63 research outputs found

    Integrasi ilmu agama Islam dan sains dalam pendidikan perspektif Muhammad Fethullah Gulen

    No full text
    Skripsi ini memfokuskan pada hakikat dan pengintegrasian ilmu agama Islam dan sains dalam pendidikan perspektif Muhammad Fethullah Gulen. Untuk mengupas integrasi itu, penelitian skripsi ini memunculkan rumusan masalah sebagai berikut: pertama, bagaimana hakikat ilmu agama Islam menurut Muhammad Fethullah Gulen? Kedua, bagaimana pandangan Muhammad Fethullah Gulen terhadap sains? Ketiga, bagaimana integrasi ilmu agama Islam dan sains dalam pandangan Muhammad Fethullah Gulen? Untuk mendapatkan kesimpulan, skripsi ini mengunakan pendekatan historis, metode kepustakaan, dan analisis pemikiran tokoh. Setelah data terkumpul dan tercatat dengan baik, maka langkah selanjutnya adalah menganalisa data. Proses analisa data dimulai dari menelaah seluruh data yang tersedia dari berbagai sumber, yaitu buku karya Muhammad Fethullah Gulen dan tokoh-tokoh yang membahas tentang pendidikan Islam dan sains dalam pandangan Muhammad Fethullah Gulen. Dari data-data yang dikumpulkan dan dianalisis, ditemukan hasil sebagai berikut: ilmu agama Islam menurut Gulen adalah salah satu bidang pelajaran pokok yang harus dipelajari oleh peserta didik, yang bertujuan untuk meningkatkan keimanan dan ketakwaan peserta didik. Sedangkan sains mengarahkan kecerdasan menuju kebahagian akhirat tanpa mengharapkan keuntungan materi, melakukan pengkajian tak kenal lelah dan terperinci tentang alam semesta untuk menemukan kebenaran mutlak yang mendasarinya. Dalam pengintegrasiannya Gulen mengusulkan sebuah sistem pendidikan yang mengintegrasikan ilmu pengetahuan dengan nilai-nilai moral. Yakni dengan mendirikan lembaga pendidikan sekolah modern yang berbasis ilmu pengetahuan dan ilmu agama

    Islamic Civilization According to Muhammad Fethullah Gulen

    No full text
    This article describes the confusion of the West phenomenon which is often declared by the glorious civilization according to modern society. But, Islam as a great religion is known to be a backward civilization and left behind from the West. A Turkish scholar named Muhammad Fethullah Gulen observed this phenomenon and tries to declare that the Islamic civilization is not backward. This type of research is library research, listing all literature and data related to Gulen’s perspective in the concept of Islamic civilization development. Researchers used descriptive-analysis methods to describe and analyze the concept of Islamic civilization according to Gulen and how to build it. The Researcher concludes that the pillars of Islamic civilization according to Muhammad Fethullah Gulen include four pillars, moral-spiritual, aesthetics, and love for the Creator

    Islamic Civilization According to Muhammad Fethullah Gulen

    No full text
    This article describes the confusion of the West phenomenon which is often declared by the glorious civilization according to modern society. But, Islam as a great religion is known to be a backward civilization and left behind from the West. A Turkish scholar named Muhammad Fethullah Gulen observed this phenomenon and tries to declare that the Islamic civilization is not backward. This type of research is library research, listing all literature and data related to Gulen’s perspective in the concept of Islamic civilization development. Researchers used descriptive-analysis methods to describe and analyze the concept of Islamic civilization according to Gulen and how to build it. The Researcher concludes that the pillars of Islamic civilization according to Muhammad Fethullah Gulen include four pillars, moral-spiritual, aesthetics, and love for the Creator

