8,923 research outputs found

    Pasangan Ideal dalam Kehidupan Rumah Tangga Masa Kini: Kajian Dhou'ul Misbah Fi Bayani Ahkam An-Nikah

    Get PDF
    Spouses play a crucial role in achieving a harmonious marriage and establishing a happy and prosperous family. Choosing the right partner is key to the success of a marriage. The book Dhou’ul Misbah fi Bayani Ahkamin Nikah, written by Sheikh Muhammad Hasyim Asy’ari, discusses the views on the criteria for an ideal spouse as a husband and wife, as well as its relevance in contemporary family life. This research falls under the category of literature research that utilizes data from literary sources. The primary data consists of the book Dhou’ul Misbah fi Bayani Ahkamin Nikah by Sheikh Muhammad Hasyim Asy’ari, while the secondary data includes literature such as yellow books, books, journal articles, and others related to the research theme. The method used is descriptive-analytical. The author will describe Sheikh Muhammad Hasyim Asy’ari\u27s thoughts on the criteria for an ideal spouse as stated in the book Dhou’ul Misbah fi Bayani Ahkamin Nikah, and then analyze its relevance in contemporary family life. In conclusion, the criteria for an ideal spouse described in Sheikh Muhammad Hasyim Asy’ari\u27s work are highly relevant as guidelines in choosing a husband or wife, especially in the current digital era filled with sexual temptations and materialism

    KONSEP FASIQ DALAM TAFSIR AL-MISBAH

    Get PDF
    ABSTRAK Skripsi berjudul “Konsep Orang Jahat dalam Kitab Al-Misbah”. Karya ini ditulis oleh Muhammad 'Ubaidillah Khoirul Umam Nomor Pokok Mahasiswa 2831133041, Jurusan Ilmu Al�Quran dan Tafsir, Fakultas Ushuluddin Adab dan Dakwah, IAIN Tulungagung. Pembimbing Muhammad Muntahibun Nafis, M.Ag. Kata Kunci: Konsep Fasik, Kitab Al-Misbah, Relevansi Masalah yang diangkat dalam penelitian ini adalah bagaimana menafsirkan ayat-ayat fasik menurut M. Quraish Shihab (Kajian Kitab Tafsir Al-Misbah). Tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan tafsir ayat fasik menurut Shihab sehingga dapat dijadikan acuan bagi pengembangan ilmu tafsir yang bermanfaat bagi masyarakat. Penelitian ini merupakan jenis penelitian kepustakaan, yang dalam metode pengumpulan datanya menggunakan cara menelusuri dan mengkaji bahan pustaka, khususnya Tafsir Al-Misbah sebagai data primer, serta pustaka yang relevan dan penunjang. Analisis data dilakukan secara analitik dan deskriptif dengan mendeskripsikan objek penelitian dari data yang telah terkumpul kemudian ditarik kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ayat-ayat orang fasik dapat dijelaskan sebagai berikut: Pertama, faktor penyebab kemaksiatan, yaitu orang yang melupakan ayat-ayat Allah, dan orang yang melupakan Allah. Kedua, azab orang fasik, yaitu Allah mengirimkan azab dari langit dan tempat tinggal mereka adalah neraka. Ketiga, adalah respon terhadap orang fasik, yaitu diperintahkan untuk menyelidiki kebenaran terlebih dahulu ketika seseorang menyampaikan suatu pesa

    HAK-HAK PEREMPUAN DALAM PERKAWINAN (STUDI KOMPARATIF PEMIKIRAN MISBAH MUSTOFA DAN HUSEIN MUHAMMAD)

