26 research outputs found
TASAWUF DAN PSIKOLOGI : Tinjauan Psikologi Kesehatan Mental Terhadap Konsep Maqâm dan Hâl dalam Tasawuf Ibn ‘Arabi
Buku yang berjudul: “Tasawuf dan Psikologi : Tinjauan Psikologis Kesehatan Mental dan Maqâm dan Hâl dalam Tasawuf Ibn ‘Arabi ini mengkaji tentang konsep maqâm dan hâl dalam tasawuf Ibn ‘Arabi dalam melahirkan kepribadian dan mental yang sehat sesuai dengan tinjauan psikologis dan prinsip-prinsip kesehatan mental.
Ide penulisan buku ini dilatarbelakangi oleh perjalanan sejarah tasawuf yang panjang, dan tidak luput dari kecurigaan dan kecaman dari golongan Islam ortodoks. Tasawuf dituduh sebagai pengalaman keagamaan yang zindik, bid’ah bahkan secara ektsrim dianggap sebagai pengalaman seseorang yang mengidap sakit jiwa. Faktor utama penyebab munculnya tuduhan tersebut karena pengalaman tasawuf merupakan pengalaman individu yang sulit dikomunikasikan. Dengan demikian tidak berdasarkan pada proses dan pengaruhnya secara kejiwaan. Konstruksi tasawuf yang lebih berorientasi pada peningkatan kepribadian dan mental sangat dibutuhkan untuk menjawab tuduhan di atas. Ibn ‘Arabi sebagai sufi besar, dalam konstelasi tasawufnya tidak hanya berbicara tentang persoalan metafisik, tapi juga konsern dalam peningkatan kepribadian dan mental yang sehat. Melalui ajaran maqâm dan hâl, sufi Andalusia ini berpendapat bahwa peningkatan penghayatan dan pengalaman dalam tasawuf berbanding lurus dengan peningkatan kepribadian dan mental yang sehat.
Adapun kesimpulan buku ini, pertama, maqâm merupakan tingkatan spiritual yang dijalani oleh sufi, sedangkah hâl adalah kondisi kejiwaan tertentu sebagai hasil dari menjalani proses maqâm. Kedua, dimensi psikologis dalam maqâm dan hâl merupakan pengalaman dan kesadaran batin yang dialami seorang sufi ketika sampai pada tingkatan tertentu dalam tingkat-tingkat tersebut. Ketiga, Sedangkan dari sudut kesehatan mental, maqâm dan hâl merupakan terapi yang memuat prinsip-prinsip pengembangan kepribadian dan mental yang sehat
Local Wisdom and Natural Disaster in West Sumatra
Community-based disaster management is an attempt to optimize the potential of social and local values in communities to facilitate the handling of natural disasters. West Sumatra as one of the disaster-prone areas in Indonesia has a number of local wisdom values—a value combining religion and local culture—rooted in traditional philosophy; “Adat Basandi Syara', Syara' Basandi Kitabullah”. The examples of those local wisdoms are customary ideas or proverbs in the form of legend and expressions, architectural design of the traditional house—“Rumah Gadang”—and the structure of the environment as well as the social systems of kinship and traditional administration in the form of Nagari. This research employed qualitative method by using ethnography approach. The data were collected through observations, participation in social events, and in-depth interviews. Those techniques were applied to obtain the valid information and the meaning of events and behaviors comprehensively. The local values applied by the indigenous communities as the victims of natural disasters in some regions of West Sumatra include “Badoncek” tradition in Nagari Tandikat Padang Pariaman, the architecture of “Rumah Gadang” in Nagari Sungayang, Tanah Datar and disaster mitigation based on district in Nagari Kubang Putiah Agam.Managemen bencana berbasis masyarakat merupakan upaya untuk mengoptimalkan potensi sosial dan nilai-nilai lokal yang dimiliki masyarakat untuk memudahkan proses penanganan bencana alam. Sumatera Barat sebagai salah satu daerah rawan bencana di Indonesia, memiliki sejumlah nilai kearifan lokal, sebuah nilai yang memadukan antara agama dan budaya lokal yang termaktub dalam filosofi adat; Adat Basandi Syara', Syara' Basandi Kitabullah. Di antara kearifan lokal itu adalah ide atau pepatah adat dalam bentuk tambo dan ungkapan-ungkapan, tata ruang rumah adat dari segi arsitektur rumah gadang dan penataan lingkungannya serta sistem sosial kekerabatan dan pemerintahan adat dalam bentuk nagari. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan etnografi. Pengumpulan data dilakukan melalui observasi, keterlibatan dalam kegiatan masyarakat dan wawancara mendalam. Teknik-teknik ini dilakukan untuk mendapat informasi yang valid dan mendalam serta menghayati makna atau arti peristiwa dan tingkah laku secara komprehensif. Adapun nilai-nilai kearifan lokal yang diterapkan komunitas adat di Sumatera Barat meliputi tradisi badoncek di Nagari Tandikat Padang Pariaman, arsitektur dan tata kelola rumah gadang di Nagari Sungayang Tanah Datar serta mitigasi bencana berbasis nagari di Nagari Kubang Putiah Kabupaten Agam