    BUILDING ISLAMIC CIVILIZATION ON THE PERSPECTIVE OF MUHAMMAD FETHULLAH GULEN

    No full text
    ABSTRAK MEMBANGUN PERADABAN ISLAM MENURUT MUHAMMAD FETHULLAH GULEN Umi Nur Hasanah 362015220446 Pada abad ke 21 Barat sering dikonotasikan sebagai umat yang mempunyai peradaban gemilang ditengah huru-hara kehidupan dunia. Masyarakat yang hidup modern, gedung�gedung tinggi, senjata perang yang canggih, dan generasi milenial Barat seakan menjadi acuan pandangan bangsa lain akan arti peradaban yang maju. Islam sebagai agama yang paling banyak pengikutnya dikatakan mempunyai peradaban yang mundur, bahkan ada yang menyatakan bahwa peradaban Islam adalah peradaban yang berjalan ke belakang. Seorang ulama Turki yang bernama Muhammad Fethullah Gulen mengamati fenomena tersebut. Gulen berusaha untuk menunjukkan kepada dunia bahwa peradaban Islam bukanlah peradaban yang mundur. Untuk membangun peradaban, Gulen menawarkan beberapa cara, salah satunya adalah dengan mendidik generasi muda berdasarkan ilmu pengetahuan tang diintegrasikan dengan ilmu agama. Berangkat dari latar belakang tersebut penulis berusaha untuk menganalisa asas-asas pembangunan peradaban Islam menurut Muhammad Fethullah Gulen. Jenis penelitian ini merupakan library research, mendata semua literature dan data yang berkaitan dengan Gulen dalam pembangunan peradaban Islam. Kemudian menggunakan metode deskriptif�analisis, metode deskriptif untuk mendeskripsikan pilar peradaban menurut Muhammad Fethullah Gulen yang kemudian dianalisis dengan pendekatan filosofi, memelalui proses kolektif-selektif-kreatif yang dinamakan Islamisasi. Internalnya bersumber dari Al-Qur’an and Hadits dan eksternalnya adalah peradaban-peradaban asing kemudian terjadilah suatu proses pengambilan, pengumpulan, penyaringan, dan rekacipta. Dalam penelitian ini, penulis membagi menjadi empat bab. Bab pertama adalah latar belakang masalah, kemudian biografi dan pengertian membangun peradaban Islam menurut para cendekiawan, serta pembahasan yang tentang asas-asas pembangunan peradaban Islam menurut Gulen, dan terakhir adalah kesimpulan dan penutup. Setelah melakukan analisa peradaban Islam menurut Gulen dan cara membangunnya kembali, penulis menyimpulkan bahwa pilar peradaban Islam menurut Muhammad Fethullah Gulen mencakup empat pilar. Yang pertama adalah moral-spiritual sebagai landasan berperilaku, sumber dari segala kebaikan, dan dasar utama untuk mempelajari ilmu pengetahuan yang bersumber dari agama. Islam sebagai agama yang berlandaskan atas kedalaman spiritual merupakan agama yang tepat untuk membangun peradaban. Yang kedua adalah pengetahuan yang seimbang antara ilmu umum dan ilmu agama, karena sejatinya agama telah mencakup segala aspek kehidupan termasuk ilmu pengetahuan. Yang ketiga adalah estetika, keindahan yang bersumber dari Ruh Illahi yang diwujudkan sebagai akhlaqul karimah akan menjadi pioner keharmonisan masyarakat. Yang keempat adalah cinta kepada Sang Pencipta, jika manusia telah mencintai Penciptanya, maka manusia juga akan saling mencintai dan menghormati satu sama lain. Muhammad Fethullah Gulen memberikan kontribusi terhadap dunia berupa gerakan pembentukan Golden Generation dan Gulen Inspired School. Kata kunci: peradaban Islam, moral, ilmu pengetahuan, spiritua

    Konsep Muraqabah dan Pencapaian Personalitas Kolektif dalam Pemikiran Tasawuf Muhammad Fethullah Gulen

