1,722,365 research outputs found
The Rahima Story
Untuk itu, alhambulillah, puji syukur kepada Allah SWT. Karena berkat kasih kasih sayangNya mimbi Rahima untuk mempunyai buku sejarah dapat terwujud.xxiv, 146 hlm.: ilus.; 21 cm
Manajemen Pemberdayaan perempuan pada rahima Jakarta
Manajemen pemberdayaal1 perempuan merupakan suatu proses pembekalan, peningkatan dan pembinaan potensi, keadaan serta posisi perempuan menuju perubahan yang lebih baik secara efektif dan efisien. Dalam menerapkan fungsi-fungsi man'\iemen langkah pertama yang dilakukan oleh Rahima adalah perencanaan. Penerapan perencanaan pemberdayaan perempuan yang dilakukan oleh Rahima adalah dengan menentukan tujuan, policy, prosedur, schedule, program, budget, metode dan strategi. Langkah kedua adalah pengorganisasian. Dalarn menerapkan pengorganisasian Rahima membagi tugas dan wewenang yang sesuai dengan posisi masing-masing. Langkah ketiga adalah penggerakan. Penggerakan yang diterapkan Rahima adalah dengan cara pencmpatan posisi yang tepat, memberikan penghargaan prestasi kerja, menyediakan sarana dan prasarana yang memadai, melakukan pengembangan kualitas badan pelaksana serta memberikan motivasi terhadap badan pelaksana. Langkah yang keempat adalah pengawasan. Rahima dalarn menerapkan pengawasan adalah dengan cara memanfaatkan seminimal mungkin sumber daya yang tersedia, melakukan pengawasan pada waktu kegiatan berlangsung dan melakukan evaluasi bersama. Dengan demikian penerapan manajemen pemberdayaan perempuan yang dilakukan oleh Rahima sudah terealisasi
REDEFINITION OF POWER BY RAHIMA IN NADIA HASHIMI: “THE PEARL THAT BROKE ITS SHELL”
Women as victims of sexist oppression is a global issue that needs attention from women around the world. This study covers three issues that relate to women as victims of sexist oppression. Those three issues are sexist oppression experienced by Rahima, solidarity gained by Rahima, and power exercised by Rahima in the novel entitled The Pearl That Broke Its Shell by Nadia Hashimi. Through qualitative methods, the researcher analyzes and describes character’s utterances and narrations from the narrator that indicate the existence of sexist oppression, women's solidarity, and women's power. The results showed that Rahima was successful in exercising her power to end the sexist oppression she experienced
Peran lembaga Rahima terhadapkaderisasi ulama perempuan
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana peran yang dilakukan lembaga Rahima terhadap Kaderisasi Ulama Perempuan, serta aktivitas apa saja yang dilakukan lembaga Rahima agar hal tersebut tercapai. Dalam penulisan skripsi ini, penulis menggunakan metode penelitian kualitatif sehingga hasil penelitiannya tidak berupa angka-angka melainkan berupa interpretasi dan kata-kata. Pengumpulan datanya dilakukan dengan menggunakan teknik observasi, wawancara, kepustakaan (Library research), dan dokumentasi. Kemudian data-data yang terkumpul dianalisa dengan menggunakan content analysis yakni, dengan cara memilah-milah data yang terkumpul untuk dianalisa isinya sesuai dengan yang dibutuhkan sehingga dapat diambil suatu kesimpulan. Penelitian ini membuktikan kegiatan yang dilakukan oleh lembaga Rahima dalam upaya Pendidikan Pengkaderan Ulama Perempuan ini melalui beberapa tahapan dan langkah yaitu ; Pertama, penetapan materi. Kedua, perekrutan calon peserta pengkaderan.Ketiga, tadarus. Pertama, penetapan materi dilakukan melalui workshop para peserta Pengkaderan Ulama Perempuan sebelumnya, dimaksudkan agar pengkaderan selanjutnya lebih berisi atau materi yang ada lebih menyeluruh dan padat, sehingga untuk pengkaderan yang dilakukan saat ini materi lebih variatif. Kedua, calon peserta Pengkaderan Ulama Perempuan harus memenuhi kriteria yang telah di tetapkan semisal penguasaan ilmu agama, umur, mempunyai basic komunitas, keterbukaan akan informasi yang baru. Ketiga, tadarus merupakan hal terinti dari pengkaderan ini, tadarus merupakan sebuah pelatihan metode-metode yang dilakukan untuk mengetahui betapa pentingnya peran perempuan di masyarakat, penetapan hukum keislaman yang baru yang sesuai kondisi saat ini, dan peng-advokasian atau pengorganisasian masyarakat. Pengkaderan yang dilakukan oleh lembaga Rahima menghasilkan ulamaulama perempuan yang mengangkat isu-isu kesetaraan gender serta pengorganisasian masyarakat yang berada disekitarnya, baik itu yang berupa majlis taklim, akademisi maupun yang berupa pesantre
