1,720,985 research outputs found

    Robert Frager\u27s Perception of Qalb with Sigmund Freud\u27s Psychoanalytic Theory (Comparative Study)

    Get PDF
    The study has the background that between the human heart and the mind there must be synchronization in order for good behavior. The study was intended to identify Robert frager\u27s view of qalb with the Sigmund Freud\u27s theory of psychoanalysis and also to a ratio between qalb Robert Frager and psychoanalysis Sigmund Freud. The study is qualitative in style with the method of library research that uses comparative analysis to compare qalb\u27s opinion with sigmund Freud\u27s psychoanalysis. Qalb is a place where man attains his individuality to spiritual, spiritual knowledge, and human consciousness, and helps one to believe in something. Psychoanalysis is all human behavior based on unconsciousness. The study may conclude that qalb, with personalities, is indeed different. But in reality humans cannot rely on one aspect to do something good. Instinct is needed as an inducement for the personality to direct one\u27s behavior, but man needs the heart as his guide

    Konsep Rūḥ dalam perspektif Syekh Abdul Qodir Al-Jailani dan Robert Frager : Studi komparatif pemikiran Syekh Abdul Qodir Al-Jailani dan Robert Frager

    Get PDF
    Menurut tradisi tasawuf salah satu aspek terpenting dalam diri manusia yaitu rūḥ. Rūḥ merupakan satu-satunya unsur yang bisa bertemu secara langsung dengan Tuhan. Perbedaan konsep yang hadir di kalangan para sufi membuat kajian mengenai rūḥ sangat menarik untuk dibahas. Salah satu tokoh sufi yang membahas mengenai rūḥ yaitu Syekh Abdul Qodir Al-Jailani. Sementara itu hanya sedikit tokoh psikologi membahas mengenai rūḥ, bahkan mayoritas para tokoh psikologi hanya mampu membahas pada perilaku manusia yang didasarkan pada kondisi jiwa. Namun dalam psikologi trasnspersonal yang merupakan salah satu aliran psikologi secara khusus mengkaji mengenai rūḥ manusia dan salah satu tokoh yang mempopulerkannya ialah Robert Frager. Secara garis besar penelitian ini membahas mengenai konsep rūḥ dalam pandangan Syekh Abdul Qodir Al-Jailani dan Robert Frager. Kedua tokoh memiliki persamaan dan perbedaan dalam memberikan konsep mengenai rūḥ. Persamaan dan perbedaan tersebut dapat diketahui dengan melakukan penelusuran dalam buku karya masing masing tokoh. Penelitian yang penulis lakukan termasuk dalam kategori penelitian kualitatif dengan menggunakan metode Studi Pustaka (Library Research) dengan teknik Analisis Konten (Content Analysis). Sumber utama dalam penelitian ini yaitu buku Sirrul Asrar dan Heart, Self & Soul: The Sufism Psychology of Growth, Balance and Harmony yang kedua buku ini telah diterjemahkan kedalam Bahasa Indonesia. Adapun sumber pendukung dalam penelitian ini adalah literatur-literatur tasawuf yang membahas mengenai konsep rūḥ, konsep rūḥ dalam pandangan psikologi transpersonal dan literatur yang terkait guna memberikan penjelasana dalam penelitian yang dilakukan oleh penulis. Hasil yang ditemukan terdapat beberapa persamaan dan perbedaan antara konsep rūḥ kedua tokoh. Persamaannya terletak pada objek yang ditujukan oleh kedua tokoh memiliki maksud yang sama. Adapun perbedaan yang penulis dapatkan, Syekh Abdul Qodir Al-Jailani menerangkan bahwa manusia secara umum memiliki empat lapis rūḥ: rūḥ jisamani rūḥ rawani, rūḥ sulthani dan rūḥ qudsi. Sementara Robert Frager menerangkan bahwa rūḥ terdiri dari tujuh lapis: rūḥ mineral, rūḥ nabati, rūḥ hewani, rūḥ pribadi, rūḥ insani, rūḥ rahasia dan rūḥ maha rahasia. Perbedaan lainnya yang penulis temukan yaitu perbedaan pendekatan yang dijelaskan kedua tokoh dalam memaparkan konsep rūḥ. Syekh Abdul Qodir Al-Jailani sangat dominan menggunakan pendekatan tasawuf, sementara Robert Frager menggunakan pendekatan tasawuf dan pendekatan psikologi transpersonal

