180 research outputs found

    Pemikiran Hasan Al Banna dalam pendidikan islam

    No full text
    Tujuan dari penelitian ini adalah: (1) untuk mengetahui pemikiran Hasan Al Banna tentang komponen-komponen dalam pendidikan islam. (2) memperdalam pemahaman tentang prinsip pemikiran Hasan Al Banna dalam pendidikan islam. (3) mengetahui aliran filsafat yang mempengaruhi pemikiran Hasan Al Banna dalam pendidikan islam

    Hassan al-Banna

    No full text
    A contemporary of fellow Islamist thinkers Sayyid Qutb (1906) and Abdul ‘A’la Mawdudi (1903), Hassan al-Banna (1906) is the founder of the Muslim Brotherhood, the Arab world’s most influential Islamist organization. He was also born into a well established traditional family in a village in the Nile Delta to the north of Cairo. His father served as an imam at a local mosque. At the early age of ten, al-Banna is reported to have organized a ‘Society of Moral Behaviour’ which had fellow school children on the look for misbehaviour. He graduated from al-Azhar’s Dar al-Ulum, a higher-level teacher training institution, which Muhammad Abduh helped found in 1873 as a way of overcoming the objections against the introduction of modern curricula by conservative al-Azhar scholars

    JIHAD DALAM PERSPEKTIF HASAN AL-BANNA: ANALISIS KITAB NAZARAT FI KITABILLAH

    No full text
    ABSTRAK Skripsi dengan judul JIHAD DALAM PERSPEKTIF HASAN AL-BANNA: ANALISIS KITAB NAZARAT FI KITABILLAH ini ditulis oleh Muhammad Tajuddin Romli, NIM. 17301153040, Fakultas Ushuluddin Adab dan Dakwah IAIN Tulungagung, 2019, pembimbing Ahmad Muhdhor, Lc., M.Pd.I NIP. 198503282014031002. Dari sekian banyak syariat ibadah yang tertera dalam Alquran salah satu syariat yang harus dijalankan oleh setiap umat Muhammad adalah jiha>d fililla>h. Jihad adalah salah satu tema besar yang ada dalam Alquran. Istilah jihad sering disamakan dengan istilah terorisme. Meskipun salah satu dari maknanya adalah perang, namun dalam peperangan bukan berarti tanpa aturan. Islam mengatur dan memberikan undang-undang pelaksanaan perang. Jihad menjadi tema yang sangat unik, menarik untuk diteliti dan dikaji. Jihad sebagai research theme, selalu dalam perdebatan yang terus menerus dan tidak kunjung usai. Dengan demikian perlu adanya kajian mengenai bagaimana jihad menurut beberapa tokoh. Dalam hal ini penulis akan mengkaji konsep jihad perspektif Hasan al-Banna yang tertuang dalam kitab Naz}ara>t Fi> Kita>billa>h serta relevansi jihad al-Banna dalam konteks masa kini. Penelitian ini adalah penelitian pustaka (library research), dengan sumber rujukan primer kitab Naz}ara>t Fi> Kita>billa>h. Kitab Naz}ara>t Fi> Kita>billa>h adalah kumpulan artikel-artikel Hasan al-Banna yang dibukukan oleh ‘Is}am Tali>mah. Pendekatan dalam penelitian ini adalah pendekatan historis sosiologis Penelitian ini menemukan: (1) makna jihad menurut Hasan al-Banna yang berarti peperangan atau perjuangan fisik. Al-Banna memaknai jihad lebih cenderung kepada perjuangan fisik atau peperangan karena jihad dengan perang lebih utama dan akan mengantarkan pelakunya mendapatkan syahid kubro (2) objek sasaran jihad, meliputi jihad melawan hawa nafsu, jihad melawan Ahl al-Kita>b dan jihad melawan orang-orang musyrik. (3) Bentuk-bentuk jihad, meliputi jihad fisik dan jihad non-fisik. Jihad fisik yaitu jihad dengan senjata dan jihad non-fisikyaitu amar ma’ruf nahi munkar dan jihad dengan harta. (4) aturan dan tatacara jihad, meliputi tidak boleh merusak tempat ibadah, dilarang membunuh anak-anak, orang tua renta dan wanita, dilarang mengejar musuh yang menyerah, dan lain-lain. (4) Relevansi Jihad al-Banna dalam konteks masa kini meliputi jihad membela kedaulatan negara, jihad bidang sosial, dan amar ma’ruf nahi munkar

