2,419 research outputs found
Ismail Marzuki : Senandung Melintas Zaman
Para penulis terdahulu memiliki kekaguman dan penghormatan, atau bahkan juga kritik, kepada Ismail Marzuki. Sekadar menguraikan sedikit, buku ini penulis bagi menjadi enam bab. Setelah Sekapur Sirih ini, Bab Pertama penulis mengajak pembaca mengintip pergelaran musik menjelang Seabad Kelahirannya, selain apresiasi seniman terhadap Ismail dan karyanya, termasuk yang kini banyak tersebar di era digital. Bab Kedua penulis curahkan untuk mengupas riwayat hidup Ismail. Di sinilah penulis banyak berutang pada para penulis terdahulu, khususnya H. Ahmad Naroth, Firdaus Burhan, Endang Kusumaningsih, Jajang Gunawijaya, Raras Miranti, Linda Suharso dari IK), Teguh Esha, Wasmi Alhaziri, Muhammad Fauzi, Sabu Donald W, dan Erwin R Sigarlaki yang telah melakukan studi mendalam atas Ismail Marzuki. Bab Ketiga tentang penciptaan lagu, antara teori dan ekspresi jiwa. Bab Keempat penulis khususkan untuk mengupas dan menggagas lagu-lagu Ismail, mulai dari tema perjuangan hingga kritik terhadap korupsi. Bab Kelima penulis gunakan untuk membahas kritik yang pernah dilontarkan terhadap Ismail Marzuki dan karyanya. Bab Keenam berisi kesan dan pandangan delapan tokoh tentang Ismail Marzuki dan karya- karyanya. Buku penulis akhiri dengan sebuah Epilog tentang penghormatan kita terhadap sosok Ismail Marzuki. Tentu penulis ingin berefleksi lebih banyak dan mendalam lagi tentang Ismail Marzuki, namun waktu jualah yang harus mengakhiri penulisan. Penulis yakin, masih ada banyak kekurangan dalam buku ini. Untuk itulah penulis mohon maaf sebesar-besarnya, apabila di sana-sini masih ada salah kutip atau salah tulis mengenai pelbagai hal dalam penulisan
ISMAIL MARZUKI : KOMPONIS 3 ZAMAN (1931- 1958)
Skripsi ini membahas biografi Ismail Marzuki sebagai komponis sejak lahir
hingga wafat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kisah perjuangan Ismail
Marzuki serta kontribusi Ismail Marzuki pada perjuangan kemerdekaan Indonesia.
Metode yang digunakan untuk penelitian ini yaitu metode historis yang
direkonstruksi menjadi penulisan sejarah. Metode historis terdiri dari pemilihan
topik penelitian, heuristik, verifikasi, interpretasi, dan historiografi. Pada tahap
pertama, pemilihan topik didasarkan atas kedekatan emosional dan kedekatan
intelektual. Setelah itu, dilakukan tahap heuristik dengan melakukan pengumpulan
sumber primer berupa koran sezaman, sumber sekunder berupa buku, jurnal, dan
dokumen serta melakukan wawancara kepada anak dari Ismail Marzuki. Tahap
selanjutnya yaitu verifikasi dengan memeriksa keaslian serta membandingkan isi
dari masing-masing sumber yang telah didapat. Selanjutnya, tahap interpretasi yaitu
menafsirkan sumber agar informasi yang didapat bisa saling melengkapi. Tahap
terakhir yaitu historiografi berupa penyajian peristiwa masa lalu dalam bentuk
skripsi.
Penelitian pada skripsi ini membahas kehidupan dari tokoh Ismail Marzuki
dari kecil hingga remaja dan munculnya kesadaran nasionalisme pada diri Ismail
Marzuki. Selain itu juga dibahas awal mula Ismail Marzuki menyelami dunia seni
musik yang dirintis saat masuk kedalam grup musik Lief Java pada tahun 1936.
