Faculty of Agriculture, Universitas Sebelas Maret (Publishing Systems)
Not a member yet
    653 research outputs found

    Pengaruh Nisbah Pupuk ZA : KNO3 dan Macam Tiang Panjat terhadap Kadar NPK Jaringan Tanaman Lada Belum Menghasilkan

    Full text link
    Amonium dan nitrat merupakan bentuk hara nitrogen dalam larutan tanah yang banyak diserap oleh tanaman. Efisiensi serapan N antara kedua bentuk pupuk N tersebut dipengaruhi oleh macam tanaman dan faktor lingkungan.  Penelitian bertujuan untuk mengetahui pengaruh rasio pupuk ZA : KNO3 terhadap kadar NPK dan efisiensi penggunaan N oleh tanaman lada yang belum menghasilkan. Penelitian dilaksanakan di desa Kemuja kecamatan Mendobarat kabupaten Bangka pada bulan Pebruari - September 2018. Penelitian menggunakan rancangan acak kelompok lengkap sebanyak tiga ulangan. Faktor pertama adalah jenis tiang panjat meliputi tiang panjat mati, gamal, dan kapuk, sedangkan faktor kedua adalah rasio pupuk ZA : KNO3 yaitu 100 % KNO3, 100 % ZA, CaNH4NO3 (50 % NO3- : 50 % NH4+) , 75 % KNO3: 25 % ZA, 25 % KNO3: 75 % ZA. Varietas yang digunakan adalah Nyelungkup.  Hasil penelitian diperoleh bahwa kadar NPK jaringan tanaman, efisiensi penggunaan pupuk N dan efisiensi ekonomi tidak dipengaruhi oleh interaksi antara macam tiang panjat dan rasio pupuk ZA : KNO3. Macam tiang panjat tidak berpengaruh terhadap kadar NPK jaringan tanaman. Tanaman lada menggunakan tiang panjat mati lebih efisien dan ekonomis dalam penggunaan N dibandingkan tanaman menggunakan tiang panjat hidup. Macam rasio bentuk pupuk ZA : KNO3 tidak berpengaruh terhadap kadar N, P dan K jaringan tanaman.  Efisiensi penggunaan N tidak beda nyata antar macam rasio pupuk N namun pemberian ZA pada rasio yang lebih besar dari KNO3 lebih ekonomis. 

    Respon Pertumbuhan dan Hasil Beberapa Varietas Tanaman Kedelai (Glycine max L. Merr) terhadap Salinitas (NaCl)

    Full text link
    Komoditas tanaman pangan yang terpenting setelah tanaman padi dan jagung yaitu tanaman kedelai (Glycine max L. Merr). Produktivitas kedelai masih rendah yang salah satu penyebabnya yaitu lahan budidaya semakin sedikit akibat dari alih fungsi lahan. Solusi yang digunakan yaitu pemanfaatan lahan-lahan marginal salah satunya adalah lahan pesisir pantai dengan permasalan tanah salin. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui respon pertumbuhan dan hasil beberapa varietas tanaman kedelai (Glycine max L. Meer) terhadap salinitas serta mengetahui varietas yang toleran salinitas sehingga dapat digunakan sebagai informasi bagi para pemulia dan petani agar kegiatan pemuliaan tanaman kedelai serta kegiatan budidaya kedelai pada lahan salin dapat terlaksana dengan baik. Penelitian dilaksanakan di green house Agroekoteknologi Universitas Trunojoyo Madura dari bulan Januari sampai April 2020. Rancangan yang digunakan pada penelitian ini yaitu Rancangan Acak Lengkap (RAL) faktorial. Faktor pertama yaitu konsentrasi NaCl meliputi kontrol (K0), 3000 ppm (K1), 4000 ppm (K2), 5000 ppm (K3), dan faktor kedua yaitu varietas kedelai meliputi grobogan (V1), burangrang (V2), anjasmoro (V3). Parameter pengamatan meliputi umur perkecambahan, tinggi tanaman, jumlah daun, luas daun, panjang akar, volume akar, jumlah polong, dan bobot polong pertanaman. Hasil data pengamatan dianalisi menggunakan uji Analysis of Variance (ANOVA) pada taraf uji F 5% yang dilanjutkan dengan uji lanjut Duncan Multiple Range Test (DMRT) pada taraf 5%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak terdapat interaksi antara perlakuan konsentrasi NaCl dengan perlakuan varietas. Perlakuan konsentrasi NaCl yang semakin tinggi menyebabkan pertumbuhan dan hasil tanaman kedelai semakin rendah pada parameter umur perkecambahan, tinggi tanaman, jumlah daun, luas daun, panjang akar, volume akar, jumlah polong, dan bobot polong pertanaman. Varietas grobogan merupakan varietas yang secara umum cenderung memiliki pertumbuhan dan hasil yang lebih tinggi dibandingkan dengan perlakuan varietas lainnya

