196,401 research outputs found
JUAL BELI ALPOKAT DENGAN SISTEM IJON PADA MASYARAKAT MUSLIM DESA PULE KECAMATAN PULE KABUPATEN TRENGGALEK DALAM PERSPEKTIF FIQH MUAMALAH (STUDI KASUS DI DESA PULE KECAMATAN PULE KABUPATEN TRENGGALEK
ABSTRAK
Elfrida Kurnia Sari, 17101163122, jual beli alpokat dengan sistem ijon pada
petani di Desa Pule Kecamatan Pule Kabupaten Trenggalek Dalam
Perspektif Fiqh Muamalah (studi kasus di Desa Pule Kecamatan Pule
Kabupaten Trenggalek, Jurusan Hukum Ekonomi Syariah, Fakultas
Syariah dan Ilmu Hukum, IAIN Tulungagung, 2020, Pembimbing Dr. H.
Ahmad Muhtadi Anshor, M. Ag.
Kata Kunci: Jual beli, Sistem ijon
Penelitian ini dilatar belakangi oleh realita terkait penjual dan pembeli
alpokat yang melakukan jual beli secara ijon. Jual beli ini dianggap dapat
menyelesaikan masalah – masalah seperti, tidak membutuhkan tenaga lebih dan
biaya lebih karena dalam penjualannya pemilik pohon hanya perlu menawarkan
dari rumah tanpa harus membawa sendiri ke pasar. Pembayaran jual beli ijon
dilakukan dengan membayar dimuka dengan barang yang dipanen ketika sudah
mulai membesar atau layak panen.
Fokus penelitian dalam skripsi ini adalah : 1). Bagaimana praktek jual beli
alpokat secara ijon yang dilakukan di Desa Pule Kecamatan Pule kabupaten
Trenggalek? 2). Mengapa masyarakat Desa Pule Kecamatan Pule Kabupaten
Trenggalek masih mempraktikan jual beli alpokat dengan sistem ijon? 3 ).
Bagaimana pandangan hukum islam terhadap jual beli alpokat secara ijon di Desa
Pule Kecamatan Pule Kabupaten Trenggalek ? Adapun tujuan dari penelitian ini
adalah 1). Untuk mengetahui praktek jual beli alpokat secara ijon di Desa Pule
Kecamatan Pule Kabupaten Trenggalek 2). Untuk menjelaskan mengenai alasan
masyarakat Desa Pule Kecamatan Pule kabupaten Trenggalek masih
mempraktikan jual beli alpokat dengan sistem ijon 3). Untuk mengetahui
pandangan hukum islam terhadap jual beli alpokat dengan sistem ijon di Desa
Pule Kecamatan Pule Kabupaten Trenggalek.
Penelitian ini merupakan penelitian lapangan. Pengumpulan data dengan
menggunakan metode wawancara, observasi, dan dokumentasi. Sedangkan untuk
menganalisis data, peneliti menggunakan analisis reduksi data, penyajian data dan
verifikasi.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa : 1). Praktik jual beli alpokat secara
ijon di Desa Pule Kecamatan Pule Kabupaten Trenggalek. Proses jual beli alpokat
dimulai dengan para pemilik pohon alpokat (penjual) mencari dahulu pihak
pembeli (tengkulak) begitu juga sebaliknya, ketika musim alpokat telah tiba,
tengkulak mencari pemilik pohon alpokat yang mau menjual alpokatnya secara
ijon. Setelah pembeli dan penjual bertemu, kedua belah pihak membuat
kesepakatan yang hanya menggunakan akad secara lisan yang didasari dengan
kepercayaan dan tidak membohongi satu sama lain. Setelah terjadi kesepakatan
antara kedua belah pihak, akhirnya terjadilah proses pembayaran. Sistem
pembayaran tersebut menggunakan uang muka dengan bayaran dimuka 1/3 bagian dan untuk sisanya dibayar ketika alpokat dipetik oleh tengkulak. 2). Masyarakat
Desa Pule Kecamatan Pule kabupaten Trenggalek masih mempraktikan jual beli
alpokat dengan sistem ijon, mereka melakukan jual beli model ini dengan tujuan
mencari uang demi memenuhi kebutuhan hidupnya. 3). Pandangan hukum islam
terhadap jual beli alpokat secara ijon di Desa Pule Kecamatan Pule kabupaten