    No full text
    Pemahaman terkait hak-hak perempuan di tanggapi berbeda oleh para pemikira Islam, demikian ada yang menanggapi Hak-hak perempuan yang berdasarkan kerangka patriarkhis dan ada juga yang menanggapi hak-hak perempuan dalam kerangka kesetaraan. Pemahamn konstruksi gender yang patriakhis dapat dilihat dalam karya ulama nusantara, seperti karya Misbah Mustofa (1917-1994) dalam kitab Fiqh jawanya yaitu Masāilun Nisā’ dan Tafsir Jawanya Tāj Al-Muslimȋn Min Kalāmi Rabb Al-‘Ālamȋn, dan al-Iklȋl fi Ma’āni at- Tanzȋl. Namun, di sisi lain, ada juga salah satu kiai di Indonesia yang menggugat budaya patriakhis tersebut. Husein Muhammad (1953), misalnya, yang dalam karya-karyanya mewadahi persoalan superioritas laki-laki atas perempuan. Pemikiran Husein Muhammad memiliki pola pemikiran yang progresif. Dari kedua tokoh masyarakat tersebut dapat dilihat bagaimana kontestasi pemahaman dan mempunyai corak pemikiran yang khas, terhadap wacana hak-hak perempuan dalam perkawinan. Hal ini menarik karena dengan latar belakang keduanya dari pesantren, yang dididik dalam budaya patriarkhis dengan kitab-kitab fiqh klasik. Namun, keduanya menghasilkan pemikiran yang berbeda. Berangkat dari hal tersebutlah, penelitian ini ingin melihat latar sosio historis pemikiran kedua Kiai tersebut. Penelitian ini bersifat deskriptif analitik-komparatif, yaitu menuturkan, menggambarkan dan mengklarifikasikan secara obyektif data yang dikaji dan sekaligus mempresentasikan serta menganalisa data tersebut, pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan sosio-historis, adapun analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis data komparatif yaitu membandingkan dau pemikiran tokoh tersebut kemudian dicari mana yang lebih relevan pada masa sekarang serta persamaan dan perbedaannya. Kesimpulan akhir dari penelitian ini adalah bahwa hak perempuan dalam perkawinan yang berupa materi menurut Misbah terdiri dari hak mahar dan hak nafkah. Sedangkan hak yang non materi menurut pendapat Misbah adalah, hak mendapatkan pendidikan dan perlindungan, hak adil dalam poligami, dan hak reproduksi. Sedangkan menurut Husein Muhammad yang berupa materi yaitu, hak mahar dan hak nafkah, sedangkan hak perempuan yang non materi adalah hak mendapatkan mu’asyarah dalam relasi seksual dan kemanusiaan dan hak reproduksi yang terbagi menjadi tiga poin yaitua, hak menolak hubungan seksual, hak menolak kehamilan dan hak menggugurkan kandungan. Dari pandangan tersebut, metode istimbat Misbah Mustofa lebih bersifat deduktif sedangkan Husein Muhammad bersifat induktif. Selanjutnya dalam proses dialektika diri Misbah Mustofa dan Husein Muhammad juga berbeda. Proses dialektika diri Misbah Mustofa lebih bercorak tradisonalis, sedangkan proses dialektika diri Husein Muhammad lebih Modernis. Pemikiran Misbah Mustofa dan Husein Muhammad relevan dengan hukum positif di Indonesia, namun ada salah satu pendapat keduanya yang tidak termuat dalam UUP dan KHI, yakni tentang hak reproduksi, tetapi pendapat ini termuat dalam undang-undang lain seperti Konvensi CEDAW dan undang-undang yang lainnya yang juga diakui di Indonesia

    Pioneers of Library Movement in Pakistan

    Get PDF
    The paper aims to describe in brief the contribution of seven leaders of Pakistan librarianship, viz. K.B. Khalifa M. Asadullah, Prof. Dr. Abdul Moid, Dr. Abdus Subuh Qasimi, Muhammad Shafi, Fazal Elahi, Khawaja Nur Elahi and S. V. Hussain. The early library developments are given for better understanding of the role of these leaders

    Jejak Kearifan Lokal Dalam Dakwah: Studi Komunikasi Nabi Muhammad SAW Menurut Tafsir Al-Misbah

    No full text
    Penelitian ini bertujuan mengurai secara sistematis jejak-jejak kearifan lokal dalam praktik komunikasi dakwah Nabi Muhammad Saw. Menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode library research (penelitian kepustakaan) yang bersifat deskriptif-analitis, penelitian ini mengeksplorasi bagaimana kearifan lokal terefleksikan dalam penafsiran ayat-ayat Al-Qur'an terkait komunikasi dakwah Nabi Muhammad Saw. Untuk menganalisis data, digunakan metode analisis isi tekstual (textual content analysis) guna mengidentifikasi dan menafsirkan elemen kearifan lokal yang relevan dari teks Tafsir Al-Misbah. Sumber data utama adalah seluruh jilid Tafsir Al-Misbah karya M. Quraish Shihab, diperkaya dengan literatur dan jurnal ilmiah di bidang Ilmu Dakwah dan Komunikasi Islam sebagai sumber data sekunder. Penelitian ini diharapkan memberikan pemahaman komprehensif mengenai interaksi Nabi Muhammad Saw. dengan konteks sosial-budaya masyarakat Arab melalui lensa penafsiran Al-Misbah, serta implikasinya terhadap praktik dakwah kontemporer. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Nabi Muhammad Saw. menunjukkan pemahaman mendalam terhadap kearifan lokal masyarakat Arab pada zamannya, misalnya penggabungan tradisi perjanjian suku atau penggunaan perumpamaan unta dalam penyampaian pesan ilahi. Beliau tidak hanya menyampaikan pesan ilahi secara langsung melainkan juga secara strategis mengakomodasi aspek positif kearifan lokal. Adaptasi tradisi yang selaras dengan ajaran Islam serta koreksi nilai-nilai menyimpang dilakukan dengan penuh kebijaksanaan, menggunakan bahasa, perumpamaan, dan gaya komunikasi yang relevan dengan konteks budaya audiens. Interpretasi M. Quraish Shihab dalam Tafsir Al-Misbah menyajikan kerangka kaya untuk memahami dinamika interaksi antara pesan universal Islam dan kekhasan budaya