    Konsep pendidikan kepribadian dalam perspektif Hasan Al-Banna terhadap pembinaan spiritual remaja

    No full text
    INDONESIA: Skripsi ini merupakan kajian historis atas konsep pendidikan kepribadian menurut Hasan al-Banna, permasalahan yang ingin dijawab adalah konsep apa saja yang dituju dalam pendidikan kepribadian dan bagaimana implikasi konsep pendidikan kepribadian dalam perspektif Hasan al-Banna terhadap pembinaan diri remaja. Di sini penulis mengkaji beberapa buku yang ditulis langsung oleh Hasan al-Banna maupun oleh orang yang mengupas pemikiran-pemikiran Hasan al-Banna, dengan cara menuliskan, mengedit, mengklasifikasi, mereduksi dan menyajikan data serta menganalisisnya secara kritis. Hasan al-Banna, seorang tokoh pembaharu muslim modern yang memiliki latar belakang pendidikan tradisional Islam dan pemikiran Barat modern. Pada usia muda ia adalah nasionalis yang anti kolonialisme. Setelah dewasa berpaling pada revivalisme religius yang ingin memperbaiki komunitas kaum muslim. Dan cara yang efektif menurutnya adalah dengan dakwah dan tarbiyah. Sistem pendidikan yang dibangun al-banna bertitik tolak atas pendekatan melihat hakikat manusia sebagai pribadi yang holistik, yang meliputi aspek fikriyah, ruhaniyah dan jasmaniyah. Sebagai konsekuensi logisnya, maka pada tataran aplikasinya pendidikan diarahkan kepada pembentukan aspek-aspek tersebut secara seimbang dan integral. Pendidikan kepribadian Hasan al-Banna yang mencakup aspek aqidah, intelektual, moral, sosial serta fisik semuanya dalam prosesnya harus berdasarkan pada Islam yang benar, yaitu dikembalikan hanya pada al-Qur’an dan sunnah Rasul. Ia harus independen, tidak tercampur oleh pemikiran-pemikiran yang bersimpangan dengan Islam. Hasan al-Banna menjadikan remaja /pemuda sebagai sasaran utama tarbiyahnya. Melihat profil perilaku dan pribadi remaja yang menggambarkan adanya kegoncangan /belum mantapnya aspek-aspek dalam diri remaja seperti pada fisik, perilaku sosial, moralitas, religius, serta kognitif remaja yang itu bila tidak diarahkan benar-benar akan berakibat terbentuknya pribadi-pribadi yang kurang baik. Dengan aspek-aspek pendidikan kepribadian yang dicanangkan oleh Hasan al-Banna, permasalahan-permasalahan yang muncul pada diri remaja sedikit banyak akan dapat teratasi. ENGLISH: This thesis is a historical study of the concept of personality education according to Hasan al-Banna, the problem to be answered is the concept of what is addressed in the education of personality and how the implications of the concept of personality education in the perspective of Hasan al-Banna to teenagers self-counseling. Here the author examines several books written directly by Hasan al-Banna as well as by the person who discusses the thoughts of Hasan al-Banna, by way of writing, editing, classifying, reducing and presenting data and analyzing them critically. Hasan al-Banna, a modern Muslim reformer who has a background of traditional Islamic education and modern Western thought. At a young age he was an anti-colonialist nationalist. As adults turn to religious revivalism that wants to improve the Muslim community. And effective way according to him is with da'wah and tarbiyah. The educational system built by al-banna is based on the approach of seeing the nature of human as a holistic person, which includes aspects of fikriyah, ruhaniyah and jasmaniyah. As a logical consequence, then at the level of its application education is directed to the formation of these aspects in a balanced and integral. Hasan al-Banna's personality education which includes aspects of aqidah, intellectual, moral, social and physical all in the process must be based on true Islam, that is returned only to the Qur'an and the sunnah of the Prophet. It must be independent, not mixed with thoughts that are in conflict with Islam. Hasan al-Banna makes teenagers / youth as the main target of his tarbiyah. Looking at the profile of personal behavior and adolescents that describe the unsteady / unsettling aspects of the adolescent as in the physical, social, moral, religious, and cognitive behavior of adolescents that if not directed will actually result in the formation of unfavorable individuals . With aspects of personality education proclaimed byHasan al-Banna, the problems that arise in teenagers a little more will be resolved