Trenggalek adalah salah satu jual beli yang dilarang. Akan tetapi ada
pengecualian dalam hal tersebut, jual beli alpokat secara ijon yang dilakukan di
Desa Pule Kecamatan Pule Kabupaten Trenggalek tidak menyebabkan kesulitan,
selain itu jual beli alpokat secara ijon ini mendatangkan banyak manfaat dengan
unsur tolong menolong dan tidak merugikan
Kegagalan Inovasi Pertanian Desa pULE 1968-1964
ABSTRAK Fitarida, Hefi. 2010. Kegagalan Inovasi Pertanian Desa Pule 1968-1984. Skripsi, Program Studi Ilmu Sejarah Jurusan Sejarah Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Malang. Pembimbing Drs. Joko Sayono, M. Pd. M. Hum. Kata Kunci : Petani Padi, Modernisasi Desa, Inovasi Pertanian, Revolusi Hijau. Padi mempunyai peranan yang sangat penting dalam bidang perekonomian, karena perekonomian merupakan bagian dari kegiatan yang harus dilakukan untuk menentukan berhasil tidaknya sebuah negara mensejahterakan rakyatnya. Indonesia adalah negara berkembang yang mencoba menerapkan program Revolusi Hijau. Revolusi Hijau tersebut bertujuan untuk dapat meningkatkan produksi padi guna menghindari impor beras yang pernah terjadi pada tahun 1971. Desa Pule merupakan desa agraris yang juga melaksanakan program Revolusi Hijau mulai tahun 1974. Pertanian Desa Pule sebelum Revolusi Hijau tahun 1968 bercirikan sebuah pertanian tradisional yang sangat bergantung dengan alam, sampai dilaksanakannya Bimas tahun 1974 pertanian berubah menjadi sebuah pertanian semi modern. Rendahnya tingkat pendidikan petani Desa Pule telah menyebabkan kegagalan proses Revolusi Hijau. Pada saat Indonesia berswasembada beras tahun 1984, Desa Pule tidak banyak mengalami perubahan dan menempati posisi terendah sekabupaten Trenggalek. Pada tahun 1984 hasil produksi padinya hanya mencapai rata-rata 4,7 ton/ha. Berdasarkan hasil paparan latar belakang di atas, penulis merumuskan masalah, yaitu, (1) bagaimana kondisi pertanian sebelum penerapan inovasi pertanian di Desa Pule 1968-1984, (2) bagaimana kondisi pertanian selama penerapan inovasi pertanian di Desa Pule 1968-1984, dan (3) apa yang menyebabkan inovasi pertanian di Desa Pule 1968-1984 mengalami kegagalan. Tujuan diadakan penelitian ini, antara lain sebagai berikut: (1) mendeskripsikan kondisi pertanian sebelum penerapan inovasi pertanian di Desa Pule 1968-1984, (2) mendeskripsikan kondisi pertanian selama penerapan inovasi pertanian di Desa Pule 1968-1984, dan (3) mendeskripsikan penyebab inovasi pertanian di Desa Pule 1968-1984 mengalami kegagalan. Pada penelitian ini peneliti menggunakan metode sejarah, yaitu pemilihan topik (memilih topik yang layak untuk tema penelitian), heuristik (pengumpulan sumber-sumber sejarah), verifikasi (melakukan kritik sumber, melalui kritik eksternal/pengujian terhadap aspek luar sumber sejarah dan kritik intern/ pengujian terhadap aspek dalam sumber sejarah), interpretasi (melakukan penafsiran terhadap fakta satu dengan fakta yang lain), dan historiografi (penulisan sejarah). Hasil penelitian ini sebagai berikut (1) kondisi pertanian Desa Pule sebelum Revolusi Hijau tahun 1968 merupakan sebuah desa dengan pertanian yang masih tradisional karena bergantung pada alam. Teknik bertani dan peralatan pertaniannya pun masih sangat sederhana sesuai dengan kondisi dan cara fikir petani awam yang masih berorientasi pada kebiasaan adat. (2) Pertanian