62 research outputs found
KASYF PHENOMENON IN THE DEFOCALIZATION OF RATIONALITY: A MAGICAL REALIST PERSPECTIVE ON GUS MUS’S GUS JAKFAR
Gus Jakfar won the best short story in Kompas daily in 2004. This short story by Gus Mus tells of the story of a character named Gus Jakfar who has the privilege of forseeing other people’s fate just by looking at ‘signs’ (kasyf). Later, Gus Jakfar stopped seeing signs after his trip to meet Kiai Tawakkal. The phenomenon of seeing precognitive signs cannot be rationally understood by modern knowledge. The study of Gus Jakfar in the present article adopts magical realism from Wendy B. Faris’ perspective as a theoretical framework to examine kasyf as a defocalization narrative in short stories. The method of this study is descriptive analysis. The evidence to support the analysis includes words, phrases and sentences in the short story that are relevant to magical realist perspective, particularly in relation to the five elements of magical realism and defocalization. The analysis and description are carried out after collecting pieces of evidence from the short story. The analysis in this study shows that Gus Jakfar has the five characteristics of magical realism in it. From the five characteristics reflected in the text, there is an element called kasyf that is found to be an attempt of defocalization which is presented by the author using a mirroring technique. Kasyf in this short story is depicted from three perspectives. Although modern rationality has influenced people's identities, the pesantren tradition has not been abandoned. In this context, the kasyf phenomenon is understood as an alternative source of magical knowledge beyond the modern rational knowledge
Patronase Dalam Rekrutmen Anggota Komisi Independen Pemilihan (KIP) Kabupaten Aceh Barat Daya Periode 2013-2018
Abstract: The recruitment of the member of Electoral Independent Commissionaire (KIP) of Aceh Barat Daya (Abdya) District from the period of 2013-2018 which is conducted by legislative (DPRK) Abdya shown the relation and interaction of power with the executive. One of the case is the dismissed of Muhammad Jakfar as the member of the Electoral Independent Commissionaire of the period 2013-2014 permanently in 2016 because of being involved the Aceh Party officials of the period 2011-2015. The election of Muhammad Jakfar at that time as the KIP’s member of the period 2013-2018 is interesting to study in the perspective of patronage. For that reason, the theory used in this study is theory of patronage. This research is used a qualitative descriptive approach method, which is construct the reality and process interactively. The findings of this research have shown the local head electoral (Pilkada) 2012 has drive the patronage in the recruitment of the member of KIP of Aceh Barat Daya district of the period of 2013-2018.Keywords: Aceh Barat daya (Abdya); Member of KIP; Patronage Abstrak: Rekrutmen anggota Komisi Independen Pemilihan (KIP) Kabupaten Aceh Barat Daya (Abdya) periode 2013-2018 yang dilaksanakan oleh Dewan Perwakilan Rakyat Kabupaten (DPRK) Abdya menunjukkan adanya relasi dan interaksi kekuasaan dengan lembaga eksekutif. Salah satunya adalah kasus pemberhentian Muhammad Jakfar oleh DKPP sebagai anggota KIP karena terlibat kepengurusan Partai Aceh Periode 2011-2015. Terpilihnya Muhammad Jakfar saat itu sebagai anggota KIP Aceh Barat Daya periode 2013-2018 menarik untuk dikaji dalam perspektif patronase. Teori yang digunakan dalam kajian ini adalah teori patronage. Kajian ini menggunakan metode pendekatan kualitatif deskriptif yaitu mengonstruksikan realitas dan proses secara interaktif. Dari hasil analisis, maka dapat dikatakan bahwa Pilkada Abdya tahun 2012 telah membuka ruang terjadinya patronase dalam rekrutmen anggota KIP Abdya periode 2013-2018.Kata kunci: Aceh Barat Daya (Abdya); Anggota KIP; Patronase
Potret Ajaran Tauhid dalam Hadist
This article focuses on exploring the depth of the teachings of Tawhid in the Hadiths of Prophet Muhammad SAW and their influence on individual Islamic practices. Through an analytical approach to related hadiths, this study aims to answer three critical questions: (1) What is the position of Tawhid teachings in the Hadiths of Prophet Muhammad SAW?; (2) What criteria for Islam protect an individual's soul and blood from the perspective of the hadiths?; and (3) How do the Hadiths of Prophet Muhammad SAW assess the religious status of a Muslim who commits sins? The findings of this study indicate that Tawhid plays a fundamental role in forming and understanding Islam, where the proclamation of the Shahada is emphasized as the main foundation. This research reveals that faith in Allah SWT is an absolute prerequisite for the acceptance of all other acts of worship. Furthermore, the study observes that while sinful actions do not erase one's Islamic status, the act of shirk (associating partners with Allah) can eliminate that religious status. However, the door of repentance is always open to every Muslim. These findings affirm the importance of the teachings of Tawhid as the core of religious practice.
