Bonafide - Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen
Not a member yet
    96 research outputs found

    Simbiotik Negara dan Agama: Menelaah Relasi Hukum Sekuler dan Moralitas Keagamaan di Indonesia

    No full text
    This article explores the relationship between secular law and religious morality within Indonesia’s legal system, which is built upon a symbiotic principle between the state and religion. Unlike strictly secular or theocratic states, Indonesia adopts a unique approach by integrating religious values into its legal framework through the ideological foundation of Pancasila and the constitutional mandate of the 1945 Constitution. This study employs a qualitative method with a literature review approach, focusing on Scopus-indexed publications and analyzed through content analysis techniques. The findings reveal that while Indonesia’s legal system normatively guarantees religious freedom, in practice, it still encounters challenges such as intolerance, the politicization of religion, discrimination against minority groups, and conflict among coexisting legal systems. The article concludes that the relationship between the state and religion in Indonesia requires structural and cultural reinforcement to achieve substantive justice and uphold the protection of diversity in a democratic society. This study contributes conceptually to the discourse on law and religion and offers practical implications for Christian education and the development of tolerant, justice-oriented citizensArtikel ini membahas model hubungan antara hukum sekuler dan moralitas agama dalam sistem hukum Indonesia yang dibangun berdasarkan prinsip simbiotik antara negara dan agama. Berbeda dari negara sekuler atau teokratis, Indonesia mengembangkan pendekatan yang mengintegrasikan nilai-nilai keagamaan ke dalam kerangka hukum negara melalui fondasi ideologis Pancasila dan landasan konstitusional UUD 1945. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi pustaka terhadap literatur yang terindeks dalam database Scopus, dan dianalisis menggunakan teknik content analysis. Hasil kajian menunjukkan bahwa meskipun kerangka hukum Indonesia secara normatif menjamin kebebasan beragama, praktik di lapangan masih menghadapi tantangan berupa intoleransi, politisasi agama, diskriminasi terhadap kelompok minoritas, dan konflik antar sistem hukum. Artikel ini menyimpulkan bahwa hubungan negara dan agama di Indonesia memerlukan penguatan secara struktural dan kultural agar mampu mencerminkan keadilan substantif serta menjamin perlindungan terhadap hak-hak keberagaman dalam negara demokratis. Studi ini memberikan kontribusi konseptual dalam wacana hukum dan agama, serta menawarkan implikasi praktis bagi pendidikan Kristen dan pembentukan karakter warga negara yang toleran dan adil

