEKA
The purpose of this study is to analyze the leadership style of Budi
Santoso applied in the newspaper company Suara Merdeka and to know the
effectiveness of the leadership style applied by Budi Santoso in the newspaper
company Suara Merdeka.
The population in this research is employees working in the newspaper
company Suara Merdeka owned by Budi Santoso. The samples taken are three
people consist of one as a key informan namely Budi Santoso and two supporting
informen namely the assistant of Budi Santoso and the manager of Suara
Merdeka. The technique applied in this research is Purposive Sampling that is
taking sample based on certain consideration and should represent the population
investigated.
Based on this research, it can be concluded that the style of Budi
Santoso’s leadership is very distinctive and very different from western
philosophy of leadership, namely Tri Dharma emphasizing that all employees are
required melu handarbeni (to own), melu hangkrukebi (to guard the safety of the
company), and mulat sariro hangrasa wani (introspective and must have the
courage to do something). This style of Budi Santoso’s leadership has proven
effectiveness when Budi Santoso lead Suara Merdeka. Budi Santoso and the third
generation successor of Suara Merdeka need to maintain the elements that have
been assessed fine by both customers and employees, and need to improve
something that is still lacking
Prison problems: planned and unplanned releases of convicted extremists in Indonesia
This report examines the number of Indonesian extremist prisoners due for parole, the recidivism rate, and the dynamics in prison between the “pragmatists” and the “rejectionists” among extremist inmates.IntroductionMany convicted Indonesian terrorists will be released over the next several years after serving time in prison. The Indonesian government has little capacity at present to provide adequate post-release monitoring, although it is taking some steps to remedy this. Under the circumstances, how much of a security risk do these releases pose? The answer is probably not as much as some people fear; the recidivism rate for convicted extremists remains low. The problem is that systems are not yet in place to keep track of individuals who are considered potential problems.Any evaluation of risk must take several factors into account. One is the numbers involved. In early 2013, articles appeared in the regional media suggesting that 300 prisoners were due for release by the end of 2014. The National Anti-Terror Agency (Badan Nasional Penganggulangan Terorisme, BNPT) later stated the real figure was only 39. A more reasonable estimate is about 80 releases in 2013-2014, some of which have already taken place, with over 100 more in 2015- 2016. No one has exact data, however, and accurate predictions are close to impossible.A second factor is the prison experience of those scheduled for release. It is simply not possible to assess risk on the basis of the activities that led to their convictions. Some of the men that might have been judged most dangerous appear to have modified their views and behavior; others who might have seemed low risk have grown more militant because of associations made in prison. Which way an individual turns may depend less on government “deradicalisation” programs -- although interventions that provide status and income can help -- than on the nature and influence of fellow inmates and connections maintained on the outside. In general, senior JI leaders tend to exert a moderating influence, whereas those who follow radical preacher Aman Abdurrahman are likely to keep the level of militancy high.Other factors can also come into play, including the degree to which inmates can mix with ordinary criminal offenders. The problem of released prisoners does not relate just to those charged with terrorism but also to others they may have recruited. The largest cluster of repeat offenders among convicted extremists consists of men