575 research outputs found

    Keragaman Islam Dalam Film Indonesia Bertema Islam

    Full text link
    Tanggapan umat Islam terhadap film adalah positif selama film digunakan untuk perjuangan umat Islam dan bukan untuk menghancurkan umat. Simbol-simbol Islam ada di dalam perfilman Internasional sudah sejak lama. Film Indonesia bertema Islam diproduksi sudah sejak tahun 1960-an.Kemudian pada tahun 1970-an dan 1980-an bermunculan film-film bertema Islam yang misinya serta inti ceritanya memang untuk dakwah Islam. Di antaranya film-film yang dibintangi dan dibuat oleh Rhoma Irama. Film tersebut penuh dengan simbol Islam, baik dalam dialog di antara para tokohnya maupun dalam kostum mereka. Film-film Indonesia bertema Islam bisa dilihat sebagai film sejarah, drama dan laga. Film Indonesia bertema Islam yang bermuatan sejarah tidak hanya membawa misi Islam, namun juga perjuangan, nasionalisme dan patriotisme. Dari film-film Indonesia bertema Islam yang ada, banyak pemikiran, aliran, mazhab dan warna Islam yang merupakan keragaman Islam. Islam yang ditafsirkan beragam oleh umatnya, hadir dalam praktik kehidupan sehari-hari yang menunjukkan kekayaannya.Meskipun mendapatkan respon yang beragam baik dalam bentuk pro kontra, namun film bisa menjadi media alternatif yang damai dalam menyampaikan keragaman Islam. Makalah ini akan membuka wawasan studi keislaman dan analisis wacana tentang keragaman Islam yang tercapture oleh film Indonesia bertema Islam dari tahun 1980 hingga tahun 2014

    Islam in the Digital Films Expose the Good Sides of Muslims

    Full text link
    Film studies mostly show Islam in negative representation. From streaming film website, we can easily find many films that show Muslims stories. For example, Children of Heaven, Le Grand Voyage, My Name is Khan, etc. Those films do not seem to show Muslims as terrorist. They show Muslims life in various cultures and stories. The problem is what good sides of Muslims in the films can counter the negative stereotypes of Muslims in Hollywood images. Using Critical Discourse Analysis, this research exposes the good sides of Muslims in films. There is an Islamic world view in Children of Heaven. Some things may seem bad but then turn out to be good in the long run. My Name is Khan has a very important message about Islam. That is Islam is a peace and love religion. Le Grand Voyage shows a signification generation gap of Muslims. They are secular and devout Muslims. But they can communicate moderately.</jats:p

    Dekonstruksi Media Sosial Sebagai Media Penyiaran Islam

    Full text link
    Akun-akun beberapa ustadz yang aktif dalam media sosial tidak hanya menyiarkan teks agama literer, pesan dakwah yang sifatnya islami, tetapi juga menyiarkan promosi produk komersial. Penelitian ini melakukan dekonstruksi peran, fungsi, dan makna pesan dalam akun-akun ustadz di Twitter sebagai media penyiaran Islam. Selama ini penelitian tentang dekonstruksi lebih berfokus pada teks sastra. Padahal sebagai media sosial, Twitter pun menghasilkan teks yang menimbulkan konstruksi bahkan dekonstruksi. Posisi tulisan ini adalah mengkritisi media sosial sebagai media penyiaran Islam. Akun-akun ustadz @yusuf_mansyur dan @felixsiauw selain menyiarkan konten dakwah islami juga menyiarkan produk komersial milik mereka masing-masing. Akun twitter @yusuf_mansyur misalnya selain mendakwahkan sedekah, sering menyiarkan tentang Paytren yang merupakan aplikasi pembayaran berbagai tagihan. Bahkan ustadz Yusuf Mansyur pernah mendapatkan bully di Twitter karena cuitannya tentang menurunkan kurs Rupiah terhadap Dolar Amerika dengan cara berdoa. Akun twitter @felixsiauw selain menyiarkan pesan-pesan puitis islami juga sering menyiarkan promosi buku karyanya. Akun @felixsiauw pun pernah membuat kontroversi dengan menyiarkan pernyataan bahwa selfie adalah dosa. Penelitian ini menghasilkan temuan pokok tentang peran, fungsi, dan makna pesan dalam media sosial sebagai media penyiaran Islam sudah bukan lagi otoritas ustadz sebagai ustadz

