1,721,326 research outputs found
Peran Musyrifah Dalam Bimbingan Keagamaan pada Santriwati di Pondok Pesantren Annisa Pelaihari
Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji peran Musyrifah dalam bimbingan
keagamaan pada santriwati di Pondok Pesantren Annisa Pelaihari. Penelitian ini
dilatarbelakangi oleh pentingnya peran Musyrifah sebagai pendamping,
pembimbing, dan pengarah dalam membentuk sikap keagamaan, kedisiplinan, serta
akhlak santriwati di lingkungan pesantren.
Pendekatan penelitian ini menggunakan kualitatif deskriptif dengan jenis
penelitian lapangan. Subjek penelitian meliputi Musyrifah, kakak asrama, dan
santriwati, sedangkan objek penelitian difokuskan pada apa saja peran dan
bagaimana implementasi peran Musyrifah dalam bimbingan keagamaan. Teknik
pengumpulan data dilakukan melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi.
Analisis data menggunakan model interaktif Miles dan Huberman yang meliputi
reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Keabsahan data diuji
melalui triangulasi sumber, teknik, dan waktu.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa peran Musyrifah dalam bimbingan
keagamaan mencakup peran informatif, persuasif, dan edukatif. Musyrifah
berperan sebagai pemberi informasi keagamaan, pembimbing spiritual, serta
teladan dalam pembentukan karakter santriwati. Bimbingan keagamaan
dilaksanakan melalui berbagai bentuk kegiatan seperti pembinaan ibadah,
pembiasaan akhlak, pendampingan spiritual, dan pengawasan kegiatan sehari-hari.
Temuan penelitian ini menunjukkan bahwa peran Musyrifah berkontribusi secara
signifikan dalam membentuk kedisiplinan, tanggung jawab, dan pemahaman
keagamaan santriwati. Dengan demikian, keberadaan Musyrifah memiliki peranan
strategis dalam mendukung keberhasilan proses pendidikan dan pembinaan
keagamaan di Pondok Annisa Pelaihar
PERAN MUSYRIFAH DALAM MENINGKATKAN PRESTASI BELAJAR PAI SISWI KELAS III MTS MADRASAH MU'ALLIMAT MUHAMMADIYAH YOGYAKARTA
ISTI BAROROH. Peran Musyrifah dalam Meningkatkan Prestasi Belajar
PAI Siswi kelas III MTs. Madrasah Mu'allimaat Muhammadiyah Yogyakarta.
Skripsi. Yogyakarta: Fakultas Tarbiyah UIN Sunan Kalijaga, 2006.
Penelitian ini bertujuan untuk mengungkapkan peranan Musyrifah dalam
meningkatkan prestasi belajar PAI siswi kelas III MTs., serta untuk
mengungkapkan hambatan-hambatan yang dialami Musyrifah dalam
melaksanakan peranannya. Dengan hasil penelitian ini diharapkan dapat
memberikan sumbangan dan pengetahuan yang baru bagi Musyrifah sehingga
diharapkan Musyrifah memperbaiki diri dalam menjalankan kewajibannya.
Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif, dengan mengambil lokasi di
Madrasah Mu'allimaat Muhammadiyah Yogyakarta. Pengumpulan data dilakukan
dengan mengadakan pengamatan (observasi), wawancara dan dokumentasi.
Analisis data dilakukan dengan memberikan makna terhadap data yang berhasil
dikumpulkan dan dari makna tersebut ditarik suatu kesimpulan.
Hasil penelitian menunjukkan: (1) Peranan Musyrifah dalam
meningkatkan prestasi belajar PAl adalah: Musyrifah sebagai motivator,
Musyrifah sebagai pembimbing/konselor, Musyrifah sebagai fasilitator,
memecahkan masalah, memberikan hadiah/ganjaran dan memberi peringatan bagi
anak yang malas. (2) Prestasi yang diperoleh siswi di asrama adalah berupa
meningkatnya kecakapan afektif dan kecakapan psikomotorik pada diri siswi.
