1,720,967 research outputs found
KONSEP PENDIDIKAN ISLAM MULTIKULTURAL MENURUT MUHAMMAD AMIN ABDULLAH
ABSTRAK
Indonesia merupakan negara dengan wilayah yang sangat luas yang terdiri dari beribu-ribu etnis, bahasa, agama, tradisi dan budaya yang berinteraksi dan berbaur sehingga terbentuklah masyarakat yang multi etnis. Keberagaman yang ada di Indonesia dapat dijadikan sebagai suatu potensi yang dapat dikembangkan untuk meningkatkan kesejahteraan dan kemajuan. Namun kondisi tersebut juga berpotensi menimbulkan konflik antar etnis, agama dan budaya. Konflik yang terjadi di Sambas, Poso, Sampit, Tasikmalaya dan lain-lain menunjukkan bahwa multikulturalisme perlu dikelola sedemikian rupa sehingga berdampak positif terhadap kemajuan dan kesejahteraan masyarakat. Dalam hal ini Muhammad Amin Abdullah menjelaskan bahwa pendidikan dapat dijadikan solusi yang paling efektif untuk memelihara kemajemukan yang ada di Indonesia khususnya pendidikan Islam multikultural.
Dalam skripsi ini menggunakan metode penelitian studi kepustakaan (library research) yaitu kegiatan penelitian yang dilakukan dengan cara mengumpulan informasi dan data dengan bantuan berbagai macam material yang ada di perpustakaan seperti buku referensi, artikel, catatan serta berbagai jurnal. Dengan pendekatan deksriptif analisis deduktif yang dianalisa dari berbagai macam sumber dan referensi baik yang sifatnya primer maupun sekunder. Metode pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah dokumentasi dan teknik analisis data yang digunakan adalah analisis isi (content analysis).
Hasil penelitian ini menunjukkan Konsep Pendidikan Islam Multikultural menurut Muhammad Amin Abdullah secara garis besar adalah konsep pendidikan yang bernafaskan perdamaian, yang memiliki kepekaan terhadap realitas sosial, lebih mengutamakan keselamatan sosial, serta dilandasi dengan nilai-nilai persatuan, toleransi dan keadilan seperti yang terkandung dalam Al-Qur‟an dan Hadist. Muhammad Amin Abdullah menjelaskan bahwa ada dua hal yang harus diperhatikan atau dijadikan sebagai fokus utama para pendidik. Pertama, para pendidik harus mampu menyampaikan, memahamkan, mewariskan tradisi yang sudah diyakini sebagai suatu
iikebenaran yang mutlak. Kedua, para pendidik harus mampu memberi pemahaman kepada peserta didik untuk mampu mengakui, menerima dan menghargai keberadaan kelompok lain beserta semua tradisi dan keyakinan yang menyertainya. Menurut Muhammad Amin Abdullah pendidikan Islam multikultural memiliki tujuan untuk menciptakan masyarakat yang madani yaitu masyarakat yang menjunjung tinggi konsep social contract. Konsep social contract merupakan sebuah konsep dimana setiap individu dan kelompok memiliki hak dan kewajiban yang sama, walaupun mereka berasal dari latar belakang yang berbeda. Nilai-nilai multikultural yang harus dikembangkan ialah nilai toleransi, nilai keadilan dan nilai kesetaraan. Melalui penanaman nilai-nilai multikultural di sekolah-sekolah akan menjadi tempat pelatihan dan penyadaran bagi generasi muda untuk menerima perbedaan budaya, agama, ras, etnis dan kebutuhan di antara sesama dan mau hidup berdampingan secara damai.
