Jurnal Ilmu dan Teknologi Peternakan
Not a member yet
    194 research outputs found

    KANDUNGAN FRAKSI SERAT FERMENTASI BATANG PISANG DENGAN PENAMBAHAN INDIGOFERA (Indigofera sp) SEBAGAI PAKAN TERNAK

    Full text link
    Pakan merupakan kebutuhan utama untuk ternak dikarenakan pakan mengandung zat-zat makanan untuk pertumbuhan dan produktivitas ternak itu sendiri. Keberhasilan suatu usaha peternakan tergantung pada pakan yang digunakan dan dimanfaatkan oleh ternak. Variabel terbesar dari total biaya produksi suatu usaha adalah biaya pakan yang dapat mencapai 70-80%. Menghindari biaya yang tinggi maka perlu dimanfaatkan limbah pertanian sebagai pakan ternak. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penambahan Indigofera terhadap kualitas fraksi serat fermentasi batang pisang. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimen menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan lima perlakuan dan empat ulangan. Perlakuan yang diterapkan yaitu: P0= Batang pisang + 0% Indigofera, P1=  Batang pisang + 10% Indigofera, P2=  Batang pisang +  20% Indigofera, P3=  Batang pisang + 30% Indigofera, dan P4=  Batang pisang + 40% Indigofera. Parameter yang diukur yaitu kandungan Neutral Detregent Fiber (NDF), Acid Dteregent Fiber(ADF), dan hemiselulosa. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penambahan Indigofera terhadap kandungan NDF, ADF, dan hemiselulosa nyata dalam menurunkan kandungan kadar NDF, ADF, dan hemiselulosa batang pisang fermentasi. Kesimpulan dari hasil penelitian adalah penambahan Indigofera sebanyak 40 % menghasilkan kualitas fermentasi batang pisang terbaik

    PENGARUH LAMA PENGASINAN DAN DOSIS PENAMBAHAN SERAI DAPUR DAN BAWANG PUTIH TERHADAP KUALITAS ORGANOLEPTIK DAN KARAKTERISTIK FISIK TELUR PUYUH ASIN

    No full text
    Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui lama pengasinan telur puyuh dengan penambahan serai dapur dan bawang putih terhadap kualitas organoleptik dan karakterisitik fisik telur puyuh asin. Telur yang digunakan dalam penelitian ini berumur 1 hari. Metode yang digunakan dalam penelitian ini yaitu Rancangan Acak Lengkap (RAL) pola faktorial 3 x 2 yang terdiri 3 perlakuan 5 ulangan. Setiap ulangan menggunakan 10 butir telur puyuh. Perlakuan yang digunakan yaitu menggunakan konsentrasi ekstrak serai dapur dan ekstrak bawang putih (0%, 10%, dan 15%) dan lama pengasinan (7 dan 14 hari). Parameter yang diukur dalam penelitian ini adalah pH, kadar air, dan kualitas organoletik (aroma, rasa, warna dan kemasiran). Hasil penelitian menunjukan bahwa nilai pH dan kadar air telur puyuh asin tidak berbeda diantara kombinasi perlakuan penambahan serai dan bawang putih baik pada pengasinan 7 maupun 14 hari. Penambahan serai dan bawang putih dengan level hingga 15% nyata meningkatkan skor pada parameter aroma, rasa, warna dan kemasiran terutama jika pengasinan dilakukan selama 14 hari. Dosis terbaik dalam mempertahankan pH dan kadar air serta memperbaiki tingkat penerimaan telur puyuh asin adalah 15% dan lama pengasinan 14 hari.Kata kunci : bawang putih, serai dapur, telur puyuh, telur asin

