7,241 research outputs found
Syekh Ibrahim Musa : Inspirator Kebangkitan
Syekh Ibrahim Musa (1884-1963 M), dikenal juga dengan sebutan "Inyiak Parabek" adalah ulama karismatis asal Minangkabau. Madrasah Sumatera Thawalib Parabek adalah pondok pesantren yang didirikannya pada tahun 1910 dan bertahan hingga kini. Tokoh-tokoh besar di zamannya adalah alumni madrasah tersebut, diantaranya adalah : Buya Hamka, Adam Malik, Buya Ghafar Isma'il, HM Daud Rasyidi Dt Palimo Kayo, Prof Dr Ibrahim Bukhari, KH Gafar Ismail, Prof Dr Hayati Nizar,MA, Prof Dr Amiur Nuruddin,MA. Buku ini merupakan buku biografi Syekh Ibrahim Musa yang mengisahkan refleksi jejak kehidupan beliau, lengkap dengan nilai-nilai keshalihan dan gambaran lengkap tentang Sumatera Thawalib Parabek. Ditulis dengan gaya jurnalisme sastra yang mengalir, dan merupakan hasil penelitian kualitatif di beberapa daerah di Sumatera Barat. Teknik pengumpulan datanya menggunakakan wawancara mendalam, observasi dan analisis mendalam
SHEIKH IBRAHIM MUSA PARABEK’S THOUGHTS ON TASHYID AND TAWASSUL IN HIDĀYAH AL-ṢIBYĀN
The global reform of Islamic thought had impact of dividing the Minangkabau ulamas (Muslim scholars) into both “kaum tuo” as a traditionalist and “kaum mudo” as a modernist. Even today, the history of Minangkabau ulamas cannot be separated from this category. Ibrahim Musa is one of the ulamas who had unique position because of his affiliation to some groups. He also was recognized as “kaum mudo” due to his involvement in their movement. At the same time, other historical records showed his engagement with “kaum tuo.” His ambiguities in siding among Minangkabau ulamas are worth-investigating. This article seeks to analyze Ibrahim Musa’s thoughts based on his kitab, Hidāyah al-Ṣibyān. It argues that Ibrahim Musa did not clearly state his stance, except providing two views. Further, he was trying to explain their interpretations which proved that in the history of Islam in Minangkabau there are ulamas who cannot simply categorized as traditionalist or modernist due to the complexity of their thoughts of Islam. In this respect, the study of non-mainstream ulama figures like Ibrahim Musa is scholarly pivotal to construct the historiography of Minangkabau ulama as a whole
DESAIN PEMBELAJARAN AQIDAH BERBASIS KISAH NABI IBRAHIM DAN NABI MUSA DALAM AL-QUR‟AN
ABSTRAK
Alqori Gustiansyah (2023) : Desain Pembelajaran Aqidah Berbasis Kisah Nabi Ibrahim dan Nabi Musa dalam Al-Qur‟an
Penelitian ini membahas tentang desain pembelajaran aqidah. Desain pembelajaran aqidah sangat menarik dikaji apabila langsung melalui kisah-kisah AlQur‟an.
Pada proses pembelajaran aqidah yang efektif guru lebih diminta untuk mengembangkan kemampuannya dengan memfasilitasi murid agar terbiasa berpikir logis, sistematis, dan ilmiah. Maka hal ini dapat ditelaah melalui penafsiran kisah Nabi Ibrahim AS dan Nabi Musa AS. Jenis penelitian yang digunakan yakni kepustakaan (libarary reseach). Pendekatan penelitian yang digunakan pendekatan
kualitatif. Dan sumber data yang menjadi rujukan adalah Al-Qur‟an dan kitab tafsir sebagai data primer dan buku-buku, karya ilmiah yang berkaitan tentang permasalahan. Desain pembelajaran aqidah dalam Kisah Nabi Ibrahim dan Nabi Musa sebagai berikut : 1) Tujuan Pembelajaran : mengesakan Allah SWT (Tauhid), menghindari hal-hal yang dapat merusak aqidah, menjadi muslim yang taat dan patuh kepada Allah, menjadi teladan yang baik bagi yang lain. 2) Materi/isi pembelajaran : tauhid, hal-hal yang dapat merusak aqidah, ibadah dan tazkiyatunnufus, akhlak. 3) Pendekatan dan Metode Pembelajaran: (a) Pendekatan : pendekatan ilmiah (scientific approach), pendekatan kontekstual. (b) metode : hiwar jadali, „ibrah mau‟izah, rasional, intuitif, targib wa tarhib, amtsal. 4) Strategi Pembelajaran : strategi inkuiri.