    Kesejahteraan Psikologis dalam Perspektif Psikologi dan Tasawwuf: Studi Perbandingan atas Viktor E. Frankl dan Robert Frager

    No full text
    penelitian ini membuktikan bahwa kesejahteraan psikologis merupakan keseimbangan aspek fisik, psikologis, sosial dan spiritual (bio-psikososial- spiritual) yang dicapai melalui upaya pengembangan kualitas diri terutama pengembangan potensi dan peningkatan spiritualitas. Kesimpulan ini dibangun berdasarkan pada hasil analisa yang telah dilakukan oleh penulis, di antaranya yaitu: Pertama, menurut Viktor E. Frankl kesejahteraan lebih menekankan pada aspek mental dan emosional yang dicapai melalui upaya pengembangan kualitas diri. Frankl tidak tegas menyatakan bahwa faktor spiritualitas dan agama memengaruhi kondisi kesejahteraan psikologis. Sementara itu, Robert Frager menyimpulkan bahwa kesejahteraan lebih menekankan pada aspek spiritual yang dicapai melalui upaya pengembangan spiritualitas yang tinggi. Frager dengan tegas menyatakan bahwa faktor spiritualitas dan agama sangat memengaruhi kondisi kesejahteraan. Menurut Basil Fiorito, Kathleen Ryan, Jens Rowold, Morgan Green dan Marta Elliot spiritualitas dan agama merupakan faktor yang sangat dominan dalam memengaruhi kondisi kesejahteraan psikologis. Menurut mereka, orang yang meningkatkan spiritualitas dan melakukan amalan ibadah (beragama) lebih sejahtera dibandingkan dengan orang yang hanya meningkatkan kualitas diri saja. Kedua, dalam perspektif psikologi kesejahteraan Viktor E. Frankl dan Robert Frager memiliki titik tekan pemikiran yang berbeda. Perbedaan ini didasarkan pada kenyataan bahwa Viktor E. Frankl lebih memiliki corak pemikiran yang cenderung humanis. Sedangkan Robert Frager memiliki titik tekan pemikiran yang cenderung spiritualis. Perbedaan ini pada dasarnya dilatarbelakangi oleh orientasi pemikiran keduanya. Pemikiran Frankl lebih cenderung ditujukan kepada masyarakat Barat yang secara umum gaya kehidupannya dinilai hedonis dan materialis. Teori meaning (Logoterapi) yang digagas Frankl diharapkan mampu menyeimbangkan pemahaman kepada masyarakat Barat bahwa kesejahteraan hidup sejatinya tidak hanya terletak pada dimensi materi dan kuantitasnya saja, melainkan juga terletak pada pemaknaan, kualitas, dan prosesnya. Sementara itu, pemikiran Frager lebih cenderung ditujukan kepada masyarakat Muslim dan s}u>fi yang gaya hidupnya terlalu asketis. Frager dengan teori keseimbangan-nya diharapkan mampu memberi pemahaman bahwa kehidupan yang sejahtera idealnya dicapai melalui proses penyimbangan kebutuhan lahir dan batin, jasmani dan ruhani, eksoterik dan esoterik. Meskipun keduanya memiliki perbedaan orientasi, keduanya sama-sama memiliki pemikiran yang bercorak humanis dan spiritualis, hanya saja pemikiran Frankl lebih cenderung bernuansa humanis sedangkan Frager lebih bernuansa spirituali