    JEJAK HISTORIS BENIH INJIL PERTAMA DI KEPULAUAN SIAU DAN RELEVANSINYA DALAM PERAYAAN HARI PEKABARAN INJIL

    No full text
    The first seed of the gospel sown by missionaries became the basis for establishing the celebration of the day of the proclamation of the gospel. This foundation is crucial for building the faith and spirit of gospel proclamation from generation to generation. A problem arises from the discrepancy between the age of the church as an institution and the age of the gospel proclamation day, which is celebrated annually in North Nusa, particularly on Siau Island. This has led to the misconception that the church as an institution was formed before the seeds of the gospel were sown. This study employs a descriptive qualitative method with a literature review approach, involving the collection of data and engagement with primary sources such as books, journal articles, and other relevant references related to the main topic of the research. The study concludes by tracing the historical path of the first gospel seeds in Siau. The findings indicate that the first seeds of the Gospel were sown by Pastor Mascarenhas in 1568 in the village of Paseng-Siau, which, by the most recent celebration in 2024, had reached an age of 456 years. Meanwhile, the age of Gospel proclamation that is commemorated annually, calculated from 1857 to 2024, spans 167 years. This period is categorized as a time of nurturing the Gospel seeds and enforcing strict church discipline. This long journey has made a significant contribution to establishing the historical foundation of Gospel ministry in the North Nusa region.Benih Injil pertama yang ditaburkan oleh misionaris menjadi dasar untuk meletakkan perayaan hari pekabaran Injil. Dasar ini menjadi fondasi dalam membangun iman dan semangat pekabaran Injil dari generasi ke genarasi.  Masalahnya adalah usia gereja secara institusi dalam merayakan hari terbentuknya sebagai sebuah jemaat berbanding terbalik dengan usia perayaan pekabaran Injil yang dirayakan setiap tahun di Nusa Utara, khususnya di pulau Siau. Akhirnya, terbentuk pemahaman seolah-olah gereja secara institusi terbentuk terlebih dahulu, baru kemudian benih Injil itu ditaburkan. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif dengan pendekatan studi kepustakaan, yang melibatkan pengumpulan data serta interaksi dengan sumber-sumber primer seperti buku, artikel jurnal, dan referensi relevan lainnya yang berkaitan dengan pokok bahasan penelitian ini. Penelitian ini menyimpulkan jejak historis benih Injil pertama yang lahir di tanah Siau. Hasilnya, benih Injil pertama kali ditaburkan oleh Pastor Mascarenhas pada tahun 1568 di Kampung Paseng-Siau, yang pada perayaan terakhir tahun 2024 telah mencapai usia 456 tahun. Sementara itu, usia pekabaran Injil yang secara rutin diperingati setiap tahun, dihitung sejak tahun 1857 hingga 2024, berjumlah 167 tahun. Periode ini dikategorikan sebagai masa pemeliharaan benih Injil dan penegakan disiplin gereja secara ketat. Seluruh perjalanan ini memberikan kontribusi penting dalam membangun fondasi sejarah pelayanan pekabaran Injil di wilayah Nusa Utara

    KEMARAHAN DAN KETERKAITANNYA DENGAN PEMBUNUHAN: KAJIAN EKSEGESIS MATIUS 5:21-22

    No full text
    Matthew 5:21-22 is part of Matthew's account of Jesus' sermon on the mount, where Jesus presents several antitheses to the law of Moses. These antitheses are not meant to abolish the law but rather to fulfill it and provide a higher standard for Christians in obeying the law. One of the antitheses relates to the commandment not to murder, where Jesus states that someone who is angry and speaks harshly to their brother or sister is already violating the command not to murder and should be punished. In this article, with a grammatical-historical approach, it is evident that Matthew 5:21-22 teaches about the importance of maintaining a clean heart and healthy relationships with others, as well as showing that righteousness is not only seen in physical actions but also in one's attitudes and thoughts.Matius 5:21-22 merupakan bagian dari catatan mengenai khotbah Yesus di bukit. Yesus menampilkan beberapa antitesis terhadap hukum Taurat, di mana antitesis tersebut bukanlah untuk meniadakan hukum Taurat melainkan untuk menggenapinya bahkan memberikan standar yang lebih tinggi bagi orang Kristen dalam menaati hukum tersebut. Salah satu antitesis adalah berkaitan dengan perintah jangan membunuh, di mana Yesus menyatakan bahwa orang yang marah dan berkata kasar kepada saudaranya, sudah dapat dikategorikan melanggar perintah jangan membunuh dan harus dihukum. Dengan pendekatan gramatikal historis terlihat bahwa Matius 5:21-22 mengajarkan tentang pentingnya menjaga hati yang bersih dan hubungan yang sehat dengan sesama, serta menunjukkan bahwa kebenaran tidak hanya terlihat dalam tindakan fisik tetapi juga dalam sikap dan pikiran seseorang