Desa Pule mulai berubah pada tahun 1974 ketika petani Desa Pule mulai mengadopsi teknik bertani dan peralatan pertanian. Proses adopsi tersebut menyebabkan kondisi pertanian Desa Pule berubah, yaitu dari pertanian tradisional menjadi pertanian semi modern. (3) Penerapan Inovasi pertanian di Desa Pule yang dilaksanakan tahun 1974, merupakan sebuah inovasi yang mengalami kegagalan. Penyebabnya karena dua hal yaitu, rendahnya pendidikan petani Desa Pule berdampak pada tingkat penguasaan teknologi baru di mana penerapannya tidak bisa maksimal, dan PPL (Petugas Pertanian Lapangan) sebagai agen pembawa program Bimas tahun 1974, dalam memberikan bimbingan kepada petani realitanya lebih berorientasi pada teori bukan pada keadaan wilayah Desa Pule. (4) Kegagalan inovasi pertanian yang disebabkan dua hal di atas menyebabkan Desa Pule tidak mampu memberikan sumbangsih terhadap bangsa Indonesia ketika berswasembada beras pada tahun 1984, karena produktivitas padinya hanya 4,7 ton/ha. Berdasarkan penelitian yang dilakukan di Desa Pule dapat disimpulkan bahwa inovasi pertanian Desa Pule tahun 1974 mengalami kegagalan, karena tidak mampu memberikan kesejahteraan bagi masyarakat petani Desa Pule. Peneliti memberikan saran terutama bagi mereka yang ingin meneliti lebih lanjut tentang keadaan pertanian padi setelah tahun 1984, sehingga dapat diketahui bagaimana kehidupan petani Desa Pule setelah tahun 1984
PERILAKU PERSAINGAN USAHA DALAM MENINGKATKAN PENDAPATAN USAHA BAKSO KINASIH DI DESA PULE KECAMATAN PULE KABUPATEN TRENGGALEK MENURUT ETIKA BISNIS ISLAM
Skripsi dengan judul “Perilaku Persaingan Usaha dalam Meningkatkan
Pendapatan Usaha Bakso Kinasih di Desa Pule Kecamatan Pule Kabupaten
Trenggalek Menurut Etika Bisnis Islam” ini ditulis oleh Jamilatul Kasanah, NIM.
12402183074, pembimbing Moh. Rois Abin, M. Pd. I.
Semakin berkembangnya aktivitas ekonomi, juga semakin banyak bisnis
yang bermunculan dan persaingan akan semakin meningkat, sehingga tidak heran
banyak pelaku bisnis yang menghalalkan segala cara untuk memenangkan
persaingan dan mencapai tujuan. Dalam hal ini etika bisnis islam dapat dijadikan
sebagai pedoman dalam menjalankan segala aktifitas dalam dunia bisnis sehingga
tercipta persaingan yang sehat.
Tujuan Penelitian ini yaitu: 1) Untuk mengetahui perilaku persaingan produk
untuk meningkatkan pendapatan usaha bakso Kinasih di desa Pule kecamatan Pule
kabupaten Trenggalek menurut etika bisnis islam. 2) Untuk mengetahui perilaku
persaingan harga untuk meningkatkan pendapatan usaha bakso Kinasih di desa Pule
kecamatan Pule kabupaten Trenggalek menurut etika bisnis islam. 3) Untuk
mengetahui perilaku persaingan tempat untuk meningkatkan pendapatan usaha
bakso kinasih di desa Pule kecamatan Pule kabupaten Trenggalek menurut etika
bisnis islam. 4) Untuk mengetahui perilaku pelayanan untuk meningkatkan
pendapatan usaha bakso kinasih di desa Pule kecamatan Pule kabupaten Trenggalek
menurut etika bisnis islam.
Jenis penelitian yang digunakan adalah kualitatif dengan pendekatan
lapangan. Teknik pengumpulan data melalui wawancara, observasi dan
dokumentasi. Teknik analisis data yang digunakan meliputi kondensasi data,
penyajian data dan penarikan kesimpulan. Teknik pengecekan keabsahan data
menggunakan perpanjangan waktu pengamatan, triagulasi sumber, triagulasi teknik
dan menggunakan bahan referensi.
