2,293 research outputs found
PERKEMBANGAN SMIP PARAMITHA BUKITTINGGI MENJADI SMKS PARAMITHA BUKITTINGGI TAHUN 1991-2021
Skripsi ini berjudul “Perkembangan SMIP Paramitha Bukittinggi menjadi SMK Paramitha Bukittinggi Tahun (1991-2021)"yang termasuk dalam kategori penulisan sejarah pendidikan dan menggunakan pendekatan sejarah sosial. Sekolah ini merupakan suatu lembaga pendidikan kejuruan di Pariwisata yang ada di Sumatera Barat khususnya di Kota Bukittinggi, dengan program belajar 3 (tiga) tahun.
Skripsi ini menggunakan metode penelitian sejarah yakni melalui heuristik, kritik, interpretasi, dan historiografi. Pengumpulan data dilakukan dengan dua cara: penelitian perpustakaan untuk mendapatkan sumber-sumber tertulis dan arsip-arsip serta dilakukan juga penelitian lapangan dengan melakukan wawancara guna mendapatkan sumber-sumber lisan yang dibutuhkan untuk mendukung penulisan skripsi ini.
Perubahan nama dari Sekolah Menengah Industri Pariwisata (SMIP) menjadi Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) dilakukan Pada tahun 1997 melalui SK Menteri Pendidikan dan Kebudayan Republik Indonesia nomor 036/0/1997.Gedung atau ruang belajar yang digunakan pertama sekali adalah mengontrak kepada warga setempat yang letaknya di jalan Veteran No 79.C, Proses belajar mengajar serta penerimaan murid baru dilaksanakan di sini dari tahun 1991-1993. Sekolah mengalami perpindahan gedung menuju daerah Tangah Sawah tepatnya di Jl. Syekh Ibrahim Musa dari tahun 1993 sampai dengan 1999, Sekolah kembali mengalami perpindahan gedung dari tahun 1999 sampai dengan 2001 SMIP Paramitha berlokasi di JL. Jambak Bukit Apit Puhun. Perpindahan gedung sekolah kembali terjadi di tahun 2001 – 2003 ke daerah Belakang Balok Bukittinggi lebih tepatnya JL. Kejaksaan. Sekolah pernah menempati di Kodim 03/04 Agam selama tahun 2003-2004 lalu kembali lagi ke JL. Veteran no 79 C.
Perkembangan SMIP dilihat dari dua periode, yakni periode I tahun 1991-1997 dan periode II tahun 1997-2022. Perbedaan antara kedua periode sekolah tersebut, diantaranya periode I sekolah ini bernama SMIP Paramitha Bukittinggi, periode II bernama SMK Paramitha Bukittingg
CATUR PARAMITHA DASAR FILOSOFI BUDAYA ETIKA KEPEMIMPINAN MODERN
ABSTRAKEtika kepemimpinan dapat menjadi faktor kompetitif dalam menggerakkan dan mengakselerasi peningkatan integritas dan kepercayaan anggota organisasi. Etika kepemimpinan berdasarkan kearifan lokal yaitu Catur Paramitha, digunakan sebagai dasar dalam membangun etika kepemimpinan modern. Tujuan penelitian ini adalah untuk memahami bagaimana Catur Paramitha yang merupakan filosofi budaya Bali dapat diterjemahkan ke dalam etika kepemimpinan modern. Metodologi penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif eksploratif yang di dukung referensi dan pengalaman dalam memaknai sudut pandang filososofi budaya mendeskripsikan etika kepemimpinan modern. Hasil yang diperoleh bahwa etika kepemimpinan Catur Paramitha merupakan pedoman pemimpin dalam mengambil keputusan berdasarkan empat macam sifat dan sikap utama yang patut dijadikan landasan berorganisasi, yaitu; Maitri (memandang orang lain sebagai sahabat), Karuna (memberikan bantuan kepada siapa saja yang membutuhkan), Mudita (selalu bersimpati pada orang lain), Upeksa (toleransi dan menghargai orang lain). Etika kepemimpinan Catur Paramitha erat kaitannya dengan kehidupan dan budaya masyarakat Bali, namun pemaknaannya dapat diadopsi dalam kehidupan berorganisasi baik bisnis maupun non-bisnis. Landasan filosofi Catur Paramitha dapat digunakan sebagai pedoman dalam mengimplemetasikan etika kepemimpinan modern.Kata Kunci: Etika Kepemimpinan, Catur Paramitha, Budaya, Filosofi, Kompetitif.ABSTRACTEthical leadership can be a competitive factor in driving and accelerating the integrity and trust increase of organizational members. Leadership ethics based on local wisdom, namely Catur Paramitha, is used as a basis for building modern leadership ethics. The purpose of this study is to understand how Catur Paramitha which is a Balinese cultural philosophy can be translated into modern leadership ethics. The research methodology uses an exploratory qualitative