LOCAL WISDOM AND NATURAL DISASTER IN WEST SUMATRA
<p>Community-based disaster management is an attempt to optimize the potential of social and local values in communities to facilitate the handling of natural disasters. West Sumatra as one of the disaster-prone areas in Indonesia has a number of local wisdom values—a value combining religion and local culture—rooted in traditional philosophy; “Adat Basandi Syara’, Syara’ Basandi Kitabullah”. The examples of those local wisdoms are customary ideas or proverbs in the form of legend and expressions, architectural design of the traditional house—“Rumah Gadang”—and the structure of the environment as well as the social systems of kinship and traditional administration in the form of Nagari. This research employed qualitative method by using ethnography approach. The data were collected through observations, participation in social events, and in-depth interviews. Those techniques were applied to obtain the valid information and the meaning of events and behaviors comprehensively. The local values applied by the indigenous communities as the victims of natural disasters in some regions of West Sumatra include “Badoncek” tradition in Nagari Tandikat Padang Pariaman, the architecture of “Rumah Gadang” in Nagari Sungayang, Tanah Datar and disaster mitigation based on district in Nagari Kubang Putiah Agam.</p><p><br />Managemen bencana berbasis masyarakat merupakan upaya untuk mengoptimalkan potensi sosial dan nilai-nilai lokal yang dimiliki masyarakat untuk memudahkan proses penanganan bencana alam. Sumatera Barat sebagai salah satu daerah rawan bencana di Indonesia, memiliki sejumlah nilai kearifan lokal, sebuah nilai yang memadukan antara agama dan budaya lokal yang termaktub dalam filosofi adat; Adat Basandi Syara’, Syara’ Basandi Kitabullah. Di antara kearifan lokal itu adalah ide atau pepatah adat dalam bentuk tambo dan ungkapan-ungkapan, tata ruang rumah adat dari segi arsitektur rumah gadang dan penataan lingkungannya serta sistem sosial kekerabatan dan pemerintahan adat dalam bentuk nagari. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan etnografi. Pengumpulan data dilakukan melalui observasi, keterlibatan dalam kegiatan masyarakat dan wawancara mendalam. Teknik-teknik ini dilakukan untuk mendapat informasi yang valid dan mendalam serta menghayati makna atau arti peristiwa dan tingkah laku secara komprehensif. Adapun nilai-nilai kearifan lokal yang diterapkan komunitas adat di Sumatera Barat meliputi tradisi badoncek di Nagari Tandikat Padang Pariaman, arsitektur dan tata kelola rumah gadang di Nagari Sungayang Tanah Datar serta mitigasi bencana berbasis nagari di Nagari Kubang Putiah Kabupaten Agam.</p></jats:p
WACANA SUFISTIK : TASAWUF FALSAFI DI NUSANTARA ABAD XVII M: ANALISIS HISTORIS DAN FILOSOFIS
Sufistict discourse of Sufism philosophy has grown rapidly to accompany the development of Islam in the period of growth in the archipelago. Seen from the source or network, in the 17th century AD it understood to be brought by the Sufi clerics or nomads who came from Persia and India, although the period appears haramain network is considered as a counter that ultimately criticize the ideology of philosophical Sufism that has developed before. The ideology of philosophical Sufism which developed in the archipelago in terms of the essence of the teachings comes from the philosophical Sufi mursia Ibn 'Arabi received by the archipelago of the archipelago through the followers of Ibn'Arabi or learned from his works which are encountered when wandering the middle queue - persia to study. Hamzah Fansuri and Syamsuddin Sumaterani as representenatasi of wujudiyyah in the archipelago is very stressed to maintain the concept of monotheism in an original and really crowded God. Hamzah especially emphasizes the stages of la ta'ayyun as a pure divine element. While Syamsuddin emphasize to his followers to understand al-muwahhidin al-shiddiqin, not equating anatara God with nature but understood by the logic of thinking that the form of nature is majazi or shadow of the form of God. With this understanding Syamsuddin has first clarified.

