11 research outputs found
Desain Self-Propelled Barge Pengangkut Limbah Minyak di Kawasan Pelabuhan Indonesia III
Konvensi MARPOL 73/78 yang dimandatkan oleh IMO (International Maritime Organization), mempersyaratkan kepada setiap negara yang termasuk dalam konvensi ini untuk menyediakan fasilitas pengelolaan limbah minyak di pelabuhan yang bertujuan untuk mengurangi pencemaran lingkungan akibat buangan limbah minyak dari kapal. Sedangkan Indonesia yang telah meratifikasi peraturan MARPOL 73/78, tidak sepenuhnya mematuhi peraturan tersebut. Kondisi saat ini hampir semua pelabuhan di Indonesia termasuk pelabuhan-pelabuhan yang berada dalam kawasan Pelabuhan Indonesia III (Persero) tidak mempunyai fasilitas pengelolaan limbah. Ketiadaan fasilitas pengolahan di pelabuhan tersebut dikarenakan tidak ada dukungan secara finansial dari pengelola pelabuhan. Untuk mengatasi permasalahan ini diberikan solusi penanganan limbah, khususnya limbah minyak dengan konsep transportasi laut. Penanganan tersebut dengan mengangkut limbah minyak di setiap pelabuhan menggunakan kapal khusus yaitu tongkang pengangkut limbah minyak dengan sistem penggerak sendiri (Self-Propelled Barge). Dengan kapal ini diharapkan semua limbah minyak di kawasan Pelabuhan Indonesia III dapat diangkut untuk dilakukan proses pengolahan. Sehingga pencemaran laut akibat buangan limbah minyak dari kapal dapat dihindari. Proses desain Self-Propelled Barge diawali dengan menentukan pola operasi serta mencari ukuran utama yang optimal dari tongkang. Setelah didapatkan ukuran utama yang optimal dan memenuhi persyaratan yang diminta kemudian dilanjutkan dengan pembuatan Rencana Garis dan Rencana Umum. Dari proses desain ini didapat ukuran Self-Propelled Barge yang optimal adalah Lpp = 55.3 m, B = 12,05 m, H = 3.44 m, T = 2.20 m.
===================================================================
MARPOL 73/78, adopted by IMO (International Maritime Organization), mandates all Contacting Goverment to provide oil waste processing facilities in port to minimize environmental pollutions. Indonesia, which has ratified MARPOL 73/78, however does not really implement such regulations. Current condition in almost all ports in Indonesia, including the ports that are located within Pelabuhan Indonesia III (Persero) does not have a oil waste processing facility. The absence of oil waste processing facilities at the port because there is no financial support from the port manager. To overcome this problem is given oil waste management solution, especially oil waste in concept of sea transport. The solution is to transport the oil waste in each ports by using a special vessel namely oil waste transport barge with own propulsion system (Self-Propelled Barge). With this vessel is expected all of oil waste within Pelabuhan Indonesia III region can be transported to be processed. So that marine pollution of the oil waste from ships can be avoided. The beginning of Self-Propelled Barge design process is to determine the operation pattern and find out the optimal main dimension of barge. After optimal main dimension is obtained and meets the requirement then followed by designing of Lines Plan and General Arrangement. From the design process obtained the optimum main dimension of Self-Propelled Barge: Lpp = 55.3 m, B = 12.05 m, H = 3.44 m, T = 2.20 m
Persepsi Peserta terhadap Pengelolaan Program Guru Keahlian Ganda di SMKN 1 Blitar
ABSTRAK SMK merupakan salah satu dari pendidikan formal yang bertujuan untuk menghasilkan generasi yang siap kerja, berkompeten, dan berdaya saing. Untuk mencapai tujuan tersebut, SMK membuka berbagai macam jurusan dan program keahlian yang sesuai dengan kebutuhan dunia usaha dan industri saat ini. Saat ini SMK merupakan jalur pendidikan yang gencar-gencarnya dikembangkan oleh pemerintah, sehingga banyak SMK dan jurusan-jurusan baru yang didirikan. Oleh karena itu, kebutuhan tenaga pendidik dan tenaga kependidikan akan meningkat khususnya guru. Guru merupakan komponen yang tidak dapat dilepaskan dari sistem pendidikan secara keseluruhan. Menurut Kemendikbud, kondisi di tahun 2016 masih terdapat kekurangan guru di SMK khususnya guru produktif. Dari data yang telah dihimpun Kemendikbud, guru produktif SMK kekurangan sejumlah 91.861 dengan rincian 41.861 untuk SMK Negeri dan di SMK Swasta kekurangan 50.000 guru produktif. Salah satu cara untuk mengatasi kekurang tersebut adalah dengan Program Guru Keahlian Ganda (PGKG). Diharapkan dengan program tersebut akan mampu memenuhi kekurangan guru produktif SMK di Indonesia. