1,721,072 research outputs found
Museum Batik Danar Hadi Solo
Batik bagi masyarakat Indonesia telah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Tidak hanya dikenakan dalam acara sakral, kini batik biasa digunakan untuk bekerja ataupun untuk menghadiri acara resmi lainnya. Pada tahun 2009, batik Indonesia telah diakui secara internasional sebagai warisan budaya tak benda yang ditetapkan oleh UNESCO.
Museum Batik Danar Hadi mengisahkan tentang perkembangan sejarah batik di Indonesia yang terdisplay dalam helaian kain batik. Museum Batik Danar Hadi memiliki koleksi 1.000 helai kain batik yang terdiri dari batik kuno dan batik kontemporer
MUSEUM BATIK PEKALONGAN
Indonesia memiliki keanekaragaman seni dan budaya yang merupakan warisan dari nenek moyang yang harus kita jaga dan lestarikan. Keanekaragaman seni dan budaya yang dimiliki merupakan cirri kepribadian bangsa yang membedakan dengan bangsa lainnya di dunia. Salah satu seni budaya asi Indonesia adalah kerajinan batik yang selain memiliki nilai ekonomis yang tinggi, juga memiliki nilai histories dan filosofis sebagai salah satu aset seni budaya nasional yang patut dijaga dan dilestarikan.
Dapat dikatakan bahwa batik merupakan salah satu perkembangan seni budaya, khususnya di Jawa Tengah, yang dimaksud perkembangan disini ialah cara membuat kain batik, sedangkan motifnya merupakan perkembangan dari paduan berbagai pengaruh dari kebudayaan lain (Hamzuri, 1981).
Berbagai perkembangan batik semakin menambah keaneka ragaman kerajinan batik serta dapat dijadikan sebaga komoditi ekspor yang berkualitas ke mancanegara. Tetapi hal tersebut menjadi salah satu indikasi yang mengancam keberadaan dan kelangsungan hidup batik tradisional.
Hal ini dipengaruhi oleh beberapa sebab yaitu :
Semakin berkurangnya konsumen batik tradisional, yang juga menyebabkan berkurangnya pemasaran
Kemajuan teknologi di bidang industri tekstil, sehingga mampu menghasilkan produksi tekstil bukan batik dengan motif seperti batik.
Proses pembuatan batik tradisional yang membutuhkan waktu cukup lama dan harga jual yang lumayan tinggi
Kurangnya perhatian generasi muda terhadap batik saat ini, baik sebagai komoditi maupun sebagai seni budaya
Kurangnya apresiasi masyarakat dalam upaya melestarikan batik tradisional
Dalam usaha pelestarian kerajinan batik perlu dilakukan upaya peningkatan apresiasi masyarakat melalui suatu fasilitas yang mampu memadukan berbagai teknik pameran yang informative dan atraktif, serta kegiatan pendukung lainnya seperti pelatihan pembuatan batik, studi mengenai pembatikan, pusat informasi batik, art shop dan sebagainya.
Ada banyak daerah di Jawa Tengah yang memproduksi kain batik, diantaranya adalah batik Pekalongan. Pekalongan yang dikenal dengan slogan “Pekalongan Kota Batik” merupakan salah satu pusat kerajinan batik di Jawa Tengah, dimana sebagian besar masyarakat mengandalkan kerajinan batik sebagai sumber mata pencaharian, yaitu dengan menjadi pengrajin, pengusaha, ataupun pedagang batik. Kegiatan batik di Pekalongan telah dikerjakan oleh masyarakat lama sejak zaman penjajahan Belanda di Indonesia. Batik Pekalongan tumbuh dan berkembang menjadi salah satu batik pesisir yang terkenal mempunyai corak dan warna-warni yang kaya dank has. Cirri khas tersebut menjadikan batik Pekalongan semakin dikenl dimana-mana dan bahkan seluruh Indonesia dan dunia.
