14 research outputs found
The Use of Guided Inquiry Approach to Improve Class X Students’ Physics Problem Solving Skills at SMA 1 Watampone Kabupaten Bone
This research is a pre-experimental that aims to know: 1) measuring students’ ability of tenth grade SMA Negeri 1 Watampone in solving physics problem that is taught by using guided inquiry approach, 2) measuring the students’ ability in solving physics problem through guided inquiry approach achieve the level of Minimum Passing Standard. The population and all at once as sample in this research is 36 or all of student at tenth grade SMA Negeri 1 Watampone in 2016/2017 academic year. The research design used in this research is One Shot Case Study. The research instrument is the description test in solving physics problem. The result of descriptive analysis shows that the average score of students’ physics achievement after taugh by using guided inquiry approach is 108 and 12 for standard deviation. While the result of inferential analysis shows that students’ ability achieve the minimum passing standard at significance level α = 0,05.Keywords: guided approach; problem solving skills; Descriptive statistics; inferential statisticsPenelitian ini adalah penelitian pra eksprimen yang bertujuan untuk: (1) mengetahui besarnya kemampuan siswa kelas X SMA Negeri 1 Watampone dalam memecahkan masalah fisika yang diajar dengan menggunakan pendekatan inkuiri terbimbing, (2) mengetahui kemampuan siswa kelas X SMA Negeri 1 Watampone dalam memecahkan masalah fisika melalui pendekatan inkuiri terbimbing mencapai tingkat Kriteria Ketuntasan Minimal. Subjek populasi sekaligus sebagai sampel dalam penelitian ini adalah seluruh siswa kelas X SMA Negeri 1 Watampone tahun pelajaran 2016/2017 sebanyak 36 siswa. Desain Penelitian yang digunakan adalah One Shot Case Study. Instrumen penelitian yang digunakan adalah tes kemampuan memecahkan masalah fisika dalam bentuk tes uraian. Hasil analisis deskriptif menunjukkan skor rata-rata hasil belajar fisika siswa kelas X SMA Negeri 1 Watampone setelah diajar dengan pendekatan inkuiri terbimbing sebesar 108 dan standar deviasi 12. Hasil analisis inferensial menunjukkan bahwa kemampuan siswa kelas X SMA Negeri 1 Watampone dalam memecahkan masalah fisika setelah diajar dengan pendekatan inkuiri terbimbing pada pembelajaran fisika mencapai tingkat Kriteria Ketuntasan Minimal pada taraf nyata α = 0,05.Kata kunci: pendekatan ikuiri terbimbing; kemampuan memecahkan masalah; statistik deskriptif; statistik inferensia
PENGARUH MEDIA PEMBELAJARAN KOKAMI (KOTAK KARTU MISTERIUS) TERHADAP HASIL BELAJAR IPAS SISWA KELAS III UPT SPF SD NEGERI 67 RAPPOKALLING
This research is motivated by students who focus only on textbooks and the lack of
learning media in the learning process which has an impact on the average low
learning outcomes of science. This study aims to determine the learning outcomes
of students of UPT SPF SD Negeri 67 Rappokalling in science learning in classes
that use kokami media (mysterious card box) and in classes that do not use kokami
media (mysterious card box) and to determine the effect of media on science
learning outcomes in class III students of UPT SPF SD Negeri 67 Rappokalling. This
study uses the Quasi Experimental Design research method. The population in this
study were all class III students of UPT SPF SD Negeri 67 Rappokalling. The
sampling technique used is the total sampling technique or saturated sample. The
instrument used is a test instrument in the form of multiple choice questions to
measure student learning outcomes. Based on the results of the study, it shows that
the level of student learning outcomes in the experimental class using kokamo
media (mysterious card box) was 82% with the category of complete learning and
18% with the category of incomplete learning. The level of student learning
outcomes in the control class that did not use kokami media (mysterious card box)
was 22% with the category of complete learning and 78% with the category of
incomplete learning. The results of the hypothesis test obtained sig 0.000 meaning
H0 is rejected (0.000 <0.05) H1 is accepted because sig (tailed)> a or (0.921> 0.05).