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan tingkat keterlaksanaan PGKG di SMKN 1 Blitar pada beberapa tahapan, yaitu: perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi PGKG. Pada penelitian ini menggunakan jenis pendekatan deskriptif kuantitatif. Populasi dan sampel pada penelitian ini adalah guru peserta PGKG di SMKN 1 Blitar yang berjumlah 30 guru. Pengumpulan data menggunakan kuesioner atau angket dengan 4 alternatif jawaban, yaitu sangat baik, baik, kurang baik, dan tidak baik.. Teknik analisis data yang digunakan adalah analisis deskriptif dengan mengacu pada interval pencapaian yang telah dibuat. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pertama, tingkat keterlaksanaan PGKG pada tahap perencanaan dilihat dari tiap item soal menunjukkan rata-rata skor sebesar 92.7 yang termasuk kategori baik, namun pada item soal nomor 1 mendapat skor 74 yang artinya kurang baik. Kemudian jika dilihat dari keseluruhan jawaban responden mengenai tahap perencanaan ini, 29 responden masuk kategori baik dan 1 responden kategori sangat baik. Selanjutnya tingkat keterlaksanaan PGKG pada tahap pelaksanaan dilihat dari tiap item soal menunjukkan rata-rata skor sebesar 90.42 yang termasuk kategori baik, namun pada item soal nomor 13, 21, 22, dan 26 termasuk kategori kurang baik. Kemudian jika dilihat dari keseluruhan jawaban responden mengenai tahap perencanaan ini, 30 responden masuk kategori baik. Ketiga adalah tingkat keterlaksanaan PGKG pada tahap evaluasi dilihat dari tiap item soal menunjukkan rata-rata skor sebesar 91.55 yang termasuk kategori baik, namun pada item soal nomor 35, 36, dan 37 termasuk kategori kurang baik. Kemudian jika dilihat dari keseluruhan jawaban responden mengenai tahap perencanaan ini, 29 responden masuk kategori baik dan 1 responden kategori sangat baik. Simpulan dalam penelitian ini adalah pengelolaan dari program guru keahlian ganda sudah baik. Adapun saran untuk peneliti selanjutnya yang tertarik mengangkat tema penelitian guru keahlian ganda adalah untuk lebih fokus terhadap evaluasi program PGKG untuk mengetahui tujuan dari program yang diharapkan oleh pemerintah
Pelatihan Perangkat Rukyah di Pondok Pesantren Fadhlul Wahid Ngangkruk Grobogan Sebagai Penunjang Efektivitas Pelaksanaan Pengamatan Hilal
Rukyah Equipment Training at the Fadhlul Wahid Ngangkruk Grobogan Islamic Boarding School to Support the Effectiveness of Hilal Observation Implementation. This Community Service activity aims to improve the capacity of students and ustadz of the Fadhlul Wahid Ngangkruk Grobogan Islamic Boarding School in mastering rukyah devices to support the effectiveness of hilal observations. The method used was Participatory Action Research (PAR) with a practice-based training approach, so that participants not only received theory but also actively participated in problem identification, solution formulation, and field practice. The results of the activity showed significant achievements, where the level of understanding of participants reached 90% in the use of cameras and rukyah devices, and 85% in mastery of theoretical material, although there were still limitations in certain instruments. The implication of this activity is the need for continuous training and intensive mentoring to optimize instrument mastery. The suggestion is that this practice-based training model can be adopted by other Islamic boarding schools as a strategy to strengthen the role of Islamic boarding schools in the development of astronomy and determining the beginning of the Hijri month
Juru Motor Sdn Bhd (Honda sales, services and spareparts) / Muhammad Hasanol Mustafa ... [et al.]
Alter a few discussion we have decide the establishment of our business as a Honda dealers. We choose Juru Motor Sdn Bhd as our company name. Juru Motor Sdn Bhd located at 1685 Jalan Perusahaan Highway Autocity, North South Highway, Juru Interchange, 13600 perai Pulau pinang. We find this location is quite strategic because there have many competitors beside our location business, such as Proton, Chevrolet, Naza, etc. Our premise is sited in a high density business area that concludes many business types from a big asset company to a low budget business. Beside that our location is very strategic because it near the north south highway and it have many infrastructures and near to our target market.
Juru Motor Sdn Bhd has five executives at directory and eighteen workers that have their responsibilities at their department. Date of our commencement is on 1st January 2006.dui ing the first year a few problems might occur because we are new in this market and our company is not well known yet. Beside that we might face a few of competitors and customers that need the lime to change their service centre from the others service centre to our service centre but some how we try to provide a good and sufficient service in order to establish our company. We believe that we will succeed although it will lake quite sometime. Furthermore our location gives advantages to run our company successfully. This is because autocity has already known as a centre of a showroom.
