17 research outputs found

    KRITIK TERHADAP PENGANUT AGAMA KRISTEN DAN AGAMA SUKU MENURUT PERSPEKTIF IMMANUEL KANT DALAM KONTEKS SUKU BOTI

    No full text
    Tujuan penulisan artikel ini adalah untuk menganalisis dan mendeskripsikan kritik Immanuel Kant terhadap agama dalam konteks kehidupan beragama yang terjadi di desa Boti. Tulisan ini mengacu pada kerangka teoritis Imannuel Kant dan urgensinya bagi kehidupan beragama, khususnya di desa Boti. Seperti yang dijelaskan Kant bahwa keyakinan agama murni bukanlah untuk membangun institusi manusia baru, tetapi untuk melakukan kritik rasional terhadap agama-agama yang ada dan mencoba membimbing agama-agama dalam kemajuan menuju cita-cita komunitas manusia universal. Metode penelitian yang digunakan adalah metode fenomenologi dan studi kepustakaan. Dalam penelitian, Peneliti menemukan bahwa kritik Immanuel Kant memberikan pemahaman baru kepada orang Kristen dan penganut agama suku (halaika) untuk menempatkan agama dengan benar dan terbuka baik secara logis maupun moral. Ini berarti bahwa moral dan logika tidak berdiri sendiri tetapi berjalan bersama dengan tujuan membuat perubahan yang baik untuk semua orang. Kritik Kant berguna karena memberikan kontribusi konstan terhadap peningkatan moralitas agama dan logika agama pada setiap orang.              Tujuan penulisan artikel ini adalah menganalisis dan mendeskripsikan Kritik Imannuel Kant tentang agama dalam konteks kehidupan keagamaan yang terjadi di desa Boti. Tulisan ini mengacu pada kerangka teori Imannuel Kant dan urgensinya bagi kehidupan keagamaan, khususnya di desa Boti. Sebagaimana yang dijelaskan Kant bahwa keyakinan agama yang murni bukanlah untuk membangun institusi manusia yang baru, tetapi melakukan kritik rasional terhadap agama-agama yang ada serta mencoba untuk membimbing agama-agama dalam kemajuan menuju cita-cita komunitas manusia universal. Adapun metode penelitian yang digunakan adalah metode fenomenologi dan studi pustaka. Dalam penelitian, peneliti menemukan bahwa kritik Imannuel Kant memberikan pemahaman baru kepada penganut Kristen dan penganut agama suku (halaika) untuk menempatkan agama dengan benar serta terbuka secara logika mau pun secara moral. Artinya moral dan logika tidak berdiri sendiri tetapi berjalan bersama dengan tujuan membuat perubahan yang baik bagi semua orang. Kritik Kant bermanfaat karena memberikan sumbangsih konstan bagi perbaikan moral keagamaan dan logika keagamaan setiap orang.             &nbsp

    Exploring The Relevance Of Pantheism With The Halaika Beliefs Of The Inner Boti Tribe

    No full text
    This article is a development of the Simlitabmas research grant from the Indonesian Ministry of Education and Culture that I did in 2022 in Boti Village, Ki\u27e District, South Central Timor Regency and has been published in book form and as my thesis during college. The research that I raised at that time was the Cultural Feudalism of the Boti Tribe According to the Perspective of Paulo Freire\u27s Theory of Liberating Education and Its Implementation in Christian Religious Education. In developing this article, I focus on the essence of halaika through the sociology of religion in order to find its scientific concept and see its relevance to pantheism. The Qualitative Ethnographic Method was used to see the cultural side and the halaika belief side of the Boti Dalam tribe. Literature study was used to add to the literature review related to pantheism. The results of the study show that both have relevance in terms of the meaning of nature as a source of life for humans. Where, nature is a place for humans to live and maintain their lives. In addition, both also believe that behind the existence of nature and human life there is something that envelops them in the limitations of their understanding regarding things that they cannot do. Nature also provides an understanding that what is visible is God who is in the invisible, so that the existence of nature and God becomes an inseparable unity for both

    Feodalisme Budaya Suku Boti Menurut Perspektif Teori Paulo Freire Tentang Pendidikan yang Membebaskan dan Implementasinya dalam Pendidikan Agama Kristen

