1,722,655 research outputs found

    Nala lividipes (Dufour, 1828), a new earwig for the Maltese Islands (Dermaptera: Labiduridae)

    Full text link
    Nala lividipes is recorded for the first time from the Maltese Islands. Distributional, ecological and taxonomic notes are included for this species. New distributional data is provided for other earwig species which were locally known from few or single records.peer-reviewe

    Вирощування та сцинтиляційні характеристики монокристалів NaLa(WO₄)₂ та NaLa(MoO₄)₂

    Full text link
    Pure and doped NaLa(WO₄)₂ and NaLa(MoO₄)₂ single crystals have been grown by the Czhochralski technique. The scintillation characteristics thereof have been determined and considered.Методом Чохральського вирощено чисті та активовані монокристали подвійного вольфрамату NaLa(WO₄)₂ та молібдату NaLa(MoO₄)₂. Визначено та проаналізовано їхні сцинтиляційні характеристики.Методом Чохральского выращены чистые и активированные монокристаллы вольфрамата NaLa(WO₄)₂ и молибдата NaLa(MoO₄)₂. Определены и проанализированы их сцинтилляционные характеристики

    Вирощування та сцинтиляційні характеристики монокристалів NaLa(WO₄)₂ та NaLa(MoO₄)₂

    No full text
    Pure and doped NaLa(WO₄)₂ and NaLa(MoO₄)₂ single crystals have been grown by the Czhochralski technique. The scintillation characteristics thereof have been determined and considered.Методом Чохральського вирощено чисті та активовані монокристали подвійного вольфрамату NaLa(WO₄)₂ та молібдату NaLa(MoO₄)₂. Визначено та проаналізовано їхні сцинтиляційні характеристики.Методом Чохральского выращены чистые и активированные монокристаллы вольфрамата NaLa(WO₄)₂ и молибдата NaLa(MoO₄)₂. Определены и проанализированы их сцинтилляционные характеристики

    Вирощування та сцинтиляційні характеристики монокристалів NaLa(WO₄)₂ та NaLa(MoO₄)₂

    No full text
    Pure and doped NaLa(WO₄)₂ and NaLa(MoO₄)₂ single crystals have been grown by the Czhochralski technique. The scintillation characteristics thereof have been determined and considered.Методом Чохральського вирощено чисті та активовані монокристали подвійного вольфрамату NaLa(WO₄)₂ та молібдату NaLa(MoO₄)₂. Визначено та проаналізовано їхні сцинтиляційні характеристики.Методом Чохральского выращены чистые и активированные монокристаллы вольфрамата NaLa(WO₄)₂ и молибдата NaLa(MoO₄)₂. Определены и проанализированы их сцинтилляционные характеристики

    Gunung Sebagai Sumber Inspirasi Penciptaan Karya Seni Karawitan Dengan Judul Meru Nala