    [Ashitaba, potensi pemanfaatan sebagai obat tradisional di Indonesia] : Review

    Full text link
    Ashitaba merupakan tanaman berkhasiat obat yang ditanam di Trawas, Mojokerto dan lereng gunung Rinjani, Nusa Tenggara Timur sejak tahun 2000. Tanaman ini dikenal sebagai tanaman sayur dan komoditas ekspor yang digunakan oleh industri obat dunia. Pengkajian terkait beragam khasiat tanaman Ashitaba dilakukan untuk melihat potensi pemanfaatan Ashitaba sebagai bahan baku obat di Indonesia. Proses review artikel dilakukan  dengan metode systematic review. Sumber data primer berupa jurnal nasional, jurnal internasional, prosiding nasional dan prosiding internasional. Sumber data hasil penelusuran diskrining dengan menggunakan kriteria inklusi yaitu terbit dalam waktu 10 tahun terakhir. Hasil penelusuran menunjukkan bahwa Ashitaba memiliki kandungan senyawa berupa kalkon (chalcone) yang memiliki beragam aktivitas meliputi antibakteri, antioksidan, anti alergi, anti-aging, kebugaran, anti kanker dan tumor, pengatur gula darah, antiobesitas, antimalarial, anti hiperpigmentasi, protease sistein inhibitor, antitubercolosis, antiinflamasi dan antihipertensi. Ashitaba berpotensi untuk dikembangkan sebagai bahan baku obat, akan tetapi perlu dilakukan penelitian lebih lanjut terkait tingkat keamanan dan formulasi yang tepat

    Penilaian Karbon Organik Tanah (Soil Organic Carbon) Pada Tegakan Hutan Taman Nasional Gunung Merbabu (TNG-Merbabu)

    Full text link
    Pulau Jawa beriklim tropik basah memiliki beranekaragam tegakan vegetasi. Setiap tegakan vegetasi mempunyai  komposisi jenis, umur, serta kerapatan yang bervariasi dan berpengaruh pada  tingkat kesuburan tanah. Penelitian ini mengkaji karbon organik tanah (soil organic carbon) dibawah tegakan hutan TNG-Merbabu (pinus, puspa, akasia, bintamin, dan campuran), serta tegalan pada kedalaman  tanah 0-30 cm. Metode penelitian menggunakan metode survei dan analisa laboratorium. Pengamatan analisis vegetasi dibuat SPP (Satuan Plot Pengamat) ukuran 50 m x 50 m dan diulang 3 kali, sedangkan karbon organik tanah parameter meliputi :  C-Organik dan BD (bulk density) tanah pada kedalaman 0-30 cm (0-10, 10-20, 20-30cm) dan diulang 3 kali. Data hasil penelitian dianalisis secara deskriptif, dilanjutkan Uji-F dan Uji DMRT taraf 5%. Hasil penelitian diperoleh kandungan C-organik tanah pada tegakan hutan TNG-Merbabu mengalami penurunan sejalan dengan peningkatan kedalaman tanah (0-10, 10-20, 20-30 cm), C-Organik tanah (kedalaman 0-10 cm) tertinggi pada tegakan puspa (9,53%) dan terendah pada tegakan pinus (2,85%), serta tegalan (2,12%)