Kebanggaan akan kekayaan seni budaya yang dimiliki oleh Kota Pekalongan, semakin memotivasi untuk mewujudkan slogan “Pekalongan Kota Batik” serta sebagai upaya melestarikan seni budaya batik, maka muncul pemikiran untuk membangun sebuah Museum Batik.
Dengan keberadaan Museum Batik di Pekalongan diharapkan kelak dapat mencapai tujuan antara lain :
Pendidikan dan pelatihan kerajinan batik tulis kepada para senjiman dan generasi penerus
Menampilkan secara visual proses dan perkembangan batik sehingga didapat penghayatan terhadap produk batik dari masa ke masa
Upaya pelestarian kerajinan batik pekalongan dapat menanamkan rasa bangga terhadap tingginya seni batik para leluhur
1.2 TUJUAN DAN SASARAN
Tujuan
Memperoleh suatu landasan perencanaan dan perancangan Museum Batik Pekalongan sebagai wadah untuk memelihara dan melestarikan kerajinan batik serta mengembangkan objek wisata budaya di kota Pekalongan.
Sasaran
Menyusun dan merumuskan Landasan Program Perencanaan dan Perancangan Arsitektur (LP3A) dengan judul Museum Batik Pekalongan.
1.3 MANFAAT
Secara Subjektif
Memenuhi salah satu persyaratan dalam menempuh Tugas Akhir sebagai ketentuan kelulusan S1 pada Jurusan Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Diponegoro Semarang serta digunakan sebagai landasan program perencanaan dan perancangan arsitektur yang akan dilanjutkan dalam bentuk grafis.
Secara Objektif
Kontribusi bagi pengembangan pariwisata di kota Pekalongan dalam memanfaatkan potensi yang dimiliki melalui pengadaan objek wisata budaya yang menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan sebagai salah satu upaya pemeliharaan dan pelestarian kerajinan batik.
Juga sebagai masukan bagi pihak yang membutuhkan data mengenai bidang yang bersangkutan dan tambahan pengetahuan dan wawasan bagi mahasiswa, khususnya dalam hal perencanaan dan perancangan Museum Batik.
1.4 LINGKUP PEMBAHASAN
Pembahasan mencakup hal-hal yang berkaitan dengan pengertian Museum Batik sebagai wadah untuk memelihara dan melestarikan kerajinan batik serta mengembangkan objek wisata budaya di kota Pekalongan.
Pengertian yang dimaksud dalam hal ini adalah yang berkaitan dengan disiplin ilmu arsitektur dan ditekankan pada aspek-aspek perencanaan dan perancangan Museum Batik.
Perwujudan yang dilakukan adalah perencanaan dan perancangan Museum Batik dengan mengacu pada Museum Batik Yogyakarta dan Museum Tekstil Jakarta sebagai studi banding.
1.5 METODE PEMBAHASAN
Metode pembahasan yang digunakan dalam penyusunan laporan ini adalah metode penulisan deskriptif, yaitu memberikan gambaran segala permasalahan dan keadaan yang ada, kemudian dianalisis dari sudut pandang ilmu yang relevan untuk mendapatkan suatu criteria desain dan dasar perancangan.
Langkah-langkah pengambilan data dilakukan dengan :
Studi literature, dengan mempelajari buku-buku, brosur-brosur, situs internet yang berkaitan dengan teori, konsep atau standar perencanaan yang digunakan dalam penyusunan program
Observasi lapangan, melakukan pengamatan langsung terhadap objek dan studi banding serta instansi-instansi yang memiliki potensi dan relevansi yang mendukung judul.
Wawancara, mengajukan pertanyaan secara langsung dengan pihak-pihak terkait dan kometen dengan topic permasalahan.
1.6 SISTEMATIKA PEMBAHASAN
Penyusunan Landasan Program Perencanaan dan Perancangan Arsitektur (LP3A) dilakukan dengan sistematika sebagai berikut :
BAB I PENDAHULUAN
Menguraikan latar belakang, tujuan dan sasaran, manfaat, lingkup pembahasan, metode pembahasan, sistematika pembahasan dan alur pikir.
