1,725,450 research outputs found

    Tafsir Mujahid

    No full text
    Buku ini berisi tafsir al-Qur'an yan gdinamakan tafsir Mujahid, salah satu tafsir referensi bagi ahli tafsir yang lain karen penulisnya merupakan ahli tafsir pada abad pertama hijrah tepat pada zaman pemerintahan Umar ibn Khata

    Vertical Structure of Propagating Features

    No full text
    The inter- and intra-annual variability of the western boundary North Atlantic 26.5 ?N region has been central in the observations of the strength and structure of the Atlantic Meridional Overturning Circulation (AMOC). Interest in this work began when some recent work estimated the inter-annual fluctuations of the AMOC at 26.5 ?N to beup to 3 Sv, and with a 25% reduction in strength over the last 50 years. There was increased need to understand both the short and long-term changes in the region and the responsible mechanisms for its variability. With the unique use of RAPID-MOC and MOCHA transatlantic mooring array in combination with satellite altimetry and transatlantic hydrographic observations, we find evidence that a significant amount of the variability can be accounted for by various mechanisms on different time-space scales including propagating features. Here we present simultaneous assimilation of surface and sub-surface observations that shows fresh insights into the contribution of the propagating features in the vertical structure of the temporal-spatial evolution in the western boundary 26.5 ?N Atlantic. There is great prospect in using altimetry observations to reflect and infer the variability throughout the water-column - an effort vital in future interpretations of the AMOC fluctuations using altimetry and numerical models

    Perkembangan penerbit CV. Mujahid Press (2001-2007)

    Full text link
    Keberadaan penerbit Mujahid Press di tengah-tengah masyarakat Bojongkunci merupakan sebuah wujud idealisme dan cita-cita Toha untuk berdakwah bil kitabah atau dakwah dengan tulisan. Berdirinya Mujahid Press ini di sebuah kampung kecil, Kampung Tambakan Desa Bojongkunci merupakan hasil perjuangan Toha dalam dunia tulis-menulis, yang ia tekuni sejak mulai Sekolah Dasar sampai sekarang. Bagi masyarakat Bojongkunci, berdirinya Mujahid Press adalah sebuah kebanggaan tersendiri. Pada tahun 2001 sampai 2007 penerbit Mujahid Press di Bojongkunci mulai berkembang. Penelitian ini menggunakan metode penelitian sejarah dengan pendekatan sosio-ekonomi, melalui teori perusahaan yang dikemukakan oleh Pugh. Langkah-langkah yang ditempuh dalam penelitian ini meliputi heuristik, kritik, interpretasi dan historiografi. Peneliti pun mencoba memetakan perubahan dalam perjalanan penerbit Mujahid Press mulai tahun 2001 sampai pada 2007. Perubahan tersebut diindikasi melalui komponen-komponen yang layaknya terdapat dalam sebuah usaha penerbitan, seperti perubahan ketenagakerjaan, manajemen (pengadaan naskah, produksi, promosi dan penjualan), sasaran pembaca, fokus tema buku, dan faktor penyebab kemunduran Mujahid Press. Adapun tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui secara kritis gambaran masa lalu mengenai perkembangan penerbit Mujahid Press di Bojongkunci, mengetahui latar belakang berdirinya penerbit Mujahid Press di Bojongkunci, dan faktor penyebab kemunduran Mujahid Press. Berdasarkan penelitian yang dilakukan, terungkap bahwa proses terbentuknya usaha penerbitan buku Mujahid Press, berawal sebagai wujud dari keprihatinan melihat akhlak remaja yang semakin jauh dari aturan Islam. Sesuai dengan tema buku pertama yang diterbitkannya yaitu Muslimah yang Kehilangan Harga Diri dan Kudung Gaul Berjilbab tapi Telanjang. Awal perkembangan penerbit Mujahid Press dimulai dari tahun 2001 sampai 2007. Tahun 2001, penerbit Mujahid Press menerbitkan buku pertama dan buku itu ternyata diminati pasar. Januari 2002 penerbit ini diresmikan atau lebih tepatnya dikukuhkan sebagai sebuah penerbitan. September 2003 didaftarkan di Notaris sekaligus dinyatakan sebagai penerbit resmi dengan nama CV.Mujahid Press. Tahun 2004 mendirikan lini perusahaan penerbit Media Qalbu dan tahun 2006 mendirikan lini perusahaan Rosalba Press. Keduanya menginduk ke Mujahid. Tapi karena ada goncangan ekonomi keduanya pada tahun 2007 disatukan kembali ke Mujahid Press. Dari keterangan diatas maka dapat disimpulkan bahwasanya perkembangan penerbit Mujahid Press dimulai dari tahun 2001 dan mengalami penurunan pada tahun 2007 dikarenakan adanya goncangan ekonomi