    MEMBEDAH TEORI PENEBUSAN KRISTUS: SEBUAH KAJIAN BIBLIKA

    No full text
    The issue discussed in this article is the emergence of various views on the atonement of Christ. This problem causes differences in interpretation and application in Christian life. The purpose of writing this theme is to explain the issue of Christ's atonement and to put forward the attitude and view of the Bible regarding the biblical principle of atonement. The research method used is Biblical research. The result shows that the atonement of Christ is God's decree so that humans are redeemed and saved from the punishment of sin through Jesus' death on the cross and His resurrection from the dead. In conclusion, Christ Himself willingly took the place of sinful humans so that they might be saved by Him.Masalah yang didiskusikan dalam artikel ini adalah munculnya berbagai pandangan tentang penebusan Kristus. Permasalahan ini menimbulkan perbedaan tafsiran dan penerapan dalam kehidupan Kristen. Tujuan penulisan tema ini untuk menjelaskan duduk masalah tentang penebusan Kristus dan mengemukakan sikap serta pandangan Alkitab tentang prinsip penebusan yang alkitabiah. Metode penelitian yang digunakan adalah Biblical research. Hasilnya, memperlihatkan bahwa penebusan Kristus merupakan ketetapan Allah agar manusia ditebus dan diselamatkan dari hukuman dosa melalui kematian Yesus pada salib dan kebangkitan-Nya dari antara orang mati. Kesimpulannya, Kristus sendiri rela menggantikan manusia berdosa agar mereka diselamatkan-Nya

    MENJEMBATANI KESENJANGAN GENERASI: PENDEKATAN EFEKTIF PEDAGOGIS KRISTIANI DI ERA DIGITAL

    No full text
    This research utilizes a qualitative method with a case study approach, literature review, and document analysis. It aims to identify the challenges and opportunities within Christian Education in the digital era and to develop innovative strategies for bridging the generation gap between teachers and students.The main issue examined is how to maintain the relevance and effectiveness of Christian Education amidst the development of digital technology. Referring to the identified problem, this research offers the latest concept: a comprehensive integration of digital technology with the pedagogical principles of Christian Education. The pedagogical approach referred to is a Christian Education strategy focused on innovation and creativity in teaching delivery by utilizing digital technology to bridge the generation gap. The results show that this approach is effective in increasing student engagement, creating a conducive learning environment, and supporting the academic and spiritual growth of the digital generation.Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi kasus, riset pustaka, dan analisis dokumen. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi tantangan dan peluang dalam Pendidikan Kristen di era digital, serta mengembangkan strategi inovatif untuk menjembatani kesenjangan generasi antara guru dan peserta didik. Masalah yang dikaji adalah bagaimana menjaga relevansi dan efektivitas Pendidikan Kristen di tengah perkembangan teknologi digital. Mengacu pada masalah yang diidentifikasi, penelitian ini menawarkan konsep terbaru, yaitu; integrasi komprehensif teknologi digital dengan prinsip-prinsip pedagogis Pendidikan Kristen. Pendekatan pedagogis yang dimaksudkan adalah, strategi Pendidikan Kristen yang berfokus pada inovasi dan kreativitas dalam penyampaian pengajaran dengan memanfaatkan teknologi digital untuk menjembatani kesenjangan generasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pendekatan ini efektif dalam meningkatkan keterlibatan peserta didik, menciptakan lingkungan belajar yang kondusif, serta mendukung pertumbuhan akademis dan spiritual generasi digital

