15 research outputs found

    Assessment of Indigenous N, P and K Supply for Rice Site Specific Nutrient Management in Buru Regency

    Get PDF
    Rate of fertilizer that should be applied to rice soil based on Site Specific Nutrient Management (SSNM) depends on indigenous nutrient supply, its recovery efficiency, and the amount of nutrients requirement to achieve the yield target. Research on nutrient omission plot was conducted in farmers irrigated land on Waeapo plain, Buru Island. In this area, N, P, and K were the main limiting factors of rice growth and yield. To overcome the constraint, this assessment was conducted to determine the indigenous supply of N, P and K and optimal target of rice productivity. Results of this assessment showed that  the average of rice optimum productivity (Mg grain water content/w.c. 14% ha-1)  in Waeapo plain was 6.55 Mg DGM (Dry Grain Milled) ha-1, with range from 5.6 to 7.3 Mg DGM ha-1 depended on the indigenous supply of  N, P and K. The average value of the indigenous N, P and K supplies in Waeapo plain  Buru was 65.59 kg N ha-1, 13.70 kg P ha-1 and 78.65 kg K ha-1, respectively while average productivity of rice on that indigenous N, P and K supplies was 5.05, 5.96 and 6.05Mg DGM ha-1, respectively. The value of indigenous nutrient supply of this nutrient can be used as a basis of fertilizer recommendation with the SSNM concept. Keywords: Indigenous nutrient supply; nitrogen; phosphorus; potassium; Site Specific Nutrient Management [How to Cite: Andriko NS and  MP Sirappa. 2014. Assessment of Indigenous N, P and K Supply for Rice Site Specific Nutrient Management in Buru Regency. J Trop Soils 19: 151-159. Doi: 10.5400/jts.2014.19.3.151]  [Permalink/DOI: www.dx.doi.org/10.5400/jts.2014.19.3.151] &nbsp

    Kajian penggunaan jerami dan pupuk N, P, dan K pada lahan sawah irigasi

    Get PDF
    Kajian penggunaan jerami dan pupuk N, P, dan K dilaksanalcan pada lahan sawah irigasi di desa Sikku Ale, kecamatan Cempa, Pinang, pada MK. 2001. Kegiatan berlangsung dari bulan Juli sampai Nopember 2001. Percobaan disusun dalam rancangan petak terpisah dengan 4 ulangan. Petak Utama adalah jerami padi (J), yaitu tanpa jerami (Jo) dan dengan jerami 2 Oa (Jr), dan Anak Petak adalah pemupukan (P), yaitu pupuk N (P1), NP (P2), NK (P3), PK (P4), dan NPK (1\u275). Tujuan kajian adalah untuk mengetahui pengaruh penggunaan pupuk organik jerami dan kombinasi pupuk N, P, dan K terhadap pertumbuhan dan basil padi. Hasil kajian menunjukkan bahwa, penggunaan pupuk organik yang bersumber dari jerami pada musim tanam pertama belum memberikan pengaruh yang nyata terhadap pertumbuhan dan komponen hasil padi, namun ada kecenderungan pertumbuhan dan hasil tanaman yang menggunakan bahan organik lebih tinggi dibanding tanpa pupuk organik baik secara tunggal maupun interalcsinya dengan pupuk N, P, dan K. Perlakuan pemupukan secara tunggal memberikan pengaruh yang nyata terhadap pertumbuhan dan komponen hasil padi, kecuali terhadap bobot 1.000 biji. Perlakuan P4, yaitu tanpa nitrogen (Petnupulcan PK) memberikan rata-rata pertumbuhan (tinggi tanaman) dan komponen hasil yang terendah, dan berbeda nyata dengan perlakuan pemupukan lainnya. Demikian juga perlakuan tanpa pupuk N, baik yang menggunakan pupuk organik maupun tanpa pupuk organik memberikan basil yang terendah. Tanaman padi pada lokasi kajian rnemerlukan tambahan pupuk nitrogen untuk meningkatkan pertumbuhan dan hasil padi. Penggunaan pupuk organik berupa jerami perlu dilakukan setiap musim tanam untuk dapat meningkatkan produktivitas lahan dan sebaiknya digunakan jika C/N rasio sudah rendah, yaitu < 20. Assassment of straw and N, P, and K fertilizer was conducted on irrigation lowland rice at Sikku Ale village, sub district of Cempa, Pinang, DS. 2001. The activity take place from July to November, 2001. The trial was carry out on split plot design with 4 replications. The main plot is rice straw (J), i.e. without straw (J5) and with straw 2 Oa (b), while sub plot is N, P, and K fertilizer (P), which is N fertilizer (Pi), NP (112), NK (1\u273), PK (1\u274), and NPK (Ps). The aims of this assass were known effect of organic fertilizer straw and N, P, and K fertilizer for growth and yield of rice. The result showed that the use of organic fertilizer that source from rice straw in the first sowing time non significant for growth and yield componen of rice, however, the growth and yield of rice that using of organic fertilizer disposed more high compared to without organic fertilizer, a single or interaction with N, Iand K fertilizer. Fertilizer treatment as a single was give the significant effect for growth and rice yield componen, except weight of 1,000 seeds. P4 treatment, that without nitrogen (PK fertilizer) was give growth means (plant high) and yield componen which lower, and significant with others treatment of fertilizer. Thus, the treatment without N fertilizer, that using and without organic fertilizer was give the lower of yield. Rice on assassment location need of nitrogen fertilizer added for increasing the growth and yield of rice. Using of organic fertilizer such as straw need to doing every sowing time for increasing of land productivity and have to use if C/N ratio is low, i.e. < 20. Key Words : Assassment, organic fertilizer straw, N, P, and K fertilizer, irrigation lowland ric

