1,720,986 research outputs found

    Going Beyond Counting First Authors in Author Co-citation Analysis

    Get PDF
    The present study examines one of the fundamental aspects of author co-citation analysis (ACA) - the way co-citation counts are defined. Co-citation counting provides the data on which all subsequent statistical analyses and mappings are based, and we compare ACA results based on two different types of co-citation counting - the traditional type that only counts the first one among a cited work's authors on the one hand and a non-traditional type that takes into account the first 5 authors of a cited work on the other hand. Results indicate that the picture produced through this non-traditional author co-citation counting contains more coherent author groups and is therefore considerably clearer. However, this picture represents fewer specialties in the research field being studied than that produced through the traditional first-author co-citation counting when the same number of top-ranked authors is selected and analyzed. Reasons for these effects are discussed

    KONSEP HARMONI DALAM TUTURAN TABU DI MASYARAKAT KAMPUNG KABUYUTAN, DESA LEBAKWANGI, KECAMATAN ARJASARI, KABUPATEN BANDUNG (Kajian Etnosemantik)

    Get PDF
    Masyarakat di Kampung Kabuyutan, Desa Lebakwangi, Kecamatan Arjasari, Kabupaten Bandung masih kental dengan kepercayaan mengenai tuturan tabu. Namun, seiring perkembangan zaman penggunaan tuturan tabu mulai punah karena pergeseran makna oleh para generasi penerus. Hal tersebut dapat memengaruhi keharmonisan pada masyarakatnya. Oleh karena itu, dengan adanya pergeseran makna maka penelitian ini menggunakan kajian etnosemantik. Tujuannya adalah untuk mengetahui bentuk lingual, klasifikasi, makna, dan nilai kebudayaan dalam tuturan tabu. Penelitian ini menggunakan model etnografi komunikasi melibatkan metode kualitatif yaitu teknik simak, libat, cakap. Adapun hasil penelitian yang meliputi 56 data tuturan tabu sebagai berikut. Bentuk lingual dalam tuturan tabu berupa kalimat yang terbagi menjadi dua kategori berdasarkan unsur dalam kalimat terdapat kalimat lengkap dan tak lengkap, berdasarkan jumlah klausa dalam kalimat terdapat kalimat tunggal dan majemuk. Klasifikasi tuturan tabu terbagi menjadi tiga ketegori yaitu berkaitan dengan sesuatu yang menakutkan, tidak mengenakkan, dan ketidakpantasan. Makna tuturan tabu termasuk dalam makna konseptual yaitu makna generik dan spesifik. Nilai kebudayaan dalam tuturan tabu terdiri dari hubungan manusia dengan Tuhan, alam, manusia, dan waktu yang dapat membentuk suatu gambaran mengenai konsep harmoni. Seluruh tuturan tabu dalam penelitian ini menggunakan kata ulah ‘jangan’ dan teu kenging ‘tidak boleh’ sebagai tanda bahwa tuturan tersebut merupakan suatu kalimat larangan. Kata Kunci: tuturan tabu, makna, konsep harmoni The people in Kampung Kabuyutan, Desa Lebakwangi, Kecamatan Arjasari, Kabupaten Bandung are still thick with beliefs about taboo speech. However, as time goes by the use of taboo speech began to become extinct due to the shift in meaning by the next generation. This can affect harmony in the community. Therefore, with the shift in meaning, this study uses ethnosemantic studies. The aim is to find out the lingual form, classification, meaning, and cultural value in taboo speech. This research uses a communication ethnographic model involving qualitative methods, namely listening, engaging, and competent techniques. The results of the study which included 56 taboo speech data are as follows. The lingual form in taboo is in the form of sentences which are divided into two categories based on the elements in the sentence there are complete and incomplete sentences, based on the number of clauses in the sentence there are single and compound sentences. Classification of taboo utterances is divided into three categories namely relating to something of fear, delicacy, and impropriety. The meaning of taboo utterances is included in the conceptual meaning that is generic and specific meaning. Cultural values in taboo speech consist of human relationships with God, nature, humans, and time that can form a picture of the concept of harmony. All taboo utterances in this study use the words ulah 'do not' and teu kenging 'must not' as a sign that the speech is a prohibited sentence. Keywords: taboo speech, meaning, harmony concep