    Potensi Pengembangan Agri-Ecotourism

    No full text
    Potensi Pengembangan Agri-Ecotouris

    Keragaman Tanaman Manggis (Garcinia mangostana L.) di Kabupaten Bangka

    Full text link
    Tanaman manggis merupakan salah satu komoditas lokal Bangka yang potensial. Tanaman manggis lokal Bangka tersebar di Pulau Bangka dan belum diketahui keragamannya. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui keragaman aksesi manggis lokal Bangka. Penelitian dilaksanakan pada bulan November 2019 hingga Februari 2020, di wilayah perkebunan manggis, Kabupaten Bangka. Penelitian ini menggunakan teknik conviniencesampling. Aksesi manggis dianalisis keragaman serta hubungan kekerabatan menggunakan dendogram berdasarkan metode UPGMA (Unweighted Pair Grup Method With Aritmatic Mean). Hasil penelitian ditemukan 5 aksesi manggis di Kabupaten Bangka. Aksesi yang ditemukan adalah aksesi Air Asem, Kuto Panji, Belinyu, Air Duren dan Petaling Banjar. Variabilitas luas pada karakter berat per buah, variabilitas agak luas pada karakter tinggi pohon, diameter batang, letak cabang terendah, ketebalan kulit buah, jumlah biji per buah dan jumlah buah per pohon dan variabilitas agak sempit pada karakter panjang daun, lebar daun, panjang tangkai daun, diameter buah, panjang tangkai buah dan ketebalan daging buah. Hasil analisis hubungan kekerabatan berdasarkan karakter kualitatif terdiri dari 2 kelompok yaitu Air Asem, Kuto Panji (kelompok 1),. Belinyu, Air Duren dan Petaling Banjar (kelompok 2). Berdasarkan karakter kuantitatif terdiri dari 3 kelompok yaitu Air Asem, Belinyu dan Petaling Banjar (kelompok 1), Kuto Panji (kelompok 2) dan Air Duren (kelompok 3). Gabungan karakter kualitatif dan kuantitatif terdiri dari 2 kelompok yaitu Air Asem, Belinyu, Air Duren dan Petaling Banjar (kelompok 1), Kuto Panji (kelompok 2)

    Analisis Sikap Konsumen Terhadap Produk Megono Instan H. Masduki Produksi CV. Anglur Selur Kota Pekalongan

    Full text link
    Kota Pekalongan merupakan daerah yang memiliki beragam kuliner tradisional salah satunya megono instan. Megono instan adalah megono pertama dan satu-satunya yang ada di Kota Pekalongan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui sikap konsumen terhadap produk megono instan. Metode yang digunakan adalah metode analisis deskriptif. Penentuan lokasi penelitian dengan metode purposive sampling sedangkan penentuan sampel responden menggunakan metode accidental sampling dengan responden berjumlah 100 orang. Analisis data menggunakan analisis Fishbein. Hasil penelitian ini diperoleh bahwa sikap konsumen terhadap produk megono instan bernilai positif dengan skor 119,42 yang menunjukkan sikap konsumen terhadap megono instan H. Masduki berada di skala baik

    [Pemanfaatan Teknologi Spasial Dalam Pengembangan Tanaman Hortikultura Untuk Menunjang Pariwisata Di Pantai Timur Minahasa] : Review