    No full text
    The basic of Islamic Sufism thought is how to develop human spiritual awareness. In Muhammad Fethullah Gulen's view, Sufism's thought has the urgency of increasing individual spirituality until the collective spiritual personality of Muslims is realized. This collective personality will emerge from the muqarabatullah person, who believes that his life is always under the supervision of Allah. This article discusses the concept of Muraqabah and the formation of a perfect human in the perspective of Muhammad Fethullah Gulen. This study focuses on a literature review that try to describe and analyze the realm of Sufism studies on Muhammad Fethullah Gulen through his works and other writings relevant. Conceptually, Gulen said that Muraqabah is an important element in the study of Sufism which is built on total awareness that humans are always under the supervision of Allah. The predicate of muqarabatullah will be possible to achieve through belief that Allah is always present, looking and seeing in detail our lives, both physically and spiritually. Then put your trust in Allah and open your heart to receive the abundance of divine grace with patience and steadfastness. Gulen stated that achieving this level of faith would make the collective spiritual problems of the Muslim community complete. Abstrak: Dasar utama dari pemikiran tasawuf Islam adalah bagaimana membangkitkan kesadaran spiritual manusia. Dalam pandangan Muhammad Fethullah Gulen, pemikiran tasawuf memiliki urgensitas dalam peningkatan spiritualitas individual hingga terwujud personalitas spiritual kolektif muslim. Personalitas kolektif atau collective personality ini akan muncul dari insan muqarabatullah, yang meyakini bahwa hidupnya selalu dalam pengawasan Allah. Artikel ini membahas tentang konsep muraqabah dan pembentukan manusia paripurna dalam perspektif Muhammad Fethullah Gulen. Kajian ini difokuskan pada kajian kepustakaan yang mencoba mendeskripsikan dan menganalisis ranah kajian tasawuf Muhammad Fethullah Gulen melalui karya dan tulisannya yang relevan. Secara konseptual Gulen menyampaikan bahwa Muraqabah adalah salah satu elemen penting dalam kajian tasawuf yang dibangun atas kesadaran total bahwa manusia selalu dalam pengawasan Allah. Predikat muqarabatullah akan mungkin digapai melalui keyakinan bahwa Allah selalu hadir, memandang dan melihat secara detail kehidupan kita lahir dan batin. Kemudian bertawajuh kepada Allah dan membuka hati menerima limpahan anugerah ilahi dengan penuh kesabaran dan keteguhan. Gulen mengemukakan bahwa pencapaian level keimanan ini akan mewujudkan persoalitas spiritual kolektif komunitas muslim menjadi paripurna

    Actualizing sufistic concept of Muhammad Fethullah Gulen at Jakarta Fethullah Gulen Chair

    No full text
    Sufism is generally identified with the system of spiritual practice. Useful to appease hearts and mind, purify the soul from the influence of the material, creating a balance between physical and spiritual life by constantly surrendered to Allah, In the development of Sufism is divided between the concept of movement, Sufism not only focus on the individual but also pay attention to the social good and build civilization. Nowadays Sufism should be able to practical and positive impact on the community and grow spiritually grounded. Muhammad Fethullah Gulen offers building Sufi conception to its emphasis on the social dimension in Sufism, Gulen said that the practical dimensions of Sufism is more important than the historical definitions and terminologies. He put Sufism as the Islamic spirituality or a spirituality training process of the Muslims. Therefore it becomes a process of spiritual development throughout human life that demands the participation of every individual in it. In the form of concrete, spirituality Gulen's teachings were able to put Muslims in the context of modern life with a dialogue between Sufism and modernity. In its application Gulen create institutions in many countries one of them is Indonesia with a focus on the activities of social and inter-religious peace dialogue to create a harmony to the institution named Fethullah Gulen Chair. The focuses of this study were (1) What is the concept of Sufi Muhammad Fethullah Gulen? (2) What is the actualization Sufistic concept of Muhammad Fethullah Gulen at Jakarta Fethullah Gulen Chair? This research is research literature (library research) and field research (field research), thus obtained comes from the study of texts or books that are relevant to the subject of the above problems as well by performing a step-by-step collection, classification and analysis or data processing , make conclusions and report with the main objective to make describe a situation objectively from a description. Here is the object of the study is thought Sufi Muhammad Fethullah Gulen and Fethullah Gulen Chair Jakarta as a form of institution. Data collection method used is to obtain primary data through the works of Fethullah Gulen and the data of the secondary in the form of comments from the followers of Gulen and scholars towards thinking through books, magazines, papers symposia internationally and also observation, documentation and interview. Then the data analysis applied in this study is an analysis of the data model flows (flow model), through a three-step analysis, data reduction, data presentation and conclusion. Results from this study is the first, Sufism as a lifestyle in which the conception of the stretcher is esotericism that wants to be active and engaged in society but also remain active every practice that exists in Sufism collected in a maqomat and happenings can be implemented in everyday life so that it can foster positive attitudes in themselves and the surrounding community for the realization of ihsan kamil. Both mahabbah as the basis of peace and devotion will give birth to human relationships and God in an action that has a spiritual soul, highlighting their shared interest in bringing about peace and devotion dynamic

