197,014 research outputs found
Desa Pattedong pada Masa Pemerintahan Ismail Sangga dan Rasyid Rauf
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui terbentuknya Desa Pattedong, Perkembangan Desa Pattedong pada masa pemerintahan Ismail Sangga dan Rasyid Rauf. Desa Pattedong terbentuk pada tahun 1982, dari hasil pemekaran dari Desa Je’ne Maeja. Setelah tahun 1999 Desa Pattedong pada
masa pemerintahan Ismail Sangga mengalami perkembangan dilihat dari segi sosial yaitu keharmonisan dan eksistensi tradisi adat istiadat serta budaya gotong royong masih berlaku, bidang ekonomi dapat dilihat dari banyaknya pembangunan infrastruktur desa yang dibangun seperti jalan
desa, bidang pendidikan dapat dilihat dari pemberian pendidikan sejak dini, sedangkan bidang kesehatan dapat dilihat dari adanya pemeriksaan kesehatan dari anak kecil hingga yang lanjut usia.Begitu pula dengan pemerintahan Rasyid Rauf yang mengalami banyak perkembangan dalam bidang
ekonomi yaitu ekonomi pembangunan seperti pembangunan jalan tani, drainase, plat dekker disetiap dusun di Desa Pattedong. Penelitian ini merupakan penelitian sejarah yang menggunakan metode sejarah melalui tahapan kerja yakni heuristic atau pengumpulan data, kritik sumber,interpertasi, historiografi atau penulisan. Metode pengumpulan data dilakukan dengan cara penelitian lapangan terdiri dari wawancara (Rasyid Rauf, Damir, Sulaeman dan warga Desa
Pattedong) dan mengumpulkan sumber arsip (dokumen dari kantor desa dan BPS kabupaten Luwu) serta literatur-literatur yang berhubungan.
Kata Kunci : Pemimpin, Desa Pattedon
Retorika Dakwah TGH. M. Rasyid Ridha Melalui Channel Youtube Syima Sabilal Muhtadin
Retorika dakwah merupakan suatu seni berbicara seorang dai dalam
menyampaikan pesan dakwah dengan menggunakan gaya bahasa yang sesuai
dengan mad’u atau jamaah. Penelitian ini berfokus pada video-video ceramah
TGH. M. Rasyid Ridha melalui Channel YouTube Syima Sabilal Muhtadin.
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana retorika dakwah
yang di gunakan TGH. M. Rasyid Ridha pada Channel YouTube Syima. Teori
yang di gunakan pada penelitian ini adalah teori Aristoteles yaitu Lima Hukum
Retorika yang berfokus pada Elocutio/Style (gaya bahasa dan gaya gerak tubuh)
dengan menggunakan konsep Gorys Keraf. Penelitian ini menggunakan metode
penelitian kualitatif yang bersifat deskriptif. Subjek dari penelitian ini adalah
TGH. M. Rasyid Ridha dan Objek penelitian ini Retorika dakwah yang digunakan
TGH. M. Rasyid Ridha. Adapun teknik pengumpulan data pada penelitian ini
diperoleh dari observasi, rekaman video dan wawancara langsung. Dalam
menganalisis data penelitian ini menggunakan model analisis Miles dan
Huberman yaitu mereduksi data, penyajian data dan penarikan kesimpulan. Hasil
penelitian menunjukkan bahwa TGH. M. Rasyid Ridha telah menerapkan gaya
retorika dakwah dengan sangat baik dalam menyampaikan ceramah. TGH. M.
