Bonafide - Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen
Not a member yet
96 research outputs found
Sort by
KRITIK NABI MIKHA TERHADAP NEPOTISME: PERSPEKTIF HERMENEUTIKA TEOLOGI KEADILAN SOSIAL
This article examines the Prophet Micah’s critique of nepotism through the lens of social justice theological hermeneutics. The historical background of eighth-century BCE Judah reveals systemic abuses of power, land confiscation, and political patronage that undermined the social order. Micah exposes this corruption through sharp prophetic rhetoric, portraying leaders as betrayers of their divine mandate. This analysis finds that modern nepotism shares structural similarities with the injustices of Micah’s era, namely the erosion of meritocracy and the weakening of social solidarity. The novelty of this research lies in positioning nepotism as an independent theological category within the interpretation of the Book of Micah. The research results affirm that the struggle against nepotism encompasses three crucial dimensions: (1) as an ethical agenda in social life; (2) as a prophetic calling to embody God's justice (mishpat) in the public sphere; and (3) as a theological calling to restore the integrity of public spirituality centered on faith loyalty and the rejection of exclusive privileges. Consequently, this article grounds Micah's message as an instrument of socio-political transformation relevant to the context of modern leadership in Indonesia.Artikel ini mengkaji kritik Nabi Mikha terhadap praktik nepotisme melalui pendekatan hermeneutika teologi keadilan sosial. Latar historis Yehuda abad ke-8 SM menyingkap penyalahgunaan kekuasaan, perampasan tanah, dan patronase politik yang secara sistemik merusak tatanan sosial. Mikha menyingkap korupsi tersebut melalui retorika profetis tajam yang menggambarkan para pemimpin sebagai pengkhianat mandat ilahi. Analisis ini menemukan bahwa nepotisme modern memiliki kesamaan struktural dengan ketidakadilan pada masa Mikha, yaitu pengikisan meritokrasi dan pelemahan solidaritas sosial. Kebaruan penelitian ini terletak pada pemosisian nepotisme sebagai kategori teologis tersendiri dalam tafsir Kitab Mikha. Hasil penelitian menegaskan bahwa perjuangan melawan nepotisme mencakup tiga dimensi utama: (1) agenda etis dalam kehidupan sosial; (2) panggilan profetis untuk mewujudkan keadilan Allah (mishpat) di ruang publik; dan (3) panggilan teologis untuk memulihkan integritas spiritualitas publik yang berpusat pada kesetiaan iman dan penolakan terhadap hak istimewa eksklusif. Artikel ini menegaskan pesan Mikha sebagai instrumen transformasi sosial-politik yang relevan bagi kepemimpinan modern di Indonesi
Incarnational Missio Dei: a Theological Framework for Holistic Cross-Cultural Mission in Indonesia
Konsep Missio Dei berakar pada misi Allah Tritunggal yang mengutus dan memanggil Gereja untuk berpartisipasi dalam karya penebusan dan pemulihan dunia secara lintas budaya dan holistik. Namun, dalam konteks Indonesia yang majemuk, masih terdapat kebutuhan teologis untuk merumuskan pemahaman Missio Dei yang kontekstual, khususnya dalam menjangkau suku-suku terpinggirkan yang belum terlayani secara memadai. Penelitian ini bertujuan menguraikan dasar teologis Missio Dei serta merumuskan prinsip-prinsip inkarnasional dan holistik sebagai kerangka konseptual misi yang relevan di tengah pluralisme sosiokultural Indonesia. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif-deskriptif melalui kajian literatur teologi dan misiologi, dengan tahapan analisis konseptual teologis, analisis kritis terhadap prinsip inkarnasional yang berlandaskan kénosis Kristus dan prinsip holistik yang berorientasi pada shalom, serta interpretasi kontekstual dalam realitas Indonesia. Hasil kajian menunjukkan bahwa Missio Dei perlu dipahami melalui pendekatan inkarnasional yang menekankan kontekstualisasi Injil dan penghargaan terhadap epistemologi lokal, serta pendekatan holistik yang mengarah pada pemulihan totalitas kehidupan manusia. Kajian ini berkontribusi dengan menawarkan kerangka teologis inkarnasional-holistik sebagai dasar reflektif bagi pengembangan