approach supported by references and experience in interpreting the cultural philosophy point of view describing modern leadership ethics. The results obtained show that the leadership ethics of Catur Paramitha is a guideline for leaders in making decisions based on four main characteristics and attitudes that should be used as the basis for organization, namely; Maitri (viewing other people as friends), Karuna (providing help to anyone who needs it), Mudita (always sympathizing with others), Upeksa (tolerance and respect for others). Catur Paramitha's leadership ethic is closely related to the life and culture of the Balinese people, but its meaning can be adopted in organizational life, both business and non-business. The foundation of the Catur Paramitha philosophy can be used as a guide in implementing modern leadership ethics. Keywords: Leadership Ethics, Catur Paramitha, Culture, Philosophy, Competitiveness
IDHS 2017
Prevalence and factors associated with female child marriage in Indonesia-datase
MANAJEMEN SERTIFIKASI PROFESI OLEH LEMBAGA SERTIFIKASI PROFESI PIHAK PERTAMA (LSP P1) SEKOLAH MENENGAH KEJURUAN PARAMITHA JAKARTA
Penelitian ini bertujuan: (1) Mengetahui perencanaan sertifikasi profesi
oleh Lembaga Sertifikasi Profesi Pihak Pertama (LSP P1) SMK Paramitha
Jakarta, (2) Mengetahui pelaksanaan sertifikasi profesi oleh Lembaga
Sertifikasi Profesi Pihak Pertama (LSP P1) SMK Paramitha Jakarta, dan (3)
Mengetahui evaluasi sertifikasi profesi oleh Lembaga Sertifikasi Profesi Pihak
Pertama (LSP P1) SMK Paramitha Jakarta. Penelitian ini menggunakan
pendekatan kualitatif dengan metode deskriptif. Teknik pengumpulan data
yang digunakan adalah wawancara, observasi, dan studi dokumentasi.
Hasil penelitian ini adalah (1) sebelum memulai sertifikasi kompetensi,
LSP P1 SMK Paramitha perlu membentuk organisasi yang solid serta
memiliki legalitas hukum berupa SK yang ditanda tangani oleh pimpinan. LSP
juga wajib menyiapkan segala dokumen, sarana, prasarana, dan perangkat
kerja asesmen juga harus dibutuhkan. Setelah semua persiapan itu selesai
maka LSP akan mengajukan izin lisensi kepada BNSP. Jika semua hal sudah
memenuhi sesuai dengan pedoman BNSP, maka LSP tersebut berhak
memperoleh izin lisensi dari BNSP. LSP yang sudah berlisensi sudah boleh
melakukan tugas asesmennya kepada peserta didik. (2) dalam pelaksanan
sertifikasi, LSP P1 SMK Paramitha selalu menjunjung tinggi prinsip
objektivitas dan ketidakberpihakan. Tahapan pelaksanaan sertifikasi LSP P1
SMK Paramitha Jakarta dimulai dengan adanya sosialisasi, peserta didik
wajib menyiapkan dan memenuhi segala persyaratan yang dibutuhkan,
verifikasi Tempat Uji Kompetensi (TUK), pelaksanaan asesmen, LSP
memberikan keputusan kepada asesi, kaji ulang, rapat pleno, dan pembagian
sertifikat hasil asesmen. (3) Pada tahap pengendalian dan evaluasi, LSP P1
SMK Paramitha memiliki 3 macam pengendalian. Pertama, yaitu dengan
melaporkan hasil asesmen kepada BNSP setiap selesai pelaksanaan
asesmen. Kedua, yaitu dengan mengadakan audit internal dengan sistem
audit menyilang. Ketiga, adanya survailan yang dilakukan BNSP terhadap
LSP
REDESAIN STUDIO PRODUKSI PT GENTABUANA PARAMITHA FILM DI JAKARTA
Salah satu unsure yang paling penting dari alat komunikasi visual masa yang dikenal sekarang adalah film. Film adalah dokumen kehidupan social sebuah komunikasi. Film menunjukkan pada masyarakat jejak-jejak yang ditinggalkan pada masa lampua, cara menghadapi masa kini, dan keinginan manusia terhadap masa yang akan datang sehingga dalam perkembangannya film bukan lagi sekedar usaha menampilkan “citra bergerak” (moving image), namun juga telah diikuti oleh muatan-muatan kepentingan tertentu seperti: politik, kapitalisme, hak asasi manusia ataupun gaya hidup (www.kunci.or.id). Fenomena perkembangan film di Indonesia meningkat dengan sangat cepat. Perubahan ide dan thema pun terjadi secara terus- menerus, membentuk suatu komuniti trend sendiri. Dengan perkembangan yang terjadi, perfilman tidak hanya sebagai media rekreasi, akan tetapi juag dapat dimanfaatkan sebagai media pendidikan, bisnis, kebudayaan, promosi melalui pesan-pesan yang disampaikan.