    PENAFSIRAN AYAT-AYAT DISABILITAS DALAM AL-QUR'AN MENURUT MUHAMMAD QURAISH SHIHAB (STUDI TAFSIR AL-MISBAH)

    Get PDF
    Perlakuan diskriminasi terhadap disabilitas masih saja banyak ditemukan. Masyarakat memandang disabilitas dengan ketidakmampuan yang mendiskreditkan disabilitas, serta pandangan terhadap disabilitas akan penyakit yang sulit disembuhkan. Pendekatan masyarakat yang masih berpusat pada mengasihani juga masih banyak ditemukan daripada pendekatan berbasis hak. Paradigma lama kiranya perlu diubah dengan merujuk pada al-Qur’an serta melihat penafsiran mufasir sebagai sumber yang menjunjung tingi kesetaraan manusia. Salah satunya adalah dengan melihat Tafsir kontemporer. Seperti, Tafsir al-Misbah karya Muhammad Quraish Shihab. Skripsi ini berjudul “Penafsiran Ayat-ayat tentang Disabilitas Menurut Muhammad Quraish Shihab (Studi atas Tafsir al-Misbah)”, dengan mengkaji persoalan disabilitas yang memfokuskan pembahasan terhadap pemikiran Muhammad Quraish Shihab terkait penafsirannya. Secara langsung, dalam al-Qur’an tidak memuat istilah disabilitas. Namun, dijumpai terma: a’ma/’umyun atau akmaha (buta), assam/Summun (tuli), bukmun (bisu), a’raj (pincang) dan sufaha (lemah akal). Dalam Tafsir al-Misbah. Istilah tersebut secara spesifik memuat makna haqiqi dan majazi, makna majazi lebih banyak ditemukan daripada makna haqiqi. Kendati demikian, penulis mencoba mengambil pesan-pesan yang terkandung di dalamnya. Teknis penulisan ini, tergolong dalam sifat analitik. Mengkaji karya Muhammad Quraish Shihab menggunakan Tafsir al-Misbah. Kemudian, menganalisa penafsirannya yang terkait dengan disabilitas. Selain itu, juga dilakukan penelusuran buku-buku maupun kaya tulis yang mendukung penelitian ini. Hasil dari penelitian menunjukkan bahwa, berdasarkan ayat-ayat disabilitas, dengan terma-terma tersebut, Khususnya yang bermakna haqiqi, al-Qur’an sangat memandang setara terhadap kaum disabilitas. Selain itu, bagaimana Muhammad Quraish Shihab memperkuat akan pandangan tersebut. Hal ini terbukti bahwa, Ia tidak menempatkan disabilitas pada kelas dua. Dilihat dari penafsirannya, sudah menjawab keresahan tentang anggapan masyarakat dan medis. Mereka bukanlah orang sulit disembuhkan serta tidak dapat melakukan aktivitas seperti orang lain pada umumnya. Mereka mendapat kesempatan untuk memenuhi apa yang menjadi kebutuhan dan kewajibannya. Baik itu pendidikan, pekerjaan, muamalah, munakahah dll. Selain itu, penafsirannya yang menyebutkan istilah-istilah tertentu terkait disabilitas oleh Muhammad Quraish Shihab, seperti pemilihan kata tunanetra daripada buta, lemah akaldaripada cacat akal. Metode penafsirannya, yang juga menyebutkan asbabu an-nuzul, semakin memperkuat kesamaan kaum disabilitas dengan orang normal dalam Islam, terutama terkait turunnnya ayat. Jadi, Muhammad Quraish Shihab sudah cukup ramah terhadap disabilitas. Selain itu, kitab Tafsir al-Misbah dapat dijadikan khasanah khususnya umat Islam, untuk tidak menempatkan disabilitas pada kelas dua

