4,601 research outputs found
Penanaman moderasi beragama di sekolah : peranan guru agama
Guru pendidikan agama Islam di sekolah dasar secara umum memiliki pengetahuan yang baik tentang konsep moderasi beragama. Secara singkat, mereka memandang konsep moderasi beragama sebagai suatu sikap dan upaya memahami dan mengamalkan ajaran agama secara moderat, tidak ekstrim, tidak fanatik, tidak radikal, mengedepankan toleransi, menghargai perbedaan, menghormati agama lain, memiliki tujuan menjaga keutuhan dan keharmonisan hubungan antar umat beragama dalam rangka memelihara persatuan dan kesatuan bangsa.
Mayoritas guru-guru ini memiliki komitmen yang tinggi untuk mengenalkan dan menanamkan konsep moderasi beragama kepada para siswanya dalam proses pembelajaran di kelas. Mereka juga menunjukkan keterlibatan yang serius dalam menanamkan konsep moderasi beragama kepada para siswa di kelas.
Guru-guru tersebut juga telah melakukan upaya-upaya nyata dalam menanamkan konsep moderasi beragama kepada para siswanya. Di antara upaya-upaya tersebut adalah: memperkenalkan kepada siswa tentang kerukunan dalam perbedaan agama, manfaat moderasi dan toleransi beragama, mengenalkan keyakinan agama yang berbeda untuk lebih mempererat persatuan melalui diskusi, menjelaskan pentingnya kerukunan antar umat beragama melalui pelajaran tertentu yang didukung dengan media pembelajaran berupa tayangan video dengan penjelasan langsung dari guru, menjelaskan konsep moderasi dan toleransi beragama, menjelaskan kepada siswa tentang perbedaan dan keberagaman di Indonesia
MANAJEMEN KEUANGAN SEKOLAH DI SMP AL-MUSLIH KARAWANG
Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisa dan memahami tentang manajemen keuangan sekolah tersebut di SMP Al-Muslih Karawang penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan deskriptif dengan menggunakan metode observasi, wawancara Kepala sekolah dan pihak yang terkait dengan pembiayaan yang ada di sekolah, serta dengan menggunakan metode dokumentasi guna menunjang hasil yang diberikan. Manajemen keuangan di sekolah SMP Al-Muslih karawang dimulai dengan melakukan empat cara yaitu perencanaan(planning), pengorganisasian(organizing), pelaksanaan(actuating),dan hasil manajemen keuangan di smp Al-Muslih Karawang. Selanjutnya sekolah yang berbais yayasan dan pendapatan dapat dari pemerintah yaitu dana BOS,SPP untuk menunjang atau menambah kekurangan dari pembiayaan SMP Al-Muslih. Hasil penelitian yang diperoleh di smp Al-Muslih karawang ini sudah mengikuti peraturan pemerintah
Sea of Knowledge
page, diagrams of metric circles representing rhythmic patterns of sound, folios 16v-17r (left) and 17v-18r (right
Pola pendidikan pesantren sufistik K.H. Muslih Mranggen Demak
Disertasi dengan judul ‘Pola Pendidikan Pesantren Sufistik K.H. Muslih Mranggen Demak dengan jenis penelitian kualitatif.
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode sejarah untuk menelaah pemikiran KH Muslih Mranggen Demak dalam mengelola pendidikan pesantren sufistik Futuhiyah Mranggen Demak. Pertanyaan akademik yang diajukan: Mengapa K.H. Muslih Mranggen Demak memilih pola pendidikan pesantren sufistik?;Bagaimanakah signifikansi pola Pendidikan pesantren Sufistik K.H. Muslih Mranggen Demak pada lembaga pendidikan pesantren? dan apa relevansi pola pendidikan pesantren sufistik K.H. Muslih Mranggen Demak terhadap masyarakat?
Hasil penelitian ini adalah pertama, K.H. Muslih Mranggen Demak mengajarkan ajaran sufistik karena ia merupakan salah satu penerus pondok pesantren ayahnya yang meninggal dunia dan sekaligus ia menerima ijazah tarekat Qodiyah Naqsyandiyah dari Syaikh ‘Abdul Latif dan Syaikh Ibrahim Brumbung Mranggen Demak supaya mengajarkan tarekat..
