20,874 research outputs found

    East-West Center Oral History Project : Muhammad Ibrahim

    No full text
    Interviewed by Dan Berman, March 30, 2006 in Islamabad, Pakistan.For more about the East-West Center, see https://www.eastwestcenter.org/Muhammad Ibrahim was born into a family of farmers near Lahore, Pakistan, where his sisters and brothers still live in the village. After getting his master's degree and while working for Punjab's Department of Agriculture, he applied for an EWC scholarship from an ad in the newspaper. Ibrahim came to EWC in 1977 as an Open Grants grantee and got his M.S. and his Ph.D. in Tropical Agriculture. He remembers running field experiments in Palolo and Waimanalo with UH supervisor Dr. Kanehiro.Click on the PDFs to read more. Includes photograph, interview quotes, and the full interview narrative

    Hadis Gerhana dan Wafatnya Ibrahim Ibn Muhammad

    No full text
    Selama periode Nabi Muhammad SAW, yaitu pada kurun waktu 610-632 M, gerhana matahari telah terjadi delapan kali, yaitu empat kali terjadi pada periode Mekah dan empat kali terjadi pada periode Madinah. Gerhana terjadi bukan karena kematian atau kehidupan seseorang, melainkan suatu tanda atas kebesaran dan keagungan Allah. Gerhana terbagi menjadi dua yaitu gerhana matahari atau disebut dengan kusuf asy-syams, dan gerhana bulan atau disebut dengan khusuf al-qamr. Ketika terjadi fenomena gerhana, baik gerhana matahari maupun gerhana bulan maka seorang muslim disyariatkan untuk melaksanakan ibadah shalat gerhana. Gerhana matahari pernah terjadi pada zaman Nabi SAW yaitu ketika meninggalnya putera beliau Ibrahim Ibn Muhammad. Para ahli hadis dan ahli astronom berbeda pendapat terkait waktu meninggalnya Ibrahim Ibn Muhammad, namun berdasarkan riwayat-riwayat hadis dan data astronomi diketahui bahwa Ibrahim Ibn Muhammad meninggal pada hari senin 27 Januari 632 M atau 29 Syawal 10 H dengan usia 1 tahun 10 bulan (22 bulan)

    PROSES KREATIF MUHAMMAD IBRAHIM ILYAS DALAM MENCIPTAKAN NASKAH DRAMA "CABIK"

    No full text
    Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui dan menguraikan proses kreatif Muhammad Ibrahim Ilyas dalam menciptakan naskah drama Cabik serta faktor-faktor yang memengaruhi proses kreatifnya dalam menciptakan naskah drama tersebut. Untuk menganalisis proses kreatif Muhammad Ibrahim Ilyas dalam menciptakan naskah drama Cabik serta faktor-faktor yang memengaruhi proses kreatifnya dalam menciptakan naskah drama tersebut, dalam penelitian ini dilakukan analisis terhadap unsur instrinsik naskah drama Cabik. Analisis mengenai unsur instrinsik naskah drama Cabik dijadikan sebagai salah satu acuan untuk mengetahui proses kreatifnya. Setelah itu dilakukan analisis terhadap proses kreatif serta faktor-faktor yang memengaruhi proses kreatif Muhammad Ibrahim Ilyas dalam menciptakan naskah drama Cabik. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif. Adapun tahap-tahap dalam penelitian ini adalah tahap pengumpulan data, tahap analisis data, dan tahap penyajian analisis data. Dari penelitian yang dilakukan diperoleh kesimpulan bahwa Muhammad Ibrahim Ilyas sebagai pengarang sangat disiplin dalam mempersiapkan naskah drama Cabik. Kedisiplinannya dapat dilihat dari target-target yang harus dicapai dan dalam mengendapkan ide yang didapat, yang kemudian mampu ia ‘aduk-aduk’ dengan baik hingga menjadi sesuatu yang utuh di pikirannya. Sehingga ketika menuliskannya ia mampu menulis secara rapi dan ‘mengalir’. Proses yang dilalui Muhammad Ibrahim Ilyas dapat dibagi menjadi lima tahap, yaitu: (1) Tahap Memperoleh Ide, (2) Tahap Inkubasi (Pengendapan), (3) Tahap Penulisan, (4) Tahap Pengomunikasian (Publikasi), dan (5) Verifikasi (Revisi/Evaluasi). Faktor-faktor yang memengaruhi proses kreatif Muhammad Ibrahim Ilyas dalam menciptakan naskah drama Cabik dapat disimpulkan menjadi dua bagian: (1) Faktor Internal; mampu membuatnya tertekan dan kemudian merangsang daya kreatifnya untuk membuat sesuatu yang lebih. (2) Faktor Eksternal; faktor tersebut terlihat sangat membantu Muhammad Ibrahim Ilyas dalam menciptakan naskah drama Cabik. Faktor eksternal tersebut memiliki titik fokus kepada pengalaman, sehingga naskah drama Cabik sangat dekat dengan persoalan keseharian yang dialami oleh masyarakat. Kata Kunci : proses kreatif, naskah drama, teater, Cabik, Muhammad Ibrahim Ilyas