    PENGARUH PENAFSIRAN THABA’ THABA’I TERHADAP TAFSIR AL-MISBAH KARYA MUHAMMAD QURAISH SHIHAB

    No full text
    Ghirah mempelajari tafsir Qur’an bagi umat Islam sangat mengembirakan. Hal itu terlihat antusias umat mengikuti siaran saur bersama M. Quraish Shihab di Metro TV pada Ramadhan 1428 H. Namun ketika penulis membaca Tafsir Al-Misbah ternyata tidak sedikit penafsir merujuk pada Tafsir Al-Mizan. Oleh karena itu penelitian ini bermaksud untuk menjawab permasalahan sejauhmana pengaruh penafsiran Thaba’i Thaba’i terhadap tafsir Al-Misbah karya Muhammad Quraish Shihab? Untuk memecahkan masalah tersebut peneliti menggunakan metode analisis deskriptif kualitatif dengan objek pembahasan tafsir Al-Misbah volume 8 surat Al-Kahfi karya Muhammad Quraish Shihab. Diantara hasil temuan penelitian ini bahwa di dalam tafsir Al-Misbah vol. 8 surat al-Kahfi pembahasannya banyak merujuk pada pandangan mufassir (Syiah dari Iran) Thaba’ Thaba’i. Banyaknya kutipan dari penafsiran Thaba’ Thaba’i dalam tafsir Al- Misbah menunjukkan adanya kesesuaian pandangan antara M. Quraish Shihab dengan  pandangan Thaba’ Thaba’i pengarang tafsir Al-Mizan. Dan hal ini menunjukkan pula bahwa tafsir Al-Mizan adalah tafsir Qur’an yang dianggap paling memadai untuk memahami Al-Qur’an masa kini

    Konsep Kasih Sayang Orang Tua dan Anak dalam Tafsir Al-Misbah karya Muhammad Quraish Shihab

    No full text
    ABSTRAK Sholikah, Siti. 2022. Konsep Kasih Sayang Orang Tua dan Anak Dalam Tafsir Al-Misbah Karya Muhammad Quraish Shihab. Skripsi. Jurusan Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir Fakultas Ushuluddin Adab dan Dahwah Institut Agama Islam Negeri Ponorogo. Pembimbing Muhammad Nurdin, M.Ag Kata Kunci: Kasih Sayang, Orang tua, Anak, Al-Misbah Pada massa ini banyak penyimpangan perilaku baik pada anak maupun orang tua sering terjadi seperti tindak kekerasan, pencurian, pelecehan seksual, bahkan sampai berhadapan dengan hukum. Padahal kewajiban yang seorang orang tua dan anak dalam menjaga keharmonisan keluarga dengan memberikan berbagai bentuk kasih sayang. Salah satu mufassir yang berkompeten untuk mengkaji masalah ini adalah Muhammad Quraish Shihab dengan Tafsir Al-Misbah yang mengedepankan corak ijtima’i (kemasyarakatan). Penjelasannya mengarah pada masalah di masyarakat dalam konteks kekinian. Jenis penelitian ini adalah library research atau penelitian pustaka. Mengkaji secara mendalam tentang ayat-ayat bentuk-bentuk kasih sayang orang tua dan anak beserta relevansinya dalam konteks kekinian. Hasil penelitian atau kesimpulan yang didapatkan bahwa bentuk-bentuk kasih sayang orang tua kepada anak adalah memberikan fsilitas, mendidik hingga menikahkan anak. Sedangkan ayat-ayat tentang bentuk-bentuk kasih sayang anak kepada orang tua berisi tentang: berbuat kebaikan yang sempurna kepada orang tua, larangan berkata buruk dan membentak mereka, dan anjuran berkata yang baik, sifat rendah diri dan mendoakan orang tua. Relevansinya pada konteks kekinian adalah pada aspek perasaan sayang dan pemberian perhatian dan bimbingan

    Penafsiran ayat-ayat tentang angin menurut Muhammad Quraish Shihab dalam tafsir al-Misbah