Abstrak
Artikel ini berfokus pada eksplorasi kedalaman ajaran tauhid dalam hadis Nabi Muhammad SAW dan pengaruhnya terhadap praktik keislaman individu. Melalui pendekatan analitis terhadap hadis-hadis terkait, studi ini bertujuan menjawab tiga pertanyaan kritis: (1) Apa posisi ajaran tauhid dalam hadis Nabi Muhammad SAW?; (2) Bagaimana kriteria keislaman yang menjaga jiwa dan darah seseorang dalam pandangan hadis?; dan (3) Bagaimana hadis Nabi Muhammad SAW menilai status keberagamaan seorang muslim yang berbuat dosa? Hasil kajian ini menunjukkan bahwa tauhid berperan fundamental dalam pembentukan dan pemahaman keislaman, di mana pengucapan syahadat ditekankan sebagai fondasi utama. Penelitian ini mengungkap bahwa keimanan kepada Allah SWT adalah prasyarat mutlak untuk penerimaan seluruh amal ibadah lainnya. Lebih lanjut, studi ini melihat bahwa meskipun perbuatan dosa tidak menghapus status keislaman seseorang, perbuatan syirik dapat mengeliminasi status keberagamaan tersebut. Namun, pintu taubat selalu terbuka bagi setiap muslim. Temuan ini menegaskan pentingnya ajaran tauhid sebagai pusat dari praktik keagamaan
NILAI - NILAI PENDIDIKAN AKHLAK DALAM KHAZANAH KEILMUAN ISLAM (Studi Komparatif Kitab At Tibyan Fi Adabi Hamalatil Qur'an Dan Adabul Alim Wal Muta'alim)
Saat ini, pendidikan lebih mementingkan masalah yang bersifat materi dan ilmu pengetahuan dibandingkan etika, moral dan akhlak. Pendidikan harusnya dapat menyentuh berbagai aspek jasmani, rohani, moral, etika, psikis dan fisik. Jika tidak pendidikan tak ubahnya hanya sebuah pengajaran saja, dan tidak ada yang sampai sama sekali kepada peserta didik. Adapun tujuan pembahasan dalam penelitian ini adalah bagaimana nilai-nilai pendidikan akhlak dan perbedaan diantara kitab At Tibyan Fi Adabi Hamalatil Qur'an dan Adabul Al-’Alim Wa Al-Muta’alim untuk dianalisis kemudian dibandingkan.
Jenis penelitian ini adalah kepustakaan (buku) atau bisa disebut sebagai penelitian kepustakaan (library reseach) dalam kitab kitab At Tibyan Fi Adabi Hamalatil Qur'an dan Adabul Al-’Alim Wa Al-Muta’alim. Adapun analisis yang digunakan yakni analisis isi. Proses analisis dimulai dengan menelaah seluruh data yang diperoleh penulis dari berbagai sumber.
Berdasarkan temuan penelitian ini menunjukkan bahwa: 1) Nilai-nilai pendidikan akhlak dalam kitab At Tibyan Fi Adabi Hamalatil Qur'an meliputi: a) Berniat Mengharap Ridha Allah Semata, b) Tidak Mengharap Hasil Duniawi, c) Waspadai Sifat Sombong dan
d) Menghiasi Diri Dengan Akhlak Terpuji, 2) Nilai-nilai pendidikan akhlak dalam kitab Adabul Alim Wal Mutaalim meliputi: Pertama, pendidikan akhlak bagi pelajar, yaitu; a) Membersihkan hati, b) Menata niat c) Memanagemen waktu, d) Bersederhana, e) Menghindari bermalas-malasan, f) Menjaga pergaulan. g) Menghormati guru. Kedua, pendidikan akhlak bagi pengajar, adapun pendidikan akhlak bagi pengajar yaitu; a) Mendekatkan diri kepada Allah SWT, b) Takut kepada Allah SWT, c) Bersikap tenang, wira’i, tawadlu’, dan tawakal kepada Allah SWT, d) Tidak menggunakan ilmu utuk keduniawian, e) Berperilaku Zuhud, f) Menghindari tempat-tempat maksiat, g) Istiqomah dalam berdakwah, h) Bersikap ramah dan bijaksana, i) Bersuci dari hadast dan najis, j) Menghindari perbuatan tercelah, k) Menumbuhkan semangat kepada peserta didik, 3) Persaman sama-sama secara umum membahas mengenai adab-adab bagi seorang peserta didik dan pendidik dan juga memberikan penjelasan nilai-nilai pendidikan akhlak pada kedua kitab yakni Kitab At Tibyan Fi Adabi Hamalatil Qur'an Karya Imam Abu Zakaria Yahya Bin Syaraf An Nawawi dan kitab Adabul Al-’Alim Wa Al-Muta’alim karya KH. Muhammad Hasyim Asy’ari. Perbedaannya: a) Dalam kitab Al-Tibyan Fi Adabi Hamalati Qur’an tidak menjelaskan secara terperinci adab-adab yang harus dilakukan oleh seorang pelajar seperti yang ada di dalam kitab Adabul Al-’Alim Wa Al-Muta’alim, b) Pembahasan di dalam kitab Al-Tibyan Fi Adabi Hamalati Qur’an lebih memfokuskan pembahasan hanya dalam ruang lingkup belajar Al-Qur’an secara rinci baik dari segi muamalah maupun keutamaan bagi orang yang belajar dan mengajarkan ilmu Al-Qur’an, c) Dalam kitab Al- Tibyan Fi Adabi Hamalati Qur’an tidak ada penjelasan adab bagi rekan belajar seperti yang ada di dalam kitab Adabul Al-’Alim Wa Al-Muta’alim