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa: 1) Perilaku persaingan produk
Usaha Bakso Kinasih telah menerapkan prinsip kehendak bebas dengan melakukan
inovasi terhadap produk dan prinsip ketauhidan dengan penggunaan bahan yang
halal. 2) Harga yang ditawarkan merupakan harga yang kompetitif yang
mencerminkan penerapan prinsip keseimbangan. 3) Persaingan tempat usaha bakso
Kinasih memilih tempat yang setrategis dan memberikan berbagai fasilitas yang
tujuannya untuk kebutuhan dunia dan akhirat. 4) Usaha Bakso Kinasih memberikan
pelayanan terbaiknya kepada konsumen, serta bersikap adil tanpa memandang
kondisi sosial maupun ekonomi konsumen sesuai dengan prinsip keseimbangan
dalam etika bisnis islam. Perilaku-perilaku tersebut sesuai dengan etika bisnis islam
karena didalamnya tidak melakukan kecurangan-kecurangan yang dapat merugikan
pihak lain yang bersangkutan.
Kata Kunci: Perilaku Persaingan Usaha, Peningkatan Pendapatan,
Etika Bisnis Islam, Usaha Baks
Standarisasi simplisia korteks pule hitam (Alstonia Spectabilis)
INDONESIA:
Pule Hitam (Alstonia spectabilis) merupakan tanaman etnomedis yang digunakan untuk mengobati berbagai masalah kesehatan salah satunya antimalaria. Pada pengembangannya sebagai bahan baku obat herbal, diperlukan standarisasi untuk memastikan bahwa Pule Hitam memenuhi persyaratan keamanan, khasiat, kualitas. Penelitian mengenai standarisasi ini bertujuan untuk mengendalikan mutu,sehingga diperoleh bahan baku yang seragam dan dapat menjamin efek farmakologis tanaman tersebut. Penelitian ini dilakukan dengan metode deskriptif eksperimental melalui penetapan parameter spesifik dan non-spesifik dari simplisia korteks Pule Hitam. Hasil standarisasi dari parameter spesifik yang berfokus pada identitas dan kualitas kandungan kimia menunjukkan secara organoleptik menetapkan simplisia korteks Pule Hitam (berwarna coklat, rasa pahit, bau aroma khas aromatik, bentuk serbuk). Hasil kadar sari larut air sebesar (12,892% ± 0,010125), kadar sari larut etanol sebesar (27,267% ± 0,075083). Pada pengujian identitas didapatkan (simplisia dari kulit batang dengan nama simplisia Alstonia spectabilis Korteks). Pengamatan mikroskopik simplisia serbuk (serabut sklerenkim, sel batu, jaringan gabus). Pengamatan makroskopik Pule Hitam (memiliki kulit batang yang keras, berwarna agak gelap, berserat). Hasil parametern on spesifik yang berfokus pada keamanan dan stabilitas bahan baku menunjukkan pengujian parameter non spesifik dari simplisia korteks Pule Hitam menetapkan nilai kadar air sebesar (9,444% ± 0,001074). Pengujian susut pengeringan (8% ± 0,62). Pengujian kadar abu total (4,165 ± 0,034641). Pengujian cemaran logam Pb sebesar (0,0994 ppm, Cd 0,0736 ppm dan Hg sebesar 0,0004 ppm). Kesimpulan dari penelitian ini bahwa seluruh parameter pengujian telah memenuhi syarat umum standarisasi sehingga Pule Hitam sebagai tanaman etnomedis dapat dikembangkan sebagai bahan baku obat herbal.
ENGLISH:
Black Pule (Alstonia spectabilis) is an ethnomedical plant that is used to treat various health problems, one of which is antimalarial. In its development as a raw material for herbal medicine, standardization is needed to ensure that Black Pule meets the requirements for safety, efficacy, and quality. The research on this standardization aims to control the quality, so that uniform raw materials are obtained and can guarantee the pharmacological effects of the plant. This research was conducted using a descriptive experimental method by determining specific and non-specific parameters of the Black Pule cortex simplisia. The standardization results from specific parameters focusing on identity and chemical content quality show organoleptically that the simplicia of Black Pule bark (brown in color, bitter taste, characteristic aromatic smell, powder form). The results of the water-soluble extract content were (12.892% ± 0.010125), and the ethanol-soluble extract content was (27.267% ± 0.075083). In the identity testing, it was obtained (the simplisia from the bark with the name simplisia Alstonia spectabilis Cortex). Microscopic observations of simplicia powder (sclerenchyma fibers, stone cells, cork tissue). The macroscopic observations of Black Pule (has a hard bark, dark-colored, and fibrous). The results of non-specific parameters focused on the safety and stability of raw materials indicate that the non-specific parameter testing of the Black Pule bark simplisia establishes a moisture content value of (9.444% ± 0.001074). Drying shrinkage test (8% ± 0.62). Total ash content test (4.165 ± 0.034641). Testing for metal contamination showed Pb at (0.0994 ppm, Cd 0.0736 ppm and Hg at 0.0004 ppm). The conclusion of this research is that all testing parameters have met the general requirements for standardization, so Black Pule as an ethnomedicinal plant can be developed as a raw material for herbal medicine.