    SIMSON PEMIMPIN YANG JATUH DI FASE KEMAKMURAN: SEBUAH REFLEKSI TEOLOGIS BAGI KEPEMIMPINAN GEREJA

    No full text
    This article focused on Samson's fall when he was in the phase of prosperity and glory. The downfall in this article referred to engaging in sexual sin, corruption, abuse of power and various scandals. The portrait of Samson's fall narrated by the Book of Judges also happened to some spiritual leaders today. The background of the problem accompanied by factual data was the main basis of this article. In writing this article, literature study and hermeneutic approaches were used to design the articles. The formulations of questions asked were what caused Samson's fall in the prosperity phase? And why did church leaders tend to fall in their phase of prosperity? The findings of this article revealed that Samson fell because he was a leader who tended to be difficult to accept advice from others, he was individualistic, narcissistic, and easily swayed by lust. These things were not much different from the downfall of some spiritual leaders today, as a result the image of religious leaders was damaged because of their deeds.Tulilsan ini berfokus menyoroti kejatuhan Simson ketika ia berada pada fase kemakmuran dan keberjayaan hidup. Kejatuhan hidup yang dimaksud dalam artikel ini terlibat dalam dosa seksual, korupsi, penyalanggunaan kekuasaan dan berbagai skandal. Potret kejatuhan Simson yang dinarasikan oleh Kitab Hakim-Hakim itu juga terjadi bagi sebagain pemimpin rohaniawan dimasa kini. Latar-belakang masalah yang disertai data faktual tersebut menjadi dasariah utama artikel ini diangkat. Di dalam mengerjakan tulsian ini, pendekatan studi literatur dan hermeneutik digunakan untuk mendesain artikel ini disajikan. Rumusan pertanyaan diajukan yaitu apa penyebab kejatuhan Simson pada fase kemakmuran? Dan mengapa pemimpin gereja cenderung jatuh pada fase kemakmuran? Temuan artikel ini mengungkapkan Simson jatuh karena ia pemimpin yang cenderung sulit menerima arahan dari orang lain, ia individulias, narsistik, serta mudah tergoga oleh hawa nafsu. Hal-hal ini juga tidak jauh berbeda dari kejatuhan sebagain pemimpin rohaniawan di masa kini, akibatnya imets sebagai pemimpin yang religious rusak karena apa yang diperbuatnya

    PENDETA SEBAGAI MOTIVATOR KEAKTIFAN PEMUDA DALAM IBADAH DI GMIH MALADOM: TINJAUAN KEPEMIMPINAN TRANSFORMASIONAL

    No full text
    Youth is the backbone and the next generation that brings new vision, spirit, and energy in carrying out the mission of the church. However, in church life, youth often face challenges of inactivity in worship and service. The congregation of GMIH Maladom in Porniti Village, Central Jailolo, West Halmahera, North Maluku, also faces this problem. This study aims to analyze the pastor's role as a motivator of youth activeness in worship in terms of transformational leadership. The research used qualitative-descriptive method with observation and interview techniques. The selection of sources was carried out using purposive sampling technique and the research data was analyzed using phenomenological analysis techniques. The results showed that the pastor's leadership in GMIH Maladom congregation can be identified as transformational leadership. Pastors motivate youth by providing vision, creating personal closeness, providing spiritual guidance, giving responsibility, and giving appreciation. This leadership results in positive changes in youth participation in church worship and service. The findings suggest that pastors with a transformational leadership approach can be effective motivators in mobilizing youth to be active in the church. Pemuda merupakan tulang punggung dan generasi penerus yang membawa visi, semangat, dan energi baru dalam menjalankan misi gereja. Namun, dalam kehidupan gereja, pemuda sering menghadapi tantangan ketidakaktifan dalam ibadah dan pelayanan. Jemaat GMIH Maladom di Desa Porniti, Jailolo Tengah, Halmahera Barat, Maluku Utara, juga menghadapi masalah ini. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis peran pendeta sebagai motivator keaktifan pemuda dalam ibadah yang ditinjau dari kepemimpinan transformasional. Penelitian menggunakan metode kualitatif-deskriptif dengan teknik observasi dan wawancara. Pemilihan narasumber dilakukan dengan teknik purposive sampling dan data penelitian dianalisis menggunakan teknik analisis fenomenologi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kepemimpinan pendeta di Jemaat GMIH Maladom dapat diidentifikasi sebagai kepemimpinan transformasional. Pendeta memotivasi pemuda dengan memberikan visi, menciptakan kedekatan personal, memberikan bimbingan rohani, memberikan tanggung jawab, dan memberikan apresiasi. Kepemimpinan ini menghasilkan perubahan positif dalam partisipasi pemuda dalam ibadah dan pelayanan gereja. Temuan ini menunjukkan bahwa pendeta dengan pendekatan kepemimpinan transformasional dapat menjadi motivator yang efektif dalam menggerakkan pemuda untuk aktif dalam gereja. &nbsp