Wacana sufistik tasawuf falsafi telah berkembang pesat mengiringi perkembangan Islam pada masa pertumbuhan di Nusantara. Dilihat dari sumber atau jaringannya, pada abad ke-17 M, paham tersebut dapat dikatakan dibawa oleh ulama atau pengembara sufi yang datang dari Persia dan India, walaupun kurun itu muncul jaringan Haramain dianggap sebagi tandingan yang akhirnya mengkritik paham tasawuf falsafi yang telah berkembang sebelumnya. Paham tasawuf falsafi yang berkembang di Nusantara dari segi esensi ajaran berasal dari sufi filosofis mursia Ibn’ Arabi yang diterima ulama Nusantara melalui pengikut-pengikut Ibn’Arabi atau dipelajarai dari karya-karyanya yang ditemui ketika mengembara ke timut tengah – persia untuk menuntut ilmu. Hamzah Fansuri dan Syamsuddin Sumaterani sebagai representasi dari paham wujudiyyah di Nusantara sangat menekankan untuk memahani konsep tauhid secara orisinil dan benar-benar mengesakan Tuhan. Khususnya Hamzah menekanan sekali tahapan la ta’ayyun sebagai unsur ketuhanan yang murni. Sedangkan Syamsuddin menekankan kepada pengikutnya untuk berpaham al-muwahhidin al-shiddiqin, tidak menyamakan anatara Tuhan dengan alam tapi dipahami dengan logika berfikir bahwa wujud alam adalah majazi atau bayangan dari wujud Tuhan. Dengan paham ini Syamsuddin telah terlebih dahulu mengklarifikasi.</jats:p
KONSTRUKSI IDENTITAS ISLAM PERBATASAN\ud SEBUAH SINTESIS TERHADAP IDENTITAS TRADISIONAL DAN \ud IDENTITAS MODERNIS DALAM PAHAM KEAGAMAAN DI\ud DAERAH RAO SUMATERA BARAT
TRACKING ON MODERATE MUSLIM IN INDONESIA
This study focuses on tracking the dynamics of Indonesian conversations on moderate Islam thought. It attempts toanswer number of questions concerning with the base and background of moderate Islam in developing its ideologybetween fundamentalism and liberalism pattern, form and typology and the development of moderate Islam movementin Indonesia. For this objectives, this study examines the role of the moderate Islam institution in Indonesia. This studyshows that Muslim thinkers have made some of the greatest intellectual and theoretical contributions to the debatesover Islam and human rights, Islam and democracy, and Islam and women’s rights. This position is in line with thestate concerns. This means that Moderate Islam in Indonesia has provided the foundations of civil society that madethe transition to democracy possible whereas in the Middle East Islam has been seen as anathema to democratization
Relasi Agama dan Negara dalam Konteks Politik Lokal (Dinamika Formalisasi Islam dalam Perda Syariah di Sumatera Barat)
Era reformasi di Indonesia ditandai dengan perubahan system pemerintahan yang sentralistik menjadi desentralistik, serta menguatnya gejala-gejala politik identitas yang ditandai dengan maraknya isu kesukuan, kedaerahan dan keagamaan. Munculnya Perda berbasis agama dan kedaerahan adalah fenomena menarik di awal fase politik reformasi saat itu. Tidak terkecuali Sumatera Barat dengan relasi agama dan budaya yang selama ini dikenal kuat juga terdapat beberapa perda berbasis agama. Tulisan ini akan mengkaji tentang pola relasi agama dan Negara dalam konteks lokal terhadap perda syariah di Sumatera Barat. Supaya lebih fokusnya, Studi ini akan menelusuri penerapan, efektivitas dan polarelasi Islam dan Negara dalam 3 perda berbasis syariah yaitu Perda Provinsi Sumatera Barat No. 11/2001 tentang pemberantasan maksiat, Perda Kabupaten Solok No.6/2002 tentang pakaian muslimah dan Perda Kabupaten Agam No.5 tahun 2005 tentang kewajiban membaca dan menulis al-Qur’an. Hasil penelitian ini akan mengelaborasi apakah pergerakan Islam di aras lokal di era otonomi daerah ini, sebagai sebuah sikap romantisme dari pada masa lalu, atau sebuah gerakan yang benar-benar merekam kembali kedigdayaan Islam. Atau gejala ini, merupakan kontaminasi elit lokal yang sering mempolitisasi Islam yang melahirkan budaya Islam sesaat yang tidak terkultur
Sejarah Lokal Muhammadiyah: Perjuangan Inspiratif Umi Hj Saadah Siddik Dalam Gerakan Perempuan Dan Dakwah Sosial Melalui Social Solidary Network