    INTUISI PADA JAMA’AH TAREKAT QADIRIYYAH WA NAQSABANDIYYAH (TQN) PURWAKARTA: PERSPEKTIF PSIKOLOGI SUFI ROBERT FRAGER

    Get PDF
    Para filosof Islam meyakini bahwa Islam memiliki sejumlah pilar utama dalam pencarian kebenaran (epistemologi), salah satunya adalah intuisi. Penelitian ini bertujuan untuk meneliti intuisi dan faktor-faktor yang mempengaruhi terasahnya intuisi jama’ah Tarekat Qadiriyyah wa Naqsabandiyyah (TQN) Purwakarta. Metode yang digunakan adalah metode penelitian kualitatif dengan pendekatan fenomenologi yang akan dianalisis menggunakan teknik analisis fenomenologi interpretatif (Interpretative Phenomenological Analysis). Hasil penelitian mengungkap bahwa ada enam aspek intuisi yang terbentuk pada diri jama’ah yaitu hati yang lebih peka, keyakinan diri pada agama, sikap diri dalam menghadapi ujian, mengevaluasi diri sendiri, hubungan dengan Tuhan, dan hubungan dengan lingkungan. Sementara ada tiga faktor yang mempengaruhi intuisi jama’ah yaitu talqin zikir, aktivitas zikir, dan hubungan rabithah. Hasil penelitian tersebut dianalisa lebih mendalam melalui perspektif Psikologi Sufi Robert Frager, yakni enam aspek intuisi jama’ah bersesuaian dengan psikologi sufi di antaranya hati (qalb), pengetahuan hati, cahaya iman, adab, bersatu dengan Tuhan dan pelayanan. Tiga faktor yang mempengaruhi intuisi jama’ah perspektif psikologi sufi antara lain bai’at (menjadi seorang darwis), zikir (mengingat Tuhan), dan hubungan antara Syeikh dan darwis. Ada satu temuan unik yaitu terbukanya mata batin yang dianalisis sebagai bagian dari proses menyingkap hati dalam perspektif psikologi sufi. Mata batin sering dikenal sebagai indera keenam atau al-bathiniah atau dikenal juga dengan extra sensory perception. Setiap manusia memilikinya namun setiap manusia memiliki tingkat daya serap yang berbeda, ada yang rendah dan ada pula yang memiliki daya serap yang tinggi. Allah Swt. sudah menciptakan mata batin yang bersih bagi setiap jiwa yang lahir namun seiring dengan bertambahnya umur, mata batin tertutup oleh berbagai sifat buruk dan hal keduniawian sehingga tidak dapat melihat lagi hal-hal yang tersembunyi. Tarekat atau jalan yang ditempuh oleh para sufi dapat kita pelajari dan maknai sebagai bekal ilmu perjalanan kita, karena kita menyadari betul ada aspek dalam diri kita yang membutuhkan keberadaan tarekat sebagai suatu jalan untuk menempuhnya