praksis misi lintas budaya yang etis, kontekstual, dan transformatif di Indonesia.The concept of Missio Dei is rooted in the mission of the Triune God who sends and calls the Church to participate in the work of redemption and restoration of the world in a cross-cultural and holistic manner. However, within Indonesia’s pluralistic context, there remains a theological need to articulate a contextual understanding of Missio Dei, particularly in relation to reaching marginalized and unreached people groups. This study aims to explicate the theological foundations of Missio Dei and to formulate incarnational and holistic principles as a conceptual framework for mission that is relevant within Indonesia’s socio-cultural plurality. Employing a qualitative-descriptive approach through a literature-based study in theology and missiology, this research involves theological-conceptual analysis, critical examination of incarnational principles grounded in the kenosis of Christ, holistic principles oriented toward shalom, and contextual interpretation within the Indonesian setting. The findings indicate that Missio Dei must be understood through an incarnational approach that emphasizes contextualization of the Gospel and respect for local epistemologies, as well as a holistic approach aimed at the restoration of the totality of human life. This study contributes by offering an incarnational-holistic theological framework as a reflective foundation for the development of ethical, contextual, and transformative cross-cultural mission praxis in Indonesia
ANALISIS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA KRISTEN BERBASIS NYANYIAN DAN MUSIK DI SMA NEGERI 10 LATUHALAT KOTA AMBON
Christian Religious Education (PAK) in Christian schools often relies on a cognitive approach that is less able to involve the emotional and spiritual dimensions of students, so that the strengthening of Christian values is limited. This study aims to examine the effect of music-based learning on strengthening Christian values in students at SMA Negeri 10 Latuhalat, Ambon City. With a qualitative approach, data were collected through interviews, observations, and documentation, and analyzed using thematic analysis. The results showed that music is effective in strengthening the understanding of the values of love, forgiveness, and humility, as well as encouraging students' emotional and spiritual growth. In addition, music-based activities increase students' active participation, strengthen interpersonal relationships, and encourage changes in students' attitudes to be more caring, honest, and humble. The implications of these findings indicate the importance of a music-based approach in PAK learning to enrich affective learning models and support creative and spiritual education policies in Christian schools.Pendidikan Agama Kristen (PAK) di sekolah Kristen sering kali mengandalkan pendekatan kognitif yang kurang mampu melibatkan dimensi emosional dan spiritual siswa, sehingga penguatan nilai-nilai Kristiani menjadi terbatas. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji pengaruh pembelajaran berbasis musik terhadap penguatan nilai-nilai Kristiani pada siswa di SMA Negeri 10 Latuhalat, Kota Ambon. Dengan pendekatan kualitatif, data dikumpulkan melalui wawancara, observasi, dan dokumentasi, serta dianalisis menggunakan analisis tematik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa musik efektif dalam memperkuat pemahaman nilai kasih, pengampunan, dan kerendahan hati, serta mendorong pertumbuhan emosional dan spiritual siswa. Selain itu, aktivitas berbasis musik meningkatkan partisipasi aktif siswa, memperkuat relasi interpersonal, dan mendorong perubahan sikap siswa yang lebih peduli, jujur, dan rendah hati. Implikasi dari temuan ini menunjukkan pentingnya pendekatan berbasis musik dalam pembelajaran PAK untuk memperkaya model pembelajaran afektif dan mendukung kebijakan pendidikan kreatif dan spiritual di sekolah Kristen.
Keywords: Christian Religious Education, Music-Based Learning, Christian Values, Spiritual Strengthening, Student Participation, Affective Learning.