    No full text
    Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui bagaimana sistem feodalisme menguasai masyarakat Suku Boti di Desa Boti, Kabupaten Timor Tengah Selatan dan untuk mengetahui bagaimana Pendidikan Agama Kristen berperan dalam memecahkan persoalan feodalisme dalam masyarakat Suku Boti di Desa Boti, Kabupaten Timor Tengah Selatan. Penelitian ini sangat urgen karena dapat memberi masukan bagi masyarakat Suku Boti, sehingga mereka sadar bahwa pendidikan sangat dibutuhkan guna mencapai perubahan dalam segi sosial dan ekonomi. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif, yang meliputi beberapa tahap, antara lain: metode pengumpulan data, waktu dan lokasi penelitian, informan penelitian, instrumen penelitian serta teknis analisa data. Hasil penelitian adalah Suku Boti masih kental dengan budaya feodalisme, sehingga Pendidikan Agama Kristen harus bersifat kontekstual, holistik, liberatif dan transformatif dengan mengarahkan segala daya dan upaya pedagogis agar menghasilkan generasi yang kritis, dialogis baik naradidik, pendidik maupun masyarakat agar memiliki kepekaan dan solidaritas kemanusiaan, kemampuan menganalisis masalah-masalah sosial serta bertumbuhnya spiritual ekologis demi menyatakan kehadiran kerajaan Allah bagi semua orang. Kata Kunci: Pendidikan Agama Kristen; Feodalisme; Budaya Suku Boti./ The purpose of the study was to find out how the feudalism system controlled the Boti Tribe community in Boti Village, South Central Timor Regency and to find out how Christian Religious Education played a role in solving the problem of feudalism in the Boti Tribe community in Boti Village, South Central Timor Regency.This research is very urgent because it can provide input for the people of the Boti Tribe, so that they realize that education is needed to achieve changes in social and economic terms.The research method used in this study is a qualitative method, which includes several stages, including: data collection methods, research time and location, research informants, research instruments and technical data analysis.The result of the research is that the Boti Tribe is still thick with feudalism culture, so that Christian Religious Education must be contextual, holistic, liberative and transformative by directing all pedagogical power and efforts in order to produce a generation that is critical, dialogical, both naradidik, educators and the community having sensitivity and human solidarity, the ability to analyze social problems and the growth of ecological spirituality in order to reveal the presence of the kingdom of God for all people. Keywords: Christian education; feodalism; Boti Tribal Culture

    William James' Concept of Religion: An Empirical Theory and Its Implementation in the Religious Context of Indonesia

    No full text
    Abstract: The purpose of writing this article is to analyze the concept of religion from the perspective of William James. This paper refers to James's framework of thinking about the way of religion and its urgency for religions that are adhered to by humans. As explained by James that being a religious person means belief in an invisible order that really exists, so that it produces a real effect in the world. The method used in this research is literature study which refers to references related to the topic raised. In this study, researchers found that the concept of William James can be implemented in Indonesia because it opens the framework of the Indonesian people's thinking about the way of religion through experience, knowledge, moral awareness and acceptance that leads to peace. Keywords: priest, single, church, ministry, vocation The Concept of Religion, Empirical Theory, William James

    Application of Shepherd Leadership to the Spiritual Growth of Christian Youth in the Digital Age

    No full text
    Writing this article aims to describe the pastor\u27s strategy in educating, fostering and guiding young people to experience spiritual growth. This article refers to the role of pastors in formulating the right strategy to solve the spiritual problems of young people which are slowly declining due to the pace of technology. Where, young people ignore worship and other spiritual activities such as a lack of interest in worship both in public worship, household worship, youth worship, and worship activities on church holidays. The, method used in this research is literature study which refers to references related to the topic raised. In this study, the authors found that pastors have a strategy to apply their leadership to grow the spirituality of youth through Teaching God\u27s Word with contextual topics, Bible study, coaching and guidance through counseling and the use of digital media. The achievement of pastoral leadership in the spiritual growth of young people is seen in terms of their quality of life. The proof of the spiritual growth of young people is that they will be diligent in participating in fellowship services at church and are able to practice the value of the truth of God\u27s Word to their surroundings

    Implementasi Konsep Berpikir Kritis Paulo Freire dalam Meningkatkan Pendidikan Masyarakat Rote Melalui Revitalisasi Tradisi Tu’u

