1,724,434 research outputs found
Riya Mehta oral history interview and transcript
This recording and transcript form part of a collection of oral history interviews conducted by the Chao Center for Asian Studies at Rice University. This collection includes audio recordings and transcripts of interviews with Asian Americans native to or living in Houston.Riya Mehta is a second generation Indian-American who was born and raised in Wisconsin. Her father emigrated from India for graduate school and her mother for medical residency. Riya is currently a freshman student at Rice University and is seeking to major in both cognitive science and kinesiology. Riya and her family identify as Jains and as such follow the Indian religion of Jainism; a religion notably centered on the core belief of non-violence. Riya was regularly involved in her local Jain temple in Wisconsin which also served as a focal point for the Jain community in her town. Jain Sunday School was held at the temple and also was the venue for religious festivals- such as Diwali. Outside of temple, Riya also engaged the Jain community by serving as the local representative for Wisconsin for the Young Jains of America organization. At Rice University, Riya continues to be involved in the Jain community by being a Young Jains of America representative for Houston and through the Rice Jain Students’ Association
Riya' dalam perspektif hadis
Syarat paling utama suatu amalan diterima di sisi Allah adalah ikhlas. Tanpanya, amalan seseorang akan sia-sia. Setan tidak ada hentinya memalingkan manusia, menjauhkan mereka dari keikhlasan. Salah satunya melalui pintu riya’ yang banyak tidak disadari setiap hamba. Riya’ dilakukan karena ingin mendapatkan pujian dari orang banyak. Seiring berkembangnya zaman, riya’ seringkali dikenal dengan kata flexing yang berarti pamer, perbuatan riya’ tidak hanya terjadi dalam kehidupan nyata, namun dalam kehidupan maya pun kerap kali banyak dilakukan. Salah satunya seperti contoh kasus pada Chanel Youtube Compas TV yang diakses pada 2 Oktober 2023 ada seorang jemaah haji di Makassar yang bernama Suarnati. Sepulang dari Ibadah Haji ia memamerkan emas sebanyak 180 gram yang menghiasi tubuhnya, hal itu disesalkan oleh Majelis Ulama Indonesia Provinsi Sulawesi Selatan karena tidak seharusnya jemaah haji melakukan hal seperti itu sepulang dari tanah suci, karena hal tersebut dilakukan di depan orang yang banyak. Kemudian terdapat berbagai hadits yang membahas tentang riya’, namun harus ditinjau dari segi kualitas dan kandungan syarahnya.
Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui bagaimana kualitas hadis tentang riya’ dan mengetahui bagaimana kandungan syarah hadis tentang riya’. Penelitian ini menggunakan kajian tematik dan syarah hadis. Penelitian ini mengggunakan jenis penelitian kualitatif dengan menerapkan metode deskriftif analisis, dengan sumber primer Kutubu Tis’ah seperti Shahih Bukhari, Shahih Muslim, Sunan Ibnu Majah, dan Musnad Ahmad. Sementara teknik pengumpulan data yang penulis gunakan adalah studi pustaka (library research).