Kata Kunci : Konsep, Pendidikan Islam Multikultural, Muhammad Amin Abdulla
Konsep Pendidikan Islam Menurut Muhammad Amin Abdullah : Uraian Studi Telaah Gagasan/Pemikiran Tokoh
Pendidikan Islam multikultural adalah sebuah proses penanaman cara hidup menghormati, tulus, dan toleran terhadap keanekaragaman budaya, agama yang hidup di tengah-tengah masyarakat plural, Keberagaman yang ada di Indonesia dapat dijadikan sebagai suatu potensi yang dapat dikembangkan untuk meningkatkan kesejahteraan dan kemajuan. Namun kondisi tersebut juga berpotensi menimbulkan konflik antar etnis, agama dan budaya. Konflik yang terjadi di Sambas, Poso, Sampit, Tasikmalaya dan lain-lain menunjukkan bahwa multikulturalisme perlu dikelola sedemikian rupa sehingga berdampak positif terhadap kemajuan dan kesejahteraan masyarakat. Dalam hal ini Muhammad Amin Abdullah menjelaskan bahwa pendidikan dapat dijadikan solusi yang paling efektif untuk memelihara kemajemukan yang ada di Indonesia khususnya pendidikan Islam multikultural. Penelitian ini menggunakan metode penelitian studi kepustakaan (library research) yaitu kegiatan penelitian yang dilakukan dengan cara mengumpulan informasi dan data dengan bantuan berbagai macam material yang ada di perpustakaan seperti buku referensi, artikel, catatan serta berbagai jurnal. Dengan pendekatan deksriptif analisis deduktif yang dianalisa dari berbagai macam sumber dan referensi baik yang sifatnya primer maupun sekunder. Metode pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah dokumentasi dan teknik analisis data yang digunakan adalah analisis isi (content analysis).Hasil penelitian ini menunjukkan Konsep Pendidikan Islam Multikultural menurut Muhammad Amin Abdullah secara garis besar adalah konsep pendidikan yang bernafaskan perdamaian, yang memiliki kepekaan terhadap realitas sosial, lebih mengutamakan keselamatan sosial, serta dilandasi dengan nilai nilai persatuan, toleransi dan keadilan seperti yang terkandung dalam Al-Qur‟an dan Hadist. Muhammad Amin Abdullah menjelaskan bahwa ada dua hal yang harus diperhatikan atau dijadikan sebagai fokus utama para pendidik. Pertama, para pendidik harus mampu menyampaikan, memahamkan, mewariskan tradisi yang sudah diyakini sebagai suatu kebenaran yang mutlak. Kedua, para pendidik harus mampu memberi pemahaman kepada peserta didik untuk mampu mengakui, menerima dan menghargai keberadaan kelompok lain beserta semua tradisi dan keyakinan yang menyertainya. Menurut Muhammad Amin Abdullah pendidikan Islam multikultural memiliki tujuan untuk menciptakan masyarakat yang madani yaitu masyarakat yang menjunjung tinggi konsep social contract. Konsep social contract merupakan sebuah konsep dimana setiap individu dan kelompok memiliki hak dan kewajiban yang sama, walaupun mereka berasal dari latar belakang yang berbeda. Nilai-nilai multikultural yang harus dikembangkan ialah nilai toleransi, nilai keadilan dan nilai kesetaraan. Melalui penanaman nilai-nilai multikultural di sekolah-sekolah akan menjadi tempat pelatihan dan penyadaran bagi generasi muda untuk menerima perbedaan budaya, agama, ras, etnis dan kebutuhan di antara sesama dan mau hidup berdampingan secara damai
PERSPEKTIF AZYUMARDI AZRA DAN MUHAMMAD AMIN ABDULLAH TENTANG PENDIDIKAN PERGURUAN TINGGI ISLAM DI ERA POSTMODERN (STUDI KOMPARATIF)
ABSTRAK Syahrul Azmi (2025) : Perspektif Azyumardi Azra dan Muhammad Amin Abdullah Tentang Pendidikan Perguruan Tinggi Islam di Era Postmodern (Studi Komparatif) Penelitian dengan judul ini berangkat dari permasalahan bahwa adanya dikotomi atau pemisahan antara ilmu keislaman dengan non keislamanan yang menyebabkan lemahnya pengembangan keilmuan di dunia Islam. Dikotomi ini berakibat fatal terhadap pengembangan keilmuan di negeri-negeri Muslim sehingga terjadi juga dikotomi dalam lembaga-lembaga Pendidikan. Seperti lembaga-lembaga pendidikan agama yang hanya mempelajari mata pelajaran agama dan tidak memasukkan ilmu-ilmu umum kedalamnya. Akibatnya yaitu dunia Islam sekarang ini belum mampu bersaing dengan dunia luar yang telah mampu dan canggih baik dari bidang teknologi dan ilmu pengetahuannya. Jenis penelitian ini menggunakan deskriptif