    Analisis Faktor Pendorong Pekerja Migran Indonesia Dan Dampaknya Terhadap Aspek Sosial Ekonomi Di Kabupaten Cirebon

    Get PDF
    Permasalahan buruh migran di Indonesia tidak hanya berkerkaitan dengan perpindahan penduduk dari suatu negara ke Negara tujuan untuk mencari nilai tambah saja. Tetapi dibalik proses perpindahan penduduk ini, menunjukkan keadaan negara yang tidak mampu menyediakan lapangan pekerjaan bagi warganya di negara tersebut. Situasi ini menjadi salah satu faktor pendorong perpindahan tenaga kerja ke luar negeri. Ada beberapa faktor yang mempengaruhi peningkatan migrasi tenaga kerja, yaitu: pertama, faktor penarik yang di akibatkan oleh perubahan demografi dan permintaan tenaga kerja di negara-negara industri. Kedua, faktor pendorong terkait dengan masalah kependudukan, tekanan krisis dan pengangguran. Penelitian ini bertujuan untuk: (1) Mengetahui faktor-faktor yang mendorong masyarakat di Kabupaten Cirebon menjadi pekerja migran di luar negeri. (2) Mengetahui dampak pekerja migran terhadap aspek sosial ekonomi di Kabupaten Cirebon. Penelitian ini dilaksanakan di Kabupaten Cirebon menggunakan metode penelitian kualitatif. Teknik pengumpulan data menggunakan wawancara, observasi, dan dokumentasi dengan menggunakan beberapa tahap analisis kualitatif yakni pengumpulan data, reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil dari peneitian ini menunjukkan bahwa faktor pendorong seseorang memilih untuk bermigrasi ke luar negeri sebagai pekerja migran Indonesia karena faktor ekonomi, kurangnya lapangan pekerjaan di Negara asal, untuk mencari kekayaan dan penghasilan yang layak, kemudahan kesempatan kerja di Luar Negeri, adanya informasi yang luas dari orang yang bekerja diluar negeri, dan permasalahan dengan keluarganya. Adanya migrasi yang terjadi di Kabupaten Cirebon memberikan dampak yang positif dan negative terhadap sosial ekonomi yaitu perekonomian yang mulai membaik, meningkatkan kesejahteraan bagi keluaraganya, memenuhi kebutuhan pendidikan anak, dan dapat meningkatkan pembangunan di Kabupaten Cirebon. Sedangkan dampak negatif dari aspek sosial ekonomi itu sendiri adalah hubungan keluarga yang kurang harmonis, dan pengelolaan keuangan yang buruk oleh anggota keluarga di rumah, Kata Kunci: Faktor Pendorong, Dampak, Migrasi, Pekerja Migran

    Analisis Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Likuiditas Perbankan Syariah di Indonesia

    No full text
    Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi likuiditas perbankan syariah di Indonesia. Variabel-variabel yang digunakan dalam penelitian ini adalah Return on Asset (ROA), Non Performing Financing (NPF), Dana Pihak Ketiga (DPK), dan Sertifikat Bank Indonesia Syariah (SBIS) terhadap likuiditas (Cash Ratio) perbankan suariah di Indonesia

    Konstruksi Gen Glukosa Oksidase untuk Subkloning ke dalam Plasmid pPICZα dengan Penambahan Oligonukleotida Penyandi Spacer Peptida