    Manahij Tafsir Tabi'in Mujahid Bin Jabar Dan Penafsirannya

    No full text
    AbstrakTulisan ini mencoba melakukan eksplorasi terhadap karya tafsir tabi’in, Muja>hid bin Jabar. Dalam mengindentifikasi keberadaan tafsir Mujahid, paling tidak terdapat dua sumber penafsiran yang digunakan pengarang dalam menafsirkan al-Qur’an; (1) sumber bi al-ma’tsur, yakni berdasarkan pada penjelasan al-Qur’an sendiri, berdasarkan hadis Nabi, pendapat sahabat, dan israiliyyat; (2) sumber bi al-ra’yi, yakni berdasarkan ijtihad sang mufassir. Sementara dalam menjelaskan al-Qur’an, metode yang diusung Mujahid adalah metode ijmali, yakni menafsirkan ayat al-Qur’an dengan bahasa yang ringkas, padat, dan tidak panjang lebar. Di samping itu, Mujahid juga menggunakan metode muqaran meskipun hanya relatif sedikit. Untuk corak penafsirannya, tafsir Mujahid tidak sampai pada corak disiplin ilmu tertentu, hanya sebatas kental dengan nuansa penafsiran dari gurunya – Ibn ‘Abbas, meskipun dalam beberapa penafsiran terdapat corak fiqhi dan kalami dengan kapasitas yang sangat sedikit. AbstractThis paper tries to explore the work of tafsir tabi’in, Mujahid bin Jabar. In identifying the existence of Mujahid, interpretation there are at least two sources of interpretation used by the author in interpreting the Qur’an; (1) the source of bi al-ma’tsur, that is based on the Qur’an’s own explanation, in addition to the prophetic traditions, opinions of prophet’s companion, and also israiliyyat (2) the source of bi al-ra’yi, based on the ijtihad of the interpreter. While in explaining the Qur’an, the method that Mujahid carried is the ijmali method, which is to interpret the verses of the Qur’an in a brief language, solid, and not lengthy, also using the muqaran method although only slightly. For his interpretive style, Mujahid’s interpretation does not extend to any particular discipline, only limited with the feel of interpretation of his teacher – Ibn ‘Abbas, although in some interpretations there is a fiqhi and kalami pattern with very little capacity

    Mujahid Film: Usmar Ismail

    No full text
    Mengumpulkan tulisannya sejak 2008 hingga medio 2017-an, lahirlah 11 tulisan yang terhimpun dalam buku saku berjudul Mujahid Film. Buku tersebut merupakan kumpulan tulisan dari pengajar yang juga merupakan kritikus film, Ekky Imanjaya PhD. Isinya mengenai seluk-beluk Bapak Perfilman Indonesia, Usmar Ismail.Salah satu tujuan Ekky menerbitkan buku tersebut, menurutnya, bukan untuk mengultuskan Usmar, melainkan sebagai jalan untuk lebih mengenal sosok multidimensi Usmar Ismail.“Setiap tahun (Hari Film) dirayakan, seremonial, mentok cuma di (film) Tiga Dara, Lewat Djam Malam. Padahal, dia adalah sosok yang dinamis dan multidimensi. Tidak jadi sekadar monumen atau tugu peringatan. Karena itulah saya membahasnya di buku Mujahid Film,” kata Ekky saat berbincang dengan Media Indones...