    Penentuan Batas Kritis Dan Dosis Pemupukan N Untuk Tanaman Jagung Di Lahan Kering Pada Tanah Typic Usthorthents= Determining of Critical Level and N Fertilizer Dosage for Corn on Dry Land at Typic Usthorthents.

    Get PDF
    Penelitian ini dilaksanakan pada lahan kering di dusun Bonto Raya, kecamatan Batang, Jeneponto yang berlangsung dari bulan Oktober 1999 sampai Februari 2000. Tujuan penelitian adalah :1) mengetahui pengaruh pemberian blotong dan urea terhadap status hara N tanah, 2) menentukan batas Icritis dan dosis pemupukan N untuk tanaman jagung pada Typic Usthorthents berdasarkan metode Grafik Cate-Nelson dan Kurva Respon Pemupukan. Penelitian dilakukan dengan pendekatan lokasi tunggal. Percobaan terdiri atas dua tahap kegiatan, yaitu : 1) Pembuatan status hara N tanah melalui pemberian blotong dan urea, dan 2) Percobaan pemupukan N untuk jagung dalam rangka penentuan batas /aids dan dosis pemupukan N. Hasil penelitian menunjukkan bahwa :1) pemberian blotong dan urea menghasilkan 3 status hara N buatan setelah dihubungkan dengan hasil tanaman, yaitu N sangat rendah, N rendah, dan N sedang, 2) Batas kritis N untuk jagung adalah 0,15 % dan dosis pemupukan nitrogen untuk jagung pada Typic Usthorthents adalah 90 kg N, 75 kg N, dan 57 kg N/ha untuk masing-masing status N sangat rendah, N rendah, dan N sedang. Dosis pemupukan N tersebut dapat digunakan sebagai dosis rekomendasi untuk jagung pada lokasi lain yang mempunyai agroekosistem yang relatif sama dengan lokasi penelitian. The experiment was conducted at Bonto Raya, sub district of Batang, Jeneponto from October 1999 to February 2000. The aims of experiment were :1) to known the effect of filter mud and urea to soil nitrogen status, and 2) to determin of critical level and nitrogen fertilizer dosage for corn on Typic Usthorthents by Cate-Nelson grafhic method and fertilizer response kurve. The experiment was caried out by using a single site approach method. Trial consist of two stage activities, i.e. :1) Making the status of soil nitrogen by giving of filter mud and urea, and 2) Nitrogen fertilizer experiment for corn to determining of critical level and nitrogen fertilizer dosage. The result showed that : 1) giving of filmer mud and urea produce three soil nitrogen status, i.e, very low nitrogen, low nitrogen, and medium nitrogen status, and 2) Critical level of nitrogen for corn was 0,15 Va, and nitrogen fertilizer dosage for corn on Typic Usthorthents were 90 kg N, 75 kg N, and 57 kg N/ha for very low, low, and medium soil nitrogen status, respectively. This nitrogen dosage can using as recommendation dosage for corn on the other site which have the same of agroecosystem experiment location. Key Words : Determining, N critical level, N fertilizer dosage, corn, dry land, Typic Usthorthents, Cate-Nelson grafhic method, fertilizer response kurve

    KAJIAN POTENSI DAN HASIL JAGUNG LOKAL YANG DITANAM SECARA TUMPANGSARI DENGAN KACANG TUNGGAK LOKAL PADA LAHAN KERING DI MALUKU: Study on The Potential and Yield of Local Corn Intercropped with Local Cowpea on Dry Land in Maluku