    No full text
    Glukosa oksidase (EC 1.1.3.4) merupakan flavoenzim yang berasal dari Aspergillus niger. Enzim Glukosa Oksidase (GOX) intraseluler yang berasal dari A. niger memiliki aktivitas yang lebih tinggi dibandingkan dengan aktivitas enzim GOX ekstraselulernya. Enzim GOX intraseluler yang berasal dari A. niger memiliki tingkat produksi yang rendah serta proses pemurnian yang cukup rumit. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan gen penyandi GOX yang siap untuk disisipkan ke dalam plasmid pPICZα untuk kemudian diekspresikan pada Pichia pastoris secara ekstraseluler. Perbanyakan plasmid rekombinan pGEM®-T Easy-GOX dilakukan pada sel bakteri Escherichia coli DH5α. Konstruksi gen GOX dilakukan dengan amplifikasi menggunakan PCR. Amplifikasi dilakukan sebanyak dua kali. Ukuran panjang basa yang diperoleh dari hasil amplifikasi kedua sebesar 1787 bp, terdiri atas situs restriksi XhoI dan oligonukleotida penyandi spacer peptida pada ujung 5’ sekuens gen GOX, serta situs restriksi XbaI pada ujung 3’ sekuens gen GOX

    Keanekaragaman Jenis Felidae Menggunakan Camera Trap di Resort Pemerihan-Way Haru, Taman Nasional Bukit Barisan Selatan.

    No full text
    Taman Nasional Bukit Barisan Selatan bekerjasama dengan beberapa organisasi non pemerintah yang bergerak di bidang pelestarian hidupan liar, salah satunya dengan Wildlife Conservation Society Indonesia Program (WCS-IP). Salah satu kegiatan rutin yang dilakukan setiap tahunnya adalah survei mamalia vertebrata terestrial seperti jenis Felidae menggunakan camera trap yang berlokasi di Resort Pemerihan-Way Haru. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi karakteristik habitat, menganalisis keanekaragaman jenis, mengidentifikasi penyebaran, menganalisis tumpang tindih wilayah jelajah serta pola aktivitas dari jenis Felidae di Resort Pemerihan-Way Haru, Taman Nasional Bukit Barisan Selatan, Lampung. Teknik pengambilan data melalui analisis vegetasi dan tangkap-tangkap kembali. Indeks nilai penting mendominansi pada tingkat tumbuhan bawah adalah Etlingera sp. (INP = 11.23), tingkat semai dan pancang adalah Mallotus miquelianus (INP = 15.03) dan (INP = 17.51), tingkat tiang Dillenia excelsa (INP = 37.53) dan tingkat pohon Dracontomelon dao (INP = 14.89). Jenis satwa Felidae yang berhasil terekam melalui camera trap sebanyak dua jenis yakni kucing batu (Pardofelis marmorata) (RAI = 0.14; n = 2) dan kucing hutan (Prionailurus bengalensis) (RAI = 0.14; n = 2). Pola aktivitas dan tumpang tindih tidak dapat disimpulkan

    Hubungan Kerapatan Mangrove dengan Struktur Komunitas Makrozoobentos di Wisata Hutan Payau Tritih Kulon

    Get PDF
    Wisata Hutan Payau Tritih Kulon merupakan ekosistem mangrove yang berperan penting dalam mendukung kehidupan berbagai biota, salah satunya makrozoobentos. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kerapatan mangrove, struktur komunitas makrozoobentos, serta hubungan antara kerapatan mangrove dengan struktur komunitas makrozoobentos. Pengambilan data mangrove dilakukan menggunakan transek berukuran 10x10 m dengan jumlah plot sebanyak 9 plot. Pengambilan data makrozoobentos dilakukan dengan menggunakan transek berukuran 1x1 m sebanyak 5 sub transek pada setiap transek mangrove berukuran 10x10 m. Parameter lingkungan yang diambil adalah suhu, pH, salinitas, dan DO. Berdasarkan hasil pengamatan, terdapat 2 jenis mangrove yaitu Rhizophora mucronata dan Bruguiera sp. dengan nilai kerapatan sebesar 1.155,5-2.777,8 ind/ha yang tergolong kategori sedang hingga padat. Nilai indeks ekologi meliputi kelimpahan sebesar 12,9 hingga 2,4 ind/m2, keanekaragaman sebesar 1,27 hingga 2,07, kesergaman 0,67 hingga 0,83, dan dominansi sebesar 0,18 hingga 0,41. Hasil analisis korelasi pearson menunjukkan adanya hubungan positif kuat antara kerapatan mangrove dengan kelimpahan dan dominansi makrozoobentos yaitu dengan nilai 0,84 dan 0,73. Sedangkan hubungan kerapatan vegetasi mangrove dengan keanekaragaman dan keseragaman makrozoobentos termasuk kategori negatif kuat hingga sangat kuat dengan nilai sebesar -0,57 dan -0,85