Ruang Fungsi Terintegralkan p Berbobot
Pada artikel [2], telah berhasil didefinisikan suatu hasil kali dalam berbobot pada ruang L^p(X) untuk p>2. Oleh karena itu, inilah pertamakali kita pandang ruang L^p(X) untuk p>2 sebagai ruang hasil kali dalam. Dalam artikel ini, kita akan menunjukkan bahwa hasil kali dalam berbobot terdefinisi pada ruang yang lebih besar dari pada L^p(X) . Kita juga akan mempelajari hubungan ruang L^p(X) dengan ruang yang lebih besar tersebut dan menemukan banyak hasil yang menarik lainnya
Ruang Fungsi Terintegralkan p Berbobot
Pada artikel [2], telah berhasil didefinisikan suatu hasil kali dalam berbobot pada ruang L^p(X) untuk p>2. Oleh karena itu, inilah pertamakali kita pandang ruang L^p(X) untuk p>2 sebagai ruang hasil kali dalam. Dalam artikel ini, kita akan menunjukkan bahwa hasil kali dalam berbobot terdefinisi pada ruang yang lebih besar dari pada L^p(X) . Kita juga akan mempelajari hubungan ruang L^p(X) dengan ruang yang lebih besar tersebut dan menemukan banyak hasil yang menarik lainnya
ANALISIS PENGARUH HARMONISA PADA TRANSFORMATOR DISTRIBUSI GEDUNG DINAS CIPTA KARYA, TATA RUANG, DAN PERTANAHAN PEMERINTAH PROVINSI DKI JAKARTA
PEMBELAJARAN SAINS DENGAN MENGGUNAKAN PENDEKATAN KETERAMPILAN PROSES DI SD NEGERI 68 BANDA ACEH
Kata Kunci: pendekatan keterampilan proses, pembelajaran sains Penelitian yang berjudul "Pembelajaran sains dengan menggunakan pendekatan keterampilan proses di SD Negeri 68 Banda Aceh". Permasalahan dalam penelitian ini adalah "bagaimana aktivitas guru dan siswa dalam pembelajaran, apakah hasil beJajar siswa dapat ditingkatkan? dan bagaimana respon siswa dalam pembelajaran". Adapun tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui aktivitas guru dan siswa selama pembelajaran betlangsung, peningkatan basil belajar siswa dan respon siswa terhadap pembelajaran. Dengan subjek penelitian meliputi siswa kelas V SD Negeri 68 Banda Aceh tahun ajaran 2009/2010, yang berjumlah 14 siswa dibagi da1am 3 kelompok, untuk dua kelompok masing-masing terdiri dari 5 siswa, dan satu kelompok terdiri 4 siswa. Metode yang digunakan adalah metode statistik deskriptif. Aktivitas guru selama pembelajaran pada siklus I mencapai 54% da1am kategori baik, pada siklus II mencapai 75% dalam kategori baik, dan pada siklus III terjadi peningkatan yang cukup signifikan mencapai 89% dalam kategori sangat baik. Aktivitas siswa pada Siklus I mencapai 56,81%, mengalami peningkatan pada Siklus II mencapai 72,72% dan pada Siklus ill mencapai 86,63%. Hasil evaluasi belajar siswa pada Siklus I mencapai 42,85% yang tuntas belajar sebanyak 6 siswa, sedangkan 57,15% dikatakan tidak tuntas belajarnya sebanyak 8 siswa sehingga pembelajaran pada Siklus I dikatakan belum tuntas. Pada siklus II hasil evaluasi belajar siswa mencapai 78,57% yang tuntas belajar sebanyak 11 siswa, sedangkan 21,43% dikatakan tidak tuntas belajarnya sebanyak. 3 siswa. Pada Siklus ill basil evaluasi siswa mencapai l 00% yang tuntas belajar sebanyak 14 siswa dan 0% yang tidak tuntas belajamya, sehingga pembelajaran pada Siklus III dikatakan sudah tuntas. Tanggapan siswa terhadap pembelajaran dengan roenggunak an pendekatan keterampilan proses adalah siswa mudah memahami materi pelajaran dan senang dalam belajar. Tanggapan guru terhadap pembelajaran konsep cahaya dan sifatnya dengan metode tersebut dapat mengaktifkan siswa belajar dan meningkatkan basil belajar siswa
- …
