1,725,098 research outputs found
S3 E14: Overcoming Obstacles with Rohana Swihart
In today’s episode, Drs. Lisa Dieker and Rebecca Hines talk with Ph. D student and educator, Rohana Swihart. Tune in as she shares various approaches for overcoming personal obstacles
Inventarisasi tokoh sejarah dan budaya wilayah kerja Balai Pelestarian Nilai Budaya Kepulauan Riau
Inventarisasi tokoh sejarah dan budaya dari 3 provinsi, yaitu Riau, Kepulauan Bangka Belitung, dan Jambi ini ditulis oleh Sita Rohana, Dedi Arman, dan Anastasia Wiwik Swastiwi.
Tokoh dari Provinsi Riau terdiri adalah
1. Edi Ruslan PE Amanriza; 2. Hasan Junus; 3. Idrus Tintin; 4. Ismail Suko; 5. Muchtar ahmad; 6. OK Nizamil Jamil; 7. Soesman HS; 8. Taslim; 9. Tenas Effendy; dan 10. UU Hamidy.
Tokoh dari Provinsi Kepulauan Bangka Belitung adalah
1. Tony Wen; 2. Letkol HAS. Hanandjoeddin; 3. Mayor Syafri Rahman; 4. Tarman Azzam; 5. Dipa Nusantara Aidit; 6. Hamzah Bahren (Tjing); 7. Kelasi Dua Sahabuddin; 8. Depati Amir; 9. Laksma TNI (Purn) Ir. H. Eko Maulana, M.Sc; dan 10. batin Tikal.
Tokoh dari Provinsi Jambi antara lain
1. H. Abdurrahman Sayoeti; 2. Kolonel Abunjani; 3. H.A Thalib; 4. Raden Abdullah; 5. Suln Thaha Syaifuddin; 6. Zulkifli Nurdin; dan Depati Parbo
Poema de inicio [Soy la luna...]
Poema de Luce López-Baralt. Traducción del español al árabe de Shadi Rohana
ROHANA KUDUS DAN PENDIDIKAN PEREMPUAN
Rohana Kudus is a woman combatant from Minangkabau. She never went to school and only learning by self-educatedly. Even though, her struggle in education have started since childhood. She struggled for the woman education until she died. She struggeled not only through the education instituation but also through the newspaper. The act of Rohana in woman education can be seen trought the founding of Kerajinan Amai Setiia School in Koto Gadang Bukittinggi. In journalist, Rohana is noted as the first journalist woman in Indonesia and founded the newspaper for woman in her home town. She ever invited by the Dutch governance to came to Amstardam, but it was rejected, because she was not able to fight against the cultural construrction which did not permit woman to be active in polict. Finally, Rohana decided to remain her struggle for woman tthrough the journalist and education until she died.</jats:p
A political history of Rohana from c. 991-1255 A.D.