Hasil penelitian menujukkan hadis yang berkaitan dengan perilaku riya. Riya’ memiliki beberapa bentuk diantaranya yaitu riya’ dalam perilaku, riya termasuk kedalam kemusyrikan, riya’ termasuk perbuatan orang munafik, dan riya’ dalam berhijrah. Penulis menemukan empat hadis terkait riya’ yaitu hadis riwayat Bukhori nomor 6018 tentang riya’ dalam perilaku, riwayat Ibnu Majah nomor 4192 tentang riya’ dalam beramal, riwayat Bukhori nomor 1326 tentang riya’ dalam bersedekan dan riwayat Bukhori nomor 52 tentang riya’ dalam berhijrah. Kualitas dari keempat hadis tersebut dinyatakan shahih dibuktikan dengan penilaian para ulama mengenai sanad tidak terdapat syad dan illat begitupun dengan matan hadis tidak ada perbedaan yang signifikan pada hadis-hadis yang lain dan tidak bertentangan dengan Al-Quran. Keempat hadis tersebut kualitasnya shahih menurut para ulama. Kandungan syarahnya menunjukkan bahwa perilaku riya merupakan sikap yang tidak terpuji dan dilarang dalam hadis. Oleh karena itu, perilaku tersebut haruslah dihilangkan karena tidak sesuai dengan tuntunan Nabi Muhammad Saw
Tafsir makna riya’ dalam Al Qur’an perspektif maqasidi
Riya>’ ialah satu dari macam penyakit hati, namun penyakit ini jarang sekali dapat dideteksi pada manusia bahkan ketika seseorang melakukan Riya>’, dia sendiri tidak akan menyadarinya, karena terselubung dalam kedalaman hati. Riya>’ sendiri mempunyai konteks yang luas dari ibadah namun juga perbuatan lain yang tujuannya ingin dilihat manusia. Dalam konteks masa kini Riya>’ banyak ditemukan dengan mempunyai wadah baru yakni dalam media sosial, baik Riya>’ dengan menunjukkan kebaikan seseorang maupun yang menunjukkan harta kekayaan yang dimiliki dan menganggap hal itu lumrah. Permasalahan ini membuat penulis mengangkat tema terkait Riya>’ karena fenomena ini banyak terjadi dikarenakan kurangnya pemahaman seseorang terkait makna Riya>’ sesungguhnya. Dalam penelitian ini penulis memetakkan kajian yaitu penafsiran ayat-ayat al Qur’an tentang Riya>’ dalam perspektif Tafsi>r Maqa>s}idi serta kontekstualisasi makna Riya>’ dalam perspektif Tafsi>r Maqa>s}idi dengan masa kini. Penelitian ini berjenis kualitatif dengan sifat kajian kepustakaan (Library Research) dengan menggunakan pendekatan Tafsi>r Maqa>s}idi guna menganalisis ayat-ayat Riya>’ yang termaktub dalam al Qur’an sebanyak lima kali dengan pembahasan pada tiga hal yakni Riya>’ dalam sedekah dalam al-Baqarah [2]:264 dan an-Nisā' [4]:38, Riya>’ dengan maksud angkuh dalam al-Anfāl [8]:47, serta Riya>’ dalam salat dalam an-Nisā' [4]:142 dan al-Mā‘ūn [107]:6 dan merujuk pada sumber penafsiran Tafsi>r Ibnu Katsi>r, Tafsi>r Al Qurt{ubi, serta Tafsi>r al Misbah. Penulis menggunakan Tafsi>r Maqa>s}idi sebagai pendekatan sebab pendekatan tersebut dapat menguak makna terdalam al Qur’an menjadikan tujuan setiap ayat al Qur’an akan selalu bisa merespon permasalahan yang terjadi dan dapat memberi makna sesungguhnya terkait Riya>’ dan kontekstualisasinya yang terjadi pada masa kini. Dalam kajian ini mengemukakan bahwa pertama, ayat-ayat tentang Riya>’ dalam al Qur’an memuat nilai-nilai fundamental yakni nilai keadilan, nilai kemanusiaan, nilai kesetaraan, serta nilai tanggungjawab. Kemudian aspek Maqa>s}id didalamnya ada H}ifz} al-Di’ dengan wadah baru yang terjadi pada masa kini dengan munculnya media sosial juga memiliki makna yang sama dengan Riya>’ yang terjadi sebelum ini, yakni sama-sama hal yang dimurkai Allah karena sama-sama ingin dilihat, dipuji, serta mendambakan sanjungan dari manusia dengan melupakan hakikatnya dalam melakukan segala sesuatu yakni hanya mengharap rida Allah
İmanı İçten Kemiren Bir Özellik: Riya ve Çeşitleri