Kecakapan ini meningkat karena adanya kerja keras Musyrifah dalam
melaksanakan peranannya sebagai pengajar yang ada di asrama. Prestasi ranah
afektif yang ada pada diri siswi dalam pelajaran di asrama, yaitu pelajaran
qiro'atul qutub, tahfidzul qur'an, dan tasmi', sedangkan prestasi ranah
psikomotorik yang ada pada siswi dalam pelajaran di asrama, yaitu pelajaran
bimbingan sholat dan muhadatsah. (3) Hambatan-hambatan yang menjadi
kendala Musyrifah dalam melaksanakan peranannya dalam rangka meningkatkan
prestasi belajar PAI siswi di asrama adalah: faktor kelelahan siswi, kurangnya
perhatian siswi dalam mengikuti pelajaran, kurangnya kesiapan Musyrifah dalam
menyampaikan materi pelajaran, metode yang kurang menarik, minat siswi,
inteligensi dan sarana pembelajaran yang kurang memadai
GUIDING THE NEW GENERATION: MUSYRIFAH PSYCHOLOGICAL READINESS IN SUPPORT THE ADAPTATION OF SANTRI AT PESANTREN
Abstract
The adaptation process is an essential and inevitable phase that all new santri undergo. However, some santri experience significant challenges in navigating their first year. During this critical period, institutional support from pesantren administrators becomes vital. The musyrifah—female santri mentors assigned to accompany new santri—play a crucial role in facilitating a smooth adaptation process. This study aims to examine the psychological readiness of musyrifah in supporting new santri during their initial year. The participants consisted of 54 female musyrifah tasked with mentoring incoming santri. Data were collected through face-to-face interviews focusing on the musyrifah's preparedness to fulfill their mentoring responsibilities. The findings indicate that the musyrifah possess a high level of psychological readiness, encompassing five key dimensions: cognitive readiness, emotional readiness, moral readiness, behavioral readiness, and exemplary conduct.
Abstrak
Proses adaptasi pada dasarnya adalah masa yang selalu dilalui santri baru. Namun, terdapat beberapa santri baru yang kesulitan melalui tahun pertamanya. Para santri baru membutuhkan dampingan dari pengurus pesantren dalam proses adaptasi. Musyrifah sebagai pendamping santri baru merupakan harapan besar untuk mendukung proses adaptasi santri baru dengan baik. Fokus penelitian ini guna melihat gambaran kesiapan psikologis musyrifah mendampingi santri baru di tahun pertama. Partisipan merupakan musyrifah atau pendamping santri baru dengan total partisipan sebanyak 54 santri perempuan. Pengumpulan data dilakukan dengan wawancara tatap muka terkait kesiapan para musyrifah mendampingi santri baru. Hasilnya, terdapat gambaran bahwa pendamping santri atau musyrifah memiliki kesiapan psikologis yang penuh, yang menggambarkan kesiapan kognitif, kesiapan emosi, kesiapan moral, kesiapan perilaku, dan kesiapan keteladanan
Peran Pendampingan Musyrifah Terhadap Pembiasaan Ibadah Shalat Tahajud Santriwati Pondok Pesantren
Shalat tahajud merupakan ibadah yang lebih utama setelah shalat fardhu,meskipun memiliki banyak keuataman, memerintahkan seseorang untuk melaksanakan shalat tahajud tidak dapat dengan paksaan harus ada pembiasaan shalat tahajud. Agar sholat tahajud menjadi kebiasaan santriwati maka musyrifah memiliki peran penting dalam membiasakan santri shalat tahajud. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan peran pendampingan musyrifah dalam membiasakan santri shalat tahajud. Metode yang digunakan dalam penelitian ini yaitu penelitian lapangan dengan pendekatan deskriptif kualitatif. Peneliti mendeskripsikan secara mendalam terkait pendampingan musyrifah dalam membiasakan santri shalat tahajud. Adapun pengambilan data yang dilakukan peneliti yaitu melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi. Sedangkan analisis data dilakukan dengan tahap menggabungkan reduksi data, menyajikan dan, dan menarik kesimpulan dari semua pembahasan. Hasil dari penelitian menunjukkan bahwa musyrifah memiliki peran dalam membiasakan santri shalat tahajud yaitu sebagai orang tua kedua, pendidik, pemimpin, pembimbing dan teladan. Dapat disimpulkan bahwa peran penting musyrifah dalam mendampingi santri sangat dibutuhkan dalam membiasakan santri shalat tahajud.Â
