929 research outputs found
PEMIKIRAN MUHAMMAD NEJATULLAH SIDDIQ TENTANG ETIKA PRODUKSI
Skripsi yang berjudul “ PEMIKIRAN MUHAMMAD NEJATULLAH SIDDIQ TENTANG ETIKA
PRODUKSI”, di tulis dengan latar belakang bahwa etika produksi merupakan elemen terpenting dalam
suatu proses atau dalam sistem ekonomi, sebab dalam produksi di atur bagaimana pemanfaatan etika
produksi dan apa saja yang boleh di produksi agar dapat di manfaatkan oleh manusia dalam
memenuhi kebutuhan hidupnya, suatu problem yang amat besar di rasakan umat Islam saat ini bila di
hadapkan dengan sistem ekonomi kontemporer yang bebas nilai yakni sistem ekonomi kapitalis dan
sosialis
Adapun rumusan permasalahan dalam penelitian ini adalah bagaimana Konsep Muhammad
Nejatullah Siddiq Tentang Etika Produksi dan bagaimana faktor-faktor produksi menurut Muhammad
Nejatullah Siddiq, sedangkan tujuan dari penulisan skripsi ini adalah untuk mengetahui bagaimana
Pemikiran Muhammad Nejatullah Siddiq Tentang etika produksi dan bagaimana faktor-faktor produksi
menurut Muhammad Nejatullah Siddiq.
Dalam menyelesaikan skripsi ini penulis mengumpulkan data dengan mengadakan penelitian
kepustakaan (Library Research), sebagai data primer tulisan ini adalah karya Muhammad Nejatullah
Siddiq tentang produksi yaitu The Ekonomic Enterprice. Penulis juga melengkapi dengan literatur-
literatur lain yang berhubungan dengan produksi, adapun metode pembahasan yang penulis pakai
untuk penelitian ini adalah metode deskriptif, deduktif dan kompratif.
Setelah penulis menelaah pemikiran Muhammad Nejatullah Siddiq tentang produksi, penulis
melihat bahwa konsep etika produksi dalam sistem ekonomi Islam mengacu pada dua prinsip yaitu :
pertama azas kebebasan, memberikan kebebasan kepada individu untuk memproduksi dan
menghasilkan kekayaan tetapi kebebasan itu haruslah berdasarkan syari’at Allah, kedua azas keadilan,
keadilan disini maksudnya keadilan dalam ekonomi adalah keseimbangan antara individu dengan
unsur-unsur materi dan sprinatual yang dimiliki.
Dari pemikiran Muhammad Nejatullah Siddiq ini dapat dipahami ke adilan dalam produksi adalah
meletakkan nilai keadilan dengan cara memproduksi dan memanfaatkan barang-barang dalam
lingkaran yang halal terhadap kebutuhan manusia dengan cara inilah mereka meningkatkan taraf
kehidupan dan memperoleh kekayaan
Kriteria hadis sahih menurut Ahmad Ibn Muhammad Ibn al-Siddiq al-Ghumari
Al-Qur’an dan Hadis merupakan sumber utama umat Islam, al-Qur’an turun secara mutawatir, sehingga tidak perlu dilakukan penelitian, berbeda dengan hadis yang kebanyakan adalah ahad, maka perlu dilakukan penelitian terhadap hukum hadis tersebut. Usaha melakukan kritik hadis untuk menilai kesahihan atau kedaifan sebuah hadis terus berlanjut sampai pada masa kontemporer sekarang ini, di antara ulama kontemporer yang meneliti hadis adalah Ahmad ibn Muhammad ibn al-Siddiq al-Ghumari, ia meneliti beberapa hadis dalam karya-karyanya, Dalam penelitian ini, penulis membahas “Kriteria Hadis Sahih menurut Ahmad ibn Muhammad ibn al-Siddiq al-Ghumari”. Karena dalam penelitiannya terkadang berlawanan dengan mayoritas ulama hadis, sehingga memunculkan rumusan masalah sebagai berikut: Pertama, apa yang melatarbelakangi Ahmad ibn Muhammad al-Siddiq al-Ghumari dalam tashih dan meneleliti beberapa hadis? Kedua, apa kriteria hadis sahih menurut Ahmad ibn Muhammad al-Siddiq al-Ghumari? Ketiga, apa implikasi yang ditimbulkan dari kriteria hadis sahih menurut Ahmad ibn Muhammad ibn al-Siddiq al-Ghumari? Penelitian ini bersifat kualitatif, dan model penelitiannya termasuk katagori penelitian literer atau studi pustaka