Rasyid Ridha telah menerapkan gaya bahasa berdasarkan pilihan kata,
berdasarkan nada dan gaya bahasa berdasarkan struktur kalimat. TGH. M. Rasyid
Ridha juga telah menerapkan gaya gerak tubuh saat berceramah
Peran Harun Al-Rasyid Dalam Perkembangan Ilmu Kedokteran Pada Masa Dinasti Abbasiyah (786 - 809 M)
Kebijakan Harun al-Rasyid dalam bidang ilmu kedokteran memiliki peran yang sangat penting dalam kehidupan masyarakat Kota Baghdad pada saat itu. Ilmu kedokteran yang awalnya hanya bisa dipelajari oleh kalangan bangsawan, berkat jasa Harun al-Rasyid, akhirnya ilmu kedokteran bisa dipelajari oleh seluruh lapisan masyarakat. Ilmu kedokteran kemudian semakin berkembang dan melahirkan penemuan-penemuan baru dalam dunia kedokteran Islam. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana peran dan pengaruh kebijakan Harun al-Rasyid dalam perkembangan ilmu kedokteran pada tahun 768 M ? 809 M. Dalam melakukan penelitian ini, penulis menggunakan teori pembangunan yang dikemukakan oleh Ibnu Khaldun dan teori pembangunan yang dikonsepkan oleh Suwarsono dan Alvin Y.So sebagai landasan teori. Sedangkan penulis menggunakan metode penelitian yang biasa digunakan dalam penelitian sejarah pada umumnya yaitu heuristik, verifikasi, interpretasi, dan historiografi. Dalam penelitian ini, penulis menemukan banyak kemajuan dalam bidang ilmu kedokteran pada masa Harun al-Rasyid di antaranya adalah pembangunan Bimaristan atau rumah sakit Islam pertama, Akademi Kesehatan atau Sekolah Medis dan lahirnya para ahli kedokteran Islam. Kemajuan-kemajuan tersebut berkaitan erat dengan peran dan kebijakan yang dilakukan oleh Harun al-Rasyid, seperti memfasilitasi seluruh kegiatan belajar-mengajar, berdiplomasi dengan ahli kedokteran Jundishapur dan melakukan gerakan penerjemahan secara besarbesaran. Peran Harun al-Rasyid merupakan salah satu faktor utama berkembangnya ilmu kedokteran Islam pada masa Dinasti Abbasiyah
Perempuan di mata M. Rasyid Ridho: kajian terhadap penafsiran ayat-ayat al-Qur'an
Penelitian ini mengkaji penafsiran M. Rasyid Ridha perihal
ayat-ayat tentang hak, peran, dan etiket perempuan dalam kitab
Nidā? li al-Jins al-Lathīf. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui
penafsiran dan relevansi ayat-ayat al-Qur?an yang terkumpul
dalam Nidā? li al-Jins al-Lathīf. Penelitian kepustakaan dengan
metode kualitatif ini hendak menjawab bagaimana M. Rasyid
Ridha menafsirkan ayat-ayat tersebut dalam kitab Nidā? li al-
Jins al-Lathīf, dan juga hendak menemukan apa relevansi kajian
ini dalam wacana tafsir feminis secara umum.
Studi ini menemukan bahwa M. Rasyid Ridha menafsirkan
ayat-ayat tentang hak, peran, dan etiket perempuan dalam Al-
Qur?an. Di beberapa ayat ditemukan asumsi bahwa kaum
perempuan mempunyai hak atau kedudukan yang setara dengan
laki-laki. Tidak hanya itu, dalam QS. At-Taubah ayat 71 Allah
memberikan aktivitas kegiatan yang sama antara laki-laki dan
perempuan, baik hal tersebut mencakup persaudaraan, kasihsayang,
tolong menolong baik menggunankan harta maupun
kegiatan sosial, membantu urusan perang dan politik. Hal seperti
ini banyak dilakukan oleh istri-istri nabi dengan memberikan
konstribusi terhadap dorongan pertempuran perang. Pandangan
yang menarik dari M. Rasyid Ridha ini adalah perlakuan Al-
Qur?an yang begitu istimewa terhadap perempuan yang
terkadang oleh sebagian pihak dianggap sebagai kesalahan.
Sedangkan relevansi temuan ini adalah dapat dikonfirmasi
dengan didapatinya perbedaan dan persamaan penafsiran dengan
mufassir sebelumnya atau setelahnya. Misalnya, penafsiran
Rasyid Ridha ini banyak persamaannya dengan mufasir
kontemporer yang memandang bahwa tidak ada perbedaan
kualitas maupun kapasitas antara laki-laki dan perempuan.
