1,722,177 research outputs found

    FILSAFAT PERENIAL NURCHOLIS MADJID

    Full text link
    Seluruh pemikiran Nurcholis Madjid mengenai neo-sufisme atau neo-modernisme berpusat terutama pada al-Quran. Dalam konteks ini, Nurcholis Madjid dapat disebut sebagai seorang teolog atau ahli ilmu kalam. Gerakan intelektual yang digagas Madjid dikenal dengan “Gerakan Pembaharuan Pemikiran Keagaman”. Makna penting dari gerakan ini terletak pada upayanya untuk mereformulasikan postulat doktrin Islam yang paling pokok berkaitan dengan masalah ketuhanan, kemanusiaan, dan dunia. Secara umum pendekatan Madjid dapat dikatakan didasarkan pada pemikirannya tentang pluralisme agama, toleransi, saling menghormati, antara sesama umat beragama, dan relativisme politik. Dia menegaskan bahwa yang lebih penting adalah bagaimana mempertahankan Islam yang substansial dari pada yang sekedar formalistik, yang hanya mementingkan simbol-simbol luar. Atas pembacaannya terhadap al-Qur’an, Nurcholis Madjid, secara teoritis memperkenalkan konsep al-Qur’an tentang kalimatun sawa atau titik temu agama-agama secara ekplisit. Jika dibandingkan dengan cendikiawan muslim lainnya, maka ia tampak lebih tegas dan jelas. Perspektif ke-Islaman Nurcholis tersebut bahkan telah menghasilkan suatu cara pandang Islam yang bersifat inklusif. Apabila landasan filosofis “teologi kesatuan agama-agama” yang digagas oleh Nurcholis di atas disebut sebagai filsafat perenial, sebagaimana yang dikatakan Frithjof Schuon, maka corak filsafat perenialnya Nurcholis jelas bersifat Islam. Atau dalam bahasa lain, apabila dilihat dari sudut epistemologi agama, belum bersifat universal yang mewadahi agama-agama dari berbagai belahan peradaban. Yang demikian disebabkan masih bersifat mono-agama. Sehingga untuk menjadi “teologi inklusif universal”, harus mampu menunjukkan adanya ide-ide yang sama dalam idiom-idiom agama-agama atau tradisi-tradisi religius lain yang pernah ada dan tumbuh di berbagai peradaban

    Konsep pluralisme agama dan tantangan dakwah :studi pemikiran Nurcholis Madjid

    No full text
    Penelitian ini berjudul “Konsep Pluralisme Agama Dan Tantangan Dakwah (Studi Pemikiran Nurcholis Madjid)”. Kajian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana pemikiran Nurcholis Madjid mengenai pluralisme agama dan tantangan dakwah beserta konsep dakwah dalam menghadapi fenomena pluralitas agama. Penelitian ini menggunakan jenis penelitian kualitatif. Adapun untuk pengumpulan data, penulis menggunakan metode penelitian kepustakaan (library research) dengan melihat dan membaca berbagai literature, baik dalam bentuk buku maupun artikel-artikel yang ada di media cetak maupun digital. Objek penelitian terfokus pada pemikiran pluralisme agama Nurcholis Madjid, tantangan dakwah serta konsep dakwah menurut Nurcholis Madjid dalam menghadapi kemajemukan agama. Data yang ada kemudian penulis analisis menggunakan tekhnik indeksikalitas, yaitu dengan mencari makna-makna yang terdapat dalam teks pemikiran Nurcholis Madjid juga tokoh lain yang mengkritisi baik dari kelebihan dan kekurangan. Hasil penelitian menyimpulkan bahwa, pertama, pluralisme agama adalah sebuah paham yang mengakui keberadaan agama-agama lain dan bersikap dewasa menghadapi keanekaragaman, toleransi dan berlomba-lomba dalam kebaikan. Kedua, bahwa ide pluralisme agama Nurcholis Madjid adalah sebuah prinsip beragama yang mengakui kebebasan beragama, hidup dengan resiko yang akan ditanggung oleh masing-masing pemeluk agama. Dan ketiga, konsep dakwah Nurcholis Madjid adalah dakwah yang terbuka, dialogis, toleran dan menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan yang sekaligus menjadi ciri pemikiran Nurcholis Madjid adalah inklusivisme yang menolak eksklusivisme dan absolutisme sehingga terwujud Islam yang hanif dan rahmatan lil alami

