405 research outputs found
TEORI EKONOMI FASE KEDUA (AL-GAZALI)
Al-Gazali adalah Abu Hamid Muhammad bin Muhammad bin at-Tusi al-Gazali, digelar Hujjah al-Islam, lahir di Ghazaleh suatu desa dekat Thus, bagian dari kota Khurasan, Iran pada tahun 450 H/1056 M.
Al-Gazali berada dalam era kehidupan ekonomi Islam era feodal militer atau perbudakan. Era ini ditandai dengan dominasi kehidupan agraris yang dikendalikan oleh pihak penguasa yang selalu mengawasi kegiatan para buruh
Pemahaman Tekstual Dan Kontekstual Terhadap Sunnah Nabi (Studi Kritis atas Pemikiran Syaikh Muhammad Al-Gazali)
Hadis is regarded as the second source of Islam beside al-Quran. Most of Moslems believe that thousands of hadis collected in some hadis books were originally words of Muhammad saw. It’s Muhammad al- Gazali who reaffirmed the originality of hadis. In his opinion, hadis should be seen in two aspect; texts and context. According to al-Gazali, many of muhaddisun ignored these aspects. Thus, the meaning of hadis lost its moral force and tends to be textual. Therefore the spirit of hadis sometimes is not relevant with current issues. For this reason al-Gazali explored and examined the originality of matan. In his opinion, hadis cannot be categorized shahih if its contents are again the Qur’ani messages
Hadis nabi menurut perspektif Muhammad Al-Gazali dan Yusuf Al-Qarawi: Diskursus tentang otoritas autentitas dan aplikasinya
Buku ini membahas tentang hadis dan kehujjahaannya, pemikiran hadis muhammad al-gazali, profil syaikh yusuf al-arawi, pemikiran syaikh yusuf al-arawi.x, 230 hlm, 14cm x 21c
Proseminararbeit: Al-Gazali
In der islamischen Tradition gibt es eine Überlieferung, nach der zu Beginn eines jeden Jahrhunderts eine Person in
Erscheinung tritt, um den Islam zu reinigen und zu beleben.
Für den Jahrhundertwechsel vom 5. zum 6. Jahrhundert nach der Hedschra wird diese Rolle oft Abu Hamid Muhammad ben Muhammad al-Tusi al Gazali zugeschrieben.Zur gleichen Zeit tritt auch der Sufismus verstärkt in den Vordergrund. Durch die Tatsache, daß sich die dogmatische Theorie zunehmend in Details verrätselt, gewinnt die islamische Mystik an Gewicht. Die Menschen üben sich in Askese und Meditation und versuchen so Gott näher zu kommen, Gott zu "schauen".
In diese Welt voll verschiedener Strömungen wird nun Al-Gazali hineingeboren. Im Laufe seines Lebens wird er versuchen alle verschiedenen Richtungen kennen zu lernen, um dann seinen Weg zu finden. Sein Leben war ein ewiges Suchen nach einer für ihn annehmbaren Wahrheit
Proseminararbeit: Al-Gazali
In der islamischen Tradition gibt es eine Überlieferung, nach der zu Beginn eines jeden Jahrhunderts eine Person in
Erscheinung tritt, um den Islam zu reinigen und zu beleben.
Für den Jahrhundertwechsel vom 5. zum 6. Jahrhundert nach der Hedschra wird diese Rolle oft Abu Hamid Muhammad ben Muhammad al-Tusi al Gazali zugeschrieben.Zur gleichen Zeit tritt auch der Sufismus verstärkt in den Vordergrund. Durch die Tatsache, daß sich die dogmatische Theorie zunehmend in Details verrätselt, gewinnt die islamische Mystik an Gewicht. Die Menschen üben sich in Askese und Meditation und versuchen so Gott näher zu kommen, Gott zu "schauen".