Peran Musyrifah Dalam Bimbingan Keagamaan pada Santriwati di Pondok Pesantren Annisa Pelaihari
Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji peran Musyrifah dalam bimbingan
keagamaan pada santriwati di Pondok Pesantren Annisa Pelaihari. Penelitian ini
dilatarbelakangi oleh pentingnya peran Musyrifah sebagai pendamping,
pembimbing, dan pengarah dalam membentuk sikap keagamaan, kedisiplinan, serta
akhlak santriwati di lingkungan pesantren.
Pendekatan penelitian ini menggunakan kualitatif deskriptif dengan jenis
penelitian lapangan. Subjek penelitian meliputi Musyrifah, kakak asrama, dan
santriwati, sedangkan objek penelitian difokuskan pada apa saja peran dan
bagaimana implementasi peran Musyrifah dalam bimbingan keagamaan. Teknik
pengumpulan data dilakukan melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi.
Analisis data menggunakan model interaktif Miles dan Huberman yang meliputi
reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Keabsahan data diuji
melalui triangulasi sumber, teknik, dan waktu.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa peran Musyrifah dalam bimbingan
keagamaan mencakup peran informatif, persuasif, dan edukatif. Musyrifah
berperan sebagai pemberi informasi keagamaan, pembimbing spiritual, serta
teladan dalam pembentukan karakter santriwati. Bimbingan keagamaan
dilaksanakan melalui berbagai bentuk kegiatan seperti pembinaan ibadah,
pembiasaan akhlak, pendampingan spiritual, dan pengawasan kegiatan sehari-hari.
Temuan penelitian ini menunjukkan bahwa peran Musyrifah berkontribusi secara
signifikan dalam membentuk kedisiplinan, tanggung jawab, dan pemahaman
keagamaan santriwati. Dengan demikian, keberadaan Musyrifah memiliki peranan
strategis dalam mendukung keberhasilan proses pendidikan dan pembinaan
keagamaan di Pondok Annisa Pelaihar
PRAKTIK DRAMATURGI MAHASISWA SEBAGAI MUSYRIF/MUSYRIFAH DI ASRAMA MAHASISWA
This research was conducted to find out the dramaturgy of students who become musyrif/musyrifah in student dormitories to be able to carry out their obligations professionally. This research is a qualitative research using the dramaturgical approach of Erving Goffman. This research is located in the University Residence student dormitory at the Muhammadiyah University of Yogyakarta. The research subjects were four students who were supervisors in the musyrif and musyrifah structures in the student dormitory who are currently still students. The data collection was done by interview and observation techniques. The results of the interviews and observations were then analyzed using Erving Goffman's theory of dramaturgy. Based on the results of the study, it was found that the dramaturgical practice of students who became musyrif/musyrifah in the student dormitory at the University Residence Muhammadiyah University of Yogyakarta through mastery of drama on the front stage was shown in the selection of characters as professional musyrif/musyrifah supervisors, through their respective leadership styles and also the way appearance. Meanwhile, perfection on the back stage is shown by hiding a number of things about the actions he chooses to cover up the fatigue that is being felt and covering mistakes that are not intentionally made
PERAN MUSYRIFAH DALAM PEMBENTUKAN PERILAKU SOSIAL KEAGAMAAN SANTRI DI PONDOK PESANTREN AL-AZHAR DESA MARGARIA TERBANGGI BESAR LAMPUNG TENGAH
ABSTRAK
Musyrifah adalah penyebutan yang biasa digunakan untuk seorang
pembimbing di asrama. Peran musyrifah di pondok pesantren sangatlah penting
karena pondok pesantren merupakan lembaga pendidikan Islam yang memiliki tujuan
untuk menghasilkan generasi muslim yang taat beragama dan berakhlak mulia.
