8 research outputs found
RETRACTED: STUDI METODOLOGI TAFSIR SURAT YASIN KARYA MUḤAMMAD IRSYAD
Following careful and considered review of the article entitled “Studi Metodologi Tafsir Surat Yasin Karya Muḥammad Irsyad”, Published in the Revelatia: Jurnal Ilmu Al Qur’an dan Tafsir Vol. 3 No. 1 (2022), by Nafisah and Masruchan lecturer at the Sunan Ampel State Islamic University Surabaya.
This article has been retracted at the request of the Editor-in-Chief. The author has plagiarized parts of the following papers:
Fawaidur Ramdhani, “ Apologetika tafsir al Qur’an: tipologi tapsèr sorat Yaa Siin Bhasa Madhura karya Muhammad Irsyad.” Undergraduate thesis, UIN Sunan Ampel Surabaya.
http://digilib.uinsby.ac.id/21906/
Fawaidur Ramdhani and Ahmad Zaidanil Kamil, “Tafsir Alquran Bahasa Madura: Mengenal Tapsèr Sorat Yaa-siin (BhasaMadhura) Karya Muhammad Irsyad”
DOI: https://doi.org/10.32495/nun.v5i1.103
One of the conditions of submission of a paper for publication is that authors declare explicitly that their work is original and has not appeared in a publication elsewhere. Re-use of any data should be appropriately cited. As such this article represents a severe abuse of the scientific publishing system. The scientific community takes a very strong view on this matter and apologies are offered to readers of the journal that this was not detected during the submission process
Apologetika tafsir al Qur’an: tipologi tapsèr sorat Yaa Siin Bhasa Madhura karya Muhammad Irsyad
Salah satu corak penafsiran yang paling mengundang polemik di antara dua kubu, pro dan kontra adalah corak tafsir ilmi (scientifik exegesis). Di satu sisi, kemunculan corak ini merupakan refleksi dari tumbuhkembangnya ilmu pengetahuan yang kemudian digunakan untuk membantu memahami teks-teks al-Qur’an secara lebih komprehensif. tetapi, di sisi lain oleh sebagian kalangan, tafsir corak ilmi dinilai sebagai penafsiran yang hanya memaksakan istilah-istilah ilmu pengetahuan dan diupayakan untuk mencari legitimasi serta justifikasi teologis dalam al-Qur’an. Di antara beberapa dari sekian banyak tafsir ilmi yang pernah muncul dalam mozaik tafsir, khususnya di Indonesia adalah Tapsèr Sorat Yaa-siin (Bhasa Madhura ) karya Muhammad Irsyad. Fokus kajian dalam penelitian ini adalah pandangan-pandangan dan penafsiran ilmiah Muhammad Irsyad yang ditampilakn dalam tafsirnya. Penelitian ini dilakukan untuk memotret posisi Muhammad Irsyad dalam perdebatan seputar kontroversi tafsir ilmi dan pemikiran-pemikiran Muhammad Irsyad. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif-analitis dengan pendekatan historis-filosofis. Pendekatan histotis dimaksudkan untuk menelusuri kehidupan sosial dan karir pendidikan Muhammad Irsyad. Sedangkan pendekatan filosofis diharapkan mampu menguraikan dan menarasikan pemikiran-pemikiran Muhammad Irsyad tentang hubungan al-Qur’an dan ilmu pengetahuan serta penafsiran ilmiahnya dalam Tapsèr Sorat Yaa-siin (Bhasa Madhura ).Dengan menggunakan metode di atas, penulis mendapatkan beberapa kesimpulan. Pertama, Muhammad Irsyad berpandangan bahwa al-Qur’an merupakan petunjuk praktis dalam kehidupan manusia. Dengan begitu, al-Qur’an adalah kitab suci yang dihadirkan dengan muatan-muatan ilmu pengetahuan yang sudah lengkap di dalamnya. Kedua, Muhammad Irsyad cenderung berada di posisi kelompok yang menerima dan membela tafsir ilmi. Ketiga, dalam melakukan penafsiran ilmiahnya, Muhammad Irsyad menampakkan sikap apologetik dengan melakukan klaim bahwa teori-teori temuan Barat sebenarnya telah dimuat atau disinggung di dalam al-Qur’an jauh sebelum teori tersebut dimunculkan
Tafsir Ilmi Surah Yasin: kajian komparatif penafsiran M. Irsyad dan Hamka