Kedua K.H. Muslih memiliki keunikan yang membedakan dengan tokoh-tokoh lainnya. Beliau mempunyai pola pendidikan melalui pengajaran tarekat Qodiriyah Naqsyabandiiyah seseorang akan memperoleh nilai-niai pendidikan sosial seperti hablun minallah dan hablun minannas. Pola Pendidikan pesantren sufistik ini di dalam pondok pesantren yang beliau kelola sendiri menjadi sarana mendidik masyarakat dalam upaya membentengi krisis moral dengan cara mengajarkan ajaran tarekat melalui dzikir nafyu al-isbath, dzikir ismu ad-dzat dan muroqobah.
Ketiga ajaran Tarekat yang diajarkan oleh K.H. Muslih Mranggen Demak dalam konteks kehidupan zaman sekarang masih relevan, agar manusia tidak lupa diri karena aktivits manusia senantiasa dalam pentauan dan pengawasan Allah swt. Bukti riilnya beliau mempunyai beribu-ribu jama’ah dibelahan nusantara khususnya dan menyebar bahkan sampai di benua Asia.
ABSTRACT:
The dissertation with the title 'Patterns of Education of Sufistic Islamic Boarding Schools K.H. Muslih Mranggen Demak' with the type of qualitative research.
The method used in this research is a historical method to examine the thoughts of KH Muslih Mranggen in managing the education of the Sufistic Islamic boarding school Futuhiyah Mranggen. Academic question put foward; Why did K.H. Muslih Mranggen chose a sufistic pesantren education pattern?; What is the significance of the though pattern of the Sufistic pesantren K.H. Muslih Mranggen in Islamic boarding schools? and what is the relevance of K.H. Muslih Mranggen towards society?
The results of these studies are the first, K.H. Muslih Mranggen taught sufistic teachings because he was one of the successors to his father's boarding school who died and at the same time he received a diploma from the Qodiyah Naqsyandiyah tarekat from Sheikh 'Abdul Latif and Sheikh Ibrahim Brumbung Mranggen Demak in order to teach the tarekat.
The second, K.H. Muslih has a uniqueness that distinguishes him from other figures. He had the idea that through teaching the Qodiriyah Naqsyabandiiyah order someone would get the values of social education such as hablun minallah and hablun minannas. The pattern of Sufistic boarding school education in the Islamic boarding school which he manages himself is a means of educating the community in an effort to fortify the moral crisis by teaching tarekat teachings through dhikr nafyu al-isbath, dhikr ismu ad-dzat and muroqobah.
The third, teachings of the Tarekat taught by K.H. Muslih Mranggen in the context of today's life is still relevant, so that humans do not forget themselves because human activities are always under the supervision and supervision of Allah swt. The real evidence is that he has thousands of congregations in the archipelago in particular and spreads even to the Asian continent
Kritik Epistimologi dan Model Pembacaan Kontemporer