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
Menguraikan tinjauan umum yang berhubungan dengan perencanaan dan perancangan Museum Batik antara lain tinjauan museum, koleksi, pameran, dan tinjauan tentang batik.
BAB III TINJAUAN MUSEUM BATIK PEKALONGAN
Menguraikan tentanng tinjauan Kota Pekalongan secara umum baik fisik dan non fisik serta uraian potensi pariwisata dan kerajinan batik di Pekalongan.
BAB IV KESIMPULAN, BATASAN, DAN ANGGAPAN
Mengungkapkan tentang kesimpulan, batasan, dan anggapan dari uraian pada bab-bab sebelumnya dalam perencanaan dan perancangan Museum Batik Pekalongan.
BAB V PENDEKATAN PERENCANAAN DAN PERANCANGAN ARSITEKTUR
Menguraikan analisa dari pelaku dan jenis kegiatan, materi koleksi, kebutuhan ruang, studi kapasitas dan besaran ruang. Juga menguraikan dasar-dasar penekatan aspek fungsional. Kontekstual, teknis, kinerja, dan arsitektural.
BAB VI KONSEP DAN PROGRAM DASAR PERENCANAAN DAN PERANCANGAN ARSITEKTUR
Membahas mengenai program perancangan yang meliputi program ruang dan lokasi tapak terpilih dan konsep perancangan bangunan
Perancangan Sign System Pada Museum Batik Pekalongan
Museum Batik Pekalongan merupakan salah satu museum yang didalamnya menyimpan Warisan budaya Indonesia utamanya batik. Kurangnya sign system di Museum Batik Pekalongan dapat menyebabkan terganggunya kenyamanan para pengunjung. Sehingga perlu adanya perancangan redesain sign system yang disesuaikan dengan tujuan Museum Batik Pekalongan untuk memberikan kenyamanan bagi pengunjung serta memberikan informasi yang lebih jelas dan lebih informatif. Metode yang digunakan untuk menganalisis masalah dalam perancangan ini adalah dengan menggunakan metode 5W + 1H. Adapun bentuk sign yang dibuat dalam sign system berupa wayfinding sign, traffic sign dan regulatory sign sebagai media utama dan media pendukung lainnya seperti peta lokasi dan peta wisata. Perancangan sign system ini menempatkan Museum Batik Pekalongan sebagai museum yang membina audience dalam memberikan sarana dan prasarana untuk mengetahui sejarah warisan budaya yang ada di Pekalongan
MUSEUM BATIK DI YOGYAKARTA
Kain batik merupakan kain universal yang terdapat di berbagai negara, walaupun begitu, dunia mengakui bahwa batik berkembang pesat di Indonesia. batik adalah hasil karya bangsa Indonesia yang sudah dikenal sejak jaman dahulu, yang merupakan hasil perpaduan antara seni dan teknologi para leluhur yang sangat tinggi. Sehingga batik Indonesia diakui oleh dunia sebagai batik yang betul-betul sempurna keindahannya, baik mengebai desain maupun proses pembuatannya.
Dalam perkembangannya, batik tidak hanya digunakan untuk bahan pakaian atau berfungsi sebagai kain saja, namun sudah dikembangkan untuk segala jenis perlengkapan sehari-hari seperti sprei, taplak, serbet, tas dan lain sebagainya. Namun hal ini merupakan suatu gejala yang merisaukan kelangsungan hidup batik beserta makna filosofis, simbolis dan teologisnya, dimana penggunaan batik tidak lagi mengikuti makna yang terkandung dalam motif batik tersebut, kecuali pada acara-acara tradisional tertentu. Eksistensi batik tradisional di dalam masyarakat semakin melemah dan kalah bersaing dengan produk-produk batik printing. Hal ini dipengaruhi oleh :
1. Makin berkurangnya konsumen batik tradisional, yang menyebabkan industri batik makin mengalami kemunduran pemasarannya.
