1,720,988 research outputs found

    Pemikiran Pendidikan Islam Muhammad Tholhah Hasan

    Full text link
    Pendidikan Islam adalah usaha bimbingan jasmani dan rohani pada tingkat kehidupan individu dan sosial untuk mengembangkan fitrah manusia berdasarkan hukum-hukum Islam menuju terbentuknya manusia ideal (insan kamil) yang berkepribadian muslim dan berakhlak terpuji serta taat pada Islam sehingga dapat mencapai kebahagiaan di dunia dan akhirat. Dewasa ini semakin banyak tokoh atau pakar yang telah memberikan sumbangsihnya atau kontribusinya terhadap pembangunan atau pembentukan pendidikan Islam dan segala aspeknya. Jasa-jasa mereka melalui karya atau pemikirannya tidak sedikit dalam rangka ikut memberikan perubahan terhadap kondisi manusia Indonesia. Sumbangsihnya ini sesuai dengan disiplin ilmu yang dimiliki dan dikuasainya. Sehubungan dengan itu lahir seorang tokoh besar Islam yang memperhatikan masalah pendidikan Islam yaitu Muhammad Tholhah Hasan. Beliau sebagai cendekiawan muslim Indonesia berupaya mengembangkan pendidikan Islam. Berdasarkan dasar pemikiran itu, dalam penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pemikiran pendidikan Islam Muhammad Tholhah Hasan yang berkaitan dengan peningkatan kualitas pendidikan islam, Adapun metode penelitian dalam penulisan ini menggunakan metode deskriptif (decriptive method), yakni memaparkan secara jelas beberapa permasalahan yang diungkap melalui pendekatan pustaka. atau menggali data-data yang bersumber dari bahan bacaan,dan berbagai literatur yang mengupas masalah pendidikan Islam dan perjalanan karir Muhammad Tholhah Hasan. Pendidikan Islam Menurut Muhammad Tholhah Hasan tidak hanya terbatas pada lebel Islam atau lembaga keislaman seperti Pondok Pesantren atau Madrasah, juga tidak terbatas pada pembelajaran ilmu-ilmu agama Islam, seperti tauhid, tafsir hadits, fiqih, dan tasawwuf. Pendidikan Islam mencakup semua aktifitas, visi, misi, institusi, kurikulum, metodologi, proses belajar mengajar, sumber daya manusia kependidikan, lingkungan pendidikan, yang disemangati dan bersumber pada ajaran dan nilai-nilai Islam. Dalam masalah pendidikan Islam yang berkaitan dengan peningkatan kualitas pendidikan Islam menurut Muhammad Tholhah Hasan terdapat tiga faktor penting yaitu Pendidikan Islam sebagai upaya sadar penyelamatan dan pengembangan fitrah manusia, Pendidikan Agama pada masa balita dan Pendidikan Islam terhadap pengembangan sumber daya manusia

    Sejarah pemikiran KH. Muhammad Tholhah Hasan: Islam dan Transformasi Sosial

    Full text link
    Pendekatan yang digunakan dalam skripsi ini adalah pendekatan historis untuk mengungkapkan riwayat hidup KH. Muhammad Tholhah Hasan yang berkaitan dengan masyarakat, sifat dan watak, dampak pemikiran, dan gagasannya. Sedang teori yang digunakan adalah teori sosiologi agama Wertheim yang menjelaskan bahwa pembaruan agama merupakan refleksi dari perkembangan sosial dan ikhtiarnya untuk sejalan antara pemikiran agama dan struktur sosial. Adapun metode yang digunakan adalah metode penelitian sejarah, meliputi empat tahap, yaitu heuristik, kritik sumber, interpretasi, dan historiografi. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa 1) KH. Muhammad Tholhah Hasan adalah seorang tokoh agama, politikus, pemerhati pendidikan, dan sosiolog. Ia lahir pada 10 Oktober 1936 di Lamongan dari pasangan Tholhah dan Anis Fatma. Sedari kecil Tholhah berkutat pada ilmu keagamaan. Ia mengambil program sarjana muda Jurusan Ilmu Pemerintahan Universitas Merdeka Malang dan program sarjana Jurusan Ketatanegaraan Universitas Brawijaya. Tholhah meraih gelar Doctor Honoris Causa di bidang pemikiran Pendidikan Islam. 2) KH. Tholhah Hasan dikenal dengan pemikirannya yang visioner. Pemikirannya tersebut dipengaruhi faktor yang mengitarinya; politik, sosial, keagamaan, dan lingkungannya.Tholhah dapat memadukan religiuitas dengan modernitas. Menurutnya, disamping Islam menetapkan kemutlakan wahyu, ia juga memberi peranan akal cukup besar, sebab Islam mempunyai aspek dinamis dan aspek statis. Tholhah memakai sikap moderat dalam menghadapi perubahan zaman. 3) Muhammad Tholhah Hasan dalam pandangaan sejumlah tokoh adalah ulama mumpuni yang memiliki literatur luas dalam keagamaan dan ilmu umum. Selain itu, Tholhah adalah penganut sufisme yang kaya gagasan visioner untuk mengembangkan umat dalam menghadapi tantangan zaman