Nama Ismail Marzuki mulai populer ketika mengisi siaran di radio NIROM pada
tahun 1937 hingga tahun 1940. Ismail Marzuki juga turut serta terlibat pada radio
VORO yang dikenal sebagai radio pemberontak pada tahun 1937. Dizaman
penjajahan Jepang, juga terlibat pada dua lembaga yaitu Keimin Bunka Sidosho dan
radio Hoso Kanri Kyoku. Pada masa revolusi kemerdekaan, Ismail Marzuki bekerja
dan berkontribusi membesarkan kemajuan Radio Republik Indonesia yang dimulai
tahun 1945, sempat berhenti ditahun 1947 sebagai bentuk sikap anti penjajahan dan
bekerja kembali pada tahun 1950-1956. Skripsi ini juga membahas karya cipta lagu
nasionalis dari Ismail Marzuki yang dapat menggambarkan realitas kehidupan pada
3 zaman yaitu zaman kolonialisme, penjajahan Jepang hingga revolusi
keemerdekaan. Hasil karya cipta Ismail Marzuki mendapatkan berbagai piagam
penghargaan dan ditahun 2004, Ismail Marzuki mendapatkan penganugerahan
Pahlawan Nasional. Hasil penelitian pada skripsi ini yaitu membuktikan bahwa
Ismail Marzuki merupakan seorang komponis yang mendedikasikan hidupnya
untuk kemajuan musik di Indonesia dan melahirkan karya cipta berupa lagu
nasionalis dan lagu hiburan.
*****
This thesis discusses the biography of Ismail Marzuki as a composer from
birth to death. This study aims to find out the story of Ismail Marzuki's struggle and
Ismail Marzuki's contribution to the struggle for Indonesian independence. The
method used for this research is the historical method which is reconstructed into
historical writing. The historical method consists of selecting research topics,
heuristics, verification, interpretation, and historiography. In the first stage, topic
selection is based on emotional closeness and intellectual closeness. After that, the
heuristic stage was carried out by collecting primary sources in the form of
contemporary newspapers, secondary sources in the form of books, journals, and
documents and conducting interviews with Ismail Marzuki's children. The next
stage is verification by checking the authenticity and comparing the contents of
each source that has been obtained. Next, the interpretation stage is interpreting the
source so that the information obtained can complement each other. The last stage
is historiography in the form of presenting past events in the form of a thesis.
The research in this thesis discusses the life of Ismail Marzuki's character
from childhood to adolescence, the emergence of nationalism awareness in Ismail
Marzuki. It also discusses the beginning of Ismail Marzuki's exploration of the
world of music, which was pioneered when he joined the Lief Java music group in
1936. Ismail Marzuki's name became popular when he filled broadcasts on NIROM
radio from 1937 to 1940. Ismail Marzuki also participated. involved in VORO radio
known as rebel radio in 1937. During the Japanese colonial era, he was also
involved in two institutions, namely Keimin Bunka Sidosho and Hoso Kanri Kyoku
radio. During the independence revolution, Ismail Marzuki worked and contributed
to the progress of Radio Republik Indonesia which began in 1945, stopped in 1947
as a form of anti-colonial attitude and worked again in 1950-1956. This thesis also
discusses the creation of a nationalist song by Ismail Marzuki which can describe
the reality of life in 3 eras, namely the era of colonialism, Japanese colonialism and
the independence revolution. Ismail Marzuki's creations received various award
certificates and in 2004, Ismail Marzuki received the National Hero award. The
results of the research ini thus thesis are proving that Ismail Marzuki is a composer
who dedicates his life to the advancement of music in Indonesia and gave birth to
creative works in the form of nasionalist songs and entertainment songs
ISMAIL MARZUKI (1931 – 1958): MUSISI LAGU-LAGU ROMANTIKA
Penelitian ini tentang Ismail Marzuki sebagai musisi lagu-lagu romantika
dari tahun 1931 hingga 1958. Tahun 1931 sebagai batasan awal penelitian, ketika
Ismail Marzuki mulai menjadi musisi lagu-lagu romantika, dengan lagu
pertamanya Oh Sarinah. Tahun 1958 sebagai batasan akhir penelitian, ketika
Ismail Marzuki meninggal. Tujuan penelitian ini adalah untuk menjelaskan
sejarah musik Ismail Marzuki sebagai musisi lagu-lagu romantika. Penelitian ini
juga bertujuan untuk mengungkapkan gambaran tentang masyarakat Indonesia
dalam lagu-lagu romantika karya Ismail Marzuki.
