1,721,402 research outputs found

    Epistemologi Tafsir al-Jami' li Ahkam al-Qur'an Karya al-Qurtubi

    No full text
    A review of epistemology of al-Qurtubi tafsir is very important. This is to determine how the origins, sources, methods, and steps are taken by the author. As comprehensive tafsir with fiqh pattern, this work contributes information and relatively different approach in which the author is far from fanaticism sect. He uses various arguments of the scholars then he chooses a strong one according to the mufassir. With descriptive-analytic study, this paper finds that al-Qurtubi epistemology base is a combination of bil ma'sur and bil ma'qul, a combination of textual and contextual which expresses many perspectives before it has been chosen as the truth by al-Qurtubi without fanaticism impression against embraced sect. Based on the review of his resume, this paper proves that the interpretation of al-Qurtubi is a representation in which the author associates and responds to the problems that happened at that era and answers based on the era

    SEDEKAH DALAM KITAB TAFSIR AL-QURTUBI

    No full text
    Sedekah merupakan salah satu isu yang banyak diperbincangkan baik di seminar-seminar, ceramah-ceramah, kajian-kajian, komunitas-komunitas, media sosial dan sebagainya. walaupun dengan jelas Al-Qur’an menganjurkan untuk bersedekah. Perintah melaksanakan sedekah baik secara terang-terangan maupun secara sembunyi-bunyi disertai tanpa menyakiti si penerima sedekah adalah surah Al-Baqarah ayat 263-271. Penelitian ini tergolong library research. Data yang sudah dikumpulkan lalu dianalisa dengan memakai pendekatan deskriptif-analisis, yakni digunakan untuk mendeskripsikan biografi, kitab, penafsiran Al-Qurtubi serta manfaat sedekah dalam konteks kehidupan secara obyektif. Penafsiran Al-Qurtubi dalam penelitian ini berperan sebagai media untuk memahami ayat-ayat dalam QS. Al-Baqarah ayat 263-271 tentang sedekah. Setelah data-data yang diperoleh dianalisis dengan tujuan untuk mengetahui dan memahami lebih jauh penafsiran Al-Qurtubi terhadap ayat-ayat sedekah QS. Al-Baqarah ayat 263-271 kemudian merelevansinya di zaman sekarang. Pembahasan utama dalam penelitian ini adalah penafsiran ayat-ayat sedekah dalam QS. Al-Baqarah ayat 263-271 dengan merujuk pada kitab tafsir Al-Qurtubi. Tafsir Al-Qurtubi lebih menitikberatkan permasalahan fiqih dari pada permasalahan yang lain. Relasi dari objek penelitian ini yaitu surah Al-Baqarah ayat 263-271 serta kitab tafsir Al-Qurtubi diharapkan memberikan pemahaman yang mendalam menyangkut penafsiran ayat-ayat sedekah serta mampu membiasakan bersedekah dengan cara yang baik dan benar. Dari pembahasan yang telah disusun, penelitian ini memiliki tiga rumusan masalah yaitu, 1. Bagaimana penafsiran sedekah dalam kitab tafsir Al-Qurtubi? 2. Apa ciri-ciri penafsiran Al-Qurtubi? 3. Bagaimana relevansi penafsiran Al-Qurtubi untuk sedekah dalam konteks kekinian?. Maka dari itu, hasil penelitian ini mendapati bahwa sedekah yang dimaksudkan dari penafsiran tersebut merupakan sedekah yang diperuntukkan kepada setiap orang baik kaya atau miskin, tua atau muda, baik banyak ataupun sedikit. Tentunya sedekah yang tanpa menghina atau menyakiti perasaan penerima karena akan mengurangi nilainya dihadapan Allah bahkan bisa menjadi tertolak atau sia-sia. Sedangkan jika dikontekstualisasikan dengan perilaku sedekah yang ada pada zaman sekarang, maka pandangan mengenai sedekah dari penafsiran dalam kitab tafsir Al-Qurtubi dirumuskan dalam enam bentuk, yakni peduli terhadap orang lain, tidak menyakiti penerima sedekah, sebagai obat orang kikir atau pelit, mempererat tali persaudaraan, sebagai ekspresi syukur terhadap harta yang dimiliki, dan bukti keimanan