dengan objek berupa naskah-naskah, baik dari buku-buku maupun naskah lainnya yag berhubungan dengan persoalan yang akan dibahas. Penulis berusaha mengungkap pemikiran yang diinginkan oleh peneliti hadis sehingga dapat diambil sebuah kesimpulan dari tata cara penilaian tersebut dan kriteria-kriteria hadis sahih yang dimaksudkan oleh peneliti hadis. Hasil penelitian ini adalah Ahmad al-Ghumari dalam tashih beberapa hadis mempunyai latar belakang beraneka ragam di antaranya adalah: memerangi taqlid untuk menuju pintu ijtihad, membenarkan kesalahan yang dilakukan oleh para ulama, menjawab pertanyaan yang diajukan kepadanya, menjelaskan kepada masyarakat dan taassub (fanatik) terhadap ahl al-bayt atau mazhab. Dan kriteria hadis sahih menurutnya adalah: rawi thiqah (adil wa dabit}, tidak shadh, tidak terdapat ‘illah serta adanya mutaba‘ah atau shawahid ketika dibutuhkan. Implikasi yang ditimbulkan dari kriteria tersebut adalah terdapat hadis yang telah dinilai oleh mayoritas ulama hadis dengan daif, menjadi sahih dalam penilaiannya dikarenakan ia mempunyai kriteria sendiri terkait hadis sahih
SUPPLEMENTARY_MATERIAL - Fabrication of silica-modified zeolite-based polysulfone nanocomposite membranes: Enhanced thermal, mechanical, and antibacterial properties
SUPPLEMENTARY_MATERIAL for Fabrication of silica-modified zeolite-based polysulfone nanocomposite membranes: Enhanced thermal, mechanical, and antibacterial properties by Sedra Tul Muntha, Jaweria Ambreen, Muhammad Siddiq, Hina Naeem, Saz Muhammad and Anum Khan in Journal of Thermoplastic Composite Materials</p
Konsep Islam dan Negara Menurut KH. Achmad Siddiq
Abstract: This article discusses the thought of KH. Achmad Siddiq (d. 1991) on the relationship between Islam and the state. He was the spiritual leader of Nahdlatul Ulama from 1984 to1991. He articulated Islam and Indonesia by actualizing the thought of Sunni Islam. He concludes that Islam and the state mutually beneficial. He (1) argues that Pancasila, the state philosophy, contains the principle of monotheism and humanism; (2) constructs pluralistic concept with trilogy of brotherhood, namely islamic brotherhood, national brotherhood, and humanistic brotherhood; (3) creates islam as rahmah li al-‘âlamîn (blessing for the worlds) and maintains the finality of unitary republic of Indonesia.he asserts that Islam and the state is mutually correlated, islam regulates norms and ethic whereas the state is responsible to actualizes those norms and ethic in form of regulatory framework. Thus, religion and the state fortifies each other’s function.
Keywords: Islamic political thought, KH. Achmad Siddiq, Nahdlatul Ulama
Abtrak: Artikel ini membahas tentang pemikiran KH. Achmad Siddiq tentang Islam dan negara. KH. Achmad Siddiq berusaha mengaktualisasikan Islam dan keindonesiaan dalam format ajaran ahl al-sunnah wa al-jamâ’ah dalam bentuk simbiosis mutualistik berupa: 1) Memaknai Pancasila dengan konsep tauhid yang berbasis humanis, 2) Membangun konsep pluralistik dengan konsep trilogi ukhuwwahnya, yaitu; ukhuwwah Islâmiyyah, ukhuwwah wathaniyyah, dan ukhuwwah basyariyyah, 3) Mewujudkan Islam rahmah li al-‘âlamîn dengan bingkai negara Indonesia berbentuk NKRI yang final dalam usaha merealisasikan mashlahah ‘âmmah. Menurut K.H. Achmad Siddiq, negara dan agama sejatinya ada korelasinya, agama mengatur nilai-nilai kehidupan, di mana agama berperan dalam membentuk nilai-nilai etik, sedangkan negara bertugas mengaktualisasikan nilai-nilai etik dan moral dalam bentuk peraturan perundang-undangan. Agama dan negara saling menguatkan fungsi masing-masing.