Penelitian ini menggunakan metode penelitian historis dengan penyajian
secara deskriptif-analisis. Pendekatan hermeneutika Wilhelm Dilthey digunakan
untuk mengkaji gambaran tentang masyarakat Indonesia dalam lagu-lagu
romantika karya Ismail Marzuki. Tiga konsep dalam hermeneutika Wilhelm
Dilthey yaitu erlebnis, audruck, dan verstehen. Sumber yang digunakan
kebanyakan sumber tertulis, baik primer maupun sekunder. Sumber primer berupa
majalah dan koran sezaman, sedangkan sumber sekunder berupa buku, koran, dan
sebagainya yang relevan dengan penelitian ini.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa Ismail Marzuki lahir dari keluarga
Betawi yang berada secara ekonomi dan religius di Kwitang pada 11 Mei 1914.
Ismail Marzuki yang berpendidikan formal di HIS hingga MULO mulai menyukai
musik sejak anak-anak. Kesukaan terhadap musik berawal dari rumahnya yang
terdapat gramofon dan koleksi piringan hitam. Ketika bersekolah di MULO ia
juga giat bermusik dengan kawan-kawan dalam band sekolah. Pada tahun 1931,
Ismail Marzuki menciptakan lagu pertamanya Oh Sarinah yang menandai
keseriusannya menekuni musik.
Ismail Marzuki terlibat Lief Java, NIROM, VORO, dan PPRK dalam karir
bermusiknya selama penjajahan Belanda (1936-1942). Ketika pendudukan Jepang
ia memimpin orkes Hoso Kanri Kyoku Djakarta. Ismail Marzuki di masa
kemerdekaan, Revolusi Fisik (1945-1949) hingga meninggal (1958) terlibat
dengan Radio Republik Indonesia, Empat Sekawan, dan Orkes Studio Djakarta.
Selama tahun 1931-1958 Ismail Marzuki menciptakan sekitar 200 lagu dengan
beraneka tema. Salah satu tema lagu yang menjadi karakteristik Ismail Marzuki
adalah lagu-lagu romantika.
Lagu-lagu romantika karya Ismail Marzuki dapat mengungkapkan bahwa
perjuangan bukan hanya pertempuran bersenjata saja, tetapi menjunjung tinggi
kemanusiaan. Lagu-lagu tersebut juga menunjukkan hubungan yang harmonis
antara rakyat dan pejuang atas dasar cinta tanah air Indonesia. Selain itu, lagu�lagu romantika menjadi “jalan perjuangan” Ismail Marzuki sebagai musisi. Ismail
Marzuki melalui karyanya memberikan hiburan, inspirasi, dan dukungan moril
kepada para pejuang Indonesia. Lagu-lagu romantika karya Ismail Marzuki dapat mengungkapkan
gambaran tentang masyarakat Indonesia sesuai konteks zamannya. Penciptaan
lagu-lagu itu bertolak dari realitas yang diperoleh Ismail Marzuki berdasarkan
situasi masyarakat sekitarnya. Dari hasil analisis, lagu-lagu romantika karya
Ismail Marzuki, seperti Oh Sarinah, Terkenang Tanah Air, Bisikan Tanah Air,
Rayuan Pulau Kelapa, Selendang Sutera, Saputangan dari Bandung Selatan,
Sepasang Mata Bola, O Angin Sampaikan Salamku, Bandung Selatan di Waktu
Malam, dan Lambaian Bunga secara umum mengungkapkan gambaran tentang
masyarakat Indonesia yang cinta terhadap tanah air.
These research about Ismail Marzuki as romantic songs musician from 1931
until 1958. The year 1931 as begining limit of research, when Ismail Marzuki
begin to be a romantic songs musician, with his first song Oh Sarinah. The year
1958 as ending limit of research, when Ismail Marzuki died. Purpose of this
research is to explain musical history of Ismail Marzuki as romantic songs
musician. These research also has purpose to express the description about
Indonesian society in Ismail Marzuki’s romantic songs.
These research used historical research method with descriptive-analysis
presentation. Wilhelm Dilthey’s hermeneutic approachment used to research the
description about Indonesian society in Ismail Marzuki’s romantic songs. Three
concepts in Wilhelm Dilthey’s hermeneutic are erlebnis, audruck, and verstehen.