Walid & Rahima
Walid worked as a police officer inBaghlan County,Afghanistan, where hedid many operations with NATO and US forces. Walid was responsible for recordingoperations and distributing copies to the media. Being part of the operations was dangerous, and Walid lost many of his friendsto the Taliban.Theyevenskinned afriend for cooperating with the government. The violenceled him to say, “The terrorists have no religion.” The Taliban began entering homes and killing government officials,and paid assassinations happened in public. Walidknew he was in danger.After losing a dear friend, Walid knew then that he had lost all he was willing to lose.He fled to Pakistan where he soon received news that the terrorists had killed his father. He then fledto Turkeyon a difficult journey.Traffickers packed them on an overcrowded boat to flee to Greece. The journey on the sea was full of fear, danger, and prayers,until a Greek boat found them and guided them to safety.In Greece, Walidspent three months in a prison-like camp called Moria, where rape and violence were all too common. He now resides in a camp in Oinofyta, Greece.https://scholarsarchive.byu.edu/tsos_interviews/1016/thumbnail.jp
PREFERENSI KEBERAGAMAAN DALAM GERAKAN PEREMPUAN POST-ISLAMISME (Studi Kasus Pada Organisasi Gerakan Perempuan Islam Perhimpunan Rahima)
Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan tentang preferensi keberagamaan
dalam mengusung gerakan perempuan Islam, yang diidentikkan dengan feminisme.
Sementara, feminisme merupakan pemahaman tentang perempuan yang bersebrangan
dengan Islam dalam memahami relasi gender. Dalam melihat hal tersebut, penelitian
ini berfokus pada sebuah organisasi sosial-kemanusiaan yang bergerak untuk
mewujudkan kesetaraan gender dalam Islam.
Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif -deskriptif dengan fokus studi kasus
pada organisasi gerakan perempuan Islam Perhimpunan Rahima. Pengambilan data
dilakukan dengan wawancara mendalam dan observasi untuk memperoleh data primer
dengan pendiri dan pengurus Rahima. Selain itu data juga didapatkan dari dokumentasi
berupa buku dan laporan-laporan kegiatan Rahima untuk memperoleh data sekunder.
Temuan penelitian menunjukan bahwa meskipun tidak berafiliasi, pemikiran Rahima
dipengaruhi oleh corak pemikiran Nahdlatul Ulama. Namun, pemikiran keislaman
Rahima lebih banyak berdialog dengan ideologi diluar Islam, misalnya demokrasi dan
emansipasi, sehingga meskipun berangkat dari keilmuan pesantren yang tradisional,
cakupan pemikirannya lebih luas dengan mengedepankan aspek empirik dan
rasionalitas. Pemikiran ini digolongkan sebagai pemikiran post-tradisionalisme Islam.
Rahima seperti para feminis muslim lainnya melihat bahwa ketidaksetaraan berada
pada tataran penafsiran teks Islam dan budaya patriarki yang saling melekat. Sehingga
dibutuhkan upaya dekontruksi dan rekontruksi terhadap pemahaman tersebut. Dalam
hal ini, Rahima melihat teks sebagai medium yang dapat di kritik dan mengedepankan
kontekstualisasi. Berdasarkan hal tersebut, pada tataran praksis Rahima digolongkan
sebagai gerakan post-Islamisme yang berupaya membawa keberagamaan Islam untuk
menjunjung tinggi kebebasan, demokrasi dan emansipasi serta kecenderungan
pemikiran dan tindakan yang liberal-sekuler.
Kata Kunci: Rahima, Feminisme Islam, Gerakan Keagamaan
ABSTRACT
Sugra Az Zahra, Religiousity Preference in the Post-Islamism Women's Movement
(Case Study on the Organization of Islamic Women’s Movement, The Association of
Rahima), Undergraduate Thesis, Jakarta: Sociology Program, Faculty of Social
Sciences, State University of Jakarta, 2020.
This study aims to describe the religious preferences in carrying out the Islamic
women's movement, which is identified with feminism. Meanwhile, feminism is an
understanding of women who are at odds with Islam in understanding gender relations.
In view of this, this research focuses on a social-humanitarian organization that is
engaged in realizing gender equality in Islam.
This research uses a qualitative-descriptive approach with a focus of case studies on
the organization of the Islamic women's movement Association of Rahima. Data are
collected by in-depth interviews and observations to obtain primary data with founder
and management of Rahima. In addition, data was also obtained from documentation
in the form of books and reports on Rahima's activities to obtain secondary data.