Kata Kunci: Islam, negara, KH. Achmad Siddiq.Abstract: This article discusses the thought of KH. Achmad Siddiq (d. 1991) on the relationship between Islam and the state. He was the spiritual leader of Nahdlatul Ulama from 1984 to1991. He articulated Islam and Indonesia by actualizing the thought of Sunni Islam. He concludes that Islam and the state mutually beneficial. He (1) argues that Pancasila, the state philosophy, contains the principle of monotheism and humanism; (2) constructs pluralistic concept with trilogy of brotherhood, namely islamic brotherhood, national brotherhood, and humanistic brotherhood; (3) creates islam as rahmah li al-‘âlamîn (blessing for the worlds) and maintains the finality of unitary republic of Indonesia.he asserts that Islam and the state is mutually correlated, islam regulates norms and ethic whereas the state is responsible to actualizes those norms and ethic in form of regulatory framework. Thus, religion and the state fortifies each other’s function.
Keywords: Islamic political thought, KH. Achmad Siddiq, Nahdlatul Ulama
Abtrak: Artikel ini membahas tentang pemikiran KH. Achmad Siddiq tentang Islam dan negara. KH. Achmad Siddiq berusaha mengaktualisasikan Islam dan keindonesiaan dalam format ajaran ahl al-sunnah wa al-jamâ’ah dalam bentuk simbiosis mutualistik berupa: 1) Memaknai Pancasila dengan konsep tauhid yang berbasis humanis, 2) Membangun konsep pluralistik dengan konsep trilogi ukhuwwahnya, yaitu; ukhuwwah Islâmiyyah, ukhuwwah wathaniyyah, dan ukhuwwah basyariyyah, 3) Mewujudkan Islam rahmah li al-‘âlamîn dengan bingkai negara Indonesia berbentuk NKRI yang final dalam usaha merealisasikan mashlahah ‘âmmah. Menurut K.H. Achmad Siddiq, negara dan agama sejatinya ada korelasinya, agama mengatur nilai-nilai kehidupan, di mana agama berperan dalam membentuk nilai-nilai etik, sedangkan negara bertugas mengaktualisasikan nilai-nilai etik dan moral dalam bentuk peraturan perundang-undangan. Agama dan negara saling menguatkan fungsi masing-masing.