2. kemajuan teknologi dalam bidang industri tekstil menyebabkan adanya produksi tekstil bukan batik dengan motif yang mirip batik.
3. Pembuatan batik tradisional yang membutuhkan waktu yang lama dan harga jual yang terhitung tinggi.
4. kurangnya perhatian generasi muda terhadap batik di saat ini baik sebagai komoditi maupun batik sebagai seni budaya.
Walaupun upaya-upaya untuk melestarikan batik tradisional telah banyak dilakukan, namun apresiasi masyarakat terhadap batik tradisional terlihat mengalami banyak penurunan.
Di sisi lain, dunia seni batik masih membutuhkan referensi yang luas untuk dapat berkembang, serta untuk ikut melestarikan batik tradisional itu sendiri sehingga tidak mengalami stagnasi seperti yang dikhawatirkan selama ini. Untuk itu perlu adanya upaya untuk melestarikannya.
Oleh sebab itu, dalam usaha pelestarian karya seni kerajinan batik tradisional dibutuhkan suatu keterpaduan antar kegiatan. Baik kegiatan preservasi, konservasi, penelitian maupun penyelidikan yang banyak melibatkan ahli tekstil, sejarah, arkeologi dan filsafat serta peningkatan apresiasi masyarakat malalui suatu fasilitas penunjang yang atraktif, sehingga dapat meningkatkan apresiasi masyarakat terhadap batik, khususnya batik tradisional. Fasilitas ini akan mamadukan teknik pameran dan peragaan yang informative dan atraktif berikut kegiatan pendukungnya seperti adanya pelatihan pembuatan batik atau studi mengenai perbatikan, pusat informasi batik, art shop serta kegiatan pendukung yang lain. Kegiatan ini yang nantinya akan diwadahi dalam Museum Batik sebagai salah satu usaha pemecahan permasalahan pelestarian batik tradisional.
Yogyakarta, sebagai kota pendidikan dan kota budaya juga merupakan kota dimana seni batik berkembang dengan pesat. Hal ini dapat dikaitkan dengan keberadaan keraton yang masih menjalankan upacara-upacara tradisionalnya dan berkembangnya seniman-seniman batik kontemporer. Banyak wisatawan baik wisatawan manca maupun nusantara yang tertarik dengan seni batik Yogyakarta yang terkenal dengan batik tulis halus gaya keraton Yogyakarta dengan kehalusan motifnya yang khas dan hanya dikeluarkan oleh keraton Yogyakarta. Mereka tertarik hanya untuk sekedar berbelanja maupun untuk mempelajari seni batik. Selain itu, banyak kegiatan bertaraf internasional yang berkaitan dengan batik diadakan di Yogyakarta seperti Festival Batik Internasional, Pameran Batik Canting Emas, Koverensi Batik Internasional-Internasional Conference Culture Tourism (ICCT). Penyelenggaraan konverensi ini dimaksudkan untuk mendorong bangkitnya kembali dunia perbatikan, khususnya yang ada di Indonesia. konverensi ini merupakan bukti usaha pemerintah Indonesia dalam menempatkan batik sebagai ekspresi kebudayaan yang hidup, komoditi ekspor dan atraksi wisata.
Dari uraian diatas, kota Yogyakarta sebagai pusat budaya sekaligus pusat keberagaman unsur-unsur budaya yang masuk, belum mempunyai tempat untuk melestarikan seni batik. Hal ini sangat disayangkan jika melihat potensi-potensi yang ada di kota Yogyakarta. Melihat kondisi diatas, maka Yogyakarta membutuhkan suatu wadah kegiatan preservasi, konservasi, penelitian maupun penyelidikan serta pameran dan peragaan yang informative dan atraktif berikut kegiatan pendukungnya seperti adanya pelatihan pembuatan batik atau studi mengenai perbatikan, pusat informasi batik, art shop serta kegiatan pendukung yang diwadahi dalam Museum Batik.
