36 research outputs found
FLEKSIBILITAS HUKUM DALAM DIVERSI PEKARA ANAK YANG BERKONFLIK DENGAN HUKUM (ABH) Studi Kasus Di Wilayah Hukum Eks Kresidenan Cirebon
Diversi merupakan upaya hukum dalam menyelesaikan perkara anak di luar pengadilan. Adanya syarat ancaman pidana di bawah 7 (tujuh) tahun yang perkara anak yang dapat dilakukan diversi, di wilayah hukum Kota Cirebon upaya diversi yang berhasil disepakati dan telah ditandatangani oleh korban dan pelaku harus dibatalkan dan pelaku diproses di Pengadilan Negeri Cirebon. Rumusan Masalah: (1) Bagaimanakah fleksibilitas pelaksanaan diversi dalam perkara ABH di wilayah hukum eks kresiden Cirebon; (2) Masalah-masalah yang ada dan terjadi dalam melaksanakan diversi perkara ABH di wilayah hukum eks kresiden Cirebon. (3) Bagaimanakah solusi diversi dalam perkara ABH di masa yang akan datang ?
Tujuan penelitian: (1) Mangkaji dan menganalisis fleksibilitas pelaksanaan diversi dalam perkara ABH di wilayah hukum eks kresiden Cirebon. (2) Mangkaji dan menganalisis masalah-masalah yang ada dan terjadi dalam melaksanakan diversi perkara ABHi wilayah hukum eks kresiden Cirebon. (3) Mangkaji dan menganalisis solusi diversi dalam perkara ABH di masa yang akan datang.
Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif, dengan pendekatan yuridis sosiologis, yang bersifat deskriptif analisis, dengan menggunakan data primer dan data sekunder.
Kesimpulan: (1) Fleksibilitas pelaksanaan diversi baru bersifat tahapan, yang dapat dilakukan pada tahap penyidikan di Penyidik Anak, atau pada tahapan Penuntutan di Jaksa Anak, maupun pemeriksaan oleh Hakim Anak. (2) Masalah-masalah yang ada dan terjadi dalam melaksanakan diversi perkara ABH di wilayah hukum eks kresiden Cirebon, terkendala pembatasan minimal ancaman pidana yang boleh melakukan diversi, sekalipun pihak korban dan pelaku (ABH) telah menyepati diversi, ternyata jika ancaman pidananya lebih dari 7 (tujuh) tahun maka diversi yang sudah dibuat Berita Acaranya pun dapat dibatalkan dan diproses ke pengadilan untuk diadili. (3) Solusi diversi dalam perkara ABH di masa yang akan datang seharusnya dalam RUU KUHP yang kembali sedang diproses di Dewan Pewakilan Rakyat RI, diversi dalam perkara anak tidak dibatasi oleh ancaman pidana, karena diversi baru upaya untuk berdamai antara pelaku dan korban yang dalam pelaksanaannya belum tentu terjadi kesepakatan. Saran: (1) Perlu meningkatkan kualitas sumber daya penegak hukum anak, serta fasilitas yang dibutuhkan. (2) Segera dibentuk Pos Bapas diseluruh Kabupaten di Wilayah hukum eks Keresidenan Cirebon. (3) Diversi seharusnya dibebaskan dari syarat ancaman pidana dibawah 7 (tujuh) tahun.
Kata kunci : Fleksibilitas, Diversi, Perkara, Anak
DESAIN MOTIF UKIR UNTUK PUBLIKASI WISATA PANTAI
Pengembangan desain melalui motif ukir tidak perlah dilakukan sebelumnya. Motif merupakan produk perpaduan budaya normatif yang diimplementasikan kepada material alam dengan hiasan motif stilasi daun maupun bentuk imaji dari karakter dunia atas atau ruh. Hingga saat ini motif ukir masih menjadi karakter yang kuat dalam mitologi wilayah Jepara yang perlu dikokohkan dengan bentuk yang berbeda dan terintegrasi dengan dunia wisata sebagai pintu gerbang dalam memperkenalkan ikonik ukir kepada dunia luar. Kegiatan publikasi dengan unsur seni dan budaya saat ini tidak meyentuh ranah unsur motif sehingga desain yang ketimuran saat ini telah hilang dari yang seharusnya ada. Upaya penelusuran data awal berdasarkan realitas lapangan pada penelitian awal menunjukkan setidaknya terdapat sebaran wisata pantai Jepara yang memiliki potensi kuat dalam pengembangan desain publikasi dengan balutan motif. Dengan data yang komprehensif setidaknya akan diperoleh manfaat dalam penelitian ini yaitu; (1). perancangan desain melalui motif ukir sebagai penunjang publikasi wisata pantai dalam bentuk desain ikonik, (2). hasil penelitian ini dapat dijadikan masukan kebijakan untuk perubahan perbub no 10 tahun 2014 kabupaten Jepara terkait luasan bagunan okonik tidak hanya di lingkungan pemerintah melainkan juga objek wisata. Metode penelitian yang dilakukan menggunakan metode glass box yakni desain yang terukur, sistematis dan rasional dengan pendekatan budaya lokal dan analisis data menggunakan alur Specific, Measurable, Attainable, Relevant, Timely (SMART).