Dalam rangka menyesuaikan dengan perubahan tersebut, sehingga dapat memberikan suatu produk film bermutu, perlu dipersiapkan perencanaan yang bersifat komprehensif dan terpadu sehingga pelaksanaan proses produksi dalam sebuah Studio Produksi Film dapat dilakukan dengan baik.
Sejalan dengan berubahnya permintaan pasar, dan persaingan bisnis yang sangat ketat, membuat studio produksi film berlomba-lomba untuk menghasilkan produk yang berkualitas dan bermutu tinggi. Film-film yang dihasilkan diharapkan selalu dapat mengikuti trend yang berkembang di masyarakat, karena selain lebih menarik, dari segi bisnis pun akan lebih menguntungkan.
PT. Gentabuana Paramitha Film adalah salah satu studio produksi film di Jakarta, dengan film-film kolosal sebagai produk utamanya, seperti: Tutur Tinular, Misteri Gunung Merapi, Angling Dharma, dsb. Studio produksi ini juga memiliki studio alam sendiri untuk mendukung proses produksinya, dan merupakan studio produksi film dengan studio alam terbesar hingga se-Asia Tenggara.
Kurang lebih 10 tahun yang lalu, mulai diproduksi beberapa film kolosal dengan setting hutan belantara dan beberapa set bangunan pendukung lainnya, seperti: rumah, pagar, taman, jalan, dsb. Set-set tersebut masih sangat sederhana karena factor modal yang masih sangat terbatas. Beberapa kurun waktu berjalan, ternyata film-film kolosal, diterima baik oleh masyarakat, sehingga secara bertahap mulai direncanakan untuk dibangun setting uang lebih representative dan diputuskanlah untuk memanfaatkan lahan BUPERTA (Bumi Perkemahan dan Pariwisata) di wilayah Ciracas, Jakarta Timur sebagai tempat yang tepat untuk pengembangan lokasi. Lokasi BUPERTA mudah dijangkau dan tingkat kebisingannya juga relative sangat rendah.
Berubahnya permintaan pasar, telah merubah beberapa hasil produksi film Gntabuana sehingga ketika terjadi booming film-film religius, beberapa film modern religius pun telah dihasilkan oleh PT. Gentabuana Paramitha Film, seperti: Kuasa Ilahi, Suratan Takdir, dsb. Film-film religius ini memiliki nilai pendidikan keagamaan yang tinggi.
Dengan semakin meningkatnya jumlah film yan diproduksi maka semakin banyak pula junlah pemain, kru, maupun karyawan yang dipekerjakan, karena dibutuhkan luasan ruang yang lebih besar untuk menampung beberapa fasiliyas pendukung produksinya.
Pola tata ruang an sirkulasi pada studio produksi PT. Gentabuana juga perlu mendapatkan pembenahan, misalkan letak bengkel kerja peralatan yang berdekatan dengan ruang kostum dan make up sehingga menimbulkan kebisingan dan ketidak nyamanan, letak bengkel kerja pembuatan property yang berdekatan dengan ruang kantor pra dan pasca produksi, luas koridor sirkulasi kantinnya yang juga terlalu sempit, pencapaian dari area parker ke bangunan yang cukup jauh, serta masih banyak lagi peletakan beberapa ruangnya yang juga kurang tepat.