Written sources were dominant used in this research, both primary and secondary
sources. Primary sources such as contemporary magazines and newspapers, while
secondary sources such as books, newspapers, and other sources that are relevant
to this research.
Result of these research shows that Ismail Marzuki was born from Betawi
family who economically established and religious at Kwitang in 11 May 1914.
Ismail Marzuki who studied formally in HIS until MULO start to like music since
childhood. His fondness to music started from his home there were gramophone
and vinyl-record collections. When he went to school in MULO’s level, he also
played music intensively with his friends in school band. In 1931, Ismail Marzuki
has created his first song Oh Sarinah that marked his seriousness in music.
Ismail Marzuki involved Lief Java, NIROM, VORO, and PPRK in his
musical career during the Netherland’s colonialism era (1936-1942). In Japanese
occupation era he led radio orchestra Hoso Kanri Kyoku Djakarta. Ismail Marzuki
in independence era, Revolusi Fisik (1945-1949), until his death (1958) involved
in Radio Republik Indonesia, Empat Sekawan, and Orkest Studio Djakarta.
During 1931-1958 Ismail Marzuki had created circa 200 songs with many themes.
One of the song theme that be Ismail Marzuki’s characteristic was romantic
songs.
Ismail Marzuki’s romantic songs could express that struggle was not just
battle of weapon, but uphold the humanity. Those songs also show the
harmonious relationship between the people and the fighters on the basis of love
to homeland of Indonesia. In addition, romantic songs been Ismail Marzuki’s
“struggle way” as a musician. Ismail Marzuki through his songs provided
entertainment, inspiration and moral support to the Indonesian fighters.
Ismail Marzuki’s romantic songs could express the description about
Indonesian society according to its time context. Creating process of those songs
was based from reality which Ismail Marzuki got from society’s situation around him. From analysis result, Ismail Marzuki’s romantic songs, such as Oh Sarinah,
Terkenang Tanah Air, Bisikan Tanah Air, Rayuan Pulau Kelapa, Selendang
Sutera, Saputangan dari Bandung Selatan, Sepasang Mata Bola, O Angin
Sampaikan Salamku, Bandung Selatan di Waktu Malam, dan Lambaian Bunga
were generally express the description about Indonesian society who love their
homeland (country)
Ismail Marzuki : Komponis Lagu-lagu Perjuangan (Ismail Marzuki : the Composer of Patriotic Songs)
Sejarah musik Indonesia diwarnai dengan banyaknya lagu-lagu patriotik yangdigubah oleh beberapa komponis terkemuka, salah seorang di antaranya IsmailMarzuki. Ia mulai menggubah lagu pada usia 17 tahun, lagu “Oh Sarinahâ€merupakan lagu ciptaan pertamanya. Ia meninggal dunia pada usia 44 tahun Ia telahmenghasilkan tidak kurang dari 240 lagu sehingga membuatnya menjadi salahseorang dari komponis lagu-lagu perjuangan Indonesia yang sangat produktif.Sebagian besar karyanya mengungkapkan jiwa kebangsaan bagi perjuangankemerdekaan yang sangat tinggi. Sebagai seorang komponis, Ismail Marzuki tetapsetia pada perjuangan kemerdekaan negara, keselamatan rakyat, dan bangsa. Dalampengabdiannya pada Negara dan seni, Ismail Marzuki mendapat penghargaan nyatayang namanya telah terukir dengan tinta emas dalam Jakarta Art Center yangdibuka ditahun 1968 yang kemudian dikenal dengan nama Taman Ismail Marzuki.Ismail Marzuki punya peran penting dalam meneruskan jiwa patriotik bagiperjuangan kemerdekaan, yang berangkat dari profesinya sebagai seorang musisidan komponis
ANALISIS MAKNA LIRIK LAGU CIPTAAN ISMAIL MARZUKI
Tujuan penelitian ini adalah mendeskripsikan makna denotatif dan makna konotatif lagu ciptaan
Ismail Marzuki. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif. Sumber
data penelitian ini berasal dari kumpulan lagu nasional ciptaan Ismail Marzuki yang berjudul 1)
Rayuan Pulau Kelapa, 2) Bandung Selatan di waktu malam, 3) Juwita Malam, 4) Selendang
Sutra, 5) Halo-Halo Bandung, 6) Indonesia Pusaka. Data penelitian ini adalah makna denotatif
dan makna konotatif pada lagu ciptaan Ismail Marzuki. Teknik analisis data yang dilakukan
adalah 1) Transkripsi data, 2) Mengidentifikasi data, 3) Mengklasifikasi data, 4)
Menginterpretasi data dan 4) Simpulan. Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan diperoleh
1 (satu) makna denotatif dan 10 (sepuluh) makna konotatif pada lagu “Rayuan Pulau kelapa”, 6
(enam) makna denotatif dan 8 (delapan) makna konotatif pada lagu “Bandung Selatan di Waktu
Malam”, dan 5 (lima) makna denotatif dan 8 (delapan) makna konotatif pada lagu “ Juwita
Malam” .