    Jihad dalam Perspektif Muhammad Fethullah Gulen

    No full text
    Abstract: According to Fethullah Gulen, Jihad in a muslim spiritual life is a process to know closer one’s God. There are two kinds of jihad in his opinion; major jihad which is a jihad for oneself and minor jihad, which is directed toward others. Jihad toward oneself is considered a major jihad because it is directed to fight against one’s destructive ego as well as negative thought. Such things could deny a muslim to attain the ultimate perfection. By subduing oneself negative aspects, he or she will discover his/her true identity and finally discover and love his/her God.by doing so, he or she will get spiritual happiness. In contrast, minor jihad is an active fulfilment of a Muslim toward his or her religion. Major jihad influences dearly to minor jihad. Both jihads should work hand in hand. While major jihad has spiritual nature, minor jihad is physical. A good muslim will always perform jihad so that he or will have a balance of spiritual and physical life.&#x0D; Key words: Jihad, Muhammad Fethullah Gulen.&#x0D; Abstrak: Jihad dalam pandangan Fethullah Gulen merupakan sebuah proses dalam kehidupan seorang muslim agar lebih dekat dan mengenal Allah. Menurutnya, ada dua kategori jihad, yakni jihad besar yang merupakan jihad terhadap diri sendiri dan jihad kecil yang merupakan jihad terhadap orang lain. Jihad terhadap diri sendiri masuk dalam kategori jihad besar karena memerangi ego, emosi dan pikiran yang negatif dalam diri manusia sebagai upaya mengatasi hambatan antara diri sendiri dan jati dirinya, mengenali jiwa, dan akhirnya mengenali Tuhan, mencintai Tuhan, dan berbahagia secara spiritual. Sedangkan jihad kecil merupakan pemenuhan aktif seseorang terhadap perintah dan tugas dalam Islam, proses untuk membuat orang lain bisa mencapai jati dirinya didasarkan pada mengatasi hambatan antara manusia dan keimanan sehingga mereka dapat memilih secara bebas untuk beriman atau tidak beriman. Jihad yang pertama kali harus dilakukan adalah jihad besar, karena ia memiliki pengaruh yang signifikan bagi jihad kecil. Jihad dalam Islam yang menekankan pada harmonisasi antara jihad besar yang bersifat batiniah dan jihad kecil yang bersifat lahiriah, maka orang beriman yang selalu berjihad, baik jihad kecil maupun besar, akan memiliki keseimbangan fisik dan spiritual yang sangat bagus.&#x0D; Kata Kunci: Jihad, jihad besar, jihad kecil, Muhammad Fethullah Gulen.</jats:p