Dari uraian permasalahan tersebut diatas, dapat ditarik kesimpulan bahwa di Studio Produksi PT. Gentabuana Paramitha Film memerlukan proses redesain, dengan pola tata ruang yang lebih baik dan tepat serta dengan luasan ruangan yang lebih memadai, sehingga dihasilkan bangunan yang lebih representative, efisien dan fungsional. Oleh karena itu, untuk mengatasi permasalahan tersebut diperlukan perencanaan dan perancangan tentang Studio Produksi PT. Gentabuana Paramitha Film dengan penekanan desain Neo-Vernacular, yaitu menggunakan konsep gabungan antara modern dan tradisional, dimana modern, karena disesuikan dengan dinamika PT. Gentabuana yang selalu mengikuti perkembangan jaman, tetapi tetap mempertahankan keaslian konsep bangunannya yang tradisional, sesuai dengan asal mula dan ikon produksinya yaitu film-film kolosal yang juga masih tetap dipertahankan dan diproduksi hingga saat ini.
1.2 Tujuan dan Sasaran
1. Tujuan
Mengidentifikasikan permasalahn dan mengungkapkan pemecahan yang berkaitan dengan Studio Produksi PT. Gentabuana Paramitha Film, yang selanjutnya dapat digunakan sebagai landasan dan titik tolak perencanaan dan perancangan dalam memperbaiki dan meredesain Studio Produksi PT. Gentabuana Paramitha Film.
2. Sasaran
Tersusunnya langkah-langkah kegiatan penyusunan Landasan Program Perencanaan dan Perancangan Arsitektur (LP3A) dengan judul Studio Produksi PT. Gentabuana Paramitha Film berdasarkan atas aspek fungsional, aspek teknis, aspek kinerja, aspek kontekstual, dan aspek arsitekturalnya.
1.3 Manfaat
1) Secara Subyektif
• Guna memenuhi salah satu persyaratan dalam menempuh Tugas Akhir sebagai ketentuan kelulusan Sarjana Strata 1 (S1) pada Jurusan Arsitektur Fakultas Teknik UNDIP Semarang.
• Sebagai dasar acuan proses perencanaan dan perancangan Desain Grafis Arsitektur.
• Sebagai referensi yang berisikan data-data dan studi-studi pendekatan.
2) Secara Obyektif
• Sebagai tambahan wawasan dan perkembangan ilmu pengetahuan bagi masyarakat pada umumnya dan mahasiswa arsitektur yang akan mengajukan proposal Tugas Akhir pada khususnya, serta sebagai landasan pada proses Desain Grafis Arsitektur (DGA).
• Diharapkan dapat menjadi masukan bagi PT. Gentabuana Paramitha Film dalam merencanakan penataan kembali fasilitas-fasilitas utamanya sesuai dengan arah pengembangan perusahaan.
1.4 Lingkup Pembahasan
Lingkup pembahasan menitikberatkan pada berbagai hal yang berkaitan dengan Studio Produksi Film ditinjau dari disiplin ilmu arsitektur. Hal-hal diluar ilmu arsitektur akan dibahas secara singkat sesuai logika untuk melengkapi pembahasan masalah utama.
Pembahasan perencanaan dan perancangan abik dari segi kualitatif maupun dari sgi kuantitatif berdasarkan studi banding dari berbagai studio produksi film baik yang terletak di Jakarta sebagai pusat film nasional maupun yang terletak di luar negeri. Hasil yang muncul diharapkan dapat menjadi suatu solusi penyelesaian permasalahan yang ada.
1.5 Metode Pembahasan
Metode pembahasan yang dilakukan dengan metode deskriptif, yaitu menguraikan dan menjelaskan data, kemudian dianalisa sesuai dengan kaidah arsitektur untuk menghasilkan kesimpulan, batasan dan anggapan, yang digunakan sebagai dasar dari perencanaan dan perancangan Studio Produksi PT. Gentabuana Paramitha Film.
Langkah – langkah pengumpulan data dilakukan dengan :
1) Studi kepustakaan
Studi kepustakaan yaitu data sekunder berupa buku-buku, brosur-brosur dan situs di internet yang berhubungan dengan studio produksi film yang digunakan sebagai acuan dalam perencanaan dan perancangan.
2) Wawancara
Wawancara yaitu dialog pihak-pihak terkait dan kompeten dengan topic permasalahan untuk mendapatkan data primer. Hal ini dilakukan untuk menggali data mengenai berbagai hal yang berkaitan dengan topic.
3) Observasi lapangan
Observasi lapangan dilakukan dengan mengadakan pengamatan dan pendataan langsung di lokasi.