1.2. Tujuan dan Sasaran
Tujuan dari penulisan Landasan Program Perencanaan dan Perancangan Arsitektur (LP3A) ini adalah untuk menambah dan memperdalam pengetahuan, menggali segala tuntutan dan criteria dasar yang dibutuhkan dalam perencanaan dan perancangan arsitektur Museum Batik di Yogyakarta.
Sedangkan sasaran yang hendak dicapai adalah mendapatkan landasan konseptual perencanaan dan perancangan arsitektur untuk dijadikan dasar dalam perancangan pada Museum Batik di Yogyakarta.
1.3. Lingkup Pembahasan
Dalam penulisan Landasan Program Perencanaan dan Perancangan Arsitektur (LP3A) Museum Batik di Yogyakarta ini pembahasan ditekankan pada hal-hal yang berkaitan dengan disiplin ilmu arsitektur, sedangkan masalah-masalah di luar lingkup arsitektur yang mempengaruhi, melatarbelakangi dan mendasari faktor-faktor perancangan akan dibahas sejauh berkaitan dan dapat menunjang tercapainya sasaran penulisan LP3A ini.
1.4. Metoda Pembahasan
Metoda yang digunakan dalam penulisan laporan ini adalah metoda penulisan deskriptif yaitu dengan memberikan gambaran segala permasalahan dan keadaan yang ada, kemudian dianalisis serta dinilai dari sudut pandang ilmu yang relevan untuk mendapatkan suatu criteria desain dan dasar perancangan.
Metoda pengumpulan data yang dilakukan adalah metoda survey kepustakaan dan survey lapangan dengan teknik pengumpulan data sebagai berikut :
1. Wawancara, dilakukan dengan pihak-pihak yang terkait dan kompeten dengan topik permasalahan untuk mendapatkan data primer.
2. Studi literatur, dilakukan untuk mendapatkan data-data sekunder yang dalam hal ini termasuk studi kepustakaan, pengumpulan data dan peta, studi kasus melalui buku, majalah, brosur dan catalog antara lain Balai Besar Penelitian Batik Yogyakarta, Museum Batik Yogyakarta, Museum Batik Pekalongan dan Museum Tekstil Jakarta.
1.5. Sistematika Pembahasan
Sistematika pembahasan pada Landasan Program Perencanaan dan Perancangan Arsitektur Museum Batik Yogyakarta adalah sebagai berikut :
Bab I Pendahuluan
Berisi tentang latar belakang, tujuan dan sasaran, lingkup pembahasan, metoda dan sistematika pembahasan Landasan Program Perencanaan dan Perancangan Arsitektur.
Bab II Tinjauan Museum Batik
Berisi uraian tentang pengertian, fungsi museum, pengertian batik, jenis dan macam motif batik, pengertian Museum Batik, aktifitas yang diwadahi serta studi banding / kasus sejenis yang ada.
Bab III Tinjauan Kota Yogyakarta
Berisi tentang kondisi kota Yogyakarta secara umum, arahan kebijaksanaan pemanfaatan ruang kota, arahan pengembangan pariwisata dan potensi Yogyakarta sebagai lokasi museum batik. Serta tinjauan tentang arsitektur tradisional Yogyakarta.
Bab IV Kesimpulan, Batasan dan Anggapan
Berisi tentang kesimpulan, batasan dan anggapan dalam perencanaan dan perancangan Museum Batik di Yogyakarta.
Bab V pendekatan Program Perencanaan dan Perancangan Arsitektur
Berisi tentang titik tolak pendekatan, pendekatan aspek fungsional, pendekatan aspek estetika dan pendekatan aspek teknis bangunan.
