1,720,974 research outputs found

    MENGUAK FAKTA KENABIAN MARYAM AS

    No full text
    Abstrak: Kenabian merupakan derajat tertinggi dalam Islam. Dalam menetapkan seseorang dengan posisi tinggi ini, ulama telah menetapkan syarat dan karakteristik. Masalahnya muncul ketika syarat dan karakteristik ini disematkan kepada seseorang yang berjenis kelamin perempuan, yakni Maryam. Ulama berselisih dalam menetapkan posisinya di antara jajaran kenabian. Tulisan ini akan mengurai bagaimana konsep nabi dan  karakteristiknya secara umum, bagaimana relasi perempuan dan wahyu, bagaimana perbedaan pandangan ulama khususnya ahli tafsir terkait dengan status Maryam dan argument al-Qur’an bagi penetapan Maryam sebagai bagian dari mata rantai nabi dalam perspektif tafsir yang berkeadilan jender. Metode yang digunakan adalah deskriptif, dengan pendekatan filosofis dan komparatif. Tulisan ini menemukan bahwa  karakteristik kenabian yang ada jika diterapkan pada sosok Maryam akan “memaksa†adanya kesimpulan bahwa Maryam dengan segala deskripsi al-Qur’an dan sejarah merupakan salah satu mata rantai kenabian dalam Islam.   Abstract: Prophethood is the highest degree in Islam. In determining a person with this high position, scholars have established requirements and characteristics. The problem arises when the seterms and characteristics attributed to someone who is female, such as Mary. Clerics argue in determining its position among the ranks of prophet hood. This article will discuss how the concept of the prophet and general characteristics, the relationships of women and revelation, how divergent views of commentators, especially relating to the status of Mary and the arguments of the Qur\u27an for the determination of Mary as part of the chain of prophets in perspective interpretation of gender equity. The method used is descriptive, with a philosophical approach and comparative. This paper found that the characteristics of the existing prophetic when applied to the figure of Mary will be "forced" to the conclusion that Mary with any description of the Koran and the history is one of the chain of prophethood in Islam.   Kata Kunci: Maryam, Nabi Perempuan, Wahyu, Mu’jiza

    Kolonialisme Vis a Vis Nasionalisme Perspektif Hadis

    Get PDF
    The words colonialism, imperialism and feudalism are conditioned by nature and attitude rather than tyranny. This is in stark contrast to Islam as a religion that strongly rejects actions that afflict others. This paper aims to find out, how the anticolonialism movement in Islam through nationalism is instilled with a ḥadīts perspective. In this article, the author uses an analytical descriptive method, namely by exposing ḥadīts related to colonialism and nationalism as a counterpoint, then explaining them by analyzing existing ḥadīts. So it can find nationalism in Islam as an anti-colonialism movement. The result of this paper is that in Islam there are two interesting concepts in the rejection of this movement, namely the concept of nationalism and the concept of jihad. Nationalism as a reinforcement of the nation's self-identity will give rise to a fanatical attitude towards the country which will certainly reject colonialism. Meanwhile, jihad in Islam is related to Muslim attitudes towards tyranny carried out by the colonials

    GAYA PENAMPILAN DAKWAH HANAN ATTAKI, ALI JABER, DAN MIFTAH

    Get PDF
    In preaching, da\u27i must need a way or method to provide attractiveness for the object of da\u27wah to enter into the study of da\u27wah, the ethics of fashion as a thing that is very noticed by the community in the da\u27wah of its da\u27i, no wonder when fashion trends today become a favorite thing of the community in a da\u27wah delivered by the da\u27i. It has been widely studied about the ethics of fashion in preaching in order to attract mad\u27u, but not all people have a fashion interest in one da\u27i. In this journal, the author took three examples of da\u27i using clothes that were able to attract mad\u27u in his da\u27wah studies, namely Hanan Attaki, Ali Jaber, and Miftah. The purpose of this journal is because the public knows that fashion is able to cause mad\u27u interest in a da\u27wah. With this journal, we will know that all kinds of clothing can be used as a trend of da\u27wah as long as it doesn’t violate ethics of da\u27wah fashion that is in accordance with shariat isla

