1,720,984 research outputs found
Kemampuan Penalaran Analogis Santri dalam Geometri: Penelitian Kualitatif di Sebuah Pondok Pesantren
Penelitian ini bertujuan untuk menyelidiki kemampuan penalaran analogis santri dalam geometri dan mengidentifikasi kesulitan dan hambatan mereka. Penulis mendeskripsikan bagaimana kemampuan analogis dalam pemahaman konsep geometri, kemampuan penalaran analogis dalam teorema dan sifat, dan kemampunan penalaran analogis dalam masalah geometri. Penelitian ini merupakan bagian dari pengembangan bahan ajar geometri untuk meningkatkan kemampuan penalaran analogis santri. Adapun metode penelitiannya menggunakan penelitian kualitatif dalam materi teorema Pythagoras, aturan kosinus, dan teorema garis tinggi segitiga yang melibatkan 80 santri di sebuah Pondok Pesantren di Bandung, Indonesia. Hasil dari penelitian ini menemukan bahwa kemampuan penalaran analogis santri berada di kategori rendah dan cukup. Berdasarkan hasil tes dan wawancara menunjukkan santri kesulitan menuliskan persamaan Pythagoras berdasarkan gambar segitiga siku-siku dalam berbagai konteks, menuliskan persamaan kosinus berdasarkan definisi verbal dan gambar, melukis segitiga siku-siku berdasarkan persamaan Pythagoras, melakukan penalaran analogis antara teorema Pythagoras dan aturan kosinus, dan melakukan penalaran analogis berdasarkan teorema. Rekomendasi dari penelitian ini berupa kesulitan-kesulitan dan kelemahan-kelemahan santri dalam kemampuan penalaran analogis yang akan menjadi landasan untuk mengembangan bahan ajar geometri.
This study aims to investigate the analogical reasoning ability of santri in geometry and identify their difficulties and constraints. The author describes how analogical reasoning in understanding the concepts of geometry, analogical reasoning in theorems and properties, and the use of analogical reasoning in geometry problems. This research is part of the development of geometry teaching materials to improve the analogical reasoning ability of santri. The research method uses qualitative research in the material of Pythagoras theorem, the law of cosine, and triangle altitude theorem that involves 80 santri at a Pondok Pesantren in Bandung, Indonesia. The results of this study found that the santri\u27s analogical reasoning abilities were in the low and sufficient category. Based on the results of the tests and interviews it is difficult for students to write Pythagoras equations based on right triangle images in various contexts, writing cosine equations based on verbal definitions and drawings, painting right triangles based on Pythagoras equations, analogical reasoning between Pythagorean theorem and cosine rules; doing analogical reasoning based on the theorem. The recommendation of this research is the difficulties and weaknesses of santri in analogical reasoning ability that will be the basis for developing geometry teaching materials
Kemampuan generalisasi mahasiswa pada perkuliahan kapita selekta matematika sma
Generalisasi adalah detak jantung matematika, dan muncul dalam berbagai bentuk. Sayangnya itu digunakan dalam ukuran yang sangat rendah dalam pendidikan. Generalisasi sangat penting bagimatematika sehingga banyak profesional tidak lagi memperhatikannyakarena bagi mereka hal itu adalah dasar. Tapi justru pergeseran perhatian para ahli telah terintegrasi ke dalam pemikiran pemula.Generalisasi dalam pembelajaran matematik merupakan hal yang penting karena mengajarkan tentang jenis situasi dimana konsep ini dapat diterapkan, dan mendorong siswa untuk mencari situasi lain yang dapat mereka terapkan. Jika guru tidak menyadari kehadirannya, dan tidak terbiasa membuat siswa bekerja untuk mengekspresikan generalisasi mereka sendiri, maka pemikiran matematis tidak akan terjadi. Mahasiswa pendidikan matematika tentunya harus memiliki kemampuan generalisasi, selain akan menghadapi berbagai mata kuliah-mata kuliah matematika, dimana salah satu aspek yang paling penting dalam pemikiran matematis. Mahasiswa pendidikan matematika juga sebagai calon guru matematika harus mengembangkan pembelajaran yang dapat meningkatkan kemampuan generalisasi. Tujuan penelitian ini untuk mendeskripsikan kemampuan generalisasi mahasiwa pada perkuliahan kapita selekta matematika sma dan kesulitan yang dihadapi mahasiwadalam menyelesaikan soal-soal kemampuan generalisasi.Penelitian ini dilaksanakan dengan metode studi kasus dimana peneliti melakukan ekplorasi mendalam terhadap satu atau lebih orang. Penelitian