5) Prinsip-Prinsip Pembelajaran : pembelajaran aqidah berorientasi kepada siswa (aktif), keterlibatan langsung (investigasi fenomena alam) dan pengalaman, berfikir
rasional, mengkomunikasikan dengan cara persuasif. 6) Evaluasi Pembelajaran : pengetahuan terhadap tauhid (kognitif), sikap dalam memberikan kebenaran (afektif),
keterampilan dalam memimpin (psikomotorik).
Kata Kunci : Desain Pembelajaran Aqidah, Kisah Nabi Ibrahim, Kisah Nabi Mus
Supplemental Material - Artificial Intelligence and Machine Learning in Cancer Research: A Systematic and Thematic Analysis of the Top 100 Cited Articles Indexed in Scopus Database
Supplemental Material for Artificial Intelligence and Machine Learning in Cancer Research: A Systematic and Thematic Analysis of the Top 100 Cited Articles Indexed in Scopus Database by Ibrahim H. Musa, Ibrahim Zamit, Taha H. Musa, Hassan H. Musa, Andrew Tassang, and Tosin Y. Akintunde in Cancer Control.</p
SEJARAH INTELEKTUAL SYEKH IBRAHIM MUSA PARABEK: STUDI HADIS-HADIS DALAM KITAB HIDĀYAH AL-ṢIBYĀN
Pembaharuan pemikiran Islam dunia juga berdampak pada tanah
Minangkabau. Pergerakan pemikiran Islam di Minangkabau pada awal abad XX
telah membagi ulama menjadi dua kubu yang berseberangan, kaum tua dan kaum
muda. Pembagian kubu ini merujuk pada pemikiran kedua kubu. Kedua kubu ini
pun sering dipertemukan dalam majelis untuk membahas berbagai permasalahan
dengan sudut pandang yang berseberangan.
Hingga saat ini dalam berbagai catatan sejarah, kedua kubu ini masih
ditemukan dalam pertikaian yang tidak berujung. Fokus sejarah masih berkembng
seputar kedua kubu dan pertikain yang terjadi. Sehingga ada banyak kemungkinan
sejarah yang dikesampingkan. Pun pertikaian ini berdasarkan pergolakan yng
terjadi tanpa mengkaji pemikiran masing-masing individu. Padahal cara pandang
individu jauh lebih fleksibel jika dibandingkan dengan kelompok yang diikuti.
Melalui tokoh Syekh Ibrahim Musa penulis akan mencoba mengalihkan fokus
pembaharuan pemikiran Islam Minangkabau awal abad XX.
Pada tulisan ini penulis akan mengkaji pemikiran Syekh Ibrahim Musa
melalui tulisnnya dengan tema-tema terkait pertikaian kala itu. Syekh Ibrahim
Musa atau Inyiak Parabek sendirii merupakan seoraang ulama kaum muda yang
memilki sisi afiliasi unik antara dua kubu. Dimana kehadirannya dapat diterima
oleh kedua kubu. Sehingga ini tentu jugaa akan memengaruhi pendapat beliau
terkait tema-tema pertikaian yaang muncul. Untuk itu penulis akan membahas dua
tema, yaitu tawassul dan penggunaan kata sayyid dalam salat. Dua tema ini
disajikan dalam bentuk potongan hadis singkat dalam Hidāyah al-Ṣibyān.
