Bonafide - Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen
Not a member yet
96 research outputs found
Sort by
INTERPRETASI MURTAD DALAM IBRANI 6: 1-8
The concept of Apostasy in Hebrews 6: 1-8 is often debated among Christian theologians. The text is considered an ongoing event for true Christians and people who do not truly believe in God. The text of verses 4-5 is supposed to show a Christian's criteria, which can apostatize again. Is this true? To understand this text, it is necessary to analyze with an exposition study approach to words, phrases, and clauses in the text while still paying attention to their historical grammar to get the correct meaning in the original context. Based on this analysis, the phrase kaὶ parapesόntaV pάlin (verse 6) does not emphasize that apostasy can happen to true Christians or truly believe in God but rather refers to Christians who do not really believe so that when they faced persecution during the Nero Emperor, many Christians left their faith. To that end, the writer to the Hebrews warns against the dangers of rejecting God in this situation. People who do not have true faith will surely apostatize or reject God and may not be renewed.Konsep Murtad dalam Ibrani 6:1-8 sering menjadi perdebatan di kalangan teolog Kristen. Teks tersebut dianggap sebagai peristiwa yang sedang terjadi kepada orang Kristen sejati dan orang yang tidak sungguh-sungguh percaya Tuhan. Teks ayat 4-5 dianggap memperlihatkan kriteria orang Kristen yang bisa murtad lagi. Apakah benar demikian? Untuk memahami teks ini, penulis menganalisisnya dengan pendekatan studi eksposisi terhadap kata, frasa, dan klausa dalam teks dengan tetap memperhatikan gramatika historisnya untuk mendapatkan pengertian yang benar sesuai konteks aslinya. Berdasarkan analisis tersebut, frasakaὶ parapesόntaV pάlin (ayat 6) tidak menekankan murtad bisa terjadi terhadap orang Kristen sejati atau sungguh-sungguh percaya Tuhan, melainkan mengacu kepada orang Kristen yang tidak sungguh-sungguh percaya sehingga ketika menghadapi penganiayaan pada pada masa Kaisar Nero maka banyak orang Kristen yang meninggalkan imannya. Untuk itu, penulis surat Ibrani memberi peringatan keras akan bahaya menolak Tuhan dalam situasi tersebut. Orang yang tidak beriman sungguh-sungguh pasti akan murtad atau menolak Tuhan dan tidak mungkin dibaharui lagi
PENGGUNAAN GADGET DALAM PAK UNTUK MEMPERDALAM KEROHANIAN PESERTA DIDIK
Gadget merupakan salah satu alat yang digemari para remaja. Selain memiliki sejumlah pengaruh negatif, gadget juga memiliki sejumlah manfaat positif bagi remaja. Salah satunya bisa digunakan untuk memperdalam kerohanian remaja. Namun untuk itu diperlukan pendampingan. Pendidikan Agama Kristen (PAK) di sekolah merupakan salah satu sistem pendampingan yang potensial. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui sejauhmana para peserta didik di sekolah menggunakan gadget untuk memperdalam kerohanian, dan bagaimana PAK di sekolah berpengaruh terhadap penggunaan gadget tersebut. Metode penelitian yang digunakan adalah metode campuran (mix method) kuantitatif dan kualitatif. Penelitian dilakukan dua tahap. Tahap pertama adalah penelitian kuantitatif dengan subyek Siswa SMP Kristen Luwuk, Banggai, Sulawesi Tengah. Jumlah responden delapan puluh enam siswa dengan empat puluh delapan sampel. Hasil yang diperoleh, peserta didik di SMP Kristen Luwuk jarang menggunakan gadget untuk memperdalam kerohanian mereka. Penelitian tahap kedua adalah penelitian kualitatif. Tehnik pengambilan data berupa wawancara dengan informan tunggal guru PAK yang mengajar di sekolah tersebut dan studi dokumen terhadap Kurikulum 2013 serta buku-buku pelajaran utama PAK yang digunakan di sekolah. Hasil yang diperoleh, materi mengenai gadget dalam PAK belum signifikan. Porsi gadget masih sedikit dalam kurikulum, belum ada buku-buku materi pelajaran di sekolah yang khusus membahas tentang PAK dan gadget, guru PAK belum memainkan peran strategis. Kesimpulan: PAK di SMP Kristen Luwuk belum terlalu mengkondisikan peserta didik menggunakan gadget untuk memperdalam kerohanian mereka.Gadgets are one of the tools favored by teenagers. Besides having some negative influences, the device also has many positive benefits for teens. One of them can be used to deepen teenage spirituality. But for that, they need assistance. Christian Education (CE) in schools is one of the potential assistance systems. This study aims to determine the extent to which students at school use gadgets to deepen spirituality and how CE in schools affects the use of these gadgets. The research method used is a quantitative and qualitative mixed method. The study was conducted in two stages. The first stage was quantitative research with the subjects of Luwuk Christian Junor High School Students, Banggai, Central