In diese Welt voll verschiedener Strömungen wird nun Al-Gazali hineingeboren. Im Laufe seines Lebens wird er versuchen alle verschiedenen Richtungen kennen zu lernen, um dann seinen Weg zu finden. Sein Leben war ein ewiges Suchen nach einer für ihn annehmbaren Wahrheit
Hadis Nabi menurut perspektif Muhammad Al-Gazali dan Yusuf Al-Qarawi : diskursus tentang otoritas, autentisitas dan aplikasinya
Dua karya besar dibidang kajian otoritas dan autensitas hadis tersaji ditahun 1989.pada prinsipnya pemahaman atau cara berinteraksi dengan hadis nabi yang ditawarkan oleh muhammad al-gazali dan yusuf al-qarawix,230.:14c
Hadis nabi menurut perspektif muhammad al-gazali dan yusuf al-qarawi : diskursus tentang otoritas. autentisitas dan aplikasinya
Dua karya besar dibidang kajian otoritas dan autensitas hadis tersaji di tahun 1989, pada prinsipnya pemahaman atau cara berinteraksi dengan hadis nabi yang di tawarkan oleh muhammad al-gazali dan yusuf al-qarawix,230 hlm.;14 c
Pemikiran Ali Muhammad Ash-Shallabi Tentang Kedudukan dan Perannya di Ranah Publik
Artikel ini bertujuan untuk mengeksplorasi pemikiran Ali Muhammad Ash-Shallabi dalam memahami kedudukan wanita dalam domestik, kedudukan wanita di ranah publik dan tipologi dalam memahami dalil-dalil tentang wanita. Adapun metode penelitian dalam artikikel ini deskriptif-analitis yang bearti menggambarkan kontruksi dari pemikiran Muhammad Ash-Shallabi, lalu di analisis secara kritis untuk mencari akar konstruksi pemikirannya, serta bagaimana kelebihan dan kekurangan dengan tokoh yang lainnya. Seterusnya, sumber data yang hendak penulis teliti yaitu†Negara Islam Modern†karangan yang penulis jadikan sebagai data primer, sedangkan data sekunder penulis yakni, karya ilmiah orang lain tentang Ali Muhammad Ash-Shallabi, yang berupa arikel, buku, webseit dan laiinya.Langkah penelitian ini yaitu, menetapkan tokoh, mengiventarisasi data dan menyeleksi, lalu data tersebut di analisis secara kritis dan di tarik sebuah konklusi yang akan menjawab dari rumusan masalah. Adapun hasil temuan sebagai berikut:, Pemahaman Ali Salaby dalam kedudukan wanita dalam ranah domestik yakni, Ali lebih kepada memberikan edukasi kepada kaum perempuan bahwa mereka mempunyai harga diri untuk di hormati, di hargai, di sayangi dan hak membela diri. Akan tetapi Ash-Shallabi dalam ranah publik Ali Muhammad Ash-Sahallabi berpendapat bahwa, perempuan harus lebih berhati-hati dalam pergaulan. Menurutnya, perempuan hanya boleh dalam pergaulan sosial dalam masalah yang penting dan bermanfaat saja, semisal majelis ilmu, kebutuhan mendesak, dan harus menjaga cara bicara dan gaya berjalan. Tipologi pemahaman Ash-Shallabi dalam memahami dalil kedudukan perempuan yakni cendrung semmi modernis (feminis Muslim), komparasi dan konfirmasi dengan tinjuan sejarah dalam al-Qur’an maupun hadis. Selanjutnya, pemikiran semmi moderat Ash-Shallabi di latar belakangi dengan sosialnya yang ahli politik dan beliau juga tokoh dalam kelompok gerakan Salafi di Libiya dan dekat denga Syekh Yusuf al-Qaradawi. Kesimpulan, Kedudukan perempuan dalam rumah tangga di muliakan, diberikan edukasi, dan di berikan hak-hak mereka dalam membela diri. Sedangkan dalam ranah sosial yakni, perempuan harus berhati-hati dalam pergaulan, akan tetapi hak mereka sama dengan laki-laki, baik dalam pendidikan dan sebagainya. Selain itu tipologi Ash-Shallabi cendrung semi modernis.Â
PEMIKIRAN MUHAMMAD AL-GAZALI TENTANG KRITIK MATN DALAM BUKU AS-SUNNAH AN NABAWIYYAH BAIN AHL AL-FIQH WA AHL AL HADIS
Penelitian ini mengkaji pemikiran Muhammad al-Gazali mengenai kritik matn hadis sebagaimana tertuang dalam bukunya As-Sunnah an-Nabawiyyah bain Ahl al-Fiqh wa Ahl al-Hadis. Latar belakang penelitian ini didasarkan pada kenyataan bahwa kritik hadis tradisional lebih menitikberatkan pada sanad, sementara aspek matn sering dianggap sekunder. Muhammad al-Gazali menolak pandangan tersebut dengan menekankan bahwa betapapun kuatnya sanad suatu hadis, jika matn-nya bertentangan dengan al-Qur’an, akal sehat, dan fakta sejarah, maka hadis tersebut tidak dapat dijadikan hujjah.