    Ibn Farh al-Qurtubi

    No full text
    Entrada sobre Ibn Farḥ al-Qurṭubī. Abū ʻAbd Allāh Muḥammad b. Aḥmad b. Abī Bakr b. Farḥ al-Anṣārī al-Jazraŷī. Montoro (Córdoba), p. s. XIII – El Minya (Egipto), 649/1251. El más importante de los intérpretes andalusíes del Corán cuyo voluminoso comentario, al-Ŷāmiʻ li-aḥkām al-Qur’ān, es considerado hoy en día como un clásico universal del género.Peer reviewe

    Etika Salat menurut tafsir Al-Qurtubi dan tafsir Al-Azhar

    No full text
    Skripsi ini mengkaji tentang etika salat berdasarkan dua penafsiran yaitu tafsir al-Qurtubi dan tafsir al-Azhar. Para ulama menjelaskan bahwa etika salat adalah salah satu hal utama yang harus diperhatikan, karena salat bukan hanya gerakan dan bacaan untuk sekadar menggugurkan kewajiban. Terdapat perbedaan tentang makna etika salat menurut al-Qurtubi dan Hamka. Di satu sisi, al-Qurtubi menegaskan etika salat berdasarkan aspek lahiriahnya. Sedangkan di sisi lain, Hamka menegaskan etika salat berdasarkan aspek batiniahnya. Adapun rumusan masalah dalam penelitian ini adalah apa pengertian etika salat menurut Al-Qurtubi dan Hamka, seperti apa penafsiran ayat-ayat etika salat menurut Al-Qurtubi dan Hamka serta apa persamaan dan perbedaannya. Kerangka berpikir dalam penelitian ini adalah Al-Qurtubi memaknai etika salat yaitu segala sesuatu yang dilakukan sebelum maupun ketika salat, dengan menyeimbangkan perkara hati dan jasad. Sedangkan Hamka memaknai etika salat yaitu hadirnya hati dalam melaksanakan salat untuk mencapai kesempurnaan salat. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif. Jenis penelitiannya adalah kualitatif dengan sumber primer tafsir al-Jami‘ li Ahkam al-Qur’an karya al-Qurtubi dan tafsir al-Azhar karya Hamka, serta sumber sekunder mengambil dari karya tulis ilmiah lainnya. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah teknik library research yang dianalisis dengan teknik content-analysis. Hasil dari penelitian ini, etika salat dalam al-Qur’an terdapat dalam 10 ayat yaitu QS. Al-Mu’minun: 1-2, Taha: 14, Al-Ma‘un: 4-5, Al-Ma‘arij: 23, Al- Mu’minun: 9, Al-Ma‘arij: 34, Al-‘Ankabut: 45, Al-Baqarah: 238, Al-Nisa: 142, dan Al-An‘am: 162. Al-Qurtubi dan Hamka menafsirkan etika salat pada 10 ayat tersebut. Etika salat yang dimaksud al-Qurtubi secara spesifik yaitu menyempurnakan wudu, bacaan dan gerakan salat, memfokuskan pandangan ke arah tempat salat, tidak berbicara dengan sengaja ketika salat, serta khusyu‘ hati dan anggota badan ketika salat. Sedangkan etika salat yang dimaksud oleh Hamka secara spesifik yaitu khusyu‘ ketika salat, memahami dengan sepenuh hati makna yang terkandung dalam salat, dan ikhlas semata untuk Allah SWT. Sehingga, salat dapat berimplikasi baik bagi kehidupan