    PEMIKIRAN PENDIDIKAN ISLAM HASAN AL-BANNA

    No full text
    Pendidikan berarti suatu proses pengubahan sikap dan tingkah laku seseorang atau kelompok orang peserta didik dalam usaha mendewasakan melalui upaya pengajaran, pelatihan. Melalui upaya ini diharapkan agar pendidikan yang ditawarkan mampu berapresiasi terhadap dinamika peradaban modern secara adaptik proprsional tanpa harus melepaskan nilai-nilai Ilahiyah seabagai warna nilai control. Hasan al-Banna adalah seorang tokoh pembaru atau modernis dalam dunia Islam. Beliau dikenal sebagai tokoh pembaru, tidak hanya dalam bidang pendidikan, tetapi juga dalam bidang politik, ekonomi, sosial, dan kemasyarakatan. Hasan al-Banna memiliki gagasan bahwa kejumudan umat Islam disebabkan kesalahan dalam bidang pendidikan. Pemikiran Hasan al-Banna tentang pendidikan meliputi tiga aspek, yaitu materi pendidikan akal, jasmani, dan hati (qalb). Ketiga materi tersebut dapat diperoleh dari ilmu pengetahuan agama, eksakta, ilmu sosial dan cabang-cabangnya. Metode pendidikan yang dapat diterapkan dalam proses pendidikan meliputi enam model; yaitu metode diakronis, sinkronik-analitik, hallul musykilat, tajribiyyat, al-istiqraiyyat, dan metode al-istinbathiyyat

    Revitalisasi Pendidikan Islam: Tinjauan Pemikiran Hasan Al Banna

    No full text
    Hasan al Banna merupakan salah seorang tokoh al Banna sebagai Pembaharu Islam Abad ke-20. Tujuan penelitian ini untuk mengungkapkan pemikiran Hasan al Banna sebagai salah satu tokoh penting dalam pendidikan Islam. Penelitian ini menggunakan metode library research yang bertujuan untuk mendeskriptif keterkaitan pendidikan islam dengan paradigma pendidikan saat ini, sehingga penelitian ini diharapakan mampu menggali khazanah keilmuan tentang pokok-pokok pemikiran Hasan al Banna. Hasil diskursus menjelaskan bahwa Hasan al Banna memandang bahwa pengembangan akal merupakan kebutuhan pokok bagi setiap muslim yang bisa menunjang keberhasilan dan kesuksesan keyakinan. Dengan pengetahuan dan pengembangan potensi akalnya, manusia akan menjadi paham atas sesuatu yang diyakini dan Islam tidak tidak membenarkan penganutnya menjadi muqallid. Oleh sebab ini, Hasan al Banna menempatkan pembentukan akal sebagai prinsip utama pendidikan dengan didasarkan pada pemahaman al Qur’an yang menermpatkan akal atau ilmu lebih dahulu daripada iman dan taat. Dapat disimpulkan bahwa pemikiran Hasan al Banna dalam dunia pendidikan Islam memberikan konsep pendidikan insan kamil yang merujuk manusia paripurna sebagai khalifah di Dunia

    KONTRIBUSI IMAM ASY-SYAHID HASAN AL-BANNA TERHADAP PEMIKIRAN ISLAM MODERN

    No full text
    Sesungguhnya Allah akan mengutus (menghadirkan) bagi umatini (umat Islam) orang yang akan memperbaharui (urusan)agama mereka pada setiap akhir seratus tahun” Inilah bunyisabda Rasulullah, sekaligus mempertegas bahwa agama ini akansenantiasa dijaga oleh Allah. Tulisan ini berupaya mengeksplorsalah satu pembarahu Islam abad 20, Hasan al-Banna. Beliauseorang pendiri gerakan Islam Ikhwanul Muslimin. Gerakanini banyak memberi sumbangsih yang luar biasa terhadapIslam. Kajian ini bersifat deskriptif-analisis yang mencobamenguraikan pembaharuan-pembaharuan yang telah dilakukanoleh Hasan al-Banna. Hasilnya, dalam rentang waktu yang relatifsingkat, al-Banna berhasil membangun pondasi yang kuat bagilahirnya gerakan Ikhwanul Muslimin. Selain itu, beliau banyakmelakukan pembaharuan di berbagai bidang, meliputi: akidah,fiih, ekonomi, dan politik.Sesungguhnya Allah akan mengutus (menghadirkan) bagi umatini (umat Islam) orang yang akan memperbaharui (urusan)agama mereka pada setiap akhir seratus tahun” Inilah bunyisabda Rasulullah, sekaligus mempertegas bahwa agama ini akansenantiasa dijaga oleh Allah. Tulisan ini berupaya mengeksplorsalah satu pembarahu Islam abad 20, Hasan al-Banna. Beliauseorang pendiri gerakan Islam Ikhwanul Muslimin. Gerakanini banyak memberi sumbangsih yang luar biasa terhadapIslam. Kajian ini bersifat deskriptif-analisis yang mencobamenguraikan pembaharuan-pembaharuan yang telah dilakukanoleh Hasan al-Banna. Hasilnya, dalam rentang waktu yang relatifsingkat, al-Banna berhasil membangun pondasi yang kuat bagilahirnya gerakan Ikhwanul Muslimin. Selain itu, beliau banyakmelakukan pembaharuan di berbagai bidang, meliputi: akidah,fiih, ekonomi, dan politik