Melalui kajian hadis ini penulis tidak hanya meneliti hadis-hadis yang
disajikan. Tetapi juga menggunakan hadis-hadis dan penjelasan Syekh Ibrahim
Musa untuk menelaahh lebih jauh pola pikir yang belum terekam sejarah. Oleh
karena itu, skripsi ini tidaak hanya fokus pada kajian hadis saalaah satu ulama
nusantara, melainkan juga sejarah ide atau intelektual
sj-doc-1-jis-10.1177_01655515211061866 – Supplemental material for A comprehensive bibliometric analysis on opinion mining and sentiment analysis global research output
Supplemental material, sj-doc-1-jis-10.1177_01655515211061866 for A comprehensive bibliometric analysis on opinion mining and sentiment analysis global research output by Ibrahim Hussein Musa, Ibrahim Zamit, Kang Xu, Khaoula Boutouhami and Guilin Qi in Journal of Information Science</p
Rubaies of İbrahim Aczî kendî (The last 180 rubaies)
1881-1965 yılları arasında Konya'da yaşayan İbrahim Aczî Kendî, Konya'nın XX. yüzyılda yetiştirdiği önemli şair, gazeteci, araştırmacı, yazar, mutasavvıf ve folklorculardandır. Konya'da öğretmenlik yapan İbrahim Aczî Kendî, Arapça ve Farsça öğrenerek kendini geliştirmiş, tasavvuf, edebiyat ve tarihle ilgili kitaplar hazırlamıştır. İbrahim Aczî Kendî'nin bizzat kendisinin kaleme aldığı, tek nüshası Yusuf Ağa Kütüphanesinde 10465/1 numara ile kayıtlı olan Devr-i Zaman adlı eseri, 360 Farsça rubâî ve bu rubâîlerin Osmanlı Türkçesiyle yazılmış açıklamalarından oluşmaktadır. Bu çalışmada İbrahim Aczî Kendî'nin hayatı incelenmiş, Devr-i Zaman adlı eserinde bulunan 360 rubâînin son 180 tanesi çalışılmıştır. Her bir rubâînin Farsça ana metinleri bilgisayar ortamına aktarılmış, bazen sadece tercüme, bazen de çeşitli açıklamalar içeren Osmanlı Türkçesiyle yazılan kısımlar ise latin harfleriyle aktarılmıştır. İbrahim Aczî Kendî, bu çalışmada ele alınan rubâîlerinde, genellikle ilahi aşk, toplumsal ahlâk, zamandan şikâyet, riya ve kibirden uzak durmanın gerekliliği gibi birçok konuya değinmiştir.İbrahim Aczî Kendî who lived the years between 1881 and 1965 in Konya is an important poet, a journalist, an investigate author, a mystic and a folklorist who raised by Konya in 20th century. İbrahim Aczî Kendi, worked as a tutor in Konya, improved himself by learning Arabian and Persian, prepared books about mysticism, literature and history. Devr-i zaman, which is written by İbrahim Aczî Kendî by himself and whose only transcript is registered with the number 104657/1 in Yusuf Ağa Library, is made of 360 Persian rubaies and their explanation which is written in Ottoman Turkish. In this study İbrahim Aczî Kendî's life and last 180 of 360 Persian rubaies are studied. Each of rubaies' Persian main texts are transferred to electronic environment. Parts that sometimes include translation, sometimes also include various types of explanations written Ottoman Turkish are transferred with Latin letters. İbrahim Aczî Kendî, rubaies that handled in this study, touches on many topics, such as sociel ethics, complaints about today's youht, hypocrisy and staying away from and arrogance
Sheikh Ibrahim, Brother Jihad
Zwei Leben für die Religion im Zeitalter der (westlichen) Religionskrise und ein Bekenntnis zu gegenseitiger Toleranz: Im Damaskusser Stadtteil Rukn Edin ruft Scheich Ibrahim zum Gebet in die Moschee – in den Bergen der syrischen Wüste liest Bruder Jihad im syrisch-katholischen Deir Ma Musa die Morgenmesse. SCHEICH IBRAHIM, BRUDER JIHAD portraitiert zwei syrische Geistliche in Kontext ihrer Religion: Scheich Ibrahim ist Mitglied des moslemischen Sufiordens Naqschibandi-Haqqani, Bruder Jihad ist Priester und Mönch und lebt in dem syrisch-katholischen Kloster Deir Mar Musa. Man folgt dem Alltag der beiden Protagonisten: Ibrahim in seiner Schneiderei, sein engagiertes Wirken in der Gemeinde und Jihad beim Gebet, bei seiner Meditation in der Wüste, der Arbeit im Kloster. Was beide verbindet, ist eine langjährige Freundschaft, die von großem Respekt vor dem Glauben und der Religion des Anderen zeugt.