Kata Kunci: Analisis, Makna, Denotatif, Konotatif, Lagu
ANALISIS MAKNA LIRIK LAGU CIPTAAN ISMAIL MARZUKI
Tujuan penelitian ini adalah mendeskripsikan makna denotatif dan makna konotatif lagu ciptaan
Ismail Marzuki. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif. Sumber
data penelitian ini berasal dari kumpulan lagu nasional ciptaan Ismail Marzuki yang berjudul 1)
Rayuan Pulau Kelapa, 2) Bandung Selatan di waktu malam, 3) Juwita Malam, 4) Selendang
Sutra, 5) Halo-Halo Bandung, 6) Indonesia Pusaka. Data penelitian ini adalah makna denotatif
dan makna konotatif pada lagu ciptaan Ismail Marzuki. Teknik analisis data yang dilakukan
adalah 1) Transkripsi data, 2) Mengidentifikasi data, 3) Mengklasifikasi data, 4)
Menginterpretasi data dan 4) Simpulan. Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan diperoleh
1 (satu) makna denotatif dan 10 (sepuluh) makna konotatif pada lagu “Rayuan Pulau kelapa”, 6
(enam) makna denotatif dan 8 (delapan) makna konotatif pada lagu “Bandung Selatan di Waktu
Malam”, dan 5 (lima) makna denotatif dan 8 (delapan) makna konotatif pada lagu “ Juwita
Malam” .
Kata Kunci: Analisis, Makna, Denotatif, Konotatif, Lagu
ANALISIS MAKNA KIAS DALAM LIRIK LAGU NASIONAL KARYA ISMAIL MARZUKI
ABSTRAK
Skripsi dengan judul Analisis Makna Kias dala Lagu Nasional Karya Ismail
Marzuki ini ditulis oleh Hania Shinta Rahma Putri, NIM. 12210193039, Program Studi
Tadris Bahasa Indonesia (TBIN), Jurusan Pendidikan Bahasa, Fakultas Tarbiyah dan
Ilmu Keguruan (FTIK), Universitas Islam Negeri Sayyid Ali Rahmatullah
Tulungagung, Pembimbing Titik Dwi Ramthi Hakim, M.Pd.
Kata Kunci: Lagu Nasional, Makna Kias, Fungsi Makna Kias
Lagu adalah salah satu karya sastra yang digunakan untuk menyampaikan
suatu pesan dari penulis kepada pendengar. Lagu memiliki beberapa jenis, salah
satunya yakni lagu nasional. Ismail Marzuki adalah penulis lagu nasional yang
melegenda di Indonesia. Hal ini dikarenakan, Ismail Marzuki memiliki ciri khas
dalam menulis sehingga menghasilkan makna dan pesan moral yang sangat mengena.
Untuk mendalami makna yang terkandung dalam lagu nasional karya Ismail Marzuki,
perlu adanya analisis makna kias di dalamnya.
Terdapat beberapa tujuan dalam penelitian ini, di antaranya adalah (1)
Mendeskripsikian makna kias yang terdapat pada lagu nasional karya Ismail Marzuki;
(2) Mendeskripsikan fungsi makna kias dalam lagu nasional karya Ismail Marzuki.
Metode yang digunakan adalah deskriptif dengan pendekatan kualitatif.