Jika ide pembaharuan Muhammad Abduh dan Rasyid Ridla disebut sebagai awal modernisasi dalam pemikiran Islam, maka proses modernisasi itu sudah berjalan tidak kurang dari dua abad lamanya. Dan, jika proses modernisasi itu dikatakan berhasil, maka mestinya sudah cukup waktu dan bukti bahwa ide pembaharuan itu terintegrasi dalam kesadaran umat Islam. Namun, apa yang terjadi pada umat Islam, termasuk di Indonesia, selama ini tradisi selalu dilihat dengan kacamata tradisi sebagaimana yang terjadi pada kaum tradisional (salafiyah) di satu sisi atau tradisi selalu dilihat dengan kacamata modernitas sebagaimana yang dilakukan kaum reformis pada sisi yang lain. Makanya kaum tradisional selalu berada pada posisinya yang tradisional itu. Mulai tradisi intelektualisme yang dikembangkan, model dan corak pendidikan, sampai keberagamaan mereka tidak pernah terpegaruh oleh hiruk-pikuknya pembaharuan. Ide-ide pembaharuan lebih dipandang sebagai tantangan yang perlu diwaspadai dari pada untuk diterima. Ini terjadi pada sebagian besar muslim Indonesia, bahkan juga, yang terjadi pada umat ini. Kondisi seperti ini tentu menggelisahkan kaum reformis. Mereka melihat ada ‘penyakit’ yang menjangkiti umat Islam ini. Maka kemudian ada yang mengobatinya dengan rasionalisasi, purifikasi, [neo]modernisasi, bahkan sekularisasi. Sampai saat ini, dua abad sudah masa modernisasi di dunia ArabIslam, dan kurang lebih satu abad modernisasi (pemikiran) Islam di
vi
Kritik Epistemologi & Model Pembacaan Kontemporer
Indonesia, nalar tradisi masih tetaplah tradisional, sementara upaya modernisasi, termasuk dengan para reformisnya tak henti-hentinya menuai kritik, terutama dari kalangan muda-menengah. Maka, di sinilah barangkali ada benarnya juga sebagian pengamat yang mengatakan, modernisasi Islam itu sebenarnya tidak berhasil. Atau, kalau tetap dikatakan berhasil, kenyataannya memang masih bersifat elitis. Meminjam kalimat Hasan Hanafi, umat Islam umumnya lebih merasa at home dengan tradisi ketimbang modernitas, karena tradisi telah menyatu dalam kesadaran sejak empat belas abad lalu, sementara modernitas baru datang tidak lebih dari dua ratus tahun lalu. Artinya, jika dapat diilustrasikan dalam sebuah gambar maka seperti segitiga sama sisi yang dipotong garis di tengah; bagian atas, yakni bagian kecil adalah gambaran Islam modernis yang sudah relatif maju, sedang bagian bawah atau bagian terbesar, menunjukkan kondisi tradisional. Kalangan muda-menengah sebagaimana disebut itu, dapat saja lahir dari kelompok reformis, tetapi umumnya dari kelompok tradisionalis yang merasakan adanya anomali bahkan krisis dalam pola pikirnya, bahkan barangkali pola keberagamaannya, namun ada juga yang sejak semula melihat apapun upaya modernisasi itu harus ditolak karena laisa minna. Selanjutnya perkembangan pemikiran Islam mengalami episode yang sama sekali baru yakni saat terjadi peperangan 6 hari, yang berakhir dengan kekalahan Arab oleh Israel pada Juni 1967. Tampaknya peristiwa itu merupakan tonggak bagi lahirnya suatu kesadaran baru: “limadza taakhkharal muslimun wa taqaddama ghairuhum”? Autokritik itu berlanjut, sebenarnya ada apa dengan tradisi kita dan ada apa dengan modernitas, bagaimana semestinya memperlakukan keduanya? Sejak saat itu, isu “tradisi dan modernitas” (al-turâts wa al-hadâtsah) menjadi isu tersanter dalam pemikiran Arab kontemporer. Apakah tradisi harus dilihat dengan kacamata modernitas ataukah modernitas harus dilihat dengan kacamata tradisi atau bisakah keduanya dipadukan?