Analisis Topik dan Author pada Jurnal Bahasa Inggris dengan Menggunakan Metode Author-Topik Model dan Gaussian Latent Dirichlet Allocation(GLDA)
Penggunaan Author-Topic Model telah banyak dilakukan pada bidang machine learning khususnya natural language processing. Metode ini pertama kali digunakan untuk mengetahui bidang penelitian dari seorang penulis dengan melihat topik dari dokumen yang telah ditulisnya. Meskipun model ini banyak digunakan, penerapannya masih memiliki banyak kekurangan. Hal yang paling menonjol adalah ketidakmampuan Latent Dirichlet Allocation (LDA) sebagai dasar dari Author-Topic Model untuk menangkap kata yang belum pernah terlihat dalam data training pada saat melakukan percobaan dari suatu dokumen uji dalam menentukan distribusi kata suatu topik atau biasa disebut out of vocabulary(OOV). OOV membuat topik yang didapat dari suatu dokumen uji tidak sesuai dengan yang diinginkan. Hal tersebut dapat terjadi karena kata-kata penting yang terdapat pada dokumen uji tidak dapat ditangkap oleh LDA. Maka dari itu, pada tugas akhir ini menggunakan Gaussian Latent Dirichlet Allocation (GLDA) pada author-topic model untuk menyelesaikan permasalahan yang ada pada LDA dengan mengubah jenis kata menjadi vektor kata. Metode GLDA ini digunakan untuk pembanding dari penelitian sebelumnya. Pembuatan author-topic model terbaik dari kedua metode dilakukan dengan menghitung nilai perplexity dan topic coherence untuk setiap metode. Hasil yang didapat menggambarkan bahwa penggunaan GLDA dapat mendapatkan hasil modelling yang lebih stabil disetiap iterasi. Namun, hasil yang didapatkan dari kemampuan kedua model dalam memberikan prediksi terhadap author dari dokumen baru memiliki persamaan. Pada kedua model terlihat bahwa persentase prediksinya tidak berbeda jauh. Hal tersebut disebabkan karena penggunaan data dengan jenis kata yang terlali sedikit dan pembersihan data yang kurang baik. Sehingga membuat distribusi kata pada setiap topiknya terlihat tidak sesuai dengan topik dari dokumen tersebut.
=================================================================================================================================
The use of Author-Topic Model has been widely used in the field of machine learning, especially natural language processing. This method was first used to find out the research field of an author by looking at the topic of the document he had written. Although this model is widely used, its application still has many disadvantages. The most prominent thing is the inability of Latent Dirichlet Allocation (LDA) as the basis of the Author-Topic Model to capture words that have never been seen in training data when conducting experiments from a test document in determining word distribution of a topic or commonly called out of vocabulary (OOV). OOV makes the topic obtained from a test document not as desired. This can happen because the important words contained in the test document cannot be captured by the LDA. Therefore, in this final assignment use the Dirichlet Allocation Latent Gaussian (GLDA) on the author-topic model to solve the problems that exist on the LDA by changing the type of word into a word vector. This GLDA method is used for comparison from previous studies. Making the best author-topic model of the two methods is done by calculating the perplexity value and topic coherence for each method. The results obtained illustrate that the use of GLDA can get more stable modeling results in each iteration. However, the results obtained from the ability of the two models to provide predictions to the author of the new document have similarities. In both models it can be seen that the percentage of predictions is not very different. This is due to too little use of data types and poor data cleaning. so that the distribution of words on each topic does not appear to fit the topic of the document
Legal Flexibility in Children Diversion Which Conflict With the Law (ABH) Case Study At Ex Residency of Cirebon Jurisdiction
Along with the development of the juvenile justice system practices that have been implemented so far as regulated in Act No. 11 Of 2012 on Child Criminal Justice System (Act of SPPA).The problems of this study are: the flexibility of implementation of diversion in the case of ABH at Ex Residency of Cirebon Juridiction, problems that exist and occur in carrying out the diversion case of ABH in the Ex Residency of Cirebon Jurisdiction, diversion in Case of ABH solutions in the future will come.The method used by researchers is sociological approach juridical law and specification in this study were included descriptive analysis. While the sources and types of data in this study are primary data obtained from the field study interview. And secondary data obtained from the study of literature.Based on the results of research that In accordance with Act No. 11 Of 2012 on Juvenile Justice System, flexibility implementation of new diversion is the stage, which can be done at this stage of the investigation in Children Investigators, or at what stage in the Prosecuting Attorney of the Child, as well as examination by the Child Justice. Hampered that diversion is restricted by a minimum penalty of which may carry out a diversion, even if the victim and the perpetrator (ABH) has versioned, it turns out if the criminal threat is more than seven (7) years, the diversion that has made News The event can be canceled and further processed to court for trial. Supposedly back in the Draft Bill which is being processed in the House of Representatives of Indonesia, should attempt a diversion in case the child is not constrained by the threat of punishment, because diversion is only mediation enforcement between criminal and victim that in application not sure in agreement.Keywords: Flexibility Law; Diversion; Children; AB