ARABIC:
تعـد بويـل السـوداء (ألسطنيا سبيكتابيليس) نـبات إيتنوميديسي يُسـتخدم لعـلاج مجموعـة متنوعة من مشكـلات الصحـة، منهـا مضاد المـالاريـا. فـي تطـويره كمـادة خـام للأدويـة العشبيـة، يُعـد التـوحيد ضرورياً لضمان أن بويل السوداء تستوفي متطلبات الأمان والفعالية والجودة. يسـتهدف هـذا البحـث حـول التـوحيد إلـى التحكـم فـي الجـودة، وبالتـالي الحصـول علـى مـادة خـام موحدّة يُمكـن أن تضمن التأثيرات الدوائية للنبات. أُجري هذا البحث باستخدام طريقة وصفية تجريبية من خلال تحديد المعايير الدقيقة وغير الدقيقة للجزء الخارجي من بويل السوداء. تبيّن من المعايير الدقيقة التي تركز على الهوية وجودة المحتوى الكيميائي من خلال الملاحظات الحسية أن الجزء الخارجي من بويل السوداء (بلون بني، طعم مر، رائحة عطرية مميزة، شكل مسحوق). نتيجة نسبة المواد الذائبة في الماء كانت (%12.892 ± 0.010125)، ونسبة المواد الذائبة في الإيثانول كانت (%27.267 ± 0.075083). في اختبار الهوية، تم الحصول على (المادة الخام من لحاء الجذع تحت اسم مادة خام لـ Alstonia spectabilis Cortex). المراقبة المجهرية لمادة الخام المسحوقة (ألياف السلاسل الخشبية، خلايا الحجر، أنسجة القشرة). المراقبة العيانية لشجرة بويل السوداء (لديها قشرة خشبية صلبة، ذات لون داكن إلى حد ما، وألياف). نتائج المعايير غير المحددة التي تركز على أمان واستقرار المواد الخام تظهر أن اختبار المعايير غير المحددة للمواد من قشرة بويل السوداء حدد قيمة محتوى الماء بنسبة (%9.444 ± 0.001074). اختبار فقدان التجفيف (%8 ± 0.62). اختبار نسبة الرماد الكلي (4.165 ± 0.034641). اختبار تلوث المعادن أثبت وجود الرصاص Pb بمعدل (0.0994 جزء من المليون)، والكادميوم Cd (0.0736 جزء من المليون)، والزئبق Hg بمعدل (0.0004 جزء من المليون). الخلاصة: أن جميع معايير الاختبار قد استوفت الشروط العامة للمعايير، لذا يمكن تطوير البويل الأسود كعلاج شعبي ليصبح مادة خام للأدوية العشبية
Perfil de adesão ao tratamento não medicamentoso de indivíduos hipertensos de uma microárea de Florianópolis/SC- 2002.
Trabalho de Conclusão de Curso - Universidade Federal de Santa Catarina, Centro de Ciências da Saúde, Departamento de Saúde Pública, Curso de Medicina, Florianópolis, 200
The leaf numbers and root diameter of Pule Pandak (Raufolvia serpentina Benth.) influence the root-dry weight and reserpine content
Reserpine is the most important alkaloid content in Rauvolfia serpentina Benth’s. (Pule Pandak) root. To figure out the relationship of Pule Pandak morphological character with the reserpine contents, an observation based analysis was done. The environment, fertilizing treatment, and fenotipe observation data were collected and analyzed. In Pule Pandak cultivated at 600 m – 450 m above sea level under the teaks (Tectona grandis) or sengon (Paraserianthes falcattaria), in latosol soil and fertilizer doses at 20 t/ha – 30 t/ha, we found that the leaf numbers and root diameter would followed by the root’s dry weight and the increase of root diameter will be followed by the increase of its reserpine content.
