Jurnal Ilmiah Aplikasi Isotop dan Radiasi
Not a member yet
    235 research outputs found

    ESTIMASI LAJU EROSI LAHAN BERLERENG DI KABUPATEN NGANJUK DENGAN TEKNIK 137Cs

    Full text link
    Penelitian erosi dengan menggunakan teknik 137Cs telah dilakukan di daerah Nganjuk. Penelitian dilakukan dalam cakupan daerah Kecamatan Sawahan, Ngetos dan Loceret, dengan luas area yang diteliti lebih dari 11000 ha. Pengambilan contoh tanah dilakukan dengan pendekatan pengelompokan berdasarkan lokasi, peta jenis tanah, peta tataguna lahan, peta topografi dan peta drainase. Dari tiap kelompok tanah, contoh tanah diambil secara sloping transek dengan kedalaman 30 cm. Adapun contoh pembanding diambil pada empat lokasi yaitu 2 dari lokasi hutan lindung, 1 dari teras kebun penduduk dan 1 dari lerengan bukit (hill slope) dengan ciri tertutup secara baik dengan tanaman rumput. Hasil inventori pembanding rerata adalah 281 Bq/m2, dan nilai ini digunakan untuk menghitung laju erosi rata-rata tahunan dari rentang waktu tahun 1963 sampai 2006. Estimasi laju erosi yang didapat bervariasi dari transek T1 sampai transek T28 yaitu antara 2 sampai lebih dari 100 ton/ha/th, dan nilai SDR dari 17 % sampai 100 %. &nbsp

    Iradiasi Bahan Pangan: Antara Peluang dan Tantangan untuk Optimalisasi Aplikasinya

    Full text link
    Iradiasi bahan pangan merupakan salah satu teknologi yang telah mapan dan berkembang di dunia pangan dalam upaya peningkatan keamanan dan kualitas pangan. Penelitian beberapa dekade telah membuktikan bahwa ir­adiasi bahan pangan merupakan teknologi yang aman. Teknologi ini memiliki potensi yang sangat besar dan sudah banyak diterapkan di berbagai negara. Namun demikian dalam aplikasinya selalu dihadapkan dengan berbagai tantangan yang menghambat optimalisasi pemanfaatannya. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengkaji faktor kritis dalam peluang dan tantangan aplikasi iradiasi bahan pangan di berbagai negara. Penelitian ini menggunakan metode meta analisis dengan menggunakan 40 jurnal sebagai sumber referensi. Berdasarkan hasil pengkajian, terdapat berbagai faktor kritis yang mempengaruhi optimalisasi aplikasi iradiasi bahan pangan. Faktor kritis tersebut meliputi sumber daya, teknologi, proses, keamanan produk, persepsi konsumen dan regulasi. Dengan mengetahui posisi semua aspek ini, maka diperlukan rancangan tindakan agar proses optimalisasi dapat diwujudkan. Hal ini bisa dilakukan dengan eksplorasi, pemetaan dan inventaris sumber daya yang ada, peningkatan kualitas maupun kuantitas fasilitas dan kegiatan penelitian, pengetatan teknik pengemasan dan pelabelan, monitoring dan pengawasan kualitas produk sepanjang rantai proses dan distribusi dari produsen kemudian distributor hingga konsumen, edukasi kepada konsumen terkait terminologi iradiasi bahan pangan, dan penetapan regulasi terkait baik di dalam negeri maupun di negara lain melalui bilateral agreements. Langkah-langkah optimalisasi ini diharapkan dapat diterapkan secara berkelanjutan dalam dunia pangan. Hal ini sejalan dengan tantangan peningkatan jumlah populasi manusia dan terbatasnya lahan pertanian, isu globalisasi dan perdagangan internasional yang membutuhkan keamanan maupun ketahanan pangan yang baik. Semua ini bisa diwujudkan dengan kerjasama dari berbagai pihak, baik pemerintah, pelaku dunia industri pangan, pemegang pasar serta masyarakat sebagai konsumen