RANCANG BANGUN SISTEM INFORMASI DENGAN METODE ICONIX PROCESS (STUDI KASUS : PENDAFTARAN CALON PESERTA LATIHAN KADER II HIMPUNAN MAHASISWA ISLAM CABANG SEMARANG)
Lembaga Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) adalah lembaga yang berperan aktif dalam berbagai kegiatan yang melibatkan berbagai elemen mahasiswa dan juga masayarakat. Sebagai organisasi yang memiliki peranan penting dalam mewujudkan kualitas generasi yang memiliki wawasan kerohanian serta keintelektualan yang mumpuni, HMI setiap tahunnya melakukan pengkaderan yang melibatkan banyak peserta dari berbagai daerah. Dalam kegiatan tersebut dibutuhkan sebuah terobosan baru yang dapat membatu proses perekrutan latihan kader melalui sistem informasi yang terpusat. Untuk itu sistem informasi pendaftaran yang bersifat online yang dapat membantu terciptanya suasana sistem pengkaderan yang lebih terpusat, dan diakses dengan mudah. untuk mewujudkan hal tersebut dibangulah sebuah sisitem informasi pendaftaran kader dengan metode iconix process. Dengan metode ICONIX Process mampu mengoptimalkan rancang bangun sistem pendaftaran calon peserta latihan kader. Seperti adanya fungsional requirement, domain model, robustness diagram, sequence diagram, dan GUI Story Board memudahkan penemuan class diagram dalam pembangunan sistem. Dengan adanya sistem mampu mengoptimalkan proses pendaftaran di HMI, dalam sebuah sistem pendaftaran menggunakan media online calon peserta dan panitia mampu berinteraksi secara masif dan terpadu diberbagai penjuru cabang yang tersebar di seluruh wilayah indonesia.Kata kunci : HMI, Pendaftaran kader, ICONIX Proces
Educating childen at home : exploring the experience of homeschooling in Indonesia
This thesis was scanned from the print manuscript for digital preservation and is copyright the author.
Researchers can access this thesis by asking their local university, institution or public library to
make a request on their behalf. Monash staff and postgraduate students can use the link in the References field
Improving antibacterial activity of Spathodea campanulata Beauv’s water extract with copper nanoparticle on Staphylococcus aureus
NON-FORMAL ISLAMIC EDUCATION MODEL
Talking about Islamic education or education in general, from the aspect of the path there are several educational institution terms, namely informal, formal and non-formal education. These three education pathways are complementary in their implementation to the achievement of general goals set in national education goals. Therefore, the level of government attention in terms of policy must still be able to accommodate the interests of the three education channels. This is consistent with what has been mandated in the juridical foundation of the national education system.
In connection with this policy, the author will outline a general description of the definition and characteristics of non-formal Islamic education in Indonesia, and the development of the system of providing nonformal Islamic education going forward.
The aim is to increase vertical mobility for students and the community that has become the focus of non-formal education planners for nation building.
By using the liberty research approach, with various sources of literature, about non-formal Islamic education, which has provided an illustration that non-formal Islamic education is equivalent to formal education. The aim of non-formal Islamic education is to provide educational services to all members of the community, both men and women so that they have the ability to develop their potential by emphasizing mastery of vocational knowledge and skills, and developing professional attitudes and personalities, so that non-formal Islamic education can also function as a substitute, supplementary or complementary formal education
in order to support lifelong education
ANALISIS HEAT STRESS KARYAWAN HOT KITCHEN BERBASIS PREDICTED MEAN VOTE INDEX (Studi Kasus di PT. Aerofood ACS, Sidoarjo)
Jika membutuhkan abstrak atau isi jurnal silahkan menghubungi author melalui email [email protected], [email protected], [email protected] Terima kasi
Ancient Influencers: Supplementaries to Review
This repository contains the supplementary materials for the manuscript "Pre-modern Influencers: The role of author reputation, annotator reputation, and annotation relevance in the appreciation of historical text documents". It includes the datasets, analysis scripts, documentation, and supplementary materials. All code was written in R and can be used to reproduce the statistical analyses reported in the manuscript. Sensitive information has been removed in accordance with ethical requirements