    PARADIGMA ANTROPOSENTRIS DALAM MEMAHAMI HADIS-HADIS MUAMALAH

    Get PDF
    Abstract: In this contents, Hadith reflects the different teaching of Islam, including creed, worship, and muamalah. All of that requires a different treatment and understanding the proportionally. This article examines how to understand the Hadiths in the field of muamalah and what is the paradigm construct of it. By using the method of subjective-humanistic hermeneutics, this article produces findings, as follows: first, the Hadiths of muamalah reflect construct of human relationships and it can change according to the changes and development of social life. Therefore, these Hadiths can be understood by using the anthropocentric paradigm, oriented on the needs of humans and make it as a subject and object either of the understanding. Second, this anthropocentric paradigm aims to find the sunnah and host it again in the present day. This anthropocentric understanding holds on to the principles and the universal values contained in the text of the Hadith as well as humanistic social ethics that upholds human values that are fairness, equal and tolerant without discrimination in various fields. Abstrak: Dari segi kandungannya, hadis Nabi mencerminkan muatan ajaran tentang akidah, ibadah dan muamalah. Kesemuanya itu membutuhkan pen­sikapan yang berbeda dan pemahaman yang proporsional. Artikel ini meng­kaji bagai­mana memahami hadis-hadis Nabi dalam bidang muamalah serta bagai­mana konstruksi paradigma yang dimaksud. Dengan menggunakan metode hermeneutika subjektif-humanistik, artikel ini menghasilkan temuan, sebagai berikut: Pertama, hadis muamalah merefleksikan konstruk relasi manusia, dan bisa berubah sesuai dengan perubahan dan perkembangan kehidupan sosial. Oleh karena itu hadis-hadis ini bisa dipahami dengan meng­gunakan paradigma antroposentris, yang berorientasi pada kebutuhan manusia dan menjadikannya sebagai subjek sekaligus objek dalam pemahaman. Kedua, paradigma antropo­sentris ini bertujuan untuk menemukan sunnah Nabi dan meng­hadir­kannya kembali dalam konteks sekarang. Pemahaman antropo­sentris ini berpegang pada prinsip dan nilai-nilai universal yang terkandung dalam teks hadis serta etika sosial humanistik yang menjunjung tinggi nilai kemanusiaan yang berkeadilan, setara dan toleran tanpa diskriminasi dalam berbagai bidang

    MANAQIBAN OF SHAIKH ABDUL QADIR AL-JAILANI TRADITION: Study of Living Hadith in Kunir Wonodadi Blitar East of Java

    No full text
    This article examines the meaning of tradition in Syaikh Abdul Qadir Jailani’s Manaqiban recitation in Kunir village, Wonodadi, Blitar.  This article is written based on the research using qualitative method and phenomenology approach. Data collected from observation, interviews, and document reviews are analysed using Karl Manheim’s theory of knowledge. This article demonstrates that, first, manaqiban tradition understood by the Kunir villagers as form of Islamic teaching guided by the Qur’an and the hadith and a medium for acquiring blessing from the Saint. Second, for the Kunir villagers, the manaqiban tradition has three meanings, i.e. objective meaning referring to a form of religious observance; expressive meaning referring to the motives jama’ah has in manaqiban participation; documentary meaning referring to the meaning of manaqiban as a means to preserve Islamic teaching and accommodate local culture in order to create religious and social life of society

    Infiltrasi Kisah Israiliyat Dalam Tafsir Era Modern: Studi Kisah Tabut Surat Al-Baqarah Ayat 248

    Get PDF
    Penukilan riwayat Israiliyat yang dilakukan oleh ulama modern saat ini masih banyak menukil serta mengutip riwayat Israiliyat dalam karya tafsirnya , dalam kitab tafsirnya terdapat posisi ulama tafsir modern akan fenomena Israiliyat dalam mulai dari penolakan hingga menerima akan riwayat Israiliyat tersebut. Artikel ini berupaya untuk melakukan kajian terhadap riwayat Israiliyat yang terdapat dalam surat al- Baqarah ayat 248 dan mengkaji bagaimana posisi ulama tafsir modern terhadap riwayat Israiliyat tersebut. Pemilihan surat al-Baqarah ayat 248 dikarenakan dalam ayat ini merupakan salah satu ayat yang mengisahkan sebuah kisah Israiliyat yang populer dikalangan bani Israil yaitu tentang kisah ‘Tabut’ adalah sebuah benda berbentuk kotak yang menjadi barang keramat bagi kaum bani Israil. Analisis ini menggunakan beberapa kitab tafsir era modern yang populer dikalangan pengkaji Tafsir Al-Qur’an, yaitu M.Quraish Shihab, Hamka, dan Wahbah Az-Zuhayli. Hasil analisis menunjukkan bahwa beberapa posisi mufasir dalam meriwayatkan kisah Israiliyat M. Quraish Shihab dan Wahbah Az-Zuhayli berposisi cenderung menganggapnya sebagai sumber dan hanya mencantumkan kisah Israiliyat tersebut. Hamka menyikapinya riwayat Israiliyat dengan kritis.Penukilan riwayat Israiliyat yang dilakukan oleh ulama modern saat ini masih banyak menukil serta mengutip riwayat Israiliyat dalam karya tafsirnya , dalam kitab tafsirnya terdapat posisi ulama tafsir modern akan fenomena Israiliyat dalam mulai dari penolakan hingga menerima akan riwayat Israiliyat tersebut. Artikel ini berupaya untuk melakukan kajian terhadap riwayat Israiliyat yang terdapat dalam surat al- Baqarah ayat 248 dan mengkaji bagaimana posisi ulama tafsir modern terhadap riwayat Israiliyat tersebut. Pemilihan surat al-Baqarah ayat 248 dikarenakan dalam ayat ini merupakan salah satu ayat yang mengisahkan sebuah kisah Israiliyat yang populer dikalangan bani Israil yaitu tentang kisah ‘Tabut’ adalah sebuah benda berbentuk kotak yang menjadi barang keramat bagi kaum bani Israil. Analisis ini menggunakan beberapa kitab tafsir era modern yang populer dikalangan pengkaji Tafsir Al-Qur’an, yaitu M.Quraish Shihab, Hamka, dan Wahbah Az-Zuhayli. Hasil analisis menunjukkan bahwa beberapa posisi mufasir dalam meriwayatkan kisah Israiliyat M. Quraish Shihab dan Wahbah Az-Zuhayli berposisi cenderung menganggapnya sebagai sumber dan hanya mencantumkan kisah Israiliyat tersebut. Hamka menyikapinya riwayat Israiliyat dengan kritis