Gemäß seinem Thema erzählt SCHEICH IBRAHIM, BRUDER JIHAD ganz unaufgeregt von dem Leben und der Verbundenheit der beiden Protagonisten, sowohl mit ihrer Religion als auch untereinander. Formal prägt dies den Film durch vorherrschend lange, ruhige Einstellungen und Standbilder, die scheinbar ohne äußere Einwirkung – wie z.B. künstliches Licht oder Kommentare jeglicher Art – die beiden Geistlichen und ihre Lebensweise näher bringen. Die ruhige Erzählweise zeugt nichtsdestotrotz von der Inbrunst und Hingabe der beiden, mit der sie ihre Religion verfolgen – puristisch erzählt wie der Glauben und das Leben von Scheich Ibrahim und Bruder Jihad. Insofern bildet der Film ein Plädoyer für die Besinnung auf das Wesentliche in Zeiten der (materiellen) Redundanz
External interventions and the duration of civil wars
The authors combine an empirical model of external intervention, with a theoretical model of civil war duration. Their empirical model of intervention allows them to analyze civil war duration, using"expected"rather than"actual"external intervention as an explanatory variable in the duration model. Unlike previous studies, they find that external intervention is positively associated with the duration of civil war. They distinguish partial third-party interventions that extend the length of war, from multilateral"peace"operations, which have a mandate to restore peace without taking sides - and which typically take place at war's end, or at least when both sides have agreed to a cease-fire. In a future paper, the authors will examine whether partial third-party interventions - whatever their effect on a war's duration - increase the risk of war's recurrence. If that proves true, then even if interventions reduce the length of civil war, they may do so at the cost of further destabilizing the political system, and sowing the seeds of future rebellion.Children and Youth,Peace&Peacekeeping,Post Conflict Reconstruction,Post Conflict Reconstruction,International Affairs,Post Conflict Reconstruction,Social Conflict and Violence,Peace&Peacekeeping,Post Conflict Reconstruction,International Affairs
Creativity Communication Prophet Ibrahim As
Sebagaimana kita ketahui bahwa Nabi Ibrahim as adalah Nabi pilihan Allah Swt yang kemudian
disebut sebagai Nabi ulul azmi. Gelar tersebut diberikan kepada beliau dikarenakan berat dan
sulitnya ujian dakwah yang dibebankan kepada beliau. Secara khusus Nabi Ibrahim As memiliki
pilihan lain selain nabi ulul azmi sehingga beliau disebut sebagai khalilullah. Derajat yang tinggi
yang diberikan kepada Nabi Ibrahim as juga dapat dilihat dari sholawat yang selalu disematkan
nama beliau. Dalam kajian keagamaan, Nabi Ibrahim as juga disebut sebagai “Bapak Agama”.
Mengapa demikian? Karena dari keturunan beliaulah lahir nabi-nabi yang membawa agama
Allah Swt. Dari istri beliau lahir Ismail dan Ishak yang masing-masing dari mereka lahir nabi
Musa dan Isa yang kemudian membawa risalah ajaran tauhid (meng-Esa-kan) Allah Swt. Serta
sampailah kepada Rasulullah Saw sebagai penyempurna risalah al-Islam. Bahkan disebutkan
juga “sesungguhnya ada pada diri Ibrahim itu suri tauladan yang baik”. Sangat banyak pelajaran
berharga dari diri dan kehidupan Nabi Ibrahim as
- …
