7,697 research outputs found
PENAFSIRAN KH. BISRI MUSTOFA TENTANG AYAT-AYAT ETOS KERJA DALAM AL-QUR’AN DALAM TAFSIR AL-IBRIZ
Sumber pokok subtasnsi ajaran umat Islam adalah al-Qur’an dan hadist. Al-
Qur’an banyak mengemukakan pokok-pokok serta prisip-prinsip umum
pengaturan hidup dalam hubungan antara manusia dengan Allah dan makhluk
lainnya.Menurut Muhammad Abduh al-Qur’an harus memainkan peran yang
sangat penting dalam mengangkat masyarakat, memperbarui kondisi umat, dan
menyodorkan peradaban Islam Modern. Lantas yang menjadi pertanyaan bagi
penulis, mengapa di Indonesia yang mayoritas penduduknya adalah beragama
Islam dan memiliki sumber ajaran dari al-Qur’an, tapi kesenjangan sosialnya
masih tinggi. Apakah karena kurang mampu memahami pesan kandungan dalam
al-Qur’an atau karena al-Qur’an tidak memberikan solusi untuk mengurangi
kesenjangan tersebut?. Permasalahan-permasalan tersebut memantik penulis
untuk menggali lebih dalam pemahaman masyarakat Indonesia tentang ayat-ayat
yang berhubungan dengan etos kerja. Karena terlalu generalnya pemahaman
masyarakat Indonesia, penulis akan memfokuskan penelitian ini pada pemahaman
tafsir KH. Bisri Mustofa.
Berdasarkan kondisi tersebut, penulis merumuskan dua permasalahan yaitu:
1. Bagaimana penafsiran Bisri Mustofa mengenai ayat-ayat etos kerja dalam tafsir
al ibriz?. 2. Bagaimana kontekstualisasi penafsiran Bisri Mustofa dengan problem
ke-Indonesiaan hari ini?. Metode penelitian yang penulis gunakan dalam
penelitian ini adalah penelitian pustaka dengan bahan pustaka sebagai sumber
data utama; primer dan sekunder. Data primer skripsi ini adalah Kitab Tafsir Al-
Ibriz karangan KH. Bisri Mustofa. Sedangkan sekunder adalah data yang berupa
buku, artikel, laporan penelitian tentang KH. Bisir Mutofa, Al-Ibriz, dan etos
kerja. Berdasarkan data yang terkumpul kemudian metode analisa yang digunakan
penulis adalah hermeneutika filosofis H.G Gadamer..
Hasil penelitian ini menemukan bahwa KH. Bisri Mustofa hidup dalam
keluarga yang memiliki etos kerja yang tinggi dan agamis, berinteraksi dengan
dua tradisi keberagamaan yang berbeda (tradisionalis dan modernis), konteks
keberagamaan yang mengelilinginya merupakan masa peralihan dari zaman
ideologis menuju zaman ilmu pengetahuan. Dalam menafsirkan ayat-ayat al-
Qur’an, KH. Bisri Mustofa lebih mengedepankan aspek lokalitas dalam
penafsirannya. Tafsir dengan bahasa daerah, menurutnya agar umat Islam dari
berbagai suku bangsa memahami makna yang terkandung dalam al-Qur’an. Tafsir
Al-Ibriz dapat diklasifikasikan sebagai tafsir al-ar’yi dan sesuai pendekatan aldirayah.
Aplikasi penafsiran KH. Bisri Mustofa yang menggunakan pendekatan
ushul fiqh, merupakan pencarian jawaban atas realitas sosial, dengan lebih
mengedepankan kemaslahatan dan kebaikan umat Islam. Seperti penafsiran KH.