    IDENTIFIKASI KAPANG DAN KHAMIR PADA BEBERAPA JENIS MEDIA PERTUMBUHAN MAGGOT BLACK SOLDIER FLY

    Full text link
    Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui jumlah dan jenis kapang dan khamir yang diperoleh dari media pertumbuhan maggot BSF yang terdiri atas campuran feses domba, endapan susu, dan sampah organik dapur. Penelitian ini menggunakan metode eksperimetal berdasarkan Rancangan Acak Lengkap dengan empat jenis campuran media pertumbuhan maggot, dan lima ulangan. Jenis media perlakuan yaitu: P0 : sampah organik dapur (100%), P1 : sampah organik dapur (50%) dan feses domba (50%), P2 : sampah organik dapur (50%) dan endapan susu (50%), P3 : sampah organik dapur (33,33%), feses domba (33,33%), dan endapan susu (33,33%). Isolasi dan identifikasi kapang dan khamir dilakukan pada masing-masing media setelah dilakukan pemeliharaan maggot BSF selama 21 hari. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kapang lebih banyak ditemukan tumbuh pada media campuran feses domba dan sampah organik dapur (P1) baik sebelum maupun setelah degradasi, namun persentase penurunan kapang paling rendah jika media yang digunakan merupakan campuran antara sampah organik dapur, feses domba, dan endapan susu dengan proporsi yang sama (P3). Disisi lain, tidak ditemukan perbedaan jumlah khamir yang tumbuh pada semua jenis media pertumbuhan maggot. Terdapat kecenderungan penurunan khamir yang lebih rendah pada campuran ketiga jenis bahan organik sebagai media (P3). Jenis kapang yang teridentifikasi pada media pertumbuhan maggot BSF diantaranya Aspergillus sp., Cladosporium sp., Mucor sp., Neurospora sp., Penicillium sp., dan Rhizopus sp, dan jenis khamir yang teridentifikasi pada media maggot BSF diantaranya Candida sp., Saccharomyces sp., dan Zygosaccharomyces sp

    ANALISIS HUBUNGAN ANTARA BAHAN KERING TANPA LEMAK DAN TOTAL PADATAN PADA BERAT JENIS SUSU KAMBING SAPERA

    No full text
    Kambing Sapera mampu memproduksi susu cukup tinggi dan mengandung kadar lemak yang lebih tinggi daripada susu sapi. Kadar lemak susu berkorelasi negatif dengan berat jenis, tetapi berkorelasi positif dengan total padatan, sehingga digunakan parameter berat jenis, bahan kering tanpa lemak, dan total padatan untuk menentukan kualitas dan harga susu. Tujuan penelitian ini untuk menganalisis kadar berat jenis, bahan kering tanpa lemak, dan total padatan pada susu Kambing Sapera serta hubungan antara bahan kering tanpa lemak dan total padatan dengan berat jenis susu. Materi penelitian yang digunakan berjumlah 30 sampel susu yang terdiri 15 dari masing-masing Siliwangi Farm dan Gaza Farm. Hasil penelitian menunjukkan nilai rata-rata berat jenis, bahan kering tanpa lemak dan total padatan secara keseluruhan berturut-turut sebesar 1,028±0,001 g/ml, 7,992±0,349%, dan 12,572± 0,888%. Hasil Uji-T menunjukkan bahwa kadar berat jenis, bahan kering tanpa lemak, dan total padatan antara kedua Farm tersebut tidak berbeda nyata (P>0,05). Terdapat hubungan positif yang sangat kuat dan pengaruh yang lebih besar antara berat jenis dan bahan kering tanpa lemak dimana nilai R2=0,8005 dan r=0,895 dengan persamaan Y = 0,0032X + 1,0023. Hasil analisis menunjukkan bahwa berat jenis memiliki perbandingan pengaruh yang lebih besar terhadap bahan kering tanpa lemak daripada total padatan

    PERBANDINGAN PENGUKURAN PROTEIN METODE BRADFORD DAN TITRASI FORMOL PADA SUSU SEGAR TERHADAP KADAR PROTEIN, LAMA ANALISIS, DAN BIAYA

    No full text
    Komposisi yang terkandung pada susu merupakan indikator dalam menilai kualitas susu segar. Pemeriksaan kualitas susu sangat penting karena berbagai alasan yang berkaitan dengan kesehatan masyarakat, kepuasan konsumen, dan keberhasilan komersial produk susu.  Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui perbedaan metode pengujian protein (Bradford dan Titrasi  formol) pada susu segar terhadap kadar protein, lama analisis, dan biaya. Materi yang digunakan pada penelitian ini adalah sampel susu sapi segar yang diperoleh dari 30 ekor sapi perah. Variabel yang diukur yaitu kadar protein, lama analisis dan biaya yang dibutuhkan untuk setiap metode analisis protein. Data dianalisis menggunakan analisis deskriptif, dan uji T. Nilai kadar protein yang diperoleh dengan metode Bradford berkisar  antara 1,81 - 2,74% dan Titrasi  formol antara 2,2 - 3,7%. Rataan kadar protein dengan metode Bradford 2,23±0,26% dan titrasi  formol 2,96±0,43%. Waktu analisis yang dibutuhkan pada metode Bradford 17 menit dan titrasi  formol  5,15 – 5,6 menit. Rataan waktu dengan metode  Bradford 17±0 menit dan titrasi  formol 5,37±0,12 menit sedangkan biaya yang dibutuhkan pada metode Bradford 2.000,00 Rupiah/sampel dan titrasi  formol 1.164,55-1.170,88 Rupiah/sampel. Rataan biaya yang di butuhkan pada metode Bradford 2.000,00±0 Rupiah/sampel dan Titrasi  formol 1.167,76±1,82 Rupiah/sampel. Hasil Uji T menunjukkan bahwa pengujian kadar protein menggunakan metode Bradford dan titrasi  formol berbeda nyata (P<0,05) terhadap kadar protein, lama analisis dan biaya. Pengukuran kadar protein dengan metode titrasi  formol memberikan hasil yang lebih sensitif terhadap kadar protein susu segar lebih cepat dan biaya analisis lebih murah

