1,720,959 research outputs found
Modernisasi hukum keluarga Islam di Indonesia: studi komparasi Kompilasi Hukum Islam (KHI) dan Legal Draf-KHI tentang Hukum Waris
Buku Modernisasi Hukum Keluarga Islam di Indonesia ini memberikan pandangan model modernisasi terhadap studi Hukum Keluarga Islam. Dengan pendekatan epistimologi hukum, epistemologi yang dimiliki Kompilasi Hukum Islam (Islamic Jurisprudence Compilation) yang kemudian disebut KHI dan Counter Legal Draft-Kompilasi Hukum Islam (CLD-KHI) adalah berbeda dari aspek paradigm, ideology dan substansinya. KHI lebih bercorak ideologis dan menggunakan nalar teologis, sedangkan CLD_KHI lebih menggunakan nalar hukum dengan memasukan prinsip-prinsip yang tidak dipakai dalam KHI, seperti prinsip demokrasi, pliralisme, Ham, dan sebagainya. Meskipun demikian baik KHI maupun CLD-KHI tetap memiliki kesamaan semangat, yakni aspek modernisasi hukum Islam tertulis
MODERNISASI HUKUM KELUARGA ISLAM DI INDONESIA ( Studi Komparasi Kompilasi Hukum Islam KHI dan Counter Legal Draft-Kompilasi Hukum Islam CLD-KHI tentang Hukum Waris )
Tujuan utama dalam penelitian iniadalah mencari epistemologi dari Kompilasi Hukum Islam(KHI) dan Counter Legal Draft Kompilasi Hukum Islam (CLD-KHI), di mana keduanya adalah produk pembaharuan hukum keluarga Islam asli di Indonesia, serta faktor-faktor sosio-politik yang menyertainya.Meskipun keduanya diklaim merujuk pada al-Qur’an dan hadis, namun terdapat perbedaan orientasi dan substansi dalam KHI maupun CLD-KHI,di mana materi hukum pada KHI lebih dinilai bias gender dan diskriminatif terhadap perbedaaan agama.Pada tulisan ini terfokus pada kasus kewarisan, yaitu 1) status kewarisan beda Agama, 2)hak waris anak di luar perkawinan sah, 3) ‘aul dan ra>d dan 4) pembagian sama rata antara laki-laki dan perempuan. Dari keempat problem itu, CLD-KHI menawarkan alternatif hukum yang solutif. Proses kodifikasi KHI juga CLD-KHI tidak terlepas dari pergulatan politik, di mana pancasila masuk sebagai ideologi negara sekaligus sumber utama hukum kenegaraan.
Kegelisahan di atas mendorong penulis untuk merumuskan masalah penelitian sebagai berikut: 1) Bagaimanaepisteme yang dipakai dalam KHI dan CLD-KHI tentang Hukum waris?; 2)Bagaimana pemberlakuan KHI dan CLD-KHI tentang hukum waris dalam Masyarakat?; 3)Bagaiamana Kontribusi KHI dan CLD-KHI tentang hukum waris dalam modernisasi Hukum Keluarga di Indonesia?Untuk itu penulis menggunakan sosiologi hukumsebagai pendekatan sekaligus sebagai objek formal. Sedangkan KHIdanCLD-KHIdijadikan sebagai objek material. Penelitian menghasilkan kesimpulan sebagai berikut:
Pertama, epistemologi yang dimiliki KHI dan CLD-KHI adalah berbedadari aspek paradigma, ideologi dan subtansinya. KHI lebih bercorak ideologis dan menggunakan nalar teologis, sedangkan CLD-KHI lebih menggunakan nalar hukum dengan memasukkan prinsip-prinsip yang tidak dipakai dalam KHI, seperti prinsip demokrasi, pluralisme, HAM dan sebagianya.Meskipun demikian, baik KHI maupun CLD-KHI tetap memiliki kesamaan semangat, yakni aspek modernisasi hukum Islam tertulis.Kedua,meskipun KHI telah menentukan sistem pembagian waris sesuai nalar fiqih, namun masyarakat Islam Indonesia saat ini lebih memilih pembagian waris berdasar pada hukumperdata sekuler. Adanya kesenjangan perilaku umat Islam dengan aturan fiqih memicu pelbagai upaya untuk memformulasikan ulang hukum kewarisan yang lebih humanis, terbuka pada wacana gender dan hak-hak lintas agama. Meskipun terjadi pro dan kontra, CLD-KHI mengusung sistem hukum kewarisan yang berprinsip pada keadilan, kesetaraan dan semangat pluralisme. Dari sini perlunya kuasa pemerintah sebagai wewenang negara dalam mengatur aturan waris yang lebih kekinian yang menjamin keadilan supaya bisa diterima pada seluruh elemen masyarakat dalam upaya kontekstualisasinya.Ketiga, kontribusi dalam upaya modernisasi hukum keluarga Islam kedepanbisa terlaksana melalui:pertama,Negara dan Masyarakat. Yakni masyarakat Indonesia perlu mendorong pemerintah untuk melakukan perubahan-perubahan subtansi hukum keluarga yang berkeadilan untuk semua dan lebih modern. Kedua, potensi masyarakat Islam Indonesia yang selalu berkembang dari berbagai bidang untuk lebih berani dalam menyampaikan usulan aspirasi tentang persoalan keluarga. Ketiga, potensi para ulama dan para akademisi tetap selalu maju dan bersinergi dengan membantu proses pencapaian cita-cita hukum keluarga yang adil gender, humanis dan egaliter untuk masyarakat Indonesia.