    Kepemimpinan Perempuan Perspektif Nurcholis Madjid

    Full text link
    The emergence of views in some Muslims, especially in Indonesia that places women as weak and inappropriate human beings to participate in the public sphere, because it cannot be separated from those that are still maintained and even maintained, so it seems that it is difficult for women to develop their careers, and even if there are only certain circles and even very limited. However, in Islam, rights and obligations are always the same regardless of human anatomy. Gender does not make a difference in Islam because the concept is justice for anyone and for all. This study uses a library research. A method in colleting data uses library study and documentation. Analyze data uses a descriptive method. Nurcholis Madjid\u27s thoughts on political gender leadership are what will be understood in this study. The results of this study show that there are so many verses that discuss women, while the problems of gender leadership according to Nurcholis Madjid are marginalization, subordination, stereotypes or labeling, violence and the idea that women have a diligent and caring nature, so it is not appropriate to be the head of the house. As a result, women are only responsible for domestic work in the household. As for Nurcholis Madjid\u27s opinion about women\u27s leadership having principles, intellectual traditions, monotheism as the main value, equality and humanity.   Keywords: Leadership, Women, Nurcholis Madji

    Kepemimpinan Perempuan Perspektif Nurcholis Madjid

    No full text
    The emergence of views in some Muslims, especially in Indonesia that places women as weak and inappropriate human beings to participate in the public sphere, because it cannot be separated from those that are still maintained and even maintained, so it seems that it is difficult for women to develop their careers, and even if there are only certain circles and even very limited. However, in Islam, rights and obligations are always the same regardless of human anatomy. Gender does not make a difference in Islam because the concept is justice for anyone and for all. This study uses a library research. A method in colleting data uses library study and documentation. Analyze data uses a descriptive method. Nurcholis Madjid's thoughts on political gender leadership are what will be understood in this study. The results of this study show that there are so many verses that discuss women, while the problems of gender leadership according to Nurcholis Madjid are marginalization, subordination, stereotypes or labeling, violence and the idea that women have a diligent and caring nature, so it is not appropriate to be the head of the house. As a result, women are only responsible for domestic work in the household. As for Nurcholis Madjid's opinion about women's leadership having principles, intellectual traditions, monotheism as the main value, equality and humanity.   Keywords: Leadership, Women, Nurcholis Madji

    MODERNISASI PENDIDIKAN PESANTREN PRESFEKTIF NURCHOLIS MADJID

    Full text link
    Konsep Modernisasi Pendidikan Pesantren Menurut Nurcholis Madjid, hal ini di latar belakangi oleh kenyataan bahwa Nurcholis Madjid mengharapkan pengembangan pesantren tidak saja dilakukan dengan cara memasukan pengetahuan non-agama, melainkan agar lebih efektif, praktek pengajaran harus menerapkan metodologi lebih baru dan modern. Adapun rumusan masalah adalah bagaimana konsep pemikiran modernisasi sistem pendidikan di pesantren menurut Nurcholis Madjid dan apakah konsep modernisasi pemikiran modernisasi pendidikan pesantren menurut Nurcholis Madjid dengan pendidikan saat ini. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah jenis library reasearch (penelitian kepustakaan) dengan teknik analisis deskriptif, dengan cara mengumpulkan data atau bahan-bahan yang berkaitan dengan tema pembahasan kepustakaan, kemudian dianalisis dengan analisis isi (content anaylisis) yang dimaksud dengan analisis isi adalah penelitian suatu masalah atau karangan untuk mengetahui latar belakang dan persoalan. Adapun hasil penelitian diperoleh yaitu, Konsep modernisasi pesantren menurut Nurcholis Madjid adalah (1) konsep keislaman merupakan dasar yang harus dimiliki lembaga-lembaga islam (pesantren) yaitu mengawasi ilmu sains dan teknologi kedalam pengawasan nilai agama dan moral serta mengislamkan pengetahuan modern. (2) konsep keindonesiaan yaitu pesantren dengan ciri keaslian indonesia dan secara kultur merupakan asli budaya indonesia dapat menciptakan suatu lembaga pendidikan yang mempunyai identitas kultur yang sejati yaitu kultur indonesia. (3) konsep keilmuan yaitu menyeimbangkan ilmu-ilmu islam dan ilmuilmu umum serta menghilangkan dualisme pendidikan menjadi pendidikan tunggal. Sedangkan secara operasional secara terperinci ide Nurcholis Madjid pada sistem pendidikan pesantren berfokus pada perumusan tujuan pesantren, penyempitan orientasi kurikulum, dan sistem nilai di pesantren. Konsep pembaharuan sistem pendidikan pondok pesantren relevan dengan dunia pendidikan islam modern, baik secara filosofis maupun secara manajemen pendidikan dan tidaklah bertentangan dengan perkembangan dunia pendidikan modern saat ini

