67 research outputs found

    Isolation of Asphaltene-Degrading Bacteria from Sludge Oil

    Get PDF
    Sludge oil contains 30%–50% hydrocarbon fractions that comprise saturated fractions, aromatics, resins, and asphaltene. Asphaltene fraction is the most persistent fraction. In this research, the indigenous bacteria that can degrade asphaltene fractions from a sludge oil sample from Balikpapan that was isolated using BHMS medium (Bushnell-Hass Mineral Salt) with 0.01% (w/v) yeast extract, 2% (w/v) asphaltene extract, and 2% (w/v) sludge oil. The ability of the four isolates to degrade asphaltene fractions was conducted by the biodegradation asphaltene fractions test using liquid cultures in a BHMS medium with 0.01% (w/v) yeast extract and 2% (w/v) asphaltene extract as a carbon source. The parameters measured during the process of biodegradation of asphaltene fractions include the quantification of Total Petroleum Hydrocarbon (g), log total number of bacteria (CFU/ml), and pH. There are four bacteria (isolates 1, 2, 3, and 4) that have been characterized to degrade asphaltic fraction and have been identified as Bacillus sp. Lysinibacillus fusiformes, Acinetobacter sp., and Mycobacterium sp., respectively. The results showed that the highest ability to degrade asphaltene fractions is that of Bacillus sp. (isolate 1) and Lysinibacillus fusiformes (Isolate 2), with biodegradation percentages of asphaltene fractions being 50% and 55%, respectively, and growth rate at the exponential phase is 7.17x107 CFU/mL.days and 4.21x107 CFU/mL.days, respectively

    Biosolubilisasi batubara hasi iradiasi gamma oleh kapang trichoderma sp.

    No full text
    Biosolubilisasi Batubara Hasil Iradiasi Gamma oleh Kapang Trichoderma sp. Biosolubilisasi batubara adalah proses yang memiliki potensi untuk mengubah batubara padat menjadi bahan bakar cair dengan bantuan mikroorganisme. Penelitian ini bertujuan untuk mengamati kemampuan kapang Trichoderma sp. dalam mencairkan batubara dari jenis subbituminus hasil iradiasi gamma. Dosis iradiasi yang digunakan adalah 5, 10, dan 20 kGy dan sebagai pembanding adalah kontrol, yaitu batubara tidak diiradiasi. Metode yang digunakan adalah submerged culture dan inkubasi dilakukan pada suhu ruang dan agitasi 150 rpm selama 28 hari. Parameter yang diukur adalah kolonisasi, pH medium dan produk solubilisasi berdasarkan nilai absorbansi pada λ250nm dan λ450nm serta analisis GC/MS untuk perlakuan terbaik. Hasil percobaan menunjukkan bahwa biosolubilisasi batubara dapat ditingkatkan dengan iradiasi gamma. Kapang dapat tumbuh dengan baik dalam medium yang mengandung batubara hasil iradiasi dan pH medium menjadi lebih asam. Tingkat biosolubilisasi mengalami peningkatan tidak sebanding dengan dosis iradiasi. Dosis terbaik perlakuan adalah 20 kGy dengan produk biosolubilisasi berupa senyawa yang cenderung setara dengan bensin dan solar. Berdasarkan hasil penelitian ini, maka dapat disimpulkan bahwa pra perlakuan batubara dengan iradiasi gamma memiliki potensi untuk digunakan dalam meningkatkan biosolubilisasi

    Biosolubilisasi Batubara Hasil Iradiasi Gamma oleh Kapang Trichoderma sp.

    No full text
    Biosolubilisasi batubara adalah proses yang memiliki potensi untuk mengubah batubara padat menjadi bahan bakar cair dengan bantuan mikroorganisme. Penelitian ini bertujuan untuk mengamati kemampuan kapang Trichoderma sp. dalam mencairkan batubara dari jenis subbituminus hasil iradiasi gamma. Dosis iradiasi yang digunakan adalah 5, 10, dan 20 kGy dan sebagai pembanding adalah kontrol, yaitu batubara tidak diiradiasi. Metode yang digunakan adalah submerged culture dan inkubasi dilakukan pada suhu ruang dan agitasi 150 rpm selama 28 hari. Parameter yang diukur adalah kolonisasi, pH medium dan produk solubilisasi berdasarkan nilai absorbansi pada λ250nm dan λ450nm serta analisis GC/MS untuk perlakuan terbaik. Hasil percobaan menunjukkan bahwa biosolubilisasi batubara dapat ditingkatkan dengan iradiasi gamma. Kapang dapat tumbuh dengan baik dalam medium yang mengandung batubara hasil iradiasi dan pH medium menjadi lebih asam. Tingkat biosolubilisasi mengalami peningkatan tidak sebanding dengan dosis iradiasi. Dosis terbaik perlakuan adalah 20 kGy dengan produk biosolubilisasi berupa senyawa yang cenderung setara dengan bensin dan solar. Berdasarkan hasil penelitian ini, maka dapat disimpulkan bahwa pra perlakuan batubara dengan iradiasi gamma memiliki potensi untuk digunakan dalam meningkatkan biosolubilisasi. &nbsp