Kata kunci: Epistemologi Hukum, KHI, CLD-KHI, Hukum Wari
PENGARUH NORMA SUBJEKTIF, PERCEIVED USEFULNESS, PERCEIVED EASE OF USE, ATTITUDE , PERCEIVED SECURITY, GAYA HIDUP TERHADAP MINAT MENGGUNAKAN FINTECH DI KABUPATEN KUDUS
This research aims to identify factors that influence the interest of the Kudus community in adopting fintech. The basic theory is the Technology Acceptance Model (TAM). This research method is quantitative with a purposive sampling approach, taking samples from the Kudus community who have an interest in using fintech. The total number of respondents involved was 161 people with range of 15-40 years. Data analysis was carried out using SPSS V23 with multiple linear regression test techniques. The research results show that the variables subjective norms, perceived benefits, perceived ease of use have no influence on interest in using fintech in Kudus Regency, while attitudes, perceptions of security and lifestyle have an influence on interest in using fintech in Kudus Regency
PENGARUH PROGRAM GERAKAN LITERASI SEKOLAH (GLS) DALAM MENINGKATKAN BUDAYA LITERASI SISWA KELAS XI DI SMK MUHAMMADIYAH IMOGIRI YOGYAKARTA
This research is motivated by the phenomenon of low literacy rates in Indonesia. Various survey results that have been presented by well-known institutions such as the Program for International Student Assessment (PISA) in 2022 show that Indonesia's science literacy is ranked 67th out of 81 countries studied. The purpose of this study is to determine the culture of literacy, the School Literacy Movement (GLS) program, and to determine how the influence of the School Literacy Movement (GLS) program on the literacy culture of grade XI students at SMK Muhammadiyah Imogiri Yogyakarta.
This research used mixed method with concurrent embedded design model. Qualitative methods were used as primary sources while quantitative methods were used as secondary sources. The population in this study were grade XI students totaling 82 respondents who were collected using stratified random sampling technique. Data collection techniques used observation, interviews, documentation, and questionnaires. Test the validity of the data using triangulation techniques. Furthermore, the data analysis method uses data condensation techniques, data presentation, and conclusion drawing as qualitative methods and simple linear regression analysis as quantitative methods.
The results of this study show that the cultivation of literacy culture at SMK Muhammadiyah Imogiri Yogyakarta is done in two ways, namely through the provision of facilities and infrastructure at school as well as supporting programs such as library awards, stars of goodness, and free tuition scholarships. The School Literacy Movement (GLS) program which includes the habituation, development and learning stages has also been implemented at this school in Indonesian language subjects. In addition, the school literacy movement program also positively influences the literacy culture of grade XI students at SMK Muhammadiyah Imogiri Yogyakarta. Based on the results of the regression equation Y = 28.358 + 0.723x, it can be interpreted that the better the school literacy movement program, the number of literacy culture of grade XI students at SMK Muhammadiyah Imogiri Yogyakarta will increase. Then based on the results of the coefficient of determination shows that the school literacy movement program has an effect of 30.2% on the literacy culture of grade XI students at SMK Muhammadiyah Imogiri Yogyakarta and 69.8% is influenced by other factors that are not being studied. The implication of this research shows that schools need to optimize the School Literacy Movement (GLS) program more comprehensively for all students. By implementing this program comprehensively, it will increase the numb
Metode penentuan awal bulan Ramadan, Syawal dan Zulhijah menurut Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia
Metode Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia atau DDII saat menetapkan awal Ramadan Syawal mereka lebih mengikuti metode pemerintah Indonesia (imkanur rukyat) dengan matlak Indonesia (wilayatul hukmi, wilayah Indonesia sebagai wilayah hukum), sementara saat Idul Adha DDII lebih mengikuti hasil rukyat Mekah (mengikuti keputusan pemerintah Saudi Arabia) dengan alasan Idul Adha erat kaitannya dengan peristiwa wukuf sehingga keputusan berkenaan dengan peristiwa wukuf merupakan otoritas pemerintah Saudi Arabia.