Bab VI Konsep dan Program Dasar Perencanaan dan Perancangan Arsitektur
Berisi tentang konsep dan program dasar perencanaan dan perancangan yang akan digunakan dalam perancangan fisik
Analisis Perbandingan Potensi Museum Batik Yogyakarta Dan Museum Batik Surakarta (House of Danar Hadi) Sebagai Daya Tarik Wisata Budaya Serta Upaya Peningkatannya
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbandingan potensi daya tarik
daerah tujuan wisata di Museum Batik Yogyakarta dan Museum Batik Surakarta
dikaitkan dengan konsep geografi yaitu Lokasi, Diferensiasi Area, Gerak
(Movement), dan Daya Saing Wilayah.
Jenis penelitian ini adalah kualitatif. Penelitian ini bertempat di Museum
Batik Yogyakarta dan Museum Batik Surakarta dengan informan penelitian
adalah Pengelola Museum Batik Yogyakarta dan Pengelola Museum Batik
Surakarta. Pengumpulan data dilakukan dengan observasi, wawancara, dan
dokumentasi. Analisis data dilakukan melalui tahap-tahap pengumpulan data,
reduksi data, sajian data dan penarikan kesimpulan. Pemeriksaan keabsahan data
dilakukan dengan triangulasi data yaitu triangulasi sumber data.
Hasil penelitian ini menyimpulkan bahwa: 1) Terdapat persamaan yang
muncul dari potensi wisata Museum Batik Yogyakarta dan Museum Batik
Surakarta berdasarkan Konsep Lokasi yaitu kedua Museum tersebut memiliki
lokasi yang sangat strategis. 2) Persamaan dan perbedaan juga terjadi pada
Konsep Diferensiasi Area yaitu Yogyakarta dan Surakarta yang memiliki
persamaan sejarah kedua wilayah pada masa lampau dan perbedaan Yogyakarta
dan Surakarta dengan wilayah lain di Indonesia yang menghasilkan interaksi antar
wilayah berupa potensi wisata di wilayah masing-masing. 3) Persamaan juga
terjadi pada Konsep Gerak (Movement) yaitu potensi transportasi dan aksesibilitas
memudahkan mobilitas yang terjadi di kedua Museum, hal tersebut menjadi
pendorong pergerakan wisatawan menuju ke Museum dan menimbulkan interaksi
yang menarik wisatawan untuk datang berkunjung ke Museum Batik. 4) Konsep
Daya Saing Wilayah menunjukkan bahwa terdapat persamaan potensi wisata
Museum Batik Yogyakarta dan Museum Batik Surakarta yang ditinjau dari harga
yang bersaing, kualitas produk yang ditawarkan, dan keunggulan produk yang
dijual di Museum daripada produk sejenis lainnya
MUSEUM BATIK NUSANTARA DI KOTA YOGYAKARTA
Landasan Konseptual Perencanaan dan Perancangan Museum Batik
Nusantara di Kota Yogyakarta adalah membahas tentang sebuah tempat atau
wadah untuk memamerkan batik. Batik merupakan hasil kebudayaan asli
Indonesia. Di Yogyakarta sendiri, batik menjadi warisan budaya dan komoditas
pariwisata yang banyak diminati oleh para wisatawan, baik dari dalam maupun
luar negeri.
Fungsi utama dari museum ini adalah sebagai wadah pameran kain batik
dan fungsi penunjangnya bersifat non-pameran. Kegiatan non-pameran yang
menunjang kegiatan pameran pada Museum Batik Nusantara di Kota Yogyakarta
meliputi kegiatan seminar, fashion show, workshop, cafe, pusat souvenir, dan lain
sebagainya.
Permasalahan yang akan diselesaikan pada rancangan Museum Batik
Nusantara di Kota Yogyakarta adalah menata ruang luar dan ruang dalam
sehingga mampu menunjukkan suasana yang edukatif dan rekreatif yang dapat
mencitrakan Kebudayaan Jawa dengan pendekatan Budaya Yogyakarta.
Tatanan ruang luar pada Museum Batik Nusantara di Kota Yogyakarta ini
menggunakan filosofi sumbu imajiner Yogyakarta dengan maksud memunculkan
Kebudayaan Jawa sebagai nilai kearifan lokal yang dimiliki Yogyakarta.