Pada penelitian ini, peran peneliti yakni sebagai instrumen kunci karena
mengungkap makna tetap berdasarkan data. Data yang digunakan dalam penelitian ini
ialah makna kias yang terdapat pada lagu nasional karya Ismail Marzuki, dengan
sumber data yang diperoleh dari lagu-lagu nasional karya Ismail Marzuki yang
berjumlah 12 lagu. Menggunakan teknik analisis data berupa pengumpulan data,
reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Data kemudian divalidasi
dengan meningkatkan ketekunan dan triangulasi.
Hasil penelitian mengungkapkan bahwa (1) Terdapat makna kias yang berhasil
ditemukan dalam lagu-lagu nasional yakni sebanyak 91 makna kias, (2) dan yang
terakhir adalah fungsi. Mayoritas fungsi yang ditemukan dalam lagu-lagu nasional
Ismail Marzuki ialah fungsi memperindah bahasa pada karya sastra.
Sehubungan dengan hasil penelitian ini, diharapkan siswa maupun pembaca
dapat menambah pengetahuan terkait makna kias, dan fungsi makna kias. Untuk guru,
supaya hasil penelitian dijadikan sarana pembelajaran makna kias dan majas. Bagi
pengamat sastra diharapkan menambah pemahaman mengenai gaya bahasa yang
digunakan serta makna yang ingin disampaikan oleh Ismail Marzuki. Kepada para
penulis lagu, diharapkan supaya lebih kreatif dalam menggunakan gaya bahasa dengan
ciri khasnya masing-masing. Terakhir kepada peneliti selanjutnya, supaya penelitian
ini dapat dijadikan pertimbangan atau referensi dalam mengkaji makna kias, dan fungsi
makna kias
Gaya Bahasa Komponis Ismail Marzuki Dalam Lirik Lagu-Lagu Ciptaannya
Penelitian ini bertujuan memaparkan lirik-lirik lagu ciptaan Ismail Marzuki ditinjau dari segi bahasanya. Penelitian ini mempergunakan metode deskriptif analitik, yang didahului dengan studi pustaka, dilanjutkan dengan penetapan populasi, yaitu lirik-lirik lagu yang diciptakan oleh Ismail Marzuki baik sebagai lirik dalam lagu-lagu ciptaannya, maupun lirik-liriknya yang dirakit dalam komposisi lagu oleh komponis lain. Pengumpulan data dilakukan dengan mengambil 50 lirik lagu yang memiliki partitur. Kesimpulan dari penelitian ini adalah bahwa Ismail Marzuki memiliki kemampuan pengungkapan bahasa, terbukti dengan banyaknya jenis gaya bahasa yang ada pada lirik lagunya dengan macam-macam pengungkapan dari masing-masing gaya bahasa itu
REDESAIN PUSAT KESENIAN JAKARTA TAMAN ISMAIL MARZUKI
Taman Ismail Marzuki dicanangkan sebagai pusat kesenian Jakarta oleh Gubernur DKI Jakarta Ali Sadikin tanggal 10 November 1968 dan merupakan babak baru dalam berkesenian kala itu. Mimpi para seniman di era tahun 50-an untuk memiliki wadah berkesenian tertuang sudah dengan dibangunnya Teater Terbuka, Teater Tertutup, Teater Arena dan Ruang Pameran. Pusat Kesenian TIM merupakan wadah kerja kreatif bagi para seniman dan lembaga-lembaga yang ada di dalamnya dalam memelihara, mengembangkan, dan mengarahkan kehidupan berkesenian dalam arti yang seluas-luasnya.
Kini setelah 42 tahun berlalu, keberadaan TIM kurang dirasa memadai, baik dari segi citra yang harus ditampilkan sebagai sebuah pusat kesenian maupun dari segi fisik yang berkaitan dengan penyediaan fasilitas bagi penyelenggara kegiatan. Keterbatasan lahan dan kebutuhan ruang kota yang terus meningkat secara perlahan-lahan mengubah wajah dan peruntukannya sebagai Pusat Kesenian.