While in the T test analysis, Sig > ttable or (7.964 > 1.994). Therefore, the hypothesis
tester can conclude that there is a significant influence between learning taught
using kokami media (mysterious card box) and learning that does not use kokami
media (mysterious card box) on the learning outcomes of class III science students
at UPT SPF SD Negeri 67 Rappokalling
Pengaruh Strategi Guided Note Taking (GNT) Berbantuan Media Audio Visual Animasi Terhadap Hasil Belajar Siswa pada Mata Pelajaran IPAS Kelas V Sd Inpres Minasa Upa
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh strategi Guided Note-Taking (GNT) berbantuan media audio visual animasi terhadap hasil belajar siswa dalam mata pelajaran IPAS kelas V di SD Inpres Minasa Upa. Latar belakang penelitian ini didasarkan pada rendahnya hasil belajar siswa akibat penerapan metode konvensional yang kurang interaktif dan terbatasnya kemampuan siswa dalam mencatat poin-poin penting selama pembelajaran. Sampel dalam penelitian ini berjumlah 39 siswa yang terbagi dalam dua kelas, yaitu kelas eksperimen sebanyak 20 siswa dan kelas kontrol sebanyak 19 siswa. Penelitian ini menggunakan metode kuasi eksperimen dengan desain nonequivalent control group. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui pemberian tes pretest dan posttest kepada kedua kelompok. Teknik analisis data yang digunakan adalah uji normalitas, uji homogenitas dan uji-t (independent samples t-test) dengan bantuan aplikasi SPSS versi 29. Hasil penelitian menunjukkan adanya peningkatan signifikan pada hasil belajar siswa yang menggunakan strategi GNT berbantuan media audio visual animasi. Rata-rata nilai posttest kelas eksperimen meningkat dari 58,75 menjadi 85,40, sedangkan kelas kontrol dari 56,90 menjadi 73,20. Nilai signifikansi p = 0,001 (p < 0,05) menunjukkan bahwa strategi GNT efektif dalam meningkatkan hasil belajar siswa. Penelitian ini menyarankan integrasi strategi pembelajaran berbasis teknologi untuk meningkatkan pemahaman dan keterlibatan siswa dalam pembelajaran di sekolah dasar
Identifikasi Kemampuan Berpikir Logis Mahasiswa Calon Guru Fisika Menggunakan Instrument TOLT
This study aimed to identify the type of reasoning and the level of prospective physics teacher studentsââ¬â¢ logical thinking ability. This type of research was a field study with a quantitative descriptive method. The test was the technique used in collecting data of this study. The instrument used in this study was the standard test like Test of Logical Thinking (TOLT). This test consists of 10 questions that measured five types of reasoning, namely proportional reasoning, variable control, probabilistic reasoning, correlation reasoning, and combination reasoning. The level of logical thinking ability was distinguished into concrete, transitional, and formal thinking operational. The sample of this study was students of physics teacher candidates at the first-year level, totaling 30 students. àAll of data was analyzed by quantitative descriptive. In general, students tend to the type of proportional reasoning and controlling variables and less on probabilistic reasoning. Based on the level of logical thinking ability, the results showed that the percentage of 30 students who were in the concrete, transitional, and formal categories, respectively, were 30%, 30%, and 60%. This data becomes the basis for consideration in the development of learning models and learning assessments used in lectures, especially in Department of Physics Education in one of the University in Makassar city, so that they are able to contribute to the development of students' level of logical thinking skills as a provision for the next life
METODE OUTDOOR LEARNING DALAM PENERAPANNYA TERHADAP HASIL BELAJAR IPA SISWA UPT SDN 49 LAPPO ASE KABUPATEN BONE