ini akan dilaksanakan di Program Studi Pendidikan Matematika FKIP Universitas Suryakancana. Dari hasil penelitian ini diketahui bahwa: Kemampuan generalisasi mahasiswa pendidikan matematika berada pada kategori rendah dalam beberapa tahapan generalisasi, yaitu kesulitan mengenali pola, menuliskan pola atau aturan dalam bahasa verbal, dan memformulasikan pola atau aturan dalam bahasa simbolik. The generalization ability of students in the Kapita Selekta matematika course in senior high schoolGeneralization is a mathematical heartbeat and appears in various forms. Unfortunately, it is used in a very low measure in education. Generalization is very important for mathematics so that many professionals no longer pay attention to it because for them it is basic. But precisely the shift in the attention of experts has been integrated into the beginner\u27s thinking. Generalization in mathematical learning is important because it teaches about the types of situations in which this concept can be applied, and encourages students to look for other situations that they can apply. If the teacher is not aware of his presence and is not used to making students work to express their own generalizations, mathematical thinking will not occur. Mathematics education students certainly must have generalization skills, in addition to facing various mathematics courses, which are one of the most important aspects of mathematical thinking. Students of mathematics education, as well as prospective mathematics teachers, must develop learning that can improve generalization skills. The purpose of this study is to describe the ability of generalizations of students in the lecture on the subject of high school mathematics and the difficulties faced by students in solving generalization skills. This study was conducted with a case study method in which researchers conduct in-depth exploration of one or more people. This research will be carried out in the Mathematics Education Study Program FKIP Suryakancana University. From the results of this study it is known that: The generalization ability of mathematics education students is in the low category in several stages of generalization, namely difficulty recognizing patterns, writing patterns or rules in verbal language, and formulating patterns or rules in symbolic language
ANALISIS KEMAMPUAN MAHASISWA PROGRAM STUDI MATEMATIKA DALAM MEMBUAT BAHAN AJAR DENGAN PERANGKAT LUNAK GEOGEBRA MELALUI PEMBELAJARAN BERBASIS PROYEK
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kemampuan mahasiswa program studi matematika dalam membuat bahan ajar dengan perangkat lunak geogebra melalui pembelajaran berbasis proyek. Bentuk penelitian yang digunakan dalam penelitian ini kualitatif yang mendeskripsikan kemampuan mahasiswa program studi matematika dalam membuat bahan ajar dengan perangkat lunak geogebra melalui pembelajaran berbasis proyek. Rangkaian kegiatan penelitian ini adalah observasi langsung dan catatan faktual perihal proses pembelajaran berbasis proyek dan kemampuan mahasiswa dalam membuat bahan ajar dengan perangkat lunak Geogebra berdasarkan penilaian dosen dan guru. Subjek penelitian adalah mahasiswa program studi pendidikan matematika sebagai calon guru. Teknik pengumpulan data adalah dengan 1) penilaian dosen dan 2) penilaian guru. Hasil penelitian dapat dipaparkan bahwa Kemampuan mahasiswa program studi pendidikan matematika dalam membuat bahan ajar dengan perangkat lunak Geogebra melalui pembelajaran berbasis proyek   nilai 78 dan mengindikasikan bahwa Kemampuan mahasiswa program studi pendidikan matematika dalam membuat bahan ajar dengan perangkat lunak Geogebra pada kategori tinggi. Kata kunci : pembelajaran berbasis proyek, bahan ajar, geogebraÂ
PEMBELAJARAN MATEMATIKA DENGAN PENDEKATAN PROBLEM POSING UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN PEMECAHAN MASALAH DAN KONEKSI MATEMATIS SISWA