Bisri Mustofa merupakan pencarian jawaban atas realitas terkait persolan etos
kerja. KH. Mustafa Bisri memahami bahwa pekerjaan yang kreatif itu harus
memaksimalkan sumberdaya alam yang ada disekitarnya dengan menggunakan
perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi
Analisis Dakwah Multikuktural KH. Ahmad Mustofa Bisri Rembang (Konsep dan Metode Dakwah)
Multiculturalism or what is often referred to as cultural diversity is one of the hegemony possessed by the Indonesian nation. However, there are still forms of movement carried out by a religious community to create diversity both in religion and in society, this has resulted in terms of intolerance developing and leading to extremism to replace the ideology of the Unitary State of the Republic of Indonesia (NKRI). KH Ahmad Mustofa Bisri's multicultural da'wah in the midst of diversity in society, where diversity can give birth to a moredat (balanced) attitude, is fair and chooses to be wise and wise towards something or what is often called moderation (middle attitude). KH Ahmad Mustofa Bisri's approach and method of preaching is a process of social interaction in order to spread Islamic teachings that are rahmatal lil alamin to be implemented in social, cultural and religious life in Indonesia. KH Ahmad Mustofa Bisri (Gus Mus) 's concept and view on multiculturalism strongly recognizes and respects the existence of various cultures and different religions. The multicultural da'wah carried out by KH Ahmad Mustofa Bisri is a mission to create peace and comfort in the midst of Indonesian people with different ethnic, racial, religious, ethnic and cultural backgrounds. Analysis The results of this study are the multicultural da'wah concept and the multicultural da'wah method carried out by KH. Ahmad Mustofa Bisri is through preaching media such as (1) The method of preaching bi al-kalam such as his writings on Facebook, Twitter, books, Springs Websites, paintings and poetry (2) Methods of da'wah bi alkalam / bi al-oral such as lectures - Gus Mus's lectures can be viewed through the YouTube channel, (3) Biological method, this can be seen from the personality of Gus Mus, who is very simple and soothing so that he can be accepted in the midst of a diverse society. The multicultural da'wah carried out by KH. Ahmad Mustofa Bisri has two models, namely (1) a cultural approach as a solution for the community to always live in harmony and side by side between religious communities. (2) A social approach as an effort to solve humanitarian problems together
CARA MEMBERSIHKAN LABORATORIUM KITCHEN DI POLITEKNIK NSC SURABAYA
The goal to be achieved in writing this Final Project is to find out how to clean
the kitchen laboratory at the Polytechnic NSC Surabaya. The author made
observations from March 2022 to July 2022 on the duties and responsibilities of
cleaning the kitchen laboratory at the Polytechnic NSC Surabaya. The author can
conclude that the duties and responsibilities in cleaning Kicthen's laboratory are
very necessary on a regular basis
PUISI SUFI A. MUSTOFA BISRI
This article reveals A. Mustofa Bisri’s thoughts implicitly found inhis poems. As a scholar in Nahdlatul Ulama, he has an attractive thought; he is a scholar who writes literary works. To interpret his poems needs attention to the referential meaning as a means to get into the dimension of language and reality. At symbolic level, poems are understood as a part of life expression referred to the root of knowledge. From such a method, it can be revealed some important points: first, the poems written by A. Mustofa Bisri are expressed in simple language as self-manifestation of the writer and his works. The simplicity of language needs deeper understanding to know the writer’s perspective