vii
Kata Pengantar
Menjawab persoalan mendasar itu, berkembang varian-varian pemikiran keislaman baru, yang kemudian dikenal dengan pemikiran Islam kontemporer. Sejumlah pemikir lahir dan menawarkan gagasan mereka, seperti Abied al-Jabiri, Arkoun, Syahrur, Hasan Hanafi, dll. Umumnya mereka melihat bahwa bangunan episteme, ‘aqal, atau sistem pengetahuan yang menjadi basis tumbuh-kembangnya ilmu pengetahuan dan juga tradisi (turâts) mesti dibaca dengan cara yang baru. Demikian juga dengan modernitas (hadâtsah). Keduanya harus bisa dibaca secara kreatif, dengan ‘model’ pembacaan kontemporer (qira’ah mu’ashirah). Turâts tidak hanya dibaca secara harfiah tetapi sampai pada basis pembentuknya untuk menemukan makna potensial sehingga bisa ditransformasikan di zaman kita. Tidak sebagaimana perpektif modernisme, apa saja yang datang dari Barat diterima tanpa kritik, bahkan dianggap pasti baik dan benar. Dalam pembacaan kontemporer, hadâtsah juga harus dibaca secara kritis, dengan kritik, dengan mengambil jarak, juga untuk membongkar basis filosofis dan ideologisnya. Di sinilah peran oksidentalisme sebagai perspektif. Setelah keduanya dibaca secara kritis-kreatif, lalu terbangun konstruksi pemaknaan yang baru. Model pembacaan seperti inilah yang disebut dekonstruksi-rekonstruksi, khas pemikiran kontemporer. Semua ini bisa dilakukan, tentu diawali dengan asumsi bahwa baik turâts maupun hadâtsah sama-sama bersifat historis, juga satu hal yang tidak lazim di masa-masa sebelumnya. Mengambil sebagian aspek paling krusial dari wacana pemikiran Islam kontemporer, buku ini hadir untuk melibati diskursusnya. Disebut demikian, karena buku ini tidak hanya menyajikan pembahasan mengenai “Kritik Epistemologi” yang merupakan grand proyek pemikiran Islam Kontemporer, tetapi juga membahas “Model Pembacaan Kontemporer” sebagai cara baca baru. Secara umum, buku ini terbagi ke dalam tiga pembahasan utama, yaitu bagian pertama “Kritik Epistemologi dan Pembangunan Tradisi Ilmiah. Pada bagian
viii
Kritik Epistemologi & Model Pembacaan Kontemporer
ini, disajikan 5 artikel pilihan, dimulai dengan pembahasan tentang signifikansi dan peran filsafat ilmu dalam aktivitas ilmiah, dilanjutkan dengan penelusuran terhadap basis epistemologi keilmuan Islam, terutama studi al-Qur’an, filsafat ketuhanan, baik yang bercorak manthiqiy maupun yang bercorak intuitif. Bagian kedua membahas “Wacana Pemikiran Islam Kontemporer”. Pembahasan ini mengajak pembaca untuk memasuki diskursus pemikiran Islam kontemporer, baik sebagai mode pemikiran (mode of thought) maupun sebagai model pembacaan (qira’ah mu’ashirah). Bagian kedua ini juga dilengkapi dengan kajian dan sekaligus pembacaan terhadap wacana gender equality, wacana masyarakat madani, dan model kritik epistemologi ilmu fiqh oleh Khaled Abou al-Fadl, sebagai varian wacana keislaman yang berkembang di era kontemporer ini. Sementara bagian ketiga, mengupas persoalan “Etika dan Problem Pamaknaan”. Diawali dengan pembahasan mengenai perspektif etika dalam studi filsafat, dilanjutkan refleksi terhadap makna peristiwa hijrah, peran ke-diri-an manusia dalam menggapai kemulyaan dan keadilan Ilahi; yang bisa dikatakan sebagai aplikasi etika dalam kehidupan ini. Dengan selesainya penulisan buku ini, secara khusus kami sampaikan ucapan terima kasih kepada Bapak KH. Kafrawi Ridwan, MA, Rektor ISID Gontor, yang telah memberikan kesempatan dan dukungan kepada kami untuk mengembangkan Jurnal Tsaqafah, sebagai jurnal ilmiah terakreditasi, di mana beberapa artikel terpilih disajikan dalam buku sederhana ini. Dan, patut disyukuri bahwa dengan pengembangan jurnal ilmiah ini tampaknya telah turut mendorong bagi terbangunnya tradisi ilmiah di lingkungan ISID Gontor, yang ditunjukkan dengan dinamika dan produktivitas ilmiah para dosen dan mahasiswa, baik dalam penyelenggraan seminar, diskusi berkala, penulisan buku, artikel ilmiah dan populer, maupun penerbitan jurnal fakultas dan prodi. Ucapan terima kasih juga kami