    Infiltrasi Kisah Israiliyyat Tafsir Era Modern: Studi Kisah Tabut Surah al-Baqarah Ayat 24

    Get PDF
    Penukilan riwayat Isra’iliyyat yang dilakukan oleh ulama modern saat ini masih banyak menukil serta mengutip riwayat Isra’iliyyat dalam karya tafsirnya , dalam kitab tafsirnya terdapat posisi ulama tafsir modern akan fenomena Isra’iliyyat dalam mulai dari penolakan hingga menerima akan riwayat Isra’iliyyat tersebut. Artikel ini berupaya untuk melakukan kajian terhadap riwayat Isra’iliyyat yang terdapat dalam surat al-Baqarah ayat 248 dan mengkaji bagaimana posisi ulama tafsir modern terhadap riwayat Isra’iliyyat tersebut. Pemilihan surat al-Baqarah ayat 248 dikarenakan dalam ayat ini merupakan salah satu ayat yang mengisahkan sebuah kisah Isra’iliyyat yang populer dikalangan bani Israil yaitu tentang kisah ‘Tabut’ adalah sebuah benda berbentuk kotak yang menjadi barang keramat bagi kaum bani Israil. Analisis ini menggunakan beberapa kitab tafsir era modern yang populer dikalangan pengkaji Tafsir Al-Qur’an, yaitu M.Quraish Shihab, Hamka, dan Wahbah Az-Zuhayli. Hasil analisis menunjukkan bahwa beberapa posisi mufasir dalam meriwayatkan kisah Isra’iliyyat M. Quraish Shihab dan Wahbah Az-Zuhayli berposisi cenderung menganggapnya sebagai sumber dan hanya mencantumkan kisah Isra’iliyyat tersebut. Hamka menyikapinya riwayat Isra’iliyyat dengan kritis.Currently, many modern scholars still quote and quote the history of Isra’iliyyat in their tafsir works, in their tafsir books there is the position of modern interpretive scholars regarding the phenomenon of IIsra’iliyyat in starting from rejection to acceptance of the history of IIsra’iliyyat. This article attempts to conduct a study of the history of Isra’iliyyat contained in Surah al-Baqarah verse 248 and examine the position of modern interpretive scholars regarding the history of Isra’iliyyat. The choice of Surah al-Baqarah verse 248 is because this verse is one of the verses that tells the story of Isra’iliyyat which is popular among the people of Israel, namely about the story of the \u27Ark\u27 which is a box-shaped object which is a sacred item for the people of Israel. Israel. This analysis uses several modern era tafsir books that are popular among researchers of Al-Qur\u27an Tafsir, namely M. Quraish Shihab, Hamka, and Wahbah Az-Zuhayli. The results of the analysis show that several commentators\u27 positions in narrating the story of Isra’iliyyat M. Quraish Shihab and Wahbah Az-Zuhayli tend to regard it as a source and only include the story of Isra’iliyyat. Hamka responded to the history of Isra’iliyyat critically

    Relasi Antar Umat Beragama Dalam Perpektif Hadits

    Get PDF
    Dalam beberapa hal, Islam sering dituduh sebagai agama yang diskriminatif, khususnya terkait dengan relasi antar umat beragama. Tuduhan ini didasarkan pada banyaknya hadis yang secara redaksional menunjukkan sikap yang demikian. Artikel ini mengelaborasi tipologi hadis-hadis tentang relasi umat beragama, konteks sosio-historis yang melatari kemunculannya dan model pembacaan yang konstruktif untuk konteks kekinian. Penelitian ini menemukan bahwa: Pertama, ada dua sikap hadis terhadap umat non muslim, yaitu apresiatif-akomodatif dan kritis-konfrontatif. Kedua, kedua kategori itu lahir dalam konteks relasi sosial umat beragama yang dinamis-fluktuatif yaitu harmonis dan disharmonis. Ketiga, pembacaan yang konstruktif dilakukan dengan menggunakan pendekatan humanis-kontekstual
    corecore