    NAFS IN SUFISM PSYCHOLOGY: ROBERT FRAGER’S PERSPECTIVE

    Get PDF
    Objek utama kajian psikologi ialah manusia yang terdiri dari jiwa dan raga. Dalam psikologi, raga manusia dapat berfungsi atau beraktifitas ketika jiwa mampu menggerakkannya dalam bentuk motif. Secara garis besar, jiwa bergerak yang berpadu dengan raga membentuk sebuah nama “diri/aku (self)” atau dalam satu konsep “kepribadian”. Hal senada juga menjadi bagian dalam kajian Islam (tasawuf/sufisme), kepribdian (akhlak) melibatkan dua substansi yaitu jasad dan ruh. Dua substansi yang saling berlawanan ini pada prinsipnya saling membutuhkan. Dalam hal ini tentu saja term “nafs” merupakan jembatan untuk memadukan keduanya. Berawal dari ulasan komparatif atau bahkan menyamakan antara Psikologi Barat dan Tasawuf, Robert Frager (seorang psikolog sekaligus syekh) dalam dalam bukunya juga membicarakan term yang sama (nafs). Dalam buku Psikologi sufi yang ia tulis, ia mengaskan bahwa tasawuf adalah pendekatan yang sangat holisik (mengintegasikan antara fisik, psikis dan spirit) dan memahamkan bahwa tasawuf adalah disiplin spiritual bagi semua orang tanpa kelas dan kasta. Dengan demikian, rumusan masalah dalam tulisan ini ialah apa dan bagaimana definisi nafs, posisi dan karakteristik nafs dalam Psikologi Sufi dan tingkatan nafs dalam Psikologi Sufi perspektif Robert Frager. Dalam bagian kesimpulan, penulis menilik pada dua sudut pandang, yaitu sudut perkembangan nafs secara tasawuf dan mengkritisi aspek psikologis yang digunakan Robert Frager. Dalam sudut pandang sufisme, Robert Frager telah melakukan pengembangan dari konsep nafs yang telah dirumuskan al-Ghazali maupun al-Hifni. Namun demikian dalam tulisannya Robert Frager belum menyinggung hirarki kebutuhan yang diprakarsai Abraham Maslow ,terutama tingkat aktualisasi diri.The main object of psychology study is the human being as a wealth of body and soul. In psychology, the human body can function or act when the soul is able to move it in the form of motive. Broadly speaking, the moving soul that blends with the body forms a name called "self / I" or in a "personality" concept. The same thing is also a part of Islamic studies of tasawuf or sufism, personality (akhlak) involves two substances namely the body and spirit. These two opposing substances in principle need each other. In this case, of course the term "nafs" acts as a bridge to combine the two. Starting from a comparative review or even equating between Western Psychology and Sufism, Robert Frager, a psychologist as well as a sheikh, in his book also speaks of the same term (nafs). In his book of Sufi Psychology, he asserts that Sufism is a very holistic approach for it integrates physical, psychic and spirit and underlines that Sufism is a spiritual discipline for all people without class and caste. Thus, the formulation of the problem in this paper is what and how the definition of nafs, positions and characteristics of the nafs in Sufi Psychology and the level of nafs in the Sufi Psychology perspective of Robert Frager. In the conclusion part, the writer looks at two points of view, i.e. the nafs development in tasawuf and critiques the psychological aspects used by Robert Frager. In the view of Sufism, Robert Frager has been developing the concept of the nafs that al-Ghazali and al-Hifni have formulated. However, in his writings Robert Frager has not touched upon the hierarchy of needs initiated by Abraham Maslow, especially the level of self-actualization.

    Konsepsi Pengendalian Diri dalam Perspektif Psikologi Sufi dan Filsafat Stoisisme: Studi Komparatif dalam Buku Karya Robert Frager dan Henry Manampiring

    Get PDF
    Self-control based on spiritual elements can be said to be the cause of human obstruction in achieving peace and happiness. Thus, this study aims to uncover the concept of self-control in the perspective of sufi psychology and stoicism philosophy that is able to answer the problems of life today in achieving peace and happiness. In its preparation, this article uses qualitative methods with a library approach and is analyzed comparatively. The results and discussions of this study include an explanation of self-control in Robert Frager\u27s view, self-control in the philosophy of stoicism, and a comparison of the concepts of self-control from both views. From this study, it can be concluded that the philosophy of Stoicism and Sufi psychology shake hands to agree that the most basic self-control is controlling perception, so that one can achieve a peaceful and peaceful life. Association with God is the main purpose of self-control in sufi psychology to get a life that is surrounded by a sense of peace. Stoicism philosophy emphasizes that man can distinguish between things that they can control or those they cannot control