İslâm’ın iki temel kaynağı olan Kur’an’da ve hadislerde “riya” ile alâkalı bilgiler yer almaktadır. Riya, Allah (c.c.) ve Rasûlü (s.a.s.) tarafından yerilmekte ve onun imânî bir özellik olmadığı vurgulanmaktadır. Riya ve süm’a kelimelerinin klasik kaynaklarda aynı manayı ifade ettiği ve genellikle bir arada kullanıldığı görülmektedir. Bu çalışmada ilk olarak riya ile irtibatlı olan niyet, iman, sâlih amel, ihlas ve ihsan başlıklarıyla, riyanın iman bağlamında değerlendirileceği temel kavramlara değinildikten sonra, Türkçede en bilinen ifadesiyle “gösteriş” anlamına gelen riya ve süm’a kelimeleri tahlil edilmiştir. Klasik eserlerde rastladığımız, riyaya sebebiyet veren en temel etkenlerden olan makam ve mevki hırsı yani “câh” kavramı da değerlendirmeye tâbi tutulmuştur. Sonrasında riyanın türleri, onun imana etkisi ve riyakârların göreceği muamele incelenmiştir. Çalışmadaki amaç; Kur’an’da ve sünnette geçen ifadeler ile kadim ulemanın tespitleri çerçevesinde, riya ile irtibatlı kavramları tahlil etmek suretiyle, imkân nispetinde bütüncül bir bakış açısıyla konuyu tasnif ve değerlendirmeye tabi tutmaktır
Nazhariyah ar-Riya inda al-Imam al-Ghazali
Skripsi tentang teori riya' menurut Imam Ghazali. Bahwasanya beliau berkata (al-Ghazali) riya' adalah mengharapkan kedudukan di hati manusia dengan amalan-amalan ibadah atau perbuatan baik
Riya' dalam Al-Qur'an Perspektif Tafsir Al-Maraghi
In social life, we encounter many phenomena that are related to its elements, both in the real world and in cyberspace, even these things have become a habit and are unknowingly ingrained in society. Therefore, more in depth knowledge about the interpretation of the meaning of riya’ in Qur’an and how the law and its consequences really need to be studied by Muslims in order to avoid things that are close to it. The purpose of this research is to describe it in Al-Qur’an from the perspective of al-Marāghī’s interpretation. This study uses a type of library research and a qualitative research approach with thematic methods. The primary data sources in study are the Qur’an and the al-Marāghī’s interpretations. Jurnals, books, articles, and other works that are related to this research are used, then documentation methods are used in data collection as well as descriptive analysis methods in data analysis. The result of various processing and analysis of research data about it in the Qur’an from the perspective of al-Marāghī’s interpretation is to provide an understanding that the meaning of an act of riya’ is an act of showing off done with the hope of being seen and praised by humans, the Qur’an views the act as a disgraceful act and the law is unlawful to do, a prohibited practice has the consequences or dangers mentioned in the Qur’an, namely not being able to reap the result of one’s deeds, obtaining a very heavy reward from Allah, and receiving deception from Allah for the element of deception, while the consequences of the practice of riya’ in are relevant to the phenomena of riya’ that are widespread in modern times. Now, this relevance exist because the consequences thereof are assigned to all practice (work) that have an element of riya’ embedded in their hearts.
Keywords: Riya’, Qur’an, Al-Marāghī’s Interpretations
Menyingkap makna riya’ dan derivasinya dalam Al-Qur’an : Analisis semantik model ensiklopedik
Fenomena riya’ pada saat ini semakin hari semakin menyebar luas. Banyak masyarakat yang belum sadar akan bahaya dari perilaku riya’ ini. Dengan melihat kepentingan terhadap pemaknaan al-Qur’an yang tepat dan sesuai atau dapat dimengerti oleh manusia, maka dalam konteks ini adalah pemaknaan terhadap kata riya’ dalam al-Qur’an menjadi sangat urgent untuk diteliti dan diungkap secara tegas dengan cara melihat secara keseluruhan kata-kata yang berbicara tentang riya’ dalam al-Qur’an untuk memperoleh makna yang utuh yang dapat di pahami secara benar agar tidak menghasilkan makna yang hanya dapat di duga-duga.
Tujuan penelitian ini mengkaji mengenai makna kata riya’ dan derivasinya dalam al-Qur’an, yang meliputi makna dasar, makna relasional dan konsep berdasarkan analisis semantik ensiklopedik. Yakni perpaduan antara metode tafsir maudhu’i yang dilengkapi dengan semantik sebagai analisisnya, sehingga dapat diketahui konsep kata riya’ dalam al-Qur’an yang sesungguhnya.