    NURCHOLIS MADJID’S THOUGHT ON ISLAMIC MODERNIZATION

    Full text link
    Nurcholis madjid adalah seorang cendekiawan Muslim Indonesia yang semasa hidupnya, telah banyak memberikan sumbangan pemikiran tentang Islam di Indonesia. Walaupun pemikiran-pemikirannya tentang Islam banyak mendapat kritikan dari para cendekiawan yang tidak seide dengannya, ia tetap saja berupaya melakukan pencerahan terhadap masyarakat Muslim Indonesia. Salah satu pemikirannya yang sangat menonjol adalah tentang bagaimana Islam harus diinterepretasikan ulang untuk menghadapai modernisasi. Dalam konteks inilah, tulisan ini bermaksud mengungkap pemikiran-pemikiran Nurcholis tentang modernisasi Islam

    Pemikiran Nurcholis Madjid dalam membangun masyarakat moderat

    Full text link
    Penelitian ini dilatarbelakangi dengan banyaknya pemikiran mengenai masyarakat moderat, adapun salah satu tokoh yang membahas mengenai konsep moderat ini yaitu Nurcholis Madjid. Penulis tertarik meneliti pemikiran Nurcholis Madjid karena penulis menilai bahwa pemikiran Nurcholis Madjid masih sangat relevan untuk dikaji pada masa kini, melihat kondisi di Indonesia akhir-akhir ini sering kali terjadi konflik sosial yang dipicu hanya karena perbedaan. Tujuan penelitian ini adalah untuk: 1) untuk mendeskripsikan konsep masyarakat moderat. 2) untuk mendeskripsikan konsep pemikiran Nurcholis Madjid dalam membangun masyarakat moderat. 3) untuk mendeskripsikan implikasi pemikiran Nurcholis Madjid dalam membangun masyarakat moderat. Pemikiran Nurcholis Madjid yang moderat berusaha untuk membawa perubahan cara pandang masyarakat dalam melihat perbedaan sebagaimana ungkapan para ahli sebelumnya yang menyatakan bahwa pemikiran yang moderat adalah pemikiran yang memiliki sikap al-qisth (keadilan), al-tawâzun (keseimbangan), al-i„tidâl (kerukunan). Penelitian ini merupakan penelitian yang menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode content analisis atau analisis isi, dan jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian kepustakaan (library Research). Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan teknik penelitian studi dokumentasi. Adapun analisis data yang digunakan yaitu analisis data kualitatif dengan pendekatan logika dan menggunakan langkah-langkah: pengumpulan data, mereduksi data, penyajian data dan terakhir penarikan kesimpulan. Hasil penelitian yang didapatkan dalam penelitian ini adalah bahwa yang dimaksud masyarakat moderat adalah sekumpulan orang yang menetap di satu wilayah tertentu dan memiliki nilai-nilai yang senantiasa cenderung ke arah dimensi jalan tengah untuk menghindarkan diri dari perilaku yang ekstrem. Adapun pemikiran Nurcholis Madjid dalam membangun masyarakat moderat yaitu: Pertama, pemikirannya mengenai konsep sekularisasi, yaitu usaha untuk mendesakralisasi segala sesuatu yang bukan bersifat ukhrawi. Artinya tidak mencampur adukan segala sesuatu yang bersifat transenden dengan hal-hal yang bersifat profan. Kedua, pemikirannya mengenai idea of progress yaitu sikap mental terbuka dalam menyikapi perbedaan yang ada, sebab kebenaran manusia hanyalah bersifat dinamis, dan kebenaran mutlak hanya milik Allah. Ketiga, pemikirannya mengenai Teologi Inklusif yaitu cara pandang untuk mengakui ada kebenaran lain diluar kebenaran yang diyakini, sehingga dapat membangun sikap yang inklusif dan meninggalkan sikap yang ekslusif yang cenderung sering memicu konflik. Implikasi dari pemikirannya Nurcholis Madjid mengembangkannya melalui pendirian lembaga pendidikan dan juga keterlibatannya dalam organisasi