whose first offense had nothing to do with terrorism.The riot in Tanjung Gusta prison, Medan, on 11 July 2013 was a reminder that in thinking about scheduled releases, one should think of unscheduled ones, too, even if the number of terrorist escapes over the last decade has been remarkably low. Overcrowding, understaffing and the poor physical condition of many Indonesian prisons combine to produce escapes of ordinary criminals so frequently that it is a wonder that not more extremists make the attempt.To address these risks, improving the capacity of the Indonesian corrections system to analyse and respond to developments in prison is essential. It is also important for the government as a whole to recognize the need for improved post-release monitoring and allocate the necessary resources to put a better system in place.Managing convicted extremists goes to two much larger issues, however. One is overall prison reform: the government acknowledges that the prison system as a whole is in a state of crisis and the Corrections Directorate with the Law and Human Rights Ministry has been receptive to donor assistance in trying to address it.The second is the spread of extremist teachings in a way that generates new groups of young radicals convinced that violence is the way to address injustice, religious deviance and vice. Until the government does more to address this much more sensitive problem, the best monitoring program in the world will be of limited value
PERUMUSAN STRATEGI PENGEMBANGAN KANTOR AKUNTAN PUBLIK DARSONO & BUDI CAHYO SANTOSO SEMARANG
Penelitian ini bertujuan untuk merumuskan strategi pengembangan yang tepat untuk KAP
Darsono & Budi Cahyo Santoso melalui pendekatan Quantitative Strategic Planning Matix
(QSPM). Penelitian ini menggunakan data kuantitatif berupa jumlah Akuntan Publik (AP)
dan Kantor Akuntan Publik (KAP) yang diperoleh dari Direktori Kantor Akuntan Publik
dan Akuntan Publik dari Tahun 2010 – 2022. Data kualititatif diperoleh peneliti melalui
pengamatan langsung, diskusi internal, menyebarkan kuesioner riset SWOT dan studi
Pustaka. Analisis dilakukan melalui faktor internal dan faktor eksternal yang berpengaruh
pada pemilihan strategi KAP. Analisis data yang digunakan adalah analisis Matriks EFE,
Matriks IFE, Diagram Matriks SWOT, Matriks TOWS dan QSPM. Berdasarkan hasil yang
diperoleh analisis matriks IFE dan EFE, total skor IFE sebesar 0,63 dan EFE sebesar 0,08,
menempatkan KAP pada kuadran I Diagram Matrik SWOT dengan pilihan strategi agresif
yaitu strategi pengembangan. Hasil penilaian prioritas strategi pengembangan melalui
QSPM, yaitu strategi penetrasi pasar, strategi pengembangan pasar, strategi pengembangan
produk dan strategi inovasi, KAP lebih tepat memilih strategi inovasi yang memberikan
nilai daya tarik total tertinggi sebesar 357,67. KAP dapat memanfaatkan teknologi
informasi untuk mendukung proses pemberian jasa asurans dan non asurans, seperti
digitalisasi Kertas Kerja Pemeriksaan (KKP), program dan prosedur Audit, digitalisasi
materi pelatihan dan perpustakaan agar dapat diakses dari tempat manapun, pengembangan
website dan digitalisasi data SDM
Pemberdayaan kelompok tani Budi Santoso oleh penyuluh pertanian lapangan (PPL) Desa Ngemplak Kecamatan Mranggen Kabupaten Demak
Pemberdayaan merupakan suatu usaha atau upaya yang dilakukan individu dengan bantuan orang lain untuk lebih memperdayakan potensi yang dimiliki baik berupa kompetensi, wewenang, dan tanggung jawab dalam rangka meningkatkan kinerja dalam usaha. Salah satu sasaran pemberdayaan adalah bidang pertanian. pemberdayaan pertanian merupakan bagian dari pembangunan nasional karena mayoritas masyarakat Indonesia bermataoencaharian sebagai petani. Pemberdayaan tersebut memerlukan agen pemberdaya yang dalam hal ini pemerintah menunjuk penyuluh pertanian. Penelitian ini berjudul Pemberdayaan Kelompok Tani Budi Santoso oleh Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) di Desa Ngemplak Kecamatan Mranggen Kabupaten Demak.