Sulawesi. The number of respondents was eighty-sixed students with forty-eight samples. The results obtained, students in Luwuk Christian Junor High School rarely use gadgets to deepen their spirituality. The second phase of research is qualitative research. Data collection techniques included interviews with a single CE teacher who taught at the school and document studies of the 2013 Curriculum as well as the primary CE textbooks used at school. The results obtained, the material about gadgets in PAK has not been significant. The portion of gadgets is still small in the curriculum. There are no textbooks in schools that specifically discuss CE and gadgets. CE teacher has not played a strategic role. Conclusion: CE in Luwuk Christian Junior High School has not yet conditioned students to use gadgets to deepen their spirituality
TRANSFORMASI KEDAI TUAK SEBAGAI SARANA PENGINJILAN GEREJA
Tulisan ini berupaya menggali pengaruh kedai tuak terhadap kehadiran kaum bapak di dalam gereja, adakah faktor-faktor yang ada itu saling terkait atau tidak. Dimulai dengan pemahaman jemaat tentang realitas konkrit atas kehidupan bergereja dan bagaimana penyelenggara gereja menyikapinya dan terbuka melakukan evaluasi dan refleksi atas kehidupan bergereja, kemudian membangun cara-cara yang persuasif untuk merangkul kaum bapak, bukan malah memberi stigma negatif. Penelitian ini bersifat kualitatif dengan pendekatan Sosiologi Agama dan diharapkan transformasi perubahan metode penginjilan dapat dicapai.This writing tries to analyze the influence of kedai tuak toward the presence of congregation members, especially males in church. It begins with a study of the concrete reality of the church dan how the common response of the father according to it. And how the church does evaluation and reflection of the church, by doing persuasive action for serving the laity, not by giving a negative stigma. This research is qualitative with Sociology of Religion perspective. The expectation, the transformation for changing of preaching method will get
IMPLEMENTASI PENDIDIKAN AGAMA KRISTEN DALAM KELUARGA MELALUI GEREJA
Peran gereja menerapkan pendidikan agama Kristen masih sangat kurang karena ada kebencian dalam keluarga. Tujuan penelitian ini yakni berusaha menumbuhkan perhatian, motivasi dan sikap untuk memperbaiki hubungan antar manusia; serta menajamkan kembali perasaan untuk saling mengasihi dan mempedulikan. Subyek penelitian adalah Jemaat Talenalain rayon 5, Gereja Masehi Injili di Timor (GMIT). Metode yang dipakai adalah kualitatif. Data diambil dengan teknik wawacara dan hasilnya dipaparkan dalam bentuk narasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa orang tua menyadari bahwa PAK adalah pembelajaran paling penting dalam keluarga. Gereja belum maksimal menjadi wadah belajar bersama yang melahirkan keluarga yang berwatak kristiani. Pendidikan Agama Kristen masih sebatas ibadah bersama, perayaan hari raya gereja, mengajar melalui partisipasi keluarga dalam persekutuan, mengajar melalui pastoral-pastoral kepada keluarga Kristen.The church's role in implementing Christian Education (CE) still lacks because there is hatred in the family. This research aims to cultivate attention, motivation, and attitudes to improve human relations; and refine feelings to love and care for one another. The research subjects were the Talenalain Rayon 5 Congregation, the Gereja Masehi Injili di Timor (GMIT). The method used is qualitative. The data were collected using interview techniques, and the results were presented in a narrative form. The results showed that parents realized that CE is the most important learning in the family. The church has not maximally become a place for collective learning that has built to a Christian family. CE is still limited to worship, the celebration of church holidays, teaching through family participation in the fellowship, teaching through pastoral activities to Christian families
KAJIAN BIBLIKA TENTANG KESELAMATAN BERDASARKAN KITAB FILIPI 2:12
Tulisan ini membahas keselamatan berdasarkan Kitab Filipi. Filipi 2:12 ini sering digunakan untuk memerintahkan orang Kristen untuk mengerjakan atau mengusahakan keselamatan. Hal ini bisa menimbulkan kebingungan bagi orang percaya apakah keselamatan oleh anugerah saja atau tetap diusahakan. Tujuannya mengekspos konteks keselamatan berdasarkan kitab Filipi supaya mendapat penafsiran yang tepat. Metodologi yang dipakai adalah metode tafsir narasi. Fokusnya adalah analisis konteks, analisis verbal dan analisis teologis. Hasilnya, keselamatan dalam konteks Filipi 1:19 paulus bebas dari penjara, 1:18 keselamatan yang kekal, dan 2:12 adalah keselamatan kooperatif. Kata “mengerjakan” sama dengan menunjukkan keselamatan. Secara teologis, kata “keselamatan” sama dengan pengudusan.