The result shows that, although not affiliated, Rahima's thoughts are influenced by the
patterns of Nahdlatul Ulama thought dan tradition. However, Rahima's Islamic thought
had more dialogue with ideologies outside of Islam, such as democracy and
emancipation, so that even though departing from traditional Islamic boarding
scholarship, the scope of his thinking was broader by prioritizing empirical aspects and
rationality. This thought is classified as post-traditionalism Islam.
Rahima, like other Muslim feminists, sees that inequality are at the level of
interpretation of Islamic texts and patriarchal culture that is inherent. So it takes
deconstruction and reconstruction efforts on that understanding. In this case, Rahima
sees the text as a medium that can be criticized and promotes contextualization. Based
on this, Rahima's praxis is classified as a post-Islamism movement that seeks to bring
Islam into the private domain and the tendency of uphold freedom, democracy dan
emancipation.
Keywords: Rahima, Islamic Feminism, Religious Movemen
Peran Lembaga Rahima Terhadap Kaderisasi Ulama Perempuan
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana peran yang
dilakukan lembaga Rahima terhadap Kaderisasi Ulama Perempuan, serta aktivitas
apa saja yang dilakukan lembaga Rahima agar hal tersebut tercapai.
Dalam penulisan skripsi ini, penulis menggunakan metode penelitian
kualitatif sehingga hasil penelitiannya tidak berupa angka-angka melainkan
berupa interpretasi dan kata-kata. Pengumpulan datanya dilakukan dengan
menggunakan teknik observasi, wawancara, kepustakaan (Library research), dan
dokumentasi. Kemudian data-data yang terkumpul dianalisa dengan menggunakan
content analysis yakni, dengan cara memilah-milah data yang terkumpul untuk
dianalisa isinya sesuai dengan yang dibutuhkan sehingga dapat diambil suatu
kesimpulan.
Penelitian ini membuktikan kegiatan yang dilakukan oleh lembaga Rahima
dalam upaya Pendidikan Pengkaderan Ulama Perempuan ini melalui beberapa
tahapan dan langkah yaitu ; Pertama, penetapan materi. Kedua, perekrutan calon
peserta pengkaderan.Ketiga, tadarus. Pertama, penetapan materi dilakukan melalui
workshop para peserta Pengkaderan Ulama Perempuan sebelumnya, dimaksudkan
agar pengkaderan selanjutnya lebih berisi atau materi yang ada lebih menyeluruh
dan padat, sehingga untuk pengkaderan yang dilakukan saat ini materi lebih
variatif. Kedua, calon peserta Pengkaderan Ulama Perempuan harus memenuhi
kriteria yang telah di tetapkan semisal penguasaan ilmu agama, umur, mempunyai
basic komunitas, keterbukaan akan informasi yang baru. Ketiga, tadarus
merupakan hal terinti dari pengkaderan ini, tadarus merupakan sebuah pelatihan
metode-metode yang dilakukan untuk mengetahui betapa pentingnya peran
perempuan di masyarakat, penetapan hukum keislaman yang baru yang sesuai
kondisi saat ini, dan peng-advokasian atau pengorganisasian masyarakat.
Pengkaderan yang dilakukan oleh lembaga Rahima menghasilkan ulamaulama
perempuan yang mengangkat isu-isu kesetaraan gender serta
pengorganisasian masyarakat yang berada disekitarnya, baik itu yang berupa
majlis taklim, akademisi maupun yang berupa pesantren
Implementasi pendidikan kader ulama perempuan: Studi deskriptif pendidikan kader ulama perempuan di Lembaga Rahima
Penelitian ini di latar belakangi oleh Pendidikan yang makin berkembang ulama yang di dominasi oleh laki-laki. Lembaga Rahima membuat sebuah program untuk memberdayakan para perempuan untuk supaya mendapatkan Pendidikan-pendidikan ulama perempuan dalam programnya Pendidikan kader ulama perempuan. Sampai pada saat ini program PUP ini telah melahirkan kader-kader ulama yang yang berhasil mengembangkan visi-misinya.
Tujuan dalam penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan empat rumusan masalah diantaranya : 1. Mendeskripsikan Perencanaan Pendidikan kader ulama perempuan di Lembaga Rahima. 2. Pendekatan dan metode pembelajaran Pendidikan kader ulama perempuan di Lembaga Rahim. 3. Evaluasi pebelajaran Pendidikan kader ulama perempuan di Lembaga Rahima. 4. Implementasi Pendidikan kader ulama perempuan di Lembaga Rahima. Sehingga dapat menjadi langkah strategis untuk melahirkan para ulama perempuan di Lembaga Lembaga Pendidikan islam.