    No full text
    Tradisi tu’u pendidikan penting bagi masyarakat Rote bukan hanya sebagai alat bantu pembiayaan pendidikan anak, tetapi sebagai bentuk solidaritas, bentuk persaudaraan dan sebagai media pemersatu masyarakat Rote. Namun, seiring berjalannya waktu tradisi Tu’u pendidikan mulai berkurang bahkan diabaikan dengan berbagai alasan. Salah satunya, lebih mementingkan tradisi Tu’u Belis, sehingga pendidikan diabaikan. Tujuan penulisan artikel ini adalah menganalisis konsep pendidikan menurut perspektif Paulo Freire tentang cara berpikir Kritis, kesadaran kritis dan pentingnya pendidikan serta urgensinya bagi keberlangsungan pendidikan masyarakat Rote. Freire menjelaskan bahwa pendidikan memainkan peran penting dalam proses pembebasan manusia dan pendidikan harus menjadi alat untuk mengatasi ketidakadilan sosial, kemiskinan, dan penindasan. Adapun metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah studi pustaka dan pengamat secara langsung di mana peneliti merupakan bagian dari masyarakat Rote di dukung oleh sumber sekunder seperti buku, jurnal dan media online yang bisa dipertanggungjawabkan secara akademis. Dalam Kajian ini, peneliti menemukan bahwa konsep Paulo Freire dapat diimplementasikan terhadap masyarakat Rote, karena membuka kerangka berpikir masyarakat Rote tentang pentingnya pendidikan melalui berpikir kritis dan kesadaran kritis, sehingga terbebas dari ketertindasan realitasnya.The Tu\u27u education tradition is important for the Rote community not only as a means of helping to finance children\u27s education, but as a form of solidarity, a form of brotherhood and as a medium for unifying the Rote community. However, as time went by, the Tu\u27u educational tradition began to diminish and even be ignored for various reasons. One of them is that the Tu\u27u Belis tradition is more important, so education is neglected. The purpose of writing this article is to analyze the concept of education according to Paulo Freire\u27s perspective regarding critical thinking, critical awareness and the importance of education and its urgency for the sustainability of education in the Rote community. Freire explained that education plays an important role in the process of human liberation and education must be a tool to overcome social injustice, poverty and oppression. Freire emphasized the importance of human-centered education, which involves students actively in the teaching and learning process, and promotes critical understanding of the world around them. The method used in this research is library research and direct observation where the researcher is part of the Rote community, supported by secondary sources such as books, journals and online media which can be academically accountable. In this study, researchers found that Paulo Freire\u27s concept can be implemented in the Rote community, because it opens up the Rote community\u27s framework of thinking about the importance of education through critical thinking and critical awareness, so that they are free from being oppressed by their reality

    Pendidikan Agama Kristen yang Membebaskan: Pedagogis Kritis Paulo Freire dalam Konteks Budaya Suku Boti

    No full text
    Abstract. This paper aimed to propose a liberating construction of Christian Religious Education (CRE). This study departs from research conducted on the Boti ethnic community in Boti Village, South Central Timor District. The Christians in the Boti community are still treated as adherents of foreign religions, whose existence is considered a threat to local culture. This fact makes Christians there unable to contribute optimally to the development of the local community. The method used in this study is a qualitative method with an ethnographic approach. Conducted by Paulo Freire's thinking about critical pedagogy, it is obtained a CRE construction that is relevant to the social situation of society. CRE must be contextual, holistic, liberative and transformative by directing all resources and pedagogical efforts to produce a generation that is critical and dialogical; they have sensitivity, solidarity, and ability to analyze social issues.Abstrak. Tujuan tulisan ini adalah mengusulkan konstruksi Pendidikan Agama Kristen (PAK) yang membebaskan. Kajian ini berangkat dari penelitian yang dilakukan pada masyarakat Suku Boti di Desa Boti, Kabupaten Timor Tengah Selatan. Umat Kristiani di masyarakat Boti masih diperlakukan sebagai penganut agama asing, yang keberadaannya dianggap mengancam budaya lokal. Kenyataan tersebut membuat umat Kristiani di sana tidak dapat memberikan konstribusi secara maksimal bagi kemajuan masyarakat setempat. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif dengan pendekatan etnografi. Dengan menggunakan bantuan pemikiran Paulo Freira tentang pedagogis kritis, diperoleh hasil suatu konstruksi PAK yang relevan situasi sosial masyarakat. PAK harus bersifat kontekstual, holistik, liberatif dan transformatif dengan mengarahkan segala daya dan upaya pedagogis agar menghasilkan generasi yang kritis, dialogis, memiliki kepekaan dan solidaritas kemanusiaan, dan memiliki kemampuan menganalisis masalah-masalah sosial

    Application of Shepherd Leadership to the Spiritual Growth of Christian Youth in the Digital Age