Sebaliknya, pandangan Rasyid Ridha ini memiliki perbedaan
dengan mufasir-mufasir klasik yang di antaranya masih melihat
perempuan sebagai sosok yang lemah di beberapa hal dan cocok
di ranah domestik
NILAI-NILAI PENDIDIKAN ISLAM DALAM KEPEMIMPINAN KHALIFAH HARUN AR-RASYID
AbstrakKhalifah Harun ar-Rasyid merupakan sosok pemimpin yang dermawan, suka memberi baik karena kemauannya sendiri ataupun karena diminta. Harun terkenal sebagai pemimpin berkarisma yang dikagumi oleh rakyatnya, sholeh, taat beragama serta piawai dalam memegang pemerintahan. Oleh sebab itu penulis mengangkat sosok Harun ar-Rasyid menjadi pemeran utama karena beliau sosok tokoh yang mesti untuk dijadikan contoh pada pemimpin di lembaga pendidikan Islam zaman sekarang. Penelitian ini memakai pendekatan kualitatif deskriptif serta tergolong penelitian kepustakaan. Inilah yang peneliti gunakan untuk mengumpulkan data, buku Harun Ar-Rasyid Amir Para Khalifah dan Raja Teragung di Dunia sebagai sumber primernya dan jurnal-jurnal atau makalah sebagai sumber pendukungnya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: Dalam pemerintahan Khalifah Harun ar-Rasyid banyak mengalami kemajuan-kemajuan. Dan salah satu indikator berkembang pesatnya pendidikan dan pengajaran ditandai dengan berkembang luasnya lembaga-lembaga pendidikan Islam.Kata kunci: Nilai Pendidikan Islam; Kepemimpinan; Khalifah Harun Al-Rasyid AbstractCaliph Harun ar-Rashid is a generous leader, likes to give either on his own volition or on demand. Harun ar-Rashid is known as an authoritative caliph, loved by the people, pious, religious and skilled in holding the government. Therefore, the author makes the figure of Harun ar-Rasyid as the main character because he is a figure who must be used as an example with the reality of today\u27s leaders in Islamic educational institutions. This study uses a descriptive qualitative approach and includes library research, because in collecting the data the researcher uses Harun Ar-Rasyid Amir\u27s book The Caliphs and the Greatest King in the World as the primary source and journals or papers as a supporting source. The results show that: During the reign of Caliph Harun ar-Rashid, many progresses were made. And one indicator of the rapid development of education and teaching is marked by the expansion of Islamic educational institutions.Keywords: Values of Islamic Education; Leadership; Caliph Harun Al-Rasyi
The Tafsīr Teaching by Ustaz M. Rasyid at Amanah Mosque in Banjarmasin City
The background of this research was the increasing interest of the
community in the interpretation of the Quran and the significant role of Ustaz M.
Rasyid as a teachingr at Amanah Mosque. This study utilized a qualitative method
with a case study approach to gain a profound understanding of the content of the
interpretation teachings and their impact on the audience.
The formulation of the research problem was focused on the interpretation
teachings delivered by Ustaz M. Rasyid at Amanah Mosque in Banjarmasin,
addressing the method of tafsīr used by Ustaz M. Rasyid in these teachings. The
research took the form of field research, involving the study of literature and written
materials such as books, magazines, journals, newspapers, and other sources. The
chosen research approach was qualitative, aimed to provide a detailed and
comprehensive description of the data under study.
Data for this research was collected through direct observation, interviews
with Ustaz M. Rasyid, and the analysis of the content of the teachings. Ustaz M.
Rasyid was able to convey the interpretation in language that is easily understood
and relevant to everyday life. In this context, the role of Amanah Mosque as a center
for religious education in Banjarmasin was further strengthened. This research
contributed to a deeper understanding of the effectiveness of interpretation
teachings in disseminating religious values and morality in society. The
implications of this research can be used as a reference for those involved in
organizing interpretation teachings to enhance their quality and impact.
Additionally, the findings provide insights into how Amanah Mosque can play a
more active role in religious education within the community
Kajian Tafsir Al-Qur’an oleh KH. M. Rasyid Ridho di Channel Youtube Syima Sabilal Muhtadin
Al-Qur’an adalah kalam Allah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad
SAW dengan perantara Malaikat Jibril AS. Allah memerintahkan kepada manusia
seluruhnya agar memperhatikan, mempelajari dan meneliti Al-Qur'an. Adapun
salah satu cara dalam mempelajari Al-Qur’an dengan melewati penafsiran AlQur’an. Kita sebagai awam memiliki keterbatasan dalam menafsirkan Al-Qur’an.
Namun, seiring berkembangnya teknologi, internet mulai merembak ke segala
sendi-sendi kehidupan kita. Salah satu impact yang dapat kita rasakan dari
perkembangan internet adalah lahirnya media multi-platform yang bernama
Youtube. Dengan Youtube, Mesjid Raya Sabilal Muhtadin memfasilitasi
masyarakat dengan menghadirkan Channel Youtube SYIMA Sabilal Muhtadin.