    Tafsir ayat-ayat sajdah perspektif al-Qurtubi dan Sayyid Qutb

    No full text
    Peneliti dengan nama Cholisotun Nisa’ jurusan Ilmu al-Qur’an dan Tafsir, dengan judul Tafsir Ayat-Ayat Sajdah Perespektif Al-Qurtubi dan Sayyid Qutb. Masalah yang diteliti dalam masalah ini adalah 1) bagaimana pandangan dan teori Al-Qurtubi dan Sayyid Qutb dalam menafsirkan ayat-ayat sajdah? 2) bagaimana persamaan dan perbedan Al-Qurtubi dan Sayyid Qutb dalam menafsirkan ayat-ayat sajdah? 3) Bagaimana relevansi ayat-ayat sajdah dengan sujud tilawah menurut Al-Qurtubi dan Sayyid Qutb. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pemahaman ayat-ayat dalam Al-Qur’an yang dikategorikan sebagai ayat-ayat sajdah. Dan relevansinya terhadap sujud tilawah. Penelitian dalam hal ini menggunakan metode komparatif yaitu antara pendapat Al-Qurtubi dan Sayyid Qutb dalam menafsirkan ayat sajdah surat al-A’raf dan surat ar-Ra’d yang penafsirannya saling bertolak belakang. Penelitian dilakukan karena masih banyaknya orang yang tidak memahami akan hal pentingnya sujud tilawah ketika membaca atau mendengar ayat-ayat sajdah. Beberapa orang cenderung melupakannya padahal anjuran sujud tilawah adalah termasuk dalam salah satu adab membaca al-Qur’an. Selanjutnya dilakukan penelitian dengan melihat persamaan dan perbedaan yang dihubungkan dengan pendekatan teori Al-Qurtubi dan Sayyid Qutb serta relevansinya ayat sajdah dengan sujud tilawah. Hasil dari penelitian ini menyimpulkan bahwa, dalam penafsiran Al-Qurtubi terhadap surat al-A’raf ayat 206 yang dimaksud sujud adalah melaksanakan sholat, bahkan caranya sama seperti orang yang akan melakukan sholat, yang iawali dengan takbirotul ihram. Dan seperti syarat sahnya shalat. Sedangkan menurut Sayyid Qutb memaknai kata bersujud yaitu menyungkurkan atas muka mereka kemudian lidah-lidah mereka berucap dengan lafad-lafad yang menggetarkan perasaan-perasaan yang keluar dari diri rasa mengangungkan Allah. jadi antara kedua mufassir tersebut mempunyai perbedaan pendapat terkait dengan makna sujud yang ketika membaca kita dianjurkan bersujud. Selanjutnya dalam surat ar-Ra’d ayat 15 Al-Qurtubi mengartikan sujud adalah patuh, orang beriman sujud dengan ketaatan sedangkan orang yang tidak beriman dipaksa dengan pedang untuk bersujud pada Allah. Menurut sayyid Qutb dengan patuh, baik dengan suka hati orang-orang yang beriman maupun dengan terpaksa orang-orang yang tidak beriman. Relevansi antara ayat-ayat sajdah dengan sujud tilawah ini sujud merupakan salah satu ungkapan keimanan, kepatuhan dan kerendahan hati manusia terhadap Allah SWT. Sujud adalah bentuk ungkapan eksistensial jasad dari hubungan antara ‘Abid (hamba) dan Ma’bud (Allah), simbol dari sujud adalah menundukkan kepala sampai menyentuh bumi

    SURGA ‘ADN DALAM PERSPEKTIF AL-QUR’AN (Studi Komparatif antara Tafsir At-Tabari dan Tafsir Al-Qurtubi)