Kajian ini bermaksud mengkaji secara komparatif penafsiran ilmiah M. Irsyad dan Hamka atas surah Yasin. Beberapa permasalah yang akan diangkat dalam kajian ini adalah pandangan M. Irsyad dan Hamka tentang hubungan Al-Qur’an dan ilmu pengetahuan, wacana penafsiran ilmiah M. Irsyad dan Hamka atas surah Yasin, serta pendekatan penafsiran ilmiah M. Irsyad dan Hamka sehingga mempengaruhi haluan penafsirannya. Penelitian ini merupakan jenis penelitian kualitatif yang bersifat deskriptif dengan model library reseach. Untuk memperoleh gambaran komprehensif mengenai pandangan M. Irsyad dan Hamka seputar hubungan Al-Qur’an dan ilmu pengetahuan, digunakan pemetaan ala Companini, yaitu kelompok Kesepakatan Total, kelompok Kesepakatan Parsial, dan kelompok Penolak Kesepakatan. Sementara untuk mendapatkan pengetahuan mendalam mengenai pendekatan yang digunakan M. Irsyad dan Hamka ketika menafsirkan surah Yasin secara ilmiah, penulis menggunakan pemetaan Barbour, yaitu pendekatan dialog, pendekatan integrasi, pendekatan konflik dan pendekatan independensi. Dengan menggunakan metode di atas, beberapa kesimpulan yang dapat disarikan dalam kajian ini antara lain; Pertama, M. Irsyad tergolong ke dalam kelompok Kesepakatan Total. Kelompok ini memiliki pandangan bahwa Al-Qur’an tidak hanya menjadi sumber hukum-hukum, ibadah, mu‘āmalah, tetapi juga merupakan sumber segala ilmu pengetahuan. Berbeda dengan Irsyad, Hamka masuk dalam golongan Kesepakatan Parsial. Hamka memandang bahwa Al-Qur’an bukanlah satu-satunya sumber ilmu pengetahuan. Sunnatullāh yang bertebaran di jagad semesta ini pun adalah sumber ilmu pengetahuan. Kedua, ketika memberikan penafsiran ilmiah atas surah Yasin, M. Irsyad terkadang menggunakan pendekatan dialog dan terkadang pula menggunakan pendeatan intergrasi. Sedangkan keseluruhan penafsiran Hamka cenderung pada pendekatan dialog. Ketiga, dalam pengembangan ilmu pengetahuan, M. Irsyad menganjurkan sebisa mungkin agar berbasis pada Al-Qur’an, dan Al-Qur’an menjadi barometer kebenaranya. Adapun Hamka, ia tampak tidak membawa Al-Qur’an ke ranah kerja ilmiah. pemikiran lainnya dari Hamka adalah bahwa sebuah teori atau temuan sains selayaknya diuji juga dengan prosedur ilmiah
Tafsir Alquran Bahasa Madura: Mengenal Tapsèr Sorat Yaa-siin (BhasaMadhura) Karya Muhammad Irsyad
This article points to review one the Quranic interpretationwritten by Muhammad Irsyad. This interpretation which he called Tapsèr Sorat Yaa-siin (Bha>sa Madhura>) almost disappear in the middle of the Quranic interpretationdiscussions in Indonesia. Basically, there is no much different to other ordinary interpretation, both in terms of writing, presentation of the systematic or the method used. This interpretation was written in Madurese language in the Latin script and typed by the typewriter. As for verses, written by handwriting. The method used in this interpretation is the maud}u>‘i@ surah method, while Surah Yasin as the focus of interpretation. Tapsèr Sorat Yaa-siin (Bha>sa Madhura>) has two nuances (type), those are the scientific and social type. During the interpretation process, Muhammad Irshad utilized the scientific perspective to uncover the scientific Quran and at the same time to respond several mythologies that is still rooted in Madurese society. According to Irsyad’s view, the Quran not only acts as a guide, but also as a source of all knowledge. It is not only sacred, but also scientific. Humans should use their minds to uncover scientific messages contained in the Quran
Islamic Education and Contemporary Challenges
This research aims to find out and explain the problems faced by Islamic education, especially in the current contemporary era. To find out, researchers reviewed the philosophical framework of ontology, epistemology and also axiology. Based on research conducted by researchers, it is known that from an ontological perspective, Islamic education must strengthen its philosophical foundation, then from an epistemological perspective, it is necessary to improve learning practices in Islamic education, including developing dynamic-progressive curriculum policies and developing learning methods that relevant. Then finally, in terms of axiology, actors in Islamic education must have the will to produce and produce students who are competitive. So based on this, there needs to be awareness to build an Islamic education model with an integrative paradigm
Tafsir Alquran Bahasa Madura: Mengenal Tapsèr Sorat Yaa-siin (BhasaMadhura) Karya Muhammad Irsyad