    Hasaan Al Banna, pemikirannya di bidang politik dan hubungannya dengan Indonesia

    No full text
    Hasan Al Banna lahir sebagai intelektual muslim yang tergelak hatinya untuk memperbaiki realitas sosial yang sudah kehilangan dimensi spiritual dan mengabaikan pesan pesan illahi. Nama lengkapnya adalah Hasan Bin Ahmad bin Abdurrahman Al banna yang lahir di mahmudiah kota kecil yang terletak disebelah timur laut kota kairo pada tahun 1906. Ayahnya bernama Syeh Ahmad Abdurrahman Al Banna, selain tukang reparasi jam juga ulama' yang pernah belajar sebagai mahasiswa di al azhar pada waktu Muhammad Abduh masih mengajar di lembaga tersebut. Pada pembahasan ini Al Banna akan membahas tentang 1). Dasar dan bentuk negara islam? 2). Bagaimana pemikiran Hasan Al Banna dihibungkan dengan situasi kondisi Indonesia? Pada pembahasan ini menggunakan penelitian diskriptif yang menjelaskan tentang gambaran pemikiran Al Banna mengenai bentuk dan dasar negara yang dihubungkan dengan situasi dan kondisi Indonesia. Al Banna menyimpulkan bahwa 1). negara haruslah berdasarkan pada al qur'an dan sunnah yang merupakan tatanan lengkap dan universal bagi berbagai problem menuju tatanan ideal yang telah lama dicita citakan oleh penduduk bumi 2). Bentuk negara yang paling tepat adalah kehalifahan sebagaimana yang telah di contokan oleh Rasulullah dan khulafaur rasidin terbukti bahwa negara madinah adalah negara ideal yang menjamin hak dan kewajiban seluruh warga negara tanpa membedakan suku dan golongan 3). Azas pemerintahan islam yaitu pengguasa yang bertanggung jawab pada Allah dan rakyat , persatuan dan ukhuwah islamiyah serta pengawasan rakyat terhadap penguasa. Apabila dihubungkan dengan negara Indonesia yang mayoritas masyarakatnya muslim, maka pemikiran Banna yang menghidupkan kembaki Al Qur'an dan Sunnah dalam tatanan realitas akan sesuai dengan umat islam

    PEMIKIRAN JAMAL AL-BANNA TENTANG RELASI SUAMI ISTERI DALAM KITAB AL-MAR’AH AL-MUSLIMAH BAINA TAHRĪR AL-QUR’ȂN WA TAQYĪD AL-FUQAHȂ

    No full text
    In the life of the Muslim community, the relationship between men and women, or, more specifically between husband and wife, are often not equal nor fair. Women are often considered more inferior, subordinate, and even considered a second-class human beings. The issue of gender injustice that encourages Jamal al-Banna to apply concepts or new ideas about the relationship between men and women (husband and wife) were more fair and equal. In order to achieve this goal, the relationship of husband and wife, according to Jamal al-Banna, should be based on principles of justice, equality (al-Musawah), propriety (al-ma'ruf), the collective agreement, as well as a sense of love and compassion incarnate in the form of speech and daily attitude. With these principles then Jamal al-Banna holds that in a family is not unconditional leadership of the husband, and also the lack of authority for a husband to beat his wife. In addition, he also called for a written marriage contract in order to protect the rights of each husband and wife, as well as appeals for wives career. This paper is going to study the Jamal al-Banna thought, especially with respect to the pattern of the relationship of husband and wife as set forth in the Book Mar'ah al-Tahrir al-Muslimah Baina Taqyīd the Qur'an wa al-jurists ". This paper is expected to enrich the wealth of knowledge of Islam and also able to drive to realize the family relationship more harmonious, fair and equitable gender
    corecore