Dalam Channel Youtube ini, terdapat berbagai macam kajian agama atau syi’ar
yang disampaikan oleh berbagai ulama juga pada setiap malamnya. Salah satu
ulama yang mengisi pada malam sabtu di Mesjid Raya Sabilal Muhtadin dan
disiarkan di Channel Youtube.
Penelitian ini berfokus pada konten yang disyi’arkan pada malam sabtu di
Channel Youtube ini, yang mana majelis pada malam sabtu disampaikan oleh KH.
M. Rasyid Ridho atau yang sering dikenal sebagai Guru Raysid. Guru Rasyid
merupakan salah satu ulama muda kharismatik yang populer di Kalimantan Selatan.
Dalam hal ini, rumusan masalah yang penulis kaji terkait mengenai bagaimana
metode tafsir dan corak penafsiran dalam Kajian Tafsir oleh KH. M. Rasyid Ridho
di Channel Youtube SYIMA Sabilal Muhtadin.
Tujuan penulis dalam melakukan penelitian ini yaitu untuk mengetahui
bagaimana metode dan corak penafsiran KH. M. Rasyid Ridho dalam menafsirkan
Al-Qur’an di Channel Youtube SYIMA Sabilal Muhtadin.
Jenis penelitian ini ialah jenis penelitian lapangan (field research) dan
bersifat kualitatif, peneliti mencoba merangkum secara sistematis metode dan corak
penafsiran KH. M. Rasyid Ridho dalam menafsirkan Al-Qur’an di Channel
Youtube SYIMA Sabilal Muhtadin. Dalam penelitian ini penulis meneliti media
sosial berupa Channel Youtube SYIMA Sabilal Muhtadin. Peneliti mengunduh
dokumentasi yang telah diabadikan oleh Mesjid Raya Sabilal Muhtadin dalam
Channel Youtubenya, setelah seluruh data terkumpul nantinya akan terkumpul
barulah akan diolah dan juga dianalisis.
Hasil dari penelitian ini yaitu penafsiran KH. M. Rasyid Ridho dalam
Channel Youtube SYIMA Sabilal Muhtadin menggunakan metode ijmali, yang
mana dengan metode ini beliau menafsirkan ayat-ayat Al-Qur’an secara garis besar,
tanpa perincian detail sama sekali. Oleh sebab itu penafsiran yang disajikan terasa
vii
ringkas dan padat, menyangkut kata-kata yang memerlukan penjelasan. Metode
ijmali yang dipakai oleh KH. M. Rasyid Ridho memang sangat mudah untuk
difahami karena tidak mengandalkan pendekatan analitis, tetapi dilakukan dengan
pola tafsir yang mudah dan tidak berbelit-belit. Metode ijmali memiliki tujuan dan
target bahwa pembaca / pendengar harus bisa memahami kandungan pokok AlQur’an sebagai kitab suci yang memberikan petunjuk hidup.
Pada penelitian corak penafsiran, dapat ditemukan bahwa penafsiran KH.
M. Rasyid Ridho dalam Channel Youtube SYIMA Sabilal Muhtadin menggunakan
corak sufi, yang mana dengan corak ini beliau menafsirkan ayat-ayat Al-Qur’an
memiliki kecenderungan atau spesifikasi keilmuan yang lahir karena pengaruh latar
belakang pendidikan, lingkungan dan akidah beliau sarat akan nuansa tasawufnya,
yang kemudian mewarnai secara dominan penafsiran Al-Qur’an beliau
PEMIKIRAN RASYID RIDHA TENTANG PEMBAHARUAN HUKUM ISLAM
Muhammad Rasyid Ridho dilahirkan pada tahun 1865 M di Alqolamun suatu desa di lebanon Latar belakang pendidikannya dimulai dari madrasah tradisional di Al-Qolamun. Kemudian dia meneruskan pelajarannya kesekolah nasional Islam (madrasah Al-Wathoniyah Al- Islamiyah) di Tripoli. Disekolah ini selain pengetahuan agama dan bahasa arab, diajarkan pula pengetahuan modern dan bahasa Perancis serta Turki. Rasyid Rida adalah murid dari Syaikh Muhammad Abduh, rasyid ridolah yang meneruskan karya penafsiran tersebut, yang dimulai dari surat An-Nisa ayat 126, karena Muhamad Abduh hingga wafatnya hanya berhasil menafsirkan Al-Quran sampai ayat 125 dari surat An-Nisa. Rasyid Rida seorang