Sesuai dengan visi dan misi PKJ TIM selaku tempat yang utama dalam mendukung pengembangan kehidupan kesenian di Jakarta khususnya dan Indonesia pada umumnya, maka PKJ TIM dituntut untuk secara aktif meningkatkan kehidupan kesenian dengan menggelar karya seni yang berstandar tinggi sertamenyelenggarakan pendidikan kesenian yang berstandar tinggi pula. Untuk itu kedepannya perlu dilakukan pengembangan kompleks PKJ TIM guna memperkuat eksistensi PKJ TIM sebagai pusat kesenian yang bermutu tinggi, yang dapat menarik minat masyarakat untuk dapat menikmati kegiatan seni di dalamnya. Salah satunya berupa upaya menata kembali ruang-ruang dan bangunan dalam kompleks PKJ TIM.
Pada tahun 2005 dan 2006 pernah dilakukan Kajian dan Evaluasi Rencana Induk PKJ – TIM oleh Kantor Tata Bangunan dan Gedung serta dari pihak Bapeda Provinsi DKI Jakarta, dimana berdasarkan masukan dari pihak pemilik disimpulkan bahwa Rencana Induk PKJ – TIM tahun 1995 sudah tidak dapat mengakomodasi kebutuhan seni dan budaya di lingkungannya, karena sebagian venue dihancurkan dan sampai kini belum terbangun kembali.
Dari gambar siteplan di atas dapat terlihat perbedaan antara kondisi PKJ - TIM saat awal dibangun dengan kondisi PKJ – TIM saat ini. Ada beberapa massa bangunan yang dihilangkan, dan pada lokasi tersebut diubah menjadi bangunan Grand Theater. Kegiatan atau aktivitas kesenian yang berlangsung di di ruang terbuka menjadi berkurang seiring dengan berjalannya waktu, dan hampir semua aktivitas pertunjukan dilakukan di dalam ruangan.
Fasilitas-fasilitas ini perlu dibenahi dan dikembangkan, serta perlu adanya pemikiran untuk menata kembali kawasan ini ditengah arus perubahan kota dan budaya masyarakat yang begitu cepat, untuk dapat menciptakan suatu tempat berkesenian yang dinamis dan mengakomodasi transformasi dan keragaman budaya dan seni di Jakarta khususnya dan Indonesia pada umumnya.
Wacana mengenai penataan Pusat Kesenian Taman Ismail Marzuki telah diberitakan selama kurang lebih tiga tahun ini. Dan berdasarkan berita yang dilansir dari situs Yahoo Group yang bersumber dari IAI DKI Jakarta diperoleh informasi mengenai sayembara penataan ulang pusat kesenian TIM ini.
1.2 Tujuan dan Sasaran
1.2.1 Tujuan
Memperoleh suatu Judul Tugas Akhir yang jelas dan layak, dengan suatu penekanan desain yang spesifik sesuai karakter/keunggulan judul dan citra yang dikehendaki atas judul yang diajukan tersebut
1.2.2 Sasaran
Tersusunnya usulan langkah-langkah pokok proses (dasar) perencanaan dan perancangan Redesain Pusat Kesenian Jakarta – Taman Ismail Marzuki (PKJ – TIM), melalui aspek-aspek panduan perancangan (design guide lines aspect) dan alur pikir proses penyusunan LP3A dan Desain Grafis yang akan dikerjakan.
1.3 Manfaat
Bermanfaat untuk memperoleh wawasan dan pemahaman tentang Redesain Pusat Kesenian Jakarta – Taman Ismail Marzuki (PKJ – TIM) sebagai Tugas Akhir yang diajukan, dan untuk langkah awal dalam proses Tugas Akhir sebelum tahap Studio Grafis.
1.4 Lingkup Pembahasan
1.4.1 Ruang Lingkup Substansial
Ruang lingkup perencanaan dan perancangan Redesain Pusat Kesenian Jakarta – Taman Ismail Marzuki (PKJ – TIM) adalah bangunan bermassa banyak yang lebih terfokus pada fasilitas kesenian dan komersil dan bercirikan modern tanpa meninggalkan unsur-unsur lokal, dengan integritas arsitektur sebagai wadah yang dapat mengakomodasi, melengkapi, dan menunjang kegiatan kesenian.
1.4.2 Ruang Lingkup Spatial
Pusat Kesenian Jakarta – Taman Ismail Marzuki (PKJ – TIM) berada dekat dengan pusat kota, tepatnya di daerah Cikini. Sedangkan secara administratif Pusat Kesenian Jakarta – Taman Ismail Marzuki (PKJ – TIM) berada di wilayah Kecamatan Menteng, Jakarta Pusat.