Key words: Raufolvia serpentine, Pule Pandak, Reserpine, Roo
Multiple Interactions between Pullulanase Secreton Components Involved in Stabilization and Cytoplasmic Membrane Association of PulE
ABSTRACT
We report attempts to analyze interactions between components of the pullulanase (Pul) secreton (type II secretion machinery) from
Klebsiella oxytoca
encoded by a multiple-copy-number plasmid in
Escherichia coli
. Three of the 15 Pul proteins (B, H, and N) were found to be dispensable for pullulanase secretion. The following evidence leads us to propose that PulE, PulL, and PulM form a subcomplex with which PulC and PulG interact. The integral cytoplasmic membrane protein PulL prevented proteolysis and/or aggregation of PulE and mediated its association with the cytoplasmic membrane. The cytoplasmic, N-terminal domain of PulL interacted directly with PulE, and both PulC and PulM were required to prevent proteolysis of PulL. PulM and PulL could be cross-linked as a heterodimer whose formation in a strain producing the secreton required PulG. However, PulL and PulM produced alone could also be cross-linked in a 52-kDa complex, indicating that the secreton exerts subtle effects on the interaction between PulE and PulL. Antibodies against PulM coimmunoprecipitated PulL, PulC, and PulE from detergent-solubilized cell extracts, confirming the existence of a complex containing these four proteins. Overproduction of PulG, which blocks secretion, drastically reduced the cellular levels of PulC, PulE, PulL, and PulM as well as PulD (secretin), which probably interacts with PulC. The Pul secreton components E, F, G, I, J, K, L, and M could all be replaced by the corresponding components of the Out secretons of
Erwinia chrysanthemi
and
Erwinia carotovora
, showing that they do not play a role in secretory protein recognition and secretion specificity.
</jats:p
Yenny Saraswati ANALISIS DESIGN LONG STORAGE PADA EMBUNG SUMBER PULE DENGAN METODE PASTEN MODIFIKASI
Embung Sumber Pule is a long-standing water reserve located in the village of Purworejo, Kandat District, Kediri Regency. Embung is a small-scale water building (reservoir) around agricultural land that was built to absorb the amount of rainwater in the rainy season to meet the water quality criteria. Long Storage is a water-holding building used to store water in rivers, canals and / or ditches on relatively flat land. The current situation in the reservoir of pule has problems of reduction of water resources.
The first step of this research is the hydrological analysis to determine the monthly precipitation, the actual precipitation R80, the actual rainfall 15 days. The results of the analysis are then used to calculate the water requirements using Pâten\u27satau the Pasten method and the planning of the reservoir design of the pule source.
Based on the analysis and design of the tank, the dimensions of the tank are 2 m high, 72.5 m wide, round headlight type, 1 rinsing door with a size (2.42 mx 1, 16 m), water tank of 381,338 m3, foundation depth 0, 8 m, foundation volume of 0,308 m3 able to support a load of 0,462 ton
Multiple interactions between pullulanase secreton components involved in stabilization and cytoplasmic membrane association of PulE
We report attempts to analyze interactions between components of the pullulanase (Pul) secreton (type II secretion machinery) from Klebsiella oxytoca encoded by a multiple-copy-number plasmid in Escherichia coli. Three of the 15 Pul proteins (B, H, and N) were found to be dispensable for pullulanase secretion. The following evidence leads us to propose that PulE, PulL, and PulM form a subcomplex with which PulC and PulG interact. The integral cytoplasmic membrane protein PulL prevented proteolysis and/or aggregation of PulE and mediated its association with the cytoplasmic membrane. The cytoplasmic, N-terminal domain of PulL inter-acted directly with PulE, and both PulC and PulM were required to prevent proteolysis of PulL. PulM and PulL could be cross-linked as a heterodimer whose formation in a strain producing the secreton required PulG. However, PulL and PulM produced alone could also be cross-linked in a 52-kDa complex, indicating that the secreton exerts subtle effects on the interaction between PulE and PulL. Antibodies against PulM coimmuno-precipitated PulL, PulC, and PulE from detergent-solubilized cell extracts, confirming the existence of a complex containing these four proteins. Overproduction of PulG, which blocks secretion, drastically reduced the cellular levels of PulC, PulE, PulL, and PulM as well as PulD (secretin), which probably interacts wit
- …