Konteks penelitian tindakan kelas ini dilatarbelakangi dari hasil belajar siswa yang masih tergolong kurang baik; pendekatan pembelajaran yang diterapkan guru masih bersifat konvensional; dan siswa kurang memiliki motivasi belajar yang kuat. Kondisi ini diatasi melalui penerapan metode outdoor learning diamana pembelajaran dilaksanakan di luar ruangan dengan topik cara perkembangbiakan tumbuhan dan hewan. Tujuan penelitian ini adalah untuk melihat seberapa sukses metode outdoor learning dalam meningkatkan hasil belajar IPA di SDN 49 Lappo Ase Kabupaten Bone. Penelitian tindakan kelas ini dilaksanakan dalam dua siklus. Setiap siklus memiliki langkah-langkah utama sebagai berikut: perencanaan, tindakan, pengamatan, dan refleksi. Tahap tindakan selalu direvisi untuk mendapatkan hasil yang lebih baik dan akurat. Proses pengolahan data pada penelitian ini menggunakan pendekatan analitis deskriptif. Penerapan metode outdoor learning terbukti efektif dalam meningkatkan hasil belajar IPA dibuktikan dengan hasil penelitian pada siklus I dan II, dengan skor rata-rata hasil belajar IPA siswa meningkat dari 76,67 menjadi 83,06 dan ketuntasan klasikal pembelajaran juga meningkat dari 72,22% menjadi 88,89%
Blended Learning: Penerapan dan Pengaruhnya Terhadap Kemampuan Berpikir Kritis Mahasiswa Program Studi PGSD
Blended Learning merupakan pembelajaran yang tidak hanya mendapatkan pengalaman belajar dari dalam kelas, tetapi mereka memanfaatkan pengalaman belajar yang lebih luas secara mandiri guna meningkatkan keterampilan berpikir kritis mahasiswa. Penelitian ini bertujuan menerapkan dan melihat pengaruh model pembelajaran blended learning terhadap kemampuan berpikir kritis mahasiswa prodi PGSD pada mata kuliah Konsep Dasar IPA SD. Penelitian ini menggunakan metode quasi eksperimen dengan desain the matching-only pretsest-posttest control group design. Hasil penelitian menunjukkan bahwa keterlaksanaan penerapan pembelajaran mata kuliah Konsep Dasar IPA SD dengan model Blended Learning yang dipadukan dengan melatihkan indikator keterampilan berpikir kritis sudah terlaksana  dengan baik. Berdasarkan hasil uji signifikansi diketahui bahwa pengaruh peningkatan keterampilan berpikir kritis antara kedua kelas eksperimen berbeda secara signifikan. Dari pengujian hipotesis, didapatkan taraf signifikansi untuk postest sebesar 0,001 dan N-Gaian sebesar 0,017. Nilai taraf signifikansi ini menunjukkan nilai yang lebih kecil dari 0,025 (sig (2-tailed) < 0,025), sehingga dapat disimpulkan terdapat perbedaan pengaruh peningkatan keterampilan berpikir kritis antara kedua kelas eksperimen. Mahasiswa menanggapi positif terhadap penerapan pembelajaran mata kuliah Konsep Dasar IPA SD dengan model Blended Learning dalam meningkatkan keterampilan berpikir kritis mahasiswa, meskipun dalam pelaksanaannya masih memiliki keterbatasan dalam pengelolahan kelas selama proses pembelajaran daring dan luring
Model Pembelajaran Example Non Example Untuk Meningkatan Hasil Belajar IPA Murid Sekolah Dasar
Masalah dalam penelitian ini yaitu guru sering kali menyampaikan materi pelajaran IPA hanya menggunakan metode ceramah, sehingga murid merasa bosan dan kurang tertarik untuk belajar IPA. Hal ini dapat menyebabkan hasil belajar murid menjadi rendah. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui peningkatan hasil belajar IPA melalui model pembelajaran kooperatif tipe example non example murid kelas IV SD Inpres 12/79 Hulo Kabupaten Bone. Penelitian yang dilaksanakan merupakan penelitian tindakan kelas (PTK). Penelitian ini dilakukan dalam dua siklus yang mencakup empat kali pertemuan. Subjek penelitian ini adalah murid kelas IV SD Inpres 12/79 Hulo Kabupaten Bone sebanyak 14 murid yang terdiri atas 7 laki-laki dan 7 perempuan. Teknik pengumpulan data adalah observasi, tes (evaluasi), dan dokumentasi. Data yang diperoleh kemudian dianalisis dengan menggunakan analisis deskriptif kuantitatif dan kualitatif. Hasil penelitian menunjukan bahwa melalui penerapan model pembelajaran kooperatif tipe example non example, hasil belajar IPA murid kelas IV SD Inpres 12/79 Hulo Kabupaten Bone mengalami peningkatan. Pada siklus I, nilai rata-rata hasil belajar murid 61 dengan 6 murid atau dengan presentase 40%. Sedangkan pada siklus II, nilai rata-rata meningkat menjadi 90 dengan 14 murid atau dengan presentase 100%. Dari hasil analisis tersebut disimpulkan bahwa hasil belajar IPA pada murid kelas IV SD Inpres 12/79 Hulo Kabupaten Bone dapat ditingkatkan melalui model pembelajaran kooperatif tipe example non example
Peningkatan Hasil Belajar IPA Melalui Model Pembelajaran Inkuiri Pada Murid Sekolah Dasar