    ISLAM YANG TOLERAN Membedah Pemikiran Terdalam Prof. Dr. KH. Muhammad Tholhah Hasan

    No full text
    Abstract: Talking about religious tolerance in Indonesia is not something new. Because, in Indonesia religious tolerance has been been well-preserved for a long time. However, there have been strong indications of "involvement" of foreign parties willing to intervene in the country lately. So that the long-standing tolerance for tens or even hundreds of years has likely met disturbances that "pollute" religious tolerance in Indonesia as explained by Prof. Muhammad Tholhah Hasan in his book, "Multicultural Education as an Option of Preventing Radicalism". Likewise in some works of the cleric who once served as Minister of Religious Affairs in the era of Gus Dur. However, there were several criticisms of the Tolchah Hasan’s work, for example; 1). The theme of Indonesian Islam so-called as Islam Nusantara, no longer leads to the so-called Islam Rahmatan Lil Alamin, because Indonesian Islam or Nusantara Islam has so far become a manifestation of Islam Rahmatan Lil Alamin itself, 2). The work is actually a reflection material from a large amount of data on scientific references and developments in newspapers and television shows as well as inadequate field data directly, 3). The work actually really deserves to be a reference to Indonesian Islamic thought, it's just that the standards of scientific research have not been used completely, for example using a systematic writing methodology, having clear informants, having a clear research location and various other scientific research standards.Keywords: Islam, tolerance, Muhammad Tholhah Hasa

    Konsep pendidikan anak sebagai upaya pengembangan sumber daya manusia: kajian kritis pemikiran Muhammad Tholhah Hasan

    Full text link
    Muhammad Tholhah Hasan menekankan pendidikan agama sebagai pendidikan utama dalam proses pendidikan anak, dan orang tua sangat berperan dalam menangani masalah ini karena memberikan pendidikan anak yang baik adalah kewajiban orang tua. Ada tiga hal yang dapat di ajukan sebagai pokok permasalahannya. Pertama, adalah Apakah konsep pendidikan anak itu?, yang kedua bagaimana pengembangan SDM?, dan yang ketiga adalah bagaimana konsep pendidikan anak sebagai upaya pengembangan SDM menurut Tholhah? Adapun penelitian ini bersifat penelitian pustaka (library reseach) yang terfokus pada studi pemikiran tokoh. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif analitis. Metode ini sangat penting digunakan untuk tidak sekedar mendeskripsikan tema sentral, tetapi juga menganalisa lebih jauh dan mencoba membandingkan dengan gagasan para tokoh pendidikan lainnya. Dari penelitian yang dilakukan, peneliti menemukan beberapa pokok pemikiran Tholhah. Pertama, pendidikan anak merupakan pendidikan yang mengajarkan pada anak mengenai ketauhidan, moral, budaya, teladan, pembiasaan, nasihat dan hukuman. Kedua, upaya pengembangan SDM adalah dengan pendidikan, pelatihan yang terarah dan terencana. Ketiga, dengan memberikan pendidikan anak yang baik dan terarah maka akan tumbuh SDM yang berk ualitas. Disarankan agar para pendidik baik orang tua maupun guru mampu mengetahui karakteristik anak didiknya agar dapat memberikan pendidikan yang baik untuk anak didik, agar tercipta SDM yang bermutu dan berkualitas, di mana konsep tersebut adalah konsep pendidikan anak sebagai upaya pengembangan SDM