Sedangkan tatanan ruang dalam pada Museum Batik Nusantara di Kota
Yogyakarta ini merupakan gambaran sebuah proses penataan dengan dua kata
kunci yakni edukatif dan rekreatif yang akan ditransformasikan pada tiap zonazona
yang berbeda berdasarkan kata kunci tersebut sehingga dapat menjadi
karakter utama dalam ruang. Untuk memunculkan karakter-karakter tersebut akan
digunakan elemen-elemen desain arsitektural yakni dengan mempertimbangkan
tekstur dan bahan, bentuk dan wujud, skala dan ukuran
Perancangan Interior Museum Batik Jawa Barat di Bandung
ABSTRAK
Perancangan ini berjudul Perancangan Interior Museum Batik Jawa Barat di Kota Bandung. Tujuan dari perancangan ini adalah mencari solusi, mendapatkan ide, dan inovasi baru yang belum pernah ada sebelumnya. Latar belakang dari pemilihan judul ini perancangan ini karena batik sudah ditetapkan oleh UNESCO sebagai Warisan Kemanusiaan untuk Budaya Lisan dan Nonbendawi (Masterpieces of the Oral and Intangible Heritage of Humanity), pada tanggal 2 oktober 2009 dan menjadi hari batik Nasional. Museum batik sudah ada di beberapa kota di Indonesia, namun untuk Museum Batik Se-Jawa Barat yang akan memfokuskan pada batik khas Jawa Barat belum ada di kota Bandung. Kota Bandung sangat amat dikenal sebagai kota pendidikan dan wisata maka terciptalah perancangan museum batik ini yang dimana masyarakat Bandung atau wisatawan lokal dan wisatawan mancanegara yang bekunjung akan mengenal lebih dalam tentang batik Indonesia. Museum Batik Jawa Barat ini bertujuan untuk mempopulerkan batik khas Jawa Barat agar dapat lebih dikenal dunia, dan melestarikan batik Jawa Barat. Metode yang dilakukan dalam perancangan ini adalah melakukan survei, wawancara dan penelitian.. Kesimpulan dari perancangan ini adalah penerapan suasana interior dan memfasilitasi sarana edukasi dan rekreasi sehingga menarik perhatian pengunjung. Solusi permasalah ini yaitu membuat suatu percangan inovasi baru sebuah display dan ruang pamer yang diterapkan pada museum batik ini.
Kata kunci : Batik Jawa Barat, Museum Batik, Melestarikan, Fasilita
PERANCANGAN MEDIA PROMOSI MUSEUM BATIK DI KOTA PEKALONGAN
Kota Pekalongan dikenal sebagai salah satu “Kota Batik” di Indonesia. Kuatnya ikatan Kota Pekalongan terhadap seni batik, maka Pemerintah Kota Pekalongan berinisiatif mendirikan Museum Batik. Museum Batik di Kota Pekalongan memiliki koleksi batik lengkap dari berbagai Nusantara. Akan tetapi pada kenyataannya Animo masyarakat untuk mengunjungi Museum Batik dirasakan sangat rendah. Hal tersebut di karenakan kurangnya informasi terkait mengenai Museum Batik di Kota Pekalongan.
Metode yang digunakan dalam pengumpulan data adalah observasi, wawancara, kuisioner, studi pustaka dan tinjauan program sejenis. Dari beberapa metode tersebut. Nantinya dapat membuat media promosi untuk meningkatkan tingkat kunjungan ke Museum Batik di Kota Pekalongan
Perancangan media promosi disesuaikan dengan khalayak sasaran. Untuk media-media yang digunakan dalam perancangan Tugas Akhir ini adalah brosur, flyer, poster, iklan majalah, website, packaging, plastic bag, sertifikat, gantungan kunci, sapu tangan, bolpoin dan stiker. Diharapkan dengan adanya perancangan media promosi Tugas Akhir ini akan mampu membantu meningkatkan kembali image Museum Batik di Kota Pekalongan.