    NAFS IN SUFISM PSYCHOLOGY: ROBERT FRAGER’S PERSPECTIVE

    Get PDF
    Objek utama kajian psikologi ialah manusia yang terdiri dari jiwa dan raga. Dalam psikologi, raga manusia dapat berfungsi atau beraktifitas ketika jiwa mampu menggerakkannya dalam bentuk motif. Secara garis besar, jiwa bergerak yang berpadu dengan raga membentuk sebuah nama “diri/aku (self)” atau dalam satu konsep “kepribadian”. Hal senada juga menjadi bagian dalam kajian Islam (tasawuf/sufisme), kepribdian (akhlak) melibatkan dua substansi yaitu jasad dan ruh. Dua substansi yang saling berlawanan ini pada prinsipnya saling membutuhkan. Dalam hal ini tentu saja term “nafs” merupakan jembatan untuk memadukan keduanya. Berawal dari ulasan komparatif atau bahkan menyamakan antara Psikologi Barat dan Tasawuf, Robert Frager (seorang psikolog sekaligus syekh) dalam dalam bukunya juga membicarakan term yang sama (nafs). Dalam buku Psikologi sufi yang ia tulis, ia mengaskan bahwa tasawuf adalah pendekatan yang sangat holisik (mengintegasikan antara fisik, psikis dan spirit) dan memahamkan bahwa tasawuf adalah disiplin spiritual bagi semua orang tanpa kelas dan kasta. Dengan demikian, rumusan masalah dalam tulisan ini ialah apa dan bagaimana definisi nafs, posisi dan karakteristik nafs dalam Psikologi Sufi dan tingkatan nafs dalam Psikologi Sufi perspektif Robert Frager. Dalam bagian kesimpulan, penulis menilik pada dua sudut pandang, yaitu sudut perkembangan nafs secara tasawuf dan mengkritisi aspek psikologis yang digunakan Robert Frager. Dalam sudut pandang sufisme, Robert Frager telah melakukan pengembangan dari konsep nafs yang telah dirumuskan al-Ghazali maupun al-Hifni. Namun demikian dalam tulisannya Robert Frager belum menyinggung hirarki kebutuhan yang diprakarsai Abraham Maslow ,terutama tingkat aktualisasi diri. The main object of psychology study is the human being as a wealth of body and soul. In psychology, the human body can function or act when the soul is able to move it in the form of motive. Broadly speaking, the moving soul that blends with the body forms a name called "self / I" or in a "personality" concept. The same thing is also a part of Islamic studies of tasawuf or sufism, personality (akhlak) involves two substances namely the body and spirit. These two opposing substances in principle need each other. In this case, of course the term "nafs" acts as a bridge to combine the two. Starting from a comparative review or even equating between Western Psychology and Sufism, Robert Frager, a psychologist as well as a sheikh, in his book also speaks of the same term (nafs). In his book of Sufi Psychology, he asserts that Sufism is a very holistic approach for it integrates physical, psychic and spirit and underlines that Sufism is a spiritual discipline for all people without class and caste. Thus, the formulation of the problem in this paper is what and how the definition of nafs, positions and characteristics of the nafs in Sufi Psychology and the level of nafs in the Sufi Psychology perspective of Robert Frager. In the conclusion part, the writer looks at two points of view, i.e. the nafs development in tasawuf and critiques the psychological aspects used by Robert Frager. In the view of Sufism, Robert Frager has been developing the concept of the nafs that al-Ghazali and al-Hifni have formulated. However, in his writings Robert Frager has not touched upon the hierarchy of needs initiated by Abraham Maslow, especially the level of self-actualization