    No full text
    Gunung berapi selain menawarkan keindahan dan kesuburan, juga bisa membahayakan bagi kehidupan manusia disaat meletus. Bertolak pada pandangan tersebut, maka penata berimajinasi memberikan respon untuk melakukan sesuatu yang ditransformasikan ke dalam bentuk karya seni, yaitu karya seni karawitan dengan judul “Meru Nala”, secara etimologi kata “Meru Nala” terdiri dari dua kata, yaitu Meru yang berarti gunung dan Nala berarti api. Jadi pemaknaan dari Meru Nala adalah Gunung Api atau Gunung Berapi. Karya ini disajikan dengan kategori bentuk musik eksperimental. Musik eksperimental sebagai musik baru yang diciptakan dengan konsep lebih bebas dan tidak terikat dengan aturan-aturan musik tradisi. Dengan cara ini seniman terobsesi untuk melahirkan musik yang tidak biasa bagi mereka (telinga tradisi). Komposer Bali memandang musik eksperimental sebagai sebuah musik baru yang dibuat dengan konsep, kaidah, dan suasana yang baru yang diekspresikan melalui sumber-sumber bunyi instrumenal yang berasal dari gamelan ataupun nongamelan. Musik eksperimental juga melakukan pendekonstruksian terhadap beberapa bentuk sumber bunyi baik gamelan ataupun nongamelan. Penggabungan yang dilakukan tentunya dengan berpedoman pada kesatuan ansambel baru yang ingin dicapai untuk menunjang garapan. Mengenai bagian-bagian dari karya ini, penata menggunakan struktur Tri Angga yang terdiri dari Kawitan, Pengawak, dan Pengecet. Tri Angga adalah tiga bagian pokok dalam karya karawitan yang sering disebut Kawitan, Pengawak, dan Pengecet, yang dapat disamakan dengan tulisan ilmiah, yaitu pendahuluan, isi, dan penutup. Media yang digunakan dalam karya ini adalah ensamble gamelan Asta Wirat Bhumi. Gamelan ini adalah sebuah barungan gamelan baru yang memadukan beberapa unsur barungan gamelan, yaitu Baleganjur, Jegog, dan Selonding

    Membaca Konsep Bedawang Nala

    No full text
    Wujud arsitektur dapat dilihat dari bentuk dan ruang, serta memiliki relasi unsur budaya, yaitu sebagai tampilan secara langsung disebut sebagai artefak. Karya arsitektur tidak terlepas dari guna dan citra, sebagai makna dari materinya. Bedawang nala merupakan jejak arsitektur berwujud sekala-niskala, berupa penyu yang dililit naga basuki dan ananthaboga, dan relasi metafisik terhadap jelmaan Dewa Wisnu bersifat metafisik. Realitas arsitektur di Bali tidak terlepas dengan konsep tri hitakarana, tri-loka/tri-tri angga, nawa sanga, proporsi dan skala manusia. Realitas bedawang nala juga berelasi dengan mitos, ista dewata, sapta petala, ritual dan faktor sosial, serta rwa-bhinneda pada bedawang nala yang menunjukan posisi ruang profan dan sakral. Bedawang nala merupakan realitas dengan konsep arsitektur di Bali, konsep yang saling berelasi, dan memiliki hubungan menghadirkan bedawang nala dalam realitas fisik dan metafisik. Relasi itu terjadi pada mitos, ritual, bangunan tradisional arsitektur Bali dan bangunan publik. Bagaiana relasi bedawang nala sebagai konsep kosmologi ruang yang terbentuk pada realitas rwa-bhinneda? dan Bagaimana relasi bedawang nala pada bentuk fisik berdasarkan eksistensi rwa-bhinneda ?. Penelitian ini bertujuan mengkaji relasi rwa-bhinneda pada bedawang nala berdasarkan realitas arsitektur yang terjadi pada pelinggih padma, bale kul-kul, bade, bukur dan ritual dalam lingkup observasi yang dilakukan pada teritori Bali utara dan Bali Selatan di Pulau Bali, serta titik ahir di Pulau Jawa. Penelitian ini menggunakan prosedur kualitatif dengan penalaran induktif dan strategi etnografi. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa (1). pemuteran merupakan prasawiya mencapai sapta petala secara sekala dengan purwadaksina mencapai ista dewata bersifat niskala pada Bwah-loka, (2). Nasarin menghadirkan entitas Dewa Wisnu secara niskala dengan pedagingan dasar entitas bedawang nala bersifat sekala, (3). Rong merupakan realitas sekala pada ruang swah-loka yang merupakan entitas Ista Dewata yang niskala, (4). Reaktualisasi kosmogoni nasarin dan ngemunyiang lesung merupakan ritual untuk mencapai entitas bedawang nala yang sekala dengan entitas Dewa Wisnu yang niskala, (5). Realitas bedawang nala secara sekala dihadirkan pada dengan syarat orientasi ista dewata sebagai syarat mutlak dan bersifat sakral pada pelinggih padma, (6) Realitas bedawang nala secara sekala dapat dihadirkan pada entitas sekala dengan syarat catur warna (7). Realitas bedawang nala merupakan rwa-bhinneda reaktualisasi kosmogoni berupa padma bersifat sakral menjadi syarat menghadirkan entitas bedawang nala pada pelinggih