and dimension. Second, there is a similarity betweem A. Mustofa Bisri’s and Sufism poems themed love and yearning to Allah. Tulisan ini berusaha mengungkap pemikiran penting A. MustofaBisri yang tersirat di dalam puisi-puisinya. Ia sebagai ulama di kalangan Nahdlatul Ulama memiliki pemikiran yang menarik, yakni sebagai kiai yang menulis karya sastra. Untuk memaknakan puisi-puisi yang ditulis oleh A. Mustofa Bisri, dibutuhkan perhatian pada arti referensial sebagai jalan untuk memasuki ranah bahasa dan realitas. Pada tataran simbolik, berusaha memahami puisi sebagai bagian dari ekspresi kehidupan yang dirujuk sampai pada akar pengetahuan. Dari metode seperti itu, dapat ditemukan beberapa hal penting; pertama, puisi yang ditulis oleh A. Mustofa Bisri diungkapkan dengan bahasa sederhana sebagai manifestasi diri dan ciptaanya. Kesederhanaan bahasa tersebut membutuhkan pemahaman yang lebih mendalam terkait dengan wawasan dan dimensi dari penyair. Kedua, ada kesamaan tematik puisi A. Mustofa Bisri dengan puisi tradisi sufi yang bertema cinta dan kerinduan kepada Allah.</jats:p
PUISI SUFI A. MUSTOFA BISRI
This article reveals A. Mustofa Bisri’s thoughts implicitly found in
his poems. As a scholar in Nahdlatul Ulama, he has an attractive thought; he is a scholar who writes literary works. To interpret his poems needs attention to the referential meaning as a means to get into the dimension of language and reality. At symbolic level, poems are understood as a part of life expression referred to the root of knowledge. From such a method, it can be revealed some important points: first, the poems written by A. Mustofa Bisri are expressed in simple language as self-manifestation of the writer and his works. The simplicity of language needs deeper understanding to know the writer’s perspective and dimension. Second, there is a similarity betweem A. Mustofa Bisri’s and Sufism poems themed love and yearning to Allah.
Tulisan ini berusaha mengungkap pemikiran penting A. Mustofa
Bisri yang tersirat di dalam puisi-puisinya. Ia sebagai ulama di kalangan Nahdlatul Ulama memiliki pemikiran yang menarik, yakni sebagai kiai yang menulis karya sastra. Untuk memaknakan puisi-puisi yang ditulis oleh A. Mustofa Bisri, dibutuhkan perhatian pada arti referensial sebagai jalan untuk memasuki ranah bahasa dan realitas. Pada tataran simbolik, berusaha memahami puisi sebagai bagian dari ekspresi kehidupan yang dirujuk sampai pada akar pengetahuan. Dari metode seperti itu, dapat ditemukan beberapa hal penting; pertama, puisi yang ditulis oleh A. Mustofa Bisri diungkapkan dengan bahasa sederhana sebagai manifestasi diri dan ciptaanya. Kesederhanaan bahasa tersebut membutuhkan pemahaman yang lebih mendalam terkait dengan wawasan dan dimensi dari penyair. Kedua, ada kesamaan tematik puisi A. Mustofa Bisri dengan puisi tradisi sufi yang bertema cinta dan kerinduan kepada Allah
Pemikiran pendidikan Islam K.H. A. Mustofa Bisri
INDONESIA :
Dekadensi moral yang melanda hampir setiap lapisan masyarakat, mulai dari kalangan pelajar hingga kalangan pejabat, membuat sistem pendidikan dipertanyakan keberadaannya. Pendidikan Islam dinilai menjadi solusi yang tepat untuk mengatasi masalah tersebut. Namun, pendidikan Islam, yang basisnya ada di pesantren, mayoritas masih melestarikan sikap tradisionalisme dalam arti yang pasif, sehingga lulusan pesantren hanya menjadi manusia yang terdidik tapi kurang pintar. Disini, K.H. A. Mustofa Bisri menyuarakan kegelisahannya dalam bentuk gagasan progresif, yang menjadikan tradisi sebagai basis transformasi dengan berpegang pada adagium al muhafadhah „ala al qadim al shalih wa al akhdzu bi al jadid al ashlah (memelihara tradisi/sesuatu yang lama yang baik dan mengambil tradisi/sesuatu yang baru yang lebih baik).
Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan: (1) Pemikiran pendidikan K.H. A. Mustofa Bisri; (2) Karakteristik post tradisionalisme dalam pemikiran K.H. A. Mustofa Bisri; (3) Pemikiran pendidikan post tradisionalisme Islam K.H. A. Mustofa Bisri; (4) Pemaknaan baru sistem pendidikan Islam dalam pemikiran post tradisionalisme K.H.A. Mustofa Bisri
Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah jenis penelitian lapangan (Field Research). Pendekatan yang digunakan adalah pendekatan kualitatif. Namun secara operasional, pendekatan yang digunakan adalah pendekatan tematis kualitatif, yang merupakan salah satu pendekatan dalam penelitian study tokoh. Sumber data dalam penelitian ini yaitu hasil wawancara dengan K.H. A. Mustofa Bisri dan karya tertulisnya, dalam bentuk buku, artikel dll. Pengumpulan data melalui metode wawancara, dokumentasi dan observasi. Pengecekan keabsahan data menggunakan teknik triangulasi. Sedangkan analisis data menggunakan teknik analisis data penelitian studi tokoh.
Hasil penelitian ini menunjukkan: (1) Pemikiran pendidikan K.H. A. Mustofa Bisri; (2) Adanya karakteristik post tradisionalisme Islam dalam pemikiran K.H. A. Mustofa Bisri yang ditandai dengan tanggapan dan ketidaksetujuannya terhadap wacana Khilafah Islamiyah,yang menurutnya tidak sesuai dengan kondisi dan perkembangan zaman; (3) Pemaparan pemikiran post tradisionalisme K.H. A. Mustofa Bisri dalam bidang pendidikan yang meliputi; (a) Reinterpretasi konsep pendidikan ; (b) Tujuan pendidikan: Manusia terdidik yang pintar; (c) Kurikulum ideal pendidikan: Menggabungkan tradisi dengan modernitas ; (d) Metode cerpen akhlaqi; (4)Pemaknaan baru pemikiran pendidikan Islam.
Berdasarkan data-data yang terkumpul yang telah peneliti analisis, dapat disimpulkan bahwa pemikiran pendidikan K.H. A. Mustofa Bisri masuk pada tipologi post tradisionalisme Islam. K.H. A. Mustofa Bisri menjadikan tradisi pendidikan pesantren sebagai dasar melakukan pembaharuan, kemudian mendialogkannya dengan pemikiran baru yang lebih ashlah dari manapun asalnya, baik dari kalangan Islam sendiri maupun dari luar dunia Islam. Selain itu, agar perumusan konsep pendidikannya dapat berdaya guna dengan baik maka K.H. A. Mustofa Bisri juga menjadikan budaya lokal Indonesia sebagai pertimbangan dalam memproduk suatu gagasan pemikiran. Selain itu, sebagai bentuk usaha K.H. A. Mustofa Bisri untuk keluar dari harfiah teks, maka disusunlah buku ―Fikih Keseharian Gus Mus‖, yang mengupas problematika hukum secara lebih kontekstual.
ENGLISH :
Moral decadence that hit almost every level of society, from the students to the officials, to make the education system questionable existence. Islamic education is considered a perfect solution to address the problem. However, Islamic education, which was based on the schools, the majority still preserving traditionalism attitude in a passive sense, so that only a human boarding school graduates are educated but less intelligent. Here, K.H. A. Mustofa Bisri voiced his anxiety in the form of progressive ideas, which makes the tradition as a base transformation with adhering to the adage al muhafadhah 'ala al qadim al salih wa al akhdzu bi al jadid al ashlah (maintaining tradition / something and take a good long tradition / something new and better).
This study aims to clarify: (1) Education Islamic Thought of K.H. A. Mustofa Bisri (2) Characteristics of post-traditionalism in thinking KH A. Mustofa Bisri, (3) The idea of post traditionalism Islamic education K.H A. Mustofa Bisri,(4) New meaning of Islamic education system in post- traditionalism thinking K.H. A. Mustofa Bisri.
This type of research used in this study is a type of field research (Field Research). The approach used is qualitative approach. But operationally, the approach used is qualitative thematic approach, which is one of the approaches in the research study figures. Sources of data in this study are the results of interviews with KH A. Mustofa Bisri and written work, in the form of books, articles, etc. Collecting data through interviews, documentation and observation. Checking the validity of data using triangulation techniques. While the analysis of the data using data analysis techniques of research studies figures.