Musyrifah, sebagai pembimbing dan pengajar di pesantren, memiliki tanggung jawab
besar dalam membentuk karakter dan perilaku sosial keagamaan santri. Musyrifah di
Pondok Pesantren Al-Azhar yang berada di Desa Margaria ini tidak hanya
memberikan pengajaran agama, tetapi juga memberikan teladan, bimbingan, serta
dukungan moral kepada santri. Dengan interaksi yang intensif dan pendekatan yang
holistik, musyrifah berperan dalam membentuk identitas keagamaan santri serta
membantu mereka menjadi individu yang bertanggung jawab, peduli, dan
berkontribusi positif dalam masyarakat. Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah
bagaimana proses kegitan santri di pondok pesantren? Bagaimana metode musyrifah
dalam pembentukan perilaku sosial keagamaan santri di pondok pesantren Al-Azhar?
Metode penelitian dalam skripsi ini adalah deskriptif kualitatif dengan
menggunakan jenis penelitian lapangan (Field reserch). Adapun sifat dari penelitian
ini adalah Deskriptif yaitu penulis akan mendeskripsikan data temuan lapangan.
Metode pengumpulan data berupa observasi dimana peneliti mengamati secara
langsung dilapangan, wawancara yang dimana peneliti berkomunikasi secara verbal
dalam bentuk percakapan untuk memperoleh informasi dan dokumentasi yang
bertujuan untuk memperoleh gambaran umum deskripsi lokasi penelitian. Dalam
wawancara yang digunakan kepada informan menggunakan teknik purposive
sampling dengan pemilihan informan berdasarkan kategori informan kunci, informan
utama dan informan pendukung, serta dokumentasi yang didapatkan selama proses
kegiatan penelitian. Teori yang digunakan untuk menganalisis dalam penelitian ini
adalah teori Struktural Fungsional yang dikemukakan oleh Talcott Parsons dalam
menganalisis dan membahas hasil temuan dilapangan.
Hasil Penelitian ini menunjukkan bahwa proses kegiiatan di pondok
peantren al-Azhar dilakukan sesuai rangkaian jadwal kegiatan yang diberikan seperti
sholat berjama'ah, yasinan, ta'lim, hafalan Al-Qur'an, puasa senin kamis, al-berzanji,
PDS (Pengembangan Diri Santri) dan kegiatan bulan dan tahunan seperti Peringatan
Hari Besar Islam. Kemudian santri wajib melaksanakan proses kegiatan yang teleh
dibuat oleh musyrifah dan dan akan dipraktekkan di kehidupan sehari-hari, hal ini
dapat dilihat dari semua kegiatan yang dijalankan oleh santri setiap hari. Selanjutnya
musyrifah dalam melakukan metode pembentukan perilaku sosial keagamaan pada
santri melalui (1) metode pembiasaan, seperrti membiasakan sholat 5 waktu,
berpakaia sopan, dan berbicara dengan bahasa yang santun. (2) Metode nasihat,
pemberian nasihat seperi pengebangan akhlak, pemahaman agama dan pembentukan
karakter. (3) Metode hukuman, dengan pemberian hukuman seperti membersihkan
lingkungan pesantren, membaca aqur’an bagi santri yang melanggar peraturan. (4)
Metode keteladanan, dengan memberikan contoh langsung dalam hal kesopanan,
kejujuran, tanggung jawab, dan tolong menolong. hal itu diterapkan dengan tujuan
santri memiliki perilaku sosial keagamaan yang baik, dapat dilihat dari perilaku santri
dengan musyrifah, ustadz dan para santri lainnya sudah cukup baik sehingga perlu
untuk dipertahankan dan lebih baik di tingkatkan lagi agar target dari pembentukan
perilaku sosial keagamaan santri benar tertanam dengan baik pada diri santri serta
dapat diterapkan di lingkungan pondok pesantren ataupun saat santri sudah keluar dari
pondok pesantren dan dapat di terapkan juga dilingkungan masyarakat.