    Exploring the Radiation Techniques in Agricultural Wastewater Management

    Full text link
    Radiation techniques have gained significant attention in the field of agricultural wastewater management due to their effectiveness in treating diverse contaminants. This review aims to explore the effects and applications of radiation techniques, including ultraviolet (UV), gamma-ray, and electron beam (EB). UV radiation utilizes ultraviolet light to break down organic pollutants, disinfect pathogens, and remove pesticides in agricultural wastewater. Besides, gamma radiation involves the use of ionizing radiation to interact with contaminants and induce degradation processes. Furthermore, EB radiation harnesses high-energy to degrade organic compounds in wastewater. The efficacy of radiation techniques in reducing pesticides, pharmaceutical residues, microorganisms or pathogens, and other organic pollutants has been widely demonstrated. These techniques offer advantages such as versatile applicability, precise targeting of contaminants, and the potential for water reuse in various agricultural sectors, such as crop irrigation, livestock farming, and food processing. However, optimizing process parameters, including radiation dose, dose rate, pH, and temperature, are crucial to maximize treatment efficiency. While radiation techniques have proven beneficial in numerous studies, potential environmental impacts must be addressed. Byproducts generated during radiation and their fate should be studied to evaluate their toxicity and persistence. Proper waste disposal, adherence to safety regulations, and monitoring programs are necessary to minimize risks and ensure the safe use of radiation techniques. In conclusion, UV-C radiation effectively use for surface disinfection, pathogen inactivation, certain pesticides and pharmaceutical residues degradation, while gamma-ray more effective than UV-C for microorganism sterilization and inactivation, pesticide and pharmaceutical residues degradation, as well as EB radiation has high dose rate and selective penetration, and the technique also has speed and precision, feasible for practical application. Thus, advancements in technology will further optimize the efficacy and sustainability of radiation-based wastewater treatment processes in agriculture

    STERILISASI MIKROBA BUBUK TALC MENGGUNAKAN SINAR GAMMA (Co-60)

    Full text link
    Kerusakan produk bedak talek umumnya disebabkan oleh pertumbuhan mikroba. Beberapa industri mengatasi masalah ini dengan menggunakan teknik pengawetan iradiasi sinar gamma (Cobalt-60). Penelitian ini mengidentifikasi jumlah mikroba yang tersisa dalam bedak talek dan struktur sel bakteri yang diiradiasi. Pada studi pendahuluan, proses iradiasi dilakukan dengan memberikan dosis iradiasi bedak talek yang terdiri dari 4 taraf yaitu 0kGy, 5kGy, 7kGy, dan 9kGy yang dilakukan di PT. Rel-ion Bekasi menggunakan sinar gamma irradiator (Co-60), dan dilanjutkan dengan uji mikrobiologi terhadap sisa mikroba dalam bedak talk yang diradiasi yang dilakukan di Laboratorium Biokimia Fakultas Sains Universitas Brawijaya. Pengujian terdiri dari penghitungan jumlah bakteri dengan metode plate count dan identifikasi struktur sel bakteri dominan menggunakan metode pewarnaan gram dan pengamatan mikroskopis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa jumlah bakteri pada bedak talek menurun seiring dengan meningkatnya dosis iradiasi. Identifikasi struktur sel bakteri yang dominan pada bedak talk yang diiradiasi menunjukkan ciri-ciri bakteri Pseudomonas aeruginosa dengan koloni bulat, licin, putih, memberikan pigmen kehijauan pada medium, dan menunjukkan sel bakteri gram negatif, dengan struktur batang, kadang-kadang bergandengan dan bercabang tidak beraturan dan berwarna merah

    Gamma Tomography as The Complementary Technique for Pipe Scale Investigation: Field Experiment at Petrochemical Plant