    Tokoh Perempuan dalam Film : Studi tentang Representasi Tokoh Perempuan dalam Film Indonesia Bertema Islam Tahun 1980-2010

    Full text link
    Masih sedikitnya penelitian dan/atau kajian tentang perempuan dalam film Indonesia bertema Islam menjadi latar belakang dalam penelitian ini. Penelitian ini dibatasi hanya pada tokoh (karakter) perempuan dalam film karena kehadiran perempuan dalam dunia film Indonesia bertema Islam tidak hanya sebagai pemain tapi ada juga yang berperan sebagai film makers. Penelitian ini bertujuan untuk menjawab permasalahan tentang bagaimana perempuan direpresentasikan dalam film Indonesia bertema Islam pada tahun 1980 hingga tahun 2010 serta pergeseran mitos apa saja yang terjadi berkaitan dengan representasi tokoh perempuan dalam film Indonesia bertema Islam pada tahun 1980 hingga tahun 2010. Secara teoritis, penelitian ini diharapkan akan dapat memberikan kontribusi dalam pengembangan studi mengenai penelitian dakwah dengan analisis representasi pada film sebagai bagian dari Ilmu Dakwah. Secara praktis, penelitian ini bisa memberikan manfaat kognitif dan afektif berupa pengetahuan dan pemahaman peran perempuan dalam film Indonesia bertema Islam. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif dengan metode semiotik. Teori yang digunakan untuk menganalisa masalah adalah teori-teori semiotik dan representasi perempuan dalam Islam. Subjek penelitian ini yaitu film Sunan Kalijaga (tahun 1984), Sunan Kalijaga dan Syech Siti Jenar (tahun 1985), Sunan Gunung Jati (tahun 1985), Nada dan Dakwah (tahun 1992), Kiamat Sudah Dekat (tahun 2003), Mengaku Rasul (tahun 2008), Kun Fa Ya Kun (tahun 2008), Ayat-ayat Cinta (tahun 2008), Syahadat Cinta (tahun 2008), Ketika Cinta Bertasbih 1 (tahun 2009), Ketika Cinta Bertasbih 2 (tahun 2009), Doa yang Mengancam (tahun 2008), 3 Doa 3 Cinta (tahun 2008), Perempuan Berkalung Surban (tahun 2009), dan Emak Naik Haji (tahun 2009). Semuanya berjumlah lima belas film. Objek penelitiannya adalah tokoh perempuan dalam film Indonesia bertema Islam untuk melihat representasi perempuan dalam film Indonesia bertema Islam. Data primer penelitian ini yaitu mise-en-scene dan unsur sinematografi lainnya. Data sekunder dalam penelitian ini yaitu data-data dari tinjauan pustaka dan kerangka teori. dalam mengumpulkan data digunakan beberapa teknik yang akan meliputi dokumentasi dan studi pustaka. Hasil interpretasi menunjukkan kesan adanya beberapa mitos yang merupakan stereotype perempuan yang dilabelkan oleh masyarakat. Perempuan yang tidak sesuai dengan gambaran stereotype tersebut cenderung mengalami annihilisasi. Pergeseran mitos terjadi berkaitan dengan representasi tokoh perempuan dalam film Indonesia bertema Islam pada tahun 1980 hingga tahun 2010 di antaranya perempuan menghentikan kekerasan dengan ide dan komunikasi yang dilakukannya; istri lebih dihormati; perempuan akhirnya bisa memperjuangkan ketidakberdayaannya; pekerjaan perempuan sudah bervariasi; perempuan bisa menempuh studi lanjut; mudahnya menarik perhatian perempuan pada hal-hal yang menjadi minatnya; perempuan perempuan memiliki keberanian memimpin diri sendiri, keluarga dan komunitasnya

    Analisis Kanal Youtube IAIN Kudus sebagai Media Komunikasi dan Penyiaran Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri

    Full text link
    Sampai saat ini kajian tentang kanal YouTube PTKIN cenderung masih sedikit. Kajian tentang kanal YouTube IAIN Kudus pun belum ditemukan. Ini berlawanan dengan tren kajian YouTube perguruan tinggi di berbagai negara yang sudah banyak dilakukan. Berdasarkan asumsi sementara tersebut, penelitian ini hendak melakukan analisis atas kanal Youtube IAIN Kudus sebagai media komunikasi dan penyiaran PTKIN. Lebih lanjut lagi, penelitian ini ingin melihat peluang pengelolaannya jika dilakukan oleh Program Studi Komunikasi dan Penyiaran Islam. Fungsi YouTube bagi PTKIN seharusnya tidak hanya sebagai media sosialisasi, publikasi, dan dokumentasi saja. Dari kondisi ini bisa dipahami jika kanal YouTube IAIN Kudus juga tidak memiliki visi misi dakwah sehingga tidak pula memiliki fungsi dakwah. Penelitian ini membuka ide riset lainnya misalnya tentang SOP pengelolaan YouTube di PTKIN. Apakah semua kanal YouTube di PTKIN memiliki SOP yang dilaksanakan dengan baik dan benar

    RESEPSI MAHASISWA UIN SUNAN KUDUS TERHADAP KONTEN YOUTUBE DEDDY CORBUZIER DALAM PODCAST LOGIN

    Full text link
    Podcast Login oleh Deddy Corbuzier merupakan medium digital yang menyajikan dialog terbuka mengenai isu keagamaan dengan gaya bahasa santai dan non-formal. Mahasiswa UIN Sunan Kudus, dengan basis pendidikan Islam yang kuat, menjadi audiens krusial untuk memahami efektivitas model dakwah digital ini. Penelitian ini mengeksplorasi resepsi mahasiswa UIN Sunan Kudus terhadap konten yang disajikan dalam Podcast Login yang dipandu oleh Habib Jafar. Dengan pendekatan kualitatif deskriptif, penelitian menelaah bagaimana mahasiswa memahami, menginterpretasi, dan merespons tema-tema yang diangkat dalam podcast termasuk isu sosial, psikologis, dan budaya populer serta implikasinya terhadap sikap, opini, dan praktik media mereka. Penelitian kualitatif menggunakan metode analisis resepsi (Stuart Hall). Sampel terdiri dari 15 mahasiswa aktif UIN Sunan Kudus yang diwawancarai secara mendalam. Hasil decoding dikelompokkan menjadi tiga posisi resepsi. Hasil menunjukkan adanya variasi resepsi: sebagian besar informan menempati posisi dominant/preferred reading terhadap gaya bahasa yang digunakan dalam podcast—mereka cenderung setuju karena menilai gaya tutur host bersifat santai, komunikatif, dan tidak memihak sehingga mudah dicerna dan memfasilitasi ruang diskusi. Respon yang setuju ini memperkuat kecenderungan mahasiswa untuk mengadopsi pendapat atau framing tertentu pada isu-isu populer, meskipun pada isu sensitif beberapa informan menunjukkan pembacaan negotiated atau oppositional yang merefleksikan nilai agama dan norma kampus.  Faktor penentu resepsi meliputi latar belakang agama, tingkat literasi media, pengalaman pribadi, dan dinamika komunitas kampus. Pembahasan mengaitkan temuan dengan teori encoding/decoding Hall dan konsep konvergensi budaya. Penelitian ini menyarankan pentingnya pendidikan literasi media di perguruan tinggi untuk memperkuat kemampuan analitis mahasiswa terhadap konten digital populer. Resepsi mahasiswa UIN Sunan Kudus bersifat positif dan cenderung setuju dengan format komunikasi yang terbuka, santai, dan non-memihak, membuktikan bahwa gaya komunikasi digital yang adaptif efektif diterima oleh audiens akademik dengan latar belakang keagamaan

    Al-qur’an braille sebagai media dakwah kepada penyandang DSN dan untuk meningkatkan literasi Islam