ix
Kata Pengantar
sampaikan ke semua Wakil Rektor ISID Gontor, juga kepada Ketua Lemlit atas segala bantuan dan supportnya, serta semua pihak yang telah memberikan dukungan bagi terselesikannya buku ini. Akhirnya, penulis berharap semoga karya sederhana ini dapat diterima oleh masyarakat, sebagai upaya memberikan sumbangan pemikiran untuk menjawab persoalan keislaman terutama di era kontemporer ini. Tak lupa, kritik dan saran dari segenap pembaca selalu penulis harapkan, agar dicapai tingkat produktivitas yang lebih tinggi lagi. Semoga Allah berkenan meridlai langkah ini
ESTETIKA PERTUNJUKAN WAYANG THENGUL BLORA LAKON AMIR HAMBYAH WINISUDHA SAJIAN MUSLIH
Penelitian berjudul "Estetika Pertunjukan Wayang Thengul Blora Lakon Amir Hambyah Winisudha Sajian Muslih" bertujuan mengungkap permasalahan tentang: (1) Bagaimana struktur pertunjukan wayang thengul Blora lakon Amir Hambyah Winisudha sajian Muslih dan (2) Bagaimana garap estetik pertunjukan wayang thengul Blora lakon Amir Hambyah Winisudha sajian Muslih. Kedua permasalahan tersebut dikaji menggunakan konsep estetika pedalangan, terutama konsep nuksma dan mungguh yang dikemukakan oleh Sunardi. Selain itu, untuk mengungkapkan struktur pertunjukan wayang thengul Blora dikaji berdasarkan struktur dramatik lakon wayang yang dikemukakan oleh Sumanto. Analisis penelitian ini bersifat deskriptif dengan model analisis kualitatif, yang menggunakan teknik pengumpulan data melalui langkah-langkah observasi, studi pustaka, dan wawancara. Data tentang pertunjukan wayang thengul Blora, dan masyarakat pendukungnya disusun secara sistematik dalam penelitian ini.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa: Pertama unsur estetik wayang thengul Blora dapat diamati melalui bentuk boneka wayang, garap sabet, catur, dan karawitan pakelirannya. Kedua pertunjukan wayang thengul Blora lakon Amir Hambyah Winisudha sajian Muslih tersusun dari beberapa adegan yaitu; Jejer Sepisan, Kedhatonan, Budalan, Adegan Selapilih, Perang Gagal, Gara-gara, Adegan Padepokan Gurdi, Adegan Candhakan, Adegan Pamungkas. Ketiga berdasarkan analisis estetika dalam pertunjukan wayang thengul Blora lakon Amir Hambyah Winisudha sajian Muslih, pencapaian nuksma diwujudkan melalui keberhasilan dalang dalam membangun suasana adegan yang regu, greget, dan prenes. Adapun pencapaian mungguh diindikasikan dari keselarasan rasa antara catur, sabet, dan karawitan pakeliran yang disajikan dalam setiap adegannya.
Akhirnya dapat disimpulkan bahwa Muslih menyajikan pergelaran wayang thengul Blora lakon Amir Hambyah Winisudha dengan menjiwai dan harmonis, sehingga mendapat tanggapan positif dari penonton wayang di Blora
Retorika tablig KH. Muslih Abdul Karim pada kanal YouTube Baitul Quran Indonesia
Umat muslim diperintah untuk menyerukan agama Allah Swt. Perintah untuk menyerukan agama Allah Swt disebut dengan dakwah. Dakwah terdiri dari beberapa metode, salah satu metode yang paling banyak digunakan adalah dakwah bi al-lisan atau tablig. Tablig merupakan metode dakwah dengan cara menyampaikan pesan pesan dakwah kepada jamaah dengan menggunakan berbagai macam media. KH. Muslih Abdul Karim adalah salah satu muballigh yang menyampaikan pesan-pesan tablig melalui kanal YouTube.
Tujuan penelitian ini adalah mengetahui: (1) Gaya bahasa KH. Muslih Abdul Karim pada kanal YouTube: Baitul Quran; (2) Gaya suara KH. Muslih Abdul Karim pada kanal YouTube: Baitul Quran; serta (3) Gaya gerak KH. Muslih Abdul Karim pada kanal YouTube: Baitul Quran.