    No full text
    Crack gas flowing from furnace to gasoline fraction tower through BA-106 pipeline. The pipeline has not been inspected for 30 years of operation and it is suspected that there is pipe scale in it. The scaling reduces the inner diameter of the pipe which disrupt the pipeline flow rate that might cause a fatal accident. The scale particles also became impurities in the subsequent process. The information on scale conditions inside the pipeline is needed to determine further action to ensure safety and maintain the productivity of the plant. The gamma scanning technique was conducted at 18 points to diagnose the scaling profile inside the pipe. A collimated 2.96 GBq 137Cs radiation source emits a pencil beam of gamma photons to penetrate the pipe. A NaI(Tl) scintillation detector was placed opposite the gamma source to detect the photons. They were moving in parallel vertically and horizontally for every 10 mm step to get the attenuation profile of the pipe. Furthermore, a tomography scan was performed at selected points with 32 projections data. So far previous experiments were performed in the laboratory and the objects were smaller (less than 500 mm), however, the current experiment was performed in real industrial plants and the object diameter was about 1500 mm. The reconstructed image has been successful in showing the cross-sectional of the pipe that consists of scale inside it. The image was analyzed to get the percentage of the remaining fluid area due to scaling. The remaining fluid area was 56.15% of normal pipe without scale. It was proved that the gamma tomography technique is suitable for pipe scale measurement to get the cross-section visualization of the pipe

    Nilai Duga Keragaman Genetik, Heritabilitas, dan Korelasi antar Karakter Mutan Rumput Gajah Generasi MV3

    Full text link
    Tanaman rumput gajah (Cenchrus purpureus (Schumach.) Morrone) hasil iradiasi sinar gamma yang unggul dan stabil secara genetik dapat diperoleh melalui seleksi. Mutan rumput gajah generasi MV1 dan MV2 belum stabil secara genetik sehingga perlu dilakukan seleksi pada generasi MV3. Seleksi merupakan salah satu tahapan pemuliaan tanaman untuk perbaikan karakter dan dapat dilakukan berdasarkan parameter genetik, yaitu keragaman genetik, heritabilitas, dan korelasi antar karakter. Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui nilai duga keragaman, nilai duga heritabilitas, dan korelasi antar karakter mutan rumput gajah generasi MV3. Penelitian dilakukan menggunakan sampel mutan rumput gajah generasi MV3 dengan 18 perlakuan hasil iradiasi (B1D0, B1D1, B1D2, B1D3, B1D4, B1D5, B2D0, B2D1, B2D2, B2D3, B2D4, B2D5, B3D0, B3D1, B3D2, B3D3, B3D4, B3D5) pada generasi MV2 dan 3 ulangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai duga keragaman genetik tergolong rendah, sedang, dan tinggi, sedangkan nilai duga heritabilitasnya rendah dan sedang. Koefisien korelasi antar karakter mutan rumput gajah generasi MV3 menunjukkan hasil positif dengan derajat keeratan hubungan lemah, sedang, kuat, dan sangat kuat. Keragaman genetik, heritabilitas, dan korelasi dengan nilai sedang–tinggi (kuat) terdapat pada karakter jumlah daun, jumlah buku batang, berat segar, kandungan bahan kering, abu, dan bahan organik. Karakter tersebut dapat dijadikan sebagai karakter seleksi sehingga berguna untuk acuan dasar proses seleksi mutan rumput gajah generasi MV3.&nbsp

    Kemajuan Genetik dan Heritabilitas Pada Populasi F2 dari Turunan Mutasi Padi Rojolele