    NAFS IN SUFISM PSYCHOLOGY: ROBERT FRAGER’S PERSPECTIVE

    No full text
    Objek utama kajian psikologi ialah manusia yang terdiri dari jiwa dan raga. Dalam psikologi, raga manusia dapat berfungsi atau beraktifitas ketika jiwa mampu menggerakkannya dalam bentuk motif. Secara garis besar, jiwa bergerak yang berpadu dengan raga membentuk sebuah nama “diri/aku (self)” atau dalam satu konsep “kepribadian”. Hal senada juga menjadi bagian dalam kajian Islam (tasawuf/sufisme), kepribdian (akhlak) melibatkan dua substansi yaitu jasad dan ruh. Dua substansi yang saling berlawanan ini pada prinsipnya saling membutuhkan. Dalam hal ini tentu saja term “nafs” merupakan jembatan untuk memadukan keduanya. Berawal dari ulasan komparatif atau bahkan menyamakan antara Psikologi Barat dan Tasawuf, Robert Frager (seorang psikolog sekaligus syekh) dalam dalam bukunya juga membicarakan term yang sama (nafs). Dalam buku Psikologi sufi yang ia tulis, ia mengaskan bahwa tasawuf adalah pendekatan yang sangat holisik (mengintegasikan antara fisik, psikis dan spirit) dan memahamkan bahwa tasawuf adalah disiplin spiritual bagi semua orang tanpa kelas dan kasta. Dengan demikian, rumusan masalah dalam tulisan ini ialah apa dan bagaimana definisi nafs, posisi dan karakteristik nafs dalam Psikologi Sufi dan tingkatan nafs dalam Psikologi Sufi perspektif Robert Frager. Dalam bagian kesimpulan, penulis menilik pada dua sudut pandang, yaitu sudut perkembangan nafs secara tasawuf dan mengkritisi aspek psikologis yang digunakan Robert Frager. Dalam sudut pandang sufisme, Robert Frager telah melakukan pengembangan dari konsep nafs yang telah dirumuskan al-Ghazali maupun al-Hifni. Namun demikian dalam tulisannya Robert Frager belum menyinggung hirarki kebutuhan yang diprakarsai Abraham Maslow ,terutama tingkat aktualisasi diri.The main object of psychology study is the human being as a wealth of body and soul. In psychology, the human body can function or act when the soul is able to move it in the form of motive. Broadly speaking, the moving soul that blends with the body forms a name called "self / I" or in a "personality" concept. The same thing is also a part of Islamic studies of tasawuf or sufism, personality (akhlak) involves two substances namely the body and spirit. These two opposing substances in principle need each other. In this case, of course the term "nafs" acts as a bridge to combine the two. Starting from a comparative review or even equating between Western Psychology and Sufism, Robert Frager, a psychologist as well as a sheikh, in his book also speaks of the same term (nafs). In his book of Sufi Psychology, he asserts that Sufism is a very holistic approach for it integrates physical, psychic and spirit and underlines that Sufism is a spiritual discipline for all people without class and caste. Thus, the formulation of the problem in this paper is what and how the definition of nafs, positions and characteristics of the nafs in Sufi Psychology and the level of nafs in the Sufi Psychology perspective of Robert Frager. In the conclusion part, the writer looks at two points of view, i.e. the nafs development in tasawuf and critiques the psychological aspects used by Robert Frager. In the view of Sufism, Robert Frager has been developing the concept of the nafs that al-Ghazali and al-Hifni have formulated. However, in his writings Robert Frager has not touched upon the hierarchy of needs initiated by Abraham Maslow, especially the level of self-actualization. </jats:p

    Going Beyond Counting First Authors in Author Co-citation Analysis

    Get PDF
    The present study examines one of the fundamental aspects of author co-citation analysis (ACA) - the way co-citation counts are defined. Co-citation counting provides the data on which all subsequent statistical analyses and mappings are based, and we compare ACA results based on two different types of co-citation counting - the traditional type that only counts the first one among a cited work's authors on the one hand and a non-traditional type that takes into account the first 5 authors of a cited work on the other hand. Results indicate that the picture produced through this non-traditional author co-citation counting contains more coherent author groups and is therefore considerably clearer. However, this picture represents fewer specialties in the research field being studied than that produced through the traditional first-author co-citation counting when the same number of top-ranked authors is selected and analyzed. Reasons for these effects are discussed
    corecore