    Nala

    No full text
    易卜生著 ; 翟一我譯.Translation of: Et dukkehjem."一名娜拉"--Cover.Opposite pages bear duplicate numbering.Three acts play.Chinese and English.Yibosheng zhu ; Zhai Yiwo yi."Yi ming Nala"--Cover

    Nala alenae Kotarek 2006

    No full text
    Nala alenae Koþárek, 2006 Nala alenae KoÞárek, 2006: 2. One paratype is deposited in NMPC (donated by P. KoÞárek): PARATYPE (J): ‘NW Cambodia, Siem Reap env. / Angkor Wat temple; 40 m a.s.l. / 13°24ƍ42.23ƎN, 103°51ƍ49.84ƎE / P. KoÞárek leg.; 7.-11.ix.2002 [p] // PARATYPUS / Nala alenae sp. n. / P. KoÞárek det. 2006 [p, red label]’. Current status. Valid species.Published as part of MACHÁýKOVÁ, Lenka & FIKÁýEK, Martin, 2014, Catalogue of the type specimens deposited in the Department of Entomology, National Museum, Prague, Czech Republic *, pp. 399-450 in Acta Entomologica Musei Nationalis Pragae 54 (1) on page 404, DOI: 10.5281/zenodo.530145

    TRANSFORMASI SERAT PRABU NALA DALAM PERTUNJUKAN WAYANG KULIT LAKON NALA-DAMAYANTI SAJIAN SRI JOKO RAHARJO

    Full text link
    Penelitian yang berjudul “Transformasi Serat Prabu Nala Dalam Pertunjukan Wayang Kulit Lakon Nala, Damayanti Sajian Sri Joko Raharjo”.bertujuan untuk mencari jawaban atas dua pertanyaan pokok. [1] Bagaimana struktur adegan pertunjukan wayang kulit lakon Nala- Damayanti sajian Sri Joko Raharjo? [2] Bagaimana bentuk transformasi Serat Damayanti ke dalam pertunjukan wayang lakon Damayanti sajian Sri Joko Raharjo? Penelitian ini menggunakan landasan Teori resepsi dan intertekstual dan serta konsep setruktur dramatic lakon wayang oleh Sumanto. yang di gunakan selama proses penelitian ini adalah metode penelitian deskriptif kualitatif , lalu untuk keabsahan data, penulis menggunakan metode Observasi, Transkripsi, Studi Pustaka, Wawancara dan Analisis Data. Hasil Penelitian Transformasi Serat Prabu Nala dalam Pertunjukan Wayang Kulit Lakon Nala-Damayanti adalah [1] pendeskripsian Serat Prabu Nala yang tertuang dalam pupuh-pupuh macapat [2] Struktur adegan dan setruktur dramatik pertunjukan wayang kulit lakon Nala, Damayanti. Meliputi penggambaran adegan Pathet Nem, Sanga, Manyura dalam unsur Garap Catur, Sabet Dan Iringan. [3] bentuk transformasi Serat Prabu Nala dalam wayang kulit Lakon Nala-Damayanti yang meliputi Pola Alur, Penokohan, Latar atau Setting

    Лазерні характеристики кристалів NaLa(MoO₄)₂:Nd³⁺ та NaLa(Mo₀.₅W₀.₅O₄)₂:Nd³⁺

    Full text link
    Pure and Nd³⁺-doped NaLa(Mo₀.₅W₀.₅)₂ and NaLa(MoO₄)₂ single crystals have been grown by the Czochralski technique. Their laser characteristics have been defined and analyzed
    corecore