    Mufti Muhammad Ibrahim Qadri (2021) in response to queries on ‘forced conversion’ raised Muhammad Ziauddin Siyalwi

    No full text
    Mufti Muhammad Ibrahim Qadri (2021) in response to queries on ‘forced conversion’ raised Muhammad Ziauddin Siyalwi, p.14 . available at Hussain, Ghulam (2021), “Mufti Muhammad Ibrahim Qadri (2021) in response to queries on ‘forced conversion’ raised Muhammad Ziauddin Siyalwi”, Mendeley Data, V1, doi: 10.17632/4mtfdxvp4n.1THIS DATASET IS ARCHIVED AT DANS/EASY, BUT NOT ACCESSIBLE HERE. TO VIEW A LIST OF FILES AND ACCESS THE FILES IN THIS DATASET CLICK ON THE DOI-LINK ABOV

    PERKEMBANGAN PENDIDIKAN FORMAL PADA MASA PEMERINTAHAN SULTAN MUHAMMAD MULIA IBRAHIM TSAFIUDIN DI SAMBAS KALIMANTAN BARAT TAHUN (1931 – 1943)

    No full text
    Abstrak Tujuan penelitian ini adalah untuk melihat pendidikan Islam pada masa pemerintahan Sultan Muhammad Mulia Ibrahim Tsafiuddin tahun 1931-1943, pengaruh Belanda terhadap pendidikan di Sambas pada masa pemerintahan Sultan Muhammad Mulia Ibrahim Tsafiuddin tahun 1931-1943, dan sistem pendidikan Madrasah Al-Sultaniyah. Penelitian menggunakan metode sejarah kritis yang terdiri dari empat langkah, yaitu heuristik, kritik sumber, interpretasi dan historiografi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Pendidikan Islam pada masa pemerintahan Sultan Muhammad Mulia Ibrahim Tsafiuddin adalah berlanjutnya pendidikan Madrasah Al-Sultaniyah yang masih berorientasi dalam pendidikan agama dan berkembang menjadi Tarbiyatul Islam. Pendidikan Islam di Sambas mendapat pengaruh Belanda terlihat Sekolah Tabiyatul Islam memasukkan semua pelajaran Holland Inlandsche School (HIS) dalam kurikulumnya. Ilmu pengetahuan modern, terutama bahasa Belanda yang diterapkan di sekolah Tarbiyatul Islam dipandang sebagai alat untuk mengejar kemajuan. Sistem pendidikan formal di Sambas melalui Madrasah Al-Sultaniyah mauoun Tarbiyatul Islam menggabungkan pendidikan Islam dan Pendidikan Belanda. Kata Kunci : Pendidikan Formal, Sultan Mulia Ibrahim Tsafiudin, Sambas. Abstract The aim of this research is to find out the islamic education in era of Sultan Muhammad Mulia Ibrahim Tsafiuddin in 1931-1943, the influences of Netherland to the education in Sambas while the government of Sultan Muhammad Mulia Ibrahim Tsafiuddin in 1931-1943, and the system of education Madrasah Al-Sultaniyah. The methods of this research is a historical research. The methods of the research is descriptive-analitic includes four stages; heuristic, verification, interpretation, and historiography. The results of this research show if islamic education in era of Sultan Muhammad Mulia Ibrahim Tsafiuddin is the continous of the education Madrasah Al-Sultaniyah with the orientation in education of religion and developing to be Tarbiyatul Islam. Islamic education in Sambas gain the influences from Netherland, we can see from Tarbiyatul Islam included all of studied from Holland Inlandsche School (HIS) in their curriculum. The modern science, especially Dutch language in Tarbiyatul Islam seeing as a tool for gain the significant progress. The formal system of education in Sambas through Madrasah Al-Sultaniyah or Tarbiyatul Islam combining islamic education and Dutch education. Keyword: Formal education, Sultan Mulia Ibrahim Tsafiudin, Sambas