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbandingan peningkatan kemampuan pemecahan masalah dan koneksi matematis siswa yang mendapatkan pembelajaran matematika dengan pendekatan problem posing dan siswa yang mendapatkan pembelajaran konvesional. Di samping itu juga penelitian ini bertujuan untuk mengetahui sikap dan minat siswa terhadap pembelajaran matematika dengan pendekatan problem posing. Penelitian ini merupakan penelitian quasi eksperimen dengan disain kelompok kontrol pretes-postes. Populasi dari penelitian ini adalah seluruh siswa kelas X di sebuah Madrasah Aliyah swasta yang terakreditasi A di Kabupaten Bandung. Pengambilan sampel dengan mengunakan purposive sampling. Adapun sampelnya terdiri dari dua kelas, yaitu: kelas eksperimen (kelas yang mendapatkan pembelajaran matematika dengan pendekatan problem posing) dan kelas kontrol (kelas yang mendapatkan pembelajaran konvensional). Instrumen yang digunakan adalah tes kemampuan pemecahan masalah matematis, tes kemampuan koneksi matematis, dan skala sikap. Analisis data yang digunakan adalah uji beda rerata Mann-Whitney dan Uji t. Hasil penelitian ini sebagai berikut: 1) Peningkatan kemampuan pemecahan masalah siswa yang mendapatkan pembelajaran matematika dengan pendekatan problem posing lebih baik daripada siswa yang mendapatkan pembelajaran konvensional, 2) Peningkatan kemampuan koneksi matematis siswa yang mendapatkan pembelajaran matematika dengan pendekatan problem posing lebih baik daripada siswa yang mendapatkan pembelajaran konvensional, 3) sikap dan minat siswa terhadap pembelajaran matematika dengan pendekatan problem posing adalah positif. Secara umum pembelajaran matematika dengan pendekatan problem posing dapat meningkatkan kemampuan pemecahan masalah dan koneksi matematis siswa
Kemampuan generalisasi mahasiswa pada perkuliahan kapita selekta matematika sma
Generalisasi adalah detak jantung matematika, dan muncul dalam berbagai bentuk. Sayangnya itu digunakan dalam ukuran yang sangat rendah dalam pendidikan. Generalisasi sangat penting bagimatematika sehingga banyak profesional tidak lagi memperhatikannyakarena bagi mereka hal itu adalah dasar. Tapi justru pergeseran perhatian para ahli telah terintegrasi ke dalam pemikiran pemula.Generalisasi dalam pembelajaran matematik merupakan hal yang penting karena mengajarkan tentang jenis situasi dimana konsep ini dapat diterapkan, dan mendorong siswa untuk mencari situasi lain yang dapat mereka terapkan. Jika guru tidak menyadari kehadirannya, dan tidak terbiasa membuat siswa bekerja untuk mengekspresikan generalisasi mereka sendiri, maka pemikiran matematis tidak akan terjadi. Mahasiswa pendidikan matematika tentunya harus memiliki kemampuan generalisasi, selain akan menghadapi berbagai mata kuliah-mata kuliah matematika, dimana salah satu aspek yang paling penting dalam pemikiran matematis. Mahasiswa pendidikan matematika juga sebagai calon guru matematika harus mengembangkan pembelajaran yang dapat meningkatkan kemampuan generalisasi. Tujuan penelitian ini untuk mendeskripsikan kemampuan generalisasi mahasiwa pada perkuliahan kapita selekta matematika sma dan kesulitan yang dihadapi mahasiwadalam menyelesaikan soal-soal kemampuan generalisasi.Penelitian ini dilaksanakan dengan metode studi kasus dimana peneliti melakukan ekplorasi mendalam terhadap satu atau lebih orang. Penelitian ini akan dilaksanakan di Program Studi Pendidikan Matematika FKIP Universitas Suryakancana. Dari hasil penelitian ini diketahui bahwa: Kemampuan generalisasi mahasiswa pendidikan matematika berada pada kategori rendah dalam beberapa tahapan generalisasi, yaitu kesulitan mengenali pola, menuliskan pola atau aturan dalam bahasa verbal, dan memformulasikan pola atau aturan dalam bahasa simbolik. The generalization ability of students in the Kapita Selekta matematika course in senior high schoolGeneralization is a mathematical heartbeat and appears in various forms. Unfortunately, it is used in a very low measure in education. Generalization is very important for mathematics so that many professionals no longer pay attention to it because for them it is basic. But precisely the shift in the attention of experts has been integrated into the beginner\u27s thinking. Generalization in mathematical learning is important because it teaches about the types of situations in which this concept can be applied, and encourages students to look for other situations that they can apply. If the teacher is not aware of his presence and is not used to making students work to express their own generalizations, mathematical thinking will not occur. Mathematics education students certainly must have generalization skills, in addition to facing various mathematics courses, which are one of the most important aspects of mathematical thinking. Students of mathematics education, as well as prospective mathematics teachers, must develop learning that can improve generalization skills. The purpose of this study is to describe the ability of generalizations of students in the lecture on the subject of high school mathematics and the difficulties faced by students in solving generalization skills. This study was conducted with a case study method in which researchers conduct in-depth exploration of one or more people. This research will be carried out in the Mathematics Education Study Program FKIP Suryakancana University. From the results of this study it is known that: The generalization ability of mathematics education students is in the low category in several stages of generalization, namely difficulty recognizing patterns, writing patterns or rules in verbal language, and formulating patterns or rules in symbolic language