Teori yang digunakan dalam penelitian ini yaitu teori retorika Gorys Keraf. Teori ini mendefinisikan retorika sebagai istilah yang diberikan secara tradisional pada suatu teknik pemakaian bahasa sebagai seni yang didasarkan pada suatu pengetahuan yang telah tersusun dengan baik. Diartikan sebagai prinsip-prinsip komposisi pidato yang persuasif dan efektif. Terdapat tiga fokus utama retorika menurut Keraf sebagai berikutpada tiga hal yaitu: (1) Gaya bahasa; dan (2) Gaya gerak; dan (3) Gaya suara.
Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif kualitatif. Adapun teknik pengumpulan data yang digunakan adalah observasi dan wawancara.
Hasil penelitian ini memperoleh beberapa hal, yaitu: (1) Gaya bahasa KH. Muslih Abdul Karim pada kanal YouTube: Baitul Quran menggunakan gaya bahasa repitisi untuk menekankan pesannya kepada jamaahnya dengan pengulangan kata atau frasa dan memanfaatkan gaya bahasa pertentangan dengan menggunakan majas antithesis; (2) Gaya suara KH. Muslih Abdul Karim pada kanal YouTube: Baitul Quran KH. Muslih mampu mengatur volume, irama, dan nada suara dengan baik. Penggunaan jeda pada kalimat tertentu membantu mad’u/mustami' dalam memahami isi materi dengan lebih baik. (3) Gaya gerak KH. Muslih Abdul Karim pada kanal YouTube: Baitul Quran ekspresi wajah tersenyumnya memberikan suasana tenang dan positif. Gerakan tangan dan jari-jarinya digunakan secara efektif untuk memperkuat dan mengilustrasikan isi materi yang disampaikan. Sikap yang KH. Muslih tunjukkan selalu sopan dan santun, tanpa gerakan yang berlebihan
PENDIDIKAN KARAKTER PESERTA DIDIK MENURUT KH MUSLIH MRANGGEN DEMAK
Di era globlisasi ini, terjadi banyak perubahan dalam sudut pandang pemikiran seseorang. Terutama di zaman serba kecanggihan teknologi sekarang ini, banyak sisi positifnya akan tetapi juga banyak sekali pengaruh negatif yang terjadi sekarang, dan yang sangat berpengaruh dalam berbagai aspek kehidupan khususnya nilai moral yang mulia peserta didik. Berdasarkan latar belakang penelitian diatas maka tujuan penelitian ini sebagai berikut: 1) Menganalisis konsep pendidikan karakter menurut KH Muslih Mranggen Demak. 2) Menganalisis relevansi konsep Pendidikan karakter menurut KH Muslih Mranggen. Metode dan pembahasan dalam penelitian ini menggunakan penelitan analisis data. Yang dimana teknik pengumpulan data dengan mencari informasi dari berbagai buku, jurnal maupun artikel terkait pendidikan karakter Menurut KH Muslih Mranggen. Data yang sudah dikumpulkan di analisis dengan menggunakan content analysis atau kajian isi. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa: 1) Konsep pendidikan karakter menurut KH Muslih Mranggen Demak yaitu; (a) Guru (pendidik) sebagai subyek pendidikan karakter. (b) Murid (Peserta didik) sebagai obyek pendidikan karakter. 2) Relevansi konsep Pendidikan karakter menurut KH Muslih Mranggen; Keteladanan, Kisah atau cerita (story telling) dan Kontinuitas (rutinitas)
Kontekstualisasi Pendidikan Sufistik KH. Muslih Mranggen Pada Era Society 5.0