Adapun tujuan penelitian ini adalah: 1). Untuk mengetahui Proses Pemberdayaan Kelompok Tani Budi Santoso oleh Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) Kec. Mranggen Kab Demak. 2). Untuk mengetahui faktor penghambat dan pendukung pembedayaan Kelompok Tani Budi Santoso. Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah observasi, wawancara dan dokumentasi. Subjek penelitian ini adalah anggota Kelompok Tani Budi Santoso dan petugas Penyuluh Pertanian Lapangan Kecamatan Mranggen. Metode analisis data yang digunakan dalam penelitian adalah analisis deskriptif model interaktif yang terdiri dari tiga tahapan, yaitu reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan atau verifikasi.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberdayaan Kelompok Tani Budi Santoso oleh penyuluh pertanian lapangan (PPL) telah berjalan dengan semestinya. Proses pemberdayaan Kelompok Tani Budi Santoso dilakukan dengan pendekatan penguatan. Penguatan dimaksudkan untuk meningkatkan kemampuan pengetahuan dan keterampilan petani dalam usaha taninya. Penguatan dalam usaha pemberdayaan ini dilakukan melalui beberapa tahap yang meliputi: Penyuluhan, Pelatihan, Diskusi, dan Praktik lapangan. Adapun faktor penghambat pemberdayaan Kelompok Tani Budi Santoso yaitu: 1. Kurangnya keterampilan dan pengetahuan petani, 2. Kebiasaan dan kultur pertanian. Adapun faktor pendukung keberhasilan pemberdayaan Kelompok Tani Budi Santoso yaitu: 1. Kesadaran anggota kelompok akan pentingnya pemberdayaan, 2. Kerelaan hati anggota kelompok dalam membuka diri sehingga dapat menerima saran dan masukan dari penyuluh
KEHIDUPAN PENARI PADA GRUP KESENIAN DOLALAK BUDI SANTOSO DI DESA KALIHARJO KECAMATAN KALIGESING KABUPATEN PURW OREJO
Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan kehidupan penari pada
grup kesenian Dolalak Budi Santoso di desa Kaliharjo, Kecamatan Kaligesing,
Kabupaten Purworejo.
Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan menggunakan
metode etnografi. Data-data dalam penelitian ini diperoleh dengan tiga cara, yaitu
observasi, wawancara, dan studi dokumen. Uji keabsahan data menggunakan
triangulasi sumber. Adapun untuk analisis data menggunakan teknik reduksi data,
displai data, dan pengambilan kesimpulan.
Hasil penelitian ini adalah kehidupan penari Dolalak yang meliputi:
kehidupan beragama, kehidupan perekonomian, latar belakang pendidikan, dan
regenerasi pada penari grup Dolalak Budi Santoso; (a) Kehidupan beragama:
seluruh penari Dolalak Budi Santoso memeluk agama Islam. Para penari
menjalankan perintah agama sesuai dengan ajaran rukun Islam, namun mereka
masih mempercayai adanya roh leluhur yang disebut Indang; (b) Kehidupan
perekonomian: para penari memiliki mata pencaharian yang bervariasi ada yang
menjadi petani, karyawan, pegawai swasta, buruh, PNS, dan ada yang masih
sekolah; (c) Latar belakang pendidikan: berpengaruh terhadap kehidupan penari,
tingkat pendidikan terakhir yang ditempuh oleh para penari bermacam-macam ada
yag lulus SD, SMP, SMA, S1 dan ada yang masih sekolah; (d) Regenerasi:
merupakan upaya untuk memepertahankan grup kesenian Dolalak Budi Santoso
melalui regenerasi pada penari. Regenerasi tersebut dilakukan dengan cara
diadakan pelatihan rutin. Dari empat hal tersebut, maka nilai sosial berpengaruh
positif terhadap kelangsungan hidup para penari grup kesenian Dolalak Budi
Santoso. Hal itu mampu menepis penilaian negatif masyarakat terhadap penari
grup kesenian Dolalak Budi Santoso
Pakeliran Padat"Kongsoleno"
Pakeliran Padat"Kongsoleno"
Penyaji: Budi yitno Santoso, Ujian penyajian tugas akhir jur. Pedalangan, Pendopo ISI Surakarta
"Kongsoleno"
Ujian Penyajian Tugas Akhir Pedalangan
Dalang : Budi Yatno Santoso
Lakon : Kongsolen
Measurement of energies of gamma-rays following the decay of Np-239 and fission products of U-235
Thesis (M.S.)--Massachusetts Institute of Technology, Dept. of Nuclear Engineering, 1961.Includes bibliographical references (leaf 38).by Budi Santoso Sudarsono.M.S
IMPLEMENTASI PENDIDIKAN KARAKTER DI MADRASAH IBTIDAIYAH LUQMAN AL HAKIM SLAWI DAN SEKOLAH DASAR BUDI MULIA MUHAMMADIYAH ADIWERNA
Budi Santoso. 2025. “Implementasi Pendidikan Karakter di Madrasah Ibtidaiyah Luqman Al Hakim Slawi dan Sekolah Dasar Budi Mulia Muhammadiyah Adiwerna”. Tesis. Program Studi Magister Pedagogi. Program Pascasarjana. Universitas Pancasakti Tegal. Pembimbing I Dr. Suriswo, M.Pd., Pembimbing II Dr. Rahmad Agung Nugraha, M.Si.