    Biosolubilisasi Batubara Hasil Iradiasi Gamma oleh Kapang Trichoderma sp.

    Get PDF
    Biosolubilisasi batubara adalah proses yang memiliki potensi untuk mengubah batubara padat menjadi bahan bakar cair dengan bantuan mikroorganisme. Penelitian ini bertujuan untukmengamati kemampuan kapang Trichoderma sp. dalam mencairkan batubara dari jenis subbituminus hasil iradiasi gamma. Dosis iradiasi yang digunakan adalah 5, 10, dan 20 kGy dan sebagai pembanding adalah kontrol, yaitu batubara tidak diiradiasi. Metode yang digunakan adalah submerged culture dan inkubasi dilakukan pada suhu ruang dan agitasi 150rpm selama 28 hari. Parameter yang diukur adalah kolonisasi, pH medium dan produk solubilisasi berdasarkan nilai absorbansi pada λ250nm dan λ450nm serta analisis GC/MS untuk perlakuan terbaik. Hasil percobaan menunjukkan bahwa biosolubilisasi batubara dapat ditingkatkan dengan iradiasi gamma. Kapang dapat tumbuh dengan baik dalam medium yang mengandung batubara hasil iradiasi dan pH medium menjadi lebih asam. Tingkat biosolubilisasi mengalami peningkatan tidak sebanding dengan dosis iradiasi. Dosis terbaik perlakuan adalah 20 kGy dengan produk biosolubilisasi berupa senyawa yang cenderung setara dengan bensin dan solar. Berdasarkan hasil penelitian ini, maka dapat disimpulkanbahwa pra perlakuan batubara dengan iradiasi gamma memiliki potensi untuk digunakan dalam meningkatkan biosolubilisasi

    Analysis of Bacterial Community level Physiological Profiling on the Fermentation of Traditional Pliek u using BIOLOG EcoPlates

    Get PDF
    Pliek u is an Acehnese traditional condiment made from fermented coconut (Cocos nucifera) endosperm. The traditional pliek u fermentation process typically involves a diverse bacterial community. This research aimed to discover the physiological profile of the bacterial community diversity in pliek u fermentation. BIOLOGTM EcoPlates was used to obtain the physiological functions of the bacterial community during the pliek u fermentation process. The bacteria were then isolated from EcoPlate substrate to determine the predominant microorganism. Results from the analysis showed that the value of the Average Well Colour Development (AWCD) increased during the EcoPlates incubation period. The AWCD values in sample IV were higher than the AWCD values in samples I, II, and III. PCA analysis showed that the use of EcoPlate substrate by the bacterial community at the beginning of the fermentation was correlated with the substrate groups of carbohydrate and polymer, and with the substrate groups of carbohydrate and the amino acid at the end of the fermentation. The phylogenetic analysis showed that EC1 had a close relation with Pseudomonas azotoformans strain NBRC, while EC3 had a close relation with Psedomonas lundensis strain ATCC 49968. In conclusion, there were changes in the use of EcoPlate substrate and the activities of the bacterial community during the pliek u fermentation process

    Coffee Plants' Endomycorrhizae Potential to increase the growth and nutrient uptake of Arabica Coffee (Coffea arabica L.) under Field Condition