    Works on public finance by the sixteenth century Muslim scholars

    No full text
    The subject of public finance and taxation marked the beginning of systematic and rather exclusive writing on economic issues in Islamic tradition in its earliest period. Within a few centuries a large number of works came out on the subject. This trend continued in the later centuries but with a difference in quantity, quality and style. Their number decreased, coverage contracted and they increasingly tended to deal with specific issues. Writings in the later centuries were characterized by imitation and repetition. In the sixteenth century the major works on the subject include al-Balatunusi's "Tahrir al-Maqal….." and Ibn Nujaym's "Risalah fi'l-kharaj" and " Mas'alat al-Jibayah …. " From the Persian speaking East, Fadl-Allah Khunji has discussed the Islamic provision of public finance in much details in his work Suluk al-Muluk a very comprehensive treatment of the subject in the 16th century. It presents many insights on the Islamic theory of public finance. In the Safawid Iran the issue of kharaj was a very controversial topic. But this controversy centered on whether acceptance of stipend from kharaj income is permissible for religious scholars.Public Finance; Public Expenditure; Kharaj; Iqta`; Bait al-mal; Ibn Nujaym, Khunji, History of public finance in Islam.

    Interview with Muhammad Ibrahim Abu Sunna

    No full text
    مقابلة مع الشاعر المصري، محمد إبراهيم أبو سنة، يناقش فيها ديوان ""رماد الأسئلة الخضراء،"" قصائدة، بنيتة اللغوية والشعرية وموضوعاتة التي تشتبك مع أسئلة الوجود. قام بالمقابلة حسن شمس الدين.An interview by Hassan Shams El-Din with Egyptian poet Muhammad Ibrahim Abu Sunna on the collection of ""Ashes of Green Questions""

    Interview with Muhammad Ibrahim Abu Senna

    No full text
    مقابلة مع الشاعر المصري، محمد إبراهيم أبو سنة، يناقش فيها حصوله على جائزة الدولة التشجيعية في الشعر، عن ديوان ""البحر من موعدنا."" قام بالمقابلة حسن شمس الدين.An interview with Egyptian poet, Muhammad Ibrahim Abu Senna, in which he discusses receiving the State Encouragement Prize in Poetry, for his collection “The Sea is Our Time.” The interview was conducted by Hassan Shams Al-Din

    PERAN SULTAN MUHAMMAD MULIA IBRAHIM SYAFIUDDIN DI KESULTANAN SAMBAS 1931-1943 DALAM BIDANG REVITALISASI LEMBAGA PERADILAN AGAMA

    No full text
    Sambas adalah salah satu Kesultanan Melayu yang cukup lama eksis di tanah Borneo. Kerajaan Islam Sambas atau yang disebut Kesultanan Sambas berdiri pada paruh kedua pertengahan abad ke-17 M. Kesultanan Sambas terkenal besar sejak sultan Sambas yang pertama Sultan Muhammad Syafiuddin I (1631-1668 M). Kejayaan Kesultanan Sambas telah membesarkan nama negeri Sambas, sampai pada Sultan Sambas ke-15 yaitu Sultan Muhammad Mulia Ibrahim Syafiuddin (1931-1943 M). Raden Muhammad Mulia Ibrahim adalah putra Pangeran Adipati Ahmad bin Sultan Muhammad Syafiuddin II. Pendidikan awal Raden Muhammad Mulia Ibrahim diperolehnya dari lingkungan keluarga terutama pendidikan yang diterapkan oleh kakeknya sendiri Sultan Muhammad Syafiuddin II dan ayahnya Raden Ahmad. Sebelum dinobatkan, pada tanggal 2 Mei 1931 M, Belanda mengikat kontrak politik dengan Sultan Muhammad Mulia Ibrahim Syafiuddin, bahwa penyelenggaraan pemerintahan Kerajaan Sambas harus menyesuaikan diri dengan ketentuan yang termaktub dalam Staatsblad Pemerintah Hindia Belanda yang disebut dengan Korte Verklaring atau Akte Van Vereband. Kepada sultan sebagai Het Zelfbestuur dikuasakan oleh pemerintah Hindia Belanda antara lain untuk melaksanakan hukum agama Islam dan hukum adat. Adapun peran Sultan Muhammad Mulia Ibrahim Syafiuddin dalam pengembangan Islam meliputi pembaruan di bidang pendidikan Islam, revitalisasi lembaga peradilan agama dan pranata sosial keagamaan. Oleh sebab itu, penting untuk mengetahui dan mengkaji kembali bagaimana peran Sultan Muhammad Mulia Ibrahim Syafiuddin, khususnya dalam revitalisasi lembaga peradilan agama di Kesultanan Sambas 1931-1943
    corecore