    Get PDF
    Al-Qur’an merupakan salah satu mukjizat ilmiah yang menjadi bukti kebenaran al-Qur’an adalah penemuan-penemuan ilmiah modern yang berkaitan dengan angin. Kata angin dalam al-Qur’an menggunakan bentuk mufrad Rih dan bentuk jamak Riyah. Pola seperti ini banyak dijumpai dalam ayat-ayat al-Qur’an yang perlu dikaji agar tidak terjadi kekeliruan dalam memahaminya. Maka dari itu penulis bermaksud meneliti lebih dalam mengenai permasalahan Penafsiran Ayat-Ayat tentang Angin Menurut Muhammad Quraish Shihab dalam Tafsir Al-Misbah. Fokus permasalahan dalam penelitian ini didasarkan pada dua rumusan masalah adalah: (1) Bagaimana penafsiran ayat-ayat tentang angin dalam tafsir al-Misbah karya Muhammad Quraish Shihab? (2) Bagaimana relevansi angin dengan kehidupan sekarang? Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui : 1) Memahami penafsiran ayat-ayat tentang angin dalam tafsir al-Misbah karya Muhammad Quraish Shihab (2) Agar dapat mengetahui dan memahami relevansi angin dengan kehidupan sekarang Adapun metode yang digunakan penulis meliputi pengumpulan data primer dan data sekunder. Data primer dalam penelitan ini yaitu tafsir al-Misbah karya Muhammad Quraish Shihab, sedangkan data sekunder yaitu buku-buku, tafsir, majalah, jurnal yang memiliki kesesuaian dengan pembahasan skripsi ini. Penelitian ini bersifat penelitian kepustakaan (Library Research), sehingga data yang diperoleh adalah berasal dari kajian teks atau buku-buku yang relevan dengan pokok masalah di atas. Metode-metode yang gunakan adalah: Metode deskriptif-analitik. Dengan cara deskriptif dimaksudkan untuk menggambarkan pandangan atau penafsiran Muhammad Quraish Shihab tentang penafsiran ayat-ayat angin yaitu kata rīḥ dan riyāḥ, penelitian ini juga menggunakan metode analisis isi (Content Analysis) dan metode mudhu’iy. Setelah melakukan penelitian ini penulis berkesimpulan bahwa mengenai penelitian menunjukkan bahwa penafsiran yang dilakukan oleh Muhammad Quraish Shihab terhadap ayat-ayat rīḥ dan riyāḥ sama, yaitu angin namun memiliki perbedaan konotasi, kata rīḥ dalam bentuk mufrad bermakna negative sedangkan kata riyāḥ dalam bentuk jamak bermakna positif. Dalam hal ini, angin memiliki hubungannya dengan kehidupan saat ini yaitu angin dapat membantu proses turunnya hujan dan penyerbukan dalam tumbuh-tumbuhan, serta sebagai gaya penggerak bagi perahu layar Berdasarkan hasil penelitian ini, diharapkan dapat menjadi informasi, pengetahuan bagi mahasiswa, serta semua pihak yang membutuhkan di lingkungan Fakultas Ushuluddin dan Humaniora UIN Walisongo Semarang

    Hukum Musik dalam Islam: Analisis Penafsiran Quraish Shihab dalam Tafsir al-Misbah Al Misbah

    Get PDF
    Research on music law has become an exciting and in-depth research topic, where researchers try to understand views and approaches to music from various perspectives, both in terms of fiqh, Islamic Sufism, hadith, and the thoughts of Islamic figures. From the research that has been carried out previously, there has not been much research on music that examines the interpretation of al Misbah by Quraish Shihab. The methodology applied is a qualitative approach, which aims to understand and explain specific meanings, phenomena, or ideas, different from quantitative approaches, which focus on statistics. This research uses a type of research library research (library research) using library sources. This research is qualitative research that explains descriptively using two data sources, namely primary and secondary. The primary source in this research is Tafsir al-Misbah, written by Quraish Shihab. Secondary data sources in this research come from books and journals relevant to the research theme. The data that has been collected is then analyzed carefully using thematic interpretation theory. The main findings show that the analysis of the verses used as the evidence or basis for the prohibition of music in the interpretation of al Misbah can be concluded that no verses expressly prohibit music. Based on the explanation above, the words "lahw al-hadith" in Surah Luqman verse 6 are one of the bases for the ulama who prohibit singing. However, Quraish Shihab supports the view that singing, including music, is acceptable in Islam if its content does not conflict with religious teachings and if the music promotes goodness
    corecore