Kata Kunci : Musyrifah dan Perilaku Sosial Keagamaan Santri. ABSTRACT
Musyrifah is a term commonly used for a mentor or guide in a
dormitory. The role of musyrifah in Islamic boarding schools (pondok pesantren)
is very important because these institutions aim to produce devout and morally
upright Muslim generations. As mentors and teachers, musyrifah have significant
responsibilities in shaping the character and social-religious behavior of the
students (santri). At Pondok Pesantren Al-Azhar in Margaria Village, musyrifah
not only provide religious education but also serve as role models, offer
guidance, and provide moral support to the santri. Through intensive interaction
and a holistic approach, musyrifah play a role in forming the religious identity of
the santri and helping them become responsible, caring, and positively
contributing individuals in society. The research questions in this study are: How
do the activities of santri in the pondok pesantren proceed? What methods do
musyrifah use in shaping the social-religious behavior of santri at Pondok
Pesantren Al-Azhar?
This study employs a descriptive qualitative research method using field
research. The nature of this research is descriptive, as the author will describe
field data findings. Data collection methods include observation, where the
researcher directly observes in the field; interviews, where the researcher
communicates verbally to gather information; and documentation, aimed at
obtaining a general description of the research location. Interviews use purposive
sampling techniques, selecting informants based on key informant categories,
primary informants, and supporting informants, as well as documentation
obtained during the research process. The theory used for analysis in this study is
the Structural Functional Theory proposed by Talcott Parsons, which is used to
analyze and discuss field findings.
The research results show that the activities at Pondok Pesantren Al�Azhar follow a schedule provided, including congregational prayers, Yasin
recitations, religious lessons, Quran memorization, Monday and Thursday
fasting, Al-Barsanji, Personal Development for Santri (PDS), and monthly and
annual activities such as Islamic holiday celebrations. Santri are required to
follow the activities set by musyrifah and apply them in daily life, as seen from
their daily activities. Furthermore, musyrifah employ several methods to shape
the social-religious behavior of santri: (1) habituation methods, such as making
daily prayers, dressing modestly, and speaking politely a routine; (2) advisory
methods, offering advice on moral development, religious understanding, and
character formation; (3) punitive methods, such as assigning tasks like cleaning
the pesantren environment or Quran reading for rule violations; and (4)
exemplary methods, providing direct examples of politeness, honesty,
responsibility, and mutual assistance. These methods aim to instill good social�religious behavior in the santri, as evidenced by their interactions with musyrifah,
teachers, and other santri. The behavior of the santri is generally good, and it is
essential to maintain and improve it to ensure that the social-religious behavior
goals are effectively instilled in the santri and applied both within and outside the
pesantren and in the broader community.