LEMBAR KERJA DINAMIS GEOGEBRA UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN PENALARAN ANALOGIS SISWA
This study aims to develop GeoGebra Dynamic Worksheets to enhance students' analogical reasoning abilities. Students are expected to interact with GeoGebra Dynamic Worksheets or Dynamic Activities. This research used Design Didactical Research (DDR). Based on the learning obstacles faced by students when carrying out the analogical reasoning process, the GeoGebra Dynamic Worksheet was developed as follows: 1) Reinforcement of the retrieval process: The GeoGebra Worksheet is designed so that students remember in advance about the material or situation that is analogous to the material to be discussed; 2) Strengthening the mapping process: GeoGebra Dynamic Worksheets are designed so that students are able to align the previous analog situation with the new analog situation; 3) Strengthening the evaluation process: several questions are displayed on the Dynamic Worksheet
Going Beyond Counting First Authors in Author Co-citation Analysis
The present study examines one of the fundamental aspects of author co-citation analysis (ACA) - the way co-citation
counts are defined. Co-citation counting provides the data on which all subsequent statistical analyses and mappings
are based, and we compare ACA results based on two different types of co-citation counting - the traditional type that
only counts the first one among a cited work's authors on the one hand and a non-traditional type that takes into
account the first 5 authors of a cited work on the other hand. Results indicate that the picture produced through this non-traditional author co-citation counting contains more coherent author groups and is therefore considerably clearer. However, this picture represents fewer specialties in the research field being studied than that produced through the traditional first-author co-citation counting when the same number of top-ranked authors is selected and analyzed. Reasons for these effects are discussed
Variations on the Author
“Variations on the Author” discusses two of Eduardo Coutinho’s recent films (Um Dia na Vida, from 2010, and Últimas Conversas, posthumously released in 2015) and their contribution to the general question of documentary authorship. The director’s filmography is characterized by a consistent yet self-effacing form of authorial self-inscription: Coutinho often features as an interviewer that rather than express opinions propels discourses; an interviewer that is good at listening. This mode of self-inscription characterizes him as an author who is not expressive but who is nonetheless markedly present on the screen. In Um Dia na Vida, however, Coutinho is completely absent form the image, while Últimas Conversas, on the contrary, includes a confessional prologue that moves the director from the margins to the center of his films. This article examines the ways in which these works stand out in the filmography of a director who offers new insights into the notion of cinematic authorship
Appropriate Similarity Measures for Author Cocitation Analysis
We provide a number of new insights into the methodological discussion about author cocitation analysis. We first argue that the use of the Pearson correlation for measuring the similarity between authors’ cocitation profiles is not very satisfactory. We then discuss what kind of similarity measures may be used as an alternative to the Pearson correlation. We consider three similarity measures in particular. One is the well-known cosine. The other two similarity measures have not been used before in the bibliometric literature. Finally, we show by means of an example that our findings have a high practical relevance.information science;Pearson correlation;cosine;similarity measure;author cocitation analysis
- …