    No full text
    ABSTRAK Skripsi ini mengulas tentang mengulas tentang penafsiran surga ‘adn dalam perspektif Tafsir at-Tabari dan Tafsir al-Qurtubi. Penelitian ini dilatarbelakangi oleh keingitahuan tentang gambaran terhadap surga ‘adn dalam tinjauan tafsir al-Qur’an. Sebagaimana menjadi salah satu nama surga, telaah terhadap firman Allah Swt mengenai surga ‘adn yaitu Q.S. At-Taubah (9): 72 dan Q.S. Al-Bayyinah (98): 8 menjadi suatu hal yang memiliki nilai urgensi untuk dilakukan. Hal ini kaitannya dengan hajat umat agar lebih memahami tentang surga ‘adn sehingga lebih termotivasi untuk beramal shaleh dalam hidupnya. Hal inilah yang kemudian mendorong penulis untuk melakukan penelitian terkait penafsiran surga ‘adn dalam perspektif Tafsir at-Tabari dan Tafsir al-Qurtubi. Permasalahan yang dikaji dalam penelitian ini meliputi bagaimana penafsiran tentang surga ‘adn dalam perspektif Tafsir at-Tabari dan Tafsir al-Qurtubi serta bagaimana analisis komparatif penafsiran tentang surga ‘adn dalam perspektif Tafsir at-Tabari dan Tafsir al-Qurtubi. Penelitian yang penulis lakukan ini merupakan penelitian kepustakaan (library research) dengan menggunakan pendekatan komparatif. Data-data kepustakaan yang bersumber dari Kitab Tafsir at-Tabari dan Tafsir al-Qurtubi dan literatur yang berkaitan dengan fokus penelitian ini kemudian dilakukan analisis dengan metode muqarran (perbandingan) untuk nantinya mendapatkan gambaran umum tentang penafsiran surga ‘adn dalam perspektif Tafsir at-Tabari dan Tafsir al-Qurtubi. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa penafsiran surga ‘adn dalam Tafsir at-Tabari dan Tafsir al-Qurtubi dalam berbagai makna. At-Tabari menafsirkan surga ‘adn sebagai tempat tinggal yang baik, kebun, istana, singgasana, dan pusatnya surga. Sedangkan al-Qurtubi menafsirkan surga ‘adn sebagai tempat tinggal yang kekal, pusat surga, istana, dan surga yang paling tinggi. Komparatif hasil penafsiran surga ‘adn dari kedua mufassir ini tidaklah memiliki perbedaan yang signifikan. Meskipun kedua tafsir tersebut sama-sama menggunakan aspek kebahasaan dan aspek periwayatan dalam menafsirkan atau menggambarkan surga ‘adn. Adapun perbedaan keduanya hanya terletak pada jumlah atau porsi aspek periwayatan yang digunakan dalam menafsirkan surga ‘adn. Kata Kunci: At-Tabari, Al-Qurubi, Komparatif, Surga ‘adn, Tafsir

    Epistemologi Tafsir Abad Pertengahan: Studi Atas Tafsir Al-Jami' Li Ahkam Al-Qur'an Karya Al-Qurtubi