Kata Kunci: Islam, negara, KH. Achmad Siddiq
Grapefruit
Grapefruit
Siddiq M (ed): Tropical and Subtropical Fruits: Postharvest Physiology, Processing and
Packaging
, John Wiley & Sons, Inc, 2012, pp 361-373, ISBN 978-0-8138-1142-
Konsep sastera Islam oleh Siddiq Fadhil = The concept of Islamic literature according to Siddiq Fadhil
This study relates to the concept of Islamic literature that was propagated by Prof. Dato’ Dr. Siddiq Fadhil. He has brought a new point of view in the world of literature which is the combination of Islamic literature and Maqasid al Shariah which is a part of al Tahsiniyat. He also set 4 conditions in order to produce an Islamic literature, first: the author of Islamic literature must be a Muslim. Second: that Muslim must live in the religion with real application because through the application, it will create an Islamic literature. Third: Islamic literature must bring the meaning to the devotion of God. Fourth: the Islamic literature must also be beneficial to all the creations of God. In addition, he also not ignoring the two main aspects of a literary: form and theme. Besides, he denied the Art for Art and Art for Society because these two creeds that are not realistic and just illusions
TRANSFORMASI SEMANTIK FRASE KARIM, WAFA', SYAJA'AH, SIDDIQ, DAN SABR DALAM ETIKA ARAB JAHILIYAH PERSPEKTIF AL-QUR’AN
Dalam catatan sejarah Arab pra-Islam, komunitas Arab memiliki tingkat kemajuan yang pesat dalam perekonomian, hubungan dengan dunia internasional, dan—terutama—dalam aspek kebahasaannya. Tradisi sastra, prosa, dan puisi sudah menjadi tradisi Arab pra-Islam. Hal ini mengindikasikan sebelum al-Qur'an turun, bangsa Arab sudah memiliki kemampuan tinggi dalam bidang bahasa. Al-Qur'an yang secara definitif adalah kitab yang diturunkan oleh Allah melalui Muhammad dengan menggunakan bahasa Arab yang makna dan lafaz-nya dari Allah. Pandangan teologis ini tentu tidak mengesampingkan kenyataan bahwa teknik penyampaiannya berkaitan erat dengan kesepakatan-kesepakatan (baca: bahasa konvensional) masyarakat pemakai bahasanya (baca: Arab) dan hampir semua kosakata yang terdapat pada Al-Qur'an telah digunakan dalam bentuk dan weltanschauung tertentu oleh bangsa Arab pra-Islam. Etika jahiliyah adalah sistem nilai yang dianut kuat oleh masyarakat Arab pra Islam. Dalam kajian ini, tentunya memfokuskan pada perubahan beberapa makna etika yang telah terformulasi dalam bahasa masyarakat Jahiliyah seiring kehadiran Islam dengan kitab sucinya al-Qur’an yang juga mengunakan bahasa Arab. Berdasarkan uraian di atas, maka penelitian ini memfokuskan pada persoalan "Bagaimana transformasi semantik dalam etika Arab Jahiliyah dalam frase karim, syaja’ah, siddiq dan sabr perspektif al-Qur'an? Penelitian ini merupakan penelitian pustaka yang mengambil sumbernya dari beberapa frase karim, wafa', syaja'ah, siddiq, dan sabr dalam al-Qur’an dengan menggunakan pendekatan semantik. Berdasarkan pada pembahasan, maka dapat disimpulkan bahwa kata-kata seperti karim, wafa', syaja'ah, siddiq, dan sabr adalah beberapa permisalan atau contoh terjadinya transformasi semantik dalam proses penyebaran awal Islam kurun awal. Islam membiarkan penggunaan bahasa yang telah dipakai masyarakat Arab Jahiliyah kemudian diangkat dan disempurnakan melalui Kitab Suci al-Qur'an. Kenyataan tersebut dapat memberikan inspirasi bagi Islam modern. Isolasi terhadap lalu lalangnya peradaban dunia, adalah sikap yang tidak bijak. Al-Qur'an telah mencotohkan bagaimana dialog terhadap segala peradaban tanpa kehilangan esensinya. Dengan demikian, jika diperhatikan paparan kelima frase karim, wafa', syaja'ah, siddiq, dan sabr, dari aspek semantik frase-frase