pembaharuan asal Libanon ini wafat pada agustus 1935M. Pemikiran-pemikiran pembaharuan yang dimajukan Rasyid Rida, tidak banyak dengan ide-ide gurunya. Muhamad Abduh dan Jamaludin Al- Afghani, ia juga berpendapat bahwa umat Islam mudur karena tidak lagi menganut ajaran-ajaran Islam sebenarnya. Pengertian umat Islam tentang ajaran-ajaran agama salah dan perbuatan-perbuatan mereka telah menyeleweng dari ajaran-ajaran Islam sebenarnya. Kedalam islam telah banyak masuk bid‟ah yang merugikan bagi perkembangan dan kemajuan umat. Di antara bid‟ah itu pendapat bahwa dalam Islam terdapat ajaran kekuatan bathin yang membuat pemiliknya dapat memperoleh segala apa yang dikehendakinya, sedang kebahagian diakhirat dan didunia diperoleh melalui hukum alam yang diciptakan tuhan, demikian rasyid rida berpendapat. Rasyid Rida sebagaimana Muhamad Abduh menghargai akal manusia. Sungguh pun penghargaanya terdapat akal tidak setinggi penghargaan yang diberikan gurunya. Menurutnya akal dapat dipakai terhadap ajaran-ajaran mengenai hidup kemasyarakatan, tetapi tidak untuk ibadah, ijtihad diperlukan hanya untuk soal-soal ibadah tidak di berikan lagi. Ijtihad diperlukan hanya untuk soal-soal hidup masyarakat terhadap ayat dan hadist yang mengandung arti tegas. Ijtihad tidak dipakai lagi. Akal dapat dipergunakan terhadap ayat-ayat dan hadist yang tidak mengandung TAZKIYA Jurnal Keislaman, Kemasyarakatan & Kebudayaan 29 arti yang tegas. Dan terhadap persoalan-persoalan yang tidak tersebut dalam al quran dan hadist
GERAKAN LITERASI MASA ABBASYIAH (KEKHALIFAAN HARUN AL-RASYID DAN MAKMUN AL-RASYID)
AbstrakPenelitian ini membahas tentang gerakan literasi pada masa Abbasyiah, terkhusus dalam periode kekhalifaan Harun al-Rasyid dan Ma’mun al-Rasyid (786 – 833 M). Dalam ulasannya, dijabarkan berbagai hal yang menjadi pokok permasalahan. Mulai dari hakikat gerakan literasi, gerakan literasi yang diterapkan pada masa Abbasyiah, hingga dampak dari gerakan literasi terhadap perkembangan ilmu pengetahuan masa Abbasyiah.Jenis penelitian yang penulis gunakan adalah penelitian kualitatif yang berdasar pada penelitian kepustakaan (library research). Kajian yang penulis teliti ini berkenaan dengan penelitian sejarah, maka penelitian ini menggunakan metode sejarah sebagai pemecahan masalah yang telah dirumuskan.Hasil penelitian menunjukkan bahwa gencarnya gerakan literasi masa Abbasyiah memberikan banyak kontribusi positif untuk peradaban Islam kala itu. Di bawah kepemimpinan Harun al-Rasyid, lahir sejumlah pusat gerakan literasi yang didirikan seiring berkembangnya konsep pengembangan ilmu pengetahuan. Seperti kuttab, madrasah, masjid, perpustakaan, toko buku, istana, dan sebagainya. Di sisi lain, masa kepemimpinan Ma’mun al-Rasyid juga tak kalah memberi kontribusi kemajuan ilmu pengetahuan. Pada masa kepemimpinannya, telah lahir sejumlah tokoh ilmuan dan cendekiawan yang berasal dari latar belakang keahlian yang berbeda-beda. Mulai dari ilmu agama hingga ilmu umum. Kemajuan ilmu agama meliputi tafsir Alquran, hadits, fiqih, tasawuf, dan lainnya. Sedangkan ilmu umum itu meliputi etika, matematika, filsafat, astronomi, kedokteran, dan lainnya.Sebagai impilkasi, Diharapkan penelitian ini menjadi acuan bagi lembaga dewasa ini (pemerintahan maupun swasta) dalam menggalang gerakan literasi. Mengingat gerakan literasi menjadi salah satu aspek pemicu berkembanganya pengetahuan, sebagaimana yang tergambar dalam sejarah peradaban masa Abbasyiah
- …
