6 research outputs found
PENGARUH LAMA INKUBASI TERHADAP TOTAL BAKTERIDAN SENSORIS SUSU KUDA, KAMBING, DAN SAPI FERMENTASI DENGAN BAKTERI Bifidobacterium longum
This research aims to determine the effect of different time of
incubation and different milk on the growth of bacteria and sensory milk
fermented with starter bacteria Bifidobacterium longum. Milk is used as a
medium to grow bacteria are dairy cows, goats and mare�s milk, whereas
incubation at the 0, 3, 6 and 9 hours. Variables was observed include
acidity, pH, protein, the number of bacteria. The sensory testing performed
while in fermented milk treatment to 9 hours of incubation. Number of
starter bacteria to be added as much as 10% v/v at each milk. Data of
acidity, pH, protein and the number of bacteria calculated using a Factorial
Completely Randomized design, while the sensory test data with Kindependent
Kruskal Wallis test. The results showed differences in the
type of milk and the effect of incubation at significantly (P<0.05) on acidity,
pH and the amount of growth, but the effect was not significant (P>0.05) of
the protein in the difference h of incubation. Interaction between the
different types of milk as fermentation media and incubation at significantly
(P0.05) of the
protein and the amount of bacterial growth. Final pH value of the milk
cows, goats and horses in a row (5.03. 5.74, 3.91) with the acidity values
(0.37, 0.34, 0.36%), protein (26.5, 67.56, 42.82 mg/ml) and the number of
bacteria (37.108, 44.108, 62.108 cell/ml). The resulting taste at all 9 shows
that the majority of respondents expressed a bitter taste preference for
lower levels of milk fermented with starter bacteria Bifidobacterium
longum. Conclusions of the study indicate that differences in the type of
milk and the long incubation effect on bacterial growth and sensory of
fermented milk
Identifikasi Lokasi dan Performa Fisik Kambing Perah di Desa Mranggen Kecamatan Srumbung Kabupaten Magelang Provinsi Jawa Tengah
Salah satu kecamatan di Kabupaten Magelang, Jawa Tengah dengan populasi kambing cukup tinggi berada di Kecamatan Srumbung dengan populasi kambing sekitar 1.344 ekor. Jumlah populasi tersebut termasuk kambing potong dan kambing perah. Hingga saat ini belum ada informasi pendukung terkait tentang lokasi dan kondisi ternak kambing perah di Kecamatan Srumbung, khususnya di Desa Mranggen. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi lokasi peternakan dan performa fisik kambing perah di Desa Mranggen. Pengambilan sampel objek penelitian menggunakan purposive sampling. Kriteria sampel kambing perah yang digunakan dalam penelitian ini yaitu kambing perah betina dengan umur di atas 1 tahun sebanyak 48 ekor. Data yang diperoleh dianalisis secara deskriptif. Didapatkan hasil bahwa lokasi peternakan kambing perah berada pada ketinggian +539 mdpl, suhu 24,5oC, kelembapan 70.7% dan THI 73,43. Terdapat dua jenis kambing perah yaitu kambing Peranakan Ettawah (PE) dan Sapera dengan performa fisik yang diamati panjang kepala, lebar kepala, panjang telinga, tinggi gumba, lebar telinga, lingkar dada dan panjang badan. Kesimpulan dari penelitian Desa Mranggen memiliki kondisi lingkungan yang mendukung untuk pemeliharaan kambing perah. Ketinggian tempat, suhu dan kelembapan serta THI berada pada zona nyaman untuk ternak (comfort zone) hidup. Ukuran tubuh kambing PE masuk dalam standar Stdanadr Nasional Indonesia (SNI) yaitu panjang badan, lingkar dada dan panjang telinga kecuali tinggi pundak yang belum sesuai syarat minimal SNI. Sedangkan performa fisik kambing Sapera memiliki ukuran tubuh dan kepala yang hampir sama seperti kambing PE namun untuk ukuran telinga lebih kecil dan pendek
Pengaruh Teknik Pemasakan dan Waktu terhadap Karakteristik Fisik Telur Ayam Ras Petelur
Telur merupakan pangan sumber protein yang paling sering dikonsumi. Umumnya pengolahan telur menggunakan prinsip pemanasan, namun belum banyak diketahui pengaruh jenis pemasakan terhadap karakteristik olahan hasil telur. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karateristik telur yang dimasak dengan media pemasakan dan waktu yang berbeda. Penelitian ini menggunakan metode eksperimental. Data hasil penelitian dianalisis dengan metode diskriptif. Perlakuan 1. Telur goreng, Perlakuan 2. Telur rebus tanpa kerabang dan Perlakuan 3. Telur dengan kerabang. Pada perlakuan 1 dan perlakuan 2 diberi waktu pemasakan 1, 2, 3 menit dan hingga telur matang sempurna. Dalam perlakuan 3 dilakukan perebusan telur dengan kerabang menggunakan parameter waktu 3, 6, 9 dan 12 menit. Dalam pengolahanya dari setiap perlakuan diamati kondisi fisik dan dilakukan pengecekan suhu telur saat menit ke-0, selanjutnya pada menit ke-1, 2, 3 dalam perebusan telur tanpa kerabang dan pemasakan telur ataupun menit ke-3, 6, 9, 12 pada perebusan telur dengan kerabang diamati perubahan kondisi albumen atau putih telur dan kondisi yolk atau kuning telur yang mengalami perubahan berupa mengental hingga mengeras dari pengaruh suhu terhadap telur. Hasil dari ketiga perlakuan yang dilakukan didapatkan hasil telur dengan perlakuan 1 dengan cara telur digoreng lebih cepat mencapai matang sempurna dengan suhu telur 84oC, pada menit ke-1 hingga ke-3 menunjukkan perbedaan kondisi albumen dan kuning telur yaitu mulai terjadi pemadatan dan perubahan warna, yang semula albumen berwarna putih bening dan kental menjadi putih biasa dan padat serta kuning telur yang berwarna kuning cerah kental menjadi sedikit memudar dan padat. Sementara itu untuk telur dengan perlakuan 3 hingga menit ke-12 dengan suhu 96oC masih belum mencapai matang sempurna. Kesimpulan yang didapatkan adalah telur yang dimasak dengan metode penggorengan lebih cepat matang dibandingkan dengan menggunakan air. Namun demikian perlu dilakukan penelitian lebih lanjut terhadap kualitas gizi telur pada pemasakan yang berbeda tersebut
