1,720,959 research outputs found
RELEVANSI KALIMAT SAMA'-BASHAR-DAN FUAD DALAM AL-QURAN DENGAN NEUROSAINS (KAJIAN I'JAZ ILMI AL-QURAN)
Abstrak tidak Tersedi
Meningkatkan Kesejahteraan Sosial Anak Jalanan dengan Teori Self Esteem
Tulisan ini dimaksudkan untuk memberikan solusi kepada komunitas atau lembaga sosial dalam meningkatkan kesejahteraan sosial anak jalanan dengan teori self esteem dan untuk mengetahui kendala yang dihadapi anak jalanan dalam meningkatkan kesejahteraan sosial. Sikap penerimaan terhadap diri anak jalanan dan mengetahui potensi yang dimiliki adalah dasar untuk meningkatkan kesejahteraan sosial anak jalanan, karena seseorang anak masih dapat berkembang secara optimal. Tulisan ini menawarkan empat aspek dalam memberi solusi untuk meningkatkan kesejahteraan sosial anak jalanan dengan teori self esteem: Kekuatan, Keberartian, Kebajikan, dan kemampuan. Konsep dasar yang ditawarkan adalah agar penanganan dan upaya perlindungan dan pemberdayaan pada anak jalanan dapat memberi hasil yang lebih baik, dibutuhkan kesediaan semua pihak, terutama pekerja sosial dan komunitas atau lembaga sosial untuk duduk bersama, berdiskusi mencari jalan keluar terbaik bagi anak jalanan dan merumuskan program intervensi yang tepat sasaran dan sekaligus melakukan pembagian kerja yang lebih terkoordinasi. Argumen dasar yang dikembangkan adalah anak dapat mengembangkan dirinya jika komunitas atau lembaga sosial mengenalkan self esteem yang ada pada diri anak jalanan
Digital Da'wah and Quranic Interpretation: Opportunities, Distortions, and Ethics in the Spread of Interpretations on Social Media
Digitalization has changed the face of Islamic preaching and dissemination of knowledge, including the interpretation of the Qur'an, which now reaches a broad audience through various social media platforms. This transformation presents significant opportunities in religious education, but also poses serious challenges in the form of distortion of meaning and oversimplification in the presentation of interpretations. This study aims to examine the dynamics of disseminating interpretations of the Qur'an on social media from three main aspects: opportunities, potential distortion, and ethics of dissemination. With a qualitative-analytical approach, this study relies on digital documentation and literature studies of interpretation content spread on platforms such as YouTube, Instagram, and TikTok. The data is reviewed in depth to understand the methodological tendencies, narratives, and scientific responsibilities in the presentation of interpretations. The results of the study show that although social media can increase accessibility and attract the interest of the younger generation in interpretations, there is a high risk of the dissemination of interpretations that do not go through proper scientific procedures, ignore the context of the verses, and pay little attention to differences in the views of scholars. In addition, ethics in disseminating interpretations are often ignored, either in the form of plagiarism, provocation, or misleading language. Therefore, this study emphasizes the importance of ethical guidelines and the active role of religious institutions in overseeing the dissemination of digital interpretation of the Qur'an so that it remains within the scientific and Sharia corridor. This study emphasizes the importance of synergy between digital innovation and the integrity of interpretation science in presenting relevant, credible, and responsible da'wah in the information era
RELASI KUASA DALAM PENETAPAN HADIS SEBAGAI HUJJAH DALAM BAHTSUL MASAIL MUKTAMAR NU KE-33 TAHUN 2015
Penelitian ini adalah penelitian hadis yang dilakukan terhadap hadis-hadis
dalam Bahtsul Masail Muktamar NU ke-33 tahun 2015. Dalam hal ini hadis
sebagai hujjah diminta berbicara, mengomentari dan pada akhirnya memberi
keputusan terhadap suatu permasalahan yang muncul, baik untuk membenarkan,
membiarkan, menolak, atau bahkan menyalahkan. Padahal, pada dasarnya hadis
yang ditetapkan sebagai hujjah tersebut, bukan berbicara dalam konteks yang
sedang dibahas.
Adapun jenis penelitiannya adalah penelitian kepustakaan (library
reseach) murni dan didukung oleh wawancara, dengan pendekatan analisa
genealogis wacana dalam teori relasi kuasa dan pengetahuan yang dikenalkan oleh
Michel Foucault. Dalam pendekatan ini mencakup aspek hermeneutika dan
genealogi. Aspek hermeneutika akan memfokuskan perhatiannya pada wacana
tafsir. Sedangkan, aspek genealogis digunakan untuk memperhatikan asal-usul
atau hubungan sejarah antara kekuasaan, wacana, pengetahuan, dan kebenaran
yang kemudian mempengaruhi pemikiran NU.
Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui bagaimana diskursus-diskursus
keagamaan yang telah diproduksi oleh relasi kuasa yang selanjutnya menopang
dan menjustifikasi bekerjanya relasi-relasi kuasa tersebut; pertama, bagaimana
genealogi pemahaman NU terhadap hadis yang dijadikan hujjah dalam Bahtsul
Masail Muktamar NU ke-33 tahun 2015. Kedua, bagaimanakah metode
arkeologis NU dalam menetapkan hadis yang dijadikan hujjah dalam Bahtsul
Masail tersebut. Ketiga, bagaimana pula bentuk relasi kuasa NU dalam
menetapkan hadis sebagai hujjah dalam keputusan Bahtsul Masail tersebut.
Adapun hasil penelitian ini adalah: pertama, genealogi NU dapat dilihat
dari dua sisi kesejarahannya, yaitu para pendiri NU dan pondok pesantren. Hal ini
membuktikan bahwa pada dasarnya pemikiran NU berawal dari keterpengaruhan ulama
NU terhadap pemikiran ulama Haramain (Mekkah dan Madinah) dan dipengaruhi oleh
tradisi pesantren di Jawa, khususnya mengenai tradisi turatsnya. Kedua, jika metode
arkeologi NU dalam memahami hadis dilihat dengan perspektif Foucault, diketahui
bahwa ada dua model penetapan hadis sebagai hujjah dalam Bahtsul Masail Muktamar
ke-33 tahun 2015; (1) hadis yang dikutip dari kitab hadis, (2) hadis yang dikutip dari
selain kitab hadis seperti kitab syarah, kitab tafsir, kitab fiqh, dan lain-lain. Ketiga,
penulis menemukan bahwa hadis-hadis tersebut ditetapkan sebagai hujjah karena
memiliki relasi pengetahuan dan kekuasaan. Dari sepuluh pembahasan yang mengutip
hadis secara langsung, diketahui bahwa; pertama, tiga pembahasan merupakan teknik
pengaturan kekuasaan; yaitu hukum BPJS, penyelenggaraan pemilu kepala daerah yang
murah dan berkualitas, dan SDA untuk kesejahteraan rakyat. Kedua, lima pembahasan
lainnya merupakan praktik pendisiplinan, yaitu hukum mengingkari janji bagi
pemerintah, advokat dalam tinjauan fikih, hukuman mati dan HAM, perlindungan umat
beragama menurut undang-undang, dan pelaksanaan pendidikan agama di sekolah.
Ketiga, dua pembahasan praktik individualisasi, yakni khashais ahlu sunnah wa aljama’ah
dan utang luar negeri. Dalam konteks ini, kemudian lahirlah sebuah wacana
Bahtsul Masail yang kemudian dibaca oleh masyarakat NU sebagai reader dan merespon.
Sedangkan dalam hal ini ulama NU berperan sebagai author yang secara nirsadar dan
amat tersamar melekat beroperasinya kekuasaan
Going Beyond Counting First Authors in Author Co-citation Analysis
The present study examines one of the fundamental aspects of author co-citation analysis (ACA) - the way co-citation
counts are defined. Co-citation counting provides the data on which all subsequent statistical analyses and mappings
are based, and we compare ACA results based on two different types of co-citation counting - the traditional type that
only counts the first one among a cited work's authors on the one hand and a non-traditional type that takes into
account the first 5 authors of a cited work on the other hand. Results indicate that the picture produced through this non-traditional author co-citation counting contains more coherent author groups and is therefore considerably clearer. However, this picture represents fewer specialties in the research field being studied than that produced through the traditional first-author co-citation counting when the same number of top-ranked authors is selected and analyzed. Reasons for these effects are discussed
DINAMIKA PEMAHAMAN ULAMA TENTANG HADIS DAJJAL (Dari Interpretasi Tekstual Ke Interpretasi Kontekstual)