tersebut menurut al-Qur'an mempunyai makna-makna sebagai berikut: 1) Karim bermakna kedermawanan yang menunjukan nilai-nilai kebajikan penting, tanpa dibarengi dengan pemborosan; 2) Syaja'ah, bermakna keberanian yang dilandasi oleh disiplin luhur berdasarkan agama yang benar; keberanian di jalan Allah; 3) Wafa', bermakna menepati janji. Kesetiaan dan kepercayaan merupakan suatu ciri nilai paling tinggi dan paling nyata; 4) Siddiq, bermakna berkata benar lawan dari berbohong. Hal ini akan menjadi sangat penting bila dikembalikan kepada masalah kejujuran berkenaan dengan persoalan yang membicarakan hubungan religius antara Tuhan dan manusia dan 5) Sabr, bermakna memiliki ketabahan dan kekuatan jiwa dalam menghadapi kesengsaraan, penderitaan dan kesulitan dalam kehidupan
Peran Kiai Haji Mahfudz Siddiq dalam BNO (Berita Nahdlatoel Oelama) 1930-1944
Skripsi ini berjudul :Peran Kiai Haji Mahfudz Siddiq dalam BNO (Berita Nahdlatoel Oelama) 1930-1944. Memilki tiga fokus penelitian, yaitu Bagaimana biografi Kiai Haji Mahfudz Siddiq. Bagaimana sejarah perkembangan Berita Nahdlatoel Oelama. Bagaimana peran Kiai Haji Mahfudz dalam Nahdlatul Ulama dan dalam Berita Nahdlatoel Oelama.Penelitian ini merupakan penelitian sejarah yang menggunakan pendekatan historis. Pendekatan tersebut digunakan peneliti untuk menghasilkan bentuk dan proses dari peristiwa sejarah menjelaskan tentang Peran Kiai Haji Mahfudz Siddiq dalam Berita Nahdlatoel Oelama. Penelitian ini juga mengguanakan teori peranan yang dikenalkan oleh Peter Burke yaitu peranan seorang yang menduduki posisi tertentu didalam struktur masyarakat, berarti seseorang itu mempunyai kedudukan dan mendapatkan kepercayaan dari masyarakat. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah : Heuristik, Kritik, Interpretasi (penafsiran) dan Historiografis. Dari hasil penelitian menyimpulkan bahwa: (1) Kiai Mahfudz Siddiq adalah Kiai yang lahir di Jember pada Kamis 27 Rabiul Awal 1325 H atau 10 Mei 1907. Kiai Mahfudz adalah putra dari Kiai Muhammad Siddiq dan Nyai Hj. Maryam yang merupakan keturunan dari keluarga Bani Siddiq Jember. (2)Kesadaran menggunakan surat kabar sebagai media informasi dan propaganda juga dirasakan oleh Nahdlatul Ulama (NU). Semenjak berdiri pada tanggal 31 Januari 1926, setidaknya ada tiga media surat kabar yang diterbitkan oleh Nahdlatul Ulama (NU) yaitu, Swara Nahdlatoel Oelama, Oetoesan Nahdlatoel Oelama, dan Berita Nahdlatoel Oelama. (3) Majalah Berita Nahdlatoel Oelama merupakan transformasi dari Swara Nahdlatol Oelama yang dilakukan oleh Kiai Mahfudz Siddiq. Pada Muktamar ke-9 Nahdlatul Ulama di Banyuwangi
Syekh Abdurrahman Siddiq al-Banjari: Madam Dakwah Lintas Kawasan
Di kalangan masyarakat Banjar (Kalimantan Selatan) dan Sapat-Indragiri Riau atau Bangka Belitung (Sumatera), nama Syekh Abdurrahman Siddiq al-Banjari sangat dikenal, sebab beliau merupakan salah seorang ulama besar Kalimantan dan zuriat dari Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari. Abdurrahman Siddiq dikenali sebagai seorang ulama yang wara’, sufi yang tawadhu, mufti yang tegas, da’i yang gigih, pendidik yang giat, penulis yang produktif, penerjemah, dan juga penyair kondang yang syair-syair religiousnya mampu memukau orangorang di zamannya. Melalui syair-syair itu pula, beliau berdakwah dan berusaha meluruskan aliran kalam dan tasawuf yang cenderung menyimpang. Abdurrahman Siddiq memang dikenali sebagai seorang ulama besar yang memainkan peranan penting dan menjadi generasi penerus jaringan penghubung antara Banjarmasin dan negeri-negeri Melayu lainnya (terutama Kepulauan Sumatera; Riau dan Bangka dan Semenanjung Malaysia). Beliau juga telah meneruskan tradisi ulama-ulama