Dalam penelitian ini penulis mengambil dua rumusan masalah yaitu bagaimana penentuan awal bulan Ramadan, Syawal dan Zulhijah menurut DDII dan istinbath dasar hukum penentuan awal bulan Kamariah DDII. Dari dua rumusan masalah tersebut penulis anggap akan bisa mengetahui tentang bagaimana penentuan awal bulan kamariah (Ramadan, Syawal dan Zulhijah) DDII.
Dalam melakukan penelitian ini, penulis menggunakan metode kualitatif atau penelitian yang dilakukan dengan cara melakukan penelitian lapangan. Sedangkan untuk menganalisis dasar hukumnya penulis menggunakan metode wawancara atau metode interview kepada Majlis fatwa DDII. Penulis menggunakan tehnik deskriptif analitis, yaitu dengan menggambarkan terlebih dahulu metode hisab dan rukyat awal bulan Kamariah yang dipakai oleh DDII.
Penelitian ini menghasilkan dua temuan. Pertama Madzhab Rukyat yang digunakan DDII adalah Rukyat Mekah yang merujuk surat Resmi yang ditandatangani oleh Sekjen Rabithah ‘Alam Islami Syeikh Muhammad Shalih Qazzaz, Nomor: 1/6/5/45 tertanggal 25 Juli 1975 perihal Itsbat Idul Adha yang ditujukan kepada Mohammad Natsir selaku anggota Majlis Ta’sisi Mudir Maktab dan Penasehat Umum Rabithah ‘Alam Islam. Di dalam surat tersebut terdapat fatwa dengan segala dalil Syeikhul Azhar Abdul Halim Mahmud dalam bentuk press Release tahun 1975 yang menyerukan ”dalam hal menentukan permulaan bulan Zulhijah, sebaiknya semua Negara Islam berpedoman kepada hasil Rukyat Saudi Arabia, supaya kaum muslimin satu pendapat dalam persoalan penetapan wukuf di Arafah”. Kedua bahwa DDII menggunakan pemahaman ayat-ayat al Quran dan hadis, terkait dalil persaksian rukyat, DDII mencukupkan satu saksi yang adil untuk menentukan permulaan puasa, sementara dalam memutuskan akhir puasa hendaknya paling sedikit dua orang saksi dengan kriteria Muslim, baligh, berakal, adil, dan tsiqah (terpercaya) lewat pengangkatan sumpah atas nama Allah SWT. Saksi tidak dipersyaratkan apakah saksi iti laki laki atau perempuan, karna yang disampaikan adalah berita
Going Beyond Counting First Authors in Author Co-citation Analysis
The present study examines one of the fundamental aspects of author co-citation analysis (ACA) - the way co-citation
counts are defined. Co-citation counting provides the data on which all subsequent statistical analyses and mappings
are based, and we compare ACA results based on two different types of co-citation counting - the traditional type that
only counts the first one among a cited work's authors on the one hand and a non-traditional type that takes into
account the first 5 authors of a cited work on the other hand. Results indicate that the picture produced through this non-traditional author co-citation counting contains more coherent author groups and is therefore considerably clearer. However, this picture represents fewer specialties in the research field being studied than that produced through the traditional first-author co-citation counting when the same number of top-ranked authors is selected and analyzed. Reasons for these effects are discussed
Variations on the Author
“Variations on the Author” discusses two of Eduardo Coutinho’s recent films (Um Dia na Vida, from 2010, and Últimas Conversas, posthumously released in 2015) and their contribution to the general question of documentary authorship. The director’s filmography is characterized by a consistent yet self-effacing form of authorial self-inscription: Coutinho often features as an interviewer that rather than express opinions propels discourses; an interviewer that is good at listening. This mode of self-inscription characterizes him as an author who is not expressive but who is nonetheless markedly present on the screen. In Um Dia na Vida, however, Coutinho is completely absent form the image, while Últimas Conversas, on the contrary, includes a confessional prologue that moves the director from the margins to the center of his films. This article examines the ways in which these works stand out in the filmography of a director who offers new insights into the notion of cinematic authorship
Appropriate Similarity Measures for Author Cocitation Analysis
We provide a number of new insights into the methodological discussion about author cocitation analysis. We first argue that the use of the Pearson correlation for measuring the similarity between authors’ cocitation profiles is not very satisfactory. We then discuss what kind of similarity measures may be used as an alternative to the Pearson correlation. We consider three similarity measures in particular. One is the well-known cosine. The other two similarity measures have not been used before in the bibliometric literature. Finally, we show by means of an example that our findings have a high practical relevance.information science;Pearson correlation;cosine;similarity measure;author cocitation analysis
- …