Artikel ini bermaksud menggambarkan figur Dajjal yang disebutkan di beberapa hadis dalam kutub al-sittah dan menjelaskan bagaimana interpretasi tekstual dan kontekstual tentang hadis-hadis yang berbicara tentang masa lalu. Dalam beberapa hadis, Dajjal itu digambarkan sebagai fitnah besar yang Allah datang pada akhir masa, tetapi dia juga merupakan simbol dari wahyu yang akan datang. Dengan demikian manusia mengetahui bagaimana ciri-ciri akhir zaman, dan mengetahui tanda-tanda kedatangannya adalah suatu hal yang penting. Pada artikel ini penulis akan menjelaskan dan melakukan pelacakan terhadap hadis yang membahas secara spesifik tentang figur Dajjal secara tematik dengan metode deskriptif-analitis; dengan melakukan pelacakan tentang tradisi, takhrij al-hadis, analisis sanad, analisis muru’ah, syarah hadis secara tekstual dan kontekstual sebagai objek dari analisis yang dilakukan oleh penulis. Berdasarkan analisa penulis ada beberapa periwayat dari jalur Bukhari, terdapat wahyu dari Allah yang mengatakan Dajjal adalah seseorang yang gemuk bertubuh kemerahan, rambut keriting, salah satu matanya buta dan matanya seperti buah anggur yang matang (tidak bercahaya). Pemahaman secara tekstual tentang figur Dajjal itu adalah sesuai dengan apa yang digambarkan oleh hadis. Secara kontekstual, para ulama memahami kharakteristik seperti mata yang disebut dalam hadis merupakan sebuah simbol/metafora untuk menjelaskan kontrol terhadap apa yang terjadi hari ini, dan sebagai sebuah konspirasi untuk menguasai dunia, dan sebagai sebuah yang terkait dengan budaya Barat dan Yahudi yang penuh tipu daya, pemimpin yang salah, dan pemikiran yang cenderung duniaw
ANALISIS PASAL 39 AYAT 3 KHI TENTANG LARANGAN KAWIN KARENA SESUSUAN: PERSPEKTIF FILSAFAT HUKUM ISLAM
The Compilation of Islamic Law (KHI) cannot be separated from the rules of law written in the Qur'an and Hadith. Article 39 paragraph 3 of The Compilation of Islamic Law (KHI) states that there is a prohibition on marriage due to the same breastfeeding mother. Philosophically, Allah's purpose in prescribing the law is to preserve the benefits of human beings, as well as to avoid ‘mafsadat’, both in the world and in the hereafter. In article 39 paragraph 3 KHI, the determination of the law is in order to realize the benefits of human beings. There are five main elements that are protected against the law of prohibition on marriage due to the same breastfeeding mother as mentioned in article 39 paragraph 3 KHI. The five main elements are religion (ḥifẓ ad-dīn), soul (ḥifẓ an-nafs), reason (ḥifẓ al-‘aql), descendants (ḥifẓ an-nasl), and property (ḥifẓ al-māl).
[Kompilasi Hukum Islam (KHI) tidak lepas dari kaidah-kaidah hukum yang tertulis dalam al-Qur’an dan Hadis. Pasal 39 ayat 3 Kompilasi Hukum Islam (KHI) menyatakan adanya larangan melangsungkan perkawinan karena sesusuan. Secara filosofis, tujuan Allah mensyariatkan hukumnya adalah untuk memelihara kemaslahatan manusia, sekaligus untuk menghindari mafsadat, baik di dunia maupun di akhirat. Dalam pasal 39 ayat 3 KHI, penetapan hukum tersebut dalam rangka mewujudkan kemaslahatan manusia. Ada lima unsur pokok yang dilindungi terhadap penetapan hukum keharaman menikah karena sesusuan yang tercantum dalam pasal 39 ayat 3 KHI. Kelima unsur pokok tersebut adalah agama (ḥifẓ ad-dīn), jiwa (ḥifẓ an-nafs), akal (ḥifẓ al-‘aql), keturunan (ḥifẓ an-nasl), dan harta (ḥifẓ al-māl).
Variations on the Author
“Variations on the Author” discusses two of Eduardo Coutinho’s recent films (Um Dia na Vida, from 2010, and Últimas Conversas, posthumously released in 2015) and their contribution to the general question of documentary authorship. The director’s filmography is characterized by a consistent yet self-effacing form of authorial self-inscription: Coutinho often features as an interviewer that rather than express opinions propels discourses; an interviewer that is good at listening. This mode of self-inscription characterizes him as an author who is not expressive but who is nonetheless markedly present on the screen. In Um Dia na Vida, however, Coutinho is completely absent form the image, while Últimas Conversas, on the contrary, includes a confessional prologue that moves the director from the margins to the center of his films. This article examines the ways in which these works stand out in the filmography of a director who offers new insights into the notion of cinematic authorship
- …