Metode yang digunakan dalam penelitian ini bersifat kualitatif dengan teknik pengumpulan data yang digunakan library research (studi kepustakaan) dengan merujuk kepada sumber primer dan sumber sekunder. Kemudian data-data yang dikumpulkan dari berbagai sumber selanjutnya ditelaah dan diseleksi yang kemudian dihubungan sesuai dengan masalah yang akan di bahas.
Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa kata riya’ dan derivasinya di dalam al-Qur’an ditemukan sebanyak 333 dalam 81 surat, dengan 95 bentuk berbeda yang tersebar dalam 313 ayat. Kata riya’ dilihat dari kamus Arab mengandung makna memeperlihatkan kebaikan untuk mendapat pujian. Makna relasioanal kata riya’ ketika pra Qur’ani memiliki relasi makna yang terkesan negatif sama halnya dengan kata riya’ pada masa al-Qur’an. Sehingga, konsep riya' dalam Al-Qur’an tampaknya tidak mengalami perluasan makna secara signifikan bila dibandingkan dengan masa sebelum Al-Qur’an. Artinya, konsep riya' sendiri sebagai perilaku berbuat baik dengan motif yang tidak ikhlas atau untuk mendapatkan pujian dari orang lain sudah ada sebelum datangnya Al-Qur’an. Namun, Al-Qur’an memberikan penekanan yang lebih kuat dan detail terhadap konsep riya', serta menyediakan pedoman yang jelas untuk menghindari perilaku ini. Hal Ini juga menggambarkan bahwa konsep riya' dalam Al-Qur’an lebih terfokus pada pemahaman keikhlasan dan tujuan untuk ibadah
KONTEKSTUALISASI RIYA’ DALAM BENTUK FLEXING IBADAH DI MEDIA SOSIAL UNTUK PENCITRAAN (STUDI TAFSIR TEMATIK)
Skripsi ini berjudul Kontekstualisasi Riya’ Dalam Bentuk Flexing Ibadah Di Media Sosial Untuk Pencitraan (Studi Tafsir Tematik). Dilatar belakangi karena maraknya di zaman sekarang orang yang memposting kegiatan ibadahnya secara berlebihan di media sosial. Hal tersebut secara tidak langsung bisa menyebabnya adanya unsur riya’. Sehingga menjadi hal yang bagus untuk diteliti. Terdapat dua permasalahan pada penelitian ini, yaitu bagaimana riya’ dalam bentuk flexing ibadah di media sosial bisa mempengaruhi makna dan tujuan dari ibadah, dan bagaimana dampak dari kontekstualisasi riya’ dalam bentuk flexing ibadah. Tujuan kajian ini yaitu untuk mendeskripsikan kontekstualisasi riya’ dalam bentuk flexing ibadah di media sosial diri bisa mempengaruhi makna dan tujuan dari ibadah, dan untuk mendeskripsikan bagaimana dampak dari kontekstualisasi riya’ dalam bentuk flexing ibadah. Penulis menggunakan jenis penelitian library research dengan metode kualitatif. Data primer penelitian ini adalah al-Qur’an dan kitab tafsir, sedangkan data sekundernya di dapatkan dari buku-buku, skripsi, maupun jurnal yang berkaitan dengan tema yang di bahas. Hasil penelitian Melaksanakan ibadah di dasari niat untuk riya’ tentu akan mempengaruhi tujuan dan keikhlasan dalam beribadah. Ketika seseorang menunjukkan ibadahnya secara berlebihan di media sosial akan dapat mengindikasikan bahwa motivasi utamanya untuk mendapatkan pujian atau pengakuan dari orang lain karena semakin banyaknya orang memuji dengan berkomentar di postingan media sosialnya ini bisa mengubah niat yang di awal niat ibadah karena mengharap ridha Allah SWT lama kelamaan akan terlena dan bisa berubah niat untuk mendapatkan pujian serta popularitas. Jika di lihat dari sisi positif akan mempengaruhi penonton untuk termotivasi dan menjadikannya acuan untuk berlomba-lomba semangat dalam melakukan ibadah. Dan bila di lihat dari segi negatifnya bisa menyebabkan amalan yang sia-sia karena adanya niat riya’.
Kata Kunci: Riya’, Ibadah, Flexing
- …