We have decided to run our business in the form of partnership. This is because it is easier to set up a business of partnership as it only required a few formalities and risks as each of us as partners will have to share the loss. We do not have to disclose our business affairs to the public.
Last of all we give fully satisfaction in our service to our customer. We hope that our business will run successfully and achieve to our target to be the number one of Honda dealers in north Malaysia
Desain Kapal Penyeberangan Sebagai Sarana Transportasi, Rekreasi, dan Edukasi di Pulau Gili Ketapang, Probolinggo, Jawa Timur
HITAMAKI (HIJAB WANITA MASA KINI)
Program usaha ini diadakan untuk meningkatkan kemampuan dan kreatifitas, dapat berfikir panjang atau luas dalam menjalankan setiap kegiatan, serta membuka peluang atau kesempatan untuk mendapatkan keuntungan yang cukup besar dan melatih jiwa kewirausahaan. Kegiatan kewirausahaan ini dilatarbelakangi oleh meningkatnya perempuan-perempuan Indonesia bahkan dunia menggunakan hijab.Bahkan sekarang hijab sudah menjadi trend dan gaya hidup. Hal ini peluang usaha dalam bentuk fashion terbuka lebar. Usaha fashion dalam bentuk hijab menjadi usaha yang menjanjikan karena pengguna hijab dari tahun ke tahun mengalami peningkatan.
Dengan adanya usaha ini diharapkan dapat menarik perempuan yang belum berhijab mau menggunakan hijab, sesuai dengan syariat Islam yang mewajibkan perempuan-perempuan yang sholeha menggunakan hijab dan bagi perempuan yang sudah berhijab dapat mengikuti trend fashion masa kini.
Dalam usaha ini sasaran utama adalah remaja putri. Namun dalam pelaksanaannya hijab untuk anak-anak dan dewasa juga disediakan bila ada konsumen yang menginginkan. Dalam pemasaran program ini, kami menggunakan media sosial yaitu jual beli secara online. Namun untuk konsumen yang lingkungannya disekitar kami dapat memesan langsung kepada kami.
Ada lima metode yang digunakan dalam program ini, yaitu tahap persiapan dan survey pasar, promosi dan pemasaran, evaluasi perkembangan usaha, evaluasi kegiatan dan laporan pertanggungjawaban
The Analysis of Hail Based on Atmospheric Conditions and Himawari-9 Satellite: Case Study of Surabaya City, March 20, 2023
Hail is a rare extreme weather phenomenon in Indonesia. On March 20, 2023, hail occurred in Surabaya City. The research was conducted to analyze the hail based on atmospheric conditions and the Himawari-9 satellite. Analysis of the global scale showed anomalies in sea surface temperature in the Southeast Indian Ocean. Regionally, a monsoon shear line and significant low-level moisture transport from the South Java Sea caused convergence in the Surabaya. Locally, there was a significant increase in relative humidity by 10%, and a surface temperature decrease of 3.2°C resulted in wetter surface weather. The occurrence of hail was also supported by upper air conditions, with four indices (CAPE, LI, TT, and SWEAT) falling within the moderate category. In contrast, CIN was categorized as low, while KI increased from moderate to high. A moderate CAPE index in the mid-level updraft of moist air resulted in the maximum hail size. Clouds reached the freezing level in the mid-level atmosphere at 5048 meters and 4776 meters. The RGB Day Microphysics technique using Himawari-9 satellite imagery identified overshooting tops and a drastic decrease in top cloud temperature reaching -82.5°C, indicating the presence of a strong updraft and the formation of convective clouds that surpassed the freezing level
Desain Kapal Penyeberangan Sebagai Sarana Transportasi, Rekreasi, dan Edukasi di Pulau Gili Ketapang, Probolinggo, Jawa Timur
Konvensi MARPOL 73/78 yang dimandatkan oleh IMO (International Maritime Organization), mempersyaratkan kepada setiap negara yang meratifikasi konvensi ini untuk menyediakan fasilitas pengelolaan limbah minyak di pelabuhan yang bertujuan untuk mengurangi pencemaran lingkungan akibat buangan limbah minyak dari kapal. Kondisi saat ini hampir semua pelabuhan di Indonesia termasuk pelabuhan-pelabuhan yang berada dalam kawasan Pelabuhan Indonesia III (Persero) tidak mempunyai fasilitas pengelolaan limbah minyak. Untuk mengatasi permasalahan ini diberikan solusi penanganan limbah, khususnya limbah minyak dengan konsep transportasi laut. Penanganan tersebut dengan mengangkut limbah minyak di setiap pelabuhan menggunakan kapal khusus yaitu tongkang pengangkut limbah minyak dengan sistem penggerak sendiri (Self-Propelled Barge). Dengan kapal ini diharapkan semua limbah minyak di kawasan Pelabuhan Indonesia III dapat diangkut untuk dilakukan proses pengolahan. Proses desain Self-Propelled Barge diawali dengan menentukan pola operasi serta mencari ukuran utama yang optimal dari tongkang. Setelah didapatkan ukuran utama yang optimal dan memenuhi persyaratan yang diminta kemudian dilanjutkan dengan pembuatan Rencana Garis dan Rencana Umum. Dari pDesain Kapal Penyeberangan Sebagai Sarana Transportasi, Rekreasi, dan Edukasi di Pulau Gili Ketapang, Probolinggo, Jawa Timu proses desain ini didapatkan ukuran Self-Propelled Barge yang optimal yaitu Lpp = 55.3 m, B = 12,05 m, H = 3.44 m, T = 2.20 m