    Full text link
    Tanaman hortikultura khususnya buah buahan tropis yang ada di Pantai Timur Minahasa yaitu mangga, manggis, lansat dan durian umumnya hanya diusahakan untuk konsumsi sendiri. Seiring dengan dibangunnya infrastruktur jaringan jalan Trans Sulawesi yang menghubungkan Provinsi Sulawesi Utara dan Provinsi Gorontalo maka Pantai Timur Minahasa menjadi terbuka. Keindahan pantainya merupakan atraksi alam yang tersembunyi selama ini, menjadi ramai dikunjungi wisatawan lokal maupun manca negara. Pengembangan tanaman hortikultura di daerah ini sangat diperlukan, karena bukan hanya menunjang kebutuhan pariwisata untuk dikonsumsi bahkan menjadi buah tangan pengunjung, tetapi dapat juga meningkatkan pendapatan petani buah ataupun masyarakat yang menjualnya. Tujuan penelitian adalah mendapatkan peta rencana pengembangan tanaman hortikultura untuk menunjang pariwisata di pantai Timur Minahasa. Metode penelitian yang digunakan adalah metode survey dengan memanfatkan teknologi spasial dimana menghasilkan informasi berbasis geografis yang akan menunjukkan luasan penyebaran penggunaan lahan pertanian hortikultura serta titik titik lokasi pariwisata di Pantai Timur Minahasa. Hasil penelitian diperoleh “Peta Penyebaran Pengembangan Tanaman Hortikultura di Pantai Timur Minahasa” seluas 363.52 Ha menyebar pada beberapa kecamatan yaitu Kecamatan Kombi seluas 119.20 Ha, Kecamatan Lembean Timur seluas 74.82 Ha , Kecamatan Kakas seluas 61.04 Ha, Kecamatan Kakas Barat seluas 45.22 Ha serta Kecamatan Langowan Selatan seluas 63.24 Ha. Lahan yang tersedia tersebut dapat ditanami 36352 bibit pohon mangga, manggis, lansat atau durian

    Pemanfaatan Limbah Rumah Tangga Sebagai Bahan Dasar Pembuatan Pupuk Organik Cair di Desa Jatisari

    Full text link
    Sampah organik yang berasal dari rumah tangga di Desa Jatisari selama ini belum dimanfaatkan sehingga menimbulkan bau bagi lingkungan sekitarnya. Pembuatan pupuk organik cair khususnya dari sampah organik rumah tangga bertujuan untuk memanfaatkan limbah rumah tangga yang melimpah dan tak terurus sebagai bahan dasar pembuatan pupuk organik cair, serta pemberian bioaktivator Effective Microorganisms (EM4). Metode pembuatan pupuk organik cair ini yaitu sampah organik rumah tangga seperti sisa sayuran, kulit buah, dan lainnya dipisahkan dari sampah anorganik. Kemudian bioaktivator EM4 disiapkan di dalam sprayer. Sampah organik dirajang dan dimasukkan ke dalam komposter, larutan bioaktivator EM4 kemudian disemprotkan ke dalam komposter secara merata. Hasil kegiatan diperolehnya pupuk organik cair (POC) yang dimanfaatkan oleh masyarakat untuk pemupukan berbagai jenis tanaman yang sedang dibudidayakan. Sampah organic dapat diolah dengan baik sehingga mengurangi bau yang tidak sedap. Diharapkan dengan introduksi pembuatan POC ini, masyarakat di Desa Jatisari dapat membuat POC sendiri dan menghemat biaya pembelian pupuk

    Peluang dan Tantangan Penggunaan Media Sosial sebagai Media Berbagi Pengetahuan bagi Petani

    Full text link
    Media sosial terbukti efektif sebagai media berbagi pengetahuan dan diminati banyak kalangan. Di sisi lain, penggunaan media sosial oleh petani belum maksimal karena berbagai keterbatasan. Hal menarik untuk mengetahui gambaran peluang dan sekaligus tantangan yang dihadapi dari penggunaan media sosial sebagai media berbagi pengetahuan bagi petani. Makalah ini bertujuan memberikan gambaran singkat peluang dan tantangan penggunaan media sosial untuk berbagi pengetahuan oleh petani. Tulisan ini adalah studi literatur yang menyajikan artikel-artikel penelitian sepuluh tahun terakhir terkait topik yang bersumber dari scopus.com, sciencedirect.com, google scholar, dan crossref. Ada peluang dan sekaligus tantangan dalam penggunaan media sosial sebagai media berbagi pengetahuan bagi petani Gambaran singkat yang disampaikan pada makalah ini dapat menjadi salah satu referensi pengambilan keputusan terkait upaya peningkatan penggunaan media sosial oleh petani sebagai media berbagi pengetahuan

    567

    full texts

    653

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Faculty of Agriculture, Universitas Sebelas Maret (Publishing Systems)
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