Penelitian ini berangkat dari kebutuhan Pemberdayaan Perempuan, dan banyaknya para ulama Perempuan akan tetapi kehadirannya kurang diapresiasi oleh lingkungan. Pentingnya Pendidikan kader ulama Perempuan di Lembaga rahima ini Pendidikan yang efektif untuk melahirkan ulama- ulama yang bias gender bukan hanya memahami secara tekstual saja melainkan dengan kontekstual.
Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian kualitatif, dan menggunakan metode deskriptif. Sumber data yang diperoleh dari peneliti berasal dari primer dan skunder. Adapun Teknik pengumpulan datanya menggunakan observasi, wawancara, dokumentasi, dan studi kepustakaan. Sementara itu, Teknik pengumpulan data yang digunakan yaitu reduksi data, penyajian data, dan verification.
Berdasarkan hasil penelitian ini mengungkapkan bahwa 1. Pendidikan kader ulama Perempuan di Lembaga rahima ialah melalui program pengkaderan ulama Perempuan yang didalamnya mencakup perencanaan 2. Pendekatan dan metode yang digunakan dalam Pendidikan kader ulama Perempuan di Lembaga rahima menggunakan pendekatan orang dewasa (Andragogy) 3. Pendidikan pengkaderan ulama Perempuan di Lembaga rahina berhasil dalam mendidik para kadernya dilihat dai lulusan-lulusan kader yang telah berhasil mencapai tujuannya. 4. Dalam pengimplementasian Pendidikan kader ulama Perempuan di Lembaga rahima dengan perencanaannya, metode, evaluasinya sehingga dapat terimplementasikan kepada para kadernya, dilihat dari banyaknya kader yang tersebar di berbagai wilayah
RAHIMA: INISIATOR DAN PENGGAGAS DALAM KONGRES ULAMA PEREMPUAN INDONESIA TAHUN 2000-2017
Term ulama perempuan merupakan hal yang tabu dalam dunia Islam. Keilmuan yang mendalam serta sumbangsih yang besar terhadap umat dan agama tidak lantas menjadikan eksistensi perempuan sebagai ulama dapat diakui sebagaimana laki-laki. Perbedaan jenis kelamin telah menjadi sekat tak kasat mata yang menutupi kemampuan seorang ulama perempuan di dalam masyarakat. Hal inilah yang memunculkan ide bagi Rahima, sebuah organisasi non pemerintah yang berfokus dalam isu gender dan perempuan dalam wacana islam, untuk bergelut memperjuangkan wacana keulamaan perempuan. Organisasi ini juga telah eksis dalam mengkader ulama perempuan dengan pemahaman Islam yang berperspektif gender. Keteguhan Rahima dalam mengusung wacana ini akhirnya tertuang dalam pelaksanaan Kongres Ulama Perempuan Indonesia yang pertama di Cirebon tahun 2017.
Penelitian ini menggunakan pendekatan sosiologi yang memposisikan Rahima sebagai objek dalam peristiwa sejarah yang sedang berlangsung. Teori yang dipakai adalah teori gender dan feminisme. Melalui teori gender, peneliti berusaha menganalisis ketimpangan dan ketertindasan perempuan melalui karakteristik yang dibentuk oleh sosial dan budaya terhadap jenis kelamin tertentu, yang dalam hal ini adalah perempuan. Teori feminisme digunakan untuk membaca gerakan organisasi perempuan dalam menghadapi persoalan ketertindasan tersebut. Adapun metode yang digunakan adalah metode sejarah kritis yang mencakup empat langkah, yakni pengumpulan sumber primer dan sekunder. Kemudian kritik sumber yang terdiri dari kritik ekstern dan intern agar sumber memiliki otensitas dan kredibilitas, interpretasi terhadap fakta yang ada dan yang terakhir penulisan kembali peristiwa sejarah secara deskriptif analitis.
Ide tentang kongres ulama perempuan mulai muncul ketika rapat evaluasi program PUP Rahima pada tahun 2015. Sebagai tindak lanjut dari ide tersebut, Rahima berkolaborasi dengan Alimat dan Fahmina dalam persiapan hingga pelaksanaan kongres. Acara ini diselenggarakan di Pondok Pesantren Kebon Jambu Cirebon pada 24-25 Februari 2017. Isu yang menjadi pembahasan utama dalam kongres adalah kekerasan seksual, perkawinan anak dan perusakan lingkungan. Beberapa isu ini merupakan isu yang sering diangkat oleh Rahima. Hasil dari ketiga isu yang dibahas dalam diskusi keagamaan kemudian menghasilkan fatwa hasil kongres yang dibukukan dalam buku hasil KUPI 2017. Selain itu, kongres ini juga menghasilkan teks ikrar Kebon Jambu yang berisi tentang sikap dan komitmen tentang keulamaan perempuan
- …