analisis isi dan studi teks dengan bersifat kajian pustaka (library research). Pendekatan yang digunakan pada penelitian ini bersifat historis filosofis. Pendekatan ini dipilih karena penelitian merupakan kajian pemikiran tokoh, yaitu Azyumardi Azra dan Muhammad Amin Abdullah. Hasil dari penelitian ini menujukan bahwa pemikiran pendidikan Islam harus merespons tantangan zaman dengan mengintegrasikan nilai-nilai keislaman dengan perkembangan ilmu pengetahuan modern. Mereka menekankan pentingnya pendekatan interdisipliner dan multidisipliner dalam kurikulum pendidikan tinggi Islam, sehingga tidak hanya terpaku pada ilmu-ilmu keislaman tradisional, tetapi juga membuka diri terhadap ilmu sosial, humaniora, dan sains. Namun, perbedaan mendasar terletak pada penekanan dan pendekatan masing-masing. Azyumardi Azra lebih menekankan pada pentingnya rekonstruksi historis dan kontekstualisasi nilai-nilai Islam dalam pendidikan. Azyumardi Azra melihat postmodernisme sebagai tantangan yang harus dihadapi dengan memperkuat identitas keislaman melalui pendekatan yang inklusif dan adaptif. Di sisi lain, Muhammad Amin Abdullah lebih menekankan pada pendekatan filosofis-ilmiah yang integratif.
Kata Kunci : Pendidikan, Perguruan Tinggi Islam, Era postmoder
Integrasi Integrasi Ilmu Keislaman dengan Ilmu Pendidikan Anak Usia Dini dalam Perspektif Muhammad Amin Abdullah
Integrasi ilmu keislaman dengan ilmu pendidikan anak usia dini merupakan topik yang penting dalam pengembangan pendidikan Islam. Muhammad Amin Abdullah, seorang pakar pendidikan Islam, menyoroti pentingnya integrasi ini dalam perspektifnya. Latar belakang penelitian ini adalah meningkatnya minat terhadap pendidikan Islam dan perlunya pemahaman yang holistik terhadap anak usia dini. Tujuan penelitian ini adalah untuk menggali potensi integrasi ilmu keislaman dengan ilmu pendidikan anak usia dini serta mendorong pengembangan metode pembelajaran yang sesuai. Metode penelitian yang digunakan melibatkan analisis literatur, studi kasus, dan observasi lapangan. Hasil utama dari penelitian ini adalah pemahaman mendalam tentang bagaimana integrasi ilmu keislaman dapat meningkatkan kualitas pendidikan anak usia dini secara holistik. Kesimpulan dari penelitian ini menunjukkan bahwa integrasi ilmu keislaman dengan ilmu pendidikan anak usia dini dapat memberikan manfaat besar dalam membentuk karakter dan moral anak-anak sejak dini
Going Beyond Counting First Authors in Author Co-citation Analysis
The present study examines one of the fundamental aspects of author co-citation analysis (ACA) - the way co-citation
counts are defined. Co-citation counting provides the data on which all subsequent statistical analyses and mappings
are based, and we compare ACA results based on two different types of co-citation counting - the traditional type that
only counts the first one among a cited work's authors on the one hand and a non-traditional type that takes into
account the first 5 authors of a cited work on the other hand. Results indicate that the picture produced through this non-traditional author co-citation counting contains more coherent author groups and is therefore considerably clearer. However, this picture represents fewer specialties in the research field being studied than that produced through the traditional first-author co-citation counting when the same number of top-ranked authors is selected and analyzed. Reasons for these effects are discussed
PENDIDIKAN ISLAM MULTIKULTURAL: Telaah Pemikiran Muhammad Amin Abdullah
Di era multikultural seperti sekarang, pendidikan sudah seharusnya menjadi media dalam membentuk sikap-sikap yang positif terhadap realitas sosial yang beragam. Sikap tersebut berawal dari pemahaman untuk menerima, mengakui dan menghargai orang lain dengan berbagai latar belakang yang ada. Karena orang lain, apa pun aliran dan agamanya, adalah umat Tuhan yang memiliki hak yang sama untuk hidup di bumi Tuhan. Penanaman sikap dan nilai-nilai inklusif inilah yang nantinya menjadi daya tawar utama dalam sistem pendidikan multikultural, terutama dalam pendidikan Islam. Pemikiran Amin Abdullah dalam sistem pendidikan Islam di