    Get PDF
    Inorganic fertilizers utilization is the most common way to increase plant productivity. However, the intensive use of organic fertilizer can harm the environment. Therefore, alternative fertilization by utilizing soil microorganisms to provide plant nutrients is needed. Endomycorrhizae is known as a microorganism that can increase the availability of nutrients and plant growth. This study aimed to determine the potential of endomycorrhizae to increase the growth of arabica coffee seedlings under field conditions. A Randomized Complete Block Design (RCBD) with 5 replications was used with four treatments, i.e., (P0) control: without endomycorrhizae and fertilizer, (P1) inorganic fertilizer: NPK recommended dose for seedlings nine months after sowing (N 184 kg/ha, P2O5 72 kg/ha, and K2O 120 kg/ha from 400kg/ha urea, 200 kg/ha SP-36, and 200 kg/ha KCl, respectively), (P2) endomycorrhizae: 1:1 (w/w basis) endomycorrhizal inoculum-planting medium, and (P3) endomycorrhizae + organic fertilizer: 1:1 (w/w basis) endomycorrhizal inoculum-planting medium with the addition of chicken manure at a dose of 10 tons/ha. The results showed that endomycorrhizae could increase the growth of arabica coffee seedlings by increasing plant height, plant dry weight, and plant N, P, and K uptake by 15.4%, 23.3%, 52.5%, 90.8%, and 75.6%, respectively compared to the control with 67,5% of root colonization at 16 weeks after transplanting (WAT). In conclusion, endomycorrhizae can potentially increase the growth of arabica coffee seedlings under field conditions

    Pengembangan Potensi Lokal di Desa Panawangan sebagai Model Desa Vokasi dalam Pemberdayaan Masyarakat dan Peningkatan Ketahanan Pangan Nasional

    Get PDF
    Desa Vokasi merupakan desa yang dijadikan model pengembangan potensi lokal untuk meningkatkan taraf hidup masyarakat setempat. Potensi lokal pedesaan merupakan komoditas yang patut dikembangkan karena berperan penting dalam mengangkat taraf hidup bangsa pada umumnya dan masyarakat desa pada khususnya. Potensi lokal yang dikembangkan di Desa Panawangan berupa perikanan, peternakan, dan pertanian. Ketiga bidang tersebut dikembangkan dengan menerapkan bioteknologi sederhana. Budidaya ikan bawal menjadi pilihan utama untuk dikembangkan. Budidaya ikan bawal organik dengan sentuhan bioteknologi merupakan hasil penelitian di SITH. Kegiatan ini meliputi persiapan induk, larvikultur dengan sistem resirkulasi, growing, penyiapan pakan fermentasi organik, dan pemanfaatan ikan yang dihasilkan. Luas seluruh kolam ikan yang digunakan mencapai 9.433,32 m2, dimiliki oleh 30 orang petani. Pelatihan dan pendampingan diberikan oleh dosen dan 22 orang mahasiswa selama dua tahun berturut-turut. Produk yang dihasilkan dipasarkan dengan strategi bisnis dan pengemasan yang menarik, bekerja sama dengan Agato (pemasok sayuran organik). Pengembangan potensi tersebut merupakan bukti pengabdian SITH-ITB yang melakukan transfer teknologi kepada masyarakat Desa Panawangan. Dari 7 dusun yang diberikan pelatihan, saat ini telah berkembang dan diterapkan di 8 desa dan 3 kabupaten di luar Panawangan; yakni Desa Babantar, Desa Kawali Mukti, Desa Rajadesa, Desa Ciendut, Desa Nagara Pageuh, Desa Nagara Jaya, Desa Lumbung Girang, dan Desa Mulya Sari. Kabupaten yang menerapkan sistem tersebut adalah Garut, Kadipaten, dan Tasikmalaya.Kata kunci: Desa Vokasi, Potensi Lokal, Desa Panawangan, Ketahanan Pangan AbstractVocational village program is a model of local resources development for increasing wealthy in remote area. Local potential commodity is important to be developed because of its role in rising wealth. Fishery, ranch, and agriculture are the local potential commodity developed in Panawangan Village. Those commodities are developed using simple biotechnology principle. White Organic Pomfret fishery in freshwater using simple biotechnology ptinciple is the main activity in this programme as the result of research in SITH. The fishery activity includes parent preparation, larviculture with resirculation system, growing, organic fermented feed, and developing fishery product. Fishery pond with 9,433.32 m2 in wide and 30 farmers are utilized in this activity. Training and support system are provided by our team for two years. The products are packed, sold to market by using market and management strategy, in collaboration with Agato (organic vegetable supplier). Those development are the form of empowerment program by SITH ITB. Nowadays, there are 8 villages and 3 residences outside Panwangan and Ciamis apply the system. They are Babantar village, Kawali Mukti village, Rajadesa village, Ciendut village, Nagara Pageuh village, Nagara Jaya village, Lumbung Girang village, and Mulya Sari village. The residences are Garut, Kadipaten, dan Tasikmalaya.Keywords: vocational village, local potency, Panawangan Village, Food Securit