This article points to review one the Quranic interpretationwritten by Muhammad Irsyad. This interpretation which he called Tapsèr Sorat Yaa-siin (Bha>sa Madhura>) almost disappear in the middle of the Quranic interpretationdiscussions in Indonesia. Basically, there is no much different to other ordinary interpretation, both in terms of writing, presentation of the systematic or the method used. This interpretation was written in Madurese language in the Latin script and typed by the typewriter. As for verses, written by handwriting. The method used in this interpretation is the maud}u>‘i@ surah method, while Surah Yasin as the focus of interpretation. Tapsèr Sorat Yaa-siin (Bha>sa Madhura>) has two nuances (type), those are the scientific and social type. During the interpretation process, Muhammad Irshad utilized the scientific perspective to uncover the scientific Quran and at the same time to respond several mythologies that is still rooted in Madurese society. According to Irsyad's view, the Quran not only acts as a guide, but also as a source of all knowledge. It is not only sacred, but also scientific. Humans should use their minds to uncover scientific messages contained in the Quran
Qur’an in Everyday Life: The Meaning and Reception of The Qur’an in The Muslim Community of Congaban-Bangkalan
This article tries to record how the reception of the Muslim community in Congaban Islamic boarding schools towards the presence of the Qur’an. Congaban is one of the Islamic boarding schools that is thick with the nuances and flavor of the Qur’an. There, the Qur’an lives and blends into the daily lives of its people. This study includes living Qur’an research, using qualitative methods and ethnographic approaches. The results of this study show that the typology of the reception of the Congaban’s people towards the Qur’an can be mapped into three; 1) lovers who prove their love by continuously reading and memorizing the Qur’an; 2) lovers who express their love aesthetically, both through the art of reading the Qur’an (rhythm) and the art of writing the Qur’an (calligraphy); 3) lovers who express their love by revealing the privileges (fadhilah) and moral messages of the Qur’an. The three typologies in turn form or create certain practices and traditions, including the tradition of tahfidz al-Qur’an, recitation of al-Qur’an interpretation (Jalalain), calligraphy al-Qur’an and Khatmil Qur’an. The meanings and expectations of the people of Congaban Islamic boarding school in perceiving the presence of the Qur’an are quite diverse, which can be observed from cultural, theological, psychological, and philosophical perspectives. The meanings and expectations that arise from the many forms of reception of the Qur’an are as an obligation to protect and glorify the Qur’an, to worship, express love, a form of obedience, bring sustenance, draw blessings and others
Quran in Everyday Life: Resepsi Al-Quran Masyarakat Congaban Bangkakalan Madura
Artikel ini bertujuan untuk memotret bagaimana resepsi komunitas muslim di pondok pesantren Congaban terhadap kehadiran al-Quran. Congaban termasuk salah satu pondok pesantren yang kental dengan nuansa dan citarasa al-Quran. Di sana, al-Quran hidup dan menyatu dalam kehidupan sehari-hari masyarakatnya. Kajian ini termasuk penelitian living Quran, menggunakan metode kualitatif dan pendekatan fenomenologi. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa, tipologi resepsi masyarakat pesantren Congaban terhadap al-Quran dapat dipetakan menjadi tiga; 1) pecinta yang membuktikan cintanya dengan cara terus menerus membaca dan menghafal al-Quran; 2) pecinta yang menyatakan cintanya secara estetis, baik melalui seni membaca al-Quran (irama) dan seni menulis al-Quran (kaligrafi); 3) pecinta yang mengekspresikan cintanya dengan mengungkap keistimewaan (fadhilah) dan pesan moral al-Quran. Ketiga tipologi tersebut pada gilirannya membentuk atau menciptakan praktik dan tradisi tertentu, di antaranya adalah tradisi tahfidz al-Quran, pengajian tafsir al-Quran (Jalalain), kaligrafi al-Quran dan Khatmil Quran. Makna dan ekspektasi masyarakat pondok pesantren Congaban dalam meresepsi kehadiran al-Quran cukup beragam, yang dapat diamati dari perspektif kultural, teologis, prikologis, dan filosofis. Makna dan ekspektasi yang muncul dari sekian bentuk resepsi terhadap al-Quran tersebut adalah sebagai sebuah kewajiban menjaga dan memuliakan al-Quran, dalam rangka beribadah, ekspresi cinta, bentuk ketaatan, mendatangkan rezeki, ngalap berkah dan lain-lain