Banjar untuk melakukan “Madam Dakwah”, iaitu keluar dari kampong halaman atau pergi merantau ke pelbagai daerah untuk menyebarkan dan mendakwahkan Islam. Aktivitas dakwahnya tidak hanya di kampong halaman (MartapuraBanjar), akan tetapi juga sampai ke berbagai daerah di Nusantara. Beliau bahkan kemudian menetap dan berkubur di Kampung Parit Hidayat Sapat Indragiri Riau. Daerah yang semula kosong ini kemudian berubah menjadi basis dakwah, pusat penyebaran Islam, dan pengkaderan generasi dakwah setelah dibangun pondok pesantren. Aktivitas Abdurrahman Siddiq dalam berdakwah telah menunjukkan pengabdian luar biasa dan berimplikasi luas terhadap penyebaran Islam; intelektualitasnya yang tinggi mampu meyakinkan semua golongan dan memberi solusi terhadap pelbagai persoalan yang mereka hadapi; serta pengajaran dan karya-karyanya telah menjadi rujukan berharga bagi masyarakat Melayu dalam memahami Islam. Oleh itu, menarik untuk dikaji bagaimana pola dan implikasi dakwah lintas kawasan (pulau) yang telah dilakukan oleh Syekh Abdurrahman Siddiq
Sumbangan Syed Muhammad Naquib al-Attas dalam Pengajian Dunia Melayu: Suatu Penilaian
Professor Dr. Syed Muhammad Naquib al-Attas is one of the most prominent, multifaceted and creative Muslim thinkers in contemporary times who embodies the multi-disciplinary mastery and unity, personal integrity and courage of the Islamic religious-intellectual ideals which were genuinely represented by numerous Muslim scholars, sages and saints of the past, especially Abū Hamid Muhammad al-Ghazālī (d.505/1111). His contributions to scholarly works especially Malay World Studies are manifold. To date, he has written more than 24 books and monographs in English and Malay, many of which have been translated into other languages such as Arabic, Persian, Turkish, Urdu, Malayalam, Indonesian, German, Russian, Bosnian, Japanese, Hindi and Korean. Among his publications: Rangkaian Ruba'iyyat, Some Aspects of Sufism as Understood and Practiced among the Malays, Raniri and the Wujudiyyah of 17th Century Acheh, The Mysticism of Hamzah Fansuri, A Comment on the Hujjatu'l Siddiq of Nur al-Din al-Raniri.This paper attempts to explore his contributions to Malay World Studies with a specific reference to his influence in shaping the development of Malay Studies in Malaysia and Southeast Asia.
Keywords: Syed Muhammad Naquib al-Attas, Malay World studies, Islamic scholar, IslamizationProfesor Dr. Syed Muhammad Naquib al-Attas merupakan salah seorang pemikir Islam yang terkenal, mempunyai kepelbagaian kepakaran, kreatif, menguasai pelbagai disiplin ilmu, berkeperibadian yang berintegriti dan berkewibawaan seperti sarjana pemikir Islam yang terdahulu terutama Abū Hamid Muhammad al-Ghazālī (d.505/1111). Pelbagai sumbangan telah dicurahkan oleh beliau dalam kerja ilmiah terutamanya pengajian dunia Melayu. Sehingga kini, beliau telah menulis lebih daripada 24 buah buku dan monograf dalam Bahasa Melayu, dan banyak yang telah diterjemahkan ke dalam bahasa lain, seperti Bahasa Arab, Parsi, Turki, Urdu, Malayalam, Indonesia, Jerman, Russia, Bosnia, Jepun, Hindi dan Korea. Antara penerbitan beliau: Rangkaian Ruba'iyyat, Some Aspects of Sufism as Understood and Practiced among the Malays, Raniri and the Wujudiyyah of 17th Century Acheh, The Mysticism of Hamzah Fansuri, A Comment on the Hujjatu'l Siddiq of Nur al-Din al-Raniri. Penulisan kali ini akan membincangkan sumbangan beliau terhadap pengajian dunia Melayu dengan mengambil kira pengaruh kewibawaan beliau dalam membentuk pengajian dunia Melayu di Malaysia dan Asia Tenggara.
Kata kunci: Syed Muhammad Naquib al-Attas, pengajian Dunia Melayu, cendikiawan Islam, Islamisas
- …