    ALLAH, KONSELOR DAN KONSELI: TRILOGI NARASI DALAM KONSELING PASTORAL

    No full text
    A major issue in conventional counseling is its limitation in integrating a deep spiritual dimension. This approach often focuses solely on psychological and emotional aspects, thus failing to fully help clients understand and restore themselves in their relationship with God, others, and themselves. To address this challenge, this research explores pastoral counseling as an approach that offers uniqueness through the integration of theological and spiritual principles. This research employs a qualitative approach with a literature review method, emphasizing content analysis to gain a comprehensive understanding of the topic under investigation. This research finds that pastoral counseling is unique compared to general counseling due to the presence of a narrative trilogy consisting of God, counselor, and client, which must be present in the counseling process for it to be more effective. In pastoral counseling, the counselor and client are placed in an equal relationship involving the presence of God through His Spirit in honest and open conversation. This process consists of three stages: preparation, conversation, and evaluation-solution, which are built through the narratives of God, counselor, and client. With the principles of God's Word and the work of the Holy Spirit, as well as the care and love of the counselor, the counseling atmosphere becomes alive and helps clients to know themselves, others, and God correctly. This pastoral counseling allows clients to narrate their lives honestly, thus having the opportunity to experience holistic recovery.Masalah utama dalam konseling konvensional adalah keterbatasanya dalam mengintegrasikan dimensi spiritual yang mendalam. Pendekatan ini sering kali hanya berfokus pada aspek psikologis dan emosional, sehingga tidak sepenuhnya membantu konseli memahami dan memulihkan dirinya dalam hubungan dengan Allah, sesama, dan dirinya sendiri. Untuk menjawab tantangan ini, penelitian ini mengkaji konseling pastoral sebagai pendekatan yang menawarkan keunikan melalui integrasi prinsip-prinsip telogis dan spiritual. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode kepustakaan, menekankan analisis isi untuk mendapatkan pemahaman yang komprehensif tentang topik yang sedang ditelitik. Penelitian ini menemukan bahwa konseling pastoral memiliki keunikan dibandingkan konseling pada umumnya karena adanya trilogi narasi yang terdiri dari Allah, konselor, dan konseli, yang harus hadir dalam proses konseling agar lebih efektif. Dalam konseling pastoral, konselor dan konseli ditempatkan dalam relasi yang sederajat dengan melibatkan kehadiran Allah melalui Roh-Nya dalam percakapan yang jujur dan terbuka. Proses ini tediri dari tiga tahap: persiapan, percakapan dan evaluasi-solusi, yang dibangun melalui narasi Allah, konselor dan konseli. Dengan prinsip-prinsip Firman Allah dan karya Roh Kudus, serta kepedulian dan kasih dari konselor,suasana konseling menjadi hidup dan membantu konseli untuk dapat mengenal dirinya, sesama dan Allah secara benar. Konseling pastoral ini memungkinkan konseli untuk bernarasi secara jujur tentang kehidupannya sehingga mendapat kesempatan untuk mengalami pemulihan yang holistik. &nbsp

    The Discourse of God's Sovereignty in the Context of Job's Suffering and Its Implementation for Believers