Abstrak. Pendidikan Agama Kristen (PAK) di sekolah Kristen sering kali mengandalkan pendekatan kognitif yang kurang mampu melibatkan dimensi emosional dan spiritual siswa, sehingga penguatan nilai-nilai Kristiani menjadi terbatas. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji pengaruh pembelajaran berbasis musik terhadap penguatan nilai-nilai Kristiani pada siswa di SMA Negeri 10 Latuhalat, Kota Ambon. Dengan pendekatan kualitatif, data dikumpulkan melalui wawancara, observasi, dan dokumentasi, serta dianalisis menggunakan analisis tematik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa musik efektif dalam memperkuat pemahaman nilai kasih, pengampunan, dan kerendahan hati, serta mendorong pertumbuhan emosional dan spiritual siswa. Selain itu, aktivitas berbasis musik meningkatkan partisipasi aktif siswa, memperkuat relasi interpersonal, dan mendorong perubahan sikap siswa yang lebih peduli, jujur, dan rendah hati. Implikasi dari temuan ini menunjukkan pentingnya pendekatan berbasis musik dalam pembelajaran PAK untuk memperkaya model pembelajaran afektif dan mendukung kebijakan pendidikan kreatif dan spiritual di sekolah Kristen.
Kata Kunci: Pendidikan Agama Kristen, Pembelajaran Berbasis Musik, Nilai-Nilai Kristiani, Penguatan Spiritual, Partisipasi Siswa, Pembelajaran Afektif
ANALISIS PERILAKU FITNAH DITINJAU DARI PERSFEKTIF TEOLOGI KRISTEN
Abstract. The main issues addressed in this article are: first, the frequent occurrence of slander among Christians without considering their identity as Christians; second, slander is often seen as a normal action because it is perceived as a form of revenge; third, slander is carried out without rationally considering its impact; fourth, slander is done with the motivation of gaining personal benefit. The author aims to provide an analysis of slanderous behavior from a Christian theological perspective so that Christians do not easily fall into the trap of engaging in or being influenced by slander. Additionally, Christians should not be quick to believe in rumors, but instead, should critically analyze their validity with concrete evidence. The research method used is qualitative. In conclusion, slanderous behavior does not reflect the true identity of a Christian.
Keywords: Slanderous Behavior, Christian theologyAbstrak. Masalah utama dari penulisan artikel ini yaitu pertama, sering terjadinya fitnah di kalangan Kristen tanpa memikirkan identitasnya sebagai orang Kristen; kedua, fitnah menjadi suatu tindakan yang dianggap normal karena sebagai bentuk dari balas dendam; ketiga, melakukan fitnah tanpa memikirkan secara akal sehat apa dampaknya; keempat, melakukan fitnah karena memiliki motivasi untuk mendapatkan keuntungan dari tindakan tersebut. Penulis ingin menjelaskan tentang analisis prilaku fitnah ditinjau dari persfektif teologi Kristen agar orang Kristen tidak mudah terjebak dengan fitnah yang dilakukan dan terpengaruh untuk melakukan fitnah juga. Selain itu, orang Kristen tidak gampang percaya ketika mendengar isu yang berkembang melainkan perlu menganalisa kebenarannya dengan bukti yang berlaku. Metode penelitian yang digunakan adalah penelitian kualitatif. Jadi dapat disimpulkan bahwa prilaku fitnah sebagai suatu prilaku yang tidak mencerminkan jati diri sebagai orang Kristen.