1.6 Sistematika Pembahasan
Sistematika pembahasan dalam penyusunan Landasan Program Perencanaan dan Perancangan Arsitektur ini adalah sebagai berikut :
BAB I PENDAHULUAN
Menguraikan latar belakang, tujuan dan sasaran, manfaat, lingkup pembahasan, metode pembahasan, sistematika pembahasan dan alur pikir.
BAB II TINJAUAN UMUM STUDIO PRODUKSI FILM DAN STUDI BANDING
Menguraikan tentang tinjauan film, menguraikan tinjauan studio produksi film, serta studi banding.
BAB III TINJAUAN KHUSUS STUDIO PRODUKSI PT. GENTABUANA PARAMITHA FILM
Menguraikan tentang tinjauan Propinsi DKI Jakarta, tinjauan Kotamadya Jakarta Timur, tinjauan kawasan Bumi Perkemahan dan Graha Wisata (Buperta), dan tinjauan Studio Produksi PT. Gentabuana Paramitha Film.
BAB IV KESIMPULAN, BATASAN ANGGAPAN
Mengungkapkan kesimpulan, batasan dan anggapan dari uraian pada bab sebelumnya.
BAB V PENDEKATAN PERENCANAAN DAN PERACANGAN STUDIO PRODUKSI PT. GENTABUANA PARAMITHA FILM
Menguraikan dasar-dasar pendekatan dan menguraikan pendekatan aspek kontektual, aspek fungsional, aspek kinerja, aspek teknis, dn aspek arsitektural.
BAB VI KONSEP DAN PROGRAM PERENCANAAN & PERANCANGAN STUDIO PRODUKSI PT. GENTABUANA PARAMITHA FILM
Membahas mengenai konsep perancangan bangunan yang meliputi penekanan desain konsep arsitektur Neo-Vernakuler, konsep bentuk dan konsep pendukung yang digunakan serta mengenai program perencanaan yang meliputi program ruang, luas dan dimensi tapak
Peer Review: Predisposing Faktor Kunjungan Balita ke Posyandu di Desa Ketajen Gedangan Sidoarjo
Ini merupakan peer review oleh Siti Cholifah, S.ST, M.Keb sebagai reviewer I dan Sri Mukhodim Faridah Hanum, S.ST, M.M, M.Kes sebagai reviewer II terhadap artikel ilmiah yang berjudul "Predisposing Faktor Kunjungan Balita ke Posyandu di Desa Ketajen Gedangan Sidoarjo " yang ditulis oleh Cholifah, Rafhani Rosyidah, Paramitha Amelia Kusumawardani. dipublikasikan oleh Midwiferia di URL : http://ojs.umsida.ac.id/index.php/midwiferia/article/view/152
S T U D I E F I S I E N S I T E K N I S D A N E K O N O MI S USAHATANI TEBU SENDIRI DAN TEBU RAKYAT DI PABRI K GULA PADJARAKAN
Studi Efisiensi Teknis dan Ekonomis Usahatani Tebu Sendiri dan Tebu
Rakyat di Pabrik Gula Padjarakan. Pradnya Paramitha, 101510601043; 2014.
167 halaman; Program Studi Pertanian Fakultas Pertanian Universitas Jember.
PG Padjarakan merupakan salah satu pabrik gula dibawah naungan PT.