    Analisis pemikiran Nurcholis Madjid tentang politik Islam

    No full text
    Nurcholish Madjid menyatakan bahwa munculnya gagasan politik Islam atau Islam sebagai dasar poitik karena bentuk kecenderungan apologetis. Apologi ini, tumbuh dari dua jalur. Pertama, apologi karena ideologi Barat, seperti demokrasi, sosialisme, komunisme dan lain sebagainya. Kedua, karena legalisme yaitu apresiasi serba legalistis kepada Islam. Dalam persepsi legalistis, Islam itu dipandang semata-mata sebagai struktur dan kumpulan hukum. Kecenderungan legalisme ini bagi Nurcholis Madjid, tidak lain berakar dari fiqihisme. Dengan demikian, secara prinsipil, konsep politik Islam, menurut keyakinan Nurcholish Madjid, adalah suatu distorsi hubungan proporsional antara politik dan agama. Politik adalah salah satu segi kehidupan duniawi, yang dimensinya rasional dan kolektif. Sedangkan agama, menurutnya adalah aspek kehidupan lain, yang dimensinya spiritual dan pribadi. Berdasarkan latar belakang di atas, maka rumusan masalah dalam penelitian ini adalah 1) Bagaimana pemikiran Nurcholis Madjid tentang politik Islam? 2) Apa dasar-dasar pemikiran Nurcholis Madjid tentang politik Islam? Penelitian ini merupakan jenis penelitian kepustakaan (library research), di mana data-data yang dipakai adalah data kepustakaan. Data primer dalam penelitian ini adalah buku Dialog Keterbukaan Artikulasi Nilai Islam dalam Wacana Sosial Politik Kontemporer karya Nurcholis Madjid. Metode analisis yang digunakan penulis adalah metode deskriptif kualitatif. Hasil dari penelitian ini adalah bahwa Politik Islam menurut Nurcholis Madjid adalah bahwa orientasi keislaman yang kuat selalu dikaitkan dengan oposisi terhadap pemerintah. Menurutnya, hal ini disebabkan Islam memainkan suatu peranan konsisten sebagai sebuah ideologi (rallying ideology) terhadap kolonialisme. Peranan ini menghasilkan kemerdekaan nasional, karena kaum muslim mengemukakan gagasan politik yang tidak sesuai dan tidak sebangun dengan tuntunan praktis era sekarang, sehingga tumbuhlah prasangka politik yang berorientasi Islam dengan pemerintah yang berorientasi nasional. Nurcholis Madjid menjelaskan bahwa Islam itu sendiri bukan sebuah teori atau ideologi, lebih jauh ia mengatakan, dalam bidang politik Islam berada pada posisi yang mengiringi syariah dan lebih dekat dengan filsafat dengan dinamika dan wataknya sendiri. Konsep Negara Islam adalah sebuah distorsi hubungan proporsional antara agama dan Negara. Negara adalah salah satu segi kehidupan duniawi yang dimenensinya adalah rasional dan kolektif, sementara agama adalah aspek kehidupan yang dimensinya adalah spiritual dan pribadi. Politik Islam menurut Nurcholis Madjid tidak dimaksudkan sebagai penerapan politik dan mengubah kaum Muslimin menjadi politikus. Tetapi dimaksudkan untuk menduniawikan nilai-nilai yang sudah semestinya duniawi, dan melepaskan umat Islam dari kecenderungan untuk meng-ukhrawi-kannya. Dengan demikian, kesediaan mental untuk selalu menguji dan menguji kembali kebenaran suatu nilai di hadapan kenyataan-kenyataan material, moral ataupun historis, menjadi sifat kaum Muslimin