Kata Kunci: Prilaku Fitnah, Teologi Kriste
Beautifying Or Destroying: An Analysis of The Theology of The Body and Perspectives on Make-Up for Generation Alpha
Penelitian ini mengeksplorasi fenomena penggunaan kosmetik (make-up) pada anak-anak generasi alfa yang tumbuh di tengah pesatnya paparan budaya digital, ditinjau melalui lensa Teologi Tubuh. Sebagai generasi yang terpapar media sosial sejak dini, generasi alfa menghadapi tekanan standar kecantikan digital yang berisiko menggeser pemahaman tubuh dari subjek yang sakral menjadi objek estetika semata. Dengan menggunakan metode analisis deskriptif-kualitatif melalui pendekatan teologis dan sosiologis, artikel ini mengkaji apakah penggunaan make-up pada usia dini berfungsi sebagai sarana ekspresi diri yang mempercantik atau justru merusak makna tubuh sebagai Imago Dei (Gambar Allah). Hasil analisis menunjukkan bahwa Teologi Tubuh memandang tubuh bukan sekadar materi lahiriah, melainkan sakramen yang mencerminkan kehadiran ilahi. Oleh karena itu, penggunaan make-up bagi generasi alfa memerlukan pendampingan pastoral dan edukasi teologis yang seimbang untuk menjaga integritas martabat tubuh, sehingga kecantikan lahiriah tidak mengubur esensi tubuh sebagai pemberian Tuhan yang kudus.This research explores the phenomenon of make-up usage among generation alpha children, who are growing up amidst intense digital culture exposure, examined through the lens of the Theology of the Body. As a generation exposed to social media from an early age, generation alpha faces the pressure of digital beauty standards that risk shifting the understanding of the body from a sacred subject to a mere aesthetic object. Using a descriptive-qualitative analysis method through theological and sociological approaches, this article examines whether early-age make-up use serves as a means of self-expression that beautifies or instead damages the meaning of the body as Imago Dei (Image of God). The analysis shows that the Theology of the Body views the body not merely as outward matter but as a sacrament reflecting the divine presence. Therefore, the use of make-up for generation alpha requires balanced pastoral guidance and theological education to maintain the integrity of bodily dignity, ensuring that outward beauty does not overshadow the essence of the body as a holy gift from God
GEREJA YANG EKOLOGIS MENGACU RUMAH PANGGUNG DALAM KONTEKS KOTA BANJARMASIN
This study analyzes the ecological values embodied in stilt houses and proposes a model of ecological ecclesiology within the context of Banjarmasin City. A qualitative method was employed, using interviews, observations, and literature reviews. The findings reveal that stilt house construction in Banjarmasin reflects harmony between humans and nature, with architectural designs adapted to floods and tidal shifts. These houses also help preserve local wisdom, minimize environmental impact, and strengthen social and spiritual interactions. Such values may serve as a model for the church in carrying out its ecological mission, enabling it to contribute to environmental sustainability while fulfilling its spiritual and social calling.Penelitian ini menganalisis nilai-nilai ekologis dalam rumah panggung dan menawarkan konsep ekslesiologi ekologis dalam konteks Kota Banjarmasin. Metode kualitatif diterapkan melalui wawancara, observasi, dan studi pustaka. Hasil menunjukkan bahwa konstruksi rumah panggung di Banjarmasin mencerminkan harmoni antara manusia dan alam, dengan desain yang beradaptasi pada banjir dan pasang surut air. Rumah panggung juga menjaga kearifan lokal, mengurangi dampak lingkungan, dan memperkuat interaksi sosial-spiritual. Nilai-nilai ini dapat menjadi model bagi gereja dalam menjalankan misi ekologisnya, sehingga gereja berkontribusi pada keberlanjutan lingkungan sekaligus misi spritual dan sosialnya
Strategi Pastoral Gereja Keuskupan Ruteng Dalam Menanggapi Politik Patronase: Sebuah Tinjauan Berdasarkan Teologi Publik