    No full text
    The discourse on the sovereignty of God is always a profound topic in Christian theology. It demonstrates that God's sovereignty shows supreme authority and power over all creation, including human life. In the Book of Job, there are two theological views: first, the orthodox retributive theology view where God is depicted as a figure who acts in relation to human actions, that suffering can occur because humans oppose God. Second, is the theodicy theological view, a belief that God has ordained everything so that human efforts and actions do not make a difference or impact in the history of life. The contradictory modern view sees that God allows suffering because of sin and actions, not as a purity of faith to be closer to God. This research aims to provide a deeper theological understanding of God's sovereignty and its relationship to the suffering of believers. Thus helping believers strengthen their faith in the midst of suffering. This research uses a qualitative method with a theological-hermeneutical analysis approach. As a result, this research can be a source of valuable inspiration and teaching and help believers understand and respond to suffering in light of sovereignty. God's sovereignty affirms that God's sovereignty encompasses His power and authority over all creation, including the suffering experienced by humans. Job is a concrete example of fortitude and faith in the midst of suffering.    Diskursus tentang kedaulatan Allah selalu menjadi topik yang mendalam dalam teologi Kristen. Memperlihatkan bahwa kedaulatan Allah menunjukkan otoritas dan kuasa tertinggi atas seluruh ciptaan, termasuk kehidupan manusia. Dalam Kitab Ayub terdapat dua pandangan teologi yaitu pertama, pandangan teologi retribusi yang bersifat ortodoks dimana Tuhan digambarkan sebagai sosok yang bertindak sebagai sebuah relasi yang dilakukan oleh manusia, bahwa penderitaan bisa terjadi karena manusia melawan Allah. Kedua, adalah pandangan teologi teodisi suatu kepercayaan bahwa Allah telah menetapkan segala sesuatu sehingga usaha dan perbuatan manusia tidak membuat perbedaan dan dampak di dalam sejarah kehidupan. Pandangan kontradiktif modern melihat bahwa penderitaan Tuhan ijinkan karena dosa dan perbuatan bukan sebagai kemurnian iman untuk lebih dekat kepada Tuhan. Penelitian ini bertujuan untuk memberikan pemahaman teologis yang lebih mendalam mengenai kedaulatan Allah dan hubungannya terhadap penderitaan orang percaya. Sehingga membantu orang percaya menguatkan imannya ditengah-tengah penderitaan. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan analisis teologis-hermeneutis. Sehingga hasil dari penelitian ini adalah dapat menjadi sumber inspirasi dan pengajaran berharga serta membantu orang percaya memahami dan merespons penderitaan dalam terang kedaulatan. Kedaulatan Allah menegaskan bahwa kedaulatan Allah mencakup kuasa dan otoritas-Nya atas seluruh ciptaan, termasuk dalam penderitaan yang dialami manusia. Ayub adalah contoh konkrit ketabahan dan iman ditengah penderitaan. &nbsp

    STRATEGI PENGGEMBALAAN REMAJA MELALUI MEDIA SOSIAL

    No full text
    The role of information technology in church ministry is becoming increasingly important nowadays. One of the technological developments that is currently widely used in church services is social media. This social media is widely used because it can reach many people very quickly and easily. This research was conducted to understand the strategies that can be used by churches to effectively shepherd the youth generation. The teenage generation is a generation that is very close to social media. The teenage generation is at the stage of searching for identity and is very easily exposed to negative content on social media. This is a reason for the church to be present and provide shepherding through social media to them. This research uses a literature study approach to find four factors that influence the quality of shepherding carried out by churches through social media. These factors are the choice of social media used, content shared, human resources involved and continuous innovation. By paying attention to these four factors, it is hoped that the church will be able to overcome challenges and provide more effective shepherding to the younger generation.Peran teknologi informasi dalam pelayanan gereja menjadi semakin penting pada masa sekarang ini. Salah satu perkembangan teknologi yang saat ini banyak digunakan dalam pelayanan gereja adalah media sosial. Media sosial ini banyak digunakan karena dapat menjangkau banyak orang dengan sangat cepat dan mudah. Penelitian ini dilakukan untuk memahami strategi yang dapat digunakan oleh gereja untuk melakukan penggembalaan yang efektif kepada generasi remaja. Generasi remaja merupakan generasi yang sangat dekat dengan media sosial. Generasi remaja berada pada tahap pencarian jati diri dan sangat mudah terpapar dengan konten-konten negatif yang ada di media sosial. Hal ini menjadi alasan bagi gereja untuk hadir dan melakukan penggembalaan melalui media sosial kepada mereka. Penelitian ini menggunakan pendekatan studi kepustakaan untuk menemukan empat faktor yang berpengaruh terhadap kualitas penggembalaan yang dilakukan gereja melalui media sosial. Faktor-faktor ini adalah pilihan media sosial yang digunakan, konten yang dibagikan, sumber daya manusia yang terlibat dan inovasi yang berkelanjutan. Dengan memberikan perhatian kepada empat faktor ini, diharapkan gereja akan mampu mengatasi tantangan dan memberikan penggembalaan yang lebih efektif kepada generasi remaja

    11

    full texts

    96

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Bonafide - Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