The results of this study show that: (1) Education Islamic Thought of K.H. A. Mustofa Bisri; (2) The characteristics of the post-Islamic traditionalism in thinking KH A. Mustofa Bisri marked with responses and his opposition to the discourse Khilafah Islamiyah, which he said was not in accordance with the conditions and development of the age, (3) Exposure of post-traditionalism thought KH A. Mustofa Bisri in education which include: (a) Reinterpretation concept of education, (b) The purpose of education: an intelligent educated man, (c) Ideal educational curriculum: Combining tradition with modernity; (d) Method akhlaqi short story, (4) New Meaning Islamic schools of thought.
Based on the data that has been collected research analysis, it can be concluded that the educational thinking K.H A. Mustofa Bisri post in on the typology of Islamic traditionalism. K.H. A. Mustofa Bisri make pesantren tradition as a basis for reform, then communicated with more new ideas better wherever arising, both from the Islam itself and from outside the Islamic world. In addition, the formulation of the concept of education that can be useful to both the K.H. A. Mustofa Bisri also makes the local culture in Indonesia as consideration produces an idea thought. In addition, as a form of business K.H. A. Mustofa Bisri to get out of the literal text, it was composed of " Fikih Keseharian Gus Mus ", which discussed the legal problems in a more contextual
Sejarah perkembangan Masjid Al Mustofa sebagai Cagar Budaya di Bogor
Kota Bogor memiliki peninggalan sejarah berupa Masjid tertua yang masih dipertahankan keasliannya, Masjid Al Mustofa yang berada di Jalan Ciremai Ujung, Kampung Bantarjati Kaum, Kelurahan Bantarjati, Bogor Utara, Kota Bogor merupakan masjid yang menjadi saksi lahirnya Kota Bogor karena berdiri pada tahun 1728. Masjid Al Mustofa dibangun oleh kyai yang berasal dari keturunan Sunan Gunung Djati yaitu Tubagus Mustofa Bakri, beliau ditemani oleh tiga sahabatnya yang berasal dari Cirebon. Saat ini Masjid Al Mustofa dirawat langsung oleh keturunan kelima dari Tubagus Mustofa. Selain bangunan yang unik, Masjid Al Mustofa Bogor ini memiliki peninggalan sejarah yaitu naskah kuno berupa Al Quran tertulis tangan yang ditulis langsung oleh KH. Hasan Arya anak dari KH. Tubagus Mustofa dan memiliki Khutbah tertulis tangan. Pada tahun 2012, Masjid Al Mustofa Bogor ini dijadikan sebagai cagar budaya sehingga masyarakat dengan bebas mengunjungi Masjid.
Berdasarkan uraian di atas, terdapat beberapa rumusan masalah sebagai berikut: Bagaimana Proses Islamisasi di sekitar Masjid Al Mustofa Bogor? Bagaimana Sejarah Perkembangan Masjid Al Mustofa Bogor dan Peninggalan Sejarah di dalamnya?
Penelitian bertujuan untuk mengetahui proses islamisasi disekitar Masjid Al Mustofa Bogor dan agar mengetahui sejarah perkembangan Masjid Al Mustofa beserta peninggalan sejarah yang masih bertahan disimpan di Masjid tersebut.
Metode penelitian yang digunakan adalah metode penelitian sejarah dengan menggunakan empat tahap yaitu: Heuristik, Kritik, Interpretasi, dan Historiografi.