This thesis attempts to examine critically the political history of Rohana - as the southern and south-eastern parts of Ceylon were known in ancient times - during the period between A.D.991 and 1255; and the relations of that kingdom with the other two ancient kingdoms in Ceylon, namely, Rajarattha and Dakkhinadesa or Mayarattha, during that period which covers a span of about 265 years and which coincides with the Polonnaruva period of Ceylon history. It consists of nine chapters and two appendices, marked 'A' and 'B'. The first few pages of the first chapter briefly explains the need for a comprehensive study of the history of Rohana for a proper understanding of the history of Ceylon as a whole. The rest of this chapter deals with the sources that are available for such a study. Here, an attempt is made to strengthen the suggestion made by S. Wickramasinghe in her thesis on the age of Parakramabahu I that the first part of the Culavamsa consists of two sections written by two different authors in two different times, and to elucidate the theory of Geiger that the author of the Culavamsa had made use of an unknown Chronicle of Rohana, which is now lost. Chapter II analyses the geographical features of Rohana and examines their influence on history, not only of that region, but also of the whole Island. This is followed by a chapter on administrative centres and the political boundaries of Rohana during the period under survey. The next chapter outlines the political history of that region from the earliest time to A.D.991. This chapter is Intended to serve as an introduction to the main study which begins with chapter V which is devoted to the political history of Rohana of the period between 991 and 1048. As the period covered by chapter V was one of the most unsettled ages of Rohana history, we have captioned it as 'The dark age of Rohana'. Chapter VI discusses the rise of Vijayabahu I and his rule in Rohana with special reference to his relations with the other local rulers there and the Colas at Polonnaruva. The period of civil wars that followed Vijayabahu's death in c. 1110 and ended with the demise of Manabharana of Rohana in c. 1154, is dealt with in chapter VII. The political conditions in Rohana and its relations with Rajarattha during the age of Parakramabahu I and his successors at Polonnaruva are the topics discussed in the next chapter. A study of political and administrative organization in Rohana is taken up in the last chapter, viz. IX. Apart from a discussion on central administration, an examination of revenue and judicial administration and local government is attempted in this chapter. The important results of our investigations are summarised in the conclusion. Two important problems which are connected with the present study, viz. the identification of Kotthasara and the extent of Malayadesa, are dealt with in the two appendices
Perjuangan Rohana Kudus Dalam Emansipasi Perempuan di Tanah Minang Tahun 1884-1972
ABSTRAK Yuliana, Indah Kiki. 2015. Perjuangan Rohana Kudus Dalam Emansipasi Perempuan di Tanah Minang Tahun 1884-1972. Skripsi, Jurusan Sejarah, Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dra. Hj. Siti Malikhah Towaf., M.A., Ph.D. Kata Kunci: Rohana Kudus, Emansipasi Perempuan, Tanah Minang Rohana Kudus merupakan salah satu tokoh perempuan dari Tanah Minang yang lahir 20 Desember 1884 di Koto Gadang. Rohana dalam catatan sejarah bangsa Indonesia adalah seorang perempuan yang memiliki kontribusi luar biasa bagi kemajuan bangsa dan negara. Utamanya dalam kasus emansipasi perempuan. Sorotan utama Rohana terhadap kasus emansipasi tersebut dilatarbelakangi oleh kuatnya hukum adat (matriarkat) dan hukum Islam yang berkembang dalam mengatur segala kehidupan perempuan. Penelitian terkait perjuangan Rohana Kudus dalam emansipasi perempuan ini mempunyai tiga rumusan masalah penting yakni 1) bagaimana biografi Rohana Kudus; 2) bagaimana pemikiran Rohana Kudus dalam emansipasi perempuan di Tanah Minang; dan 3) bagaimana perjuangan Rohana Kudus dalam emansipasi perempuan melalui pendidikan. Metode penulisan yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode historis. Metode tersebut meliputi penentuan atau pemilihan tema, heuristik (pengumpulan sumber), verifikasi (kritik), interpretasi dan historiografi (penulisan kembali). Berdasarkan hasil analisis data tersebut, diperoleh tiga kesimpulan hasil penelitian sebagai berikut. Pertama, mengenai biografi seorang Rohana. Rohana Kudus adalah seorang perempuan yang tidak mendapatkan pendidikan informal dalam keluarganya. Rohana lahir dari pasangan Moehammad Rasjad dengan Kiam. Rohana melakukan semuanya secara otodidak baik itu belajar menulis dan membaca. Kedua, mengenai gagasan/pemikiran Rohana. Pemikiran yang muncul dilatarbelakangi oleh ketidaksukaan Rohana terhadap hukum adat (matriarkat) yang terlalu membatasi ruang gerak perempuan dari berbagai sisi utamanya pendidikan. Rohana berpikir bahwa ini adalah bentuk marginalisasi perempuan secara terang-terangan. Hal ini yang membuat para perempuan menjadi terisolasi dalam kehidupannya. Ketiga, mengenai langkah nyata sebagai bentuk perjuangan Rohana. Rohana mengubah segala bentuk penafsiran yang salah dari hukum adat dan hukum Islam terhadap perempuan. Rohana menyetujui bahwa perempuan juga perlu memiliki kecerdasan, kebijaksanaan dan pengetahuan agar dapat seimbang dalam dua ranah yang dijalankan yakni domestik dan publik. Disinilah langkah nyata dari Rohana Kudus dengan membukakan jalan lebar bagi perempuan dalam beroleh pendidikan. Rohana menawarkan dua jenis pendidikan yakni pendidikan nonformal di Kerajinan Amai Setia dan Rohana School serta pendidikan dengan landasan politik melalui Soenting Melajoe. Penelitian mengenai “Perjuangan Rohana Kudus Dalam Emansipasi Perempuan di Tanah Minang Tahun 1884-1972” hanya sebagai rekomendasi atau pembuka jalan bagi peneliti lain untuk dapat mengembangkan penelitian selanjutnya mengenai Rohana Kudus. Ada beberapa hal menarik yang masih bisa diteliti semisal mengenai sekolah Rohana yakni Kerajinan Amai Setia yang dikaitkan dengan konsep pemberdayaan perempuan
Rohana parvata
568. Rohana parvata (Moore, [1858]) Published records: Varshney & Smetacek, 2015: 211. Remarks: Not recorded during the study.Published as part of Irungbam, Jatishwor Singh, Meitei, Laishram Ricky, Huidrom, Harmenn, Soibam, Baleshwor Singh, Ngangom, Aomao, Ngangom, Bendang, Meitei, Ronald & Fric, Zdenek Faltynek, 2020, An Inventory Of The Butterflies Of Manipur, India (Insecta: Lepidoptera), pp. 1-91 in Zootaxa 4882 (1) on page 71, DOI: 10.11646/zootaxa.4882.1.1, http://zenodo.org/record/429601
ROHANA KUDUS DALAM SOENTING MELAJOE: SUATU TINJAUAN HISTORIOGRAFI PEREMPUAN MINANGKABAU
Skripsi ini membahas mengenai peran surat kabar Soenting Melajoe yang merupakan surat kabar perempuan pertama di Sumatera Barat bahkan Indonesia yang telah memberikan pengaruh besar terhadap kemajuan kaum perempuan. Hal menarik adalah Rohana Kudus sebagai pemegang ide lahirnya surat kabar ini merupakan seorang anak perempuan Minangkabau yang tidak pernah menempuh pendidikan formal di sekolah-sekolah. Rohana hidup ketika zaman dimana perempuan masih jauh tertinggal dan belum diperbolehkan mengikuti sekolah-sekolah sekuler yang ada layaknya anak-anak laki-laki. Melalui surat kabar Soenting Melajoe Rohana dikenal sebagai wartawati perempuan pertama di Indonesia. Meskipun eksistensinya tidak diketahui banyak orang. Namun, perannya tidaklah dapat dilupakan begitu saja.
Penelitian ini sedari awal diarahkan kepada karya-karya Rohana Kudus dalam surat kabar Soenting Melajoe untuk melihat ikatan budaya dan jiwa zaman sebagaimana studi historiografi sabagai ilmu tersendiri. Historiografi sebagai ilmu sendiri merupakan jenis penelitian kepustakaan dengan menggunakan teori representasi.
Dari penelitian yang dilakukan ini, didapat kesimpulan bahwa perubahan yang terjadi pada awal abad ke 20 di Minangkabau salah satunya dalam dunia pendidikan telah membawa masyarakat Minangkabau umumnya dan kaum perempuan Minangkabau secara khusus pada era kemajuan. Pendidikan bagi kaum perempuan berkembang dengan cepat. Rohana Kudus merupakan satu dari sedikit perempuan pelopor pendidikan di Minangkabau ini. Surat kabar Soenting Melajoe hadir dengan gayanya tersendiri oleh kaum perempuan dan untuk kaum perempuan Minangkabau
High-speed MOS ICs for a signal processor input interface of an optical synchronous QPSK receiver and related clock distribution issues
Vijitha Rohana HerathPaderborn, Univ., Diss., 200
- …