This research examines the pastoral strategy of the Diocese of Ruteng Church in responding to the rise of patronage politics in the Manggarai region post-reformation. Using a public theology approach, the objective of this research is to analyze how the Church voices ethical and faith-based values amidst a corrupt local political context. Through a qualitative literature review method that examines official Church documents such as pastoral letters and synod documents, it was found that the Church's involvement has thus far been more educational-moral in nature. This strategy is realized through practical efforts such as public animation to cultivate a culture of shame and honesty, the radicalization of ethical attitudes through education and anti-money politics campaigns, and urging democratic institutions to operate fairly. Although this effort is an important public contribution, the research concludes that this approach has not yet effectively addressed the structural roots of patronage politics. Therefore, it is recommended that the Church deepens its involvement by integrating its moral and spiritual approach with more focused structural advocacy and cross-sectoral collaboration to realize a more holistic social change and a dignified democracy.Penelitian ini mengkaji strategi pastoral Gereja Keuskupan Ruteng dalam menanggapi maraknya politik patronase di wilayah Manggarai pasca-reformasi. Dengan menggunakan pendekatan teologi publik, tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis bagaimana Gereja menyuarakan nilai-nilai etis dan iman di tengah konteks politik lokal yang koruptif. Melalui metode kualitatif studi kepustakaan yang menelaah dokumen resmi Gereja seperti surat gembala dan dokumen sinode , ditemukan bahwa keterlibatan Gereja selama ini lebih bersifat edukatif-moral. Strategi ini diwujudkan melalui upaya praksis seperti animasi publik untuk menumbuhkan budaya malu dan kejujuran, radikalisasi sikap etis lewat edukasi dan kampanye anti-politik uang, serta desakan pada institusi demokrasi untuk bekerja secara adil. Meskipun upaya ini merupakan kontribusi publik yang penting, penelitian ini menyimpulkan bahwa pendekatan tersebut belum secara efektif menyentuh akar struktural politik patronase. Oleh karena itu, direkomendasikan agar Gereja memperdalam keterlibatannya dengan memadukan pendekatan moral dan spiritualnya dengan strategi advokasi struktural yang lebih terarah serta kolaborasi lintas sektor untuk mewujudkan perubahan sosial yang lebih utuh dan demokrasi yang bermartabat
ANALISIS EKLESIOLOGI TERHADAP EFEKTIVITAS KUNJUNGAN PASTORAL BAGI PERTUMBUHAN KUALITATIF JEMAAT
Church growth is often viewed only from a quantitative aspect; however, the true success of ministry lies in the spiritual quality of the congregation, which is influenced by the active role of the pastor. This study aims to analyze the effectiveness of pastoral visitation as a supporting factor for church growth amid changing times that demand an increase in the quality of shepherding ministry. Using a qualitative approach with the library research method, grounded in Rawambaku’s theoretical framework and supported by phenomenological observation, this research explores literature related to the interaction between pastor and congregation. The findings show that the effectiveness of visitation is determined by the pastor’s integrity and attitude of service, which include a servant’s heart, love, and exemplary character in embracing the spiritual needs of the congregation. Through regular visitation, pastors can understand the real condition of the congregation, provide relevant motivation, and restore relationships that directly impact the improvement of both the quality of faith and the quantity of church members. It is concluded that pastoral visitation is an effective strategy to stimulate church growth because it fosters personal spiritual maturity and ensures that every soul is nurtured according to the truth of God’s Word.Pertumbuhan gereja sering kali dipandang hanya dari aspek kuantitatif, namun keberhasilan pelayanan yang sesungguhnya terletak pada kualitas kerohanian jemaat yang dipengaruhi oleh peran aktif gembala. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis efektivitas kunjungan pastoral sebagai faktor penunjang pertumbuhan gereja di tengah perubahan zaman yang menuntut peningkatan kualitas pelayanan penggembalaan. Menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode kajian pustaka (library research) yang mengacu pada landasan teoretis Rawambaku serta didukung oleh metode pengamatan fenomena, penelitian ini menggali literatur yang berkaitan dengan interaksi gembala dan jemaat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa efektivitas kunjungan ditentukan oleh integritas dan sikap pelayanan gembala yang mencakup hati hamba, kasih, dan keteladanan dalam merangkul kebutuhan rohani jemaat. Melalui kunjungan yang teratur, gembala dapat mengenal kondisi nyata jemaat, memberikan motivasi yang relevan, serta memulihkan hubungan yang berdampak langsung pada peningkatan kualitas iman dan kuantitas anggota gereja. Disimpulkan bahwa kunjungan jemaat merupakan strategi efektif untuk memacu pertumbuhan gereja karena mampu membangun kedewasaan rohani secara pribadi dan memastikan setiap jiwa terpelihara sesuai kebenaran firman Alla