    Pemikiran keislaman K.H Muhammad Tholhah Hasan di Indonesia pada tahun 2000-2006

    Full text link
    Muhammad Tholhah Hasan adalah intelektual muslim yang menguasai berbagai keilmuan agama berlatar belakang pengajaran pesantren yang kuat. Dalam bidang sosial ia berperan sebagai ulama organisatoris yang sangat berkompenten. Selain itu, Tholhah Hasan adalah seorang mantan menteri agama di era Gusdur. Kemudian dalam bidang pendidikan ia pernah menjadi rektor di salah satu Universitas Islam di Malang Tujuan dari penelitian ini yaitu pertama; Untuk mengetahui biografi dan karya Tholhah Hasan. Kedua; Untuk mengetahui pemikiran keIslaman Tholhah Hasan di Indonesia. Metode penelitian yang digunakan adalah metode penelitian sejarah. Berdasarkan hasil penelitian penulis yang terdiri dari empat tahap, yaitu tahap pencarian sumber (heuristik), verifikasi sumber (kritik), interpretasi (penafsiran), dan penulisan sejarah (historiografi). Berdasarkan hasil penelitian penulis diketahui, bahwa Tholhah lahir di Tuban, Jawa Timur pada tanggal 10 Oktober 1936. Sebagai anak pertama dari dua bersaudara pasangan Tholhah dan Anis Fatma. Kemudian ia wafat pada pada hari rabu 29 Mei 2019 pukul 14.00 WIB bertepatan dengan 24 Ramadhan 1440 H, di Malang Jawa Timur dalam usia 82 tahun. Tholhah Hasan merupakan sosok intelektual muslim yang cukup produktif, baik dalam bentuk tulisan karya-karyanya, seperti Dinamika Pemikiran tentang Pendidikan Islam, Islam dan Sosio Kultural, Prospek Islam menghadapi tantangan zaman, Agama Moderat, Pesantren dan Terorisme, Kado untuk tamu-tamu Allah, Islam dan masalah Sumber daya Manusia, Dinamika Kehidupan Religius, Diskursus Islam Kontemporer, Ahlusunnah Wal-jamaah dalam presepsi dan tradisi NU. Pemikiran keIslaman Tholhah Hasan merupakan pemikiran yang inklusif-transformatif. Tholhah Hasan dalam persoalan sosial keislaman sangat komperehensi karena menguasai Agama Islam, serta bisa memadukan berbagai perspektif. Dalam masalah politik Tholhah mengemukakan peran ulama dalam kepemimpinan di Indonesia. Tholhah mengamati perubahan umat Islam di Indonesia ditengah-tengah arus modernisasi yang menyangkut perubahan nilai yang berdampak pada idealisme. Ia adalah termasuk tokoh dalam moderasi beragama mengelompokkan tiga pandangan yaitu: Moderat, Humanisme, dan Pluralisme. Dalam teologi Islam ia termasuk berpandangan Ahlusunnah wal Jama’ah dalam persepsi dan tradisi NU. Tholhah mengenai pemikiran Fiqih, ia mengemukakan pemikiran mengenai Ibadah, Hukum Islam, dan Haji. Kemudian ia menyatakan arti konsep bermazhab tetap adalah konsep yang paling rasional. Mengenai tranformasi pendidikan Islam, menurut Tholhah pendidikan Islam tidak hanya terbatas pada lebel Islam atau lembaga keIslaman seperti pondok pesantren ataupun madrasah

    Going Beyond Counting First Authors in Author Co-citation Analysis

    Full text link
    The present study examines one of the fundamental aspects of author co-citation analysis (ACA) - the way co-citation counts are defined. Co-citation counting provides the data on which all subsequent statistical analyses and mappings are based, and we compare ACA results based on two different types of co-citation counting - the traditional type that only counts the first one among a cited work's authors on the one hand and a non-traditional type that takes into account the first 5 authors of a cited work on the other hand. Results indicate that the picture produced through this non-traditional author co-citation counting contains more coherent author groups and is therefore considerably clearer. However, this picture represents fewer specialties in the research field being studied than that produced through the traditional first-author co-citation counting when the same number of top-ranked authors is selected and analyzed. Reasons for these effects are discussed

    Variations on the Author

    Full text link
    “Variations on the Author” discusses two of Eduardo Coutinho’s recent films (Um Dia na Vida, from 2010, and Últimas Conversas, posthumously released in 2015) and their contribution to the general question of documentary authorship. The director’s filmography is characterized by a consistent yet self-effacing form of authorial self-inscription: Coutinho often features as an interviewer that rather than express opinions propels discourses; an interviewer that is good at listening. This mode of self-inscription characterizes him as an author who is not expressive but who is nonetheless markedly present on the screen. In Um Dia na Vida, however, Coutinho is completely absent form the image, while Últimas Conversas, on the contrary, includes a confessional prologue that moves the director from the margins to the center of his films. This article examines the ways in which these works stand out in the filmography of a director who offers new insights into the notion of cinematic authorship

    Appropriate Similarity Measures for Author Cocitation Analysis

    Full text link
    We provide a number of new insights into the methodological discussion about author cocitation analysis. We first argue that the use of the Pearson correlation for measuring the similarity between authors’ cocitation profiles is not very satisfactory. We then discuss what kind of similarity measures may be used as an alternative to the Pearson correlation. We consider three similarity measures in particular. One is the well-known cosine. The other two similarity measures have not been used before in the bibliometric literature. Finally, we show by means of an example that our findings have a high practical relevance.information science;Pearson correlation;cosine;similarity measure;author cocitation analysis
    corecore