Radicals and reactionaries : the polarisation of community and government in the name of public safety and security
The contemporary threat of terrorism has changed the ways in which government and the public view the world. Unlike the existential threat from nation states in previous centuries, today, government and the public spend much of their effort looking for the inward threat. Brought about by high profile events such as 9/11, 7/7, and 3/11, and exacerbated by globalisation, hyper-connected social spheres, and the media, the threats from within are reinforced daily. In the UK, government has taken bold steps to foment public safety and public security but has also been criticised by some who argue that government actions have labelled Muslims as the ‘suspect other’. This thesis explores the counter-terrorism environment in London at the community/government interface, how the Metropolitan Police Service and London Fire Brigade deliver counter-terrorism policy, and how individuals and groups are reacting. It specifically explores the realities of the lived experience of those who make up London’s ‘suspect community’ and whether or not counter-terrorism policy can be linked to further marginalisation, radicalism, and extremism. By engaging with those that range from London’s Metropolitan Police Service’s Counterterrorism Command (SO15) to those that make up the radical fringe, an ethnographic portrait is developed. Through that ethnographic portrait the ‘ground truth’ and complexities of the lived experience are made clear and add significant contrast to the aseptic policy environment
Penguatan kesadaran akan pentingnya marka jalan untuk keselamatan anak sekolah di SDN 04 Karangsari
AbstrakKawasan sekolah pada jam masuk dan pulang selalu ramai, sehingga berpotensi menyebabkan terjadinya kecelakaan lalu lintas. Salah satu solusi mengurangi dampak terjadinya kecelakan lalu lintas dengan membuat marka jalan. Marka jalan menjadi satu hal penting dalam keselamatan, kenyamanan, dan ketertiban untuk pengguna jalan, baik untuk anak-anak sekolah, guru, maupun warga masyarakat setempat. Marka jalan berfungsi sebagai tanda pemberi isyarat lalu lintas dan alat pengendali serta pengaman bagi pengguna jalan. Permasalahan yang ada yaitu belum adanya marka jalan yang terpasang di SDN 04 Karangsari. Sehingga tidak terjaminnya keselamatan khususnya anak sekolah, maka perlu direncanakan fasilitas marka jalan yang memenuhi kebutuhan di SDN 04 Karangsari. Tujuan dari kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini adalah memberikan fasilitas marka jalan guna meningkatkan keselamatan dan memberikan rasa aman kepada anak sekolah ketika menyeberang. Solusi permasalahan yang diberikan pada kegiatan ini adalah dilakukannya pembuatan marka jalan dan memasang rambu lalu lintas seperti rambu menyeberang, rambu hati-hati dan rambu menurunkan kecepatan serta melibatkan partisipasi aktif masyarakat dalam pelaksanannya. Hasil kegiatan ini diharapkan dapat bermanfaat bagi anak-anak sekolah, guru, maupun masyarakat setempat, sehingga dapat meningkatkan keselamatan anak-anak sekolah dengan mengurangi risiko kecelakaan lalu lintas di area sekolah. Kata kunci: keselamatan anak sekolah; marka jalan; rambu lalu lintas. AbstractThe school area is always crowded during the hours of entry and exit, so it has the potential to cause traffic accidents. One solution to reduce the impact of traffic accidents is to make road markings. Road markings are one of the important factors in the safety, comfort, and order for road users, both for school children, teachers, and the local community. Road markings function as a traffic signal and a control and safety device for road users. The existing problem is that there are no road markings installed at SDN 04 Karangsari. So that the safety is not guaranteed, especially for school children, it is necessary to plan road marking facilities that meet the needs at SDN 04 Karangsari. The purpose of this community service activity is to provide road marking facilities to improve safety and provide a sense of security to school children when crossing. The solution to the problem given in this activity is to make road markings and install traffic signs such as crossing signs, caution signs and speed signs and involve active community participation in its implementation. The results of this activity are expected to be beneficial for school children, teachers, and the local community, so that it can improve the safety of school children by reducing the risk of traffic accidents in the school area. Keywords: road markings; school safety; traffic signs