    No full text
    Writing this article aims to describe the pastor\u27s strategy in educating, fostering and guiding young people to experience spiritual growth. This article refers to the role of pastors in formulating the right strategy to solve the spiritual problems of young people which are slowly declining due to the pace of technology. Where, young people ignore worship and other spiritual activities such as a lack of interest in worship both in public worship, household worship, youth worship, and worship activities on church holidays. The, method used in this research is literature study which refers to references related to the topic raised. In this study, the authors found that pastors have a strategy to apply their leadership to grow the spirituality of youth through Teaching God\u27s Word with contextual topics, Bible study, coaching and guidance through counseling and the use of digital media. The achievement of pastoral leadership in the spiritual growth of young people is seen in terms of their quality of life. The proof of the spiritual growth of young people is that they will be diligent in participating in fellowship services at church and are able to practice the value of the truth of God\u27s Word to their surroundings

    Relevansi Perspektif Teknologi Pendidikan dengan Pendidikan Agama Kristen

    No full text
    Artikel ini merupakan suatu upaya yang dilakukan untuk menunjukkan bahwa teknologi pendidikan memiliki manfaat besar bagi Pendidikan Agama Kristen. Hingga saat ini masih minim artikel serupa yang membahas tentang relevansi teknologi pendidikan terhadap Pendidikan Agama Kristen. Tujuan penulisan artikel ini berusaha untuk menjelaskan tentang relevansi teknologi pendidikan terhadap Pendidikan Agama Kristen. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah studi kepustakaan, di mana sumber-sumber yang dikumpulkan adalah secara tertulis seperti buku dan artikel ilmiah lainnya. Tentunya semua sumber tersebut merujuk kepada topik terkait judul artikel yang dikaji. Hasil penulisan artikel ini adalah menguraikan relevansi teknologi pendidikan dengan Pendidikan Agama Kristen, lalu memberikan jawaban dan penjelasan mengenai bagaimana teknologi pendidikan dapat direlevansikan dalam Pendidikan Agama Kristen.Â

    FEODALISME BUDAYA DAN KONSEP PENDIDIKAN AGAMA KRISTEN YANG MEMBEBASKAN

    No full text
    Pendidikan yang membebaskan sejatinya menjadi pendidikan yang mampu mengeluarkan fitrah manusia dari kekangan dan intimidasi. Pendidikan yang membebaskan akan melahirkan masyarakat yang demokratis, sehingga bebas mengutarakan pendapat dan bebas menuntut hak-hak asasinya. Pendidikan memproduksi kemampuan belajar siswa dan memberi perubahan bagi masa depan setiap siswa yang ambil bagian dalam kegiatan belajar mengajar. Anak didik selayaknya dapat memandang guru dan teman itu sebagai subjek pendidikan, yang mana antar subjek pendidikan saling memecahkan dan saling melakukan pendidikan. Dengan demikian, pendidikan mendeskripsikan orientasi dalam diri setiap orang. Orientasi pendidikan diperlihatkan dengan taraf hidup yang baik serta meningkatnya perubahan karakter seperti peningkatan kognitif, afektif dan psikomotor, serta kegiatan untuk mentransendensikan dirinya secara bermartabat. Pendidikan digunakan sebagai kendaraan untuk menjalankan ideologi yang pada akhirnya menjerumuskan masyarakat Brasil ke dalam jurang kemiskinan, penindasan, kebodohan, perbudakan dan terasing dari dunia luar. Pendidikan agama Kristen yang membebaskan menjadi isu utama dalam situasi yang terjadi di Brasil. Hadirnya pendidikan agama Kristen yang membebaskan tidak terlepas dari upaya para teolog Amerika latin untuk memperbaharui kehidupan sosial, ekonomi dan budaya dari tindakan eksploratif pemerintah dan perusahaan internasional. Inti persoalannya adalah mengkritisi perbudakan yang dilakukan oleh kaum oligarki, kapitalis dan kekerasan yang membuat rakyat menderita. Suku Boti belum sepenuhnya menyadari pentingnya pendidikan, sehingga dibutuhkan pendekatan yang berbasis budaya. Tujuannya adalah mengedukasi pentingnya pendidikan bagi keberlangsungan dan kemajuan desa secara umum dan masyarakat secara pribadi. Teori Paulo Freire bisa diterapkan di Suku Boti karena mencakup metode humanis, dialog, penyadaran dan teologis, sehingga memudahkan para pemangku kepentingan maupun praktisi pendidikan untuk melakukan pendekatan dengan Suku Boti
    corecore