    Get PDF
    Kajian terhadap pertumbuhan dan hasil jagung lokal yang ditanam secara tumpangsari dengan kacang tunggak lokal pada lahan kering dengan pengelolaan tanaman terpadu dilakukan di Maluku Tengah tahun 2013. Tujuan kajian adalah untuk mengetahui pertumbuhan dan hasil jagung lokal yang ditanam secara tumpangsari dengan kacang tunggak lokal dengan penerapan inovasi teknologi pengelolaan tanaman terpadu.&nbsp; Perlakuan yang dikaji ada tiga, yaitu (A) tumpangsari jagung dengan kacang tunggak dimana jagung sebagai tanaman utama (4 baris jagung dan 4 baris kacang tunggak), (B) tumpangsari jagung dengan kacang tunggak dimana kacang tunggak sebagai tanaman utama (4 baris kacang tunggak dan 2 baris jagung, dan (C) Monokultur jagung. Jarak tanam jagung adalah75 cm x 40 cm(2 tanaman/lubang) dan jarak tanam kacang tunggak 40 cm x 20 cm(2 tanaman/lubang). Teknologi budidaya lainnya berdasarkan konsep pengelolaan tanaman terpadu, antara lain pemupukan berimbang, pupuk organik 2 ton per ha, sedangkan pengendalian hama penyakit berdasarkan konsep PHT. Luas petak percobaan 8 m x 10 m.&nbsp; Perlakuan disusun dalam Rancangan Acak Kelompok yang diulang 3 kali. Parameter yang diamati dalam kajian ini adalah komponen pertumbuhan dan hasil tanaman jagung dan kacang tunggak lokal. Hasil kajian menunjukkan bahwa pola tumpangsari jagung dengan kacang tunggak lokal dengan tanaman utama kacang tunggak memberikan hasil setara jagung yang lebih tinggi (7,21 t/ha) dibandingkan dengan monokultur jagung atau tumpangsari jagung dengan kacang tunggak dengan tanaman utama jagung lokal. Kata Kunci: tumpangsari, tanaman utama, jagung lokal,kacang tunggak lokal, pengelolaan tanaman terpadu

    Analisis Mineral Lempung Tanah Regosol Lombok Dengan Menggunakan Sinar X Dalam Kaitannya Dengan Penentuan Sifat dan Cara Pengelolaan Tanah.

    Get PDF
    Percobaa.n ini dilakukan di Laboratorium Mineralogi Jurusan Tanah, Fakultas Pertanian, Instititt Pertanian Bogor dan Laboratorium Mineralogi Puslittanak Bogor dari bulan Oktober sampai November 1997. Metode yang digunakan dalam percobaan ini adalah metode berdasarkan sifat fisik, yaitu penggunaan sinar X dengan mengacu pada Metode Analisis Mineral Lempung, Jurusan Tanah, Fakultas Pertanian, IPB yang terdiri atas dua bagian, yaitu (1) penyaringan dan dekantasi (sentnifusi), dan (2) pertjenuhan dengan ion Mg dan K, solvasi, dan pemanasan. Hasil analisis sinar X pada tanah Regosol Lombok menunjukkan bahwa tanah Regosol Lombok mengandung beberapa jenis mineral lempung primer dan sekunder, seperti K-Feldspar (3.218 AG), Kuarsa (3.347 AG), Crystobalit (4.063 AG), Kaolinit (7.182 AG), Talk (9.461 AG), dan Augit (6.497 AG). Tanah Regosol Lombok terbentuk dari bahan induk volkan yang belum berkembang lanjut. Mempunyai sifat fisik dan kimia tanah yang kurang balk, sehirtgga dalam pengelolaannya diperlukan penambahan bahan organik dan pupuk, terutama nitrogen, fosfat, dan kalium serta perlu pemberian kapur dolornit untuk meningkatkan produktivitas lahan. The experiment was caried out at Mineralogy Laboratory of Soil Direction, Agriculture FaculT, Bogor University Agriculture and Mineralogy Laboratory of Soil Research and Agroclimate Center, Bogor from October to November 1997. The method which using on the experiment based on phyisical properties, that is x-ray with refer to Clay Mineral Analysis Method, Soil Direction, Agriculture Faculty, Bogor University. Agriculture, that consist of two parts, i.e. (1) sifting and decantation (centrifuge), and (2) saturation by ion Mg and K, solvation, and warming. The results showed that Regosols of Lombok contains of several kinds of primery and secondary clay minerals, like K-Feldspar (3.218A0), Quartz (3.347 AG), Crysthobalite (4.063 AG), Kaolinite (7.182 AG), Talks (9.461 AG), and Augits (6.497 AG). Regosols of Lombok formed from parent materials volkan which not advanced develop. Having phyisical and chemical properties not good, thus in his management need to added organic matter and fertilizer, particularly nitrogen, phosphat, and potassium and giving lime of dolomite for increasing land productivity Key Words : Clay minerals, X-ray, Rsgosols of Lombok, primery and secondary minerals