    PENGARUH Lactobacillus lactis PADA PEMBUATAN MENTEGA DARI LEMAK WHEY DANGKE DENGAN SUHU BERBEDA

    No full text
    Whey merupakan hasil samping dari pembuatan keju, dangke, ataupun tahu susu. Mengingat whey mengandung sekitar 55% total nutrisi dari susu maka whey dangke dapat diolah menjadi berbagai produk salah satunya menjadi mentega. Mentega yang difermentasi dengan starter bakteri asam laktat (BAL) akan memiliki rasa yang lebih disukai dan khas dibandingkan dengan mentega biasa. Penelitian ini bertujuan menjelaskan pengaruh bakteri Lactobacillus lactis dan suhu pasteurisasi pada pembuatan mentega dari lemak dalam whey terhadap kualitas organoleptik mentega yaitu warna, aroma, dan tekstur. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) pola faktorial 2x4 dengan 3 kali ulangan. Faktor A adalah level penambahan bakteri (0,5%, 1%, 1,5% dan 2%). Faktor B adalah suhu pasteurisasi 60°C dan 70°C. Penambahan bakteri dan suhu pasteurisasi memengaruhi warna, aroma, dan tekstur mentega secara signifikan. Kombinasi keduanya tidak menghasilkan perubahan organoleptik yang lebih nyata. Hasil Penelitian menunjukkan penambahan level konsentrasi bakteri dan suhu pasteurisasi dapat menurunkan warna kuning, menghasilkan aroma asam, dan tekstur lunak pada mentega yang dihasilkan

    ANALISIS PENDAPATAN USAHA PETERNAK SAPI BALI SKALA RUMAH TANGGA DI KECAMATAN WATOPUTE KABUPATEN MUNA

    No full text
    Tujuan dari penelitian ini adalah untuk (1) menganalisis pendapatan peternak sapi Bali skala rumah tangga di Kecamatan Watopute Kabupaten Muna, (2) menganalisis kelayakan usaha peternak sapi Bali skala rumah tangga di Kecamatan Watopute Kabupaten Muna berdasarkan analisis R/C Ratio dan B/C Ratio. Lokasi Penelitian ini yaitu seluruh desa yang ada di Kecamatan Watopute Kabupaten Muna yaitu terdiri dari Desa Matarawa, Desa Wakadia, Desa Lakapodo, Desa Labaha, Desa Bangkali, Desa Bangkali Barat, Kelurahan Wali dan Kelurahan Dana.Pemilihan lokasi ditentukan secara sengaja (purposive sampling). Pengumpulan data dilakukan dengan cara observasi, melakukan wawancara dan mengambil dokumentasi. Sumber data yang digunakan adalah data primer dan data sekunder. Metode analisis yang digunakan adalah analisis pendapatan, analisis R/C ratio dan analisis B/C ratio. Hasil penelitian ini menunjukkan pendapatan per tahun yang diperoleh usaha peternakan sapi Bali di Kecamatan Watopute sebesar Rp.901.668./ekor. Nilai R/C ratio sebesar 1,68 atau > 1, maka usaha tersebut layak untuk dijalankan. Sedangkan nilai B/C ratio sebesar 0,68 atau > 0, maka usaha layak untuk dijalankan

    EFEKTIVITAS KELOMPOK PETERNAK DAN KEBERHASILAN USAHA PETERNAK SAPI PERAH PASCA EPIDEMI PENYAKIT MULUT DAN KUKU (KASUS TPK CIPANAS WILAYAH KPBS PANGALENGAN)