    Jihad dalam Perspektif Muhammad Fethullah Gulen

    No full text
    Abstract: According to Fethullah Gulen, Jihad in a muslim spiritual life is a process to know closer one’s God. There are two kinds of jihad in his opinion; major jihad which is a jihad for oneself and minor jihad, which is directed toward others. Jihad toward oneself is considered a major jihad because it is directed to fight against one’s destructive ego as well as negative thought. Such things could deny a muslim to attain the ultimate perfection. By subduing oneself negative aspects, he or she will discover his/her true identity and finally discover and love his/her God.by doing so, he or she will get spiritual happiness. In contrast, minor jihad is an active fulfilment of a Muslim toward his or her religion. Major jihad influences dearly to minor jihad. Both jihads should work hand in hand. While major jihad has spiritual nature, minor jihad is physical. A good muslim will always perform jihad so that he or will have a balance of spiritual and physical life. Key words: Jihad, Muhammad Fethullah Gulen. Abstrak: Jihad dalam pandangan Fethullah Gulen merupakan sebuah proses dalam kehidupan seorang muslim agar lebih dekat dan mengenal Allah. Menurutnya, ada dua kategori jihad, yakni jihad besar yang merupakan jihad terhadap diri sendiri dan jihad kecil yang merupakan jihad terhadap orang lain. Jihad terhadap diri sendiri masuk dalam kategori jihad besar karena memerangi ego, emosi dan pikiran yang negatif dalam diri manusia sebagai upaya mengatasi hambatan antara diri sendiri dan jati dirinya, mengenali jiwa, dan akhirnya mengenali Tuhan, mencintai Tuhan, dan berbahagia secara spiritual. Sedangkan jihad kecil merupakan pemenuhan aktif seseorang terhadap perintah dan tugas dalam Islam, proses untuk membuat orang lain bisa mencapai jati dirinya didasarkan pada mengatasi hambatan antara manusia dan keimanan sehingga mereka dapat memilih secara bebas untuk beriman atau tidak beriman. Jihad yang pertama kali harus dilakukan adalah jihad besar, karena ia memiliki pengaruh yang signifikan bagi jihad kecil. Jihad dalam Islam yang menekankan pada harmonisasi antara jihad besar yang bersifat batiniah dan jihad kecil yang bersifat lahiriah, maka orang beriman yang selalu berjihad, baik jihad kecil maupun besar, akan memiliki keseimbangan fisik dan spiritual yang sangat bagus. Kata Kunci: Jihad, jihad besar, jihad kecil, Muhammad Fethullah Gulen

    Cahaya abadi Muhammad Sallallahu 'Alaihi Wassalam: kebanggan umat manusia 2

    No full text
    Meski terjadi berbagai bentuk kerusakan di zaman ini, kita semua masih tetap dapat mendengar seruan azan "Asyhadu anna Muhammadan Rasul Allah (Aku bersaksi bahwa Muhammad adalah Utusan Allah)" dari setiap menara masjid di seluruh penjuru dunia. Kita juga masih dapat menyaksikan betapa "Spirit Muhammad" (Ar-Ruh Al-Muhammadiyyah) tidak pernah henti membuka cakrawala pemikiran manusia di seluruh penjuru dunia, untuk kemudian membenamkan kita dalam rindu-dendam ruhani kita di 5 kali shalat kita setiap hari. Meski musuh-musuh Allah tidak pernah berhenti melakukan perusakan dan penyesatan di mana-mana, tapi di masa kini kita dapat melihat betapa banyak pemuda di usia produktif yang meskipun tidak pernah mengenal betul Hakikat Pribadi Muhammad Saw., ternyata mereka tetap berlomba-lomba berusaha mendekati kepribadian Rasulullah untuk kemudian berkerumun mengelilingi sumber cahaya. Itulah kekuatan gravitasi jiwa penuh kasih sayang yang dimiliki Rasulullah Saw.. Cahaya Abadi Bagi Seluruh Umat Manusia. Buku karya Hojaefendi Muhammad Fethullah Gulen ini bukan hanya sakadar Sirah Nabawiyyah yang biasa kita kenal, tetapi membawa kita kepada pemahaman yang hakiki mengenai siapa Muhammad Saw. Cahaya Abadi Bagi Seluruh Umat Manusia..

    Cahaya Abadi Muhammad Saw

    No full text
    ?Zaman boleh menua dan lapuk, berbagai paham dan ideologi boleh membusuk dan remuk. Tapi kedudukan Rasulullah Muhammad Saw. akan selalu merekah di dalam hati kita bagaikan sekuntum mawar yang takkan pernah kuncup untuk terus menebarkan aroma semerbak dalam hati di sepanjang masa.? (M. Fethullah Gülen) Buku sirrah nabi karya M. Fethullah Gülen ini amat berbeda dengan sirrah nabi sejenis yang pernah dibuat. kepiawaiannya mengemas pemaparan dengan pendekatan tematik menunjukkan betapa beliau telah mampu meletakkan tradisi baru dalam gaya penulisan sirrah nabi yang terfokus pada kajian-kajian dan analisis-analisis aspek kehidupan Nabi Muhammad Saw. Keahliannya dalam menganalisis literatur baik dari Al-Qur?an maupun Hadits mengantarkan buku ini tidak lagi pada corak penulisan sirrah secara kronologis, tapi juga menghindarinya dari kisah-kisah israiliyyat
    corecore