    A Review on The Production of Fermented Beverage as a Post-Harvest Processing Alternative For Mango, Banana and Purple Sweet Potato

    No full text
    West Java is one of the regions in Indonesia that produces large numbers of mango, banana, and purple sweet potato. After harvesting, these commodities will undergo physical, chemical, and physiological changes so that further post-harvest processing is needed. One of the post-harvest processing that can be done is fermentation. Fermenting mango, banana, and purple sweet potato into wine is a simple and efficient method that can increase the economic value of the product. Wine is an alcoholic beverage made from grapes; however, any fruit and tuber could be used for wine-making. The article reviews the potential of mango, banana, and purple sweet potato for wine production, the microbes involved, and pretreatments of mango, banana, and purple sweet potato

    Strategi Pengembangan Usahatani Kopi Arabika (Kasus pada Petani Kopi Di Desa Suntenjaya Kecamatan Lembang Kabupaten Bandung Barat, Provinsi Jawa Barat)

    Get PDF
    Coffee is an important export commodity for Indonesia, which is able to contribute a sizeable foreign exchange. West Bandung Regency is a regency in West Java province which have significant potential for the development of Arabica coffee commodity. Suntenjaya village, Lembang district is one of the Arabica coffee-producing areas in West Bandung regency. However, there are some obstacles in the development of arabica coffee farming including land resources utilization, harvest and post-harvest, quality and institutional aspects. Therefore, it is necessary to formulate business development strategies that can be applied arabica coffee farmers. Data and information needed were primary data and secondary data. Data were analyzed using SWOT analysis and QSPM. The study concluded that in order to help farmers in developing a business, there are several strategies a priority that can be conducted, that is  develop the processing of product, improve technical skills of farming to increase product quality, empowerment of farmer to further improve the business, increasing access to capital, optimize of farming business land, optimizing production capacity and maintain marketing network. Keywords: arabica coffee, SWOT analysis, coffee farming, the development strateg

    Pengaruh Silase Sinambung Jerami Jagung Terhadap Fermentasi Dalam Cairan Rumen Secara In Vitro

    Get PDF
    Penelitian dilakukan untuk mengevaluasi pengaruh penggunaan silase sinambung jerami jagung terhadap, nilai pH, volatile fatty acid (VFA), amonia (NH3), produksi gas total dan produksi biomassa mikroba sebagai pakan ternak ruminansia secara in vitro. Rancangan percobaan dalam penelitian ini adalah Rancangan Acak Lengkap Pola Faktorial 3x6 dengan 3 ulangan. Faktor pertama dalam rancangan penelitian ini adalah pakan perlakuan yaitu pakan kontrol (P1), jerami jagung (P2) dan silase sinambung jerami jagung (P3) dan faktor kedua adalah waktu inkubasi selama fermentasi in vitro yaitu 0, 2, 4, 6, 12 dan 24 jam (T1, T2, T3, T4, T5 dan T6). Hasil penelitian menunjukkan bahwa baik pakan perlakuan maupun waktu inkubasi tidak memberikan pengaruh yang nyata (p>0,05) terhadap nilai pH, VFA, NH3, produksi gas total dan produksi biomassa mikroba serta tidak terdapat interaksi antara perlakuan pakan dengan waktu inkubasi. Secara numerik, kisaran pH perlakuan adalah 6,89 - 7,05; konsentrasi VFA sebesar 107–110 mM, konsentrasi amonia 23,92 – 29,88 mg/100 ml, produksi gas total sebesar 27,47 – 46,31 ml/200 mg dan produksi biomassa mikroba sebesar 40,60 – 56,80 mg/20 ml. Kesimpulan pada penelitian ini adalah baik jerami jagung maupun silase sinambung jerami jagung dapat digunakan sebagai pakan ternak karena mampu memenuhi kebutuhan nutrisi ternak ruminansia ditinjau dari produksi gas dan fermentasi pakan dalam rumen.Kata kunci: silase sinambung jerami jagung, amonia, VFA, produksi gas in vitro
    corecore