    Full text link
    People with blind sensory disabilities use da’wa media that make it easier to receive da’wa messages. The purpose of this study was to describe the dakwah among people with visually impaired sensory at the Pendowo Kudus Pendowo Pendowo Kudus Social Services for Sensory Disabilities which includes an overview of dakwah; the use of the Braille Qur'an as a medium of dakwah; and the supporting and inhibiting factors. This research is field research that uses a qualitative approach. The process of collecting data using semi-structured interviews, observation, and documentation. This study concludes that dakwah at the Pendowo Kudus Pendowo Netra Sensory Disability Social Service Center includes an invitation to perform obligatory and sunnah worship. The use of the Braille Qur'an as a medium of dakwah begins with teaching Braille Al-Qur'an reading and writing. The supporting factor of the Braille Qur'an as a medium of dakwah is to know the word of God not only through sound but the tactual nature (touchable/touchable and sound) in the Braille Qur'an which is considered appropriate for people with visually impaired persons. The letters in the Braille Qur'an have similarities with the Latin Braille letters so that they are easier to learn. The paper used also has a special standard, so it is not easily damaged. The inhibiting factor in the use of the Braille Qur'an is the determination to learn. The separated form per juz makes it less practical. Purchases of Braille Korans must go through an order because not every store provides Braille Korans. People with blind sensory disabilities who have wet hands can be an obstacle in the learning process. To be able to master reading in the Braille Qur'an, takes quite a long time because the letters and stakes are written separately in the Braille Qur'an.

    Analisis Teknik Public Speaking Pada Stand Up Comedy Pada Komunitas Stand Up Indo Kudus

    Full text link
    This study discusses the public speaking techniques used by members of the Stand Up Indo Kudus Community in their stand-up comedy performances. Public speaking in this context involves the skill of speaking in front of an audience with the aim of entertaining and building effective communication through humor. The study employs a descriptive qualitative approach using semi-structured interviews to gather in-depth data from active comedians within the community. The findings reveal that frequently used public speaking techniques include voice intonation control to emphasize punchlines, body language to strengthen the narrative, and eye contact to create interaction with the audience. Additionally, improvisation plays a crucial role in handling unexpected situations on stage. Through activities such as open mic sessions and group discussions, the community consistently develops its members’ communication skills, shaping confident, creative, and adaptive comedians in various situation

    Patriarki Dan Femvertising: Eksploitasi Feminisme Sebagai Alat Kapitalisme Dalam Media

    No full text
    Penelitian ini membahas fenomena femvertising, yaitu strategi pemasaran yang memanfaatkan nilai-nilai feminisme seperti pemberdayaan perempuan dan kesetaraan gender untuk mempromosikan produk. Dengan menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif, penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi sejauh mana narasi feminisme dalam femvertising digunakan secara manipulatif oleh perusahaan untuk mendukung kepentingan kapitalisme. Data diperoleh melalui analisis narasi dan visual dari kampanye iklan yang mengusung tema feminisme, seperti "Real Beauty" dari Dove dan "Like a Girl" dari Always, serta ditinjau dalam kaitannya dengan praktik bisnis perusahaan. Hasil penelitian menunjukkan adanya dualitas dalam femvertising: di satu sisi, kampanye ini berhasil meningkatkan kesadaran tentang isu kesetaraan gender, namun di sisi lain, sering kali hanya menjadi alat untuk membangun citra positif perusahaan tanpa komitmen nyata terhadap nilai-nilai feminisme. Temuan juga mengungkapkan bahwa representasi perempuan dalam iklan cenderung homogen dan tidak inklusif, mengabaikan kelompok marjinal. Selain itu, terdapat kontradiksi antara pesan pemberdayaan dalam iklan dan praktik perusahaan, seperti ketimpangan gender internal dan eksploitasi tenaga kerja. Penelitian ini menyimpulkan bahwa meskipun femvertising memiliki potensi untuk mendukung transformasi sosial, implementasinya sering kali lebih berorientasi pada keuntungan komersial daripada perubahan sosial yang berkelanjutan

    Representasi Hadis dalam Sinetron Indonesia

    No full text
    The aim of this study is to show how the hadith is represented in sinetron (soap operas). What is the meaning behind the representation. It is motivated by the existence of pros and cons of the use of hadith in sinetron. Some soap operas are claimed to be preaching media to display hadiths in various ways. This study uses a semiotic method that can show how the hadith is displayed in sinetron. This method can also capture the meaning behind the appearance of the hadith. The result is as a consequence of the product of media with its two sides. Sinetron display the hadith in a sacred way, namely with the original Arabic text dialogues and their meanings. The speaker is also religious in character. As in the Dunia Terbalik sinetron, the hadith is often read by Kusoy. But, the hadiths appear in soap operas as decoration so they tend to be profane
    corecore