    No full text
    Penelitian ini bertujuan untuk menganalisa epistemologi penafsiran al-Qur'an oleh al-Qurtubi dan menganalisa relevansi epistemologi tersebut terhadap perkembangan epistemologi tafsir pada abad pertengahan. Pembahasan ini penting dikemukakan untuk memetakan posisi epistemologi tafsir al-Qurtubi ditengah wacana penafsiran yang berkembang di dunia Islam pada abad pertengahan. Agar tujuan tersebut tercapai, penulis menggunakan penelitian kualitatif dengan menekankan kajian kepustakaan murni (Library Research). Sementara, tipe kajian ini adalah analisis isi (analysis content) yang berusaha menganalisis epistemologi interpretasi al-Qur?an dalam kitab al-Jami? Li Ahkam al-Qur?an, dengan mengacu pada epistemologi Islam yang dirumuskan oleh al-Jabiri, yaitu epistemologi bayani, Irfani, dan burhani. Objek penelitian kitab tafsir tersebut adalah sumber, metode dan validitasnya. Penelitian ini menyimpulkan bahwa ada pergesaran nalar epistemologis dalam tafsir al-Jami? Li Ahka al-Qur?an antara ayat hukum dan ayat mutashabihat. Epistemologi penafsiran ayat hukum yang digunakan oleh al-Qurtubi adalah epistemologi bayani, sedangkan epistemologi penafsiran ayat mutashabihat adalah epistemologi burhani. Paradigma epistemologi penafsiran abad pertengahan yang merupakan era afirmatif yang berbasis nalar ideologis sangat terlihat dalam kitab al-Jami? li Ahkam al-Qur?an karya al-Qurtubi. Paradigma epistemologi penafsiran ayat mutashabihat berbasis pada nalar ideologis-truth claim, yang penafsiran al-Qurtubi yang cenderung pada ideologi Ash?ari yang ia anut. Paradigma epistemologi penafsiran ayat hukum berbasis pada nalar ideologis-kritis. Artinya, penafsiran al-Qurtubi pada ayat hukum sangat dipengaruhi oleh maz|hab Maliki, tetapi masih mengakomodir pandangan-pandangan dari maz|hab lain

    Transcription by Imam Al-Qurtubi through his Comprehensive Book of the Rulings of the Qur’an”.

    No full text
    This study, for which I chose the title: “Transcription by Imam Al-Qurtubi through his Comprehensive Book of the Rulings of the Qur’an” - represents a scientific thesis for a master’s degree from the Deanship of Graduate Studies, Al-Quds University in Palestine. The study aims to contribute to the enlightenment of Al-Qurtubi's method of copying verses of the Holy Qur’an, and to explain his methodology in discussing the sayings of scholars in transcription, and employing various Sharia sciences to suggest whether or not copies occurred, and to know the most important evidence that Al-Qurtubi relied on in his weightings. In this study, the researcher followed several scientific approaches in order to reach the desired results from the thesis, namely: the inductive approach, by extrapolating the Qur’anic verses related to the topic of transcription, which Imam Al-Qurtubi talked about in his interpretation. The descriptive approach, by presenting the foundations and rules by which Al-Qurtubi deals with the abrogated verses, or in which the transcription is claimed, with a discussion of the sayings of al-Qurtubi and the statements of other scholars, down to the most correct from the researcher's point of view. This study includes an introduction, a preface, two chapters and a conclusion. Preface: includes a brief translation of Imam Al-Qurtubi, may God have mercy on him, and basic introduction to transcription. The first chapter of the study is devoted to the abrogating and abrogated verses that Imam Al-Qurtubi, may God have mercy on him, suggested saying by copying them, and a review of that came through selected samples from several chapters of the Holy Qur’an. Chapter Two of the study is devoted to the verses that Imam Al-Qurtubi, may God have mercy on him, weakened the saying by copying them, also through selected samples from several chapters of the Holy Qur’an. The study ended with a number of results, the most important of which are: Al-Qurtubi has a disciplined approach to copying issues, it starts from fixed rules, and it proved the transcription in the Holy Quran. He does not exaggerate in the matter of transcription; rather, but one of those who tend to keep the verse as non-transcribed as possible. As for the recommendations presented by the study, they invite researchers in Qur'anic studies to pay attention to the study of transcription among the commentators, and invite scientific societies specialized in Qur'anic studies to encourage researchers to single out each issue with independent studies. There are many issues that need to be edited, as well as recommending the establishment of a collective and comprehensive project to produce transcription-related studies, research and theses

    The viewpoint of qurtubi to sufism and ishari comment.