1.5 Metode Pembahasan
Metode pembahasan yang dilakukan dalam penulisan ini adalah metode deskriptif, yaitu dengan mengadakan pengumpulan data. Pengumpulan data ini ditempuh melalui studi pustaka/studi literatur dan observasi lapangan, untuk kemudian dianalisa dan dilakukan suatu pendekatan yang menjadi dasar penyusunan konsep program perencanaan dan perancangan. Tahap pengumpulan data yang dimaksud dilakukan melalui :
a. Studi Literatur
Yaitu dengan mempelajari literature baik dari buku-buku maupun browsing internet mengenai teori, konsep dan standar perencanaan dan perancangan museum.
b. Studi Lapangan
Yaitu observasi yang dilakukan pada kawasan PKJ – TIM untuk analisa dan kriteria yang diterapkan pada redesain yang akan diprogramkan.
1.6 Sistematika Pembahasan
Laporan ini disusun melalui urutan-urutan pembahasan yang disajikan secara sistematis sehingga dapat mempermudah langkah-langkah didalam penyusunan. Adapun urutan pembahasannya adalah sebagai berikut :
BAB I PENDAHULUAN
Berisi tentang latar belakang yang berhubungan dengan berbagai alasan diredesainnya Pusat Kesenian Jakarta – Taman Ismail Marzuki (PKJ – TIM). Latar belakang ini kemudian diikuti dengan penjelasan-penjelasan lain berupa tujuan dan sasaran, manfaat, lingkup pembahasan, metode pembahasan, sistematika pembahasan, serta alur pikir.
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
Membahas tentang tinjauan redesain, kesenian, dan pusat kesenian, karakteristik, bentuk dan kegiatan. Selanjutnya diuraikan tentang tinjauan mengenai perancangan teater, galeri, sineplex, perpustakaan, tinjauan mengenai kawasan dan elemen-elemennya, serta tinjauan mengenai eko-arsitektur dan arsitektur lansekap.
BAB III TINJAUAN PUSAT KESENIAN JAKARTA – TAMAN ISMAIL MARZUKI (PKJ – TIM)
Membahas tentang tinjauan umum kota Jakarta dan tinjauan khusus tentang kawasan Cikini serta tapak atau site dari Pusat Kesenian Jakarta – Taman Ismail Marzuki (PKJ – TIM).
BAB IV KESIMPULAN, BATASAN DAN ANGGAPAN
Berisi mengenai kesimpulan dari proses pengkajian tinjauan pustaka mengenai Pusat Kesenian Jakarta – Taman Ismail Marzuki (PKJ – TIM). Dan juga berisi mengenai batasan dan anggapan yang berkaitan dengan aspek-aspek arsitektur, sesuai dengan tinjauan pusat kesenian.
BAB V PENDEKATAN PROGRAM PERENCANAAN DAN PERANCANGAN ARSITEKTUR
Berisi tentang dasar-dasar pendekatan, macam pendekatan yaitu pendekatan kualitatif dan kuantitatif. Disamping itu juga diungkapkan tentang pendekatan arsitektur yang akan digunakan.
BAB VI KONSEP DAN PROGRAM DASAR PERENCANAAN DAN PERANCANGAN ARSITEKTUR
Pada bab ini dibahas mengenai program dasar perencanaan dan perancangan Pusat Kesenian Jakarta – Taman Ismail Marzuki (PKJ – TIM), penekanan desain, setelah itu diikuti dengan program dasar perancangan berupa program tapak
Taman Ismail Marzuki, Nasibmu Kini
Sejak akhir tahun 2014 sampai awal tahun 2015, pengelolaan Pusat Kesenian Jakarta Taman Ismail Marzuki dirundung kisruh. Pemerintah Provinsi DKI Jakarta telah membentuk, bahkan melantik pejabat, Unit Pengelola PKJ TIM. Namun, sebagian seniman menolak dan terus menggelar unjuk rasa.
Bagaimana jalan keluar dari kisruh ini? Coba kita runut masalahnya sejak awal dan menggali kemungkinan solusinya
- …