Berdasarkan penelitian, hasilnya: Masjid Al Mustofa Bogor ini didirikan oleh dua penyebar agama Islam yang berasal dari Banten yakni Tubagus H Mustofa Bakri dan Raden Dita Manggala yang berasal dari Cirebon. Masjid ini didirikan selain untuk tempat ibadah, masyarakat Kampung Baru juga menggunakan Masjid Al Mustofa untuk mendidik santri-santri Al Mustofa. Sejak didirikan Masjid Al Mustofa Bakri ini tidak mengalami perubahan bentuk meskipun adanya renovasi itu dilakukan untuk memberbaiki bagian atas dan tiang saja karena dulunya terbuat dari kayu jati di ubah menjadi tiang beton. Bagunan yang telah mendapatkan status cagar budaya ini juga meninggalkan peninggalan sejarah yaitu Al Quran dan Khutbah Jumat dengan tulis tangan dan masih di simpan rapih di Masjid Al Mustofa. Selain itu adapula sumber mata air yang menjadi tempat wudhu para jamaah masjid. Mata air yang memiliki umur ratusan tahun itu tidak pernah kering meski pada musim kemarau
Intensi Profetik dan Lokalitas dalam Puisi A. Mustofa Bisri
This research aims to identify the prophetic intentions and the narration of locality in A. Mustofa Bisri’s poetry. As a Kiai-poet, the study of A. Mustofa Bisri’s poetry is important because with this study we can identify A. Mustofa Bisri’s perspective on phenomena and language. This study was based on data obtained from interviews with A. Mustofa Bisri at Islamic Boarding SchoolRaudlatut Thalibin, Leteh, Rembang, Central Java. The results of this study reveal that, first, literature (poetry) is positioned by A. Mustofa Bisri as a prophetic medium in loving the Prophet Muhammad, so that literature has the value of worship. Secondly, A. Mustofa Bisri positions pesantren as one of the aesthetic sources of poetics and his vision of local wisdom. Third, with the beauty of poetry, A. Mustofa Bisri seeks to create Islamic brotherhood(ukhuwah Islamiyah) and human brotherhood(ukhuwah basyariyah).
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi intensi profetik serta narasi lokalitas di dalam puisi A. Mustofa Bisri. Sebagai kiai-penyair, kajian mengenai perpuisian A. Mustofa Bisri menjadi penting untuk karena dapat mengidentifikasi sudut pandangnya terhadap fenomena dan bahasa. Kajian ini diolah berdasarkan pada data yang diperoleh dari wawancara dengan A. Mustofa Bisri di Pondok Pesantren Raudlatut Thalibin, Leteh, Rembang, Jawa Tengah. Hasil penelitian ini mengungkap bahwa, pertama, sastra (puisi) diposisikan oleh A. Mustofa Bisri sebagai wasiilah profetik (kenabian) dalam mencintai Nabi Muhammad, sehingga sastra bernilai ibadah kepada Allah, kedua, A. Mustofa Bisri memposisikan pesantren sebagai salah satu sumber estetika persajakan dan visi kearifan lokalnya, ketiga, dengan keindahan puisi, A. Mustofa Bisri berupaya menciptakan ukhuwah Islamiyah dan ukhuwah basyariyah
Nalar pemikiran etika politik A. Mustofa Bisri
Disertasi ini membahas tentang “Nalar Pemikiran Etika Politik A. Mustofa Bisri” yang dijabarkan dalam tiga sub rumusan masalah, yaitu: (1) Bagaimana pandangan A. Mustofa Bisri tentang etika politik? (2) Apa relevansi pemikiran etika politik tersebut dengan dinamika politik kontemporer di Indonesia? (3) Bagaimana corak dan nalar pemikiran etika politik A. Mustofa Bisri dalam perspektif maqāṣid al-siyāsah? Jenis penelitian ini adalah penelitian kualitatif dengan menggunakan pendekatan maqāṣid al-siyāsah dan melibatkan pendekatan sosiologi pengetahuan. Hasil akhir penelitian ini menunjukkan: Pertama, politik kebangsaan dapat dipahami sebagai langkah proaktif dan konsisten di dalam mempertahankan NKRI sebagai wujud final, yang diekspresikan oleh A. Mustofa Bisri melalui gagasannya tentang revitalisasi Pancasila dan kritiknya terhadap gerakan ideologisasi Islam. Sementara, politik kerakyatannya diwujudkan melalui upaya penyadaran tentang hak-hak dan kewajiban rakyat disertai advokasi kepada kalangan lemah. Konsepsi pemikiran etika politik A. Mustofa Bisri tersebut tersirat dari tiga dimensi etika politik seperti tujuan, sarana dan aksi politik yang bermuara pada visi keadilan dengan melibatkan peran civil society sebagai pengejawantahan amar ma’rūf nahī munkar. Kedua, Gagasan A. Mustofa Bisri ini memiliki relevansi yang lestari dengan dinamika politik di Indonesia khususnya di dalam mewujudkan kultur demokrasi deliberatif. Gagasan etika politiknya menemukan momentumnya ketika dinamika politik Indonesia kontemporer berjalan tanpa mengenal substansi kebudayaan dan kemanusiaan sebagaimana kritiknya terhadap parsialisme kultur dan elite politik. Politik yang digelar tidak lebih dari sekadar demokrasi prosedural bahkan antagonistik yang abai terhadap nilai dan moralitas bangsa. Ketiga, dilihat dari maqāṣid al-siyāsah, pemikiran etika politik yang digagas A. Mustofa Bisri, dipengaruhi oleh nalar fikih, teologi dan tasawuf. Hal lain yang turut mempengaruhi pemikiran politiknya adalah konstruksi sosiologis yang mengitarinya seperti determinasi politik kebangsaan Nahdlatul Ulama (NU) dan konstruksi pemikiran politik ayahnya, Bisri Mustofa. Konsekuensi dari tiga nalar tersebut, pemikiran A. Mustofa Bisri layak dikelompokkan sebagai tradisionalisme reformis dan humanisme spiritual. Tipologi demikian, dicirikan oleh penguasaannya terhadap tradisi turāts namun terbuka di dalam upaya merekonstrusi makna. Nalar dan tipologi pandangan demikian, lazim lahir dari kalangan muslim yang memiliki latar belakang ulama dan budayawan
DIGITALISASI UMKM KENTANG MUSTOFA WIDODO
Digitalisasi adalah peningkatan akan pemanfaatan dari teknologi berbasis digital untuk digunakan hampir pada setiap aspek kehidupan agar masyarakat bisa dengan mudah dan cepat untuk mendapatkan informasi lewat akses internet. Dalam kegiatan KKN ini mahasiswa diminta untuk melakukan inovasi dan digitalisasi UMKM menuju masyarakat mandiri. Masalah yang dihadapi dalam inovasi dan digitalisasi UMKM ini yaitu pengusaha UMKM yang masih belum memanfaatkan digitalisasi dalam penjualan UMKM. Karena banyak masyarakat yang berprofesi sebagai pengrajin boneka sehingga desa ini sering disebut kampung boneka oleh masyarakat luar. Akan tetapi selain boneka, desa Cikampek Utara juga memiliki banyak potensi UMKM yang bergerak dibidang kuliner dengan memanfaatkan hasil pertanian masyarakat sekitar. Beberapa UMKM kuliner di desa Cikampek Utara diantaranya adalah Keripik pare yang diciptakan oleh ibu-ibu UPKKS (Unit Peningkatan Pendapatan Keluarga Sejahtera) dibidang ekonomi Cikampek Utara yang tempat produksinya terletak di perumahan Cikampek Berseri. Adapun UMKM kentang mustofa yang diproduksi oleh Bu Widodo. Proses pembuatan kentang mustofa relatif sederhana dan mudah, tetapi untuk memperoleh kentang mustofa yangberkualitas dibutuhkan beberapa peralatan yang memadai, salah satunya adalah peniris minyak (spinner). Dengan menggunakan spinner akan diperoleh kentang mustofa yang lebih crispy dan kandungan minyak relatif sedikit sehingga lebih bagus untuk kesehatan
- …