    ANALISIS WORK-LIFE BALANCE PADA KARYAWAN NONMANAGERIAL DIVISI HUMAN CAPITAL & GENERAL AFFAIRS (HCGA) PT XYZ

    Get PDF
    RIZKI AMALIA PUTRI. 2025. 1703521015. Analisis Work-life Balance Pada Karyawan Non-Managerial Divisi Human Capital & General Affairs (HCGA) PT XYZ. Program Studi D4 Administrasi Perkantoran Digital Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Negeri Jakarta. Work-life balance merupakan suatu kondisi dimana individu mampu menjaga keseimbangan antara dunia kerja dan kehidupan pribadi secara berkelanjutan. Keseimbangan ini menjadi hal yang diharapkan oleh setiap karyawan, termasuk karyawan non-managerial divisi HCGA PT XYZ. Tujuan utama penelitian ini adalah untuk mengetahui ketercapaian work-life balance karyawan yang ditinjau dari tiga aspek, yaitu time balance, involvement balance, dan satisfaction balance. Selain itu, penelitian ini juga mengidentifikasi faktor-faktor yang mendukung dan menghambat tercapainya work-life balance pada karyawan. Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif yaitu dengan mendeskripsikan dan menganalisis permasalahan yang muncul. Penelitian kualitatif didasarkan pada data primer dan data sekunder. Data primer dalam penelitian ini diperoleh dengan melakukan observasi, wawancara, dan dokumentasi, sedangkan data sekunder diperoleh melalui buku – buku, penelitian terdahulu, dan artikel yang berkaitan dengan penelitian. Hasil penelitian menunjukkan bahwa belum sepenuhnya karyawan mampu mencapai work-life balance secara optimal. Sebagian karyawan, khususnya dari bagian rekrutmen dan general affairs, merasa bahwa mereka telah memiliki keseimbangan hidup yang baik berkat fleksibilitas kerja dan kemampuan manajemen waktu yang baik. Namun, karyawan dari bagian people development dan administrasi HCGA justru mengalami kesulitan akibat beban kerja berlebih, tugas tambahan di luar jobdesc, serta kurangnya manajemen tim dari atasan. Dukungan rekan kerja yang saling membantu dan menciptakan lingkungan kerja yang suportif menjadi salah satu faktor pendukung utama dalam mencapai worklife balance. Sebaliknya, tekanan pekerjaan di luar jam kerja dan komunikasi yang kurang efektif menjadi hambatan yang sering dihadapi. Penelitian ini hanya menggunakan satu variabel sehingga belum dapat menggambarkan secara menyeluruh keterkaitan dengan aspek lain seperti stres kerja atau kepuasan kerja. Oleh karena itu, penelitian lanjutan disarankan untuk mengeksplorasi lebih banyak variabel agar dapat memberikan pemahaman yang lebih komprehensif mengenai work-life balance di lingkungan kerja. Kata Kunci: divisi HCGA, dunia kerja, karyawan, kehidupan pribadi, keseimbangan, work-life balanc

    Variations on the Author

    Get PDF
    “Variations on the Author” discusses two of Eduardo Coutinho’s recent films (Um Dia na Vida, from 2010, and Últimas Conversas, posthumously released in 2015) and their contribution to the general question of documentary authorship. The director’s filmography is characterized by a consistent yet self-effacing form of authorial self-inscription: Coutinho often features as an interviewer that rather than express opinions propels discourses; an interviewer that is good at listening. This mode of self-inscription characterizes him as an author who is not expressive but who is nonetheless markedly present on the screen. In Um Dia na Vida, however, Coutinho is completely absent form the image, while Últimas Conversas, on the contrary, includes a confessional prologue that moves the director from the margins to the center of his films. This article examines the ways in which these works stand out in the filmography of a director who offers new insights into the notion of cinematic authorship
    corecore