Buku ini berjudul: Sejarah Lokal Muhammadiyah: Perjuangan Inspiratif Umi Hj Saadah Siddik dalam Gerakan Perempuan dan Dakwah Sosial Melalui Social Solidary Network. Fokus kajiannya adalah mengungkap tentang perjuangan Ummi Hj Saadah Siddik yang mengembangkan Panti Asuhan melalui model social solidarity network (solidaritas sosial berjaringan). Penelitiannya dilakukan dengan pendekatan kualitatif dengan mengumpulkan sumber, literatur dan bahan yang memuat perjuangan dan model pengembangan panti asuhan yang telah dilakukan sang tokoh
Penulisan buku ini dilatarbelakangi dengan perkembangan Aisyiyah Sumatera Barat yang telah menjadi lokomotif gerakan perempuan dan pendidikan di Sumatra Barat. Sejarah mencatat di beberapa daerah, gerbong dan pengendali aset pendidikan dan amal usaha umumnya digerakkan oleh tokoh-tokoh Asyiyah. Salah satunya adalah Ummi Hj Saadah Siddik dari Bukittinggi yang telah mendedikasikan hidupnya selama 56 tahun dari tahun 1951 sampai 1995 dalam amal usaha Aisyiyah Bukittinggi.
Adapun hasil yang telah didapatkan bahwa kiprah dan perjuangan serta dakwah sosial Ummi dalam gerakan sosial dan amal usaha Aisyiyah ini dikenal dengan pola pemberdayaan masyarakat dengan memanfaatkan modal dan jaringan sosial karena beliau telah menerapkan pola partisipatif dengan memanfaatkan jaringan dan relasi serta modal sosial masyarakat serta komunitas. Model ini diterapkan untuk pengembangan pola asuh dan pola pengurusan Panti Asuhan Aisyiyah Bukittinggi. Model ini masih diterapkan oleh panti asuhan yang dibangun dan di binanya selama 20 tahun
Perennialism and the Religious Common Platform of Mystical Tradition in Java
This article examines perennials’ understanding through the Javanese mysticism tradition that has developed before and after the arrival of Islam. The focus on perennials in this article is based on recognizing and equality of noble values in every religion that has ever developed in Javanese society, such as Buddhism, Hinduism, and Islam. Previous studies have emphasized that Javanese mysticism is studied from the acculturation of culture with religion. Even this understanding of religion is considered the antithesis of religious exclusivism and conservatism that is currently developing. It is just that the study of Javanese mysticism in the approach of religious perennials is infrequent and limited. This study uses a library research method to reveal the values of mysticism that develop across the religious boundaries of Javanese society. The findings of this study are that there are several teachings of Javanese mysticism, including the conceptions of tantrism, tantularism, and manunggaling kawula gusti. These conceptions illustrate the openness of Javanese society to various religions. They believe that in religions, there is a commonality in ultimate truth or divinity and mystical unity
Konstruksi Identitas Agama Dan Budaya Etnis Minangkabau Di Daerah Perbatasan: Perubahan Identitas Dalam Interaksi Antaretnis Di Rao Kabupaten Pasaman Sumatera Barat
This dissertation discusses the rise of religious and ethnic identity change in a frontier area in West Sumatera. Its analysis focuses on inter-ethnic interaction between Minangkabau people and other ethnic groups in a frontier area of Rao, Pasaman. This study founds that social relationship in a frontier area took place in the form of individual relationships between the Minangkabau people with the Mandailing people. In their social interaction, these communities were engaged in the process of cultural contact, conflict or competition, accommodation, assimilation, adaptation, aculturation, negotiation and contestation. This study confirms that the process of interaction affects the religious and cultural identity change. Finally, the construction of religious and Minangkabau ethnic culture in a frontier area formed a new identity which was established from the synthesis of a long process of social interaction. The construction of religious and cultural identity formed a religious and ethnic conflict prevention model