    No full text
    Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi keragaman yang muncul pada populasi padi F2 dari hasil persilangan antara induk tanaman mutan (padi lokal: Rojolele) dengan tanaman mutan (padi hasil iradiasi: Rojolele Srinar dan Rojolele Sriten), dan menghitung nilai heritabilitas serta kemajuan genetik populasi F2 hasil persilangan R. Srinar dengan Rojolele (SIR) dan R. Sriten dengan Rojolele (SER). Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Februari sampai Juli 2021 di rumah kaca dan lahan percobaan Pusat Riset Teknologi Proses Radiasi, Jakarta. Dua populasi F2 hasil persilangan SIR dan SER, dan tiga induk persilangan digunakan dalam penelitian ini. Secara berurutan, sebanyak 221 dan 204 sampel tanaman SIR dan SER, dan sebanyak 16 tanaman yang mewakili masing-masing induk. Penelitian ini menggunakan analisis skewness dan kurtosis untuk melihat pendugaan aksi gen dan jumlah gen pada populasi F2 persilangan SIR dan SER untuk 5 (lima) karakter, yaitu umur berbunga, tinggi tanaman, panjang malai, panjang daun bendera, dan jumlah anakan. Umur berbunga pada F2 persilangan SIR diduga terdapat aksi gen epistatis komplementer dan melibatkan banyak gen, sedangkan pada karakter lainnya dikendalikan sedikit gen dengan beberapa variasi aksi gen. Kemudian, pada F2 persilangan SER hanya pada jumlah anakan yang dikendalikan oleh banyak gen dengan aksi gen Aditif. Untuk nilai ragam genotipe dan fenotipe pada populasi F2 hasil persilangan SIR dan SER ditemukan nilai yang tinggi sehingga dikategorikan memiliki keragaman yang luas. Kelima karakter agronomi populasi F2 persilangan SIR menunjukkan rentang nilai antara 77,91 sampai 96,73 yang termasuk kriteria heritabilitas tinggi. Kritera yang sama juga ditemukan pada persilangan SER dengan rentang 71,58 sampai 99,36. Lebih lanjut, pada persentase kemajuan genetik (KG), semua termasuk berkriteria tinggi, kecuali pada umur berbunga pada F2 SIR, sedangkan KG populasi F2 SER semua karakter tergolong KG sedang kecuali pada karakter panjang daun bendera dan jumlah anakan

    Laktosa sebagai Material Dosimeter ESR Dosis Tinggi

    Full text link
    oai:ejournal.brin.go.id:article/7169Pemanfaatan iradiasi gamma dalam kehidupan sehari-hari cukup beragam, seperti sterilisasi, pasteurisasi, polimerisasi, mutasi bibit unggul, dan lain sebagainya. Tujuan iradiasi terpenuhi jika dosis dosis iradiasi terpenuhi dan tepat mengenai sampel. Dosis iradiasi yang terserap bahan dapat dipastikan dengan menggunakan dosimeter. Saat ini banyak penelitian menggunakan material baru untuk pengembangan dosimeter dosis tinggi. Penelitian tersebut dilakukan menggunakan Electron Spin Resonance (ESR). Material yang dapat dijadikan dosimeter ESR adalah material tersebut memiliki nilai g-value cukup besar, garis-garis spektrum yang tajam, kestabilan sinyal yang bagus pada temperatur ruang dan jumlah radikal bebas meningkat secara linier terhadap dosis iradiasi. Kriteria ini terdapat pada material disakarida. Jenis disakarida yang sedang diteliti umumnya adalah sukrosa dan laktosa. Namun, penelitian laktosa sebagai dosimeter ESR belum banyak dilakukan. Sehingga perlu dilakukan penelitian lebih lanjut untuk menggali potensi laktosa sebagai dosimeter ESR. Penelitian ini bertujuan menganalisis karakterisasi laktosa sebagai dosimeter ESR dosis tinggi melalui iradiasi gamma. Pengujian yang dilakukan untuk mengkonfirmasi karakteristik laktosa sebagai dosimeter dosis tinggi adalah linieritas respon laktosa iradiasi terhada dosis iradiasi, microwave power, g-value, waktu kestabilan respon, peluruhan respon terhadap waktu, dan pengujian Fourier Transform Infra Red (FTIR) untuk mengetahui perubahan gugus fungsi laktosa setelah iradiasi yang diduga menjadi penyebab munculnya sinyal ESR.  Laktosa iradiasi memiliki respon linier terhadap dosis iradiasi pada rentang 250Gy – 80 kGy, waktu respon stabil 2 hari setelah iradiasi, g-value laktosa iradiasi 5 kGy,10 kGy dan 15 kGy secara berturut-turut 1,9991 ± 0,0002, 1,9991 ± 0,0003, dan 1,9989 ± 0,0001, terdapat gugus fungsi karbonil pada laktosa iradiasi 15 kGy dengan masa simpan 7 dan 23 hari, dan terdapat gugus fungsi nitro pada laktosa iradiasi 10 kGy dan 15 kGy dengan masa simpan 23 hari.  Hasil tersebut menunjukkan bahwa laktosa baik digunakan sebagai dosimeter ESR dosis tinggi