PENGARUH PEMBERIAN DEDAK AROMATIK TERHADAP KANDUNGAN ASAM LAKTAT, pH, DAN BAHAN KERING SILASE RUMPUT PAKCHONG (Pennisetum purpureum cv, Thailand)
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian level dedak aromatik yang berbeda terhadap kandungan asam laktat, pH, dan bahan kering silase rumput Pakchong. Dedak aromatik, dedak yang difermentasi menggunakan probiotik yang mengandung bakteri asam laktat, dicampurkan ke dalam silase rumput Pakchong sesuai dengan rancangan acak lengkap dengan empat taraf dedak aromatik sebagai perlakuan dan lima ulangan. Perlakuan level dedak aromatik yang ditambahkan yaitu P0 = Rumput Pakchong + 0% dedak aromatik, P1 = Rumput Pakchong + 1% dedak aromatik, P2 = Rumput Pakchong + 3% dedak aromatik, P3 = Rumput Pakchong + 5% dedak aromatik. Rumput Pakchong dan dedak aromatik dicampur secara homogen, dimasukkan ke dalam 20 unit silo toples kaca dengan kapasitas masing-masing 5 L, kemudian diinkubasi selama 21 hari. Pada akhir periode percobaan, dilakukan pengukuran nilai pH, kadar asam laktat, dan kadar bahan kering pada setiap satuan perlakuan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan dedak aromatik berpengaruh nyata (p<0,05) terhadap pH dan nilai asam laktat, namun tidak berpengaruh nyata terhadap nilai bahan kering. Silase rumput Pakchong yang mengandung level dedak aromatik yang lebih tinggi secara signifikan menurunkan nilai pH (dari 6,48 menjadi 5,95), namun pencapaian nilai pH ahkhir tersebut, belum memenuhi syarat sebagai silase berkualitas baik. Perubahan nilai pH juga diikuti dengan tren peningkatan kandungan asam laktat. Meskipun terdapat kecenderungan nilai bahan kering yang lebih tinggi pada silase yang mengandung dedak aromatik yang lebih tinggi, secara statistik perbedaan tersebut tidak signifikan. Disimpulkan bahwa level dedak aromatik yang ditambahkan hingga 5% pada penelitian ini tidak memperbaiki kualitas silase rumput Pakchong ditinjau dari nilai pH, asam laktat, dan bahan kering.
KORELASI KADAR LEMAK DAN LAKTOSA DENGAN BERAT JENIS SUSU SAPI FRIESIAN HOLSTEIN DI KECAMATAN NGABLAK KABUPATEN MAGELANG
Milk density and fat content are used as indicators of milk production from dairy farmer by Milk Proccessing Industry (MPI). Some MPI determines the price of milk based on fat and milk lactose content. This research was aimed to study the correlation of fat content, lactose content, and milk density. The material used were 90 of lactation FH cows in the II – III lactation periode and month of lactation are 2 – 3. The analysis method used was simple linear correlation regresion. The results showed that during increased milk fat and lactose contents, will increased milk density. Fat and lactose content are significantly correlated with milk density (P<0.01). The overall calculation shows that there was a relationship between fat content and lactose content to milk density, each 70.8 and 68.7%. Fat content with milk density, and lactose content with milk density showed a strong positive correlations. In conclusion, there was a correlation between fat content and lactose content with milk density. The correlation of fat content and lactose content with milk density were the higher fat and lactose content, higher milk density
Chemical composition of goat cheese with different types of coagulants, types and doses of calcium compounds
This study investigates the effects of different types of coagulants, types and doses of calcium compound on goat cheese production. The coagulants used in this study were fig latex extract (Ficus carica L.) and commercial rennet, while calcium chloride (CaCl2) and calcium carbonate (CaCO3) with doses of 0,10 and 20mg/100ml of milk. The research aims to determine how these variables influence the chemical composition of goat cheese. The results revealed that the type of coagulant affected the water content, ash content, protein content and calcium content of goat cheese produced. Fig plant latex extract produced cheese with higher water, ash, and calcium content, but with lower protein content than commercial rennet. The type of calcium compound did not affect the chemical composition of the cheese. While the concentration of calcium compound only affected the calcium content of the cheese. In summary, this study showed that the type of coagulant affected the chemical composition of the cheese, the addition of calcium compound CaCl2 and CaCO3 did not affect the chemical composition of the cheese, except for the protein content. The doses of calcium compound addition generally do not affect the chemical composition of cheese, except for the calcium content