    No full text
    TPK Cipanas merupakan salah satu TPK di KPBS yang memiliki peternak sebanyak 206 orang berasal dari enam kelompok dan terdampak PMK.  Efeknya berdampak juga terhadap aktivitas kelompok, karena adanya pembatasan kontak sesama peternak sehingga Efektivitas kelompok peternak terhambat karena kondisi tersebut.  Pasca PMK pengembangan usaha ternak sapi perah adalah hal penting untuk meningkatkan produktivitasnya, sehingga peran kelompok dalam mencari nilai tambah dan pemeliharaan ternak yang efektif menjadi penting.  Tujuan penelitian: 1) Mengkaji efektivitas kelompok peternak sapi perah di TPK Cipanas; 2) Mengkaji keberhasilan usaha peternak sapi perah di TPK Cipanas; 3) Menganalisis keterkaitan antara efektivitas kelompok dengan keberhasilan usaha di TPK Cipanas.  Metode penelitian yang digunakan adalah survei.  Penentuan responden menggunakan metode sensus dengan mengambil semua peternak berjumlah 206 peternak berasal dari 6 kelompok.  Analisis yang digunakan adalah mix method antara kuantitatif dan kualitatif.  Analisis yang digunakan untuk mengetahui keeratan hubungan antara keefektifan kelompok dengan keberhasilan usaha digunakan Korelasi Rank-Spearman.  Hasil penelitian menunjukkan tingkat efektivitas kelompok TPK Cipanas pada kategori sedang (66,67 %), keberhasilan usaha peternak pada kategori sedang (65%).  Terdapat hubungan antara efektivitas kelompok dengan keberhasilan usaha dengan koefisien korelasi sebesar 0,65 artinya cukup signifikan menunjukkan hubungan yang searah dengan makna hubungan cukup berarti

    ANALISIS KEUNTUNGAN PETERNAKAN AYAM BROILER POLA KEMITRAAN DI NAGARI TANJUNG BONAI AUR (Studi Kasus Peternakan Dieci Guntara)

    Full text link
    Keuntungan menjadi tujuan utama dari setiap usaha, demikian juga halnya dengan peternakan ayam broiler. Penelitian bertujuan untuk mengetahui keuntungan yang diperoleh dari peternakan ayam broiler dengan pola kemitraan. Penelitian ini menggunakan pendekatan studi kasus pada peternakan Dieci Guntara yang bermitra dengan salah satu perusahaan inti yang menyediakan sarana produksi (PT Ciomas Adisatwa). Analisis keuntungan dilakukan dengan melakukan wawancara dan pengamatan langsung serta melakukan perhitungan berdasarkan data dari pihak peternak plasma maupun dengan pihak inti selama dua periode pemeliharaan dengan skala usaha 9000 ekor broiler setiap periode. Total biaya per periode rata-rata Rp.270.168.459,- atau sebesar Rp.30.019,- per ekor. Sementara itu, rata-rata penerimaan dari hasil penjualan ayam hidup dengan berat rata-rata 1,90 kg/ekor senilai Rp.332.382.250 (Rp.36.931,- per ekor). Pendapatan kotor yang diperoleh per periode rata-rata senilai Rp.80.213.792,- (Rp.8.913,- per ekor). Setelah mempertimbangkan biaya tenaga kerja maka diperoleh pendapatan atau keuntungan bersih senilai Rp. 65.775.310,-/periode atau Rp. 7.308,- per ekor per periode. Faktor utama dari pihak peternak yang menentukan nilai keuntungan ialah lama pemeliharaan, jumlah konsumsi pakan, tingkat kematian, sementara faktor penentu dari pihak inti antara lain harga sarana produksi dan harga jual ayam hidup

    NILAI KECERNAAN IN VITRO SILASE CAMPURAN RUMPUT KUME (Sorghum plumosum var. Timorense) DAN DAUN GAMAL (Gliricidiasepium) DENGAN LEVEL BERBEDA

    Full text link
    ujuan penelitian ini untuk mengetahui nilai kecernaan silase campuran rumput Kume dan daun gamal secara in vitro. Rancangan percobaan yang digunakan dalam penelitian ini adalah Rancangan Acak Lengkap, yang terdiri dari 4 perlakuan dan 3 ulangan. Perlakuan yang dimaksud adalah : R0 = rumput Kume 60% : daun Gamal 40% ; R1 = rumput Kume 70% : daun Gamal 30% ; R2 = rumput Kume 80% : daun Gamal 20% ; R3 = rumput kume 90% : daun Gamal 10%, masing-masing perlakuan ditambahkan gula air 3%, sebagai pengawet. Parameter yang diamati dalam penelitian ini yakni nilai kecernaan bahan kering, kecernaan bahan organik, dan Bahan Ekstrak Tanpa Nitrogen (BETN). Hasil penelitian menunjukkan nilai kecernaan bahan kering semakin meningkat seiring bertambahnya level daun Gamal dari nilai 58,66% (R3) hingga 63,00% (R0). Bertambahnya level daun Gamal juga menyebabkan kecernaan bahan organik meningkat, 61,34% (R3) menjadi 64,34% (R0). Bertambahnya level daun Gamal, juga mampu menurunkan BETN dari 40,67% pada R3 menjadi 40,33% pada R0. Dapat disimpulkan bahwa penambahan daun Gamal dalam campuran silase rumput Kume meningkatkan kecernaan bahan kering, dan bahan organik namun menurunkan BETN

    178

    full texts

    194

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Jurnal Ilmu dan Teknologi Peternakan
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