    KERAGAAN HASIL BEBERAPA VARIETAS PADI SAWAH PADA DATARAN TINGGI DI KABUPATEN MAMASA DENGAN PEMBERIAN BAHAN AMELIORAN

    No full text
    Kajian dilakukan di kecamatan Tawalian, Kabupaten Mamasa pada lahan sawah dataran tinggi pada tahun 2017. Tujuan kajian adalah mengetahui keragaan hasil beberapa varietas padi sawah yang diberi perlakuan bahan amelioran dalam mengatasi pH tanah. Varietas yang digunakan adalah IPB 3S, Inpari 30, Cigeulis, dan varietas pembanding adalah varietas eksisting (Kuda).&nbsp; Hasil&nbsp; kajian adaptasi dari&nbsp; beberapa varietas unggul padi sawah&nbsp; di dataran&nbsp; tinggi Kabupaten Mamasa menunjukkan bahwa penanaman varietas unggul/lokal dengan penerapan inovasi teknologi PTT dan penambahan bahan amelioran kapur dolomit atau procals mampu meningkatkan produktivitas padi sawah varietas unggul dan lokal sebesar 0,8 t – 1,0 t/ha atau meningkat sebesar 13% - 20 %. Varietas yang memberikan hasil tertinggi (konversi hasil ubinan 2 m x 2,5 m) adalah &nbsp;IPB &nbsp;3S&nbsp; (7,00 &nbsp;t &nbsp;GKG/ha), &nbsp;menyusul &nbsp;Inpari &nbsp;30 &nbsp;Ciherang &nbsp;Sub-1 &nbsp;(6,80 &nbsp;t GKG/ha) &nbsp;dan&nbsp; Cigeulis &nbsp;(6,60 &nbsp;t &nbsp;GKG/ha), &nbsp;sedangkan&nbsp; varietas &nbsp;pembanding &nbsp;lokal &nbsp;Kuda sebesar 6,00 t GKG/ha

    Ascertainment of K Nutrient Availability Class for Maize by Several Methods

    Get PDF
    Research was conducted in Gowa, South Sulawesi at dry land farmer during two years. The aims of the research was to get the best method in ascertainment of availability class of potassium (K) for maize in dry land. The research used a single location approach, which made some of K nutrient artificial. Result of this research indicated that K nutrients class which reached by several methods are: (1) by Cate-Nelson method : two class, ie low and high class, (2) by curve continue method: two until three classes, ie very low to moderate class, low and moderate, and low to high class; and (3) by analysis of variance modified method: three classes, ie low to high class. Ascertainment of K nutrient availability classes by modified analysis of variance method was the best methods compared to other methods. Critical level of K nutrient for maize according to modified analysis of variance method by several extractant is: 0.40 me K 100 g-1 for NH4OAc pH 4.8 extractant; 0.40 to 0.60 me K 100 g-1 for NH4OAc pH 7 extractant; 200-300 ppm K2O for Bray-1 extractant, and 215-250 ppm K2O for Olsen extractant

    KARAKTERISASI MORFOLOGI ANGGREK BAKARU DALAM RANGKA PELESTARIAN PLASMA NUTFAH DI MAMASA SULAWESI BARAT

    No full text
    Mamasa merupakan salah satu Kabupaten yang terletak diwilayah pegunungan Provinsi Sulawesi Barat yang memiliki banyak jenis sumber daya genetik. Salah satu jenis sumber daya genetik tersebut adalah tanaman hias berupa anggrek bakaru yang spesifik khas Mamasa. Namun, Anggrek tersebut belum dimanfaatkan sebagai sumber indukan dalam persilangan untuk menghasilkan keturunan yang memiliki karakteristik khas tersendiri, sehingga perlu dikarakterisasi dan dikembangkan potensinya secara ekonomi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakter morfologi dan potensi anggrek Bakaru, serta merupakan langkah awal dalam upaya konservasi tanaman hutan secara eksitu. Kajian ini dilakukan pada Green House Tondok Bakaru Orchid (KTO) yang merupakan komunitas Pencinta Anggrek di Desa Tondok Bakaru, Kecamatan Mamasa, Kabupaten Mamasa yang memiliki ketinggian ± 1100 m dpl. Pengumpulan data dilakukan menggunakan metode wawancara dengan Ketua Komunitas kemudian dilanjutkan karakterisasi Anggrek menggunakan buku deskriptor Tanaman hias. Hasil pengamatan menunjukkan bahwa keragaman morfologi Spesies Anggrek Bakaru memiliki tipe pertumbuhan sympodial dengan pertumbuhan batangnya kearah samping dan dalam satu tanaman terdapat lebih dari satu batang, bentuk daun lanset dan memiliki bentuk bunga bulat atau bintang dengan tipe perakaran akar lekat, hal ini merupakan ciri dan daya tarik tersendiri untuk dikembangkan sehingga mempunyai nilai ekonomi tingg

