1,724,593 research outputs found
Senior Pratima Thapaliya Faces Challenges Head On
Morthera Navarrete, Cassandra. (2016). Senior Pratima Thapaliya Faces Challenges Head On. Retrieved from the University Digital Conservancy, https://hdl.handle.net/11299/223795
Patung Pratima dan fungsinya dalam agama Hindu di Bali.
Tujuan penelitian adalah mengadakan penyelidikan terhadap patung Pratima yang ditekankan pada peranan patung pratima dan fungsinya dalam kehidupan keagamaan masyarakat di Bali sekarang yang merpakan warisan dari generasi terdahulu.Berdasarkan hasil penelitian dapat diambil kesimpulan bahwa adanya korelaso positif antara norma-norma agama Hindu di BAli dengan unsur-unsur simnar karena menunjukkan prosentase lebih 50%
Kekuatan pratima sebagai sumber imajinasi dalam penciptaan sebuah lukisan
Pratima adalah sebuah media yang berfungsi untuk mendekatkan diri dengan Tuhannya. Dengan berbagai konsep, bentuk dan pencintraan yang didasarkan kekuatan dan spirit untuk terus berkreativitas, kekuatan pratima sebagai imajinasi dalam penciptaan sebuah lukisan bertujuan untuk memberikan gambaran secara lengkap guna peningkatan apresiasi dan inovasi yang lebih inspiratif lagi
Filosofi Pasupati Pratima Ratu Ngerurah dan Ratu Ayu di Pura Pasek Ngukuhin Tegeh Kori Tonja, Denpasar
Abstract
The Hindu community in Bali have a tradition ceremony called pasupati pratima, sacralization of statue. Pasupati generally performed in the temple where pratima will be resided. This article examines the process and the philosophical meaning of pasupati pratima in Pura Pasek Ngukuhin, Banjar Tegeh Kori Denpasar. In this temple, the event has been a tradition but still gugon tuwon, meaning that without the efforts carried out by a tradition steeped in philosophical meaning. In the philosophy of pasupati ceremony is the process of uniting the power of Shiva (Trance Pasupati) on pratima characterized by melaspas ceremony, that is cleaning all the stains of Pratima. Ngatep, unifying symbol of soul and body in pratima is by tying a tridatu thread as the strength of Tri Murti. Chanting Mantram of Pasupati is a wish to Lord Shiva to reside on the Pratima. Chanting script of Dasa Bayu (ten forces of nature) Ing, Ang Kang, Sang, Mang, Pang, Lang, Wang, Yang, Ung means that ten natural forces entered the pratima. Pasupati also means the union of the power of God/ Spirit of the bhuwana agung with Pratima become one substance with God. When this unification happens, the status of pratima become deities. The entire process of Pasupati, philosophically, is the changes status of an object from the profane to the sacred that is based on Satyam Siwam Sundaram (truth, purity and beauty) in order to achieve the purpose of life jagadhita (prosperous)
PADMASHRI PRATIMA: A Fragrance of Assam’s Folk-Music
There is perhaps no one who has not even listened to Pratima Baruah Pandey’s name and her soul-stirring Goalpariya songs! She lived in a small beautiful town named Gauripur of Dhubri district. The town is situated on the western side of district headquarters Dhubri, Assam. There is a lake on its north-western side named Lawkhowa beel and the north-eastern side on bank of historic Gadadhar River is a small hilltop called Matiabagh Pahar. On which the Palace named Hawakhana made by the Zamindar of Gauripur is situated. The Hawakhana is still trying to keep alive the charm of Zamindary Legacy which the Goalpariya legendary icon Pratima Baruah Pandey used as her home from 1964 to her last breath of life along with her husband Prof. Ganga Shankar Pandey and two daughters Amrita and Alaska. The Hawakhana was the bystander of Pratima Baruah Pandey where she had gone through several ups and downs of life
Pemberian Sanksi Adat Kepada Pelaku Pencurian Pratima di Bali
Ujung dari suatu penegakan hukum adalah pemberian sanksi terhadap pelaku tindak pidana. Di Bali terdapat tindak pidana pencurian dimana benda yang menjadi objek tindak pidana adalah Pratima (Benda sakral). Ketentuan pada KUHP tidak mengatur secara jelas penjatuhan sanksi adat, oleh karena itu penjatuhan sanksi pidana biasa kepada pelaku tindak pidana yang tergolong tindak pidana adat terkadang belum bisa menyelesaikan permasalahan yang terjadi. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisa terkait pencurian pratima dalam perspektif hukum pidana adat dan dasar hukum pemberian sanksi adat. Penelitian ini mempergunakan metode penelitian normatif. Kemudian menggunakan pendekatan Perundang-undangan dan pendekatan konseptual serta menggunakan teknik argumentasi hukum dalam pembahasannya.