Kata Kunci : Wisata Kota Pekalongan, Museum Batik, Media Promosi, Workshop Bati
LANDASAN KONSEPTUAL PERENCANAAN DAN PERANCANGAN MUSEUM BATIK DI YOGYAKARTA
Keberadaan Museum Batik di Yogyakarta merupakan jawaban bagi perkembangan kehidupan batik, dimana keberadaan Museum Batik di Yogyakarta itu sendiri bertujuan untuk meningkatkan aspirasi masyarakat terhadap perkembangan batik, dan juga sebagai media komunikasi antar pembatik lewat karya seninya dengan masyarakat umum, juga merupakan sarana untuk menjaga kelestarian benda-benda batik kuno. Permasalahan yang diangkat adalah bagaimana menciptakan Museum Batik yang edukatif dan rekreatif, sehingga dapat merangsang minat pengunjung dalam menikmati materi koleksi museum. Sebagai wadah yang memberikan pelayanan yang bersifat edukatif dan rekreatif Museum Batik ini ditekankan pada suasana ruang yang bersifat edukatif dan rekreatif yang dicapai melalui pengolahan sirkulasi dan elemen-elemen arsitektural yang diterapkan pada sebuah fungsi ruang yang akan diwadahinya. Suasana edukatif diwujudkan dengan penyusunan ruang pamer yang menekankan pada keteraruran diterapkan pada pola sirkulasi yang linear. Suasana rekreatif dalam Museum Batik diwujudkan dengan memeberikan perbedaan ketinggian lantai, perbedaan tekstur, dan pola tertentu pada tiap ruang pamer. Didalam museum ini pengujung dapat menikmati sekaligus menambah wawasan serta pengetahuannya melalui metoda penyajian yang komunikatif, baik berupa diorama, gambar, replika, ataupun secara utuh. Materi-materi pamer tersebut disajikan secara berurutan menurut tahun pembuatan dari yang lebih tua umurnya ke yang lebih muda umurnya. Bentuk serta penampilan bangunan Museum Batik, menggunakan pedekatan "cap" yang merupakan alat untuk membatik yang diterapkan untuk ruang utama yaitu ruang pamer. Dengan demikian pengunjung dapat mempunyai kesan tersendiri terhadap Museum Batik yang menggunakan konsep pada suasana ruang yang edukatif dan rekreatif serta dapat menjadi sumber inspirasi bagi para penggemar batik khususnya
HOTEL RESOR DAN MUSEUM BATIK DI YOGYAKARTA
Hotel Resor dan Museum Batik di Kulon Progo merupakan sebuah
penyedia jasa penginapan dengan menyediakan alam sebagai daya Tarik serta
Museum Batik yang menjadi saran edukasi bagi para pengunjung. Perancangan
yang menggunakan pendekatan arsitektur ekologi sebagai bentuk dukungan untuk
melestarikan alam serta fungsi Hotel Resor yang merupakan sebuah fasilitas
penyedia jasa penginapan akan mendorong meningkatnya kunjungan wisata
khususnya daerah Kulon Progo yang di lengkapi fasilitas penunjang berupa
Museum Batik sebagai sarana edukasi untuk para wisatawan.
Pada kondisi lingkungan yang berdekatan dengan alam khususnya daerag
pantai tentunya memiliki masalahnya tersendiri sehigga pendekatan konsep
arsitektur ekologi menjadi pilihan untuk mengurangi dampak negative terhadapm
alam sekitar dengan penggunaan material-material alami untuk menciptakan
suasana yang alami sehingga penggunjung dapat merasakan lebih dekat dengan
alami.
Diharapkan melalui perancangan dengan pendekatan arsitektur ekologi
mampu meningkatkan dan mewadahi para wisatawan serta memberikan edukasi
bagi para wisatwan di masa mendatang
- …