Masalah dalam penelitian ini yaitu guru sering kali menyampaikan materi pelajaran IPA dengan metode ceramah, sehingga murid merasa bosan dan kurang tertarik untuk belajar IPA. Hal ini dapat menyebabkan hasil belajar murid menjadi rendah. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui peningkatan hasil belajar IPA melalui model pembelajaran inkuiri murid kelas V SD Inpres 12/79 Hulo Kabupaten Bone. Penelitian yang dilaksanakan merupakan penelitian tindakan kelas (PTK). Penelitian ini dilakukan dalam dua siklus yang mencakup empat kali pertemuan. Subjek penelitian ini adalah murid kelas V SD Inpres 12/79 Hulo Kabupaten Bone sebanyak 13 murid yang terdiri atas 6 laki-laki dan 7 perempuan. Teknik pengumpulan data adalah observasi, tes (evaluasi), dan dokumentasi. Data yang diperoleh kemudian dianalisis dengan menggunakan analisis deskriptif kuantitatif dan kualitatif. Hasil penelitian menunjukan bahwa melalui penerapan model pembelajaran inkuiri, hasil belajar IPA murid kelas V SD Inpres 12/79 Hulo Kabupaten Bone mengalami peningkatan. Pada siklus I, nilai rata-rata hasil belajar murid 60 dengan 5 murid atau dengan presentase 38%. Sedangkan pada siklus II, nilai rata-rata meningkat menjadi 93 dengan 13 murid atau dengan presentase 100%. Dari hasil analisis tersebut disimpulkan bahwa hasil belajar IPA pada murid kelas V SD Inpres 12/79 Hulo Kabupaten Bone dapat ditingkatkan melalui model pembelajaran inkuiri
Pengaruh Metode Blended Learning Terhadap Hasil Belajar IPA Siswa Kelas V SD Inpres Minasaupa
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh metode pembelajaran Blended Learning Terhadap Hasil Belajar IPA Siswa Kelas 5 SD Inpres Minasa Upa. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat peningkatan signifikan dalam hasil belajar siswa pada kelas eksperimen dibandingkan dengan kelas kontrol. Rata-rata nilai posttest kelas eksperimen meningkat dari 61,71 menjadi 83,50, sedangkan kelas kontrol meningkat dari 63,21 menjadi 73,29. Uji-t menunjukkan nilai t = -5,652, df = 26, dan nilai signifikansi p = 0,000 (p < 0,05), yang menunjukkan bahwa metode pembelajaran Blended Learning secara signifikan meningkatkan hasil belajar siswa dibandingkan metode konvensional. Kesimpulan penelitian ini menegaskan bahwa penerapan metode pembelajaran blended learning dapat meningkatkan pemahaman konsep dan keterlibatan aktif siswa dalam pembelajaran IPA. Implikasi dari penelitian ini adalah perlunya integrasi strategi pembelajaran inovatif berbasis teknologi untuk meningkatkan efektivitas pembelajaran di sekolah dasar dan menjadikan metode blended learning sebagai salah satu pilihan untuk metode pembelajaran yang nantinya diharapkan hasil serta minat belajar peserta didik ini akan meningkat dengan pesa
Transformation of Women Politicians in Parliament
Abstract: Women’s representation in politics in Indonesia has been secured despite inequal percentage compared to the men. For instance, the results of the 2019 legislative elections for women only accounted for 20.5% or 118 seats of the 560 existing seats. On the other hand, it seems that the performance of women in parliament is also questionable. Thus, this research was conducted to find out and understand how was the performance of women politicians, their contribution to women empowerment and the obstacles they faced. This descriptive-explorative qualitative research was conducted in Ponorogo as a district in the former Residency of Madiun which always gets the highest number of women politicians in each elections until 2019. The research subjects were selected using purposive sampling toward women legislature members of DPRD Ponorogo. Meanwhile, the data was obtained through interviews, observation, and documentation. Furthermore, for the data analysis the author employed Harvard gender analysis and used data triangulation as one of the data verification techniques. The results of this study concluded that the performance of women legislative members was less satisfactory. This can be seen from 3 aspects; responsiveness, accountability and effectiveness. In addition, some obstacles they faced are (a) the strong patriarchal culture in the legislative environment, (b) weak coordination among women legislative members, (c) patterns of relationships that are built on a transactional basis, and (d) politically charged programs