Artikel ini membahas pendidikan sufistik oleh KH. Muslih Mranggen dalam era Society 5.0 dengan fokus pada nilai-nilai spiritual dan adaptasi terhadap kemajuan teknologi. Tujuan artikel ini adalah untuk memberikan pemahaman mendalam tentang konsep pendidikan sufistik yang diajarkan oleh KH. Muslih Mranggen serta merumuskan strategi implementasinya dalam konteks era Society 5.0. Metode penelitian yang digunakan adalah library research dengan langkah-langkah identifikasi sumber informasi, pengumpulan data, analisis data, dan penyajian data. Hasil temuan menunjukkan bahwa nilai-nilai sufistik KH. Muslih mencerminkan kedalaman spiritual, dan penerapan pendidikan sufistik di Pesantren Futuhiyyah melibatkan beragam kegiatan untuk membentuk karakter dan spiritualitas para santri. Implementasi pendidikan sufistik dalam era Society 5.0 mengadopsi strategi teknologi untuk menyebarkan nilai-nilai sufistik secara luas dan memastikan relevansinya dalam membentuk karakter spiritual individu di era modern yang dipengaruhi oleh teknologi dan transformasi sosial
PEMIKIRAN TASAWUF KIAI MUSLIH MRANGGEN DEMAK DALAM KITAB AL-FUTUHAT AR-RABBANIYYAH
Penelitian ini dilatarbelakangi oleh perkembangan Tarekat Qadiriyyah dan Naqsyabandiyyah yang sangat pesat di daerah Mranggen, Demak, ketika dipimpin oleh Kiai Muslih. Perkembangan tersebut, didukung oleh beberapa aspek, yaitu kepribadiannya yang longgar dan fleksibel, memiliki keterampilan untuk melakukan kerja-kerja keulamaan, memilki kecakapan berorganisasi, dan menerapkan pentingnya mempelajari ilmu fiqih dan ilmu tasawuf. Dari perkembangan tersebut, penelitian ini mecoba mendekati Kiai Muslih dari sisi pemikiran tasawufnya yang terdapat dalam kitab Al-Futuhat Ar-Rabbaniyyah. Melihat ia adalah guru di Pondok Pesantren dan Madrasah Futuhiyyah, sekaligus mursyid dalam Tarekat Qadiriyyah dan Naqsyabandiyyah yang memilki banyak khalifah. Selain itu, ia juga mempunyai karya yang bertema tasawuf. Oleh sebab itu, pada penelitian ini, peneliti merumuskan masalah, yaitu 1) Bagaimana konsep pemikiran tasawuf Kiai Muslih dalam kitab Al-Futuhat Ar-Rabbaniyyah? 2) Bagaimana corak pemikirian Kiai Muslih dalam kitab Al-Futuhat Ar-Rabbaniyyah? Dengan tujuan untuk mengetahui bagaimana konsep dan corak dari pemikiran tasawuf Kiai Muslih yang terdapat dalam kitab Al-Futuhat Ar-Rabbaniyyah.
Penelitian ini merupakan penelitian kepustakaan dengan pengumpulan datanya menggunakan teknik dokumentasi yaitu sumber yang berkaitan dengan tema penelitian melalui buku, jurnal, dan penelitian sebelumnya yang sejenis yang berguna untuk menemukan landasan teori tentang masalah yang akan diteliti, sumber-sumber tersebut menjadi sumber sekunder. Adapun untuk sumber primer yatu kitab Al-Futuhat Ar-Rabbaniyyah karya Kiai Muslih Abdurrahman yang terbit pada tahun 1994 di Karya Putra Semarang setebal 99 halaman. Selain itu, dalam menganalisis data, penelitian ini menggunakan metode deskripsi, interpretasi, dan analisis, serta dalam pendekatan data, penelitian ini menggunakan pendekatan historis faktual.
Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan, ditemukan bahwa 1) Terdapat beberapa konsep dalam kitab Al-Futuhat Ar-Rabbaniyyah yang menjadi dasar pemikiran tasawuf Kiai Muslih, yaitu Mabadi Imu Thariqah, Adab, Lathaif (kelembutan-kelembutan dalam jiwa manusia), At-Thariq (jalan), dan Muraqabah (mengamati kebesaran Allah dalam hati), 2) Pemikiran tasawuf Kiai Muslih lebih dekat atau bercorak tasawuf akhlaki. Hal tersebut sesuai dengan karakteristik dari tasawuf akhlaki, yaitu 1) Melandaskan pada Al-Qur’an dan Hadis, 2) Tidak menggunakan istilah-istilah filsafat yang terdapat ungakapan-ungkapan syathahat (samar), 3) Lebih bersifat mengajarkan dualisme dalam hubungan antara Tuhan dan manusia, 4) Kesinambungan antara hakikat dengan syari’at, dan 5) Lebih berfokus pada pembinaan, pendidikan akhlak, dan pengobatan jiwa dengan cara riyadhah (latihan-latihan)
- …