    Perbandingan Etika Politik Ibnu Khaldun dan Nurcholis Madjid

    Full text link
    Kehidupan politik dapat diidentifikasi pada tiga bagian utama, yaitu: sumber kekuasaan, distribusi kekuasaan, dan pelaksanaan kekuasaan. Dalam kajian sejarah filsafat, pembahasan etika sudah ada sejak sebelum adanya negara yang mengatur tata kehidupan manusia dan masyarakat. Misalnya dalam era Yunani Kuno, pembahasan etika (filsafat moral) di mulai pada abad kelima sebelum Masehi. Para tokoh-tokoh yang membahas etika pada masa itu ialah seperti; Phytagoras, Sokrates, Plato, dan Aristoteles. Adapun beberapa tokoh- tokoh intelektual muslim yang berorientasi pada kebijakan sistem bernegara dan etika adalah Ibnu Khaldun dan Nurcholis Madjid, kedua tokoh tersebut telah membawa perubahanperubahan besar dalam dunia Islam. Penelitian ini akan memberikan pengertian baru, sebab garis dari masing-masing pandangan akan terlihat dengan lebih jelas dan tegas. Tujuan khusus dari penelitian ini adalah memperlihatkan kekuatan dan kelemahan masing-masing pandangan sebagai upaya untuk melihat relevansi pemikiran etika politik Ibnu Khaldun dan Nurcholis Madjid pada kehidupan politik bangsa Indonesia kini dan nanti. Dengan demikian objek formal dari penelitian ini adalah perbandingan pandangan Ibnu Khaldun dan Nurcholis Madjid mengenai etika politik, sehingga yang diteliti adalah visi-visi Ibnu Khaldun dan Nurcholis Madjid dan mengenai norma-norma yang terletak di dalam gagasan etika politik Ibnu Khaldun dan Nurcholis Madjid, serta diteliti juga argumen-argumen yang khas dari Ibnu Khaldun dan Nurcholis Madjid. Berdasarkan hasil penelitian, Etika Ibnu Khaldun adalah bercorak lebih detail baik dari pemikiran mengenai pemikiran pemikiran Ibnu Khaldun mengenai urusan duniawi terlihat dari pembahasannya yang terperinci mengenai bentuk Negara, serta sampai menekankan bahwa kedudukan pemimpin adalah sebagai wakil Allah di muka bumi. Sedangkan menurut Nurcholis Madjid yaitu kehidupan politik tidak boleh meninggalakan nilai-nilai keagamaan. Kehidupan politik pada dasarnya bersifat duniawi, tidak bias lepas dari tuntutan moral yang tingi. Berpolitik harusnya berstandar akhlak mulia yang sekarang dikenal sebagai etika politik. Relevansi dari pemikiran kedua tokoh apabila diterapkan dalam tatanan kehidupaan saat ini sangat relevan. yang sama-sama sejatinya dalam pendirian atau terbentuknya negara bangsa tersebut tidak lain adalah adanya peran agama yang sangat dominan di dalam Negara

    Perspektif Nurcholis Madjid terhadap perkembangan pemikiran umat Islam di Indonesia

    Full text link
    Skripsi ini membahas tentang perspektif nurcholis madjid terhadap perkembangan pemikiran ummat islam di Indonesia. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah dengan metode induktif, deduktif dan dialektif. Nurcholis Madjid dilahirkan di Mojoanyar Jombang Jawa Timur pada tanggal 17 Maret 1939. Setelah menamatkan pendidikan di pondok pesantren modern Gontor, Ponorogo pada tahun 1960, nurcholis madjid menyelesaikan S1 di Fakultas Sastra dan Kebudayaan IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta pada tahun 1968. Pada tahun 1978-1984 menyelesaikan S3 di University of Chicago, Amerika Serikat. Menurut nurcholis madjid, Islam di Indonesia masuk melalui proses penyebaran islam secara sufistis esoteris dan mudah diterima oleh bangsa Indonesia. Kondisi sosio-kultural bangsa Indonesia pra hindu-budha adalah berkembanganya kepercayaan animistis, tetapi kultur termasuk memberikan dampak terhadap pembentukan sosio-politik dan ekonomi masyarakat, terutama setelah munculnya kerajaan di pantai maupun dipedalaman. Namun pengaruh kerajaan dipedalaman lebih besar dibandingkan dengan pengaruh kerajaan dipantai. Implikasinya adalah timbulnya gerak sosial dan sistem kekuasaan yang kini banyak digunakan di Indonesia. Kondisi sosio-kultural dengan budaya Hindi-Budha, Islam masuk dan berkembang dengan sistem tassawuf, kemudian berkembang pemikiran fiqh dan kalam. Islam berfungsi sebagai korektor dari pernyimpangan terhadap ajaran semua nabi dan rasul Allah. Disamping itu Islam juga berfungsi sebagai penegas prinsip ajarannya untuk dipikirkan dan dikembangkan sesuai dengan keadaan jaman. Di sini pandangan nurcholis madjid yang mengajak untuk memberikan ruang kebebasan berfikir demi kebutuhan umat Islam
    corecore