    No full text
    TEZ9088Tez (Yüksek Lisans) -- Çukurova Üniversitesi, Adana, 2013.Kaynakça (s. 97-102) var.viii, 103 s. : res. ; 29 cm.This study contains analysis of opinions of Abu Abdillah Al-Qurtubi in the work named al-Jami' li-ahkam al-Qur'an in terms of sufism and sufi/ishari interpretation. This study consists of three chapters. In the first chapter, some informations are given related to scientific personality, works and life of Al-Qurtubi, in addition the two concepts sufism and sufi/ishari interpretation are given in this chapter. In the second chapter, at first the general view point to sufism of Al-Qurtubi is given. Later the acceptance and rejection reasons of sufi/ishari interpretations are explained. Then the sources concerned sufism and ishari interpretation are given. The opinions and comments of Al-Qurtubi include some sufism topics are given in the third chapter.Bu çalışma EbuAbdillah el-Kurtubi'nin (ö. 671/1273) tasavvuf ve işari yorum açısından el-Cami? li-Ahkami'l-Kur'an isimli tefsirindeki görüşlerinin tespit ve tahlilini içermektedir. Üç bölümden oluşan çalışmanın birinci bölümünde Kurtubi'nin hayatı, ilmi kişiliği ve eserleri hakkında bilgi verilmiştir. Yine bu bölümde tasavvuf ve işari yorum kavramlarıyla ilgili olarak genel bilgiler verilmiştir. İkinci bölümde öncelikle Kurtubi'nin tasavvufla ilgili genel bakış açısı üzerinde durulmuştur. Bunun ardından çeşitli ayetler çerçevesinde Kurtubi'nin işari yorumları kabul veya ret etme gerekçesi açıklanmıştır. Daha sonra ise tasavvuf ve işari yorum kaynakları tanıtılmıştır. Üçüncü bölümde ise Kurtubi'nin zühd, tevekkül, vecd, sema, fütüvvet, velayet gibi tasavvufi kavramlarla ilgili görüş ve yorumlarına yer verilmiştir. Bu üç bölüm kapsamında Kurtubi'nin tasavvuf..

    STRATEGI EKONOMI PADA KISAH KAUM TSAMUD DALAM AL-QUR’AN MENURUT AL QURTUBI

    No full text
    ABSTRAK Penelitian ini berjudul Strategi Ekonomi Pada Kisah Kaum Tsamud Dalam Al- Qur‟an Menurut Al Qurtubi. Kaum Tsamud diceritakan kaum yang makmur dan mewah. Kemakmuran dan kemewahan hidup serta kekayaan alam yang dahulu dimiliki dan dinikmati oleh kaum Aad yang telah diwarisi oleh kaum Tsamud. Tanah yang subur serta hasil yang berlimpah ruah, binatang-binatang perahan dan ternak yang berkembang biak, kebun-kebun bunga yang sangat indah dan menawan, bangunan rumah-rumah yang megah sehingga penulis tertarik untuk menelitinya. Rumusan masalah pada penelitian ini yaitu bagaimana pendapat Al Qurtubi dalam menafsirkan ayat tentang perekonomian dan bagaimana analisis strategi perekonomian kaum Tsamud. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah menggunakan metode maudhu‟i dengan pendekatan kualitatif dengan cara mengidentifikasi keseluruhan ayat yang berkaitan dengan term ekonomi dalam Al-Qur‟an dan memilihnya yang berhubungan dengan judul penelitian. Berdasarkan fenomena penelitian menunjukkan bahwa Al Qurtubi menafsirkan ayat menggunakan mazhab maliki. Adapun pendapat Al Qurtubi mengenai perekonomian di antaranya ialah menjual barang harus sesuai dengan jenis dan kodratnya, jauhi riba, jujur dalam takaran dan timbangan. Sedangkan analisis strategi ekonomi kaum tsamud menurut Al Qurtubi di antaranya yaitu membuat rumah dengan memahat gunung dan batu, menyimpan stok air di penampungan, berkebun dan menanam kurma yang berkualitas. Kata kunci : Strategi, Ekonomi, Kaum Tsamud, Al Qurtub
    corecore