    PBB, EFISIENSI PAKAN DAN IOFC PADA PENGGEMUKKAN TERNAK ITIK YANG DIBERIKAN RANSUM DENGAN LEVEL KONSENTRAT YANG BERBEDA

    Get PDF
    Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui PBB, efisiensi ransum dan IOFC pada ternak itik yang diberikan ransum dengan level konsetrat yang berbeda dengan masa pemeliharaan 8 minggu. Penelitian dilakukan di Kalu Kelurahan Prailiu- Kec. Kambera dimulai dari bulan Desember 2020 sampai Februari 2021. Penelitian menggunakan itik umur 2 minggu sebanyak 36 ekor ditempatkan dalam kandang 1x1 m dimana masing-masing kandang terdiri dari 3 ekor ternak itik. Percobaan menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 3 perlakuan dan 4 ulangan. Perlakuan yang diberikan adalah: pakan komersial BR2 100% (P0); pakan komersial BR2 50% + pakan rekayasa penggemukan ternak itik 50% (P1); dan pakan rekayasa penggemukan ternak itik 100% (P2). Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian pakan rekayasa penggemukan ternak itik (P2) tidak memberikan pengaruh nyata terhadap pertambahan bobot badan total ternak itik namun memberikan dampak potensi pendapatan efisiesi pakan dan income offer feed cost yang jauh lebih besar. Ransum (P2) dapat dijadikan ransum penggemukan ternak itik dengan pemberian 100% untuk pemeliharaan umur 2-10 minggu

    Improvement of Suboptimal Land Productivity Approach by Land and Plant Management

    Get PDF
    Assessment for increasing productivity of suboptimal land with using three kinds of organic fertilizer and six rice varieties had been conducted in the Debowae village, Waeapo district, Buru regency at 2011.&nbsp; Purpose of the assessment were to determine the effect of three types organic fertilizer and the use of six Inpara varieties to growth and productivity of rice in sub-optimal land. Study used a split plot design with three replications (farmers as replicates), where the main plot was three types of organic fertilizers (livestock manure, granular organic, and petroganic), while the subplot was 6 varieties Inpara (Inpara 1, Inpara 2, Inpara 3, Inpara 4, Inpara 5, and Indragiri). The soil types at the study site based on soil classification were Endoaquepts with soil fertility status was low. The study results&nbsp; showed&nbsp; that&nbsp; the use of organic&nbsp; manure combined with inorganic fertilizers,&nbsp; both&nbsp; from&nbsp; livestock manure, while granular organic and petrogranic, gave an average crop growth and yield better than the results obtained by farmers outside of the study. Average petroganic fertilizer had a better growth and higher crop yields compared to other organic fertilizers. The six varieties of rice swamps that were examined (Inpara 1, Inpara 2, Inpara 3, Inpara 4, Inpara 5, and Indragiri) had the average growth and better yields than rice varieties used by farmers outside of the study (2.75 t ha-1). Varieties Inpara 4, Indragiri, Inpara 1 and&nbsp; Inpara 2 had average yield above 7 t ha-1, while Inpara 3 and&nbsp; Inpara 5 average above 4 t ha-1. Combination of granular organic fertilizer with Inpara 4 variety and petroganic with Indragiri variety had the best results (8.37 and 8.02 t ha-1), while the lowest yield (4.48 t ha-1) was reached at combination of&nbsp; livestock manure with Inpara 5 variety.Keywords: adaptive varieties, land and plant management, organic fertilizers, suboptimal land [How to Cite: Marthen PS and MLJ Titahena. 2014. Improvement of Suboptimal Land Productivity Approach by Land and Plant Management. J Trop Soils 19(2): 109-119. Doi: 10.5400/jts.2014.19.2.109]&nbsp; [Permalink/DOI: www.dx.doi.org/10.5400/jts.2014.19.2.109]&nbsp;&nbsp
    corecore