This paper examines salvation based on the book of Philippians. Philippians 2:12 verse is often used to command Christian to work or to earn their salvation. It confuses believers, whether salvation is obtained as a grace from God or by human effort. The purpose is to expose the context of salvation in the book of Philippians to get an accurate interpretation. The methodology of this research is a biblical narrative that focused on context analysis, linguistic analysis, and theological analysis. As a result is salvation in the context of Philippians 1:19 deliverance Paul from prison, 1:18 the ultimate salvation, and 2:12 is cooperating salvation. The word “work out” is equivalent to perform redemption through good work. 
INTERPRETASI HUKUM KELIMA DALAM KELUARAN 20:12 BERDASARKAN PENDEKATAN SEJARAH PENEBUSAN
Perintah kelima adalah bagian dari Sepuluh Hukum Taurat yang diberikan Allah kepada Musa di gunung Sinai. Alkitab adalah Firman Allah yang kekal dengan demikian Hukum Kelima ini memiliki makna yang harus dipahami dalam dimensi kekekalan. Alkitab memberikan prinsip jika manusia gagal melakukan salah satu perintah dalam hukum Taurat, maka ia telah gagal seluruhnya. Ada banyak interpretasi terhadap hukum ini, namun hanya bermuara pada dimensi praktis, etis dan moral karena hanya befokus pada relevansi masa kini. Alkitab menyatakan bahwa kutuk Hukum Taurat telah ditebus dan digenapi oleh Yesus Kristus. Setelah kebangkitan, Yesus mengatakan bahwa dalam Kitab Taurat, Mazmur dan para Nabi tertulis tentang Dia. Dengan demikian Yesus memberikan sebuah konsep interpretasi baru dalam memahami Hukum Taurat. Prinsip inilah yang disebut dengan pendekatan sejarah penebusan (Historical Redemptive Approach). Alkitab menyatakan puncak penyempurnaan seluruh karya penebusan Yesus adalah saat kedatangan yang kedua kali dalam realisasi terhadap langit dan bumi yang baru. Oleh karena itu, bagaimanakah menjelaskan relevansi Hukum Kelima dalam konteks kekekalan. Tulisan ini fokus pada kajian terhadap pemahaman Hukum Kelima dalam dimensi esktologis. The fifth commandment is part of the Ten Commandments that God gave to Moses on Mount Sinai. The Bible is the eternal word of God, so this fifth Law has a meaning that must be understood in the infinite dimension. The Bible gives the principle that if the man fails to do one of the commandments in the Law, then he has failed. There are many interpretations of this Law, but it only comes down to practical, ethical, and moral dimensions because it solely focuses on the relevance of the present. The Bible states that the curse of the Law has been redeemed and fulfilled by Jesus Christ. After the resurrection, Jesus said that in the Torah, the Psalms and the Prophets written about Him. Thus Jesus gave a new concept of interpretation in understanding the Law. This principle is called the historical redemptive approach. The Bible states the culmination of completing all of Jesus' redemptive work is the time of the second coming in the realization of the new heaven and earth. Therefore, how to explain the relevance of the fifth Law in the context of eternity. This research focuses on the understanding of the Fifth Law in the eschatological dimension