Kata kunci: pendidikan karakter, madrasah ibtidaiyah, keterlibatan guru, orang tua, kurikulum integratif
Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan implementasi pendidikan karakter di Madrasah Ibtidaiyah Luqman Al Hakim Slawi dan Sekolah Dasar Budi Mulia Muhammadiyah Adiwerna. Menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode deskriptif, data dikumpulkan melalui wawancara, observasi, dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pendidikan karakter di kedua sekolah diintegrasikan secara menyeluruh dalam kurikulum, kegiatan ekstrakurikuler, dan budaya sekolah. Nilai-nilai karakter seperti religius, jujur, disiplin, tanggung jawab, peduli, dan inovatif ditanamkan melalui pembiasaan, keteladanan guru, serta keterlibatan aktif orang tua. Di MI Luqman Al Hakim, integrasi nilai karakter dilaksanakan melalui kurikulum Jaringan Sekolah Islam Terpadu (JSIT), sementara di SD Budi Mulia melalui program “6 Karakter Bumimu”. Peran guru sebagai teladan dan fasilitator sangat dominan, dengan penggunaan metode pembelajaran aktif, berbasis proyek, dan kolaboratif. Keterlibatan orang tua didorong melalui program parenting, pertemuan rutin, dan kegiatan bersama. Kendala yang dihadapi meliputi kurangnya pemahaman guru dan keterbatasan sarana prasarana. Untuk mengatasi hal tersebut, sekolah menerapkan strategi kolaboratif dengan orang tua dan masyarakat serta mengembangkan kegiatan ekstrakurikuler yang mendukung pembentukan karakter. Implikasi dari penelitian ini menunjukkan bahwa pendidikan karakter yang terintegrasi secara sistematis memberikan dampak positif terhadap pembentukan akhlak dan tanggung jawab sosial siswa. Oleh karena itu, peningkatan kapasitas guru, penguatan peran orang tua, dan penyediaan sarana pendukung menjadi rekomendasi penting bagi keberlanjutan program pendidikan karakter
ANALISIS PEMUTUSAN HUBUNGAN KERJA SEPIHAK OLEH PT. SUMBER ALFARIA TRIJAYA BERDASARKAN PUTUSAN NO. 155/PDT.SUS-PHI/2021/PN.BDG
Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) dalam penerapannya telah diatur pada UU Ketenagakerjaan, UU Cipta Kerja, dan Peraturan Pemerintah No. 35 Tahun 2021 mengatur perihal alasan apa yang dilarang dan apa yang diperbolehkan. Namun, dalam perkara PHK oleh PT. Sumber Alfaria Trijaya nyatanya terdapat kekeliruan dalam memutus hubungan dengan pekerja, sehingga penulis tertarik untuk membahas perihal PHK karena alasan sakit dan indisipliner berdasarkan peraturan perundang-undangan serta menganalisis apakah terdapat kesesuaian pertimbangan Majelis Hakim dalam memutus perkara tersebut. Penulisan ini menggunakan metode penelitian yuridis normatif dengan menggunakan bahan hukum primer, sekunder, dan tersier. Dari permasalahan dan metode yang digunakan, menghasilkan bahwa terdapat kekeliruan tergugat dalam memutus hubungan kerja terhadap pekerja dengan alasan sakit adalah bertentangan dengan peraturan perundang-undangan sehingga batal demi hukum, sedangkan PHK karena indisipliner sesuai dengan peraturan perundang-undangan dan peraturan perusahaan, meskipun demikian perusahaan tetap berkewajiban membayar kompensasi. Adapun pertimbangan Majelis Hakim dalam memutus perkara telah sesuai dengan peraturan perundang-undangan dan mewujudkan keadila
- …