Penelitian ini menggunakan metode penelitian kepustakaan dengan pendekatan deskriptif-analitik. Sumber primer berupa buku As-Sunnah an-Nabawiyyah serta karya al-Gazali lainnya, sedangkan sumber sekunder adalah literatur yang relevan dengan kritik matn dan metodologi hadis.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa al-Gazali menempatkan al-Qur’an sebagai tolok ukur utama dalam menilai validitas matn hadis, diikuti dengan keselarasan dengan riwayat lain yang sahih serta pertimbangan akal sehat. Kritik matn yang dilakukannya terutama ditujukan pada hadis-hadis ahad, bukan mutawatir. Pandangannya memunculkan pro dan kontra di kalangan ulama; sebagian menilai pendekatannya rasional dan relevan dengan kebutuhan modern, sementara yang lain menuduhnya dekat dengan metodologi orientalis. Meski demikian, pemikiran al-Gazali menegaskan pentingnya keseimbangan antara sanad dan matn dalam penelitian hadis, sekaligus memperluas perspektif umat Islam dalam memahami Sunnah Nabi secara kontekstual dan kritis
Stabilitas Sumber Daya Manusia (SDM) Pesantren; Dan Konsep Epistimologi Pesantren ala Imam al-Gazali
Degradasi suatu lembaga pendidikan terkadang mengalami pasang surut, tidak terkecuali pondok pesantren secara virtual. penyebabnya pun muncul berbagai disparitas. Salah satunya adalah sumber daya manusia (SDM) yang berperan secara internal dan eksternal pesantren. bukan karena tidak memiliki pengetahuan, tetapi kurangnya keistiqamahan dalam menanamkan nilai-nilai dan prinsip-prinsip pesantren. akhirnya, stabilitas pesantren pun melemah, kacau dan tidak bisa berkembang. Bahkan ada yang “gulunug tikar” karena fungsi SDM-nya tidak sejalan dengan visi-misi pesantren. karena itu, pesantren adalah lembaga edukasi yang tepat untuk memahami stabilitas itu, mengapa nilai-nilai pesantren dianggap urgen. Konsep epistimologi al-Gazali dianggap tepat untuk menelaah, merenungi dan mengaktualisasikan dalam sehari-hari, baik di dalam maupun di luar lingkup pesantren. untuk menjawab tujuan penelitian itu, dalam kepustakaan ini, digunakan sajian kualitatif (library research), yaitu penampilan argumentasi penalaran keilmuan melalui data primer dan sekunder terhadap terhadap konsep epistimologi pesantren ala al-Gazali, serta data yang ada relevansinya dengan topik kajian. Temuan dalam penelitian ini memperlihatkan bahwa konsep epistimologi pesantren imam al-Gazali dianggap mampu meneguhkan nilai-nilai suatu pesantren yang tidak hanya berpihak pada urusan duniawi tetapi juga ukhrawi. Secara garis besar alur ide imam al-Gazali menjadikan ilmu itu sebagai muara ber-taqarub kepada Allah swt. Tentunya akan menjadikan seseorang itu menjadi insan kamil, khususnya SDM pesantren yang terlibat dalam menjaga stabilitas internal maupun eksternal
- …