Indonesia, cukup menonjol mulai dari gagasan integratif-interkonektif yang kemudian diaplikasikannya dalam pengembangan IAIN menjadi UIN Sunan Kalijaga dan pendidikan Islam multikulturalnya ikut memberi sumbangan wacana yang signifikan dalam menciptakan konsep-konsep pendidikan Islam yang toleran, demokratis, serta menjunjung tinggi nilai-nilai persatuan dan keadilan. In this multicultural era, education is expected to be a means to form positive attitudes toward varieties of social realities. These attitudes are initiated by having attitude to accept, admit, and respect other people with their different backgrounds. Whatever the religion embraced, every individual is God’s creation and he or she has the same right to live on God’s earth. The planting of attitude and these inclusive values become the main requirements of the implementation of the system of multicultural education, especially Islamic education. Amin Abdullah’s thinking about Islamic education in Indonesia is salient enough reflected in his integrative-inter connective ideas. These ideas, then, are applied to develop IAIN becomes UIN Sunan Kalijogo. In it’s development, his ideas about Islamic multicultural education gives positive contributions to create the concepts of Islamic education which are tolerant, democratic, and they uphold the values of unity and justice
Variations on the Author
“Variations on the Author” discusses two of Eduardo Coutinho’s recent films (Um Dia na Vida, from 2010, and Últimas Conversas, posthumously released in 2015) and their contribution to the general question of documentary authorship. The director’s filmography is characterized by a consistent yet self-effacing form of authorial self-inscription: Coutinho often features as an interviewer that rather than express opinions propels discourses; an interviewer that is good at listening. This mode of self-inscription characterizes him as an author who is not expressive but who is nonetheless markedly present on the screen. In Um Dia na Vida, however, Coutinho is completely absent form the image, while Últimas Conversas, on the contrary, includes a confessional prologue that moves the director from the margins to the center of his films. This article examines the ways in which these works stand out in the filmography of a director who offers new insights into the notion of cinematic authorship
Appropriate Similarity Measures for Author Cocitation Analysis
We provide a number of new insights into the methodological discussion about author cocitation analysis. We first argue that the use of the Pearson correlation for measuring the similarity between authors’ cocitation profiles is not very satisfactory. We then discuss what kind of similarity measures may be used as an alternative to the Pearson correlation. We consider three similarity measures in particular. One is the well-known cosine. The other two similarity measures have not been used before in the bibliometric literature. Finally, we show by means of an example that our findings have a high practical relevance.information science;Pearson correlation;cosine;similarity measure;author cocitation analysis
Dispelling the Myths Behind First-author Citation Counts
We conducted a full-scale evaluative citation analysis study of scholars in the XML research field to explore just how different from each other author rankings resulting from different citation counting methods actually are, and to demonstrate the capability of emerging data and tools on the Web in supporting more realistic citation counting methods. Our results contest some common arguments for the continued
use of first-author citation counts in the evaluation of scholars, such as high correlations between author rankings by first-author citation counts and other citation
counting methods, and high costs of using more realistic citation counting methods that are not well-supported by the ISI databases. It is argued that increasingly available digital full text research papers make it possible for citation analysis studies to go beyond what the ISI databases have directly supported and to employ more
sophisticated methods
- …