    Observation of Schrinkage Indications in Excavator’s Bracket Casting Using Film Based Radiography

    Full text link
    Experimental studies have been conducted to examine the casting quality of the excavator’s bracket sample using film-based conventional radiography. Referenced standards are ASME Section V Article 2 and/or ASME E94 about radiographic examination. There are 26 areas that have been exposured for the entire surface of the bracket sample. Under viewing, area number 13 revealed the most severe defects. Therefore area number 13 is discussed in this study.  Area number 13 of the bracket sample with the thickness of 16 mm was exposured using Co-60 gamma rays radiation source with activity of 80 Ci. The exposure was performed from the distance of 360 mm for 27 second. The D7 medium speed radiographic film was used to record the latent image of the exposured sample. The exposured film was then developed in chemical solutions to convert the latent image into permanent image or radiograph. The radiograph is analyzed using a light viewer to see whether there are any indications in the sample being examined. Under viewing, indications of distributed shrinkage in the casting body were apparently observed. These indications are fall into category of C4 according to the radiograph album of ASME E446 standard for steel casting with thickness up to 2 in. (50.8 mm). Defects of C4 are categorized as bad. The experiment concludes that the casting quality of the excavator’s bracket is poor and it is recommended that the bracket should be repaired and re-tested radiographically. Otherwise, the bracket sample is prohibited to use for services because of unsafe reason

    Pengaruh Cekaman Kekeringan Berulang Fase Vegetatif dan Terminal pada Padi Gogo Mutan Towuti

    Full text link
    Perubahan pola iklim dan curah hujan menyebabkan meningkatnya risiko kekeringan terutama di lahan kering. Cekaman kekeringan pada budidaya padi dapat terjadi secara tunggal maupun berulang atau sering disebut cekaman ganda. Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan respon pertumbuhan beberapa galur padi M3 dan varietas pembanding pada kondisi cekaman kekeringan pendek ganda yaitu kekeringan pada awal tanam saat vegetatif dan terminal saat pembungaan. Percobaan ini menggunakan 24 galur padi gogo M3, Varietas Towuti (cek Indukan), IR20 (cek peka), dan Salumpikit (cek toleran). Hasil penelitian menunjukkan dari 24 galur padi M3, galur Tw16, Tw18 dan Tw22 merupakan galur yang toleran berdasarkan nilai derajat kekeringan (DTD), Skor recovey dan Skor daun mengering fase terminal. Nilai derajat kekeringan (DTD) beberapa galur mutan yang toleran (>0,85), memiliki skor daya tumbuh kembali yaitu <3 dan skor daun mengering fase terminal kurang dari 4. Cekaman kekeringan pada awal tanam dan terminal secara signifikan menurunkan rata-rata tinggi tanaman dan jumlah anakan total. Galur  Tw16, Tw18 dan Tw22 merupakan galur harapan yang akan diuji pada tahapan penanaman generasi M4

    224

    full texts

    235

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Jurnal Ilmiah Aplikasi Isotop dan Radiasi
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