Keywords: Musyrifah and Religious Social Behavior of Student
Kepemimpinan kepala Pesantren dalam meningkatkan kompetensi Pedagogik Musyrifah di Al-Maahira International Islamic Boarding School Malang
ABSTRAK
Kompetensi pedagogik telah menjadi aspek yang melekat pada jiwa pendidik yang profesi utamanya adalah mendidik dan mengajar tidak terkecuali musyrifah. Kompetensi pedagogik dapat memberikan dampak positif bagi musyrifah dalam kegiatan membimbing dan transformasi pengetahuan secara efektif di lingkup asrama, Namun sangat disayangkan sebagai peran orang tua di pesantren, belum semua musyrifah menguasai kompetensi tersebut. Kepala pesantren memiliki peran penting untuk meningkatkan kompetensi musyrifah sehingga dapat memaksimalkan perannya dalam memenuhi aspek indikator pedagogik. yaitu, menguasai karakteristik dan pontensi santriwati, menguasai teori belajar dan prinsip-prinsip pembelajaran efektif, mampu mengembangkan potensi santriwati, mampu berkomunikasi efektif, empatik dan santun terhadap santriwati, dan mampu memanfaatkan evaluasi untuk kepentingan pengembangan pembelajaran kedepannya.
Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis studi kasus. Pengumpulan data dengan menggunakan Teknik observasi, wawancara, dan dokumentasi. Informan diambil teknik purpossive. Data hasil penelitian disajikan dengan kata-kata, catatan, laporan dan dokumen yang diperoleh dari civitas di lembaga Al-Maahira IIBS Malang, data yang terkumpul diperiksa keabsahannya dengan tahap pengecekan kredibilitas data yang akan dilakukan triangulasi dan diskusi sejawat. Data dianalisis dengan melakukan Langkah-langkah reduksi data, penyajian data dan penarikan kesimpulan.
Adapun hasil dari penelitian tesis ini sebagai berikut: (1) kepemimpinan kepala pesantren di Al-Maahira IIBS Malang adalah demokratis dan melaksanakan peran kepemimpinannya yaitu, pemimpin sebagai pelopor, motivator, professional, dan kreatif. (2) implementasi kepemimpinan kepala pesantren dalam meningkatkan kompetensi pedagogik (a) menyempurnakan standar operasional prosedur (SOP), (b) mengadakan Pembinaan dan workshop sesuai kebutuhan, (c) mengadakan penataran musyrifah, (d) mengadakan rapat koordinasi dan evaluasi, (e) memberikan penghargaan, dan (f) mengadakan supervisi. (3) implikasi atas implementasi kepemimpinan kepala pesantren dalam meningkatkan kompetensi pedagogik musyrifah (a) musyrifah mampu menguasai karakteristik dan potensi santriwati, (b) musyrifah mampu merangcang dan melaksanakan pembelajaran, (c) musyrifah mampu mengembangkan potensi peserta didik, (d) musyrifah mampu berkomunikasi secara efektif, empatik dan santun terhadap santriwati dan wali santriwati, dan (e) musyrifah mampu memanfaatkan hasil penilaian dan evaluasi untuk kepentingan pembelajaran.
ABSTRACT
Pedagogic competence has become an inherent aspect of the psyche of educators whose main profession is educating and teaching, musyrifah is no exception. Pedagogic competence can have a positive impact on musyrifah in guiding activities and transforming knowledge effectively within the dormitory scope, but unfortunately as the role of parents in pesantren, not all musyrifah have mastered these competencies. The head of the pesantren has an important role to improve the competence of musyrifah so that it can maximize its role in fulfilling aspects of pedagogic indicators. That is, mastering the characteristics and potential of students, mastering learning theory and principles of effective learning, being able to develop the potential of students, being able to communicate effectively, empathically and politely towards students, and being able to utilize evaluation for the benefit of future learning development.
This research uses a qualitative approach with a case study type. Data collection using observation, interview, and documentation techniques. Informants are taken purpossive techniques. The research data is presented with words, notes, reports and documents obtained from the community at the Al-Maahira IIBS Malang institution, the collected data is checked for validity with the stage of checking the credibility of the data which will be triangulated and peer discussion. Data is analyzed by performing data reduction steps, presenting data and drawing conclusions.