Bahwa pencurian pratima lebih tepat dikaitkan dalam perspektif tindak pidana adat, karena dampak dari pencurian pratima tersebut tidak hanya pada kerugian materiil saja melainkan kerugian immateriil dimana dapat mengganggu keseimbangan di masyarakat.
Penerapan sanksi adat untuk penyelesaian tindak pidana pencurian pratima di Bali dapat dilakukan karena eksistensi hukum pidana adat masih dibutuhkan di Indonesia dengan mengaitkan konsep keadilan restorative, diskresi, dan teori pemidanaan gabungan sehingga sanksi adat yang dapat dijatuhkan adalah denda untuk upacara pembersihan
PEMBERIAN SANKSI ADAT TERHADAP PELAKU PENCURIAN PRATIMA DALAM HUKUM ADAT BALI DESA PAKRAMAN
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui sanksi adat yang diberikan bagi pelaku pencurian pratima dan upaya-upaya apa saja yang dilakukan lembaga adat untuk mencegah pengulangan pencurian pratima. Penelitian ini menggunakan metode penelitian hukum normatif. Penelitian hukum normatif digunakan untuk meninjau hukum dan peraturan yang berkaitan dengan masalah yang dibahas. Penelitian hukum adalah cara untuk menemukan kembali secara teliti dan cermat terhadap data hukum atau bahan-bahan hukum. Penelitian hukum bertujuan untuk mencari, menganalis,dan mempelajari kebenaran ilmu-ilmu pengetahuan yang berkaitan dengan ilmu hukum. Kemudian menggunakan pendekatan perundang-undangan bertujuan untuk menelusuri ketentuan hukum yang berlaku sesuai dengan permasalahan dalam jurnal ini dan pendekatan konseptual bertujuan untuk menganalisis teori hukum,konsep hukum,atau prinsip hukum yang berhubungan dengan pemberian sanksi. Sanksi adat yang diberikan kepada pelaku pencurian barang-barang suci dan salah satunya adalah pratima,sanksi yang diberikan yaitu diadakan upacara pembersihan dimana semua biaya ditanggung oleh pelaku ,denda serta dikeluarkan dari keanggotaan masyarakat adat. Secara intens pecalang juga memeriksa setiap saat secara bergantian di wilayah yang terdapat pura yang didalamnya ada pratima dan juga mengawasi apakah tata krama desa bagi mereka yang mempunyai niat tidak baik seperti mencuri pratima
Pratima Adhikari's Quick Files
The Quick Files feature was discontinued and it’s files were migrated into this Project on March 11, 2022. The file URL’s will still resolve properly, and the Quick Files logs are available in the Project’s Recent Activity
Pembinaan Generasi Muda Hindu Terhadap Representasi Tuhan Dalam Simbol Pratima Dan Pralingga Di Desa Adat Padang Keling
Hubungan antara Agama Hindu dan kesenian tidak dapat dipisahkan, dan keduanya sangat berkaitan erat. Umat Hindu Bali menggunakan karya seni sebagai cara untuk memperhalus hidup mereka, mengikuti ajaran agama untuk mengarahkan kehidupan mereka, dan menggunakan ilmu dan teknologi untuk mempermudah pelaksanaan ajaran agama. Pratima dan Pralingga merupakan hasil dari teknologi teologi, yang berfungsi sebagai sarana pemujaan umat Hindu terhadap Ida Sang Hyang Widhi Wasa dengan segala manifestasi-Nya. Pratima dan Pralingga merupakan ekspresi seni yang memiliki nilai suci dan erat kaitannya dengan praktik keagamaan umat Hindu. Namun, untuk dapat digunakan sebagai objek penyembahan, Pratima dan Pralingga harus menjalani proses seremonial yang sakral yang meliputi nuasen, pemakuhan, pengurip-urip, mlaspas, masupati, abhiseka atau ngadegang, dan melasti. Upacara ini pada dasarnya adalah proses pembersihan atau penyucian, sehingga umat Hindu tidak meragukan lagi bahwa Pratima dan Pralingga adalah media penyembahan yang dilakukan dengan rasa sradha dan bhakti yang tulus
Bentuk-bentuk pratima sebagai tema karya seni grafs
Kesimpulan :Dalam menciptakan suatu karya seni, seniman dituntut terlebi dahulu mendalami proses indrawi, yaitu terlebih dahulu, melihat, mengamati, menghayati, kemudian melalui perenungan sehingga melahirkan ide-ide yang dapat menggerakkan spirit untuk mrnciptakan sebuah karya seni. dari pengalaman itu, muncul gagasan, dan keinginan untuk mengungkapakan bentuk pratima melalui seni rupa dua dimensional, seni grafis
- …