Perkebunan Nusantara XI
Hasil analisis menunjukkan bahwa
Peer Review: Hubungan Sikap Ibu dengan Pelaksanaan Metode Kangguru (Kangoroo Mother Care)pada Bayi Berat Lahir Rendah di RS Siti Khodijah Sepanjang
Ini merupakan peer review oleh Siti Cholifah, S.ST, M.Keb sebagai reviewer I dan Sri Mukhodim Faridah Hanum, S.ST, M.M, M.Kes sebagai reviewer II terhadap artikel yang berjudul "Hubungan Sikap Ibu dengan Pelaksanaan Metode Kangguru (Kangoroo Mother Care)pada Bayi Berat Lahir Rendah di RS Siti Khodijah Sepanjang" yang ditulis oleh Paramitha Amelia Kusumawardani, S.ST, M.Keb dan Cholifah, S.ST, M.Kes, dipublikasikan oleh Midwiferia di URL :http://ojs.umsida.ac.id/index.php/midwiferia/article/view/186
Peer Review : The Relations History of Premature Birth and Hidramnion With Low Birth Weight
Ini merupakan peer review oleh Siti Cholifah, S.ST, M.Keb sebagai reviewer I dan Sri Mukhodim Faridah Hanum, S.ST, M.M, M.Kes sebagai reviewer II terhadap artikel Ilmiah yang berjudul "The Relations History of Premature Birth and Hidramnion With Low Birth Weight" yang ditulis oleh Paramitha Amelia Kusumawardani, S.ST, M.Keb dan Cholifah, S.ST, M.Kes. dipublikasikan oleh IOP Publishing, Lt.d di URL : https://iopscience.iop.org/article/10.1088/1742-6596/1114/1/01201
Implementasi Kebijakan Sistem Manajemen Mutu (SMM) ISO 9001:2008 di Kolese Dharma Paramitha Studi Tentang Standarisasi Mutu Pelayanan Pendidikan di SMK Paramitha 1 Jakarta dalam Upaya Memberikan Kepuasan Kepada Pelanggan
Penelitian ini berdasarkan belum efektifnya Implementasi Sistem
Manajemen Mutu ISO 9001:2008 dalam upaya memberikan kepuasan kepada
pelanggan di SMK Paramitha 1 Jakarta. Tujuan Penelitian ini adalah untuk
mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi implementasi kebijakan SMM ISO
9001:2008 belum berjalan secara efektif, sehingga upaya standarisasi mutu
pelayanan pendidikan kepada para siswa belum tercapai dan strategi apa yang harus
diterapkan oleh Kepala Sekolah SMK Paramitha 1 Jakarta agar kebijakan tersebut
efektif.
Penulis menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan deskriptif,
pengumpulan data primer dilakukan dengan wawancara terhadap informan kunci
yaitu Kepala SMK Paramitha dan informan lainnya yaitu Ketua Program Studi.
Untuk menjamin keaslian informasi yang diperoleh dari informan kunci dilakukan
triangulasi terhadap sumber data dan cara pengumpulan data yaitu dengan studi
dokumen dan observasi. Di samping itu triangulasi juga dilakukan peneliti melalui
konfirmasi terhadap informan kunci dengan angket yang disebarkan kepada guru
dan siswa kelas XI dan kelas XII. Cara ini mengacu pada teori Creswell yang
membenarkan data dengan cara kuantitatif dalam penelitian kualitataif atau yang
disebut dominan kurang dominan.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa faktor komunikasi, sumber daya, sikap
pelaksana dan struktur birokrasi menjadi faktor yang sangat berpengaruh terhadap
efektivitas implementasi SMM ISO 9001:2008 di SMK Paramitha 1 Jakarta.
Kata kunci
Faktor komunikasi, sumber daya, sikap pelaksana dan struktur birokrasi menjadi faktor yang sangat
penting dan berpengaruh terhadap efektivitas implementasi SMM ISO 9001:2008 di SMK Paramitha
1 Jakarta. / This research was concerned with the ineffective of ISO 9001:2008 Quality
Management System implementations in an effort to give satisfaction to the
customer in SMK Paramitha 1 Jakarta. The purpose of this research was to
determine the factors that influence the implementation of ISO 9001:2008 QMS
policies which have not been working effectively yet, in which the efforts to
standardize the quality of educational services to students have not been achieved
yet and what strategies should be implemented by the Principal of SMK Paramitha
1 Jakarta to the policies in order to be working effectively.
In order to find out the factors, a qualitative method with the descriptive
approach was employed. Interview with key informants, whom are the Principal of
SMK Paramitha 1 Jakarta and Chairman of the Study Program, was done to get the
primary data. To ensure the authenticity of the information obtained from key
informants, triangulation of data sources was conducted, and then document study
and observation were done to collect the data. Triangulation was also conducted
with key informants confirmed by the questionnaires distributed to the teachers and
students of grade XI and XII. In this research, the researcher adapted to Cresswell
theory which confirms the data by means of quantitative in qualitative research or
which is called dominant less dominant.
The result of the research reveals that communication, resources, attitude of
implementer, and bureaucratic structure become the critical factors to the
effectiveness of ISO 9001:2008 QMS implementations in SMK Paramitha 1
Jakarta.
Keyword
Communication, resources, attitude of implementer, and bureaucratic structure become the critical
factors to the effectiveness of ISO 9001:2008 QMS implementations in SMK Paramitha 1 Jakart
- …