The results of this thesis research are as follows: (1) the leadership of the head of the pesantren at Al-Maahira IIBS Malang is democratic and carries out its leadership characters, namely, leaders as pioneers, motivators, professionals, and creative. (2) implementation of the leadership of the head of the pesantren in improving pedagogic competence (a) improving standard operating procedures (SOPs), (b) conducting coaching and workshops as needed, (c) holding musyrifah upgrades, (d) holding coordination and evaluation meetings, (e) giving awards, and (f) holding supervision. (3) implications for the implementation of the leadership of the head of pesantren in improving the pedagogical competence of musyrifah (a) musyrifah is able to master the characteristics and potential of santriwati, (b) musyrifah is able to design and implement learning, (c) musyrifah is able to develop the potential of students, (d) musyrifah is able to communicate effectively, empathically and politely towards santriwati and guardians, and (e) musyrifah Able to utilize the results of assessment and evaluation for the benefit of learning.
مستخلص البحث
أصبحت الكفاءة التربوية جانبا متأصلا في نفسية المعلمين الذين تتمثل مهنتهم الرئيسية في التعليم والتدريس ، و المشرفة ليست استثناء. يمكن أن يكون للكفاءة التربوية تأثير إيجابي على المشرفة في توجيه الأنشطة وتحويل المعرفة بشكل فعال في نطاق المهجع ، ولكن لسوء الحظ كدور الوالدين في المشرفة ، لم يتقن جميع المشرفة هذه الكفاءات. يلعب رئيس المعهد دورا مهما في تحسين كفاءة المشرفة حتى يتمكن من تعظيم دوره في تحقيق جوانب المؤشرات التربوية. أي إتقان خصائص وإمكانات الطلاب ، وإتقان نظرية التعلم ومبادئ التعلم الفعال ، والقدرة على تطوير إمكانات الطلاب ، والقدرة على التواصل بفعالية وتعاطف وأدب تجاه الطلاب ، والقدرة على الاستفادة من التقييم لصالح تطوير التعلم في المستقبل.
يستخدم هذا البحث نهجا نوعيا مع نوع دراسة حالة. جمع البيانات باستخدام تقنيات الملاحظة والمقابلات والتوثيق. يتم أخذ المخبرين تقنيات هادفة. يتم تقديم بيانات البحث مع الكلمات والملاحظات والتقارير والوثائق التي تم الحصول عليها من المجتمع في مؤسسة الماهرة الإسلامي العالمي بمالانج، ويتم فحص البيانات التي تم جمعها للتأكد من صحتها مع مرحلة التحقق من مصداقية البيانات التي سيتم تثليثها ومناقشة الأقران. يتم تحليل البيانات عن طريق تنفيذ خطوات تقليل البيانات وتقديم البيانات واستخلاص النتائج.
نتائج بحث هذه الأطروحة هي كما يلي: (1) مفهوم القيادة لرئيس البيزانترين في الماهرة الإسلامي العالمي بمالانج ديمقراطي ويقوم بوظائفه القيادية ، أي القادة كرواد ومحفزين ومحترفين ومبدعين. (2) تنفيذ قيادة رئيس المعهد في تحسين الكفاءة التربوية (أ) تحسين إجراءات التشغيل القياسية (SOP) ، (ب) إجراء التدريب وورش العمل حسب الحاجة ، (ج) إجراء ترقيات مصيرفة ، (د) عقد اجتماعات التنسيق والتقييم ، (ه) منح الجوائز ، و (و) الإشراف. (3) الآثار المترتبة على تنفيذ قيادة رئيس المعهد في تحسين الكفاءة التربوية ل المشرفة (أ) المشرفة قادر على إتقان خصائص وإمكانات الطالبات ، (ب) المشرفة قادر على تصميم وتنفيذ التعلم ، (ج) المشرفة قادر على تطوير إمكانات الطلاب ، (د) المشرفة قادر على التواصل بشكل فعال ومتعاطف ومهذب تجاه المشرفة والأوصياء ، و (ه) المشرفة قادرة على الاستفادة من نتائج القياس والتقويم لصالح التعلم
- …