    Oral History Interview with Mujahid on November 14, 2020

    No full text
    Oral history interview with Mujahid conducted by Zayd Walid on November 14, 2020. Interview written by Dr. Alisa Perkins (Research Director) and Zayd Walid. Mujahid was born in Highland Park, Michigan. He was raised in Detroit, and spent significant time with family in the South as he grew up. Mujahid was brought up as a Muslim, as the child and grandchild of Muslims. His late father, Imam Luqman Abdullah, founded Masjid Al-Haqq in the 1980s and was a beloved and influential leader in Detroit who was extremely active in community-building until he was assassinated by the police in 2009. Mujahid grew up in Masjid Al-Haqq community and attended Islamic parochial school within the mosque. Mujahid discovered his talent for music at an early age and became a successful hip-hop artist. In the interview, Mujahid describes growing up in Detroit as a Muslim and his career as a musician. Based on his experience, he explains the importance of African-American Muslim youth maintaining a strong identity. Mujahid also reflects on how the members of Masjid Al-Haqq continue to honor his father’s legacy by providing food and shelter for those living around the mosque as well as serving as stewards for the neighborhood.https://scholarworks.wmich.edu/dream-storytelling-interviews/1018/thumbnail.jp

    Khairuddin barbarossa : bajak laut atau mujahid?

    No full text
    Lewat buku ini, penulis hanya mengarapkan sesuatu yang sangat sederhana, yaitu agar kaum muslimin semakin terbiasa dan akrab bacaan-bacaan sejarah sehingga berbagai peristiwa penting dalam sejarah umat ini tidak hilang dari ingatan kita semua. Biarlah buku ini menjadi sebuah pengantar bagi kajian-kajian yang lebih serius di masa yang akan datang.vii, 116 hlm, 17 cm x 12 c

    The Mujahid Insurrection in Rakhine Division (1948-1958)

    Full text link
    Soon after Myanmar gained its independence in 1948, the Mujahid Insurrection broke out in Rakhine Division which was based on the political, social and economic conditions and demographic background of the Northern Rakhine Division. Based on the available sources, this article attempts to examine the situations in Northern Rakhine District before the Mujahid insurrection and how this insurrection originated and how it was suppressed by the Myanmar Armed Forces