Pendidikan Toleransi Dalam Keluarga Beda Agama: Sebuah Pendampingan Keindonesiaan
This article aims to describe and analyze tolerance education in interfaith families from the perspective of Indonesian assistance. Indonesian assistance aims to develop abilities and quality of life as well as increase the dignity of the Indonesian people. This is based on the religious and socio-cultural values of Indonesian society. This article is qualitative in nature with a reflective-analytical thinking approach. The data used in this research comes from previous research which discusses the harmonious life of families of different religions. The results of the research found that tolerance education in families of different religions reflects Indonesian support. In this educational practice, relationships of friendship, mutual cooperation, brotherhood, solidarity and an attitude of sharing are obtained. This forms a harmonious and inclusive family based on a concrete understanding and practice of toleranceArtikel ini bertujuan mendeskripsi dan menganalisis pendidikan toleransi dalam keluarga beda agama dari perspektif pendampingan keindonesiaan. Pendampingan keindonesiaan bertujuan mengembangkan kemampuan dan mutu kehidupan serta meningkatkan martabat masyarakat Indonesia. Hal ini berbasis pada nilai-nilai agama dan sosial-budaya masyarakat Indonesia. Artikel ini bersifat kualitatif dengan pendekatan berpikir reflektif-analitis. Data yang digunakan dalam penelitian ini bersumber dari penelitian-penelitian sebelumnya yang membahas mengenai kehidupan harmonis keluarga beda agama. Hasil penelitian menemukan pendidikan toleransi dalam keluarga beda agama mencerminkan sebuah pendampingan keindonesiaan. Dalam praktek pendidikan tersebut, didapatkan hubungan pertemanan, gotong royong, persaudaraan, solidaritas dan sikap berbagi rasa. Hal ini membentuk keluarga yang harmonis dan inklusif dengan dasari pada pemahaman dan praktik toleransi secara konkret
MEMPERTAHANKAN OTORITAS ALKITAB DI ERA POSTMODERN: KRITIK RELATIVISME DAN TAWARAN HERMENEUTIKA KONTEKSTUAL
In the postmodern era, views on the Bible are challenged by changes in cultural paradigms, philosophy, and the way people think. Traditionally, the Bible, which is considered an authoritative and absolute source, is often questioned or reinterpreted based on the framework of individual subjectivity. Postmodernism shifts the focus from objective understanding to personal and subjective interpretation. Postmodernists see the Bible as a cultural narrative that is open to various interpretations, without recognizing a single truth. A more narrative and relational approach, as well as recognition of plurality of views, can be used to reach individuals who feel alienated by an overly dogmatic approach. The method used in this study is qualitative research with a descriptive-analytical approach. The results of the study show that the views of postmodernists are wrong because they are built on the principles of subjectivism, pluralism, relativism and skepticism. The Bible in the postmodern world requires an adaptive approach but still adheres to solid theological principles. The church and Christian communities must continue to explore creative ways to explain the relevance of the Bible as the living word of God in a changing culture.Dalam era postmodern, pandangan terhadap Alkitab mengalami tantangan akibat perubahan paradigma budaya, filsafat, dan cara berpikir masyarakat. Secara tradisional Alkitab yang dianggap sebagai sumber otoritatif dan absolut, sering kali dipertanyakan atau direinterpretasi berdasarkan kerangka subjektivitas individu. Postmodernisme menggeser fokus dari pemahaman objektif ke interpretasi yang bersifat personal dan subjektif. Postmodernis melihat Alkitab sebagai narasi budaya yang terbuka untuk berbagai tafsiran, tanpa mengakui satu kebenaran tunggal. Pendekatan yang lebih naratif dan relasional, serta pengakuan terhadap pluralitas pandangan dapat digunakan untuk menjangkau individu yang merasa teralienasi oleh pendekatan yang terlalu dogmatis. Metode yang dipakai dalam penelitian ini adalah penelitian kualitatif dengan pendekatan deskriptif-analitis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pandangan kaum postmodernis keliru karena dibangun oleh prinsip pemikiran subjektivisme, pluralisme, relativisme dan skeptisisme. Alkitab di dunia postmodern memerlukan pendekatan yang adaptif namun tetap berpegang pada prinsip teologis yang kokoh. Gereja dan komunitas Kristen harus terus mengeksplorasi cara-cara kreatif untuk menjelaskan relevansi Alkitab sebagai firman Tuhan yang hidup di tengah budaya yang terus berubah