    Kontribusi Ibnu Mujahid dalam Ilmu Qira’at

    No full text
    Ilmu Qira’at merupakan bagian dari ilmu Al-Qur’an yang membahas tentang tata cara serta ragam perbedaan bacaan lafal Al-Qur’an yang disandarkan kepada perawi yang mentransmisikannya. Keberadaan ilmu ini sangat urgen untuk mempermudah umat Islam dalam membaca dan memahami Kalamullah. Pada permulaan turunnya, Al-Qur’an hanya dibaca menggunakan satu huruf, kemudian atas kemurahan Allah, dijadikan menjadi tujuh huruf. Akan tetapi, seiring berjalannya waktu, tersebar banyak sekali qira’at yang tidak shahih sehingga para ulama berupaya untuk memilih dan memilah qira’at yang sesuai dengan ajaran Rasulullah Saw. Di antara ulama tersebut adalah Ibnu Mujahid yang menjadi pioneer dalam meneliti qira’at yang shahih dengan menetapkan beberapa kriteria yang harus dimiliki oleh seorang Imam qira’at. Hinggakemudianiamenetapkantujuh Imam qira’at yang menurutnya sesuai dengan criteria tersebut. Ketujuh Imam tersebut adalah Imam Nafi’ bin Abdurrahman, Imam Abdullah bin Katsir, Imam Abu Amr, Zabban bin Al-Ala’ Al-Bashriy, Imam Abdullah Ibnu AmirAl-Syamiy, Imam Ashim bin Abi Al-Najud Al-Kufiy, Imam Hamzah bin Al-Zayyat, dan Imam Ali bin Hamzah Al-Kisa’i. Jerih payah Ibnu Mujahid dalam menghimpun qira’at-qira’at yang shahih sangat diapresiasi oleh para ulama dan ummat Islam pada umumnya hingga dijadikan bahanrujukan ulama-ulama setelahnya. Namun, terdapat pula pihak yang tidak sepakat dengan penetapan tersebut, terutama yang berkaitan dengan penetapan Imam yang ketujuh yaitu Imam Al Kisa’i. Di antara yang tidak sepakat adalah Imam Makki yang berpendapat bahwa Imam Ya’qub lebih berhak untuk dijadikan Imam ketujuh. Ia menganggap penetapan yang dilakukan Ibnu Mujahid tidak fair dan mengandung unsure politik. Akan tetapi anggapan tersebut dibantah oleh Ibnu Mujahid dengan menyatakan bahwa terdapat dua faktor yang menjadikan qira’at Imam Ya’qub tidak termasuk dalam kategori kriterianya. Pertama, karena transmisi sanadnya yang rendah. Beliau membaca kepada Salam bin Sulaiman, dan Salam membaca kepada Imam Ashim. Kedua, karena di antara bacaannya keluar dari bacaan mayoritas. Buah pemikiran Imam Mujahid ini memunculkan opini pada masyarakat awam bahwa tujuh qira’at yang ia pilih merupakan representasi dari ungkapan “ahrufsab’ah”. Padahal faktanya tidak demikian. Namun hal ini justru memberikan dampak positif yang mampu memacu ulama selanjutnya untuk berkarya dalam ilmu qira’at.Contribution of Ibn Mujahid in the Science of Qira'at. The science of Qira'at is part of the science of the Qur'an, which discusses the procedures and the differences in the recitation of the Qur'an, which are based on the narrator who transmitted it. The existence of this knowledge is very urgent to make it easier for Muslims to read and understand the Kalamullah. At the beginning of its descent, the Koran was only read using one letter; then, by the grace of Allah, it was made into seven letters. However, over time, many qira'at needed to be more authentic, so the scholars tried to choose and sort out qira'at that followed the teachings of the Prophet Muhammad. Among these scholars was Ibn Mujahid, who began researching authentic qira'at by establishing several criteria a qira'at Imam had to have. Until then, he determined seven qira'at Imams who according to him, fit these criteria. The seven Imams are Imam Nafi 'bin Abdurrahman, Imam Abdullah bin Katsir, Imam Abu Amr, Zabban bin Al-Ala' Al-Bashriy, Imam Abdullah Ibn Amir Al-Syamiy, Imam Ashim bin Abi Al-Najud Al-Kufiy, Imam Hamzah bin Al-Zayyat, and Imam Ali bin Hamza Al-Kisa'i. The efforts of Ibn Mujahid in compiling authentic qira'ats were highly appreciated by the scholars and the Muslim community in general, so they were used as reference material for subsequent scholars. However, some parties disagree with this determination, especially about the determination of the seventh Imam, namely Imam Al Kisa'i. Among those who disagreed was Imam Makki, who argued that Imam Ya'qub had more right to be made the seventh Imam. He considered that the determination made by Ibn Mujahid was unfair and contained political elements. However, this assumption was refuted by Ibn Mujahid by stating that two factors made Imam Ya'qub'sqira'at not included in the category of criteria first because of its low transmission. He read to Salam bin Sulaiman, and Salam read to Imam Asim, second, because among the readings out of the majority reading. The fruit of Imam Mujahid's thoughts gave rise to the general public's opinion that the seven qira'ats he chose represented the expression "ahrufsab'ah." This is not the case. However, this positive impact can spur subsequent scholars to work in the science of qira'at
    corecore